~ [Oneshoot/Request] Why I Like You~


Tittle: Why I Like You

Author: PrincessClouds aka Putri Andina

Genre: Sweet Romance, Friendship, Comedy

Type: Oneshoot

Cast: Kim Soeun, Lee Donghae, Jung Sooyeon (Jessica SNSD), Lee Hyukjae (Eunhyuk SJ), Goo Hara KARA,

Anyeong bikin epep lagi neh. Biasalah, kalau udah punya inspirasri jadi pengen nuangin cepat2. Makanya aku menyempatkan mengetik dua FF dalam waktu kurang lebih empat hari dgn mencuri-curi sedikit waktu belajar hehe.

FF ini Request dari Ellis yg minta lagu Super Junior yg Why I Like You sebagai judulnya dan pairingnya adalah Haesso^^. Dan inilah hasilnya..

Enjoy yah ^^

“Kau kau, ketika kau secara diam diam melihat mataku dan setiap tawamu juga membuatku tertawa. Itu adalah alasannya, mengapa aku menyukaimu (Super Junior – Why I Like You)

Seorang gadis berambut panjang dan bersweater soft pink tampak bersandar disebuah tembok sambil memegang sesuatu ditangannya. Dia tampak gugup, menghela dan menghembuskan nafas berulang kali sambil terus memperhatikan sesuatu ditangannya itu, sebuah surat.

“Aish, Eotthokhae? Aaah!!” Ia kembali mendesah sambil memperhatikan surat ditangannya. Ia lantas beranjak, mencoba mengintip diam2 sebuah ruangan yg dindingnya tengah ia belakangi ini. mendesah lagi, lantas memperhatikan suratnya lagi. “Ck, apa aku benar2 harus mengikuti kata2 Miss Shopaholic itu? diakan gila, kenapa aku harus mengikuti ini, ck, Aku belum siap..”katanya sambil menimang kembali suratnya itu. ia berfikir lagi, menatap surat itu lagi. lantas setelah berfikir beberapa saat, ia berbalik dan meninggalkan tempat itu.

“Benarkah? Kau tahu darimana?”

“Aku mendengarnya sendiri..”

Gadis itu menghentikan langkahnya ketika mendengar beberapa orang berbincang-bincang dan terdengar mendekat. Gadis itu sedikit panik, lantas dengan cepat memutar otak dan memperhatikan sekitarnya. lantas karena panik ia memasuki kembali ruangan itu, dan langsung bersembunyi disebuah kolong meja, ia menutup mulutnya.

Perlahan ia dapat melihat ada dua orang yg memasuki ruangan itu. ia menutup lebih rapat mulutnya agar tidak bersuara, ia juga menutup matanya karena benar2 ketakutan, jantungnya berdetag kencang.

“Lalu bagaimana?” salah satu dari pemuda yg masuk tampak bertanya pada temannya sambil meminum air mineral ditangannya.

“Bagaimana apanya?” tanya pemuda yg satunya dengan bingung sambil mengelap keringat dilehernya dengan handuk biru muda ditangannya. Temannya  menatap heran sambil menghentikan minumnya.

“Tentu saja, bagaimana dengan permintaan Goo Hara itu? apa kau akan menerima perasaannya?” tanya pemuda yg satunya lagi. yang membuat gadis dikolong meja itu mengangkat wajahnya dan mendengarkan dengan seksama jawaban dari pemuda yg ditanyai temannya itu.

“Tentu saja tidak, aku tidak suka gadis seperti itu. dia bukan tipeku..” pemuda itu menyahut cuek.

“Ya, Lee donghae kau serius dengan kata2mu? Aku tahu, begitu banyak wanita yg menyukaimu dan mengirimimu surat setiap harinya tapi ini berbeda, dia Goo Hara. Dia bahkan sudah menerima kontrak dengan sebuah kantor Agenci dan akan segera debut dalam waktu dekat dengan Girlbandnya..” kata temannya kemudian. pemuda bernama Donghae itu hanya tersenyum kecil mendengarnya.

“Mau apa lagi? aku tak menyukainya, lagipula masih banyak hal lain yg harus kukejar. Aku sedang tidak ingin memikirkan soal seperti itu disaat sekarang, itu hanya mengangguku..” Donghae menyahut datar sambil tersenyum kecil dan merebut minuman ditangan temannya yg bernama Eunhyuk itu lantas meminumnya. Eunhyuk hanya menganggukkan kepalanya sambil mengangkat alis. Sementara gadis itu tampak sedikit terdiam mendengarnya.

“Ini!” Donghae melemparkan kembali air mineral itu kepada Eunhyuk yg membuat Eunhyuk reflek menyambutnya. Keduanya tampak membuka locker masing2 dan mengambil tas mereka. Tak lama kemudian keluar dan meninggalkan tempat itu.

Setelah yakin kalau kedua orang itu telah jauh, gadis yg daritadi bersembunyi keluar dari persembunyiannya. Ia menghela nafas berat, lantas melihat kembali surat yg masih ada digenggamannya. Lantas dengan lesu dan gotai, ia meninggalkan tempat itu.

()

“Apa? Lee Donghae berkata begitu?” seorang gadis berambut pirang berseru tak menyangka setelah temannya berkata sesuatu. Temannya itu hanya menyahut sambil mengangguk lesu. “Ck, kau langsung ditolak bahkan sebelum kau melakukan sesuatu, ckckck..” kawannya berceloteh cerewet sambil geleng2 kepala. Lagi2 temannya hanya bisa menganggukkan kepalanya sesekali masih dengan wajah lesunya.

“Hwaaa, ini bisa membuatku gila!!” Gadis berambut panjang itu kemudian  merengek sambil membaringkan kepalanya keatas meja dan membentur-benturkannya beberapa kali hingga semua orang menoleh padanya.

“Hey, Soeun, apa yg kau lakukan. Berhentilah melakukan hal yg memalukan!!” temannya protes padanya membuat gadis itu menghentikan kegiatannya membenturkan kepalanya, tapi ia tetap meletakkan kepalanya dengan pasrah disana. Temannya kembali berdecak melihat ulahnya. “ck, Silly Girl!!” omelnya lagi sambil meminum softdrink ditangannya.

“Ck Jessica, adakah tempat lain yg mungkin tak ada seseorang bernama laki2 didalamnya..” Soeun masih mengeluh dengan posisi lesunya tadi.

“Masuklah asrama khusus putri!” Jessica menyahut seenaknya dan setengah cuek membuat Soeun mengangkat wajahnya dan masih terlihat lesu.

“BUKAN ITU MAKSUDKU! Ck, ahh, lupakan!!” Soeun kembali membaringkan kepalanya keatas meja.  “Atau.. adakah sebuah pengobatan canggih yang bisa membuat kita amnesia. Paling tidak adakah sebuah tempat yg bisa menghapus nama Lee Donghae dari memoriku?” sambungnya tak bergairah. Jessica malah semakin kesal dengan tingkah temannya itu, ia lantas memukul-mukul meja didekat wajah Soeun.

“Ya ya ya!! Berhentilah bersikap seperti seorang pecundang. Wake Up Wake Up!!” Jessica berseru sambil terus memukul meja dan membuat Soeun terganggu. “Ya ya ya, Can You Hear Me. I Say, WAAAKE UUUP!!!” Jessica berseru lebih kencang sambil memukul meja lebih keras. Soeun mengangkat kepalanya dengan kesal.

“YA!! HAJIMAA!!” katanya kesal pada Jessica meminta ia menghentikan tingkahnya itu. Jessica geleng2 kepala dan menghentikan tingkahnya itu. soeun tampak juga berhenti membaringkan kepalanya disana, ia kini malah menopang dagunya dengan kedua tangannya.

“Kau benar2 terlihat seperti baru saja ketinggalan membeli sebuah produk Limited Edition dari produk paris yg terkenal..” kata Jessica sambil geleng2 kepala.

“INI LEBIH DARI ITU!!” seru Soeun kesal karena ucapan Jessica. Jessica malah mendengus tak kalah kesal.

“Bukan apa2 ya Soeun, tapi begini benar2 tidak ada gunanya, membuang waktu. Kau harus menentukan pilihanmu..” katanya dengan gaya khas sedikit centilnya.

“Menentukan pilihan bagaimana maksudmu?” tanya Soeun benar tak mengerti.

“Ya kau harus tentukan bagaimana selanjutnya setelah kau tahu dia memutuskan begitu. Kau harus memilih tetap berjuang mendapatkan perhatiannya dan merubah konsep fikirnya atau melupakannya sama sekali..” jawab Jessica. Soeun tampak merenungkan ucapan Jessica tersebut. Terlalu lama, hingga Jessica mulai bosan menunggu Soeun memutuskan sesuatu. “Bagaimana?” tanya Jessica lagi meminta pendapat. Soeun tak menyahut, ia tampak masih berfikir. Jessica tampak semakin bosan menunggu.

“Ya!! Kenapa kau begitu lama? Apa kau sudah memutuskannya?!” tanya Jessica terdengar kesal pada Soeun. Soeun menghela nafas, menggeleng dengan lesu, lantas kembali membaringkan kepalanya dimeja.

“aku tidak tahu…” katanya dengan putus asa membuat Jessica kembali berdecak dan geleng2 kepala.

“Ck, Complicated Girl!!!”

()

Soeun menghentikan langkahnya tepat didepan lapangan basket. Ia menatap kedalam, melihat sekelompok laki2 yg tampak tengah sibuk mempermainkan benda bulat itu. Soeun menghela nafas, ia duduk begitu saja disalah satu bangku penonton sambil terus memperhatikan mereka. Ada sekitar lima orang yg tengah bermain disana, tapi perhatiannya sepenuhnya tertuju pada suatu raga. Seseorang yg tampak menunjukkan pesona paling berkilaunya. Namanya Lee Donghae, bukankah nama itu begitu bagus?

Apa yg menarik dari Donghae hingga ia mampu menarik perhatiannya sejauh ini? entahlah, mungkin jawaban Soeun hanya akan sama dengan jawaban para Fangirlsnya yg juga bejibun di disekolah ini. karena dia tampan dan ia memiliki pesona yg begitu besar, ditambah ia sangat ahli dalam bermain basket. Hingga ia mampu menarik perhatian kaum hawa yg melihatnya dalam sekali pandangan.

Tapi, tentu bukan hal yg mudah untuk mendapatkan laki2 seperti itu. dia populer, sementara Soeun hanya digolongkan sebagai mahasiswa yg tak dipandang sama sekali. Sedangkan dirinya, seorang Goo Harapun yg merupakan gadis paling populer dikampus dapat ditolaknya mentah2. Entahlah, entah gadis seperti apa yg seorang Lee Donghae inginkan untuk mendampinginya, mungkin gadis itu haruslah seorang Cinderella yg datang dari negeri dongeng dan memakai sepatu kaca serta harus menaiki sebuah kereta kencana.

Ahh! Soeun mendesah sambil menopang dagunya dengan satu tangannya, pandangannya masih lurus kearah laki2 yg masih sibuk bermain basket dan bercanda bersama temannya itu. Soeun berdecak, selalu begini, memperhatikannya secara diam2 setidaknya selama setahun belakangan ini dan selama itu fikirannya terus melebar kemana-mana. Dari Donghae, ia bahkan bisa mencapai negeri dongeng ataupun Holliwood sekalipun, benar2 kurang beres. Donghae yg selalu membuatnya kurang beres sekarang, ck, lantas begaimana lagi?! dia perlu amnesia untuk membuat hidupnya kembali normal.

Soeun mengeluh lagi, mengembungkan kedua pipinya sambil terus memperhatikan Donghae disana. Donghae tampak tengah beristirahat sambil hanya memperhatikan teman2nya yg masih sibuk berebut bola. Lantas gerakan Donghae tiba2 membuat Soeun sedikit terlonjak. Donghae tampak mengalihkan perhatiannya tepat kearahnya dan.. dia tersenyum? Soeun sedikit bingung diawal, ia bahkan melihat kiri kanan untuk melihat apakah Donghae memang tersenyum padanya atau bukan. tapi ternyata tak ada orang selain dirinya disana, sepertinya Donghae memang tersenyum padanya, membuat jantungnya bereaksi dengan cepat. Soeun lantas dengan cepat bangkit dan melarikan diri begitu saja dari tempat itu, membuat Donghae malah menunjukkan wajah sedikit herannya setelah gadis itu pergi. Ia memperhatikan gadis yg tak ia kenal itu sampai beberapa saat, namun ketika teman2nya memanggilnya ia mulai terlihat tak memikirkannya lagi dan memilih melanjutkan permainannya.

()

Soeun berjalan sambil memasuki sebuah toko roti. Sesampainya didalam, ia langsung menghampiri seorang laki2 yg tengah sibuk berdiri didepan mesin kasir. Laki2 itu tampak senang melihat kedatangan Soeun, dan langsung menyambut Soeun yg sudah siap memeluknya.

“Ayah..” Soeun bergumam manja sambil memeluk tubuh ayahnya dengan sayang. Ayahnya balas memeluk tubuh Soeun dengan sayang.

“Kau sudah pulang?” tanya ayahnya kemudian. Soeun mengangguk, lantas melepas dekapannya pada ayahnya.

“Ayah sibuk sekali..” kata Soeun sambil memperhatikan seisi ruangan yg sudah dipenuhi oleh pelanggan. Ayahnya hanya tersenyum kecil mendengarnya.

“Sebenarnya tidak juga, hanya karena ini jam istirahat saja makanya ayah terlihat terlalu sibuk..”

“Ck, ayah, bukankah kita sudah punya begitu banyak karyawan? Kenapa ayah masih juga turun tangan sediri mengurus toko. Sebagai bos, seharusnya ayahnya hanya perlu duduk dan memantau semuanya..” celoteh Soeun pada ayahnya.

“Ayah tidak bisa tinggal diam saja, sementara semuanya sibuk..” sahut ayahnya.

“Tapikan ayah baru saja pulang dari rumah sakit, sebaiknya ayah istirahat saja.. Pekerjaan ini, biar aku yg ambil alih mulai sekarang..” kata Soeun kemudian pada ayahnya.

“Tidak perlu, ayah kuat kok..”

“Gak mau terima alasan, pokoknya mulai sekarang ayah tidak boleh bekerja lagi, aku yg akan mengambil alih pekerjaan ayah. Lagipula, inikan bentuk pelajaranku sebagai pewaris selanjutnya toko roti kita..” Soeun kembali bersikeras sambil tersenyum pada ayahnya. Ayahnya hanya bisa tersenyum mendengar ucapan Soeun padanya. “Bagaimana? Ayah setuju?” Soeun lagi pada ayahnya. Ayahnya tak menyahut, tampak berfikir.

“Ayolah ayah..” Soeun memohon sambil merapatkan jari2 kedua tangannya. Ia menunjukkan wajah memelasnya pada ayahnya. Membuat ayahnya tersenyum dan menangkup kedua pipinya.

“Baiklah, ayah setuju. Kau mulai sekarang ayah beri tanggung jawab untuk ikut bekerja disini..”

“Benarkah?” tanya Soeun senang. Ayahnya mengangguk. Soeun tampak senang dan memeluk kembali ayahnya. “Terima kasih ayah, aku senang. Appa saranghaeyo!!” katanya manja sambil memeluk ayahnya lebih erat lagi. ayahnya hanya tersenyum sambil mengusap sayang rambut Soeun.

()

“Iya ayah, aku baru saja selesai. Aku akan pulang sebentar lagi..” Soeun mengapit ponselnya diantara kepala dan bahunya sambil menerima panggilan dan mengikat tali sepatunya secara bersamaan. “Aku baru saja selesai dan baru saja keluar kelas. Setelah ini aku akan pulang dengan segera..” sahutnya lagi sambil kini memegang ponselnya dan bangkit.

“Ya, baiklah… Aku akan langsung pulang… Ya… Bye ayah!!”

Soeun tersenyum sambil menutup ponselnya. lantas setelah beberapa saat ia langsung memasukkan ponselnya lagi kedalam saku bajunya. Ia lantas berniat meninggalkan tempat itu…

Bruk!!

“Aw!!” Soeun mengeluh ketika baru selangkah ia melangkah ia tiba2 terjatuh kelantai. Ia mengeluh merasakan sakit dikakinya, lututnya mengeluarkan darah. “Aw, aduh..” keluhnya lagi sambil merasakan lututnya yg terluka.

“Hey, kau tidak apa2?” Soeun mengangkat kepalanya ketika ia mendengar seseorang bersuara dari samping kanannya. Ia menoleh pada arah suara, langsung menaikan kepalanya untuk menengadah melihat seseorang yg berdiri disampingnya. Ia sedikit kaget melihat seseorang yg menatap heran padanya. Soeun dengan cepat berniat baik2.

“Hhum.. tidak apa2. Aku… baik kok. Awh..” Soeun yg tadi berniat bangkit tiba2 jatuh kembali setelah ia merasakan sakit lagi dikakinya. Laki2 itu, Donghae malah sedikit kaget karena hal itu. ia berdecak, lantas ikut berlutut membuat Soeun sedikit kaget dan gugup. “Eh, aku..”

“Pantas selalu jatuh, mengikat sepatu saja tidak benar. Ckckck, seperti anak SD saja..” Soeun sedikit kaget ketika Donghae langsung mendekatkan tangannya untuk membuka sampul sepatu Soeun yg saling terikat satu sama lain. Soeun terdiam, juga sedikit bingung, sambil memperhatikan pekerjaan Donghae itu masih dengan bingung. Beberapa saat Donghae tampak selesai dengan hal itu dan mengalihkan perhatiannya pada Soeun.

“Hhum, Gomawo..” kata Soeun pelan dan gugup. Donghae masih menatapnya serius, lantas mengalihkan perhatiannya kelutut Soeun yg terluka. Donghae kemudian tampak memeriksa tasnya dan mengambil sesuatu, Soeun tampak memperhatikannya masih dengan bingung dan tak bereaksi.

“Sebaiknya diplester biar tidak infeksi..” ucapan Donghae sedikit membuat Soeun tersentak. Soeun terdiam lagi, terpana, sambil menatap Donghae yg mengulurkan sesuatu padanya. donghae agak bingung, terdiam melihat gadis itu tak bereaksi, ia lantas menggerak-gerakkan plester itu. “Hya, kau masih disana?” tanyanya pada Soeun. Soeun sedikit kaget, tersentak, lantas perlahan ia mengambil plester yg diberikan Donghae.

“Hhum, Gomawo..” kata Soeun lagi dengan sedikit canggung dan malu2, pipinya memanas boleh taruhan kalau pipinya mungkin sudah berwarna merah sekarang. Donghae mengangguk, sambil masih berwajah serius dan masih berlutut disana dan memperhatikan Soeun. Soeun sedikit menunduk, buang wajah untuk membuang nafasnya yg ditahannya daritadi. Perlahan ia membuka bungkus plester itu untuk mengobati lukanya, jantungnya terus deg-degan karena Donghae masih juga betah didepannya sambil seperti memperhatikannya.

Sepertinya Donghae mengerti kalau ia membuat Soeun begitu gugup. Hingga akhirnya Donghae berdiri dari tempatnya, tapi ia masih disana memperhatikan Soeun tampak mulai memplester kakinya. Soeun hanya mencoba menenangkan detag jantungnya, lantas berusaha memplester lukanya dengan benar. Kehadiran Donghae benar2 membuatnya gugup dan sulit melakukan apapun, mengapa dia masih disini?

“Kau bisa berdiri sendiri?” Soeun mengangkat wajahnya lagi ketika Donghae mulai bersuara. Donghae menatap masih dengan serius dan ekspresi coolnya pada Soeun. Soeun tersenyum dan mengangguk beberapa kali.

“Hhum, ya.. aku bisa sendiri. Terima kasih atas semua bantuanmu..” sahutnya masih setengah gugup.

“Kau yakin?” tanya Donghae lagi.

“Ya, aku bisa kok..” sahut Soeun kemudian. Donghae masih tak terdiam, memperhatikan Soeun dengan ekspresi masih seriusnya tadi. Soeun berdecak kecil, mencoba bangkit secara perlahan, lantas kemudian menatap Donghae yg masih menatapnya serius. *Ekspresi Donghae bikin Soeun tambah gugup aja deh, hehe..* “Lihat, aku tidak apa2 bukan? jadi jangan khawatir karena aku baik2 saja. Terima kasih ya atas bantuanmu..” kata Soeun setengah canggung.

Donghae menganggukkan kepalanya, lantas tanpa kata ia melangkah meninggalkan tempat itu begitu saja. Ia tampak mulai menjauh sambil menutup kedua telinganya dan pergi. Soeun menghembuskan nafasnya, lega, lantas terus memperhatikan Donghae yg terus menjauh itu. senyuman kecil tiba2 tergambar diwajahnya.

“Aku tidak mimpi bukan? dia itu benar2 Lee Donghae kan?” Soeun tersenyum malu2 sambil menyentuh kedua pipinya yg panas ketika Donghae sudah tak kelihatan lagi. Soeun tersenyum kecil lagi sambil terus menyentuh pipinya. “Kenapa pipiku panas ya? Ahh, malu sekali..” katanya sambil tersenyum-senyum kecil. Lantas ia masih beberapa saat disana sambil membayangkan kembali apa saja yg baru saja terjadi. ia masih tersenyum sambil kembali menyentuh kedua pipi meronanya.

()

“Ini pesanan anda. Terima kasih dan berhati-hatilah dijalan..” Soeun tersenyum sambil mengulurkan bungkusan berisi roti kepada pelanggannya. Pelanggan itu balas tersenyum pada Soeun dan langsung pergi setelah itu. Soeun menghembuskan nafasnya sedikit lelah, ia merasa lelah sekali seharian bekerja ditoko roti dan melayani pelanggannya. Ia meraih minumannya untuk menghilangkan dahaganya.

“Permisi..”

“Ya…”

Soeun menghentikan kata2nya ketika ia mengangkat kepalanya. Soeun benar2 kaget dengan kehadiran seseorang yg berada dihadapannya, sementara orang itu juga sedikit kaget melihat Soeun.

“Gadis tali sepatu!” kata laki2 yg ternyata Donghae itu sambil tersenyum sedikit tidak menyangka pada Soeun. Soeun hanya sedikit terdiam, terpana lagi, sambil terus mematung memperhatikan Donghae. “Hey!!” lamunan Soeun buyar ketika Donghae menggerakkan tangannya didepan wajah Soeun.

“Eh, ya. Mau pesan apa?” tanya Soeun cepat masih sedikit gugup. Donghae tersenyum kecil melihat reaksinya, ia memperhatikan roti2 yg berjejer didekat sana. Soeun hanya memperhatikannya sambil ikut memperhatikan roti2 yg tengah diperhatikannya.

“Sebagai penjaga disini, apa kau tidak punya saran? Biasanya di toko roti lain mereka akan membantu pelanggannya yg kebingungan untuk memilih..” kata Donghae yang masih sibuk memperhatikan roti2 itu pada Soeun. Soeun sedikit kaget.

“Ng..” gumam Soeun ragu, ia mencoba menjelaskan roti2 yg berjejer disana tapi ia heran pada dirinya sendiri ketika ia sendiri tiba2 bingung akan menjelaskan roti2 itu, padahal biasanya ia hapal. “Ini..” katanya sambil berfikir keras sambil menunjuk sebuah roti. Donghae mengangkat wajahnya, tersenyum kecil melihat Soeun yg tampak kehabisan kata2 dihadapannya. Dia gugup, Donghae tahu itu.

“Kira2 mana roti yg tidak mengandung keju?” tanya Donghae mengalihkan pembicaraan dan membantunya.

“Tidak mengandung keju?” tanya Soeun sambil mengangkat wajahnya sejenak pada Donghae. Donghae mengangguk beberapa kali.

“Ya, aku alergi keju…”

“Oh, begitu..” soeun menganggukkan kepala sambil memperhatikan lagi deretan roti2 itu. “Hhum, bagaimana dengan ini? Rasa Caramel, apakah anda suka?” tanya Soeun sambil menunjuk sebuah roti yg dipajang disana. Donghae mengangguk sambil memperhatikan roti yg dimaksud.

“Ya, pilihanmu baik, aku suka. Ya sudah, ambilkan itu untukku ya juga roti yg ini dan ini..” kata Donghae setelah beberapa saat sambil menunjuk beberapa roti lainnya. “eh, tapi mereka tidak mengandung keju kan?” tanya Donghae lagi setelah beberapa saat. Soeun mengangguk yakin.

“Tidak, itu adalah rasa cokelat dan Vanilla. Hhum, apakah ada yg lainnya?” tanya soeun sambil menatap Donghae lagi. Donghae menggeleng.

“Tidak, segitu saja..”

“Baiklah, mohon tunggu sebentar ya tuan pesanan anda segera dipenuhi..” kata Soeun padanya. Donghae tampak tersenyum kecil lagi sambil mengangguk.

~

“Ini pesanan anda tuan..” kata Soeun sambil mengulurkan sebuah bungkusan pada Donghae. Donghae lagi2 tersenyum kecil.

“Jangan panggil aku begitu, aku merasa sangat tua. Bukankah kita satu sekolah?” sahut Donghae sambil menerimanya. Soeun hanya mengangguk mendengarnya. “Ini..” tanya Donghae kemudian sambil menyerahkan sejumlah uang tunai. Soeun tersenyum sambil menerimanya, lantas setelah itu langsung membuka mesin kasir untuk mengambil kembalian uang Donghae.

“Ini, terima kasih atas kunjungan anda dan berhati-hatilah dijalan..” kata Soeun sambil menyerahkan uang kembalian Donghae. Donghae lagi2 tersenyum, lantas mulai mengambilnya.

“Sama2..”

“Hati2lah dijalan…” kata Soeun sambil memberi penghormatan. Donghae lagi2 hanya tersenyum melihatnya, lantas perlahan ia mulai melangkahkan kaki keluar dari tempat itu. Soeun mengangkat wajahnya setelah ia yakin Donghae telah pergi. “Huh! Rasanya mau mati! Jantungku!!” Soeun membuang nafasnya lega setelah Donghae benar2 menjauh.

()

“APA? KAU SERIUSS!!”  Jessica langsung berseru histeris ketika Soeun menceritakan sesuatu padanya. Soeun hanya tersenyum sambil meminum-minumannya. “Bagaimana rasanya? Kau pasti senang..” Jessica mendelik menggodanya. Soeun tersenyum sedikit malu-malu karenanya.

“Bukan hanya senang, aku bahkan sangat bahagia..” sahutnya.

“Baguslah, aku ikut senang..” Jessica tersenyum sambil mendelik padanya. Soeun hanya menunduk sambil terus tersenyum.

“Lihat, Donghae Sunbae dan Eunhyuk Sunbae disini..”

Soeun dan Jessica langsung mengalihkan perhatiannya ketika terdengar kantin agak sedikit riuh dari sebelumnya. Mereka mengarahkan pandangan mereka kearah pintu, dimana dua orang pemuda tampak baru saja memasuki tempat itu.

“Soeun, itu dia!” Jessica berteriak sedikit histeris padanya membuat Soeun menyuruh Jessica diam. Soeun menoleh lagi kesana, agak kaget ketika ternyata Donghae melirik kearahnya. Dan… “Dia sepertinya kemari..” Jessica kembali berceloteh yg membuat Soeun semakin gugup. Soeun dengan cepat duduk dan berusaha sok sibuk dan tak melihatnya. Jessica aneh melihatnya. “Soeun, dia kemari…” Jessica kembali berkata padanya.

“K-kemari?” tanya gugup. Jessica malah lebih excited lagi.

“Iya, dia kemari, kemari, kesini!!”

Soeun tak menyahut, menutupi wajahnya dengan buku yang dibawanya dari sebelah kirinya. Ia berbisik pada Jessica. “Psst, diam… nanti dia benar2 kemari. Aku tidak mau dia kesini..” bisiknya sambil menempelkan telunjuknya dibibirnya. Jessica menatapnya heran.

“Lho memang kenapa kalau dia kemari? Kaukan suka dia, baguskan kalau dia kemari..” tanya Jessica polos membuat Soeun semakin kesal.

“Psst, diam, nanti dia dengar..” bisiknya masih panik.

“Dengar apanya?”

Dengan kesulitan Soeun berusaha menelan ludahnya ketika mendengar sebuah suara yg terdengar lembut untuk ukuran seorang pria. Ia menatap Jessica tanpa mengatakan apa2. Sementara Jessica hanya tersenyum kecil menjawabnya. Perlahan, ia rasakan seseorang berusaha menurunkan buku diwajahnya.

“Kenapa dengan wajahmu?” tanyanya sambil menurunkan buku diwajah Soeun hingga Soeun kali ini dapat menemukan wajahnya. Kedua pemuda itu tampak hanya tersenyum kepadanya, sementara Soeun hanya terpana sedikit agak kaget.

“Hum, tidak apa2!!” Soeun berusaha bersikap wajar sambil meletakkan bukunya keatas meja dan kembali duduk dibangkunya. Ia pura2 tak peduli dengan kehadiran Donghae dan Eunhyuk disana. Jessica malah geleng2 sendiri melihat reaksinya.

“Oiya, gadis tali sepatu. Aku sudah memakan rotimu, dan roti di tokomu sangat enak. Mungkin lain kali aku akan membelinya lagi..” Donghae kembali bersuara sambil tersenyum pada Soeun. Soeun tersenyum padanya dan mengangkat wajahnya.

“Benarkah? Wah, bagus kalau begitu. Sering2lah datang kalau begitu, kami akan menerimanya dengan tangan terbuka..” kata Soeun sambil berusaha menunjukkan senyum terbaiknya pada Donghae. Walau ia sadar, bahkan senyumnya tetap terasa kaku. Donghae tersenyum dan mengangguk.

“Ya pastinya..”

“Eh, dia siapa sih? Kok Donghae sunbae bicara padanya?”

“Mereka kok dekat begitu ya..”

“Tidak cocok sekali, Fufufufufu..”

Soeun langsung menangkap bisik2 tak jelas dari beberapa orang dikantin ini. huh! Soeun menghela nafas kesal, ia sebal pada mereka semua yg jelas2 mengatai tentang dia karena dekat dengan Donghae. Tapi kenapa harus membicarakan ketika orangnya ada disana? Tunggu orangnya pergi dulu kek, dasar. Soeun terdiam, menoleh pada Jessica yg mulai melipat lengan bajunya sambil akan mulai mengamuk disana. Sementara Donghae dan Eunhyuk hanya tersenyum kecil mendengar bisik2an itu.

“Donghae, sebaiknya kita pergi kelapangan saja..” Eunhyuk bersuara sambil sambil menepuk bahu Donghae. Eunhyuk lantas berjalan duluan, Donghae mengangguk lantas menatap pada Soeun yg masih menatapnya dengan wajah yg terlihat bingung.

“Hum, aku pergi dulu ya. Sekali lagi terima kasih atas rotinya, aku suka. Oiya, sampai jumpa lagi, gadis tali sepatu..” katanya sambil tersenyum lantas mulai berjalan menyusul Eunhyuk yg duluan beberapa langkah. Soeun hanya terdiam, masih menatap Donghae sampai ia pergi. Dia? Lee Donghae bicara dan senyum padanya, apakah ini mimpi?

“Sicca, aku mimpi atau memang ini nyata?” tanyanya sambil tersenyum kecil dan terus memandangi Donghae yg menjauh. Jessica terdiam, ikut menatap, lantas tiba2 mencubit satu hidung soeun dengan lumayan keras. “AWW, HYA, KENAPA KAU MENCUBITKU?!” keluh Soeun kesal sambil memegangi ujung hidungnya.

“Kaukan bertanya ini nyata atau mimpi. Sekarang kau rasakan sendiri, ini nyata atau mimpi..” Jessica menyahut datar dan tanpa dosa atas perbuatannya tersebut. Soeun tak menyahut, menyentuh lagi bekas cubitan keras Jessica. Lantas ia tersenyum, benar, ini nyata. Bukan mimpi!

()

“Kau tidak langsung pulang?” tanya Jessica pada Soeun ketika mereka keluar dari kelas. Soeun langsung mengangguk.

“Ya, Jang Seonsaengnim menugaskanku untuk menyusun hasil lukisan di kelas seni. Selain itu, aku akan menyelesaikan sentuhan terakhir dulu untuk lukisan yg sedang kutangani” sahut Soeun mantap. Jessica mengangguk mendengarnya.

“Baiklah, kalau begitu aku pulang duluan yah..” kata Jessica kemudian. Soeun mengangguk.

“Ya, hati2lah dijalan..” sahut Soeun. Jessica kembali mengangguk sambil mulai melangkah pergi. Setelah beberapa langkah ia berhenti dan melambaikan tangan pada Soeun, Soeun membalasnya. Lantas setelah Jessica menghilang Soeun mulai berjalan kearah lain.

()

Donghae melemparkan bolanya yg terakhir, lantas setelah masuk ia segera berjalan kesisi lapangan sambil meraih minumannya yg terletak dipinggir lapangan. Lantas setelah mengahabiskan isinya, ia berjalan menuju bolanya tadi dan langsung berjalan meninggalkan lapangan itu.

~

Donghae menyusuri koridor sekolah yg sudah sepi. Ia berniat untuk pulang setelah berlatih seharian. Beberapa hari ada turnamen untuk pemilihan Tim basket tingkat Nasional, itu sebabnya Donghae dengan serius latihan ia bahkan sengaja pulang terlambat untuk mempersiapkan dirinya. Itu sebabnya ia sering pulang ketika sekolah sudah mulai sepi seperti ini. ia sudah biasa melakukannya.

Drap Drap!!

Donghae menghentikan langkahnya ketika mendengar suara2 dari ruang kesenian. Ia terdiam, berfikir, jam segini siapa yg masih ada disekolah. Biasanya jam segini sekolah sudah benar2 tidak ada orang selain dirinya dan penjaga sekolah. Lantas siapa yg ada disana? Apa penjaga sekolah atau jangan2 pencuri? Dengan penasaran Donghae memasuki dan melihat2 ruangan itu.

()

Soeun masih berusaha menjangkau sesuatu dari rak yg tertinggi diruangan itu. dari tadi ia sudah menjinjit kakinya atau melompat-lompat untuk mencapai cat minyak yg diletakkan paling tinggi itu tapi ia selalu gagal. Namun Soeun masih berusaha mengambilnya sambil melompat-lompat untuk menjangkaunya.

Set!!

Soeun kaget ketika tangan lain datang dan membantunya meraih benda yg ingin ia capai. Soeun menoleh kesamping kanannya, jantungnya langsung bereaksi ketika menyadari seseorang tersebut.

“Sepertinya ketika kau bertemu kau tidak pernah dalam posisi tidak bermasalah. Ini..” Donghae mengulurkan cat itu padanya Soeun. Soeun tersenyum kecil mendengarnya lalu mengambilnya.

“Terima kasih..” kata Soeun sambil tersenyum, lalu beranjak menuju lukisannya yg terletak beberapa meter darinya. Lantas setelah duduk, ia mengalihkan perhatiannya pada Donghae yg tampak melihat-lihat ruangan itu. “Kau belum pulang?” tanya Soeun begitu saja padanya.

“Aku baru saja latihan basket dilapangan hingga aku terlambat. Kau sendiri?” tanya Donghae sambil mendekat padanya. Donghae tampak berdiri disamping Soeun sambil memperhatikan gambarnya.

“Kau harus menyelesaikan ini dulu, setelah ini aku pulang..” sahut Soeun sambil tersenyum sesaat padanya. lantas kembali fokus dengan gambarnya.

“Kau pintar menggambar ternyata. Gambar langit ini indah..” kata Donghae sambil memperhatikan gambar Soeun dan tersenyum. Soeun hanya ikut tersenyum.

“Aku baru saja menjadi pemula..” sahut Soeun sambil terus memberi sentuhan pada gambarnya. Donghae tersenyum, memperhatikan gambar2 itu lagi. ia tertarik pada sesuatu.

“Kim Soeun? ini namamu? Wah, kita sudah kenal sebelumnya tapi kita belum berkenalan. Aku malah selalu menyebutmu gadis tali sepatu. Ternyata ini namamu..” Donghae tampak tersenyum sedikit antusias sambil menunjuk bagian kiri sudut bawah lukisan itu. soeun tersenyum dan mengangguk.

“Ya, itu aku dan namamu Lee Donghae bukan? aku sudah tahu..” katanya sambil tersenyum pada Donghae. Donghae balas tersenyum.

“Tidak adil sekali, kau tahu namaku tapi aku tak tahu namamu…” katanya sambil tersenyum pada Soeun. Soeun hanya balas tersenyum pada Donghae. Lantas setelah beberapa saat ia berpaling karena canggung kontak mata terlalu lama dengan Donghae. Ia kembali fokus menggambar sekarang.

Soeun sibuk menggambar, lantas setelah beberapa saat ia curi2 pandang untuk melihat Donghae disampingnya. Donghae tampak masih melihat-lihat sekelilingnya yg sepertinya masih asing untuknya. Sadar diperhatikan, ia melirik pada Soeun. yang membuat Soeun langsung gugup dan pura2 sibuk dengan lukisannya.

“Oiya, ini sudah sangat sore. Kau pulang jam berapa? Kau masih terlihat sibuk..” Donghae mulai bersuara sambil melihat-lihat beberapa lukisan yg terpajang disana.

“Sebentar lagi, setelah aku selesai dengan ini aku akan pulang..” sahut Soeun sambil terus menggoreskan tintanya disana. Donghae terdiam, mengalihkan perhatianya lagi pada Soeun.

“Hum, aku harus segera pulang. Sebaiknya kau juga segera pulang, nanti hujan atau para penjaga sekolah sudah pulang..” kata Donghae padanya. soeun menghanetikan pekerjaannya, mengalihkan perhatiannya pada Donghae.

“Ya, berhati-hatilah dijalan. Sekali lagi terima kasih atas bantuanmu tadi..” kata Soeun sambil tersenyum. Donghae balas tersenyum dan mengangguk.

“Baiklah, aku duluan yah. Kau juga cepatlah pulang dan hati2 dijalan, Anyeong!!” kata Donghae sambil tersenyum pada Soeun sebelum melangkah.

“Anyeong!!” sahut Soeun sambil tersenyum kecil. Perlahan langkah Donghae mulai akan beranjak meninggalkan  tempat itu, tapi..

Zzztt!! Klik!!

Donghae menghentikan langkahnya begitupun Soeun yg tengah menyelesaikan lukisannya. Mereka saling bertatapan, dan tanpa mengatakan apapun.

Klik!!

“Aahh!!” Soeun sedikit berteriak histeris ketika tiba2 lampu ruangan itu juga mati. Mereka bertatapan lagi, dengan pandangan yg serius, lantas Donghae dengan cepat menuju pintu yg sudah tertutup. Soeun menyusulnya.

“Ahjussi, siapapun yg diluar ada orang disini!!”

“Ahjussi, buka pintunya, disini masih ada orang!!”

Keduanya berseru agak panik sambil memukul pintu itu, berharap ada yg mendengar. Donghae sudah menghentikan kegiatannya, sementara Soeun tampak masih memukul pintu dengan paniknya.

“AHJUSSI!! BUKA PINTUNYA, MASIH ADA ORANG DISINI!!” ia berseru lebih keras dan lebih panik.

“Percuma..” Donghae bergumam sambil menatap Soeun disampingnya. Soeun menatap kaget padanya. “Sepertinya sudah tak ada lagi orang diluar. Mereka sudah pergi dan tak bisa mendengar kita..” katanya serius.

“Benarkah?” tanya Soeun tak menyangka. “Lalu kita harus bagaimana?” tanya Soeun pada Donghae. Donghae terdiam, memeriksa sesuatu dibawah pinggang kanannya. Ia kaget, ia baru sadar kalau ia bahkan masih memakai baju basket dan tasnya masih berada dilocker. Ia menoleh pada Soeun.

“Pinjam ponselmu!” pinta Donghae pada Soeun. Soeun mengangguk, mengambil ponselnya disaku-saku Soeun dan mengulurkannya pada Donghae. Donghae dengan cepat menekan beberapa tombolnya, tapi ia menghentikannya sambil memperhatikan ponsel itu serius dan menekan tombol beberapa kali. “Hey, ini mati!” kata Donghae pada Soeun. Soeun dengan cepat menoleh padanya.

“Benarkah?” tanyanya sambil ikut melirik ponsel itu, Donghae menunjukkan padanya. Soeun menatap tak menyangka, ia benar2 kaget kalau ponselnya sudah tak menyala. “Sepertinya aku kehabisan baterai..” katanya menatap Donghae bingung.

Donghae mendesah, lantas menghembuskan nafasnya sambil memikirkan sesuatu. Soeun hanya diam disampingnya. Lantas setelah beberapa saat Donghae melirik Soeun, sedikit serius. “Sepertinya sudah tak ada cara lagi. kita… sepertinya harus menginap malam ini disini..” katanya pada Soeun.

“APA?!” tanya Soeun benar2 shock. Donghae menoleh lagi padanya, menatap Soeun yg tampak menunduk sambil memikirkan sesuatu dengan wajah bingungnya. Donghae menghela nafas.

“Jangan takut, aku bukan laki2 yg jahat. Aku tidak akan melakukan apapun padamu, kau tenang saja!” kata Donghae padanya lantas memasuki kembali ruangan itu yg kini sudah gelap. Soeun masih terdiam, berfikir, semua berada dalam otaknya. Terkurung semalaman? Ditengah gelap? Kedinginan dan mungkin akan banyak nyamuk? Apakah akan baik2 saja? “Ya gadis tali sepatu, kau masih disana?!” Soeun tersadar ketika Donghae kembali berseru padanya. tapi… terkurung semalaman dengan dia? dengan Donghae? Bukankah ini seharusnya baik untuknya? Berapa lama ia menginginkan waktu dekat lebih banyak dengan pemuda itu? dan sekarang.. semuanya terjadi. malam ini bukankah semua itu akan terjadi? berdekatan dengan seseorang yg ia kagumi. Jadi, apakah kejadian ini musibah keseluruhan? TIDAK!!

()

Suasananya gelap hanya ada sedikit cahaya yg menerangi tempat itu dan ruangan itu mulai terasa dingin ketika waktu2 malam mulai datang. keduanya hanya terdiam disana, tanpa suara, mereka tampak sibuk dengan fikiran masing2. Soeun menghela nafas, lalu meletakkan dagunya di lututnya sambil mencoba berfikir.

“Kau kedinginan?” Donghae seperti menyadari kegundahan Soeun bertanya pada Soeun. Soeun menghela nafas dulu sebelum menyahutinya.

“Tidak juga, untung sekarang bukan musim dingin sehingga tidak terlalu dingin. Terlebih aku saat ini memakai jaket tipisku. Yang kedinginan itu seharusnya dirimu, kau hanya memakai baju tipis seperti itu..” sahut Soeun. Donghae hanya tersenyum kecil mendengarnya.

“Tapi aku laki2, setidaknya, daya tahanku lebih kuat..” sahutnya. Soeun terdiam, menatap lurus kedepan. Otaknya masih ia coba untuk mancari solusi yg bisa membantu mereka keluar dari sini, tapi tetap tidak bertemu.

“Maaf..” ucapan itu keluar begitu saja dari mulut Soeun  membuat Donghae menoleh padanya.

“Maaf untuk apa?” tanya Donghae heran dan tak mengerti.

“Maaf karena telah membuatmu terkurung ditempat ini. kalau saja tadi kau tidak membantuku mengambil cat kau mungkin tidak akan mengalaminya..” kata Soeun pelan. Donghae tersenyum kecil mendengarnya.

“Tidak perlu menyalahkan diri sendiri, ini bukan kesalahanmu. Lagipula, bukan kau yg memintaku, aku sendiri yg berniat membantumu..” sahut Donghae kemudian. Soeun tak menyahut, menghela nafas, ia masih juga menunduk. Giliran Donghae melirik padanya. “Kau masih takut? Apa kau masih merasa tak nyaman padaku?” tanyanya kemudian.

“Ng, tidak. Aku tahu, kau baik, kau tidak akan melakukan apapun. Aku sangat percaya padamu..” Soeun menyahut pendek dan pelan. Ia masih meletakkan dagunya disana, entahlah perasaanya bercampur aduk. Ia takut ayahnya mencemaskannya dan mencarinya, tapi yah disini tenang dan damai. Setidaknya Donghae berhasil menenangkannya walaupun jantungnya masih juga berdetag dan berdetag.

“Huh, kalau aku tahu aku akan terjebak aku pasti akan makan dulu. Ck, sekarang aku kelaparan..” Donghae mengeluh sambil menyandarkan tubuhnya disalah satu lemari diruangan itu. Soeun tersadar, melirik Donghae yg samar2 masih dapat ia lihat. Soeun lantas menarik sesuatu yg terletak tak jauh darinya. Ia tampak mengeluarkan sesuatu. “Aku memiliki roti. Mungkin ini bisa membantumu..” kata Soeun sambil menunjukkan sesuatu pada Donghae. Donghae menoleh padanya dan menerima pemberian Soeun.

“Wah, kebetulan, baguslah. Terima kasih ya, Kim Soeun..” katanya pada Soeun sambil membuka roti itu. Soeun hanya menyahut, lantas membiarkan Donghae membukanya. “Tapi hanya satu? Kau bagaimana?” tanya Donghae padanya.

“A-Aku tadi sudah makan. Aku tidak lapar..” sahut Soeun. Donghae tersenyum, ia lantas memotong roti tersebut menjadi dua.

“Kita makan bersama ya..” katanya sambil memberikan sebagian pada Soeun. Soeun hanya tersenyum kecil melihat perlakukan Donghae, ia menerimanya. “Selamat makan!” Donghae tersenyum kecil pada Soeun. Donghae lantas mulai memakan roti itu, Soeun terdiam sejenak memperhatikan Donghae yg wajahnya masih dapat terlihat karena beberapa cahaya lampu dari koridor luar. Hatinya begitu senang dengan kehadiran Donghae disini, tak dapat dibayangkan kalau tadi dia benar2 sudah pergi Soeun pasti sekarang ketakutan dan sendiri disini. Tapi untung ada dia, tapi.. sungguh hal ini membuat ia semakin menyukai Donghae seseorang yg tak pernah akan dia dapatkan selamanya.

“Kau tidak makan?” tanya Donghae ditengah kegiatannya mengunyahnya. Soeun tersenyum kecil, lantas mulai memakan roti itu. tepat digigitan pertama, ia mengingat sesuatu. “Soeun, kenapa badanku terasa aneh setelah memakan ini? ini..”

“KEJU?!” Soeun dengan cepat berseru dan menatap Donghae disampingnya. Donghae terdiam, menghentikan makannya, dan menatap Soeun. “Donghae, kau tak apa2?” tanyanya panik pada Donghae yg diam.

Donghae tak menyahut, ia tampak seperti merasakan dirinya, tangannya menyentuh sebagian wajah dan lehernya. “Badanku mulai terasa tidak enak. Rasanya sedikit panas dan gatal..” keluhnya sambil menyentuh wajah, leher, dan tangannya. Soeun ikut panik.

“Tubuhmu benar2 bereaksi cepat setelah kau memakan roti keju itu. astaga Donghae, maafkan aku, aku benar2 lupa kalau kau alergi rasa itu..” katanya panik sambil berusaha memperhatikan Donghae yg tampak gelisah. Donghae tak menyahut, nafasnya terdengar sedikit memburu, kepalanya mulai terasa pusing sementara badannya terus terasa gatal dan panas. Karena lemas, ia jatuh kebahu Soeun begitu saja, ia masih berusaha mengatur semuanya. Soeun tampak ikut panik.

“Badanmu panas, kau menjadi sakit. Donghae, maafkan aku, maafkan aku karena telah menyakitimu. Apa yang harus aku lakukan sekarang?” tanya Soeun benar2 panik dan sedikit ketakutan. Donghae tak menyahut, ia masih juga bersandar dibahu Soeun dengan lemas. Soeun menyentuh wajahnya. “Donghae, badanmu panas wajahmu memerah. Kau benar2 harus dibawa kedokter, Donghae maafkan aku, aku benar2 tidak sengaja..” kata Soeun masih panik dan mulai menangis. Donghae tak menyahut menyahut, nafasnya masih terdengar memburu.

“T-Tidaak uh, ini bhukhan shalhahhmu, akhu samha shekhahali tidhak menyalahkhanmu. Janghan ccemhas, smhua akhan baik2 sajhaa.. Akhu thak apha2..” katanya setengah sulit karena nafasnya yg sedikit sesak dan menganggu. Soeun malah semakin menangis mendengarnya, ia tahu bahwa Donghae tidak baik2 saja.

“Kau parah, kau benar2 harus dibawa kedokter. Ya ampun, kenapa disaat seperti ini aku harus membuatmu dalam masalah? Sekarang harus bagaimana? Apa yg harus aku lakukan untukmu Donghae? Tolong beritahu aku..” kata Soeun menangis begitu sedih pada Donghae disampingnya.

“Uh, Soeun, akhu kedhinginan.. selhuruh tubhuhkhu thidak bhaik..” keluhnya masih dengan nafasnya yg sulit. Soeun semakin menangis mendengarnya, ia lantas memegang bahunya dan menyandarkan tubuh lemas Donghae untuk sementara kelemari terdekatnya. Secepatnya Soeun melepas jaket yg dipakainya dan menyelimutinya ketubuh Donghae yg memang mulai terlihat menggigil. Tidak cukup, Soeun semakin panik ketika ia sadar kalau Donghae membutuhkan lebih dari itu. ia berusaha mencari sasuatu yg bisa membantu Donghae saat ini, ia langsung menemukan gorden yg tergantung diruang kesenian itu. ia melirik pada Donghae yg masih lemas dan terlihat lebih buruk disana, lantas Soeun segera beranjak dan menarik gorden itu begitu saja hingga sobek dari gantungannya. Lantas Soeun segera menyelimutinya pada Donghae lagi yg sudah terlihat lebih jelas akibat cahaya yg masuk setelah gordennya disobek. Ia merasakan tubuh Donghae yg masih panas, wajah Donghae terlihat memucat dan mulai mengeluarkan bintik2 merah.

“Soeun..” Donghae membuka matanya dengan perlahan sambil menatap Soeun dihadapannya. Soeun hanya balas menatapnya dengan matanya yg masih juga mengeluarkan air matanya karena panik. Donghae berusaha tersenyum padanya “Terima kasih, jangan takut, aku akan baik2 saja..” Donghae bersuara pelan padanya dengan suara yg lebih jelas karena keadaannya yg lebih baik setelah tubuhnya diselimuti. Donghae masih membuka matanya yg sayu menatap Soeun yg ia tahu masih ketakutan dan cemas dihadapannya. Lantas Donghae sedikit bergerak, membuka sedikit kain yg menutupi sebagian tubuhnya ia menarik Soeun kedekatnya dengan sisa tenaganya hingga Soeun berada disampingnya. Tangan Donghae bergerak juga menyelimuti Soeun dengan kain yg sama sehingga mereka didalam kain yg sama. “Kau juga istirahat lah, kau juga pasti lelah dan kedinginan..” katanya sambil menarik kain itu lagi agar angin tidak lebih membuat keadaanya semakin parah.

Soeun yg masih menangis menghapus air matanya, ia membantu Donghae menutupi tubuh mereka dengan kain2 itu agar keduanya nyaman. Donghae tampak tersenyum, lantas dengan tubuhnya yg lemas ia kembali menyandarkan tubuh lemahnya kebahu Soeun. “Selamat malam..” katanya sedikit memisik sambil berusaha memejamkan matanya. Soeun hanya terdiam, menatap wajah Donghae yg sudah merah dimana Donghae tampak berusaha untuk memejamkan matanya. Perlahan Soeun juga memejamkan matanya..

()

“B-BENARKAH?! HWAA KALIAN ROMANTIS SEKALI!!” Jessica berteriak histeris ketika Soeun menceritakan kembali cerita yg ia alami dengan Donghae setelah semalaman terkunci diruang kesenian. Soeun hanya tersenyum kecil, ia menunduk, rasanya tubuhnya masih dapat merasakan jejak Donghae. Sandaran kepalanya, bisikannya, aroma parfumnya, bahkan jalan nafasnya masih terasa ada disekitar sana dan terasa baginya. Jessica senyum2 menatap Soeun yg terdiam disana. “Hayoo, mikirin apa?!” godanya.

“Ck, Jessica berhentilah menggodaku..” katanya sambil tersenyum kecil.

“Yah senyum! Aku jadi curiga sekarang..” kata Jessica kemudian.

“Curiga? Apa yg kau curigai?” tanya Soeun bingung.

“Apa saja.. apa saja yg bisa aku curigai. Hhum, Soeun, bisakah kau ceritakan padaku semua yg terjadi semalam. Tidak mungkinkah hanya segitu sementara kalian hanya berdua disana..” kata Jessica masih dengan pandangannya yg menggoda itu. Soeun memukul kepala Jessica dengan buku ditangannya hingga ia mengaduh. “Aw, YAK KENAPA KAU MEMUKULKU?!” serunya tak terima.

“Habis kau aneh2 saja, masih sempatnya kau memikirkan hal seperti itu. padahal kau tahu sendiri semalam itu sepenuhnya banyak masalah yg terjadi, aku saja begitu ketakutan karena melihat keadaanya yg semakin parah..” katanya pada Jessica.

“Siapa tahu saja, siapa tahu ada setan lewat waktu kalian satu selimut..” kata Jessica semaunya.

“KAU INI!!” seru Soeun kesal padanya. jessica kali ini hanya nyengir sambil menunjukkan dua jarinya.

“Lalu sekarang bagaimana? Maksudku, diakan sekarang tidak hadir, apa kau tidak berencana melihat keadaannya?” tanya Jessica kemudian.

“Aku mau, tapi aku sama sekali tidak tahu dimana rumahnya atau dimana ia dirawat..” kata Soeun kemudian.

“Ck, itu sih mudah. Aku bisa carikan bila kau mau..”

“Benarkah? Bagaimana caranya?!”

Jessica tersenyum kecil, ia lantas mengalihkan pandangannya menuju kesekelilingnya. Pandangannya berhenti tepat kepada seorang laki2 yg tampak berjalan keluar dari sebuah kelas. Dia tersenyum.

“Kau tunggu disini ya, aku segera kembali..” Jessica tersenyum padanya lantas meninggalkan Soeun begitu saja. Soeun tampak sedikit bingung sambil memperhatikan arah perginya. Jessica tampak menghampiri seorang laki2. “YA EUNHYUK!!” ia berseru memanggil laki2 itu.

()

“Ini alamatnya!” Eunhyuk menyerahkan sebuah kertas pada Soeun yg langsung diterima Soeun. jessica hanya angguk-angguk karena merasa berhasil.

“Gomawo..” ucapa Soeun pada Eunhyuk yg dijawab datar Eunhyuk.

“Ya, berdoa saja semoga ia cepat sembuh. Beberapa hari lagi ada pemilihan ketingkat nasional, jangan sampai gara2 sebuah roti keju Donghae kehilangan mimpinya!!” katanya sedikit terdengar tajam pada Soeun. soeun terdiam, menunduk, sedikit kefikiran karena hal itu. jessica melihat perubahan temannya lalu mengalihkan perhatiannya pada Eunhyuk.

“Ya, jangan menyudutkannya. Diakan tidak sengaja!!” Jessica protes tak terima yg membuat Eunhyuk mendesis kesal karena mendengar omelan gadis yg cerewet ini. Soeun menyentuh tangan Jessica melarangnya tambah mengoceh.

“Hum, ya, aku juga berharap begitu. Aku juga berharap ia bisa sembuh dan berhasil..” kata Soeun padanya. Eunhyuk hanya angguk2 kepala masih dengan wajahnya yg datar. Soeun kembali melihat kertas yg baru diberikan Eunhyuk itu.

()

Soeun terdiam sambil memperhatikan sekitarnya yg lumayan sepi. Saat ini, Soeun berada dirumah Donghae dan pembantu Donghae tadi menyuruhnya menunggu. Soeun tersenyum sambil melirik bungkusan ditangannya, ia tak sabar menunggu Donghae datang. ia berharap Donghae sudah lebih baik.

“Hay!!”

Soeun mengangkat wajahnya ketika ia mendengar suara yg sudah dikenalnya. Soeun hanya tersenyum melihat seorang pemuda yg berdiri didekat tangga dan mulai bergeser kearahnya. Agak heran karena laki2 itu menutupi sebagian wajahnya dengan masker.

“Apa khabar?” ucapan Donghae mengagetkannya lagi membuat Soeun tersadar. Soeun hanya masih menatap heran.

“Itu..” katanya sambil menunjuk masker diwajah Donghae.

“Ini?” tanyanya cepat sambil ikut menunjuk maskernya. “Tidak apa2, hanya bintik2 merah itu sedikit membekas diwajahku. Hingga aku perlu sedikit menutupinya kalau bertemu orang..” sahutnya santai. Soeun  terdiam, masih menatap Donghae tanpa mengatakan apapun. Donghae menoleh padanya.

“Sepertinya aku benar2 membuat masalah pada hidupmu. gara2 aku, kau sampai harus mengalami hal2 yg tak seharusnya seperti ini. kau terkurung, kau sakit dan membuatmu tak bisa kesekolah. Padahal sebentar lagi kau harus ikut seleksi. Aku sepertinya benar2 membuatmu dalam masalah..” kata Soeun dengan rasa bersalah dan menundukkan kepalanya. Donghae agak terdiam dengan kata2nya.

“Hhum, tidak juga. Ini bukan kesalahanmu juga, kaukan tidak sengaja. Lagipula dalam waktu cepat ini akan sembuh dan aku bisa mengikuti seleksi itu. tenang saja, aku bisa mengatasi ini justru seharusnya aku berterima kasih padamu karena kalau malam itu tak ada kau aku tak tahu akan bagaimana..” kata Donghae pada Soeun. Soeun hanya terdiam menatap Donghae yg menatap padanya saat itu. Donghae tampak tersenyum kecil, lantas melirik apa yg Soeun pegang. “Itu untukku bukan?” tanyanya sambil menunjuk bungkusan itu. Soeun tersadar, ia meletakkan bungkusan itu keatas meja.

“Ini adalah roti, ayahku yg berikan untukmu. Ini adalah rasa ucapan terima kasihnya karena kau telah menjagaku malam itu dan juga rasa maafnya karena apa yg telah aku sebabkan padamu. Dia berdoa akan kesembuhanmu. Dan, disini tak ada rasa keju sedikitpun..” kata Soeun pada Donghae. Donghae meraihnya sambil melihat-lihat sebentar.

“Sampaikan terima kasihku pada ayahmu ya. Katakan terima kasih atas doa dan rotinya dan.. Sampaikan juga terima kasih pada putrinya karena telah membantuku waktu itu..” kata Donghae sambil tersenyum padanya yg membuat Soeun tersenyum padanya. mereka saling bertatapan dan tersenyum satu sama lainnya.

()

Soeun menggigit pelan roti ditangannya sambil tangannya yg satunya tetap ia gunakan untuk membuat sketsa lukisannya. Ia tampak begitu serius mengerjakannya. Untunglah tempat ini sepi jadi ia berkonsentrasi karena biasanya Soeun tidak menyelesaikan gambarnya kalau ada keributan disekitarnya. Termasuk sahabatnya sendiri yg memang paling berisik, Jessica Jung hehe. Soeun memang senang menyendiri ditaman belakang sekolahnya ini untuk menggambar atau menenangkan diri. Biasanya inspirasinya bisa lebih cepat keluar ditempat ini daripada yg lain.

Soeun menghentikan gerakannya sebentar, ia menggerakkan lehernya kekiri dan kekanan yg sedikit pegal akibat pekerjaannya yg hanya duduk dan menggambar selama dua jam ini. lantas kembali mengerjakan sketsanya sambil sibuk menghabiskan roti bekal yg dari ayahnya. Karena terlalu serius, Soeun tak menyadari ada langkah kaki yg mendekat padanya. orang itu tersenyum kecil melihat kegiatannya sambil memperhatikan gambar yg tengah digambar Soeun.

“Kau sibuk?”

Soeun mengalihkan pandangannya ketika seseorang menyapanya. Soeun agak kaget juga dengan kehadiran Donghae disana, dengan cepat ia melepaskan roti yg sebelumnya ia tahan dimulutnya akibat kegiatannya. Donghae tersenyum lagi melihatnya, lalu duduk disamping Soeun.

“Kau sudah kesekolah lagi? apa kau sudah sembuh?” tanya Soeun padanya.

“Kau bisa lihat sendiri..” sahutnya santai sambil mengedarkan pandangannya kesekitar tempat mereka berada. “Lagipula, hari ini aku akan ikut seleksi..” tambahnya lagi. Soeun menganggukkan kepalanya.

“Apa kau sudah sehat dan sudah siap kembali kelapangan?” tanyanya.

“Tentu saja, aku hanya sedikit demam karena infeksiku. aku bukannya baru saja cedera. Aku sudah merasa sangat baik sekarang..” jawab Donghae lagi.

“Syukurlah..” Soeun tersenyum kecil sambil kembali melukis. Sementara Donghae masih memperhatikan tempat itu.

“Aku tak tahu kalau tempat ini begitu sejuk..” kata Donghae kemudian sambil memperhatikan pohon yg berada diatas mereka dan menaungi mereka. “Tempat ini juga tenang..” tambahnya.

“Itulah sebabnya aku senang berada disini. Aku tenang dan nyaman disini..” sahut Soeun sambil tersenyum namun masih sibuk dengan kegiatannya. Donghae tersenyum, melirik padanya, agak terdiam ketika melihat Soeun yg tampak begitu serius dengan pekerjaannya. Angin2 menerbangkan sebagian rambut panjangnya dan ia tampak tersenyum kecil sambil matanya yg bening terus menatap kearah lukisannya itu. Donghae tersenyum, mengalihkan perhatiannya, sejenak apa yg terjadi malam itu terlintas difikirannya.

“Lantas bagaimana?” Donghae kembali menatapnya ketika Soeun bersuara. Soeun mengalihkan perhatiannya pada Donghae. “Hhum, kau kan mau ikut seleksi. Apakah kau sudah siap?” tanya Soeun.

“Aku mempersiapkan diriku sudah lama karena ini memang targetku sejak lama. Aku hanya berharap semoga nanti keadaanku sudah lebih baik agar aku bisa menampilkan yg terbaik dariku..” sahut Donghae sambil tersenyum.

“Kau benar2 ingin menjadi pemain basket?” tanyanya pada Donghae. Donghae mengangguk sambil tersenyum.

“Ya, ini adalah hal yg paling aku sukai. Mungkin kau tahu sendiri bagaimana rasanya dengan hobi melukismu, begitulah yg juga aku rasakan..” sahut Donghae padanya. Soeun lagi2 menunduk, ia tampak kembali memakan roti ditangannya. Lantas tiba2 kembali menoleh pada Donghae.

“Aku akan datang untuk mendukungmu..” katanya pada Donghae.

“Benarkah?” tanya Donghae tertarik.

“Ya, aku akan datang membawa spanduk yg besar dan akan berteriak paling keras nanti untuk menyemangatimu..” kata Soeun berbinar pada Donghae. Donghae tertawa kecil mendengar.

“Kalau seperti itu sih, fansku yg lain sudah biasa melakukannya..” katanya terdengar meremehkan sambil melipat kedua tangannya. Soeun langsung terdiam mendengarnya, wajahnya tampak sedikit cemberut sambil memikirkannya.

“Iya ya.. kaukan sudah punya banyak yg seperti itu..” katanya berfikir membuat Donghae kembali tersenyum kecil.

“Aku bercanda, sesuai perjanjian kau datang ya. Kehadiranmu pasti akan sangat membantuku nantinya. Jadi nanti aku tunggu kau disana ya..” katanya pada Soeun. Soeun langsung mengangguk mendengarnya.

“Ya, aku pasti datang!” sahutnya semangat. Donghae tersenyum melihatnya sambil mengalihkan lagi pandangannya melihat sekitar taman tersebut. Sementara Soeun kembali melukis lagi dan memfokuskan diri. Angin2 memberikan kesejukan untuk keduanya.

()

Suasana heboh disana, hari ini adalah hari yg lumayan besar bagi sekolah tempat dimana Soeun dan Donghae menuntut ilmu. Hari ini, beberapa perwakilan datang untuk menyeleksi sendiri para pemain2 yg akan mereka latih ketingkat nasional. Semuanya antusias untuk melihat siapakah dua orang dari sekolah mereka yg akan ikut dipilih untuk dilatih, tentu saja banyak dari mereka menjagokan Donghae dan Eunhyuk. Dua orang yg terkenal paling brilian dibidang itu disekolah mereka ini.

Tapi kini suasana sedikit berbeda dari ketika acara dimulai. Sekarang suasananya sedikit tegang karena tinggal satu nama lagi yg akan lolos. Eunhyuk sudah memastikan diri menjadi salah satunya, sementara Donghae masih harus bersaing dengan temannya yg lain saat ini. entah kenapa, stamina Donghae tak sebaik biasanya setelah ia dilaporkan sakit beberapa hari yang lalu. Biasanya, Donghae bisa dengan tepat melakukannya, tapi hari ini ia banyak kecolongan. Saat ini Donghae harus melakukan kesempatannya yg terakhir. Saat ini skor Donghae dengan lawannya beda tipis. Donghae 24 temannya 25. Donghae harus memamfaatkan kesempatannya ini, kalau ini masuk maka skornya akan menjadi 26 dan ia masuk, kalau Donghae gagal maka ia tersingkir.

Semua pendukungnya harap2 cemas, mereka berharap Donghae akan masuk seleksi ini dan terpilih seperti temannya Eunhyuk. Soeunpun yg datang juga tak kalah gelisah, ia menggenggam kuat towel bertulisan nama Donghae yg daritadi dibawanya. Ia gelisah.

Perlahan Donghae mulai memasuki kembali lapangan itu sambil membawa bolanya. Ia mencoba menenangkan dirinya dan berkonsentrasi, untuk sejenak melupakan orang2 yg terus memanggil namanya dan menyemangatinya. Semua yg ada dilapangan itu juga harap2 cemas, mereka tampak gelisah menunggu apa yg terjadi dengan penentuan ini. sebagian besar sangat berharap bola ini masuk, termasuk Soeun yg ikut berdiri ketika Donghae kembali memasuki lapangan.

“DONGHAE DONGHAE!!” teriakan itu terdengar dari semua penjuru. Sementara Soeun hanya terdiam menatap Donghae yg tampak berkonsentrasi dibawah sana. Hatinya juga tak tenang, dan ia tahu Donghae lebih tidak tenang. Perlahan ia memikirkan sesuatu.

“DONGHAE!! DONGHAE SEMANGATLAH!! KAU PASTI BISA!!” Soeun berusaha ikut berteriak seperti orang2 lainnya sambil memanggil Donghae dibawah sana. Donghae tampak tak menoleh, mungkin tidak mendengar suara Soeun diantara suara2 yg lainnya. “DONGHAE!!!” Soeun berteriak lebih keras untuk menarik perhatian Donghae.

“DONGHAE!! FIGHTING!!” Donghae yg menunduk mengalihkan perhatiannya ketika ia menemukan salah satu suara dari suara yg lain. ia menoleh kearah bangku penonton, dan langsung menemukan seorang gadis berambut panjang berteriak memanggil sebuah nama sambil menunjukkan Towel yg bertuliskan namanya. Donghae sedikit tenang melihatnya, ia hanya balas tersenyum dari jauh pada gadis itu. lantas mulai menunduk dan berkonsentrasi lagi.

“Dia, mengetahui sinyalmu! Dia mendengarmu! Soeun kau lihat bukan?” Jessica langsung menjadi yg paling heboh setelah kejadian itu. Soeun tak menyahut, ia hanya tersenyum kecil sambil terus memperhatikan Donghae.

Priit!!

Suasana lebih tegang ketika pluit pertama berbunyi. Donghae tampak menarik nafas lebih dan mulai berkonsentrasi lebih lagi setelah itu. suasana mulai semakin tegang.

Priit!!

Peluit kedua berbunyi sebagai tanda Donghae harus mulai melempar bola itu untuk masuk keranjang. Semua orang menahan nafas ketika Donghae mulai melempar bola tersebut kedalam keranjang. Soeun menutup erat kedua matanya.

()

Donghae menghela nafas diruang locker room sambil menatap lurus kedepannya. Fikirannya tampak berat dan wajahnya tampak begitu tidak senang dan memancarkan kekecewaan.

“Minumlah!!”

Donghae meraih tanpa gairah minumannya yg diulurkan Eunhyuk. Eunhyuk terdiam, menatap Donghae yg masih tak bersemangat. Sulit dipercaya, Donghae gagal…

~

Soeun menghela nafas sambil mencari-cari Donghae dilocker Room. Sungguh sangat sulit dipercaya, Donghae yg seharusnya bisa langsung memastikan diri untuk lolos kali ini mengalami kegagalannya. Dalam fikiran Soeun yg ia risaukan adalah kekecewaan yg Donghae rasakan, Soeun begitu tahu, Donghae benar2 sangat mengharapkan untuk lolos. Donghae bahkan berlatih sangat keras untuk tujuan ini.

Pada akhirnya ia melihat Donghae. Donghae terlihat kecewa, Soeun berniat mendekatinya, tapi tiba2 ia melihat Eunhyuk datang dan mendekati Donghae. Soeun menghentikan gerakannya dan mendengarkan mereka diam2.

~

“Semuanya hanyalah factor Luck. Kau mungkin hanya kurang beruntung..” kata Eunhyuk pada Donghae. Donghae tak menyahut, berusaha tersenyum kecil walau ia berusaha menyembunyikan rasa kecewanya, nyatanya ia tak bisa.

“Ck, sangat sulit dipercaya aku bahkan terkapar digaris finish. Padahal, aku sampai berlatih keras untuk ini. Aku bahkan menyingkirkan banyak hal untuk sasaran ini, termasuk tidak memikirkan soal pacaran dan cinta. Huh, tapi lihat apa yg terjadi..” Donghae menunduk sambil berusaha tersenyum kecil menceritakannya. Eunhyuk hanya terdiam mendengarnya, ia duduk disebelah Donghae. Sementara Soeun hanya menunduk mendengar cerita Donghae, ia merasakan kekecewaan Donghae.

“Sebenarnya, kalau saja kau tidak sakit beberapa hari ini aku yakin kau pasti bisa memiliki stamina lebih baik. Sehingga kau tak harus seperti ini..” kata Eunhyuk pada Donghae. Donghae hanya mengangguk pelan membenarkan.

“Ya, semuanya tak terkira..” sahutnya pelan dan masih terlihat kecewa. Soeun terdiam, memperhatikan Donghae dihadapannya. Sesuatu mengangganjal penuh fikirannya.

“Kalau saja kau tidak memakan roti keju gadis itu, kau pasti akan baik2 saja dan lolos..” kata Eunhyuk kemudian. “Roti itu membuat kau kehilangan impianmu!!” katanya terdengar sinis.

Soeun dan Donghae serentak menatap kearah Eunhyuk setelah ia tiba2 mengatakan itu. Soeun yg diam2 mendengar menatap dengan wajah sedih, sementara Donghae hanya menatap tanpa ekspresi padanya.

“Mungkin, tapi aku tidak pernah menyalahkannya. Dia tak ada sangkut pautnya dengan ini..” kata Donghae menjelaskan.

“Jelas ada sangkutannya Donghae. Kalau hari itu kalian tak terjebak dan tak memakan roti yg ia berikan padamu. kau tak harus sakit ketika menghadiri seleksi seperti hari ini! kau sadari atau tidak, gadis itu adalah salah satu faktor kegagalan ini!!”

Tap!!

Donghae dan Eunhyuk mengalihkan perhatian mereka ketika tiba2 terdengar sebuah benda jatuh beberapa meter dari mereka. Soeun juga kaget ketika ia melepaskan sketsa yg dibawanya tiba2 karena kaget dengan ucapan Eunhyuk. Donghae bangkit karena kaget melihatnya disana.

“Soeun?”

“M-Mianhae..” kata Soeun tak enak sambil memungut kembali sketsanya lantas meninggalkan tempat itu begitu saja. Donghae menatap Eunhyuk yg juga kaget setelah Soeun pergi, ia lantas menarik ranselnya.

“Aku duluan ya!!” kata Donghae terburu-buru lantas meninggalkan Eunhyuk yg masih bingung begitu saja.

()

Soeun meninggalkan tempat itu setengah berlari sambil menangis. tangannya masih memegang erat sketsa yg tadi sempat terlepas dari tangannya. Ia bahkan tak peduli, walaupun ia tahu, alat2 lukisnya berceceran satu persatu karena tasnya yg sedikit sobek akibat tadi tersangkut sesuatu ketika ia pergi dari Locker Room.

“SOEUN, TUNGGU!!”

Soeun malah semakin mempercepat larinya ketika ia mendengar suara Donghae memanggilnya. Ia tak melihat sedikitpun ia tak tahu kenapa ia begitu tidak bisa menemui Donghae saat ini.

“Soeun!!”

Kali ini Soeun menghentikan langkahnya ketika seseorang menahan bahunya dari belakang. Soeun terdiam, menunduk, air matanya masih juga jatuh. Donghae menghela nafas, menatap Soeun yg menunduk didepannya.

“Eunhyuk benar, aku adalah penyebab kegagalanmu. Maaf..” kata Soeun pelan tanpa melihat Donghae. Donghae menghela nafas lagi, memperhatikan Soeun.

“Jangan dengarkan dia, dia hanya sembarangan bicara..” jelas Donghae.

“Tapi memang begitulah kenyataanya. Kalau saja malam itu tidak terjadi, kau pasti tidak akan sakit dan gagal. Aku penyebab kau kehilangan impianmu..” kata Soeun lagi.

“Aku sama sekali tidak menyalahkanmu. Lagipula, aku bisa mengejarnya tahun depan..”

“Jangan bohong padaku!” Soeun berbalik dan menatapnya. “Aku memang tidak mengerti basket. Tapi aku tahu kalau selesksi ini tidak diadakan setiap tahun. Kau tak akan bisa lolos lagi!” kata Soeun padanya. Donghae terdiam, menatap Soeun setelah kata2nya itu. ia sedikit bingung akan mengatakan apa padanya, menjelaskan kalau ia tak pernah menyalahkan Soeun sama sekali.

“Padahal, itu adalah impianmu. Kau sampai merelakan sebagian hidupmu untuk mencapainya, kau bahkan rela tidak melibatkan dirimu dengan kisah cinta agar kau mencapainya. Tapi dengan sebuah roti, aku menghancurkannya begitu saja!”

“Tapi kau juga tidak bisa menyalahkan dirimu!  memang roti itu bisa dibilang penyebabnya, tapi kau tidak..”

“Roti itu aku yg berikan, kenapa kau harus menyembunyikan kenyataan yg ada kalau memang benar aku yg telah menghancurkan semuanya?!” kata Soeun memotong ucapan Donghae. Donghae terdiam, menatap Soeun yg menangis semakin deras dihadapannya. “Semuanya karena aku, kalau kau tak mengenalku mungkin kau tidak akan mengalami yg seperti ini..” katanya lagi. Donghae terdiam, menunduk.

“Ya, semuanya karena dirimu. Kegagalan ini memang semuanya karena dirimu..” kata Donghae tiba2 sambil menundukkan kepalanya. Soeun menatapnya karena ucapannya itu. “Kalau kita tidak mengenal mungkin saat ini aku akan berhasil, aku tidak akan gagal, tapi kau menghancurkan semuanya.. Tapi ini semua bukan sepenuhnya karena roti..” katanya sambil menunduk semakin dalam. Soeun terdiam, menunduk, air matanya jatuh lebih karena saat ini ia benar2 membenci dirinya setelah Donghae mangatakan itu.

Donghae menaikan pandangannya sambil menatap Soeun yg terus menunduk didepannya. perlahan ia menaikan tangannya dan menyentuh pipi kanan Soeun, Soeun menatapnya.

“Semuanya salah dari awal, bahkan sebelum ruang kesenian ataupun roti. Kau sudah membuat kesalahan itu dari awal, lebih lebih awal dari itu..” kata Donghae sambil terus mendekati Soeun hingga mereka tersudut disebuah dinding. Soeun terdiam sambil menatap Donghae yg sangat dekat dengannya. Donghae terus menatapnya intens dan dekat. Terlalu dekat, hingga ia dapat merasakan jalan nafas Donghae. “Dari awal aku memang tidak pernah memikirkan tentang kisah cinta maupun kekasih karena tidak ada yg bisa menggerakkan hatiku untuk itu. tidak ada yg bisa selain dirimu. Apa kau tahu? Kau memiliki mata & senyum yg sangat indah. Sebuah senyuman dan mata yg dengan mudah aku lihat setiap aku latihan. Kau disana, berdiri disana dan aku tahu kau memperhatikanku. Kau tak tahu, kalau aku selalu senang setiap kali kau berada dibangku penonton dan memperhatikanku. Apa kau tahu? Bahkan kehadiran-kehadiranmu itu sudah cukup mengangguku selama latihan dan membuat aku tak bisa bermain dengan benar?” kata Donghae sambil menatap mata Soeun yg menatap padanya. satu tangan donghae masih menyentuh lembut pipi Soeun, sementara yg lainnya ia letakkan didinding di samping kiri kepala Soeun. Soeun hanya balas menatap Donghae tanpa mengatakan apa2.

“Kau lucu dan kau unik, membuat aku merasakan hal yg lebih2 lagi setelah aku mengenalmu hingga aku yg biasanya tak pernah mendekati seorang gadis ini secara perlahan mulai mencari dimanapun kau mungkin ada. Karena satu alasan, aku nyaman disekitarmu dan aku senang melihat mata dan senyumanmu. Dan perasaan itu semakin lebih setelah malam itu kita terkurung disana dan kau merawat aku yg bisa dikatakan sekarat waktu itu..” kata Donghae sambil menatap Soeun yg membuat Soeun benar2 tak bisa mengatakan apapun. Donghae tersenyum, ia mengahapus air mata Soeun yg masih tersisa dipipinya. “Jadi, kalau aku ingin menyalahkan dirimu, maka jangan menyalahkan dirimu dari roti itu. kau seharusnya menyalahkan dirmu dari awal, dari setahun yg lalu dimana kau selalu duduk menontonku bermain basket di tempat itu. karena dari sanalah, kesalahan ini terjadi..” katanya sambil tersenyum pada Soeun.

“D-Donghae..”

“Bolehkan aku menyukaimu dan melanjutkan kesalahan itu? aku tak bisa menembus tim nasional karenamu, maka kau seharusnya tanggung jawab padaku bukan?” tanya Donghae padanya yang membuat Soeun masih juga terdiam. Donghae tersenyum melihat ekspresinya.

“Aku menyukaimu..” ulang Donghae pada Soeun, Donghae tersenyum lantas tanpa aba2 langsung mencium bibir Soeun yg membuat Soeun begitu kaget sampai ia tersentak. Soeun yg kaget reflek sedikit mendorong Donghae menjauh darinya membuat Donghae menghentikannya. “Wae? Kau tidak menyukaiku?” tanya Donghae serius pada Soeun. Soeun tak menyahut, ia benar2 masih kaget dan tak tahu akan mengatakan apa.

“Donghae, aku..” kata Soeun benar2 gugup dan bingung. Donghae tersenyum, ia balas menatap Soeun. “Donghae, aku..”

“Aku tahu..” kata Donghae sambil menyentuh pipinya dan menenangkannya. “Aku tahu kau juga menyukaiku..” kata Donghae lantas kembali mencium Soeun lagi. Soeun kali ini hanya terdiam dengan perlakukan Donghae, ya memang itulah jawabannya. Tentu saja Soeun menyukai Donghae, bahkan sangat..

()

Soeun masih sibuk dengan gambar2nya sambil duduk kembali ditaman belakang sekolah. Ia tampak fokus dengan pekerjaannya, dan seperti biasa sebuah roti masih memenuhi mulutnya. Ia masih terus melakukan kegiatannya itu. ia tersenyum sambil melirik sebelah kanannya, Donghae masih memejamkan kedua matanya disana, tidur.

Soeun terdiam, menghentikan pekerjaannya sejenak, ia lantas memperhatikan Donghae disampingnya. Lantas ia tersenyum kecil, ia menghabiskan seluruh rotinya lalu membalik kertas gambarnya kehalaman begikutnya. Soeun lantas mulai menggoreskan pensilnya sambil memperhatikan Donghae sesekali, ia tampak tersenyum senang melakukan itu.

~

Soeun menghentikan pekerjaannya sejenak, lantas menatap kertas gambarnya dengan senyum yg terkembang. Ia tersenyum sambil melirik Donghae yg masih tidur kemudian.

“Ommo, nae namjachingu neomu matjyeoyo (Pacarku sangat keren..)” katanya sambil tersenyum kecil melirik hasil gambarnya yg terlihat hampir persis dengan Donghae. Ia tersenyum, melirik kembali kearah Donghae yg masih tidur. “Kau tampan sekali.. bagaimana mungkin orang sepertimu mau jadi kekasihku?” tanyanya dengan nada polos pada Sleepy Donghae.

“Entahlah, kenapa aku mau..”

Soeun sedikit kaget ketika tiba2 Donghae bersuara. Dia mengerjapkan matanya dengan ekspresi kaget kepada Donghae. Donghae tersenyum kearahanya.

“Nae Yeojachingu neomu Baboyo!! (Pacarku sangat bodoh!)” kata Donghae padanya. Soeun tak menyahut, Soeun kemudian berusaha membuang muka dan pura sibuk2 dengan kertas gambarnya. Donghae tersenyum kecil kearahnya dan merebut kertas gambarnya.

“Ya Donghae kembalikan!!” protesnya. Donghae tak menyahut, ia hanya memberikan senyuman nakalnya pada Soeun sambil membuka setiap helainya. Soeun tampak gugup ketika ia membuka halaman lainnya.

“Hum, mengambil gambar orang tanpa izin ketika dia sedang tidur. Ckckck, ini bisa dilaporkan hak ciptanya..” katanya tersenyum lucu sambil melirik Soeun. Soeun berusaha merebutnya, tapi Donghae tetep mempertahankannya. Ia membalik kehalaman lain. “Wah!!” serunya takjub sambil membalikkan kehalaman lainnya, senyumnya tampak tak pernah hilang dari wajahnya.

“Donghae..” Soeun merengek meminta bukunya.

“Ck, aku fikir kau benar2 serius menggambar. Tapi ternyata kertas gambarmu malah lebih banyak gambarku daripada yang lain. Soeun-ah, segitunyakah kau menyukaiku?” tanya Donghae sambil menggodanya. Soeun tak menyahut, ia hanya cemberut agak kesal karena perbuatan Donghae. “Kau kapan menggambar ini? kenapa aku tak tahu?” tanya Donghae padanya.

“RAHASIA!!” Soeun menyahut ketus sambil duduk kembali kebangku yg mereka tinggalkan. Donghae tersenyum, ia lantas ikut duduk bersama Soeun. membalik-balikkan gambar2nya yg ada disana satu persatu. “YAH DONGHAE, JANGAN DILIHAT TERUS!! SINI KEMBALIKAN!!” Seru Soeun keras pada Donghae yg terus mengganggunya. Donghae nyengir sambil mengembalikan buku gambar itu.

“Ini, aku tampan ya disana..” katanya narsis.

“Itu karena aku yg menggambarnya, aslinya biasa saja..” kata Soeun masih kesal sambil membalik buku gambarnya.

“Ohya, bukankah kau sendiri tadi yg bilang aku keren waktu aku tidur?” tanya Donghae padanya.

“Aku bohong!!” serunya kesal.

“Ck, kau marah seram ya..” kata Donghae sambil geleng2 kepala padanya.

“Kau baru tahu ya?” katanya cepat. donghae malah semakin tersenyum melihatnya.

“Ck, maaf ya, jangan marah padaku. aku tidak bermaksud membuatmu marah kok..” kata Donghae pada Soeun. Soeun masih menunjukkan wajah tak bersahabatnya sambil pura2 sibuk menggambar. Donghae tersenyum, lantas mengambil sesuatu dari tasnya.

“Ya sudah, kalau tak kau maafkan aku takkan membagi ini denganmu..” kata Donghae tersenyum sambil mengeluarkan sesuatu. Soeun langsung melirik kearahnya, sedikit kaget.

“Kau dapatkan itu darimana?” tanya Soeun pada Donghae yg sudah sibuk membuka bungkus rotinya.

“Ada calon ayah mertuaku..” katanya cuek.

“Apa? Kau bertemu ayah?” tanya Soeun. Donghae melirik dan tersenyum padanya.

“Ya..”

“Apa yg kalian bicarakan?” tanya Soeun antusias. Donghae terdiam, sengaja menahan kata2nya.

“Apa ya? Masalahnya Soeun, ini rahasia para pria. Wanita sepertimu tidak bisa diberitahu..”

“Ahh Donghae jangan buat aku penasaran begini. Ayo beritahu apa yg kalian bicarakan, kumohon..” rengek Soeun padanya. Donghae tak menyahut ia tampak memakan rotinya dan sengaja tak memberitahu Soeun. “Donghae ayolah..”

“Bagaimana ya..” Donghae tampak masih berfikir keras sambil memakan rotinya. Ia menata Soeun yg memelas padanya dengan masih mempertimbangkan beberapa hal. “Baiklah, aku beritahu. Tapi kau maafkan aku dulu..” kata Donghae.

“Ya ya aku sudah memaafkanmu..” kata Soeun cepat. Donghae menggngguk puas.

“Baiklah, kau benar2 ingin tahu?” tanya Donghae lagi. Soeun mengangguk lagi membuat Donghae tersenyum. “Ayahmu bilang padaku kalau..”

“Kalau?”

“Kalau..”

“Kalau apa?”

Donghae menahan kata2nya sambil menatap lucu Soeun yg penasaran. Ia tersenyum kemudian. “Ayahmu bilang kalau aku…” potongnya lagi sambil menatap Soeun yg penasaran.

“Ayahmu bilang kalau aku tampan haha!!”

Soeun langsung menunjukkan wajah kesalnya setelah jawaban Donghae itu. Donghae tampak tertawa keras didepannya. Soeun cemberut.

“TIDAK LUCU!!”

“Itu sangat lucu tahu, ekspresi wajahmu yg lucu haha..” Donghae kembali tertawa. Soeun tak menyahut cemberut, lantas langsung membelakangi Donghae. “Yha!!” Donghae memanggilnya lagi.

“Jangan bicara denganku lagi!”

“Yah, kau benar2 marah maaf deh.. aku hanya bercanda..” kata Donghae lagi padanya sementara Soeun hanya pura2 tak mendengar sambil sibuk dengan kertas gambarnya. “Soeun ayolah..”

“Tidak!!”

“Ayolah. Soeun…”

“Tidak..”

“Soeun, aku hanya bercanda, Soeun..”

Soeun tak menyahut, masih menyibukkan diri dengan gambarnya. Ia bahkan tak mendengarkan Donghae yg meminta maaf padanya. yah, akhirnya hari2 hanya akan dipenuhi dengan hal seperti ini, selain cinta tentunya ^^

[THE END]

Gimana gimana, FF ini dibuat dalam waktu dua hari dari kemaren loh dan begini hasilnya. Inspirasi ini aku dapat setelah baca komik, hehe. Aku selalu suka emosi yg disampaikan dalam komik2 jepang itu sebabnya aku mencobanya dalam sebuah FF. Lihat aja jalan ceritanya, kayak jepang2 gitu deh aku buat alurnya apalagi yg pas Donghae menyatakan perasaannya. Aku terinspirasi dengan Komik2 jepang yg pernah aku baca sebelumnya, emosinya. Hanya emosinya ya, kalau ceritanya murni dariku sendiri tanpa salinan darimanapun.

Hope You’ll Enjoy^^

44 Comments Add yours

  1. astrielf mengatakan:

    DAEBAKK aku suka banget sama alurnya,pokoknya keren banget,udah lama gak main ke blognya eonni pas main banyk ff bru,pokoknya aku suka banget sama pairing haesso ini🙂

  2. Almia mengatakan:

    Walau bru bca bbrp ff di blog ini tp menurutku km jago bngt nulis cerita,keren lanjutkan yah,ku tunggu karya” km secepatnya…..
    “keren bngt”.

  3. Dear dHiyah mengatakan:

    Donghae oppa alergi Roti keju ya ?? yacchhh
    pdahal q sk bgt ma keju =( tp bkan b.arti kta g jodoh kn ???
    kekeke *pLak!!!*

  4. waaah kereen bgt aku suka jalan ceritanya… n dah kliatan haeppa suka sm sso pas dia snyumin sso tu… pi sebel sm eunhyuk oppa pas dia nyalahin sso itu huuuhft pi akhirnya berakhir dgn bahagia wkkwkwkk….!!!!!!

  5. geill mengatakan:

    seru…….so sweet……
    ceritanya ok banget gak ngebosenin….top deh….
    apalagi pairingnya haesso suka banget…….hahaha……
    pokoknya ceritanya romantis deh…….
    next di tunggu ya kelanjutan2 ff yg author buat……
    semangat terus buat author……………..

  6. Cinta kyuhyun saranghae soeun mengatakan:

    So sweettttttttttt :*

    sumpah deh ya seru abies….
    Apa lg wkt mw d bgian” trakhirnya🙂
    wkt Haeppa sma Sso rebutan gambar soeun itu..
    Kebayang jelasssss ~_~

    pokoknya so sweet dah..
    100 jempol buat author….

    Di tunggu karya lainnya😉😉

  7. Irnawatyalwi mengatakan:

    Br shari g buka fb eh ada os br d wp putri,kk seneng bnget g tau knpa kl nemuin ff/osx haesso psti senyum2 n bhgia skali,oh ya ff x haesso kpn d lnjutn lg. Ffx daebak bnget deh go0d luck u/ putri

  8. andri susilowati mengatakan:

    kyaaaaaaaaaaaaaaaa…keren bgt,,,
    ceritanya bagus thorrr
    hoho
    ditunggu OS nd FF yg lainnya

  9. noni eka s. mengatakan:

    “Ck, maaf ya, jangan marah padaku. aku tidak bermaksud membuatmu marah kok..” kata Donghae pada Soeun. >> ngebayangin ekspresi so eun disini😀 pasti lucu
    ahhhh mau banyak ff lagi
    di posting ff yang banyak ya:D
    buat ujiannya.. ganbatte ne!

  10. ticha_ mengatakan:

    arghh_! like th!s
    Q skA_2 kT “TOP BGT”
    huA_g d kt” l9_
    pkK’x q tgg ff saen9 y9 laen😀😀
    daebAk😀
    fighting!!!

  11. deshiewookie mengatakan:

    suka suka suka. . . .
    ceritanya bagus chingu. . .
    aku tunggu FF yang lainnya. . .
    semangat terus buat authornya. . .

  12. mayaulidhasso mengatakan:

    hwaaa …!!!!!! pairing favorit aku … LOVE HaeSSo couple <3<3<3<3<3<3<3<3<3<3
    aku paling sukaaa pas Haeppa nyatain cinta ny sama Soeun eonnie .. gmnaaa gtu …
    pokok ny sukaaa dahhh ama OS yang ini …
    dilanjut yaa author ff yang lain ..
    aku te2p nunggu kok ..
    gomawo^^

  13. Kim Ha Byung mengatakan:

    Keren eonni ff’a🙂

    Aku tunggu ff yg slanjut’a🙂

  14. Kyusso Eunnie mengatakan:

    DAEBAK AUTHOR..
    keren bgt,tdk sng9up dungkpkan dgn kt2..
    aq suka bgt jln critax,nangis pas enhyuk mnyalahkan so eun dlocker n bhagia pas hae ungkapkan cinta k so eun..
    gk nyangka,hae udh lma suka ama so eun..aq pkir,hae jtuh cinta wktu kjdian yg mlm itu wktu so eun mrawatx yg lg skarat..
    pkokx aq suka ama endingx..good job buat author..
    lain kali,buat jg ff OS yg pairingx kyusso ya author yg kyak gini jg tp beda jln critax..pkokx yg skeren ini “reader mksa”..
    ya udh sgitu aja,dtng9u krya slnjutx..fighting

  15. Anna mengatakan:

    So emotional n sweeett,,mnurut ka2 crt ff-ny msh bs dikembangin putri dgn dbkin sequelny,,dtmbhin intrik2 lgi,,smg inspirasiny trus dpet ya !!! Always like it gomawo🙂

  16. Seli m mengatakan:

    Wah qu suka nih ama alur ceritanya yg ini😉
    donghae gagal tpi soeun yg tanggung jwb, huhuy ^^
    suka dgn scene endingnya ..
    Eun pkoknya ditunggu deh krya & lanjutan ff yg lain ,,
    eun qu lgi nungguin lanjutan refil ni, hehe ,, pkoknya smua jga ditunggu .. N smoga sukses ya ama ujiannya😉

  17. Ina890826 mengatakan:

    saya sukaaaaaaaa saya sukaaaaaaa
    bikin sequel lagi mpe mereka nikah..
    hahahaha
    aihhhh gemes ma mrka bedua ini,,
    aaaaa ternyata sama” suka dari dulu,, eaeaeaaaaa daebak^^

  18. Ayu mustika mengatakan:

    cantik sekali..amazing..salam kenal,nitip info nih

    http://www.batu-mustika.indonetwork.co.id

    ayu mustika

  19. Nury elf mengatakan:

    I like this story😉
    suka pas scene si donghae lgi kna alergi n sso yg nebantuin donghae, kyyaaa seru bnged ceritanya eunni😉
    eunhyuk oppa rese dah jngan gitu sma sso euni kasian dia ..
    Pkoknya suka deh ma ceritanya ,,
    scene endingnya jga, kya cerita2 jpang gmn gitu😉
    pkoknya ditunggu karya u slanjutnya, n lanjutannya ..
    Coz dah pnasaran bnged nin ma lanjutan story lainnya ,, gg mau idup pnasaran makanya nnya mulu ..
    Sukses ya thor buat ujiannya ^^
    sempetin jga buat lanjutan ff lainnya, hehe #mian byk bacot#

  20. YoZy Shipper mengatakan:

    Mianhaeyo bru komen sekarang pdahl udh bca blog ini dri dlu…
    Aq suka bgt ma FF yg ada di blog ini coz ada my faforit artis Kim So Eun…
    Dtunggu lnjutan FF yg sebelumnya trutama yg Faited..:D

    #maaf udh jd silence riders selama ini

  21. Olivio mengatakan:

    Like this yoo (y). Semua karna roti! A cieee wkwkwkwk hae nyosor aja noh. Eon ff yg laen cepetan juga ya🙂

  22. Elisoniac mengatakan:

    huwaaaaa…. kerennn… ceritanya apiiiiiiiiiiiiiikkkkkkkkkk banget….

    suka BGT^^

  23. acih mengatakan:

    Seru cerita yaa,,,
    Ngebayangin wajah sso euni lucu kali yee!!!
    Andai jadi knytan haesso

  24. intanbluesky mengatakan:

    Daebak! so sweet banget! haesso couple emang cihuy!

  25. ellis mengatakan:

    thanks author reques ellis di bikinin…udah gtu keren banget emang cingu yg paling keren ff nya ellis suka banget cingu, sorry bru bsa main ke blocg cingu soalnya lagi fokus ma ujian kemaren.mian cingu & kamsamidha…gak bisa bilang apa pun keren ff

  26. ellis mengatakan:

    yah author sekalian mau bilang next part black & white nya ya..and kamsamidha dah di buatin ff a..cingu emang paling keren knpa gak gak tulis skip film aja………………

  27. kim sah hyun mengatakan:

    kaaa ayo dong lanjut kn ff kaka !
    dcc lma ne ga bca ff kka !!

    yg kyusso’haesso’eunsso va lge yg kibum so eun !!

    qw suka bgeeet smua ff kaka !!

  28. QueenA FZ mengatakan:

    kya………………… maaf baru komen… kmrn baca di hp skrg br buka laptop makanya baru komen.. aku baru nemu nich blog… kadang pake nama Queena FZ(nama author kl lg nulis di blog BUmsso) kadang pake Dian queena.. hehe.. maklum aja yach.. insyaALLAH bakal komen di setiap baca ff disini dech..

  29. cucancie mengatakan:

    Seruuu….kereeennn….daebak…. Endingnya suka bgt…

  30. anastasia erna mengatakan:

    suka….banget ff ini…
    ternyata da lama dong hae cinta ma sso…
    bagus ending nya…

  31. tanti no kawai mengatakan:

    ………../–)
    ………/…/
    ……./….(______
    ▓▓……….((_I___)
    ▓▓……….((_I___)
    ▓▓……….((_I___)
    ▓▓—.___((_I__). Deh bwt author…. ^^

  32. kiki mengatakan:

    wah..aku suka ceritanya.. tumben lho,biasanya aku krg suka klo yg castnya soeun bareng donghae. hhe. #peace (^^)v
    tp yg ini aku suka.. ceritanya ringan dan lucu.. enak dibaca🙂

  33. thata mengatakan:

    Kya so sweetttttttttttt..
    Indah pada waktu`y..*eh
    Kerennnn

  34. Kim Ra rA mengatakan:

    Aaah G’ kuat dech bayangin Fishy Oppa yang super duper Keren, ceritanya bener2 Natural, bener2 suka sama Donghae Oppa

  35. satsuki mengatakan:

    wahhh ternyata donghae juga udah suka ama soeun jauh sebelum mereka benar2 kenal.
    keren ……

  36. senrumi mengatakan:

    Lucunya n so sweet habis………

  37. Melli mengatakan:

    Ternyata Donghae juga menyukai soeun dri setahun lalu yah, kekekeke

  38. debyfebiola28 mengatakan:

    Daebakk alurnyaa keren bgt:)

  39. soeunangel mengatakan:

    woaaa daebbak mencintai dalam diam itu emang so sweet banget ya thor>< aaa lanjutkan thor kkk~

  40. miyanoshita mengatakan:

    “Bolehkan aku menyukaimu dan melanjutkan kesalahan itu?”
    suka ama statement itu
    ff.nya seru, keren

  41. Endang mengatakan:

    Wah sangat keren,daebak..suka bgt,tp author yg bkn penasaran donghae bcr apa ya dgn ayah so eun,seandai’a crt’a ampe nikah pasti deh tbh keren dan so sweet.hehe

  42. Rani Annisarura mengatakan:

    wah suka banget sama OS-nya apalagi pairing haesso🙂

    Romantis banget waktu donghae nyatain cinta ke so eun🙂

    Suka banget sama OS ini….

  43. GG mengatakan:

    HaeSso best couple buat FF lah~ Haenya yg romantis gimana gt… Sso nya yg keras gt hihihi suka suka

    critanya simple, tp gak membosankan. jadi pengen ada sequelnya.. gimana kisah mreka waktu kuliah. kayaknya keren tuhhhh

  44. Safitri mengatakan:

    sweet parah ide ceritanya ringan tapi ngena banget berasa baca cerita asli hhahaa sukak banget~

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s