~Love Me As You Can Part6~


 

Annyeong all, adakah yg kangen sama FF ini? Hari ini aku bawain lanjutannya buat para Readers yg selalu nanyain. Semoga suka ya. Jangan lupa komen sama ratenya ya…

Gomawo…

“Soeun-ah. Uang, Harta, & Kedudukan semuanya sudah aku dapatkan bahkan semenjak aku lahir. Itu sebabnya, aku tidak butuh lagi mempunyai uang yg banyak saat ini. Tapi kau, aku baru diizinkan memiliki harta seperti dirimu sat ini. aku yakin, kau hadir untuk melengkapi semua yg telah kumiliki sebelumnya. Itulah sebabnya, aku tidak akan melepasmu sampai kapanpun itu, bahkan bila itu bila aku harus mati…”

 

“Jadi itulah kenyataannya??”

Kedua orang tua Donghae itu begitu kaget ketika tiba2 putra tunggal mereka itu masuk kedalam ruangan inap itu. mereka tak menyangka Donghae akan berada disana.

“Donghae…”

“Jadi begitu?” Donghae tak mengacuhkan keterkejutan kedua orang tuanya. Ia menatap pada ibunya dengan pandangan yg marah dan tidak tahan. “Ibu, jawab aku. jadi beginilah kenyataannya?”

Ibu Donghae tak menyahut, ia mengalihkan sejenak tatapannya dari Donghae yg menemuinya dalam keadaan emosi. Sementara ayah Donghae memilih diam, ia sudah mengira ini akan terjadi.

“Kalau diam berarti memang itulah kenyataannya, aku juga sudah dengar semuanya. Aku tak menyangka bahwa ibu akan melakukan itu semua… Membohongiku, mencelakai Soeun…” Donghae terduduk lesu begitu saja kesebuah kursi didekatnya. Fikirannya begitu kacau untuk memikirkan apapun.

“Donghae, dengar ibu…”

“Tidak! Kalau aku dengarkan lagi, ibu hanya akan mengatakan kebohongan lagi. Cukup! Sudah cukup dengan yg telah ibu lakukan belakangan ini padaku. Ibu bahkan tak pernah peduli sedikitpun tentang perasaanku. Apa ibu tidak tahu betapa cemasnya aku selama ini karena takut kehilangan ibu? apa ibu tahu betapa besar rasa penyesalanku selama ini karena telah meninggalkan ayah dan ibu? apa ibu tahu berapa besar kegelisahanku membohongi kekasihku? Semuanya benar2 membuatku kebingungan, dan akhirnya semua terasa menyakitkan ketika aku tahu aku hanya dalam sebuah permainan ibu…”kata Donghae dengan wajah lesu, ia emosi tapi ia tak bisa berkata lebih tajam lagi pada orang tuanya.

“Tapi ibu terpaksa nak. Ibu terpaksa melakukan semua ini, ibu terpaksa karena ibu tahu kalau ibu tidak begini kau tidak akan pernah kembali…”ibu Donghae berusaha membela diri.

“Dari dulu sudah kujelaskan bahwa aku tetap akan pulang. Bukankah sudah aku katakan? Aku keluar hanya untuk membuktikan bahwa aku bisa hidup mandiri, hanya itu…”

“Tidak! Ibu tahu bukan itu alasanmu. Kau pergi untuk menghindari pertunanganmu dengan Taeyeon buktinya, kau sampai menjalin hubungan dengan gadis yg statusnya tidak jelas seperti itu…”

“Aku bilang berhenti mengatakan hal yg buruk terhadap Soeun. dia bahkan tidak serendah dan seburuk yg ibu bayangkan. Dialah yg terbaik untukku…”

“Bukan, gadis yg terbaik bagimu adalah Taeyeon. Bukalah matamu, hanya dia yg pantas untukmu…”

“Harusnya aku yg mengatakan itu. bukalah mata ibu. bu Lihatlah, hanya gadis itu yg bisa membuat anakmu bahagia, hanya gadis itu yg dapat melengkapi hidup putra ibu, yaitu aku. ibu, buka mata hati ibu, bagaimana mungkin ibu sampai gelap mata sampai membuat gadis sebaik dia celaka?” Donghae masih berkata dengan sangat emosi. Ibu Donghae terdiam dengan ucapan Donghae tersebut, Donghae menatap ibunya. “Aku mencintainya, aku hanya ingin dia untukku. Bahkan berapa banyakpun wanita sekaya dan sebaik Taeyeon ibu berikan padaku, aku tidak mau. Karena aku sudah memilih Soeun untukku. Ibu tolong hentikan berbuat semacam ini, kasihan Soeun bila ibu terus menekannya, dia hidup sebatang kara. Dihidupnya dia bahkan hanya punya aku…”

“Kenapa kau selalu memikirkan dia? Dia baru dalam hidupmu. Sementara ibu sudah bersama semenjak kau diciptakan. Kenapa bahkan kau lebih memikirkan perasaannya daripada ibu…”

“Ibu..”

“Donghae, kau adalah pewaris tunggal Aiden hotel. Nama baik, martabat, serta harga diri keluarga ada dibahumu. Sekarang fikirkan, mana mungkin gadis seperti itu bisa membantumu…”

“Cukup bu, ini sudah keterlaluan…”

“Tapi inilah kenyataanya. Ini benar2 harus kau terima, ini takdirmu. Bukan gadis seperti itu yg bisa mengerti posisimu…”

“Lantas apa itu alasan ibu mencelakainya?”

Ibu Donghae terdiam menatap ekspresi marah Donghae. “Lihat, sebelum kenal gadis itu kau tak pernah menatap ibu dengan pandangan penuh kebencian seperti ini. seharusnya kau berfikir, ada sesuatu pada dirinya yg membuatmu bergantung padanya. ibu yakin, dia sudah melakukan sesuatu padamu…”

“Berhenti menyalahkan Soeun!” Donghae berseru tidak tahan dengan begitu emosinya. Ia menatap ibunya dengan nafas yg ngos-ngosan. “Seharusnya ibu sadar kenapa aku sampai semarah ini. ibu seharusnya sadar kenapa aku begini. Ibu membohongiku, mempermainkanku, memisahkan aku dengan orang yg aku cintai, ibu mencelakai kekasihku, membuat hidupnya lebih menderita. Coba ibu fikir bagaimana aku tidak semarah ini? ibu keterlaluan. hanya demi masalah status, ibu sampai gelap mata dan menjadi orang lain dimataku. Dan kalau ibu bertanya sesuatu apa yg membuat aku begitu tergantung padanya, ya aku tergantung padanya seperti dia tergantung padaku. Aku begini karena dia telah membuatku begitu mencintainya, tidak ada alasan lainnya…”

“Cinta? Apa yg kau dapatkan dari itu? bagaimana kau sampai mengatakan hal2 seperti itu? Donghae, sekarang tentukan, kau pilih dia atau kami. Ibu tidak mau berdebat sama sekali!”

Donghae menatap mata ibunya yg tidak juga mengerti maksudnya. Ia menghela nafas, lantas berpaling kelangit-langit.

“Tolong jangan memberikan pertanyaan seperti itu untukku ibu. Antara dia dan ibu adalah dua hal yg berbeda…”

“Tidak, kau harus tentukan. Kau tidak bisa seperti ini, sekarang kau harus tentukan. Kau pilih dia, atau kau pilih ibu?”

Donghae menatap ibunya yg benar2 menampakkan keseriusannya ketika mengatakan semua itu, ia kemudian berpaling otaknya berfikir, bagaimana bisa ia harus menentukan hal seperti ini. Soeun dan ibunya adalah dua hal tidak seharusnya dibandingkan, mereka memiliki tempat sendiri bagi Donghae dihatinya. Bagaimana mungkin ia bisa menentukan ini, tidak seharusnya ibunya memberikan pilihan yg sesulit ini untuknya.

“Ibu…”

“Naeri, apa yg kau katakan?”

“Ibu tidak mendengar penawaran lainnya Donghae. Kau yg tentukan, kau pilih ibu dengan menikahi Taeyeon? Atau kau pilih gadis dan tak pernah lagi mencul dihadapan ibu?

“Ibu, kenapa ibu sampai berfikir seperti ini? kita masih bisa membicarakan ini secara baik2. Ini hanya masalah status yg ibu fikirkan, kita masih bisa mencari jalan yg terbaik untuk semua ini…”

“Tidak, ibu tahu kalau kau tak dipaksa begini kau masih akan tetap mempertahankan gadis itu… Ibu tahu, bila tidak begini kau bahkan tidak akan pernah perduli pada keluargamu…”

Donghae menatap sinar emosi dari kedua mata ibunya. Ibunya keras kepala, kenapa ibunya bahkan tak pernah melihat sedikitpun dengan mata hatinya. Sejak kapan ibunya berubah begitu ambisius seperti ini. sejak dulu! Ya, sejak dulu ibu memang selalu begini tapi Donghae tak menyangka bahwa ia akan menentukan pilihan yg berat untuk dirinya seperti ini.

“Ibu benar2 seperti orang yg tidak kukenal…” kata Donghae kemudian. ibunya tak menyahut, ia masih menatap mata putranya yg menatapnya penuh kekecewaan. “Kalau ibu terus begini, aku sepertinya begitu tahu tentang apa yg seharusnya aku tentukan.  Dan setelah yg ibu lakukan padanya, aku semakin yakin kalau mungkin memilihnya adalah yg terbaik untukku…”

“Donghae…” Donghae menatap ayahnya yg mulai bersuara karena kaget atas pilihan Donghae. Donghae mengalihkan pandangannya pada ayahnya.

“Maafkan aku, tapi akhirnya ibu membuatku memilih hal ini. aku tidak bisa membiarkannya hidup sendiri sekarang, aku sudah berjanji akan selalu menjaganya. Mulai sekarang ini pilihanku yg tidak bisa di ganggu lagi. Aku akan kembali padanya, apapun yg terjadi aku akan memilihnya. Maaf bila ayah ibu tidak suka dengan jalanku. Tapi kebohongan ini sungguh membuatku kecewa. Dia butuh aku.. Kukira memang sebaiknya aku bersamanya disaat ini. maafkan aku, kuharap suatu saat kalian mengerti dengan pilihanku. Aku pergi!”

“Donghae!!!”

Donghae tak lagi mendengarkan panggilan kedua orang tuanya. Sebenarnya ia ragu dengan pilihannya ini. mereka semua penting untuknya. Tapi Soeun, kenapa ibunya tega melakukan hal ini pada gadis sebaik Soeun? Dia salah, dia tahu, tak seharusnya ia mengatakan hal seperti itu pada kedua orang tuanya sendiri. tapi janjinya pada Soeun harus ditepati. Dan tentu saja, setelah kebohongan ini terungkap seharusnya ia bersama Soeun,  pihak yg paling tersakiti. Selalu bersama, itulah janji yg pernah mereka ikrarkan. Walau hal ini berat, tapi Soeun akhirnya menjadi pilihannya. Donghae berharap, kedua orang tuanya mulai mengerti dan mulai menerima Soeun untuk dirinya.

[]

Donghae menysuri jalan keluar dari rumah sakit dengan begitu emosi. Kini pilihan sudah ditetapkan, pilihan ini sudah tidak bisa diganggu siapapun. Soeun, ya pilihannya adalah Soeun. tak peduli lagi berapapun cibiran orang terhadapnya nanti.

Donghae keluar dari lift, namun langkahnya terhenti ketika bertemu dengan Taeyeon yg berniat menjenguk ibunya. Taeyeon pun juga kaget, ia ragu untuk melewati Donghae. Donghae menghela nafas, lalu ia melanjutkan berjalan ingin melewati Taeyeon begitu saja. Taeyeon yg sepertinya tahu akan niatan Donghae, akhirnya memilih untuk tetap berjalan sambil menundukkan kepala.

Sssrttt….

Keduanya berpapasan seperti dua orang yg tak mengenal. Namun tiba2 sesuatu terfikir di benak Donghae, ia menghentikan langkahnya.

“Taeyeon!”

Taeyeon menghentikan langkahnya mendengar seruan Donghae. Ia kemudian berbalik, bersamaan dengan Donghae yg berbalik. Donghae terdiam, berfikir, ia kemudian menatap Taeyeon dengan begitu yakin.

“Maafkan aku bila harus mengatakan ini. tapi kau begitu tahu, bahwa aku memang akhirnya akan begini. Taeyeon maaf, tapi aku tidak bisa melanjutkan ikatan yg telah mereka ikatkan pada kita sejak kecil. Kau tahu, aku begitu mencintai kekasihku…”

Taeyeon terdiam mendengar kata2 Donghae. Yah, dia tahu, pada akhirnya semuanya akan begini, Donghae akan mengatakan hal ini. donghae hanya menatap Taeyeon yg masih menunduk dan berfikir.

“Maaf, memang tak seharusnya aku melakukan hal ini padamu. Tapi seseorang berpesan padaku untuk tidak membuatmu berharap. Ya, dia benar, aku tidak ingin kau sakit hati itu sebabnya aku begini. Jadi, kita bisa mengganti ikatan itu dengan sebuah pertemanan…” kata Donghae dengan hati2. Ia takut melukai perasaan Taeyeon, ia sudah salah mengatakan hal ini didepan umum ia begitu tahu itu, tapi yah sepertinya hanya inilah kesempatan yg Donghae punya.

Taeyeon terdiam, masih menunduk, perlahan ia mulai meninggikan arah pandangannya hingga menemukan wajah Donghae.

“aku tahu, aku mengerti, memang dari dulu seharusnya aku tidak menerima rencana mereka untuk kita…”kata Taeyeon sambil tersenyum kepada Donghae. Donghae dengan cepat tersenyum lega mendengar jawaban Taeyeon.

“terima kasih, kau memang tak pernah berubah dari kecil. Kau tetap adalah gadis yg baik dan orang sepertimu pantas mendapatkan seseorang yg lebih baik dari pada aku. Dan aku begitu yakin, orang yg bersamamu adalah seseorang yg beruntung “ kata Donghae sambil tetap tersenyum. Taeyeon hanya balas tersenyum kecil. “Ya sudah Taeyeon, aku harus pergi. Sekali lagi terima kasih atas kebaikanmu. Aku senang bisa kembali berteman denganmu dan tanpa ada rasa canggung lagi. Sekali lagi terima kasih. Ya sudah, aku pergi ya. Sampai jumpa…” kata Donghae masih tersenyum sebelum akhirnya ia meninggalkan Taeyeon dan pergi. Taeyeon hanya terdiam menatap kepergian Donghae.

“Gadis itu yg sebenarnya lebih beruntung. Dia beruntung memilikimu yg rela melakukan apapun untuknya. Dan kufikir, tidak akan ada yg mampu sebaik dirimu yg dapat aku temui lagi…” kata Taeyeon dengan pelan sambil terus menatap Donghae yg menjauh.

[]

Donghae tersenyum sambil melihat deretan boneka-boneka didepannya. Dia kemudian meraih sebuah boneka berbentuk kucing yg terletak disana. Donghae kemudian menatapi boneka itu sambil tersenyum.

“Haha, benar2 lucu.kau terlihat sama dengan seorang gadis cerewet yg kukenal…” donghae tersenyum sendiri sambil melihat boneka  berbentuk kucing itu. ia tersenyum lantas memukul-mukul kepala boneka tersebut untuk melampiaskan rasa gemasnya terhadap Soeun. namun pada akhirnya ia terdiam, berhenti melakukan itu lantas menatap boneka itu sekali lagi dengan pandangan yg berbinar. “Aku sayang padamu… Benar2 sayang. Apa aku salah memilihmu?” tanya Donghae pada benda mati itu sambil kali ini mengusap lembut kepalanya.

“tidak! Aku tidak menyesal… Aku yakin, aku benar dengan memilihmu…” Donghae lagi2 tersenyum sambil menatap boneka kucing itu. “Baiklah, kau ikut denganku. Aku akan pertemukan kau dengan seseorang yg persis sepertimu…”donghae berhenti dengan boneka kucingnya itu, ia lantas membawa boneka itu kemeja kasir.

[]

Donghae menyandang barang2 yg dibelinya dibahunya. Donghae lantas masih berjalan mengitari pusat perbelanjaan itu. beberapa saat setelah itu, Donghae meraih ponselnya disaku celananya. Setelah memencet beberapa nomor, Donghae merapatkan ponselnya ketelinganya dengan wajah tersenyum.

“Yeobseo…” Donghae tersenyum dengan sahutan dari lawan bicaranya disana.

“Yeobseo. Selamat siang Jagiya, apa yg sedang kau lakukan..?” Donghae bertanya sambil tersenyum.

“aku…”

“Aku sudah tahu, kau pasti sedang memikirkan aku. ya ya.. jangan jawab, aku tahu itu…” kata Donghae cepat. Donghae tersenyum, lantas senyumnya hilang ketika Soeun tidak secerewet biasanya, dia diam. “Soeun…”

“Huh? Ya…” donghae terdiam mendengar sahutan Soeun itu. ia mengetahui sesuatu.

“Kau menangis, kenapa kau menangis? Seharusnya kau bahagia karena aku menelfonmu bukannya menangis…” kata Donghae kemudian.

“Aku tidak menangis…”

“Jangan bohong, aku tahu kau sedang menangis. Kau curang sekali, mentang2 kularang menangis didepanku kau malah menangis ketika aku menelfonmu. Awas, kau pasti akan mendapatkan balasannya. Aku pasti akan mencarimu dan akan menciummu…” kata Donghae kemudian.

“Apa-apaan semua itu. kenapa kau selalu mengaturku, mana boleh membuat peraturan seenaknya begitu…” Donghae tersenyum mendengar Soeun protes.

“Tentu saja boleh, aku namjachingumu…”

“Benarkah? Sejak kapan aku punya namjachingu?” Donghae lagi2 tertawa kecil.

“Hya, Putri Kucing! Kau benar2 menganggap ini permainan ya? Lihatlah, kau pasti akan mendapatkan ganjaran atas semua perbuatanmu ini. baiklah, mari bertemu…” kata Donghae kemudian.

“apa?”

“Kenapa kau kaget begitu? Memangnya kita tidak boleh bertemu huh? Akukan namjachingumu, aku punya hak untuk mengajakmu bertemu. Jadi, jam delapan ini berdandanlah dengan sangat cantik dan temui aku ditempat kita biasa bertemu. Mengerti?” kata Donghae.

“Tapi…”

“Tapi apa lagi? Kau ini mentang2 aku tinggal beberapa saat kau menjadi semakin pintar membantah kata2ku ya. Tidak ada tapi, hanya menurutiku, mengerti…” Donghae terdiam menunggu sahutan Soeun. “Mengerti?” Donghae mengulangi kata2nya karena Soeun tak juga menyahut.

“Mengerti…” Donghae tersenyum mendengar sahutan Soeun.

“Baiklah, bersiap-siaplah segera mengerti?”

“Ara…”

“Baiklah, kita bertemu nanti malam ditempat kita biasa bertemu ya. Annyeong Jagiya…”

“Annyeong….”

“Tunggu!”

“Huh?” Donghae tersenyum setelah mendengar sahutan Soeun.

“Soeun-ah, asal kau tahu, aku sudah menentukan sesuatu dalam hidupku yg berkaitan dengan kita. Pertemuan kita nanti malam bukan pertemuan biasa. Pertemuan kita ini adalah, bentuk penetapanku…”

“Maksudmu?”

“Nanti saja kujelaskan, sekarang cepatlah bersiap-siap untuk bertemu denganku. Kita berjumpa disana saja ya…”

“Hum, ya aku tahu. Baiklah…”

“Baiklah, annyeong!!”

“Annyeong….”

“Soeun-ah?”

“Apa?” donghae tersenyum lagi, ia membayangkan wajah kesal atau kaget Soeun karena daritadi selalu ia ganggu.

“saranghaeyo…”

Donghae dengan cepat mematikan telfonnya setelah mengatakan kata2 itu. ia tersenyum begitu bahagia, sambil membayangkan senyuman Soeun. Donghae mengangkat wajahnya yg masih tersenyum itu dengan maksud melanjutkan perjalanannya namun senyumnya hilang seketika ketika melihat beberapa orang berbaju serba hitam yg berdiri dihadapannya.

“Kalian..” Donghae berseru kepada orang2 yg mulai memberi penghormatan itu. Donghae terdiam, ia begitu tahu apa yg selanjutnya terjadi.

“Tuan muda, kami mohon supaya anda ikut kami…” donghae lagi2 terdiam menatap semua orang yg merupakan bawahan keluarganya itu.

“Aku tidak mau! Aku mau pergi. Minggirlah!” kata Donghae dengan wajah kesal dan marahnya.

“Tapi nyonya meminta anda untuk pulang…”

“AKU TIDAK MAU!”

Semua penjaga itu diam ketika Donghae mulai membentak. Sementara Donghae mulai berpaling, mencari arah lain untuk ia pergi.

“Pergilah!” Donghae bergerak kearah sisi mereka dengan maksud menghindari mereka. Namun langkahnya terhenti juga ketika salah satu dari mereka memegang bahu Donghae. Donghae menatapnya kesal. “Kau tidak dengar yg aku katakan? Lepaskan!” Donghae berseru dengan kesal.

“Maaf kalau anda tidak suka cara ini. tapi kami harus menuruti perkataannya nyonya untuk membawa anda pulang…” kata salah satu penjaga yg memegang bahu Donghae.

Donghae tersenyum sinis mendengar ucapan salah satu suruhan tersebut. Ia berpaling, lantas tiba2 melayangkan pukulannya kearah penjaga yg memegang bahunya. Seluruh penjaga kaget atas tindakan Donghae, mereka berusaha menghindari setiap pukulan Donghae. Donghae yg kali ini sudah tidak lagi ditahan siapapun berniat untuk lari dari sana. Namun, sayang, dengan cepat mereka kembali kearahnya dan memegang tangannya serta mengunci gerakannya. Donghae berontak minta dilepaskan.

“Lepaskan!” Donghae berseru benar2 kesal. Namun, tak diacuhkan oleh mereka. Donghae kembali berusaha berontak, namun percuma kekuatannya tidak sebanding dengan mereka semua. “Lepaskan!”

“Bawa Dia!” Donghae masih berusaha berontak ketika mereka semua membawanya kearah luar mall. Apa lagi ini?

[]

“saranghaeyo..”

Tut Tut Tut….

Soeun hanya bisa tersenyum bahagia kembali melihat ulah Donghae. Ya, memang beginilah Donghae, ia selalu bisa membuat Soeun bahagia dengan semua yg ia lakukan untuk Soeun. Soeun menghapus air matanya yg sempat jatuh tadi. Kemudian ia berfikir, bentuk penetapan? Apa maksud Donghae dengan bentuk penetapan? Soeun tak mau ambil pusing dulu, ia kemudian berbalik. Soeun tersentak melihat Kyuhyun sudah berdiri disana.

“Astaga, kau…” Soeun mengelus dadanya yg begitu kaget karena tiba2 menemukan Kyuhyun dibelakanganya. Kyuhyun tak menyahut, ia menatap ponsel ditangan Soeun.

“Selesai menelfon?” tanya Kyuhyun kemudian. Soeun mengangguk cepat. Kyuhyun lantas malah tersenyum kecil sambil melihat kearah yg lainnya. “Tadi menangis begitu menyedihkan. Sekarang malah kembali ceria ckckck…”sambungnya. soeun tak menyahut, ia hanya menunjukkan wajah sedikit cemberut sambil berfikir. Kyuhyun tersenyum agak sinis melihat reaksinya.

“Jangan terlalu berharap. Akan terlalu beresiko kalau kau terlalu berharap dan percaya padanya…” Soeun mengangkat wajahnya ketika Kyuhyun berkata hal seperti itu padanya. kyuhyun hanya menatapnya sambil tersenyum kecil, ia lantas memeriksa sesuatu disakunya. “Ini kuncimu, seseorang tadi mengantarkannya dan menitipkan padaku…” kata Kyuhyun sambil mengulurkan kunci yg tadi diambilnya dari Donghae.

Soeun meraih kunci miliknya, ia agak heran bagaimana mungkin kunci itu bisa sampai ketangan Kyuhyun. Setahunya, kunci itu tertinggal di kamar hotel.

“Darimana kau mendapatkan ini?” tanya Soeun pada Kyuhyun. Kyuhyun tersenyum kecil.

“Sudah ku katakan, seseorang mengantarnya dan menitipkan padaku…” Kyuhyun menyahut sambil beranjak meninggalkan Soeun. soeun terdiam, ia menatap kunci ditangannya. Tidak mungkin Donghae, Donghae pasti akan menemuinya kalau memang dia sendiri yg datang…

[]

~Kim Soeun POV~

Hari ini hatiku begitu bahagia Donghae. Entahlah, entah kenapa aku sampai sebahagia ini padahal tadi pagi aku masih merasa begitu sedihnya. Kau tahu, pagi tadi aku begitu gelisah. Aku merasa bersalah karena telah membuat ibumu sakit dan dalam fikiranku memang sudah seharusnya semuanya berlalu. Tapi, bagaikan begitu mengerti kau langsung menelfon dan menenangkan aku. kau tidak tahu betapa bahagianya aku mendengar suaramu lagi, apalagi ketika kau menyapaku dengan pribadi ceriamu itu. kau bilang padaku kau telah memutuskan. Kau tahu apa yg aku fikirkan? Aku berfikir kau akan kembali setelah menjauh begitu lama. Kau kembali untuk menepati janjimu yg dulu kau ucapkan padaku. Aku tahu, mungkin ini begitu egois, ya egois… Tapi salahkah aku kalau aku kembali berharap? Karena kau tahu, aku selalu menemukan harapan setiap kali kau berbicara padaku tanpa beban seperti tadi.

Sekarang kita akan bertemu lagi. Dan aku tidak sabar untuk itu, kita akan kembali bersamakan? Kali ini kita tidak lagi dipisahkan. Tolong biarkan aku berharap kembali, setelah begitu lama aku dibiarkan menjalani semuanya tanpa semangat dan harapan.

[]

Musik yg tadi berkumandang kini telah berhenti mengalirkan setiap nada. Kafe yg awalnya dipenuhi kini telah berganti menjadi sebuah tempat yg mulai menjadi sepi. Semuanya telah pergi, hanya tinggal beberapa pelayan yg mulai berkemas untuk menutup usahanya dan hanya tinggal seorang gadis yg duduk resah disana. Soeun menunduk sambil menggigit bibir bawahnya. Kemana Donghae? Kenapa belum juga datang? Tidak biasanya ia begini. Soeun menggeleng, ia menghilangkan prasangka buruk dalam dirinya. Donghae datang, Donghae pasti akan datang, dia mungkin terhalang dijalan. Ini adalah hari yg penting, karena hari ini adalah hari penentuan. Soeun melirik jam dipergelangan tangannya, sudah begitu malam, sudah berjam-jam ia disini tapi kenapa Donghae tak kunjung datang… Soeun mengangkat wajahnya melirik kearah pintu berharap akan ada Donghae yg tergesa-gesa datang padanya dan meminta maaf atas keterlambatannya, tapi Donghae tidak… Soeun hanya dapat terdiam dengan wajah yg begitu muram dan gelisah.

“Permisi…” Soeun mengangkat wajahnya begitu mendengar seseorang yg berbicara padanya. Soeun hanya mencoba tersenyum melihat pelayan itu kembali datang padanya. “Maaf nona, kami menyesalkan ini, tapi sepertinya kami harus tutup…”

Soeun hanya terdiam mendengar kata2 pelayan tersebut. Ia menunduk, menatap arlojinya dan kembali menatap pintu masuk. Soeun kemudian berpaling kembali kepada pelayan.

“Aku akan pulang…” kata Soeun sambil berusaha tersenyum yg dibalas senyuman oleh pelayan tersebut. Soeun kemudian bangkit dan mengambil tasnya, ia menatap pelayan tadi. “Maaf kalau aku merepotkan… Annyeong…” Soeun membungkukkan badannya kepada pelayan tersebut yg dibalas penghoramatan oleh pelayan tersebut.

“Hati-hati dijalan nona…”

Soeun hanya tersenyum, lantas langkahnya keluar dari kafe itu. Soeun terpengkur menatap salju yg turun. Ia kemudian terdiam, kembali mengenang musim salju yg pernah ia lalui bersama Donghae. Indah, tapi sekarang salju yg putih mulai terlihat hitam ketika Donghae tidak menampakkan diri dihari yg ia bilang penentuan. Apa donghae tidak berniat datang? Apa inilah keputusan Donghae? Mengakhiri semuanya cukup sampai disini dengan cara seperti ini. soeun menggeleng cepat, tidak! Ia bahkan tidak ingin menerima kenyataan yg seperti ini. apa hari ini semuanya benar2 telah berakhir… Soeun kemudian berusaha menghilangkan kesedihannya dan kembali berjalan dan menembus hujan salju yg turun.

Sementara itu, ketika Soeun mulai menjauh dari restoran seorang pemuda keluar dari restoran yg sama. Donghae, menatap punggung Soeun yg menjauh dengan langkah yg gotai. Dari tadi, walau tidak menemui Soeun langsung, tanpa Soeun ketahui Donghae mengawasinya dikafe yg sama dari jauh. Ia ada disana, melihat Soeun tapi ia tidak bisa untuk lebih dekat kepadanya lagi. Derap kaki menjauh Soeun bagaikan lagu sendu untuk hatinya. Hancur, menangis, ia begitu bisa mendengar suara hati gadisnya walau ia terus membawa kakinya melangkah. Tapi apa? Kebaikan Soeun dan keselamatannya jauh lebih diutamakan saat ini, ibu benar2 tidak main2. Donghae menatap arah pergi Soeun, lalu dengan diam2 kembali mengikuti Soeun dari belakang tanpa sepengetahuan Soeun.

[]

Soeunmasih berjalan dengan begitu gotainya. Ia ingin sekali menangis saat ini, tapi ia mencoba menahannya. Tidak! Donghae bilang tidak boleh menangis lagi. Lagipula mana mungkin ia harus menangis ditengah keramaian seperti ini. harus kuat, Soeun harus kuat…

Sementara Donghae tetap mengikuti Soeun dari belakang. Ia menutup kepalanya dengan topi jaketnya. Begitu dingin, kenapa Soeun tak memutuskan naik taksi saja supaya ia bisa menenagkan diri atau supaya dia tidak sakit. Donghae mengarahkan pandangannya kebelakangnya. Masih disana, ya suruhan ibunya juga masih mengikutinya itu sebabnya ia memilih mengikuti Soeun tanpa ingin mendekatinya. Karena ia tahu, ia disuruh memutuskan malam ini, ingin tetap bersama Soeun atau kembali. Ia tak bisa membuat Soeun celaka, walau ia begitu ingin memeluk Soeun saat ini. Mereka selalu mengawasi Donghae yg diberi kesempatan untuk menentukan malam ini. Ia diizinkan untuk menemui Soeun, tapi tak diizinkan mendekat bila memang memilih lebih mengutamakan keselamatan Soeun. Soeun dalam ancaman yg nyata, bila ia lebih mendekat lagi.

Donghae terus mengikuti Soeun, sementara ingatannya kembali kebeberapa jam yg lalu. Beberapa jam saat ia dipaksa kembali menemui ibunya lagi. dan ditelinganya ucapan ibunya kembali tergiang dan terngiang lagi.

Menyedihkan! Kenapa ibunya sampai memberikan suatu ultimatum yg benar2 tak disangka seperti ini. apa salah Soeun? sehingga dengan begitu kerasnya ia menentang keingininannya untuk bisa bersama Soeun bahkan rela melepas segalanya yg ia punya. Bagaimana mungkin, ibunya tega mengancam keselamatan Soeun kalau ia tetap teguh dengan pendiriannya. Ibu tidak main2, ya ibu benar2 marah saat ini. tapi kenapa? Apa ia begitu menganggap buruk Soeun? seseorang yg mungkin memiliki hati tertulus yg ia pernah temui. Kenapa ia tidak bisa melihat kebeningan hati Soeun dari kedua mata beningnya? Kenapa ibunya tega menyakiti Soeun hanya untuk sebuah kata STATUS?

Membahayakan? Kali ini bukan hanya sebuah ancaman. Ia tahu, ibunya bisa berbuat apapun untuk membahayakan Soeun. bukankah sudah pernah terjadi beberapa kali? Ibunya pernah membahayakan Soeun hingga membuat luka yg nyata pada fisik Soeun maupun mental Soeun. lalu bagaimana mungkin ia bisa berfikir disaat seperti ini? keselamatan Soeun, tentu ia lebih memilih keselamatan Soeun daripada keinginan mereka untuk bersama. Tapi bagaimana dengan janji dan harapan mereka untuk selalu bersama? Apakah memang demi Soeun ia harus merelakan semua itu tidak menjadi nyata? Tidak! Kenapa tidak dibiarkan bersama saja?kenapa harus begini adanya. Tapi Donghae tahu, mengikuti egonya mungkin akan benar2 berdampak benar pada diri Soeun. Donghae takut, bila nantinya mereka bersama ia lengah sedikit saja sesuatu yg buruk mungkin bisa menimpa Soeun. dan melihat Soeun menangis dan terluka adalah hal terburuk yg tak pernah sedikitpun lagi ingin ia temui. Lalu harus bagaimana?

Soeun menghentikan langkahnya ditengah jalan membuat Donghae juga berhenti dan menyembunyikan diri. Soeun terdiam, ia berbalik dan menatap kembali jalan yg ia tempuh sebelumnya. Ada Donghae! Ia merasakan ada Donghae disekitar sana. Tapi mana dia? Kenapa ia tidak terlihat. Soeun kembali melihat-lihat jalan yg sebelumnya ia lalui yg membuat Donghae lebih berusaha agar tak terlihat. Banyak orang yg berlalu lalang, tapi tidak ada Donghae disana, tapi kenapa Donghae terasa dekat? Soeun kembali berbalik, menggeleng. Tidak mungkin! Dia pasti hanya sedang terlalu memikirkan Donghae hingga ia merasa seperti ini. Mana mungkin Donghae tidak langsung menghampirinya kalau ia ada disekitarnya? Hanya khayalan, ya hanya khayalan…

Soeun berusaha menepis fikiran tidak menentunya, lantas kembali berjalan dengan langkahnya yg gotai. Donghae kembali mengintip Soeun yg sudah kembali menjauh. Donghae menghela nafas, menatap punggung Soeun lagi, lantas kembali mengikutinya.

Untuk apa ia begini? Mengikuti Soeun tanpa Soeun ketahui. Keselamatan, Donghae hanya memastikan keselamatan Soeun sampai ia kembali kerumah. Meski ia tahu ibunya tidak akan bertindak yg membahayakan selama ia masih jaga jarak pada soeun, tapi ia tetap tidak tenang membiarkan Soeun berjalan menempuh jalan pulang sendiri. Saat ini sudah begitu malam, hujan salju masih terjadi, mana mungkin ia tenang membiarkan Soeun pulang sendiri dengan perasaan sedih seperti ini. dan lagi, ia ingin bisa melihat Soeun sebanyak yg ia bisa saat ini walau hanya punggungnya karena Donghae takut, kalau ia memang memutuskan untuk melepaskan Soeun. ia takut,  untuk selamanya ia bahkan tidak bisa melihat Soeun lagi.

Berpisah? Betapa buruknya setiap kali ia memikirkan itu. tapi kenapa, ibunya selalu mengancam keselamatan Soeun begini. Ibu tidak bercanda, dengan uang dan kedudukan ia bisa melakukan apapun yg ia mau. Dan tidak sulit untuk membuat Soeun sengsara, dalam sekali perintah ia bisa membuat Soeun mengalami kesulitan penuh dalam hidupnya dan hal itulah yg ia tidak inginkan sekarang.

Donghae terus mengikuti Soeun dari belakang dan beberapa meter darinya. Soeunpun masih berjalan dengan begitu gotai dan sedihnya. Soeun terdiam, menghentikan lagi langkahnya yg membuat Donghae kembali menyembunyikan dirinya..

Soeun terdiam, menundukkan kepala. Tidak tertahan, kali ini benar2 sudah tidak mampu ditahan. Ia akan menangis, kali ini ia benar2 akan menangis lagi. Soeun menghela nafas, lalu ia menepi kesebuah kursi taman yg terletak disana,ia kemudian membiarkan dirinya perlahan turun kebawah. Soeun kini hanya duduk sambil terus menunduk, dan perlahan air matanya kembali jatuh. Donghae menghela nafas, ia hanya menatapi Soeun yg kini menangis lagi dihadapannya. Janjinya… kenapa ia selalu akhirnya mengingkari janji yg ia pernah ucapkan pada Soeun. donghae menghela nafas, memukul tembok didepannya lalu kembali menatap Soeun yg menangis tak jauh darinya.

 []

Donghae masih terdiam disana sambil memperhatikan Soeun yg masih menangis di kursi taman tak jauh darinya. Donghae menghela nafas lagi dan lagi, hatinya benar2 ingin segera mengahmpiri Soeun disana dan menghapus air matanya. Donghae akan membuat gadis itu kembali ceria dan bahagia. Tapi apa? Akan lebih berbahaya jika ia mendekati Soeun.

Soeun masih menunduk sambil berusaha menghabiskan air matanya yg tidak pernah berniat untuk berhenti mengalir. Semua orang menatapnya yg menangis dijalan, tapi ia tidak peduli lagi, tak ada waktu untuk peduli lagi, ini terlalu sakit untuk ditahan sendiri. Soeun hanya terus menunduk, melihat hamparan salju putih di bawah kakinya. Butir salju masih juga turun dari langit sama seperti air mata Soeun yg terus jatuh dan jatuh lagi. Semuanya berguguran dan begitu menyesakkan….

Donghae masih juga memperhatikan Soeun. menunggu ia untuk bangun dan mungkin berhenti menangis. Ahh, Soeun, maafkan aku. aku begitu payah dalam hal memberi kebahagiaan untukmu. Donghae menghela nafas, kenapa Soeun belum juga berhenti menangis. Tidak tahukah dia kalau hati Donghae begitu tidak tenang melihatnya menangis seperti itu. Fikiran Donghae kembali membingungkan. Harus dihentikan, Soeun tidak boleh menangis seperti itu. ia harusnya memberi ketenangan untuk Soeun, tapi bagaimana? Lamunan dan pergolakan batin dalam dirinya tiba2 hilang sama sekali ketika ia melihat seseorang mendekati Soeun.

Soeun menghentikan perbuatannya, dan mengangkat wajahnya menyadari butir2 salju yg tadi berjatuhan di sekitarnya mulai tidak berjatuhan bersamaan dengan sepasang kaki yg berdiri dihadapannya. Soeun hanya terdiam menatap seseorang tersenyum padanya sambil memayunginya. Sementara Donghae yg tak kalah kaget hanya menatapi orang yg baru datang dan menghampiri Soeun itu dengan perasaan tidak menentu.

“Menangis seperti anak kecil begini apa tidak memalukan?” Soeun tak menyahut, hanya kembali menunduk berpaling dari Kyuhyun yang entah datang darimana tiba2 ada disana. Kyuhyun mengehala nafas, ia melayangkan lagi pandangannya pada Soeun yg terus menunduk itu. “Apa yg terjadi?” tanya Kyuhyun kemudian.

Soeun  tak langsung menyahut, ia masih saja menunduk semakin dalam. “Tidak datang… Dia tidak tidak datang…” Soeun menyahut dengan suara yg begitu pelan dan masih begitu sedih. Kyuhyun tak menyahut, tangannya masih memegangi payung yg memayungi Soeun lantas menunduk menatap Soeun.

“Bukankah sudah kuperingatkan kau jangan terlalu berharap. Lihat, yg kau terima akhirnya hanya selalu seperti ini…” Soeun mengangkat wajahnya mendengar perkataan Kyuhyun. Ia balas menatap Kyuhyun yg juga menatapnya. “Hentikan sekarang, atau kau terluka lebih jauh…” kata Kyuhyun dengan begitu yakinnya. Soeun balas menatap Kyuhyun. Ia tak menyahut, sebegian hatinya membenarkan tapi lebih banyak hatinya yg menolak.

“Bagaimana menghentikan setelah sejauh ini?” tanya Soeun kemudian masih dengan menangis.

“Bukankah lebih baik berhenti sejauh ini daripada lebih jauh lagi?” Soeun lagi2 terdiam mendengar perkataan Kyuhyun. Kyuhyun tersenyum, lantas tangannya yg lain ia ulurkan hingga dekat kepada Soeun. “Lupakan kesedihanmu, berfikirlah malam ini tentang yg kau rasa terbaik bagi semuanya. Sekarang ayo pulang, cuaca akan semakin dingin sebentar lagi…” kata Kyuhyun pada Soeun. soeun tak menyahut, ia hanya menatapi tangan Kyuhyun dalam beberapa saat. Sementara beberapa meter dari mereka, Donghae hanya menatap keduanya yg begitu terlihat dekat dan membuat hatinya benar merasa was-was sendiri melihat momen beberapa meter darinya itu. apa artinya?

“Apa lagi yg kau fikirkan? Ayo pulang…” Kyuhyun masih begitu sabar sambil tersenyum pada Soeun yg bingung menatapi tangannya. Soeun terdiam, kemudian perlahan meraih tangan Kyuhyun. Kyuhyun tersenyum, ia menggenggam tanga Soeun ditangannya. “Begitu dingin, kenapa kau bisa bertahan dalam keadaan dingin begini. Ayo pulang dan menghangatkan badan…” kata Kyuhyun.

Soeun menghapus air matanya dengan tangannya yg lain. Ia kemudian bangkit, dan kemudian berjalan pulang beriringan dengan Kyuhyun. Keduanya menempuh jalan pulang bersama dengan menggunakan sebuah payung yg dibawa Kyuhyun.

Donghae hanya menatap keduanya yg jalan pulang bersama dengan hati yg benar2 tidak tenang dan sebenarnya tidak terima. Seharusnya dia, seharusnya dia yg boleh melindungi Soeun dari dinginnya malam ini, bukan Kyuhyun. Seh rusnya dia, seharusnya dia yg pulang bersama Soeun, bukan Kyuhyun. Seharusnya dia, seharusnya dialah yg membuat Soeun berhenti menangis tadi, bukan Kyuhyun.

“Aah…” Donghae memukul kesal tembok dihadapannya untuk menumpahkan kemarahannya. Hatinya benar2 tidak terima tentang semua yg harus ia terima ini. bagaimana mungkin dunia harus memberikan pilihan yg terlalu sulit seperti ini padanya. Donghae tak mengerti dan selamanya mungkin tidak akan mengerti. Ia hanya bisa menumpahkan kekesalannya sambil terus memukuli tembok yg ada didepannya sampai tangannya benar2 merasa sakit.

[]

Donghae memasuki kembali rumahnya dengan begitu lesu. Ia memegangi tangannya yg benar2 terasa sakit setelah bertarung dengan tembok tadi. Tapi seberapapun sakitnya tangannya, bahkan rasanya tidak sebanding dengan sakit yg tengah diderita hatinya.

“Kau sudah kembali?” Donghae reflek mengalihkan pandangannya kearah lain ketika tiba2 ia mendengar suara ibunya. Donghae menghela nafas, menatap ibunya yg sudah berdiri disekitar sana.

“Ya…” Donghae menjawab pendek sambil mashi memegangi tangannya.

“Sudah kau putuskan?”

Donghae menghela nafas mendengar pertanyaan ibunya itu. benar, harusnya ia mengambil keputusannya sekarang… Tapi, kenapa semuanya terasa terlalu berat untuk dipilih. Donghae terdiam, bayangan kepergian Soeun dengan laki2 tadi kembali terputar dalam ingatannya. Donghae menghela nafas lagi.

“Akan aku ikuti semua kemauan ibu. Asalkan ibu berjanji tidak akan mengganggunya…” ucap Donghae terdengar berat. Ibu Donghae langsung menampakkan wajah yg sedikit puas mendengarnya.

“Kau menyetujuinya…”

Donghae tak menyahut, ia mengalihkan pandangannya sambil berfikir keras. “Hum..” jawab Donghae pendek. “Aku lelah bu, aku ingin istirahat. Aku kekamarku dulu, selamat malam…” tanpa mendengarkan sahutan dari ibunya Donghae langsung segera menuju kamarnya.

Ibu Donghae hanya menatapi kepergian Donghae. Raut kepuasan terlihat dari wajahnya. Ibu Donghae berbalik, berniat kembali kekamarnya namun ia kaget dengan seseorang yg berdiri didepannya.

“Yeobo…”

seseorang yg merupakan ayah Donghae itu tak menyahuti sapaan istrinya terhadapnya. Ia hanya menatapi istrinya tanpa mengatakan apapun untuk beberapa saat.

“Apa Misimu berhasil?” Ibu Donghae tak menyahuti pertanyaan dari suaminya, ia hanya mengalihkan pandangannya kearah yg lainnya. “Aku tidak tahu apa yg kau fikirkan dengan semua yg kau lakukan ini. aku juga tidak tahu, apa maumu dengan semua yg telah kau lakukan pada anakmu sendiri.” Kata ayah Donghae bwgitu tegas. Ibu Donghae hanya terdiam mendengar setiap ucapan suaminya.

“Aku tidak akan melarangmu ataupun ikut campur. Lakukanlah semua yg ingin kau lakukan. Tapi sebaiknya kau mulai memikirkan semuanya, sebelum kau menyesali semua yg kau lakukan nantinya…”

Ibu Donghae hanya terdiam mendengar ucapan ayah Donghae yg sudah mulai beranjak meninggalkannya.

[]

~Lee Donghae POV~

Maaf, mungkin walau ku ucapkan seribu kali pun, hatimu tidak akan mungkin terobati. Aku telah begitu salah, benar2 menyeretmu dalam pusaran hidupku yg akhirnya menenggelamkanmu. Salahku, salahku karena begitu mencintaimu dan memaksamu untuk membalasnya. Salahku, salahku karena telah memberikan begitu banyak janji dan memaksamu untuk mempercayainya. Dan salahku karena akhirnya aku mengingkari itu semua.

Tapi kau mungkin tahu bahwa hatiku tak kalah terluka. Kadang aku marah ketika dunia mulai berlaku tidak adil pada kita. Apa salah kita? Kenapa untuk bersamapun mereka tak mengizinkan kita. Apakah kita pernah mengusik ketenangan mereka?

Melihatmu menangis dihadapanku dan aku tak bisa menghapus air matamu yg akhirnya membuat aku melihat orang lain mengulurkan tangannya padamu. Apa kau fikir hatiku sebesar itu untuk menerima itu semua? Apa menurutmu aku rela melihat orang yg selama ini selalu berusaha merebutmu dariku menggandeng  tanganmu ketika pulang? Kau tahu, aku tidak terima…

Tapi mungkin dari sekarang aku harus mulai menerima kemungkinan orang lain menggandeng tangamu, orang lain mendampingimu, orang lain memelukmu, orang lain menciummu, dan orang lain memilikimu. Mungkin terasa berat, namun akhirnya demi dirimu aku harus begini. Tidak ingin membuatmu terluka lagi, tidak ingin kau disakiti lagi, dan tak ingin kau menangis lagi. Oleh karena itu aku begini. Walaupun terasa begitu berat untukku, tapi aku memang harusnya begini. Kim Soeun, apapun yg terjadi percayalah Lee Donghae akan selalu mencintaimu

[]

Soeun mengemasi semua barang di lokernya. Hari ini, ia telah memutuskan untuk mengundurkan diri dari Aiden Hotel. Semuanya sudah terasa tidak mungkin dipertahankan. Kyuhyun benar, memang seharusnya semua ini diselesaikan. Soeun menghela nafas ketika nama Donghae teringat lagi dalam fikirannya. Perlahan ia meraih selembar foto yg selalu ia selipkan diantara barang2 di lokernya. Sepasang kekasih tampak berfoto dengan wajah paling bahagia, berbeda jauh dari kehidupan mereka dialam nyata. Air matanya kembali jatuh menatap foto ditangannya, ia menyentuh permukaan foto dengan tangannya.

“Aku tahu ini bukan maumu. Dan aku tahu, kau begitu mencintaiku.. Aku sama sekali tidak menyalahkanmu mengenai semua ini. Aku pasti akan selalu mengingatmu, Saranghae…” kata soeun sambil menyentuh permukaan foto itu. Soeun kemudian mengapus air matanya, lantas mengambil tasnya dan keluar dari ruangan itu.

[]

Soeun melepaskan pelukan dari salah satu rekannya. Ia kemudian berusaha tersenyum, sambil menatap wajah2 rekan kerjanya yg melepasnya dengan berat.

“Jagalah diri kalian, semoga lain waktu kita bisa bertemu lagi…” Soeun berusaha tersenyum sambil menatap mereka semua. Mereka tak menyahut, mereka hanya menatapi Soeun dengan wajah sedih.

“Jaga dirimu Soeun…”

Soeun tersenyum mendengar ucapan mereka semua. Ia mengangguk, lantas kemudian kembali melangkah.

“Aku pasti akan baik2 saja…” kata Soeun sambil berjalan dan diiringi oleh teman2nya untuk keluar dari tempat itu. semuanya hanya mengangguk, mencoba tidak sedih melepaskan salah satu teman mereka. Merekapun berjalan mengiringi soeun hingga beberapa jauh.

“Benar tidak apa2?” soeun kembali berusaha tersenyum mendengar pertanyaan temannya lants mengangguk. Kemudian mereka kembali berjalan.

“Aku tidak apa2. Kenapa harus mengantarku, kembalilah bekerja…” kata soeun kemudian.

“Sekarang sedang jam istirahat, kami akan mengantarmu setidaknya sampai pintu keluar…”

Soeun tak menyahut lagi, ia hanya tersenyum dengan perlakuan beberapa teman2nya itu. namun, wajah yg sedih2 itu tiba2 berubah tegang ketika seorang wanita berjalan kearah mereka. Semuanya tak menyangka kalau ibu Donghae hari ini akan datang kesana. Soeun awalnya begitu kaget melihat ibu Donghae terlihat sehat dari sebelumnya. Namun, ia memilih untuk terus berjalan dan ingin segera pergi dari sana. Soeun hanya menundukkan kepala ketika akan berpapasan dengan ibu Donghae. Dan ketika dekat, Soeun masih sempat memberikan penghormatannya kepada ibu Donghae. Ibu Donghae menghentikan langkahnya tepat didekat Soeun.

“Masih mempunyai muka untuk datang kesini?” Soeun hanya menghela nafas mendengar ucapan sinis ibu Donghae. Ia mencoba menenangkan dirinya. Ibu Donghae lagi2 tersenyum sinis, ia menatap barang bawaan Soeun. “Sudah memutuskan untuk menyerah rupanya, baguslah…”

“saya mohon maaf bila ada perbuatan anda yg mungkin menyinggung atau menyakiti anda nyonya. Saya permisi…” Soeun kembali memberi penghormatan. Sekarang Aiden hotel dipadati tamu hotel dan lagi Soeun tidak mau membuat masalah ini lebh panjang lagi. Ibu Donghae menatap Soeun secara lekatnya dari atas sampai bawah.

“Sebenarnya aku masih heran tentang alasan apa yg membuat donghae begitu menyukaimu. Aku lihat, kau bahkan tidak mempunyai sesuatu yg istimewa…” kata Ibu donghae kemudian. soeun tak menyahut, ia hanya balas menatap ibu Donghae. Ibu Donghae kemudian tertawa kecil. “Ya, aku ingat kau pasti telah memberikan milikmu yg paling berharga untuk memikatnya. Yah, aku bahkan tidak lupa dimana sebelumnya aku memergoki kalian berdua…” kata ibu Donghae kemudian. Soeun agak kaget juga dengan ucapan ibu Donghae itu.

“Tolong jangan pernah mengatakan hal yg tidak benar mengenai saya nyonya. Semua yg anda fikirkan salah…”

“Salah? Lalu apa yg sempat aku lihat beberapa hari yg lalu? Dan lagi, bukankah kalian tinggal di apartemen yg sama sebelumnya?” ibu donghae menjawab sinis.

“Tolong tarik kembali ucapan anda nyonya. Memang kami tinggal di gedung apartemen yg sama. Tapi kami mempunyai apartemen sendiri-sendiri. Semua yg anda fikirkan sama sekali tidak benar…” kata soeun benar2 berusaha menjelaskan. Soeun mengatakannya dengan masih begitu sopan.

“Jarak apartemen kalian dapat dihitung dengan langkah kaki. Dalam begitu banyak malam yg kalian lalui, tidak mungkin tidak terjadi apapun antara kalian bukan? Lagipula, apalagi yg bisa membuat Donghae begitu bertekuk lutut dibawah kakimu kalau tidak pernah memberikan hal yg paling berharga darimu itu untuknya?”kata ibunya Donghae masih terdengar sinis. Ia tak peduli, walau begitu banyaknya orang yg memperhatikan mereka. Sepertinya niatnya memang untuk mempermalukan Soeun. soeun menghela nafas, menatap ibunya Donghae lagi.

“Semua yg anda katakan salah. Tapi aku tidak akan pernah melawan anda untuk membicarakan ini karena ku tahu anda tidak akan pernah mengerti. Jadi, aku akan pergi dari tempat ini…” kata Soeun kemudian.

“Tunggu!” Soeun yg berniat pergi menghentikan langkahnya dan menatap lagi ibu Donghae. Ibu Donghae menatap sebentar, lantas mengambil sesuatu dari tasnya. “Ini maumu bukan? Ambillah, setelah itu pergilah jauh dari anakku. Selamanya. Kau bisa cari korbanmu yg lainnya dengan uang ini, kau bisa katakan kalau ini tidak mencukupi. Yg jelas jangan lagi menampakkan diri di depan anakku…”

Soeun tak menyahut, ia hanya menatap sejumlah uang tunai yg diulurkan ibu Donghae kepadanya. ia tak mengatakan apapun, rasanya ini benar2 penghinaan besar yg ia dapatkan selama hidupnya. Sementara itu, tanpa ada yg menyadari, salah satu teman Soeun menyelinap diantara ketegangan yg terjadi ditengah keramaian ini. ia memisahkan diri dari ketegangan & kerumunan.

[]

Donghae duduk diruangannya sambil memegang sebuah kertas. Ia menghela nafas, hari ini resmi Soeun mengajukan surat pengunduran dirinya. Itu artinya semuanya benar2 telah berakhir.

“Apa kau akan bahagia hidup tanpa aku? tidak! Aku tahu, kau hanya akan bahagia bila hidup bersamaku seperti aku yg hanya bahagia bila hidup denganmu…” Donghae bergumama kecil sambil terus menatapi surat pengunduran diri itu. “Tapi berusahalah untuk bahagia tanpa aku…” Donghae melepaskan suratnya tadi keatas meja. Ia kemudian mengusap rambutnya dan menghela nafasnya dengan begitu berat.

Tok tok Tok…

Donghae mengalihkan pandangannya kearah pintu. Ada seseorang yg ingin bertemu dengannya.

“Masuklah…” sahut Donghae sambil memperbaiki posisi duduknya. Setelah pintu dibuka, Donghae langsung menemukan seorang karyawan perempuan yg menemuinya dengan ngos-ngosan. Donghae menatap heran karyawannya itu.

“Tuan Lee Donghae, maaf bila aku lancang mengatakan ini. tapi, Soeun, dibawah Soeun sedang bersama ibu anda…” katanya dengan nafas yg tak terkendali dan sedikit panik. Donghae sangat kaget dengan laporan yg diterimanya, ia kemudian segera bangkit dari kursinya lantas bergegas keluar.

[]

Soeun masih terdiam sambil menatap uang yg diulurkan ibu Donghae padanya. ia tak tahu harus mengatakan apapun, yg pasti ia tahu semua orang sedang memperhatikannya kini.

“Aku mohon simpan kembali uang anda nyonya…” kata Soeun setelah beberapa saat.

“Wae? Apa jumlahnya kurang?” ibu Donghae masih berbicara dengannya dengan nada yg sinis. “Kau ingin aku menambahnya?”

“Ibu tolong hentikan…” Ibu donghae, soeun serta seluruh orang yg berada disekitar sana segera berpaling. Menatap seorang pemuda yg tiba2 datang disana, ia segera mendekat kepada keduanya. “Soeun…” ia berniat langsung menghampiri Soeun tapi bahunya ditahan ibunya. Soeun cepat memalingkan wajahnya dari Donghae. Donghae menatap ibunya, ia menghela nafasnya berat. Lantas kembali berpaling pada Soeun yg menundukkan kepalanya.

“Bagaimana Nona soeun? kenapa kau belum juga menerimanya? Apa kau malu mengambilnya didepan Donghae?” tanya ibu Donghae lagi. Donghae kembali menatap ibunya yg masih mengulurkan uangnya kepada Soeun. sementara Soeun masih diam ditempatnya berdiri. Sedih, hati Soeun bahkan terasa lebih sakit ketika Donghae berada dihadapannya.

“Ibu…” Donghae kembali berusah membuat ibunya menarik kembali uang itu. ibu Donghae tetap tak mendengarkan Donghae. Donghae menghela nafas, menatap lagi Soeun dihadapannya.

“Ambillah…” ibu Donghae kembali bersuara pada Soeun. soeun tak menyahut, perlahan ia kembali menaikkan kepalanya dan berani menatap ibu Donghae.

“Simpan kembali uang anda nyonya, biarkan aku pergi…” kata Soeun kemudian. soeun kemudian berniat berbalik untuk meninggalkan tempat neraka itu. tapi ia kaget ketika tiba2 ibu Donghae melempar uang itu hingga berserakan kesekitarnya.

“Ibu hentikan…” Donghae yg juga kaget dengan yg dilakukan ibunya lag2 berseru pada ibunya. Ia kemudian kembali menatap Soeun yg tampak memperhatikan uang2 yg bertebaran itu. soeun berbalik, menatap ibu donghae sekali lagi tanpa mengatakan apapun sebelumnya. Soeun kembali berbalik dan menatap ibu donghae lagi.

“Pungut kembali uang anda. Bagaimana mungkin anda membuang uang sebanyak ini? apa anda tidak tahu? Begitu banyak orang yg dengan susah payah mengumpulkannya? Dengan keringat, air mata, bahkan mungkin mengorbankan nyawa. Dan bagaimana mungkin, anda membuangnya dengan mudah seperti ini?!” kata Soeun dengan emosi dan mata yg mulai terlihat basah. semuanya semakin merasakan ketegangan mendengarkan ucapan Soeun. Donghae menatap Soeun dengan sedih, kembali, ia harus melihat Soeun akan menangis seperti ini, menyakitkan untuknya.

“Kalau kau begitu susah mengumpulkannya. Kenapa tidak kau yg memungutnya?” kata ibu Donghae masih menantang. Soeun semakin menatap tajam ibu Donghae itu, ia menghela nafasnya. Donghae masih menatapi gadis yg tak pernah mau menatapnya lagi itu.

Soeun kemudian mulai berlutut, membuat orang2 semakin kaget. Ia memunguti semua uang itu. Donghae semakin tidak tahan oleh sikap keras kepala kedua wanita ini, kenapa mereka harus seperti ini? Donghae kemudian ikut bersimpuh bersama soeun.

“Jangan diambil! Tolong jangan seperti ini” kata donghae sambil merebut uang yg sudah dipungut oleh soeun itu. ia kemudian menarik Soeun hingga berdiri.

“Donghae!” ibu donghae kaget melihat apa yg donghae lakukan.

Donghae tak menyahuti ibunya, ia kini kembali menatap Soeun dihadapannya. Soeun kembali berpaling darinya, berusaha tidak menatapnya. Soeun kemudian menarik tangannya dari genggaman Donghae. Donghae kemudian kembali menatapnya. Berpaling lagi? Menangis?

“Tatap aku!” Donghae meraih dagu soeun yg menunduk tak menatapnya hingga soeun bisa menatapnya. Soeun terdiam, menatap Donghae, matanya mulai kembali  mengeluarkan air mata. Donghae balas menatap soeun yg sudah mulai menangis itu lagi. Tanpa berfikir, Donghae meraih wajah soeun dan mendekati wajahnya. Lantas tanpa memikirkan pendapat orang mengenai mereka, Donghae mencium bibir Soeun dihadapan semua orang yg ada disana.

[]

Suasana sedikit tenang didalam sebuah mobil berwarna silver. Soeun masih tampak terdiam sambil menunduk, sapu tangan tadi masih berada digenggamannya. Sementara Donghae masih memegang stir mobil sambil sesekali mengalihkan pandangannya pada Soeun yg tampak masih sedih.

“Sudahlah jagiya, apa air matamu segitu banyaknya sampai ingin terus menangis dan menangis…” Donghae mulai kembali menggoda kekasihnya itu dan mengajaknya bicara. Soeun tak menyahut, ia hanya menampakan wajah polosnya yg baru saja selesai menangis sambil menatap Donghae disampingnya.

“aku hanya tak menyangka, kenapa kau sampai melakukan hal yg seperti tadi ditengah keramaian begitu? Kau tidak melihat, ekspresi ibumu serta semua orang yg ada disana?” tanya Soeun agak sesegaukkan namun tidak lagi menangis.

“Wah, pasti mereka menatapku dengan kagum. Harusnya adegan tadi direkam saja, aku membayangkan betapa kerennya aku…” kata Donghae sambil tersenyum dan dengan narsisnya.

“Berhentilah bercanda, ini begitu serius…” kata Soeun sambil menatap Donghae. Donghae tersenyum, menatap Soeun disampingnya.

“Bukankah aku sudah peringatkan sebelumnya agar tidak menangis dihadapanku. Dan kenapa kau begitu keras kepala? Seharusnya kalau kau memang tidak mau uang itu, ya sudah kenapa kau sampai memungutnya…” kata Donghae kemudian.

“Aku tidak suka saja ada orang membuang uang dengan jumlah sebanyak itu dihadapanku. Rencanaku tadipun akan mengembalikannya pada ibumu…” kata Soeun kemudian. “Lagipula, kenapa sejak awal kau hanya diam melihat aku diperlakukan begitu. Kau tahu bagaimana perasaanku? Aku merasa sendirian dan kau tak peduli lagi padaku. Tapi, kau malah datang terlambat dengan cara yg tak seharusnya kau lakukan…” kata Soeun kemudian.

“Awalnya? Ya, awalnya aku memang menahan diri karena suatu alasan, tapi semakin lama rasanya aku semakin tidak tahan melihatmu diperlakukan seperti itu…” kata Donghae sambil menatap lurus kehadapannya.

Soeun terdiam, walau Donghae sudah ada disampingnya dan sepertinya masih mempertahankan hubungan mereka tapi hatinya benar2 masih merasa ada yg salah dari semua ini. donghae yg menyadari kegelisahan Soeun, melirik lagi kearahnya.

“Sekarang harusnya bagaimana? Kejadian tadi begitu hebat karena terjadi ditengah keramaian. Ibumu pasti akan semakin marah sekarang…” kata soeun sambil menunduk. Donghae menghela nafas, menatap lagi kedepannya.

“Setelah ini aku juga akan menemui lagi ibu, aku rasa aku harus kembali membicarakan banyak hal lagi dengan ibu. Aku masih berharap ibu mau memaafkanku…” kata donghae kemudian. soeun menghela nafas, lalu semakin menunduk.

“tidak ada yg bisa kita lakukan bila orang tuamu tidak setuju dengan kita. Sebaiknya diselesaikan semua, aku tidak ingin mereka tersakiti karena kita…” kata Soeun.

“Bahkan jika mereka mengharuskan kita benar2 berpisah…”

Soeun segera mengalihkan lagi pandangannya menuju Donghae yg menatapnya serius. Soeun tak menyahut, ia kemudian menunduk kembali.

“Ya, bahkan kalau memang begitu…”

Donghae menatap soeun dengan sangat sedih setelah ucapannya itu. ia menyesali, kenapa ibunya sampai begitu membenci gadis ini? Padahal, betapa mulia dan baiknya hati gadis ini. donghae berpaling, menghapus air matanya yg tiba2 ingin keluar. Lalu kemudian menatap Soeun disampingnya.

“Kalau aku tetap mempertahankanmu bagaimana? Bagaimana kalau kita pergi jauh dari kota ini atau mungkin negara ini untuk kita bisa bersama…” kata Donghae berusaha tersenyum dan menatap Soeun.

“Tidak..” soeun kembali menggeleng dengan cepat. “Hidup kita akan tidak tenang kalau tetap memaksakan seperti itu…”kata soeun kemudian. donghae terdiam, menatap Soeun yg kembali menatapnya kali ini berusaha tidak menangis. Huh? Ia menahannya..

“Aku tidak akan melepasmu, harap bersabar untuk beberapa saat lagi. Akan ku usahakan segalanya untukmu…” kata Donghae kemudian. soeun mengangkat wajahnya, mencoba tersenyum.

“Akan ku tunggu sampai aku bisa…” kata Soeun kemudian. donghae tersenyum, menatap soeun yg juga tersenyum menatapnya. Hanya beberapa saat, Soeun kemudian kembali menunduk.

“Ternyata ingin menangis lagi. Menangislah, sepertinya aku akan mendapatkan hadiah lagi…” sindir Donghae berusaha membuat suasananya tidak lagi sedih. Soeun menatapnya dengan wajah yg sedikit cemberut.

“Aku tidak akan menangis. Sekalipun ingin, aku akan menahannya…” kata Soeun kemudian. Donghae tersenyum, ia tahu Soeun memang sedang berusaha untuk tidak menangis lagi dihadapannya.

“Kemarilah…” kata donghae sambil mendekati soeun, lantas ia memeluk Soeun. “Sekarang menangislah, aku tidak ingin kau menangis lagi tanpa aku. dan akhirnya orang lain yg membuatmu berhenti menangis…”kata Donghae sambil mengusap rambut soeun. Soeun tak menyahut, ia bahagia sekalipun sedih mengingat ragu apakah nantinya ia dapat merasakan pelukan Donghae lagi atau tidak. Air matanyapun akhirnya benar2 kembali jatuh dalam pelukan hangat Donghae. *Mau dong dipeluk donghae juga,,,*

[]

Mobil silver Donghae akhirnya kembali parkir didepan gedung apartemen mereka. Didalamnya, mereka masih duduk sesaat dimobil sebelum memutuskan menyelesaikan masalah ini lebih jauh.

“Ya, sudah. Pulanglah sekarang, temui ibumu dan minta maaf. Aku akan segera masuk…” kata Soeun sambil melepas sabuk pengaman.

“apa kau aman sendirian? Entahlah, perasaanku terasa tidak tenang…” kata Donghae kemudian.

“tidak apa2. Biasanya aku memang sendiri. Sudahlah, tidak perlu mencemaskanku, aku akan baik2 saja. Yg jelas, kalau ditunda ibumu mungkin akan semakin marah…” kata Soeun kemudian. donghae terdiam, menatap Soeun. hatinya rasanya tidak tenang membiarkannya, bahkan untuk membiarkannya naik ke atas, ke apartemennya.

“aku antar sampai apartemen bagaimana. Setelah kau sampai aku akan menemui ibu…” kata Donghae kemudian. Soeun malah tertawa kecil.

“Kenapa begitu cemas sekali. Sudahlah, aku akan baik2 saja.” Kata Soeun kemudian. donghae mengangguk, membenarkan, walau hatinya masih terasa tidak tenang. “Ya, sudah, aku masuk ya…”

“Tunggu!” Soeun kembali melirik kepada Donghae ketika ia kembali mencegah Soeun pergi. Donghae menatap Soeun. “Tunggu aku ya, jangan menyerahkan hatimu dulu kepada pemuda lain kalau ini terasa sedikit lama. Usahakan agar kau mau menungguku…”kata Donghae kemudian. Soeun tertawa kecil, ia kemudian beranjak mendekat dan mencium pipi Donghae.

“Akan aku lakukan…” kata Soeun kemudian. Donghae tersenyum, menatap Soeun yg tersenyum padanya. lantas perlahan, Soeun mulai membuka pintu mobil Donghae.

“Jangan lupa menutup pintu ya. Jangan sampai ada orang lain lagi yg masuk ke apartemenmu…” kata Donghae sebelum Soeun menutup pintu. Soeun tersenyum, lantas mengangguk. Setelah menutup pintu Soeun kemudian berjalan kearah apartemen.

Donghae menatap kepergian Soeun. entahlah, hatinya gelisah melihat Soeun perlahan menjauh darinya. Soeun kembali berbalik, tersenyum, dan melambaikan tangan pada donghae. Donghae kemudian membalasnya. Soeun kemudian berbalik, dan lanjut berjalan kearah dalam. Donghae kemudian tetap memandangi kepergian Soeun, ia keluar dari mobilnya untuk memastikan Soeun baik2 saja.

Donghae terus memandangi soeun yg melangkah menjauh. Soeun kemudian kembali berbalik, dan sedikit kaget menemukan Donghae diluar mobilnya kini. Dari jauh soeun tersenyum, mengayunkan tangannya seakan memberi perintah agar Donghae segera menemui ibunya dan meninggalkan tempat itu. Donghae balas tersenyum sambil melambaikan tangan lagi. Soeun tersenyum, sambil berjalan dengan posisi mundur dan tersenyum kearah donghae. Awalnya Donghae tetap tersenyum sambil melambaikan tangan, tapi wajahnya berubah melihat sebuah mobil bergerak cepat kearah Soeun yg tak menyadarinya. Soeun masih memandang padanya sambil tersenyum.

“Soeun!” donghae berseru berusaha memberi tahu Soeun untuk mundur. Tapi sepertinya Soeun tak mendengarkannya. “Soeun!” Donghae kembali berseru sambil kali ini berusaha berlari kearah Soeun.

Persekian detiknya, Soeun yg belum juga menyadarinya.Ia sedikit heran melihat ekspresi Donghae yg berubah serta Donghae yg berlari kearahnya. Perdekian detiknya, Soeun kemudian berpaling kearah lain dan langsung kaget melihat sebuah mobil melaju dengan kecepatan penuh kearahnya.

BRAK!!!

[]

“Ada kecelakaan!!!” Soeun masih dapat mendengarkan sayup2 suara kepanikan disekitarnya ditengah rasa sakit yg sangat dikepalanya. Ia kemudian berusaha membuka matanya, sambil memegangi kepalanya yg mengeluarkan darah. Matanya yg sedikit kunang2 masih dapat melihat, banyak orang yg juga berkerubung tak jauh darinya, seorang pemuda juga terkapar tak jauh darinya.

“Do…Donghae…” Soeun masih berusaha memanggil Donghae yg juga terkapar beberapa meter darinya. Namun apa dayanya, kepalanya juga mengeluarkan banyak darah.”Do…Donghae…” suara paraunya bercampur air mata masih berusaha ia keluarkan berharap Donghae bergerak dan tidak apa2.

“Soeun-ah. Uang, Harta, & Kedudukan semuanya sudah aku dapatkan bahkan semenjak aku lahir. Itu sebabnya, aku tidak butuh lagi mempunyai uang yg banyak saat ini. Tapi kau, aku baru diizinkan memiliki harta seperti dirimu sat ini. aku yakin, kau hadir untuk melengkapi semua yg telah kumiliki sebelumnya. Itulah sebabnya, aku tidak akan melepasmu sampai kapanpun itu, bahkan bila itu bila aku harus mati…”

Samar2 ucapan Donghae itu terngiang ditelinga Soeun. Ucapan yg pernah Donghae ucapkan padanya sebelumnya.Soeun memegang kepalanya tidak tahan, sambil terus menatap kearah donghae yg tak bereaksi sama sekali. Perlahan pandangan Soeunpun terasa semakin samar bahkan mulai terasa gelap.

“Do… donghae…” soeun berusaha mengulurkan tangannya untuk mencapai donghae yg terasa begitu jauh. Sebelum akhirnya semuanya samar dan gelap sama sekali…

[THE END]

 

Kaget? Becanda Kok hehe!!

Ceritanya belum tamat kok, Cuma kayaknya pada serius banget bacanya makanya bercanda dikit. Tenang aja, ceritanya masih berlanjut kok, akukan gak terlalu suka sad ending, apalagi sama cerita yg ini. jadi jangan cemas, next selanjutnya bakal ada kok hehehe, peace!!!

Komentar sama Ratenya kembali ditunggu….

[TO BE CONTINUED………….. ^^v]

34 Comments Add yours

  1. Elisoniac mengatakan:

    ah,,,, aq pengen nangis.. #ngarep dapet hukuman dari haepa … hhhhhhaaaaa
    bca part ini menguras emosi… ntu ibu2 minta disate kali ya…. seruuuuu chingu… ayo lanjutin ditunggu……

  2. kyuPAngels mengatakan:

    Aku tergantung pdnya,seperti dia tergantung pdku >kya’nya kta ‘tergantung’ lebih cocok jd kata ‘bergantung’….. *itu mnurut puspa,agak ngeganjal gt bacanya* peace ‘V’

    sedih…… T.T
    knp nsib soeun sedih banget??gag sabar nunggu part brikutny!!!

    Adegan kyuhyun sma soeun kurang bikin donghae cemburu,,,adakan adegan yg bisa bikin donghae nyesek donk!! *dilirik para elfishy*
    #siapsiapkabur

    itu yg tertabrak soeun apa donghae?? *wajah bingung*
    #pabo

    lanjutannya jgn lama”……. *teriak di telinga cingu putri* #dijitak

    semangat!!!

  3. anna mengatakan:

    wuuuaah bnrn kget kirain kyk romeo n juliet ga direstui smpe maut memisahkan,,ibuny donghae jht bgt cieeyy,,msti dgn cr apa cb utk bs mnydrkn dia widiiiihh gregeettt abis mpe pengen nyekik heeee,,smg kclkaanny ga brakibat fatal,,ka2 puassss bgt bcny mndekati smpurna&tdk ada koreksi jiaahhh kyk ujian aja lebaayyyy nieyy,,tp jjr mmg bguusss dn always dtggu slu ljntny yg pstiny mkin seruu gomawoooo🙂

  4. owni mengatakan:

    wooooo, kaget banget waktu baca tulisan the end. hehehe
    jangat bnget ya ibu’a dong hae
    kalo aku jdi ibu’a dong hae, aku akan merestui hubungan mereka, wkwkwkwkwk
    lanjut thor, i love pairing’a dong hae dan soeun, hehehe

  5. glodzssokyu mengatakan:

    annyeong putri
    jeongmal mianhee baru koment skarang

    kereeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeennnnnnnnnnnnnnn
    gak bisa berkata apa apa lagi deh ..
    bener bener aku bacanya sampe nangis ..😥

    kagett ,
    aku pikir the end beneran
    awas aja kalo beneran
    bakal aku tagih terus😀

    ayoooooooooooo lanjut yaaaaaaaaaaaaaaa
    saya disini menunggu ff mu

  6. Irnawatyalwi mengatakan:

    Mianhee putri br komen skrg,haaa putri kk g tau mau komen aplg ni yg jls smua ff km bgus bhkn lbh bgus dr drama korea tpi yg pling daebak ff x ini,knpa yg mulai dr cast,kta2 n alurx psti bgus,oh ya kk hrap ff in msi pnjang n part slnjutx cpt d post

  7. djkyussoloverz mengatakan:

    ya allah so sweet kereeeeeeeeeeeeeen bgt hikz……hikz… pgn nangiz z truz heeeee… heee lebay pi sumpah udah bnyak sy ngeluarin air mata gra gra ff ne. jahat bgt sih ibu x donghae oppa ksian so eun eouni ampe sma sma lg kcelakaan huuuuuu hikz hikz mw nangis z lok ingt ….. truz kyu oppa kmana ceh knp g bntuin so eun eouni ma donghae oppa huuuuuuuuuuuuuuuuuh konflik x makin menjadi crita x makin serrrrrrrrrrrrrruuuuuuuuuuuuuuuuuu n makin pnasaran bgt bgt bgt deh jgn lama-lama cingu****melotot sambil senyam-senyum heeeeeeeee heeeee****** pokok x nomr satu deh ff ne kereeeeeeeeeeeeeeen bgttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttt,,,………..

  8. Vita mengatakan:

    Author…….
    Bikin kaget sumpah pas akhirnya,kirain end beneran, udah terhanyut ama ceritanya tiba2 ada THE END
    sukses thor buat ak kaget..

    Kasian mereka T.T memperjuangkan cinta dengn air mata,tapi aku yakin akhirnya akan manisss bgt buat mereka hehe
    ditunggu kelanjutannya thor,dan juga karya2 yang lain ._.v

  9. astrielf mengatakan:

    mian baru coment
    wah ini ceritanya keren banget
    penasaran lanjutanya jgn lm2 ya thor heheh
    donghae oppa disuruh milih antara ibunya sama so eun eonni milih q aj ya #plakk lnjutkn ditunggu ff requestanya ya eonn heheh

  10. Enho AngElforEver HaeSso Shipper mengatakan:

    AAAAAAAAAAAAAAarrrrgggggghhhhhhhgggggggggggh
    Ibunya Donghae iiihhhhhhh Pengen w Cincang2 tuh nenek sihir ,,,,,ihhhhh
    Nganggu aja tuh Nenek2 tua ,,,,
    nggak tau apa Kalau org lagi di mabuk asmara ,,,arrrgggghhhh ,,,
    mending dia aja yg kecelakaan ,,,,

    Tapi emangg daebakkk bgt nih FF
    apalagi pas Hae yg Bagiann ituin Soeun ,,,kkkkkkk

    huhhh Hampirr nangis 3hari 3malam w liat THE END nya tapi untung gak jadiiii……
    Yeyeeyeyy
    To be Continued

  11. seli m (kaoru) mengatakan:

    astajim …
    itu emak donghae egois amat sih ..
    kesel bnged tuh ma orang yg kaya gitu dah pngen nampol aja ..
    OMO .. HaeSso kecelakaan ? TT sdih q ..

    FF ni menguras air mata ..
    Daebak deh pkoknya n Bkin pnsaran ..
    next part di tunggu thor ^^

  12. ellis mengatakan:

    yah bener sdih banget ff ini …..
    yah kget banget tadi pas di bilang the end
    kaget mu tambah nangis jdi a
    next part d tunggu ya. athur…….

    i like it

  13. july mengatakan:

    woah keren certanya chingu,
    tpi sedih bget crtanya..
    Nyesek saia bcanya,
    tapi jga romantis chingu..

    Ah it eommanya haeppa jhat bget, bak sumpah iy akk palak ma eommanya haeppa..
    Egois bget soalnya..

    Omonaa haesso kecelakaan..
    Mudah”an ga knpaa..
    Tros mudah”an ntar eommanya haeppa ntar sadar..
    Amin..
    Next part jgn lama” yy chingu..
    Gomawo ^^

  14. dEar DHiyah mengatakan:

    q pkir ni bneran tamat .
    awas z kLo ending y kya gni ,, author yg akan q bkin tamat …
    eheheheheeeeee

    ok ,, d tnggu Lnjutan y … ^^

  15. Irnawatyalwi mengatakan:

    Sprtix part 7 akn d post scptx ni hehe cman pirasatq kok.Putri please jgn tamat d part 7 ya + lg dong beberapa ato buat part spesialx y romntis tanpa gangguan si mak lampir i2,bner2 ni putri wkt kk bca air mtax mengalr tlur n + kget wkt the end smpt syok wkt ad tlisn i2 untng msi ad lnjutnx

  16. nury elf mengatakan:

    aigo .. aigo ..
    baca FF ni nangis mulu .. huhuhu
    itu eommanya Haeppa pengen gw golok yach ,, heuh bkin kesel ja ..😦 (((

    Ige Mwoya ??
    sedih liat Haesso kecelakaan ..
    moga cpet dbwa k’rmh skit ..
    Ceritanya Daebak bnged chingu ^^
    next part di tunggu .. oiya jgn diusahakan endnya jngan cpet-cpet yach ..
    coz ini ff bgus bnged ..

  17. mayaulidhasso mengatakan:

    waduhhh ..
    oppa ama eonnie aku (?) kecelakaan !!!
    ini gak bisa dibiarin aku harus tau kelanjutan nya .. (?)
    hahaii .. cepetan dilanjutin yaa author part selanjutnya ..
    gomawo^^

  18. ira mengatakan:

    OMONAAA,,, haepa sama soeunnie kecelakaan??
    #jantungan
    moga aja karena ini,, tu nenek sihir sadar

    kakak… #teriakpaketoa
    kamu bikin aku kaget sama tulisan THE END ,,
    masa ia endingnya begitu?? Harusnya sampai nikah tuh mereka..
    Terus banyakin juga adegan kyusso yang bikin panas oppa donghae,,kyknya seru tuh ,,bwahaha #ketawaalaevilmaknae

    oh iyaaa,,, terusin dong yang ff yang lainn,, aku penasaran,, kelanjutannya,,
    daebakk ya kak,,
    smoga cepet di lanjut semua ff nya..

  19. MEGA RATNASARI mengatakan:

    aaa , aku udah ketinggalan jauh T.T udah nyampe part 6 yaa….
    maaf kaka baru bisa baca + komen , baru sempet ..hhu

    itu itu so eun + donghae kecelakaan ?
    hyaa , tulisan the end nya bkin dag dugan , padahal lagi seru2nya . hhew
    ayoo lanjutttkannn

  20. gerund mengatakan:

    sumpah q ampe nangis baca’x.. Ibu d0nghae bnr2 jahat bgt, .

    Chingu jgn bwt haesso brpisah ea, pko’x ending’x mrk hrz bhgia. .

    O x chingu, q pny ide. Gmn lw d0nghae’x dbkn hilang ingtan za biar konflik’x mkn bnyk jd crta’x gx cpt tamat.. V trserah chingu dech mw bkn konfik apa, yg pnting crita’x ttp brlnjt. .lw bsa ampe part 100, heu

  21. Ina890826 mengatakan:

    huaaaaaaaa makin seruuuuuuuuu
    daebaaakk…bener” berasa nonton drakor ini ma,,
    pengen cekek ibu.a hae, grrrrrrrrr >,<
    jahaaaaaaaaaattttt,,
    pokok.a haesso harus bersatu,,, knp jg hae kecelakaan????
    paasti ibu.a nyesel banget itu,, pasti dia dalangnya,,
    huaaaaaaaaaa *remes baju author*
    lanjuuuutt lanjuuuuuuuuuutttt

  22. glodzssokyu mengatakan:

    halooooo aku kembali ke dunia ff-an
    #alah apaan sih

    putriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii kangen
    ya apa kabarnya ?
    #kok malah tanya kabar ayo koment !!

    pokok nya smua ff mu daebak !
    aku sukka

    baca ini ,
    sumpah so sweet banget^^
    asli nangis bacanya ><
    gara gara kamu
    #lho ?

    lanjut ya put
    jangan lupa kasi kabar

  23. ticha_ mengatakan:

    huA_nan9!Z a!r ne_
    ckck_Q jadiin pyek 2 emak”
    huh_j9n bkn haeSso mendrt
    Q ga skA_bkn bhg j_😀
    daebak eon_lanjuuutt

  24. geill mengatakan:

    kaget aq!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
    q kira dah end, bagus juga candaanmu, uhhhhhhhhhhhhh
    sedih deh ama kisah cinta soeun and dong hea.
    mending aq lanjut deh

  25. fauziyah mengatakan:

    kaget!! ah! seru abissss

  26. anastasia erna mengatakan:

    gila amat sih ibu nya dong hae…
    ampe kya gitu…
    moga ga apa-apa so eun…
    ahhhh ga bisa berhenti nangis nich author

  27. bestevilcouple mengatakan:

    donghae yang nyelamatin so eun?
    jadi donghae yang ditabrak??

    penasaran ><

  28. freedom kartini mengatakan:

    bener2 kamu emang daebekk put? ceritanya bikin aq nangis sendiri …haeppa kamu namja yg gentleman ..aq suka sama alur ceritanya and karakter donghae dan kimsoeun …keren bgt ….kasian mrk hrs menderita ,karena perbuatan ibu donghae…bagaimana ya nasib mrk ….lnjt bacanya ahhh…

  29. tanti no kawai mengatakan:

    Waaaaaaa….. Kagettttt bngetttt tau2 udah ending…..

    (˘͡˛ ˘͡ ) Нüυẃƒƒ ( ˘͡ ³˘͡) dasar authorrrr….
    Hohohoho

    Udah gk sabar baca part berikut ηγά̲̣̥….. LanjutT azaaaaa

  30. thata mengatakan:

    Kyaaa shock kirain ini bener” udh END…
    Ahh tegang bacanya dan jg sedih bgdddddd…

  31. satsuki mengatakan:

    seru, ga tau lg mau ngomong apa, pokoknya ke deh

    baca next part

  32. Ayunie CLOUDsweetJewel mengatakan:

    Huweee~ tegang bacanya, semoga HaeSo gak kenapa-kenapa. Ibu kayak gini yg tdk z suka. Tipe ibu2 yg selalu muncul ditiap senetron.

  33. kim Ra rA mengatakan:

    perjuangan dan pengorbanan mereka benar benar bikin saya terhanyut dalam ceritanya…
    ibu nya hae pa sukses banget bikin yang baca pada gertakin gigi saking keselnya…
    haduuuuuuh hae pa manis banget sih. Sso beruntung banget punya namjachingu kaya hae pa yang akan cium sso kalau dia lagi nangis…
    aaaaaah itu pasti kerjaan ibunya hae pa buat bikin celaka sso mudah midahan keduanya ga kenapa napa

  34. Rani Annisarura mengatakan:

    ya ampun cerita di part ini menyedihkan banget dari awal sampai bikin yang baca itu ikut nangis……

    Kasihan so eun selalu di cela oleh ibunya donghae terus,,, nggak ada puas-puasnya menyakiti so eun ;-(

    Gimana ya kondisi so eun setelah kecelakaan itu???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s