~ [Twoshot] Baby, Baby (2th Cloudyelfputriandina) ~


babybaby

Tittle      :               Baby, Baby

Author  :               PrincessClouds

Genre    :               Comedy Romance, Familiy.

Rated    :               PG-15

Length  :               Twoshoot

Main      :               Super Junior Donghae & Kim So Eun

Casts     :               Russel Williams (OC), Super Junior Siwon, Girl Generation Tiffany, f(x) Sulli, Super Junior Shindong, Jung Nari, Other OCs

Summary:           Hanya dalam satu malam aku menemukan sebuah keluarga?

Warning:              Typo(s)

Dedicated to:     My Cousin Reno Novita Sari, HaeSso Lovers, and All Readers ^^

*Baby,_Baby*

Sebuah malam yang begitu beku di musim dingin…

Sebuah bus berwarna merah tampak berhenti tepat di depan sebuah halte. Belasan orang tampak turun dari bus tersebut dan mulai bertumpahan dan mencari arah mereka masing-masing. Diantara mereka tampak sepasang manusia yang tampak berjalan beriringan.

“Kau sudah menyiapkan semuanya?” bisik yang perempuan sedikit berbisik pada laki-laki bertubuh tegap di sampingnya. Laki-laki itu tampak sedikit tersenyum tipis pada yang perempuan.

“Tenang, malam ini pasti semuanya akan lancar..” ucapnya sambil mendelik. Dua orang itu kemudian berjalan menjauhi halte.

Sementara itu, seorang gadis yang lain tampak menjadi penutup penumpang yang turun dari bus yang sama. Gadis yang memakai syal berwarna merah muda itu tampak melihat sedikit bingung sekelilingnya, setelah akhirnya memutuskan berjalan kearah halte dan duduk disana. Gadis itu menghela nafas panjang, melirik sekitarnya dengan pandangannya yang tanpa gairah. Sebelum akhirnya mengetikkan sesuatu di ponsel yang selalu dipegangnya daritadi.

Sulli, katakan pada ayah dan ibu kalau malam ini aku tidak pulang. Aku akan menginap di rumah temanku.

Gadis itu kembali menghela nafas setelah selesai mengetikkan pesan. Ia melirik kearah kanannya ketika mendengar suara bus mendekati halte tempatnya sedang duduk. Ketika bus itu berhenti ia bangkit dan memutusan menaikinya.

*

Malam yang sama…

Musik itu benar-benar memekakkan telinga. Di dalamnya asap rokok dan aroma alcohol menyeruak. Ikut berbaur bersama puluhan manusia yang tampak berbaur diruangan yang disinari lampu berkelipan itu. Menambah kesan yang sebenarnya tak ada enak-enaknya sama sekali.

Di depan meja barista, seorang pemuda tampak memegangi kepalanya yang pusing. Berulang kali ia menyentuh kepalanya, meletakkannya keatas meja, atau mengusapnya kasar. Berusaha menghilangkan rasa gelisah yang dirasakannya.

“Apa kurangnya aku…” gumamnya lirih.

Pemuda itu kembali mendesah. Namun ia kembali berusaha menepisnya dengan menyambar kembali botol minumannya yang terletak di atas meja.

*

Gadis tadi kali ini tampak berjalan kearah sebuah hotel. Dengan langkah yang masih tanpa gairah gadis bersyal merah muda itu tampak memasuki hotel yang tak terlalu berkelas itu. ia langsung membawa langkahnya mendekati meja Receptionist.

“Selamat datang di Lovely Family Hotel, nona. Ada yang bisa kami bantu?” tanya salah seorang Receptionist dengan ramah.

“Ya, aku membutuhkan sebuah kamar…” sahutnya pelan.

“Maaf, Single Room nona?”

“Ya, Single Room dan Single Bed..”

“Mohon tunggu sebentar, nona..” ucap Receptionist tadi sambil mencari-cari sesuatu. Hingga ketika sudah menemukannya ia kembali mengangkat wajahnya. “Baik, kamar anda adalah 1048, nona. Semoga anda betah ditempat kami…” ucap Receptionist itu ramah. Gadis itu tampak sedikit tersenyum sambil mengambil card yang diberikan padanya, lalu mulai bergerak meninggalkan tempat itu.

*

Klek!! Tap!!

Gadis itu bersandar di pintu yang baru saja ditutupnya. Ia kembali mendesah dan menghela nafas berat. Setelah pada akhirnya bergerak lebih memasuki kamar hotel.

“Hiks.. Hiks..”

Isakan mulai terdengar dari mulutnya yang daritadi diam. Ia kemudian melemparkan tas yang dipegangnya kearah sofa dan menghempaskan tubuhnya keatas tempat tidur. Isakannya terdengar semakin keras setelah itu.

“Kenapa kalian tega berkhianat di belakangku…”

Dan isakan itu terdengar dari kamar itu sepanjang malam. Sepertinya gadis itu benar-benar sedang berada di kondisi yang begitu buruk hingga yang ia tahu hanyalah menangis. Sampai-sampai ia tak menyadari bahwa ia belum sempat mengunci kembali pintu kamar hotelnya.

*

“Bagaimana?”

Kembali pada sepasang yang kita lihat di halte tadi. Saat ini dua orang itu tampak tengah mengendap-endap disalah satu sudut tergelap di sebuah apartement yang mewah. Pergerakan mereka begitu mencurigakan kalau saja para penjaga apartement itu menyadarinya.

“Hey, bagaimana?” ulang yang wanita pada laki-laki disampingnya yang sibuk menerawang sesuatu dengan teropong. Menerawang tempat yang cukup jauh dari mereka.

“Ya, sejauh ini aku sudah melihat target..” sahut yang laki-laki sambil masih fokus dengan apa yang dilakukannya. Meneropong menuju sebuah mobil yang tadi baru saja memasuki kawasan apartment itu. “Dan aku benar-benar melihat target kita. Harta karun kita..” ucapnya sedikit tersenyum ketika melihat sosok kecil yang tengah tertidur dipangkuan pengasuhnya.

*

Sebuah taksi tampak berhenti di depan Hotel yang tadi. Dari dalamnya keluar seorang pemuda yang tadi kita lihat mabuk di bar. Yah, disinipun ia masih terlihat mabuk.

“Ambil kembaliannya!” Ucapnya setelah mengulurkan uang pada sopir taksi yang mengantarnya. Dengan langkah sempoyongan ia kemudian memasuki hotel tersebut. Ia kemudian segera berjalan kearah Receptionist.

“Selamat datang di Lovely Family Hotel, Tuan..”

“Aku butuh sebuah kamar..” ucapnya sambil berusaha menahan tubuhnya agar tidak jatuh pada meja Receptionist. Nampaknya orang ini adalah langganan hotel ini ketika ia sedang mabuk. Sehingga sang Receptionist itu tampak segera mencari kunci tanpa perlu bertanya banyak.

“Ini kunci kamar anda, tuan. Nomor kamar anda adalah 1084…”

“Okey, aku akan mengingatnya…” tanggap pemuda itu sambil menyambar Card tersebut. Ia kemudian segera berjalan kearah Lift.

Sepasang yang lainnya tampak mendekat kearah meja ketika pemuda yan tadi selesai dengan urusannya. Yang wanita tampak memesan kamar sementara yang laki-laki tampak tinggal dibelakang. Menggendong anak mereka yang terlihat masih bayi.

“Selamat datang di-“

“Kami ingin memesan kamar, Single Room double bed..” wanita itu memotong ucapan Receptionist.

“Baiklah, mohon ditunggu nyonya..” sahut sang Receptionist. Ia tampak sibuk mencari-cari kunci kemudian. “Ini nyonya, kamar anda 1049-“

“Okey, terima kasih!” Potong wanita itu sambil merebut Card yang diberikan Receptionist tersebut. Ia kemudian mengajak suaminya untuk meninggalkan tempat itu dan berjalan kearah lift. Meninggalkan sang Receptionist yang hanya bisa geleng-geleng kepala.

*

Di dalam lift. Wanita berkacamata itu mulai terlihat menunjukkan wajah kesal. Ia melirik suaminya yang tampak berusaha menenangkan bayi yang menangis dalam pelukannya.

“Hey, tak bisakah kau membuatnya diam? Ia membuat telingaku sakit!” Omelnya pada suaminya.

“Kau tak lihat aku sedang berusaha. Lagipula aku ini laki-laki, seharusnya kau yang menggendong dan menenangkannya..” balas suaminya.

“Tsk, aku tak mau. Sudah kubilang aku tak suka anak kecil…”

“Tsk, calon ibu seperti apa kau? Anak ini pasti lapar. Ia membutuhkan makanan atau Asi!”

“Yah, kalau kau terus mengeluh kita hentikan saja. Kembalikan saja ia kembali pada orang tuanya!”

“Tsk, kau benar-benar. Untuk apa kita menculiknya tadi kalau mau dilepas begitu saja. Aksi kita kali ini tidak main-main, kau tahu? Dia ini anak orang penting. Besok pasti berita penculikannya tersebar di seluruh dunia..”

“Tsk, jangan bertindak seperti seorang pengecut sekarang. Apa yang terjadi ya jalani saja, memang siapa yang mengajak sebelumnya?” balas yang perempuannya lagi. Membuat laki-laki itu hanya bisa mendesah mengalah. Ia pada akhirnya kembali berusaha menenangkan bayi yang menangis semakin keras di pangkuannya.

*

“1084.. 1084…”

Pemuda itu terus menggumamkan nomor kamarnya ketika ia keluar dari lift. Ia terlihat sudah lelah, juga mabuk berat karena terlalu banyak minum. Saat ini yang ada difikirannya hanya segera memasuki kamarnya dan beristirahat disana.

“1084.. 1084-arght“

Gumamannya terhenti ketika hampir saja ia terjatuh. Ia mengerang kesal sambil menendang dinding yang hampir membuatnya jatuh tadi. Ia kemudian melanjutkan jalannya yang masih sempoyongan menyusuri lorong-lorong hotel tersebut.

“1048.. 1048.. 1048..” mulutnya kembali komat-kamit.

“1044.. 1045… 1046… 1047.. dan..” Langkahnya terhenti disalah satu kamar. Ia sedikit tersenyum dan mengangkat Cardnya. “1048…”

Tangan pemuda itu memegang handel untuk berniat mencocokkannya dengan Card. Tapi tanpa disangka pintu kamar itu sudah terbuka ketika ia hendak melakukannya. Pemuda itu sedikit menatap heran, namun pada akhirnya ia memilih tak memikirkannya dan memasuki kamar tersebut. Langkahnya terseok menuju tempat tidur yang ada diruangan itu dan langsung tidur disalah satu sisinya. Dan lagi, seseorang kembali lupa menutup pintu hotelnya kembali.

*

Ini ketika empat jam yang lalu..

“Fany!”

Pemuda yang masih memegang bunga itu tampak berlari dan meraih tangan gadis yang tadinya berniat meninggalkannya. Gadis itu berbalik, dan menatapnya dengan dingin.

“Apa lagi?”

“Kumohon terimalah perasaanku. Aku benar-benar menyukaimu-“

“Haruskah aku mengatakan berulang kali padamu? Atau haruskah aku berteriak padamu? Aku tak menyukaimu, sama sekali tak menyukaimu. Aku juga sudah punya kekasih, jadi berhentilah mengejarku!” Ucap gadis itu angkuh.

“Tapi-“

“Tsk, aku benar-benar muak. Aku ada kencan setelah ini. Jadi jangan mengangguku, ara?”

Dan gadis itu menjauh. Meninggalkan pemuda yang masih menatapnya dengan begitu terpukul dan sedih. Ia menatap bunga yang masih berada di genggamannya. Gadis itu bahkan tak mau walau menerima bunga pemberiannya….

 

Sementara itu..

 

Gadis bersyal merah muda itu berlari-lari kearah taman dengan langkah yang ceria. Wajahnya yang manis tampak semakin berbinar karena memancarkan kebahagiaan. Kebahagiaan karena akan bertemu kembali dengan kekasihnya.

“Aku telah berjanji mengenalkan Siwon oppa pada ayah dan ibu. Hari ini aku akan mengajaknya ke rumah..” ucapnya ceria. Dengan masih bahagia ia mengelilingi taman itu. Berusaha menemukan seseorang yang dicarinya. Hingga ketika ia melihat seorang pemuda di salah sudut ia terlihat begitu senang.

“Siwon-ah!”

Itu bukan suaranya. Bukan gadis itu yang memanggil. Karena baru saja ia hendak membuka mulutnya tiba-tiba gadis yang lain tampak datang dan memeluk tubuh pemuda yang ingin dipanggilnya tadi. Pemuda itu tampak kaget, sama kagetnya dengan wajah gadis yang tadi berniat menghampirinya.

“Yah! Fany-ah, kenapa kau disini?” tanyanya kaget. Ia berusaha melepaskan pelukan wanita yang memeluknya itu. “Yah! Soeun akan kemari. nanti dia melihatnya!” ucapnya yang kali ini berhasil melepas pelukan itu.

“Lalu kenapa kalau ia melihatnya? Aku kan juga kekasihmu!” Seru gadis itu kesal. “Kau bahkan bilang lebih menyukaiku daripada dia..”

“Yya, tapi walau bagaimanapun aku masih punya hubungan dengannya…” ucap pemuda itu. “Bersabarlah sedikit..”

“Bersabar katamu? Kau fikir tidak melelahkan harus berpura-pura terus dibelakangnya dan melihat kalian bermesraan..”

“Ya, tapi-“

Gadis itu berbalik. Tak mendengarkan perbincangan mereka lebih jauh. Ia menghapus air matanya, lalu segera meninggalkan tempat itu begitu saja.

Sulit dipercaya, kekasihnya berselingkuh di belakangnya. Dengan sahabatnya.

*

“Mommy!!”

“Mommy!!”

“Mommy!!”

Gadis itu sedikit melenguh mendengarkan suara seorang anak kecil yang meregek-rengek sambil menarik-narik selimutnya. Namun ia tak mengacuhkannya, ia kembali berniat untuk kembali kealam tidurnya. Memang anak siapa yang memanggilnya pagi-pagi begini.

“Mommy!!Mommy!!”

Rengekan itu semakin keras, bahkan suara kini mulai menangis dengan kencang. Gadis itu berdecak, eurgh… kenapa mimpinya aneh sekali.

“Mommy!”

“Mommy!!”

“MOMMY!”

Tidak mimpi?

Gadis itu mulai membuka matanya mulai berusaha meyakinkan dirinya bahwa itu hanya mimpi. Matanya yang kecil sedikit menyipit merasakan tikaman cahaya matahari. Ia menatap langit-langit yang berwarna putih diatasnya.

“Mommy!!”

Tunggu, suara itu lagi?”

“Mommy-“

“Aish, berisik! Kemana ibumu?!”

Kini ia nyaris tersentak dan terduduk ketika suara lainnya terdengar. Ia melirik kesamping kanannya. Matanya melebar melihat ada orang lain yang tidur satu tempat tidur dengannya. Seorang laki-laki.

“KYAAA! SIAPA KAU!!” serunya reflek mendorong pemuda yang masih setengah sadar tersebut. Pemuda itu pun jatuh dengan tidak elit ke lantai.

“Ahh, apa-apaan!” Pemuda itu mengaduh sambil memegangi pinggangnya. Ia segera membuka matanya dan mengalihkan perhatiannya kearah tempat tidur. Ia tampak juga begitu kaget menemukan seorang gadis yang tidak ia kenal disana. “Yah! Kau siapa? Kenapa ada di kamarku?” tanyanya.

“Apa katamu? Jelas-jelas ini kamarku. Astaga, APA YANG KAU LAKUKAN PADAKU?!”

“Tsk, apa maksudmu. Melakukan apa maksudmu?! Juga jelas-jelas ini kamarku!”

“INI KAMARKU!!!”

“Hiks.. Mommy, Daddy…”

Pandangan mereka berdua beralih. Kali ini menatap seorang anak kecil berusia sekitar satu tahun yang menatap mereka dengan sedikit ketakutan. Mungkin kaget karena dua orang dewasa itu saling berteriak dihadapannya.

“Lihat, kau sampai membawa anakmu segala kemari. Penyelundup bodoh seperti apa dirimu!” Seru gadis itu kesal pada laki-laki yang masih terduduk dilantai. Pemuda itu menatap sewot.

“Mana mungkin itu anakku. Jangan bercanda. Juga, hey, berhentilah berkata ini kamarmu dan aku menyusup kemari. Jelas-jelas ini kamarku dan kau yang menyusup-“

“Kau yang menyusup disini! Ish, dasar pria pervert!”

“A-Apa? Enak saja! Kau lah yang menyusup!”

“Kau!”

“Kau!”

“KAU!!!”

“Hiks.. Huweee!!! Mommy Daddy!! HUWEEEEEEEE!!!”

Kedua orang itu panik ketika anak itu menangis dengan keras. Mereka saling bertatapan satu sama lain. Sebelum akhirnya sama-sama bangkit dan mendekati anak kecil itu untuk menenangkannya.

*

Wanita itu bangun dari tidurnya. Ia menguap panjang sambil menormalkan matanya. Setelah nyawanya terkumpul sempurna ia menyingkirkan tangan yang melingkari bahunya, lalu bangun dari tempat tidur.

“Huh, akhirnya tenang sendiri..”

Wanita itu mengundurkan niatnya untuk ke kamar mandi. Ia segera membawa langkahnya ketempat tidur lain yang berada di ruangan itu. Bermaksud memastikan sesuatu. Namun tawanya memudar begitu saja ketika melihat tempat tidur itu kosong.

“Tidak ada!” Serunya panik sambil memeriksa ulang tempat tidur. Ia bahkan mencari-cari ke kolong tempat tidur untuk menemukan sesuatu. Namun ia tetap tak menemukannya. “Kemana dia!” Serunya panik. Pandangannya beralih kearah pintu kamar hotel. Langsung kaget melihat pintu itu terbuka.

“Arh!” Erangnya kesal. Wanita itu kemudian segera beranjak kembali ketempat tidurnya. Ia mengguncang tubuh laki-laki yang masih tertidur disana. “Bangun! Bangun Shindong! Anak itu hilang!!!”

*

Anak dengan rambut pirang itu tampak sudah mulai tenang. Saat ini tampak duduk di sofa sambil meminum susu yang diberikan oleh dua orang itu kepadanya. Ia seakan mengacuhkan dua orang yang kini masih memperhatikannya dengan aneh dan heran.

“Jadi dia benar bukan anakmu?” tanya yang laki-laki itu sambil masih memperhatikan bayi di depan mereka. Gadis disampingnya mendesah dan menatap kesal padanya.

“Harus berapa kali kubilang padamu! Aku tak kenal anak ini. Mana mungkin aku ini ibunya!” Serunya tak santai.

“Lalu anak siapa kalau begitu?” tanya pemuda itu tak habis fikir. Jujur ia masih begitu shock menemukan ada wanita asing yang berada diatas tempat tidurnya. Ditambah dengan adanya anak dengan ciri-ciri orang eropa yang tiba-tiba memanggilnya Daddy. “Kitakan belum melakukan apapun. bagaimana mungkin tiba-tiba hasilnya langsung jadi begi- arhg!”

“Berhentilah bertele-tele! Ini bukan waktu yang tepat, penyusup!” Seru gadis itu kesal. Pemuda itu menatapnya tajam sambil mengelus kepalanya yang baru saja kena jitak.

“Berhentilah mengatakan aku ini penyusup! Kau yang menyusup kekamarku!”

“YAH-“

“Mommy, Daddy!”

Keduanya kembali berhenti bersitegang. Pandangan mereka beralih pada bayi yang tadi. Dimana ia kembali menatap mereka dengan mata berkaca-kaca. Dia sepertinya tak suka mendengar kedua orang ini terus berdebat.

“Sekarang lupakan itu. Kita harus memikirkan bayi ini sekarang…” ucap yang pemudanya menurunkan nada bicaranya. Keduanya kembali beralih pada bayi itu. dimana bayi itu masih menatap mereka dengan mata berbinarnya. Ia juga mulai tersenyum pada keduanya.

“Kalau dilihat-lihat dia sama sekali tidak terlihat seperti anak keturunan korea. Lihat warna kulit dan rambutnya…” gumam gadis itu sambil memperhatikan anak itu lagi. Pemuda itu mengangguk setuju.

“Ia memiliki ciri-ciri seperti keturunan dari Negara seperti dari benua eropa, amerika, atau Australia..” timpal pemuda itu. Gadis itu menganggukkan kepalanya.

“Ya. Sepertinya orang tuanya bukan orang korea…”

Kedua orang itu kembali menghela nafas, lalu menyandarkan dirinya di sofa. Mata mereka masih juga menatap bayi kecil yang kini mulai kembali meminum susunya ditangannya itu. Berusaha mencari sesuatu.

“Apa yang harus kita lakukan?” tanya gadis itu sambil berfikir panjang. Pemuda itu tampak menggelengkan kepalanya lesu.

“Entahlah. Aku sama sekali tidak tahu. ini benar-benar begitu mengagetkan bagiku…”

Sementara itu si kecil tampak berhenti meminum susu ditangannya. Ia kemudian mengalihkan perhatiannya pada sepasang orang dewasa yang duduk dihadapannya. Menatapnya seolah-olah ia adalah seorang alien yang tersesat ke kamar mereka.

“Mommy, Daddy!” dua kata itu kembali terdengar di mulutnya yang mungil. Tangannya kemudian terulur pada keduanya. Mungkin meminta digendong.

“Coba tanya padanya. Mungkin kita bisa tahu dimana orang tuanya..” bisik pemuda itu lagi.

“Tsk, apa menurutmu ia bisa berbicara? Aku punya kenalan yang anaknya seusia dia. Dan anak itu hanya bisa mengatakan Appa dan Umma…”

“Tak ada salahnya dicoba. Kita tak bisa melakukan apapun disaat seperti ini…”

Gadis itu mendesah. Ia kembali mengalihkan perhatiannya pada sosok mungil itu. Sedikit ragu ia mulai mengeluarkan suaranya.

“Eung, anyeong… siapa namamu, bayi kecil? D-Dimana orang tuamu?”

“Mommy Daddy!” anak itu menyahut ceria sambil masih mengulurkan tangan pada keduanya. Seakan menjawab bahwa dua orang didepannya adalah orang tua yang ditanyakan gadis itu.

“Tsk, dia tak mengerti. Cobalah bertanya dengan bahasa inggris!” Seru pemuda itu lagi. Gadis itu agak mendesah, lalu menganggukkan kepalanya.

“Eung, what’s your name, Little baby? Where is your parents?”

“Mommy, Daddy!”

Keduanya mendesah bersamaan. Bayi itu tetap mengatakan serta melakukan hal yang sama. Membuat dua orang itu entah kenapa benar-benar tambah frustasi.

*

“Ayo cepat!”

Wanita itu berseru kembali pada suaminya. Mereka tampak memperhatikan dengan seksama seluruh sudut hotel tersebut.

“Kita harus menemukannya. Gawat kalau ada yang menemukannya…”

“Menurutku ia tak akan jauh. Lagipula, bayi mana ada yang sampai menggunakan lift..”

“Tsk, bayi ini produk Rusia. Otaknya bisa saja lebih pintar daripada bayi kebanyakan apalagi ayahnya adalah seorang duta. Aish, ayo jangan banyak bicara. Segera kita cari bayi itu!”

*

“Menurutmu kita harus membawanya kemana?” tanya pemuda itu sambil mengalihkan perhatiannya pada gadis disampingnya. Keduanya tampak masih tak beranjak dari sofa dan membiarkan bayi itu bermain sendirian diruangan itu

“Kita harus membawanya ke bagian Receptionist atau kantor polisi. Aku yakin orang tuanya mencemaskannya…”

“Kau yakin ia akan aman?”

“Lalu mau apa lagi? Memang kau mau merawatnya? Kalau aku tentu saja tidak bisa. Apa kata keluargaku ketika aku pulang-pulang membawa seorang bayi kerumah!”

“Tsk, aku juga masih kuliah dan tinggal di apartement sendiri. Aku tak mungkin membawanya bersamaku…”

“Oleh sebab itu kita harus membawanya ke kantor polisi atau melaporkannya pada pihak hotel!”

“Hiks… Mommy,  Daddy!”

Keduanya mengalihkan perhatiannya kembali ketika bayi tadi berhenti bermain. Kali ini ia merangkak kedekat mereka. Lalu meraih kaki pemuda itu untuk membantunya berdiri.

“Mommy, daddy..” rajuknya sedih. Matanya tampak kembali berkaca-kaca.

“Apalagi sekarang? Dia lapar lagi?” tanya pemuda itu sedikit memegangi bayi itu. takut-takut ia terjatuh.

“Dia tak sepertinya tak mungkin lapar lagi. Kecuali kalau dia…”

“Kalau dia- Eh, celananya basah!” Seru pemuda itu agak kaget ketika merasakan rasa basah dikulitnya. Gadis itu terdengar mendesah.

“Itu maksudku…”

“Argh, dia menyentuhku dengan celana basahnya!” Seru pemuda itu sambil mengulurkan kedua tangannya kearah bayi itu. Menjauhkannya dari kakinya. Pemuda itu segera meraih kain yang ada disana untuk mengelapnya.

“Hiks.. Mommy, daddy.. hiks…” anak itu kembali sesegukan. Hingga. “HUWEEEEEE!!”

“Argh!”

Dua orang itu reflek menutup telinga mereka. Keduanya kembali saling bertatapan.

“Pergilah keluar dan belikan popok untuknya!” Seru gadis itu sambil terus memegangi telinganya.

*

Pemuda itu merutuk kesal. Setelah pergi ke minimarket terdekat ia tampak kembali memasuki hotel. Sebuah bungkusan terlihat ditangannya.

“Tsk, aku benar-benar tak percaya hal ini terjadi padaku!” Omelnya kesal sambil membawa bungkusan itu mendekati lift. Ia tampak berdiri sebentar untuk menunggu lift. Hingga tak berapa lama Liftnya datang.

“Kita harus secepatnya mencari bayi itu!”

Langkah pemuda itu terhenti ketika mendengar pembicaraan sepasang manusia yang baru saja keluar dari lift. Ia memiringkan wajahnya dan tampak sedikit berfikir.

“Mereka orang tuanya? Tapi kok…”

*

“Pagi ini ketua kedutaan Rusia yang ada di Korea mendatangi kantor polisi bersama istrinya. Mereka melaporkan bahwa mereka telah kehilangan anak mereka yang berusia sebelas bulan. Anak ini hilang ketika pengasuh mereka sedikit terlengah. Di duga bayi ini telah diculik untuk alasan pemerasan. Namun tuan Williams dan istrinya mengaku belum menerima panggilan apapun hingga pagi ini. Hal itu membuat mereka akhirnya memutuskan melaporkan ke pihak berwajib. Sampai saat ini polisi tampak masih memeriksa perkara dan meminta keterangan saksi…”

Gadis itu sedikit tersedak ketika mendengarkan siaran di Televisi. Secepatnya ia meletakkan juice yang diminumnya diatas meja dan mendekat kearah Televisi. Sementara bayi itu tampak melakukan hal yang sama. Ia tampak memanjat dinding lemari tempat TV dan menyentuh layar TV yang menampakkan sepasang suami-istri berkewargaan asing tersebut. Wajahnya tampak begitu berbinar.

“Mommy… Daddy…”

Gadis itu tampak sedikit terpana moment tu.

Klek!

“Dengar!”

Kedua orang itu berseru bersamaan dan berbunyi sama. Membuat mereka menghentikan kata-kata itu. Pemuda itu secepatnya masuk dan mendekati gadis itu. bungkusan tadi masih ada ditangannya.

“Di lift tadi aku menemukan pasangan yang mencari bayi mereka. Tapi mereka benar-benar seperti orang korea asli serta berpenampilan sedikit mencurigakan. Aku akahirnya mengundurkan niat memanggil mereka..” ucap pemuda itu sambil meletakkan bungkusan yang tadi.

“Mereka pasti penculik. Lihat!” Ucap gadis sambil mengedikan kepalanya kearah TV. Pemuda itu menurutinya. “Mereka adalah orang tuanya. Dia adalah anak bungsu dari ketua kedutaan Rusia yang ada di korea. Semalam ia baru saja diculik…”

“Arh, benarkah?” ucap pemuda itu antusias sambil duduk di sofa terdekat.

“Penculikan ini di kategorikan sebagai penculikan berat. Orang-orang yang bekerja terlihat begitu berpengalaman. Kami khawatir bahwa Russel berada ditangan penculik yang paling diresahkan di Negara ini. Oleh sebab itu kami meminta pertolongan anda. Kalau anda menemukan bayi dengan foto seperti yang kami pajang ini harap menghubungkan kantor polisi terdekat-“

“Kita dalam masalah besar..”

Pemuda itu mematikan Televisinya. Berhasil membuat bayi yang baru saja melihat wajahnya terpampang di TV cukup kecewa. Bayi itu kemudian turun dari tempatnya berdiri dan merangkak mendekati mereka.

“Apa maksudmu dengan masalah besar? Bukankah ini bagus?” tanya gadis itu bingung.

“Tentu saja tidak bagus. Kita bisa dicurigai..” sahut pemuda itu. “Kita bisa dikambing hitamkan disini…”

“Kenapa begitu?”

“Tsk, aku sudah sering berurusan dengan polisi dan walau kita tidak salah tapi posisi kita sudah begitu berat. Aku yakin ketika kita menyerahkan bayi ini mereka tidak akan langsung percaya dengan kata-kata kita. Mereka akan menanyai kita ini dan itu yang akhirnya akan menyulitkan. Apalagi dia bukan anak sembarang. Ayahnya adalah seorang duta!” ucap pemuda itu sambil menunjuk bayi kecil yang kali ini meraih meja sofa. Ia menarik-narik bungkusan yang berada diatas meja tanpa mengacuhkan pembicaraan serius dua orang itu.

“Apa begitu? Lalu kita harus bagaimana?” tanya gadis itu mulai panik. Ia menggigit bibir bawahnya, sedikit takut. Sementara bayi tadi tampak sudah berhasil menarik bungkusan itu ke lantai. Ia mengacak-acak belanjaan yang ada di dalamnya dan melemparkan apa yang tak menarik minatnya begitu saja. Hingga akhirnya ia menemukan bungkusan biscuit.

“Sepertinya kita harus menyembunyikannya untuk sementara waktu..”

“A-Apa? Y-Yah, bukankah itu lebih beresiko. Kita akan tambah dalam masalah!” Protes gadis itu.

“Hanya itu yang bisa kita lakukan saat ini. yang penting kita harus mencari aman dulu untuk saat ini dan kita mulai fikirkan langkah yang selanjutnya…”

“Astaga. Kenapa masalahnya semakin berat begini..” gadis itu kembali mendesah.

“Hiks… Hiks… Mommy, Daddy!”

Bayi itu kembali merengek. Ia tampak meletakkan biscuitnya tadi dan menatap kepada keduanya dengan matanya yang basah. Suaranya sesegukan.

“Sepertinya kau harus secepatnya mengganti popokny-“

“Kenapa harus aku?!” Protes gadis itu.

“Tsk, tentu saja. Hanya wanita yang melakukan itu, diantara kita yang wanita adalah dirimu, bukan?”

“Tapi aku tak pernah melakukannya sebelumnya…”

“Tsk, apalagi aku. Ayolah jangan bercanda!”

“Tidak. Aku tak mau. Bagaimana kalau ia anak laki-laki?!”

“Menurutmu juga bagaimana kalau ia anak perempuan?!”

“Tapi-“

“Dia terlihat seperti anak perempuan. Menurutku dia seorang perempaun, coba pastikan…” ucap pemuda itu lagi.

“Tapi-“

“Lakukanlah sebelum ia menangis dan semua orang datang kemari!” kata pemuda itu lagi. “Kalau nanti dia laki-laki aku yang akan memandikan dan mengganti popoknya. Tapi kalau dia perempuan kau yang lakukan, bagaimana?” tanya pemuda itu menawarkan. Gadis itu mendesah pelan. Namun pada akhirnya menyetujuinya.

“Baiklah..” ucapnya singkat. Gadis itu kemudian dengan ragu-ragu mulai mendekati bayi itu. Sementara pemuda itu tampak hanya sedikit tersenyum kecil melihat gadis yang terlihat ragu-ragu itu.

“Mommy!!”

Bayi kecil itu tampak berbinar melihat gadis itu mendekatinya. Tangannya kembali terulur berusaha menggapai-gapai gadis itu. Hingga ketika mendapatkannya, bayi itu memeluknya.

“Mommy!!”

“Tenang ya, baby. Mari kita ganti popokmu…” ucap gadis itu masih ragu. Ia kemudian mulai meraih popok yang tadi dilempar si baby agak menjauh. Tangannya mulai menyentuh celana anak yang terus memeluknya itu. Kelihatan bahwa ia tampak masih ragu melakukannya.

“Ayolah…” seru pemuda itu lagi. Ia tampak bersantai di sofa sambil memperhatikan keduanya. Sepertinya tontonan ini cukup menarik.

Gadis itu menghembuskan nafasnya lagi. Lalu setelah meyakinkan dirinya ia tampak kembali menyentuh celana bayi kecil tersebut dan mulai membukanya. Bayi itu semakin memeluknya ketika merasakan celananya mulai melonggar.

“KYAAA!!”

Gadis itu berteriak sambil menutup matanya. Ia segera melepaskan bayi tersebut kelantai, membuat bayi itu kebingungan. Sementara pemuda tadi malah tertawa dengan keras.

“Ya, waeyo?” tanya pemuda itu ditengah tawanya. Gadis itu tampak mulai merengek sambil terus menutup matanya.

“Dia laki-laki… Aku melihatnya…”

“Haha. Baru melihat punyanya saja kau sudah histeris. Kau tahu bila dibandingkan dengan punyak- oh lupakan..” pemuda itu menahan kata-katanya setelah gadis itu membuka matanya dan menatapnya dengan tajam.

“CEPAT GANTI POPOK DAN CELANANYA!!!”

*

Klek!

“Masuklah!”

Pemuda itu mengedikan kepalanya setelah membuka apartement pribadinya. Gadis yang tengah menggendong bayi yang sedang tertidur itu segera masuk. Sementara pemuda itu masuk setelah itu. Setelah sebelumnya menatap waspada kesekitar, takut ada yang melihat mereka.

“Aarh, aku benar-benar merasa seperti buronan…” keluh gadis itu sambil membuka penutup kepala bayi dalam gendongannya. Ia tampak sedikit tersenyum melihat bayi itu masih terlelap tenang disana.

“Untuk sementara ku kira tempat ini aman. Jarang ada orang lain yang datang kemari..” kata pemuda itu sambil bergerak kearah dapur. Sementara gadis tadi masih berdiri didekat sofa sambil menggendong bayi tadi. Sementara matanya menatap seisi apartement tersebut.

“Seberapa lama kita bisa menyembunyikannya disini?” tanya gadis itu.

“Aku harap secepatnya. Kita harus segera menemukan jalan untuk mengembalikannya pada orang tuanya..” sahut pemuda itu setelah kembali kedapur. Kali ini dengan minuman ditangannya. “Kau pasti lelah. Letakkan saja ia di kamar dulu..” usul pemuda itu.

Gadis itu menunganggukkan kepalanya. Lalu mengikuti arah pemuda itu yang membawanya memasuki sebuah kamar.

*

“Jadi, bayi ini akan bersamaku. Sementara kau akan datang untuk merawatnya setiap hari?” tanya pemuda itu mengambil inti dari perbincangan mereka. Saat ini mereka hanya berdua diruang tengah, sementara bayi tadi tengah terlelap di dalam kamar.

“Begitulah. Saat ini jadwal kuliahku juga begitu sibuk, tapi aku pasti akan datang dan membantumu setiap hari..”

“Untungnya aku hanya sedang menyusun tugas akhir sehingga aku memiliki waktu lebih banyak dirumah. Hanya yang aku resahkan adalah bagaimana kalau ia menangis ditengah malam dan aku tak bisa menenangkannya. Aku benar-benar tak tahu apa-apa mengenai seorang bayi..”

“Begitupun aku. Kita berdua sama-sama amatir di bidang ini…”

Kedua orang itu menganggukkan kepala kemudian saling terdiam untuk beberapa saat. Mereka tampak larut dalam fikiran masing-masing. Hingga lamunan itu agak buyar ketika ponsel si gadis berdering.

“Yeoboseyo…” sahut gadis itu setelah mengangkat panggilannya. Sementara pemuda dihadapannya tampak hanya diam sambil meminum-minumannya. “Baiklah, Sulli. Unnie akan pulang sekarang juga…”

Gadis itu sedikit mendesah. Ia menyimpan ponselnya dan menatap pemuda dihadapannya.

“Sepertinya aku harus pulang. Keluargaku mulai mencariku…” ucap gadis itu sedikit hati-hati. Agak tidak enak mengatakannya pada laki-laki itu.

“Oh, baiklah. Tapi kuharap kau besok kemari lagi…” tanggap pemuda itu.

“Ya, pasti. Aku juga akan membeli perlengkapan baby Russel yang lainnya juga besok…” ucap gadis itu. Pemuda itu menganggukkan kepalanya.

“Baiklah. Oiya, tolong berikan nomor ponselmu padaku agar kita bisa saling tetap terhubung dan saling membantu mengurus Russel…” ucap pemuda itu lagi sambil meraih ponselnya. Ia lalu mengulurkan ponselnya pada gadis itu. Gadis itu menerimanya dan mencatatkan nomornya disana.

“Ini. Aku menyimpannya dengan Kim So Eun…” ucap gadis itu sambil menyerahkan ponsel itu kembali. Pemuda itu tampak menerimanya dan menatap layar ponselnya.

“Kim So Eun..” gumamnya sambil membaca tulisan yang tercantum disini. Ia bahkan baru ingat bahwa walau sudah berjam-jam bersama ia baru mengetahui nama gadis itu sekarang.

“Oiya, apa nama yang harus kutuliskan disini untuk nomor ponselmu?” tanya gadis – Soeun – sambil melirik ponselnya yang juga telah mencantumkan nomor pemuda di depannya. Ia tadi men-dial-nya kenomornya sendiri.

“Tulis disana Lee Dong Hae…” sahut pemuda itu.

“Baiklah-“

“- Lee Dong Hae…”

*

“Aku pulang!”

Soeun segera menutup pintu rumahnya kembali setelah memasukinya.. Ia langsung berseru kencang ke seisi rumah setelah itu.

“Unnie!”

Seseorang berseru dari tingkat atas. Tak lama seorang gadis yang beberapa tahun lebih muda tampak menuruni tangga dengan tidak sabar.

“Mana? Unnie membawanya?” tanya gadis itu celingukan mencari sesuatu dibelakang Soeun yang jelass tidak ada. Soeun tampak sedikit heran.

“Membawa apa?”

“Katanya mau membawa pacar unnie kemari. Mana?” tanya gadis itu polos.

Soeun mendesah pelan. Ia lebih memasuki rumah mereka. Gadis itu mengikutinya dengan bingung.

“Tidak ada pacar, Kim Sulli. Aku tak mungkin membawanya…”

“Loh, kemaren katanya mau mengenalkan kekasihmu pada ayah dan ibu. Kenapa tidak jadi?” tanya adiknya yang dipanggil Sulli itu bingung.

“Entahlah..” sahut Soeun lesu. Ia segera berjalan ketingkat atas begitu saja. Meninggalkan adiknya yang tampak masih heran dan kurang mengerti.

*

“Daddy!”

Donghae mengalihkan perhatiannya dari TV kearah anak kecil yang daritadi ia biarkan bermain sendiri. Bayi kecil itu kemudian merangkak kedekatnya. Membuat Donghae sedikit merungkuk dan meraihnya. Donghae kemudian membawa bayi itu kedalam pelukannya.

“Hum, apa lagi sekarang? Bukankah kau sudah makan dan popokmu sudah diganti?” tanya Donghae sambil mengusap rambut bayi itu lembut. Bayi itu tampak kesenangan diperlakukan seperti itu. Ia tersenyum menatap Donghae dengan matanya yang berbinar. Membuat Donghae mau tak mau juga tersenyum melihatnya.

“Daddy… Mommy?”

Donghae agak terkekeh pelan mendengar dua kata itu berulang kali. Namun sepertinya ia kali ini lebih mengerti.

“Mommy-mu sedang tidak ada disini. Selanjutnya setiap malam, kau hanya akan melihatku. Daddy-mu..”

Mau tak mau Donghae kembali terkekeh sendiri oleh kata-katanya. Ia tak menyangka ia akan mengucapkan kata-kata seperti itu. Daddy? Mommy? Bukankah mau tak mau mereka sudah terlihat seperti suami dan istri. Padahal mereka sama sekali tak saling mengenal satu sama lain.

“Sekarang sebaiknya kita tidur. Malam ini kau hanya ada aku dan aku sama sekali tidak mengerti dengan urusan bayi. Jadi jadilah anak baik dan jangan rewel, ara?” ucap Donghae sambil mengangkat tubuh baby Russel tersebut dan menggendongnya. Donghae segera mematikan TV dan membawa baby itu kearah tempat tidur. Donghae kembali tersenyum ketika merasakan tangan mungil sang baby memeluk lehernya untuk menuntut kehangatan.

()

Soeun keluar dari kelasnya setelah kelasnya bubar. Ia segera berniat berjalan meninggalkan Universitas dan segera mencari Minimarket terdekat untuk berbelanja keperluan Russel. Selanjutnya ia akan segera menuju apartement Donghae. Itulah rencananya.

“Soeun!”

Langkah Soeun terhenti ketika seseorang menyerukan namanya. Ia hanya sedikit mematung melihat pemuda itu melambaikan tangan padanya. Perasaan tak enak itu kembali dirasakannya.

“Soeun!”

Pemuda itu tampak sedikit heran melihat gadis yang dipanggilnya tak menyahutinya. Pemuda itu kemudian segera berlari-lari kecil kearah Soeun yang masih membeku.

“Soeun! kau kenapa? kau tak mendengarku?” tanya pemuda itu setelah berada disamping Soeun. Ia menyentuh bahu Soeun. Membuat kesadaran Soeun kembali.

“Arh, tidak apa-apa. Aku tidak apa-apa..” sahut Soeun kaku. Ia berusaha tersenyum pada pemuda disampingnya. Choi Siwon.

“Oh, aku fikir kau sakit. oiya, semalam aku menunggumu di taman. Tapi kenapa kau tidak datang? Ponselmu juga tak dapat dihubungi…” kata Siwon lagi.

“Oh, itu..” Soeun kembali tergugup. Sumpah demi dirinya sendiri Soeun sebenarnya mengutuk dirinya sendiri. Apa yang terjadi padanya? bodohkah dia? bisukah? Kenapa ia hanya bisa diam dan tetap berpura-pura tidak tahu? wanita normal seharusnya berteriak atau menampar ketika kekasih mereka ketahuan berselingkuh. Tapi kenapa ia tak berkutik sama sekali pada Choi Siwon ini? Apa ia terlampau menyukainya?

“Yah, kenapa kau melamun lagi?” tanya Siwon sambil menyentuh sisi wajahnya. Berhasil membuat Soeun tersentak.

“A-Arh, tidak apa-apa. Eung, semalam ayahku memintaku untuk tinggal karena ada urusan penting. Aku jadi terkurung di rumah dan tak bisa kemana-mana. Sementara kemaren ponselku sedikit bermasalah hingga aku mematikannya..” ucap Soeun beralasan. Pemuda itu menganggukkan kepalanya.

“Oh, baguslah kalau kau tak apa-apa…”

Kedua orang itu hening sesaat. Soeun tampak menundukkan wajahnya sementara Siwon tampak bingung mau mengatakan apa lagi.

“Soeun-“

“Eung, Siwon. Aku kira aku harus pergi!” Soeun memotong ucapan Siwon. Siwon menatapnya heran.

“Huh?”

Soeun menghembuskan nafasnya. Choi Siwon bagaikan kartu mati baginya. Ia sering tak berkutik dihadapan pemuda ini. Namun setelah yang ia lihat kemaren Soeun mulai sadar ini tidak benar. Ia harus berusaha melepaskan dirinya sendiri dari jerat pesona Choi Siwon. Sebelum ia terjerat lebih rumit dan tak bisa melepaskan diri.

“Ibuku menyuruhku untuk secepatnya pulang karena ia membutuhkan bantuan. Jadi aku harus segera pulang sekarang juga…” ucap Soeun sambil berusaha menguatkan diri menatap wajah Siwon. Siwon tampak menganggukkan kepalanya.

“Oh, begitukah? Padahal aku mau mengajakmu makan. Tapi kalau begitu adanya aku mengerti. Mungkin kita bisa pergi lain waktu, yakan?”

Siwon menarik tangannya kembali. Tadi ia berniat mengusap rambut Soeun, namun gadis itu reflek menghindar. Soeun langsung kaku menyadari tindakan refleknya.

“Arh, sepertinya ibu benar-benar menungguku. Sepertinya aku benar-benar harus pulang. Bye, Choi Siwon!”

Siwon lagi-lagi hanya terpana mengikuti punggung Soeun yang menjauh. Ini hanya perasaannya atau memang Soeun bersikap aneh? Apa yang terjadi padanya? Atau jangan-jangan….

*

“Tsk, kenapa Soeun juga datang…”

Donghae sedikit mengeluh sambil melirik jam tangannya. Pandangannya kemudian beralih pada Baby Russel yang tampak sudah menyamankan diri ditempat tidur sejak setengah jam yang lalu. Baby itu baru tenang setelah sibuk bermain sejak pagi.

Klek!

Donghae mengalihkan pandangannya menuju tempat tidur ketika mendengar pintu terbuka. Ia bisa menebak itu adalah Soeun. Karena Soeun adalah satu-satunya orang lain yang tahu Password apartementnya.

Sementara Soeun yang langsung masuk langsung menyadari bahwa Donghae sudah berdiri di ruang tengah dan menoleh padanya. Dandanannya sudah rapi dan sepertinya berniat akan pergi. Jujur Soeun bahkan sempat terkagum sendiri oleh penampilan Donghae. Pemuda yang kemaren berpakaian acak-acakan itu hari ini terlihat begitu rapi dengan kemeja berwarna biru yang dikenakannya.

“Kau akhirnya datang..” ucap Donghae sambil mendekat dan membantu Soeun membawakan belanjaannya. Soeun tampak tersadar dari lamunannya.

“Maaf, kelasku begitu padat tadi. Ini saja aku langsung berlari kemari. Oiya, kau pasti begitu kerepotan ya? Mana Baby Russel?”

“Ia sudah tertidur semenjak setengah jam yang lalu karena kecapekan…”

Donghae kemudian mengikuti Soeun dari belakang ketika gadis itu memasuki kamarnya. Di dalamnya Russel tampak sedang tertidur dengan begitu pulas. Soeun sedikit tersenyum dan mendekatinya.

“Bagaimana semalam? Apa ia rewel?” Tanya Soeun sambil mengusap kepalanya lembut. Membuat bayi kecil itu tampak semakin nyaman karena sentuhan.

“Tidak juga. Ia menangis dua kali. Pertama karena lapar lalu karena celananya basah. Tapi setelah kuatasi ia dengan cepat tertidur setelah itu…” jawab Donghae.

“Oh. Tapi pasti kau tetap repot bukan?” tanggap Soeun sambil mencium rambut Russel. Baby itu kembali melenguh dan merasa nyaman karena sentuhan Soeun. Ada sedikit senyuman di bibirnya ketika bibir Soeun menyentuh kulit kepalanya. Donghae sedikit tersenyum melihat moment itu.

“Kau sepertinya sudah cocok menjadi ibu…” sindirnya. Soeun langsung memberinya tatapan kesal. Soeun kemudian menjauhi baby Russel dan menarik Donghae untuk mengikutinya keluar. Takut baby itu terganggu.

“Oiya, kau sudah rapi. Apa kau mau pergi?”

“Eung, begitulah. Aku harus pergi ke suatu tempat…”

“Oh, pergilah. Aku akan menjaga Russel sampai kau kembali…” ucap Soeun. Donghae menganggukkan kepalanya.

“Baiklah. Aku akan kembali secepatnya…”

*

 Donghae menghentikan motornya di depan sebuah toko bunga. Pemuda itu langsung turun dari motornya dan mendekati toko bunga tersebut.

“Selamat datang, tuan..”

Seorang wanita berusia empat puluh tahunan menyambutnya. Wanita itu tampak sudah hapal betul dengan wajah Donghae karena hampir setiap malam pemuda itu datang ke toko miliknya untuk membeli bunga.

“Selamat sore, nyonya…” sapa Donghae singkat.

“Apa anda datang untuk membeli bunga Tulip putih lagi, tuan?” tanya wanita itu. Donghae sedikit tersenyum kecil, lalu menganggukkan kepalanya.

“Begitulah, nyonya…” sahutnya.

Wanita itu kembali tersenyum. Ia kemudian tampak mengambil sesuatu. “Ini. saya sudah menyiapkannya untuk anda..” ucap wanita tersebut sambil mengulurkan sebuklet bunga Tulip putih pada Donghae. Donghae tampak tersenyum dan menerimanya.

“Terima kasih, nyonya…”

“Tulip putih adalah arti ungkapan cinta yang suci dan tulus. Kekasih anda pasti sangat beruntung mempunyai kekasih seperti anda..” ucap wanita itu lagi. Donghae sedikit tersenyum kecil mendengarnya, agak miris.

‘Sayangnya, ia tak juga menyadarinya…’ gumam Donghae dalam hati. Donghae tersadar, lalu kemudian mengangkat wajahnya lagi menatap wajah wanita itu.

“Eung, jadi berapa saya harus membayar semua ini, nyonya?” tanya Donghae mengalihkan pembicaraan. Ia mulai mencari-cari dompetnya. Setelah menyerahkan uang Donghae mulai melangkah meninggalkan tempat itu.

“Aku berharap kali ini Tiffany akan menyukainya..”

*

Soeun menatap sosok mungil Russel yang masih tertidur. Setelah yakin bahwa baby itu masih dalam keadaan yang nyaman gadis itu mulai berjalan kearah sofa. Duduk berdiam diri disana untuk sedikit beristirahat dengan menoton TV. Ia sengaja menyetel pelan Volume TV agar tidak menganggu sang baby.

Acara TV tak menarik. Hanya acara Variety show yang tak terlalu Soeun sukai. Hal itu membuat gadis itu tampak hanya menatap datar layar TV. Sekilas, hal yang paling sering mengganggunya belakangan ini kembali mengusiknya.

Sejak kapan Siwon berpaling darinya? Sejak kapan Tiffany berkhianat padanya? apa yang Tiffany punya yang tidak ada pada Soeun? Sehingga Siwon bisa berpaling darinya?

“Hikss.. Mommy! Daddy!”

Lamunan Soeun benar-benar buyar ketika mendengar tangisan Russel. Ia segera mematikan TV lalu tergesa-gesa kembali ke dalam kamar Donghae.

*

Donghae tersenyum miris. Ditatapnya bunga lili putih ditangannya. Pandangannya terlihat begitu kecewa.

“Apa aku begitu jauh dari karakter laki-laki yang ia inginkan…”

Ia mendesah panjang. Wajahnya terlihat masih juga tersenyum miris seakan menertawakan dirinya sendiri. Ia mengangkat wajahnya dan sebuah bar yang biasa ia kunjungi tampak berdiri megah disana. Ia menatap gedung itu sejenak sambil berfikir. Sebelum akhirnya menggeleng dan mengikat bunga itu pada motornya. Donghae pada akhirnya memutuskan meninggalkan gedung itu dengan membawa kembali lili putih tadi bersamanya.

*

“HUWEEEEEEEEEEE!!!”

Soeun tampak kembali mengusap-usap punggung Russel ketika bayi itu menangis lebih keras. Entah dikarenakan apa, bayi itu tadi tiba-tiba langsung menangis dengan keras. Membuat Soeun yang tak tahu apa-apa juga sedikit bingung menenangkannya.

“Sst.. tenang Russel, tenang. Mommy disini…” ucap Soeun sambil masih mengusap punggung sang baby. Namun bayi itu masih juga menangis, bahkan lebih kencang dan membuat Soeun sedikit kesulitan memegangi. “Sst… apa yang terjadi padamu? Apa yang membuatmu menangis? Apa kau haus, atau lapar.. Mommy benar-benar tak mengerti…” ucap Soeun semakin gelisah. Berulang kali ia melirik jam dinding ataupun pintu utama apartement. Berharap Donghae akan datang dan membantunya karena ia benar-benar tak tahu harus melakukan apa.

“Tsk, pemuda itu kapan pulangnya?” ucap Soeun sambil terus mengusap punggung bayi berdarah Rusia yang terus meronta di pelukannya.

Klik!

Soeun kembali menoleh kearah pintu ketika mendengar seseorang datang. Benar saja, pemuda yang daritadi ditunggunya tampak telah memasuki apartement.

“Astaga, apa yang terjadi?” tanya Donghae sedikit kaget. Ia dengan cepat memasuki ruangan itu.

“Aku tak tahu. tadi dia tiba-tiba terus menangis. Aku sudah periksa popoknya tapi tidak apa-apa, suhu badannya juga tidak panas. Tapi ia terus menangis…” ucap Soeun cemas.

“Apa kau sudah memberinya susu?” tanya Donghae sambil meletakkan bunga tulip yang dibawanya. Ia kemudian mendekati Soeun.

“Bagaimana caranya aku membuatkan susu sementara ia terus menangis seperti ini…” sahut Soeun sedikit susah. Russel terus saja bergerak-gerak dipelukannya.

“Aku yakin ia kehausan. Sebaiknya kau membuatkan susu, biar aku yang menggendongnya. Tanganmu pasti sakit terus menggendongnya daritadi…” ucap Donghae menawarkan. Soeun menganggukkan kepalanya.

“Ya, ia tak bisa tenang. Kalau begitu pegang dia supaya aku bisa membuatkannya susu…” ucap Soeun sambil memberikan Russel pada Donghae. Donghae kemudian menerimanya dan mulai berusaha menenangkan Russel. Sementara Soeun dengan cepat berjalan kearah dapur.

Beberapa menit kemudian Soeun tampak telah selesai. Ia segera kembali keruangan tengah. Suara Russel masih juga memenuhi rumah.

“Sst.. jagoan daddy seharusnya tidak menangis bukan? Berhentilah menangis, sayang…” ucap Donghae sambil mencium rambut Russel. Tangannya terus bergerak-gerak untuk membuat Russel tenang.

“Ini susunya…” ucap Soeun ketika mendekat. Donghae menoleh.

“Ohya, tolong suapkan padanya…” pinta Donghae juga sambil mendekati Soeun. Ia kemudian sedikit memajukan gendongannya untuk mempermudah Soeun memberikan minuman itu pada Russel.

“Minum dulu sayang…” ucap Soeun sambil mendekatkan ujung botol minuman kemulut mungil Russel. Baru saja ia merasakan sentuhan dari ujung botol yang terbuat dari karet anak itu langsung melahapnya. Donghae dan Soeun langsung tertawa setelah itu.

“Ternyata kau benar-benar lapar…”

Hening sejenak, yang terdengar hanya suara baby Russel yang tengah menyusu melalui botol. Sementara Donghae dan Soeun sama-sama terdiam sambil memperhatikan sosok mungil itu. Senyuman terbentuk begitu saja di wajah keduanya.

“Dia lucu ya?”

Donghae mengangkat wajahnya ketika mendengar Soeun bertanya lirih. Soeun yang tadi bertanya tampak tak menoleh sedikitpun, matanya terus menatap bayi didalam gendongan Donghae dengan sebuah senyuman yang bahagia. Donghae kembali tersenyum.

“Ya, begitulah… sangat lucu…” ucap Donghae sambil menundukkan wajahnya kembali sambil menatap Russel. Ia tersenyum diam-diam ketika ia menyadari bahwa di detik sebelumnya tadi ia sempat terpesona dengan senyuman Soeun.

“Dia juga begitu tampan…” sambung Soeun sambil masih terus tersenyum pada sang baby.

Ugh—

Kedua orang itu sedikit kaget ketika mereka terbatuk. Donghae reflek begitu saja memegang tangan Soeun. Berniat menjauhkan botol susu itu untuk sementara dari mulut mungil Russel. Tapi beberapa detik kemudian ia baru sadar bahwa ia tak seharusnya melakukannya. Keduanya langsung bertatapan kaget.

!

“Eungh, dia bisa tersedak kalau tak dijauhkan…” ucap Donghae sedikit kaku. Ia melepaskan tangan Soeun setelah itu.

“Tapi aku rasa ia belum kenyang…” ucap Soeun sambil memperhatikan Russel kembali setelah ia menjauhkan botol tadi. Benar saja, bayi itu kembali mengulurkan kedua tangannya. Seperti protes ketika Soeun menjauhkan benda itu darinya.

“Mommy~” rengeknya manja. Dua orang itu kembali terkekeh.

“Kau benar, ia belum kenyang…” kata Donghae kemudian. Soeun kemudian kembali mendekatkan botol tersebut ke mulut sang baby. Russel dengan semangat kembali melahapnya.

*

“Jangan diciumi terus. Nanti dia bangun lagi dan aku yang repot menidurkannya!”

Donghae kembali terdengar protes. Ia melirik kearah tempat tidurnya dimana Soeun yang tengah bersiap-siap pulang tengah mengecup panjang pipi chubby Russel yang kini sudah kembali tertidur. Soeun menghela nafas, lalu bangkit daritempat tidur. Keduanya lantas berjalan keluar.

“Tsk, berat tau berpisah dengannya…” ucap Soeun sambil sedikit cemberut. Donghae kembali terkekeh.

“Ya sudah, menginap saja dengan kami disini…”

Soeun langsung menoleh kesal padanya. “Mana mungkin aku menginap disini bersamamu?!”

“Lho, aku kan ‘suamimu..” laden Donghae. “Baby Russel memanggilmu Mommy dan aku Daddy. Artinya kita orang tuanya bukan? Dimana aku suami dan kau istri…” tambahnya.

“Ish, mana boleh begitu! Berhentilah bertele-tele!” Seru Soeun malas. Donghae hanya sedikit mengangka alis.

“Oiya, kau pulang bersama siapa semalam ini?” tanya Donghae mengalihkan permbicaraan.

“Aku akan mencari taksi. Biasanya cukup mudah mencarinya jam segini…” sahut Soeun sambil melirik jam ditangannya.

“Baiklah. Hati-hati di jalan saja kalau begitu. Maaf aku tak bisa mengantarmu…”

“Ini biasa. Tak perlu sungkan…”

Dua orang ini berhenti di depan pintu. Donghae memang mengantarkan Soeun sampai pintu.

“Ya sudah aku akan pergi. Jaga Russel baik-baik, Lee Donghae!”

“Pasti. Oiya, kau kembali lagi bukan besok?”

“Ya, aku selalu mengusahakan datang secepatnya setelah kelasku berakhir…”

“Baiklah, aku dan Russel Lee menunggu…” ucap Donghae sedikit bercanda. Berhasil membuat Soeun sedikit tersenyum.

“Ya sudah, aku harus benar-benar pergi. Sampai jumpa besok!” ucap Soeun sambil berjalan mundur dan melambaikan tangan. Donghae balas melambaikan tangan.

“Hati-hati diijalan!”

Gadis itu mengangguk, lalu kemudian berbalik dan berjalan menyusuri lorong untuk pulang. Ketika Soeun sudah tak kelihatan Donghae menurunkan tangannya.

“Heuh lucu sekali sampai mengucapkan selamat tinggal. Aku benar-benar seperti suami yang ditinggal istri..” omelnya tak jelas. Ia kemudian kembali memasuki apartementnya.

*

“Nari! Berhentilah minum dan kita cari Bayinya!!”

Pria gembul itu berseru kesal pada istrinya yang duduk santai di depan meja bar. Sementara yang wanita hanya menatapnya sedikit bosan.

“Pergilah kau sendiri. Aku mau disini..” tolaknya sambil mengibas-ngibaskan tangan pada suaminya.

“Sst, kau ini.. kau tak takut tertangkap karenanya?”

“Sst, kenapa harus takut. Jangan bodoh, Shindong Hee. Anggap saja kita kurang beruntung kali ini. kita bisa cari baby lain besok…” kata Nari enteng. Shindong mendengus.

“Iya, tapi ini bukan bayi biasa. Bagaimana kalau orang yang menemukannya tahu perbuatan kita? Bagaimana kalau tuan kedutaan itu menindak kita…”

“Ssh, kenapa fikiranmu terlalu jauh? Hey kita sudah bermain cukup rapi. Jadi walau bayi itu hilang berarti tidak akan terjadi apapun pada kita karena taka da satupun yang tahu rencana kita. Sudahlah, jangan dipersulit!” kata Nari lagi. Shindong langsung berfikir setelah itu.

“Kukira kau benar juga…” ucap Shindong sambil menarik bangkunya. Ia duduk di sebelah Nari dan mulai menuang minuman. “Oiya, bayi itu masih belum ditemukan juga bukan? Kira-kira dimana ia sekarang? Bersama siapa?”

“Aku tak tahu. Tapi siapapun orangnya biar orang itu berniat baik untuk membantunya. Aku kira mereka dalam masalah. Kudengar Tuan Kedutaan Rusia itu begitu berdarah dingin…”

*

Kring!

Pintu itu berdering ketika ia terbuka dari luar. Seorang gadis tampak mengintip sesaat kedalam. Melihat ruangan Apartement yang sepi dan sedikit gelap.

“Belum ada yang bangun?”

Gadis yang ternyata Soeun itu bergumam pelan. Sebelum akhirnya masuk kedalam. Beberapa barang belanjaan terlihat ditangannya. Oiya, jangan heran kalau ia bisa masuk begitu saja ke dalam apartement Donghae. Mereka memang sudah sepakat untuk lebih mudah menjaga Russel.

“Sepertinya sebaiknya aku menyiapkan sarapan saja…”

Gadis itu kembali tersenyum. lalu dengan langkah pelan ia bergerak ke dapur.

*

Eungh!

Donghae terbangun ketika melenguh. Perlahan ia membuka matanya, menatap sekitarnya dengan wajah yang masih mengantuk. Ia sedikit mengendus ketika mencium sebuah aroma yang harum. Aroma yang tadi membuat ia terbangun.

“Siapa yang memasak?” tanyanya serak sambil mengambil posisi duduk. Ia kemudian mengalihkan perhatiannya kearah Box bayi dimana bayi berdarah Rusia itu masih tertidur dengan lelap. Ia pada akhirnya bergerak bangkit dari tempat tidurnya.

*

“Kau disini?”

Soeun menoleh kebelakang ketika mendengar suara yang mengintrupsi. Donghae tampak memasuki dapur dengan membawa handuk putih untuk mengeringkan wajahnya yang basah.

“Oh, kau sudah bangun. Ne, hari ini kebetulan aku tak kuliah. Sehingga aku datang dan menyiapkan sarapan. Maaf telah masuk dapurmu tanpa ijin…” sahut Soeun sambil tersenyum kecil. Ia kini kembali pada pekerjaannya.

“Tidak apa-apa. Aku sendiri yang memberi tahu kode apartement ini. selagi ada Russel disini maka anggap saja rumah ini juga rumahmu…” sahut Donghae pendek sambil berjalan kearah kulkas. Ia mengeluarkan sebotol susu dari dalam lalu kemudian duduk di meja makan.

“Oiya, bagaimana Russel semalam? Apa dia rewel?” tanya Soeun menoleh sebentar kearah Donghae.

“Tidak sama sekali. Ia bahkan belum bangun semenjak kau tidurkan semalam…” sahut Donghae sambil menyalin susu tadi dari botol kedalam gelas. “Dia tidur dengan nyenyak…” sambung Donghae sambil tersenyum kecil pada Soeun.

“Baguslah..” sahut Soeun sambil balas tersenyum. Ia kembali sibuk mengaduk nasi goreng yang dibuatnya. Sementara Donghae meminum susu ditangannya.

Donghae meletakkan kembali gelasnya ketika ia selesai minum. Pandangannya beralih kembali pada Soeun ketika ia menghirup aroma sedap ini lagi. Senyuman terlihat di wajahnya sambil memandang gadis ber-afron yang membelakanginya. Oh, dia selalu mengagumi wanita yang terlihat cantik walau di dapur. Eung, tunggu… apa tadi ia bilang cantik?

“Hiks!! DADDYYY HIKS!”

Dua orang itu sama-sama reflek menghentikan pekerjaan masing-masing ketika mendengar tangisan. Mereka sempat saling bertatapan satu sama lain.

“Sepertinya Russel bangun. Aku akan melihatnya!”

Donghae bangkit dari tempat duduknya dan berjalan kembali menuju kamar.

*

“Hiks! Daddy!!”

Klek!

Pemuda itu tersenyum sambil melirik box bayi di kamarnya. Bayi yang tadinya menangis tampak sesegukan. Menatap sendu seseorang yang mendekatinya.

“Kau sudah bangun?” tanya Donghae sambil sedikit menyingkap gorden. Membuat mata bayi itu sedikit memerih karena cahaya tajam yang memasuki kamar mereka. “Kenapa kau begitu cengeng, huh? Aku hanya meninggalkanmu sebentar…”

“Daddy!!”

Donghae lagi-lagi tersenyum lucu melihat bayi itu kembali menatapnya memohon. Tangannya yang mungil kembali ia ulurkan sepanjang-panjangnya. Meminta Donghae untuk menggendongnya.

“Anak laki-laki macam apa semanja ini..” ucap Donghae terkekeh. Ia pada akhirnya membawa tubuh kecil itu kedalam gendongannya. Bayi itu terlihat senang sambil menggesek-gesekkan kepalanya ke bahu Donghae. Hal itu membuat Donghae lagi-lagi tertawa. “Kau pasti akan senang mengetahui siapa yang ada diluar…” ucap Donghae sambil mengusap dan merapikan rambut pirang Russel yang berantakan. Bayi itu merespon dengan cepat, matanya mengerjap-ngerjap lucu seakan menunggu lanjutan kata-kata Donghae. Donghae terkekeh.

“Mommy mu sudah datang pagi-pagi sekali…” ucap Donghae sambil mencium gemas pipi Russel. Bayi itu tampak sedikit kegelian. Sementara Donghae juga ikut tersenyum sendiri. Bukan karena Russel kali ini, tapi ketika ia mengingat kembali kata-katanya barusan. Mommy-mu?

“Hidupku menjadi aneh bukan karenamu? Bagaimana mungkin aku langsung mendapat istri dan anak secepat ini…” ucap Donghae kembali terkekeh sambil mencium pipi Russel lagi. Bayi itu kembali kegelian.

“Mommy?” tanyanya polos.

“Ya, tapi kita harus mandi dulu sebelum keluar. Mommy-mu akan mengomel ketika melihatmu keluar dengan berantakan…”

“Mommy?’’

“Ne.” Donghae tertawa. “Dia akan mau menemuimu kalau kau sudah mandi. Jadi sebaiknya kita mandi sekarang. Araseo?” tanya Donghae sambil mencubit satu pipi gembul Russel. Russel kembali tertawa karena kegelian. Donghae kemudian membawa Russel kearah kamar mandi.

*

“Mommy, Russel sudah mandi…”

Soeun menoleh kebelakang ketika mendengar suara Donghae. Senyuman langsung terlihat diwajahnya ketika melihat bayi kecil itu yang terlihat lucu didalam gendongan Donghae.

“Mommy!!”

Bayi itu mengulurkan satu tangannya pada Soeun. terlihat ia begitu senang melihat Soeun.

“Dia semakin Hyperective. Memandikannya begitu sulit…” ucap Donghae sambil merapikan rambut pirang Russel yang masih basah.

“Umurnya memang sedang senang bermain…” ucap Soeun. “Oiya, aku sudah menyiapkan sarapan. Duduklah biar aku yang menggendong dan menyuapi Russel…” ucap Soeun menawarkan.

“Oh iya, ini…”

Russel pun berpindah tangan.

“Nah, sekarang kau makan ya, biar aku yang suapi…” ucap Soeun sambil mencium pipi Russel. Ia menoleh lagi pada Donghae. “Duduk dan sarapanlah. Nanti makanannya dingin…” ulang Soeun pada Donghae. Ia kemudian membawa Russel untuk duduk, siap memberikan sarapan bubur padanya.

“Kau tak makan?” tanya Donghae sambil menarik bangku didepan keduanya. Matanya menatap makanan yang tersaji diatas meja makan. Makanan-makanan itu cukup membuatnya berselera.

“Sebentar lagi. Aku akan menyuapi Russel dulu baru makan…” sahut Soeun tanpa menoleh. Ia kini sibuk mengaduk bubur bayi untuk Russel. “Russel, buka mulutmu..” perintahnya lucu setelah sedikit meniup bubur itu. Si kecil langsung membuka mulut mungilnya lebar-lebar.

“Wwah, kau begitu pintar!”

Donghae sedikit tertawa melihat moment didepannya. Hatinya terasa hangat melihat dua orang itu. Entah kenapa apa yang belakangan ini difikirkannya terus menjadi nyata semakin kesininya. Tentang kelurga kecil harmonis yang terbentuk begitu saja dimana ia bertugas sebagai kepala keluarganya. Haha, sedikit lucu memang tapi memang begitulah adanya.

“Kau belum juga makan? Kenapa? kau tak menyukainya?”

Pertanyaan Soeun membuyarkan apa yang difikirkannya tadi.

“Eung, oh.. tidak. Kukira aku akan makan bersamamu saja nanti…”

“Heum, kenapa begitu? Aku akan sedikit lama menyuapi Russel…”

“Tidak apa-apa. Aku kurang suka makan sendiri…” ucapnya beralasan. Tentu saja karena ia biasa tinggal sendiri ia selalu makan tanpa ada teman. Tapi ia rasa jawaban tadi adalah cara singkat daripada Donghae harus kesulitan memutar otaknya. “Aku akan menunggumu…”

“Oh, baiklah. Aku menyuapi Russel dulu…”

Donghae menganggukkan kepalanya. Ia kembali menatap Soeun yang tampak sibuk dengan bayi Rusia tersebut. Lagi-lagi senyuman yang sama terlihat diwajahnya…

*

Hening. Dua orang itu hanya sedikit terdiam di meja makan. Sesekali terdengar suara sendok yang bertemu dengan piring. Keduanya masih sama-sama diam disana sambil sesekali secara bergantian mata mereka beralih pada bayi Russel yang sibuk bermain dilantai dengan mainannya.

“Ini sudah hampir seminggu…”

Donghae mengangkat wajahnya ketika Soeun bersuara lirih. Matanya menatap sosok didepannya yang tampak menatap Russel dengan tatapan lurus. Terlihat sedikit berfikir.

“Kita bahkan belum menemukan cara untuk mengembalikannya…” sambung gadis itu.

“Ya…” sahut Donghae pelan. “Kita belum menemukan cara yang tepat…”

“Aku takut kalau terlalu lama kita semakin kesulitan. Lagipula, kukira Russel merindukan orang tuanya…”

Donghae mengalihkan perhatiannya dari Soeun menuju Russel. Entah kenapa untuk yang satu ini Donghae agak kurang setuju. Ia tak melihat Russel begitu merindukan orang tuanya – entah hatinya. Donghaae berfikir Russel bahkan tak terlihat kehilangan mereka. Mungkin karena ia memiliki Donghae dan Soeun disini yang ia anggap seperti orang tuanya sendiri.

“Kulihat ia bayi yang cukup kuat. Ia hanya menangis karena lapar atau celananya basah, kan? Ia belum pernah terlihat menangis karena merindukan orang tuanya…”

“Itu luarnya, kita bahkan tidak tahu hatinya…”

Donghae kembali menoleh pada Soeun. Matanya menangkap ekspresi wajah Soeun yang masih juga menatap bayi itu dengan pandangan yang tadi. Sedikit kosong.

“Apa kau sudah siap dia pergi dari kita?”

Soeun langsung menoleh pada Donghae setelah kata-katanya. Sedikit kaget.

“A-Apa yang kau katakan?” tanyanya sedikit kesal. Ia mengalihkan perhatiannya dan kembali memakan makanannya. “Tentu saja aku sudah siap dengan resiko seperti itu. Dia kan mempunyai hidupnya sendiri. Bagaimana mungkin kita bisa menahannya…”

Donghae hanya menganggukkan kepalanya pelan. Ia setuju dengan kata-kata Soeun walau tetap saja itu sedikit mengganjal.

“Kalau aku jujur saja. Jujur waktu awal melihatnya aku tak menyukainya, tapi semakin kesininya ketika ia sering menemaniku dan bermain denganku aku sedikit berat melepasnya. Kurasa aku cukup sedih juga ketika mengembalikannya pada orangtuanya. Tapi aku setuju denganmu, kita sama sekali tak berhak menahannya…”

Soeun kembali hanya menganggukkan kepalanya.

“Mulai besok aku akan lebih fokus. Aku akan mencari jalan terbaik untuk mengembalikannya. Jalan yang tidak membuat kita disalahkan tentu saja…”

Soeun lagi-lagi hanya mengangguk. Pandangannya beralih kembali pada Russel. Dan pertanyaan Donghae tadi tiba-tiba kembali memenuhi otaknnya ketika ia melihat bayi itu. Sudah siapkah Soeun melepaskan bayi itu?

*

Suara keran terdengar di ruangan dapur. Sesekali terdengar suara kaca yang saling berbenturan satu sama lain. Bersamaan dengan senandungan kecil dari orang yang sedang mencuci piring-piring itu. Ya, Soeun kini tengah mencuci piring untuk pertama kalinya dalam sejarah hidupnya. Ia tak tahu kenapa ia melakukannya dan membiarkan Donghae bermain diruang tengah dengan Russel.

“Aku benar-benar seperti seorang istri..”

Ucapannya lirih begitu saja. Gadis itu sejenak menghentikan pekerjaannya. Lalu tersenyum kecil.

“Sepertinya itu tak terlalu masalah…” sambungnya sambil melanjutkan kembali pekerjaannya.

Donghae memasuki dapur. pandangannya beralih pada Soeun yang saat ini tengah membelakanginya. Lalu menghampirinya.

“Kau lelah? Biar aku lanjutkan kalau begitu…” ucap Donghae berhasil membuat Soeun agak tersentak kaget.

“A- hum, aku kira tak perlu ini akan selesai secepatnya. Oiya, kenapa kau meninggalkan Russel?”

“Ia sedang sibuk dengan Iron Man-nya. ia sampai tak mengacuhkanku hingga itu sebabnya aku menyempatkan diri melihatmu disini…” ucap Donghae. Matanya beralih pada westafel untuk melihat pekerjaan Soeun. Ia bahkan hampir menyelesaikan membersihkan semua piring. “Kau benar-benar tak perlu bantuan?” ulang Donghae.

“Tidak ini sudah akan selesai..” sahut Soeun lagi. Donghae hanya tersenyum mendengarnya.

“Terus terang saja, aku tak menyangka kalau kau gadis yang cukup baik dalam melakukan semua ini. diawal bertemu kesan kita sama-sama buruk. Aku fikir kau adalah gadis manja yang tidak faham sama sekali mengenai urusan rumah tangga…”

“Jujur sebenarnya aku memang tak terbiasa melakukannya. Aku mempunyai banyak maid untuk melakukannya dirumah. Aku juga begitu kaget kenapa aku bisa melakukan ini semua, mungkin karena Russel…” sahut Soeun sambil tersenyum pada Donghae.

“Mungkin karena Russel. Kau tahu, sebelumnya aku juga begitu buruk. Setiap malam aku selalu datang ke bar untuk mabuk-mabukkan. Tapi sejak seminggu ini aku selalu berfikir pada Russel dan tak pernah melakukannya lagi…”

“Oiya, ini mungkin sedikit pribadi. Tapi, apa kau memang tinggal sendiri?” tanya Soeun hati-hati. Takut melukai Donghae. Sementara Donghae hanya tersenyum kecil.

“Begitulah. Seluruh keluargaku ada di Mokpo. Sudah lima tahun sejak kuliah aku tinggal sendiri di Seoul…”

“Oh, pasti cukup berat untukmu…”

“Tidak juga. Karena seseorang aku terbiasa menjalaninya…”

Soeun agak terhenti mendengar kata-kata Donghae barusan. Seseorang? siapa? Apakah orang itu adalah orang yang sama dengan orang yang memberi bunga-bunga yang setiap hari selalu Soeun temukan di apartment ini?

“Kau sendiri.. bagaimana keluargamu?”

“Hmm, cukup baik. Hanya saja aku dan adik perempuanku juga tinggal berdua di korea. Sementara orang tua kami lebih sering berada di luar negeri. Mereka mempunyai beberapa bisnis di luar…”

“Hum, pasti juga cukup berat untukmu…” tanggap Donghae.

“Tidak ju-“

Plung!

Soeun tiba-tiba menghentikan kata-katanya dan menoleh kearah westafel. Membuat Donghae ikut menoleh kesana.

“Ada apa?” tanya Donghae tak mengerti. Sementara Soeun sibuk menyibak-nyibak air sabun di westafel setelah mematikan keran.

“Cincin… cincinku terlepas begitu saja karena sabun..” sahut Soeun panik. Ia terus memeriksa westafel tersebut. Hingga airnya benar-benar habis. “Tidak ada!”

Donghae juga ikut memeriksa melihat Soeun bertambah panik. Benar, tidak ada. “Sepertinya terhisap ke pipa pembuangan..” ucap Donghae serius.

“Benarkah?” tanya Soeun lesu. “Astaga, apa yang harus aku lakukan?”

“Entahlah, aku harap kita bisa meminta bantuan pada tukang ledeng atau sejenisnya kalau benda itu begitu penting..”

“Itu adalah pemberian kekasihku…”

Donghae reflek menghentikan gerakannya mendengar kata-kata terakhir Soeun. Sedikit lebih menatapnya.

“Kekasih?”

“Begitulah…”

“Oh, berarti kita benar-benar harus meminta bantuan tukang ledeng kalau begitu. Aku berharap kita masih bisa menemukannya…” ucap Donghae sambil mengalihkan perhatiannya kembali ke westafel. Sedikit rutukan pada dirinya sendiri karena tadi ia sempat-sempatnya begitu kaget mendengar Soeun menyebut kata kekasih. Apa urusannya harus ikut tahu?

“Daddy! Mommy!”

Keduanya menoleh kearah pintu ketika mendengar suara Russel. Bayi itu tampak merangkak didekat pintu. Sedikit menatap mereka dengan wajah bingung. Mungkin bertanya kenapa ia ditinggal sendiri.

“Oh, maafkan daddy karena telah meninggalkanmu. Kau pasti kesepian…”

Donghae beranjak dari westafel menuju bayi mereka yang tampak masih kebingungan. Ia menggendong tubuh mungil itu lalu berbalik kebelakang. Menatap Soeun yang tampak masih terpaku melihat kearah lubang air di westafel.

“Aku akan segera memanggil petugas. Aku harap tidak terlambat…” ucap Donghae sambil berniat keruang tengah. Tapi Soeun menghentikannya.

“Tidak usah, tidak perlu!”

“Huh? Kau bilang itu barang penting…” ucap Donghae bingung. Soeun tampak menghela nafas, ia mengalihkan pandangannya dari westafel kearah Donghae yang masih terlihat bingung.

“Itu hanya sebuah barang. Lagipula, aku fikir percuma walau memanggil tulang ledeng. Aku sudah tak dapat mendapatkan cincin itu kembali…” sahut Soeun sambil berusaha tersenyum. ia mengalihkan pandangannya kembali ke westafel.

‘Sama seperti aku yang tak mungkin mendapatkan Choi Siwon kembali…’

Sementara Donghae hanya sedikit terpaku melihat ekspresi Soeun. Walau Soeun mengatakan hal itu tapi ia tahu kalau gadis itu begitu kecewa. Tsk, barang serta orang yang memberikan cincin itu pasti begitu penting untuk Soeun bukan?

[To Be Continued]

70 Comments Add yours

  1. Deshie Wookie mengatakan:

    Wuaaaah ceritanya seru, lucu,.. Lucu bagian shindong ama nari jd psangangan pnculik suami istri..brasa kayak nnton film mandarin yg dibintangin jackie chan,, ampir sama tp beda masalahnya kekekekek ditunggu lanjutannya..

    1. PrincessClouds mengatakan:

      benarkah? aq ga pernah baca FFnya. Gomawo uda baca kk ^^

  2. rida locket mengatakan:

    kya … ff kak putri marriage life nih..
    bener” royal familly/

  3. andri susilowati mengatakan:

    waaaaa ini keren. haesso.
    couple favoritkuuuuu.
    kkkkkk banyakin ff marriage life donkkkk. suka sm genre ff yang kayak gini.
    gilaaaa chemistry haesso ituuu selalu dapet. hahaha
    andai jadi couple yanggg real.
    wahhh thorrrr beribu ribu jempol buatmu. sumpah ceritanya keren.
    cepetan ya thorrr dilanjut, penasaran banget nihhhh.
    semoga ssi hae sm sso bisa jatuh cinta dan nikah.
    ssi russel lucu banget.

  4. mun taryati mengatakan:

    anyeong sekian lama nunggu publisan ff…akhirnya ad jga…keren thor…bagian awalnya sieh bingung..lucu ceritanya…mudah2 cepet lnjutannya..semangat thor

  5. minmin_mizana mengatakan:

    Lucu…
    Mereka lucu bangeeet…
    Tp disini aku malah bayangin’a si evilkyu bukan donghae hehehe…
    Gara2 inget kyu pas ndiemin anak kecil yg nangis pas konser suju M kemaren hehehe…
    Sso ada2 aja, masa liat punya anak kecil aja jerit2 hahaha,
    Mereka benar2 seperti keluarga bahagia, aduh nanti klo mereka ditangkep polisi gmna ini?
    Udah soeun ma donghae trus siwon ma tifany deal… Shindong culik aku aja hehehe
    Ditunggu kelanjutanya,,,

  6. Puspa Kyukyu mengatakan:

    Wuuuaaaa…

    Mantab bangeeetttt !!

    Feel Russel dapet banget Uni !!!

    Lol..
    Shindong Oppa sma Eonnie Nari jadi penculiknya *gag kebayang* #peace v,v

    Donghae…Donghae…Donghae…
    Wuuaaa..
    Knp FF dgn cast Donghae selalu romantis ?? #fly

    ada bbrp part Donghae yg buat ngakak..😀😀😀

    ditunggu lanjutannya Uni😉
    sungguh gag sabar
    ASAP ye???

  7. tanti no kawai mengatakan:

    “Mommy, Daddy!”…..
    Ckckckkckck

    Di buwt senyum2 sendiri baca part Ĭηĭ ……
    Membayangkan HaeSso menjadi orang tua….
    Pasti sangatttt manisssss sekali….
    Kekekkekke

    ˚◦°•hмм…(―˛―“)..=-?•°◦˚ apa Ϋά̲̣̥ηġ akan terjadi selanjut ηγά̲̣̥????
    Bagaimn cara mereka mengembalikan bayi rusia itu???????
    Dan apa Ϋά̲̣̥ηġ akan terjadi dengan kisah cinta mereka masing2??????
    Huaaaaa….. Penasarannnn kelanjutan ηγά̲̣̥…..

    Jangan lama2 yah putri_part 2 ηγά̲̣̥….. Ơ̴̴͡.̮Ơ̴̴̴͡
    Cerita Ϋά̲̣̥ηġ unik η menarik…..

    # happy 2th Cloudyelfputriandina…..
    Ŝέ♏Ơ̴̴͡Ğǎ̜̣̍(´⌣`ʃƪ) makin bnyak inspirasi_sehingga karya2 ηγά̲̣̥ makin bnyak….
    ~♓éђê:D ..♓ёђê:p..♓èђe:D~

  8. haekyusso mengatakan:

    Kerennn,,,,kerennnn,,,lucu crt y,,,d mn hae ma sso hrs ngerawat baby russel yg pst super imut🙂
    Dan yg plng lucu y trnyata sindong & nari yg mnyulik baby itu,,,wahh gmn yach cr hae ma sso utk ngmblkn baby itu,dan apakh sso-hae rela hrs mlpskn baby itu kpd ortu y,dan apa yg akn trjd jk hae-sso akn mggmblkn baby itu??? Penasaran tingkat akut,,,😉

  9. Tikka mengatakan:

    Waha. .aku rindu ff kakak.. Donghae sma soeun jdi ortu dadakan, pengen deh jadi russel(?) xD kayaknya bnih2 cinta udah timbul nih. ? Gemes sma russel yg trus2’an manggil HaeSso ‘mommy+daddy’ !!
    Di tunggu lanjutannya kakak😀

  10. Azmy_e mengatakan:

    Wahh lucu,seru,kreenn putry..
    D tggu y part slanjtx

  11. shane mengatakan:

    Keluarga yg harmonis..ckckckck
    Geliiii kk bacaa ni ff😉
    suka sm alur ceritaanyaa😉 menarik ,berbeda,lucu,ngegemesin😉
    Adorable yaa
    kenal juga ga tiba2 haesso udh jd mommy n daddy !!reader ngebayangin si baby russel kya’ anak yg maen film baby’s days out …lucu bgt t bocahhhh🙂

    Klo ngebayaangin next partnya bklan sedih ngelhat perpisahaan haesso ma baby russel.

    Lanzuett
    Adorable (y)
    The special thumb just for puput😉

  12. pipip mengatakan:

    Waaaa critnya seru ada bayi nya hhe
    Gk sbar bca next partnya thor

  13. haesso lover mengatakan:

    Chingu,,, ffnya keren banget. Jalan ceritanya unik dan lucu. Ngebayangin Soeun eunni dan haeppa ngurus baby Russel bikin senyum-senyum gaje, apalagi saat mereka ngasih susu ke baby russe. Kayanya mereka emang udah cocok deh punya bayi.. heheh

    Untuk part selanjutnya jangan lama-lama ya chingu..

  14. SnowAngels 'Seli M' mengatakan:

    Like the new FF🙂
    pertamanya aku kurang masuk ni ama ceritanya coz tokohnya msih rahasia.. Pas pertengahan baru ngerti. Kkk
    aku dh ngebayangin bayinya nih, kyaknya imut2 gmn gitu.. Kkk
    ditunggu lanjutannya ya eon🙂

  15. veranicka mengatakan:

    Suka deh sama ff nya
    Seru dan lucu😀
    Udah berasa seperti keluarga kecil yang romantis😀

    1. veranicka mengatakan:

      Maksudnya harmonis😀

  16. Choi Hye Mi mengatakan:

    Waaahhh.. Akhirnya publish jg.. FFmu put… Lama bgt nunggux.. Tp ga ap2.. Rsa kangenq kpd ffmu dh terobati sma FF yg super duper keren in.. Huh.. Lengkap bgt pokokx..ni ff.. Emng prtama2 rada bingung.. Tp mkin ksni mkin ok
    berasa Feel’x saat baca… Lucu bgt mereka ngurusin baby Russel,., berhrap HaeSso brsatu nantix.. Dtunggu lnjutannya ya Put..? Klo bsa sh Cepet.. Hehehe:.. Semangaaaatt….

  17. cucancie mengatakan:

    Wahhh…so eun dan donghae disatukan krn baby Russel,seruu…blm nikah tp udh kyk suami istri dan langsung pny bayi…lanjutannya ditunggu ya thor..

  18. Ezha yesso mengatakan:

    Crta ny sru put ngak nyangka shindong ma nari jd seorang pnculik,, siwon slngkh ma fany gak ap” malahan aq sng hahaha biar haesso ny bsa brstu,, bayi russel pmbwa kbruntugan buat haesso,, tp jka russel udh kmbli ke ortu ny bgmna nsb n hub haesso? N bgaimna cr haesso mngmbalikn russel ke ortu ny,, pnsran d tgu part trakhr ny ya putri

  19. dielfishypr mengatakan:

    Huaaa… HAESSO (y)
    aku suka sama ceritanya🙂 pasti lucu pas bagian sso mau ganti popokny baby russel *ngebayangin wajah sso* pasti imut n ngegemesin bgt
    ditunggu part selanjutnya ya

  20. ViE mengatakan:

    Daebak! Keren bgt ceritanya…
    Gak sabar nunggu anjutannya…^^
    Haesso couple emang romantis bgt lah, cocok bgt…
    Oya, ditunggu jg ff kyussonya ya chingu, ^^v
    SEMANGAT!!!

  21. Devi mengatakan:

    Lucu aNd kereN bNgeeet cerita’a,,,,,,,

    EoNNie so euN aNd oppa doNghae hrus merawat seoraNg baby jd sperti suami – istri bNeraN mskpN d aNtara mereka gk da hbNgaN ap2,,,,,,,

    Tpi kyak’a oppa doNghae dh mlai ska ma eoNNie so euN,,,,,,

    Jd pNasarN ma klaNjutaN’a,,,,,,,,,
    D tNg2u thor klaNjutaN’a,,,,,,,,

    SmNgaaaaaaaaaat🙂🙂🙂

  22. ina freedom mengatakan:

    satu kata buat kamu put!woo keren ..ceritanya benar2 lucu sampai ketawa sendiri ,abis bertapa berapa hari ,kamu put ,dpt feel yg bagus bgt ?
    aq kagum sama kamu put , ff kmu benar2 memukau hatiku * bhsx lebay abis*
    enggak kebayang haesso jadi org tua ,ternyata russel menyatukn haesso ,moment ini yg
    menurutq so sweet bgt …
    pnsrn ma part lnjtnx put! di tggu aja kgk pakai lama* kyk psn makanan*.
    fighting put?

  23. Choi Shinae mengatakan:

    aaaaaaaaaa ff nya bagus aku suka aku suka..
    KEREN jalan ceritanya kata per kata mudah dimngrti ..
    ceritanya oke punya ^^
    aku suka HaeSso couple
    author daebak :*

  24. luthfiangelsso mengatakan:

    wah seru,,,,
    semoga gak bakal ada masalah buat sso nd donghae ?
    nd seperti’a donghae udah ada sinyal” nih#emg hp pake sinyal haha
    semoga donghae nd sso bersatu !
    happy ending ya thor🙂
    author semangat ya lanjutin next part’a, semoga cepet di post’a !
    semangat author^^

  25. Dear Diyah mengatakan:

    yaaa ammppuunnn ,,, bkan cuma russel yg lucu tp mommy and daddy y jg g kalah lucu y.
    hihihi
    mereka dah kaya suami istri bgt …
    n moment paling konyol pas donghae nyuruh so eun nnya ke tu bocah yg setahun z belum genap “Eung, anyeong… siapa namamu, bayi kecil? D-Dimana orang tuamu?”
    knpa g skalian z nanya no. pin berangkas n atm orang tua y, secara ortu y russel tajir booo …
    wkwkwk *plak!!* -_-

  26. anastasia erna mengatakan:

    keren…putri…
    suka ma haesso…apalagi ada baby…
    lucu…

  27. yolanloen mengatakan:

    Lucuuuuu,,,,
    Seru,,,,,
    Ahhhhhhh,,,, bersambunggggggg,,,, lanjutan,,,lanjutan,,,,,
    ^^

  28. Rara mengatakan:

    So sweet ya ampuuuunn keren seru lucu manis banget ga ada kurang nyah

  29. ticha_ mengatakan:

    wah,,,,bener2 DAEBAK!!!😀
    Suka saeng!!! Trsa nyata
    Hua,,,dpt mslh tp jg dpt hadiah_ kekeke🙂
    Hm,,,ga tau knp pairing haesso selalu dpt fell’a_
    Itu haeppa udah mulay ska ama eunnie ya???
    Hm,,,,gra” russel mrka jd dekeetttt😀
    Saeng DAebakkk!!!!!
    Lanjuuuuuutttttttt😀

  30. Ayu ChoKyulate mengatakan:

    ff nya keren banget thor aku suka, ceritanya juga lucu ^^
    Wuaahh HaeSso couple, aku suka banget sama couple ini gendre nya juga baguss romance comedy ..
    Yaampun Sso sama Hae udh kaya suami istri beneran aja yaa, ngurus russel nya telaten banget, kekekek
    di tunggue next partnya

  31. mifta mengatakan:

    HAESSO lagi nih, seneeeengg.. couple favoritku banget. next chapt jangan lama2 putri, penasaran banget sama lanjutan kisah mereka.🙂

  32. dyyyy mengatakan:

    kereeeeeeeeeeeeeeeeen bgt……
    lucu……ceitany fresh
    yg bikin ktawa ngakak wkt donghae bilang,,,(Kitakan belum melakukan apapun. bagaimana mungkin tiba-tiba hasilnya langsung jadi begi- arhg!”)
    saat sso kaget ngeliat anuny bayi n celetukan donghae yg bilang klo pnyakny lbh besar….
    saya takut sso+donghae dkira penculikny….ktany sindong klo duta besar rusia tu kejam…..

  33. Kyusso shipper mengatakan:

    1 bulan nungguin ff baru akhirnya terbit juga, lucu haesso jadi suami istri coba russelnya cewe pasti lucu🙂 lanjutkan eonie ff lainya jgn lupa lanjutkan ini secepatnya🙂

  34. anna mengatakan:

    trnynt kisah kasih haesso slg trikat nmny jg jodoh,,smg aja soeun ga skit hti utk kedua kali-ny krn wnta yg sm,,sng interaksi haesso wkt diihotel,,kejutan2 aplg yaa kira2 yg bs bkin feel-ny tmbh greget,,dtggu sgra lnjtny gomawo🙂

  35. Kyusso Eunnie mengatakan:

    td awalx ngira hae bkalan ngelakuin hal yg nggak2 ama sso coz hae lg mbuk n gk sdar..😀
    itu bayi russel ngebayanginx psti imut2 n lucu bgt..😀
    tp gmn carax haesso mngembalikan russel ke ortux coz kt nya bpkx brdrah dngin..pantesan russel mrasa gk khilangan n lbh senang sm haesso..
    tp td haesso lucu bgt..knp sso takut bgt ngeliat “ehmm”punya bayi..ntar ada yg lbh parah loh..hahahaha..#evil laugh bareng kyu xD
    dtng9u next partx put..kykx mlai tmbuh benih2 cinta antara haesso cuman blm nyadar aja..😀

  36. YouryLau mengatakan:

    Lanjut thor . . .
    Tp bg donge jd org jahat ye, hehe
    kagak cocok #plakk

  37. Ina Puspitasari mengatakan:

    huaaaaa haesso couple lg.. ceritanya seru^^
    ah hayo dibikin suka2an dua2nya, wkwkwk.. bayi russel kayaknya bakal jadi cupid, hehe..
    penasaran lanjutannya putri, semoga di post cepet, hehe =)

  38. Rika Oktaviani mengatakan:

    aih lucunya si russel panggil soeun eunni dan donghae oppa dengan sebutan mommy dan daddy
    ditunggu lanjutan ceritanya ya🙂

  39. rizkyapratiwi mengatakan:

    Romantis banget so eun sm donghae
    Cerita lucu juga, ,, daebak thor

  40. vita_MVP mengatakan:

    seru seru seruu….
    kebayang manisnya mereka berdua jagain bayi hehehhe

    ditunggu next part eonni😀

  41. elvin mengatakan:

    wah keren banget critax thor! jadi nggak sabar nunggu part slanjutx!
    ditunggu next partx ya thor!
    hwaiting!

  42. cutewhite mengatakan:

    Kereeeennn ceritanyaaa baguuusss..
    Dri awalnya gk kenal smpe deket..
    Uuhhh mudah2an gk jdi masalah mrk ngerawat russel..krn russel, haesso jdi deket °\(´▽`)/° thanks baby ㅎㅎ
    Next thoorrr jgn lama2 ^^

  43. kai kurasin mengatakan:

    amazing ………… seru lucu pokoknya kerenz abizzzzzzzzzzz
    next partNya jg lama2 penasaran nii………

  44. ssoangel mengatakan:

    Ini seru banget ceritanya thor! Huaaa so sweet ya haesso couple ini, udah mulai ada rasa suka tuh kayanya hihi. Biarin ajadeh siwon sm tiffany. Ditunggu bgt ini thor kelanjutannya😀

  45. Princess ice mengatakan:

    Ssohae,kangen bgt ama couple ini😉
    huwaaa..russel lucu bgt tuh kaya’a. Brkat dya sso ama hae jadi dket gitu..😉
    gasabar neh nunggu lanjutan hub sso ama hae..haha😀
    lanjut ya put!

  46. elisa mengatakan:

    wah haesso couple vavoritku…..author cerita a unik aasyik..tentuny sweet banget,…..intinya kreeeeeeeeeeeeeeen author…..di tunggu author nest part a banget……..=D

  47. lee mar'atus mengatakan:

    keren thor, udah kaya suami istri beneran. hahaha
    di tunggu kelanjutanya ya thor.😄

  48. arvy mengatakan:

    bagus ff’nya thor
    lanjutannya jgn lama” y

  49. astrielf mengatakan:

    KEREN ABIS, DAEBAK AKU SUKA!! BANYAKIN YANG HAESSO YA EON HAHAH. Aku nungguin yang haru kak, cepet di post ya fighting hahahahahahah😀

  50. mayaulidhasso mengatakan:

    Whuaaa!!!! udahhh kalian nikah ajaa –> HaeSso !!! ♥
    udah cocok kok jadi suami-istri😀
    wahhh…bakalan panjang nih urusannya kalo begini
    nanti dikira mereka lagi yg jadi penculiknya padahal kan mereka cuma nemuin baby Russell tbtb udah ada di kama Sso eonnie ckckck
    lucu pas first meet HaeSso haha😀
    ini gmna nihh…Sso eonni pacaran sama Wonppa, terus Haeppa suka sama tiffany yg selingkuh dgn Wonppa…
    kasian HaeSso nihh kalo gini😦
    solusinya HaeSso nikah aja…masalahnya pasti selesai Mommy & Daddy kkk~~~ ;;)
    dipost soon part selanjutnya author🙂
    penasaran seriuss~~
    Keep Spirit…FIGHTING!!!! \^^/
    gomawo^^

  51. angelf mengatakan:

    wa… Ceritanya lucu banget
    andaikan aja mereka jdi pasngan suami istri beneran
    udah cocok banget ya mereka haepa yg sbar njaga bayinya ssoeonie yg udah kyak istri beneran ngerawat suami ama istrinya mereka udah kyak keluarga kecil bahagiasemoga aja setelah bayinya menemukan ortu kandungnya haesso bisa bersatu

  52. zhuryia mengatakan:

    wach asli seru…
    Lucu ya dlm waktu shari bisa dpt seorang anak.istri.dan suami v keluarga ini sungguh lucu…
    Emh d tunggu lanjutannya okay….

  53. Cielah haesso dapet bayi… mereka jadi eomma n appanya lg kekkeke
    Sepertinya bakal tambah seru untuk selanjutnya..
    Ditunggu kelanjutannya.. mian baru bisa comment😀

  54. Ambarr mengatakan:

    Q ktinggalan lgi. . . .hem lcu bngt critanya. . .oh si Baby emang lcu,HaeSso bsa brsatu krna itu. . .

  55. kiki chan mengatakan:

    hihi.. lucu ya.. ada baby.. jd pengen ikut nyubit. hehe

  56. Deborah sally mengatakan:

    Family hahaha. . .

    Seperti sungguhan

  57. nisag1190 mengatakan:

    Cuteeeee banget ini,
    ya ampuuuunn itu si baby Russel imoet banget yaa, bisa deket walopun bukan sama emak bapaknya, tetepppppp manggil Mommy Daddy ^^
    FF cast Haesso knapa slalu sukses bikin senyum2 gajeeee wkwkwk LOL, asli dah itu Haesso udah siap membina kluarga sakinah mawadah warohmah qiqiqiqiq.
    Putriiiiii Love This So Muchhhh ^^
    Fighting🙂

  58. AngelsShe~ mengatakan:

    kya . . . KEREN
    ffx lucu ban9et , haesso udah s’rasi untk jdi daddy & mommy *o* daebakkkkkkk

  59. noni eka s. mengatakan:

    bagus😀

  60. Ayunie CLOUDsweetJewel mengatakan:

    Whoaaaaah…
    Ceritanya seru banget, lucu. Aku suka suka suka^^

    Nari ma Shindong jadi penculik, ga cocok banget dengan wajah mreka yg imut. Hhhaha…

  61. geill mengatakan:

    Wow….wow…..
    Nih crt emang seruuuuu bgt, lucu dan bnr2 bikin senyum2 sendiri bc nih ff….hehehe….
    Best story…i like…
    Berhubung penasaran sm lanjutannya q lgsng ke part berikutnya aja deh
    Gomawo buat author ^_^

  62. Kim Ha Byung mengatakan:

    Ceritanya keren eon🙂
    Shindong oppa dan nari eonni yang jadi penculiknya🙂

  63. Melli mengatakan:

    Seru nich, apakah siwon dan soeun mash melanjtkan hbungan?
    Atau beralih ke donghae?
    Begitupun selanjtnya

  64. ikayeoja fishy mengatakan:

    kereeeeeeeeennn bngttttt ff’mu Put..^^

  65. kim Ra rA mengatakan:

    huaaaaaaaaa HAESSO and littel baby… seru seru./
    hmmm shin dong oppa jadi penculik baby. muka yang unyu unyu gitu…? haha gimana jadinya tuh… ?

    aisss Wonpa yeoja kaya Sso ko masih lirik sana sini sich. ck
    Jadi mommy and daddy dadakan asli ceritanya keren abizzz

  66. miyanoshita mengatakan:

    annyeong aku reader baru.
    ffnya keren aon author,
    hmmm, kyaknya ada cinta segi empat ini,, hehehhe *plaak sok tau
    baca next part eon…

  67. Rani Annisarura mengatakan:

    wah ts ini berasa marriage life haesso deh…..

    Mereka berdua senasib,, dan ditambah mengurus bayi yang di culik itu,, mereka berdua udah kayak orang tua beneran….

    Sekali-kali dong kak buat ff yang marriage life,, karena mungkin bakalan keren & seru ceritanya😉

  68. GG mengatakan:

    awalnya bingung gimana maksudnya FF ini.. hahahah.. awal2nya gak ngerti sama skali. tp smakin lama di baca kok malah bikin penasaran..

    mau lanjut baca chapt slanjutnya, ngarep moga2 gak sad ending hahahahaahaa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s