~ [Threeshoot] Between Jongwoon And Yesung 3 / 3 (2th Cloudyelfputriandina) ~


Tittle     : Between Jongwoon And Yesung

Author  : PrincessClouds

Genre   : Brothership, Family, Romance(?)

Length  : Threeshoot

Rated    : PG-15

Main     : Kim So Eun – Kim Jongwoon – Kim Yesung (Twins! JongwoonYesung)

between jongwoonyeye

 

Casts     : Lee Hyukjae (Eunhyuk), OCs

Summary: Kita memiliki cinta, bukankah kita saling memilikinya? Lalu kenapa kau tiba-tiba menjauh. Tak tahukah kau bahwa tanganku merindukanmu? Rindu menggenggam tanganmu…

Warning: Typo(s), Out Of Character

*Between_Jongwoon_And_Yesung*

“Akhirnya selesai!!”

Soeun berseru senang sambil melihat hasil lukisannya setelah ia selesai memberikan sentuhan akhir. Ia kemudian merenggangkan persendian tubuhnya, rasa pegalnya terbayar sudah dengan hasil yang didapat.

“Sepertinya sudah selesai!”

Seruan Yesung terdengar tak lama setelah itu. ia tampak bergabung mendekati Soeun dengan dua cangkir cokelat panas di tangannya.

“Ne..” sahut Soeun sambil menganggukkan kepalanya. “Lukisan ini akan siap untuk dipamerkan beberapa hari lagi..” ucap Soeun sambil semangat sambil menatap Yesung. Yesung ikut tersenyum sambil mengulurkan secangkir cokelat panas padanya.

“Baguslah. Kuharap terlelang dengan nilai besar..” Tanggap Yesung sambil meminum cokelat panasnya.

“Bagiku nilai tidak masalah..” ucap Soeun pelan. Ia kemudian tersenyum melihat lukisannya sebelum menyesap cokelat panasnya. Yesung ikut melirik kearah lukisan setelah itu.

“Sebenarnya… kenapa harus basket?”

“Huh?”

Yesung tersenyum melihat ekspresi Soeun. lalu mengulangi pertanyaannya. “Aku tanya, kenapa kau harus menggambar lapangan basket dalam lukisanmu?”

“Entahlah, terfikir begitu saja dalam fikiranku. Lalu tanganku.. menggores begitu saja sehingga jadilah begini..” gumam Soeun sambil menatap lukisan itu lagi.

“Apa bukan karena Jongwoon?”

“Huh?”

Yesung terseyum halus, ia kemudian meletakkan cangkir miliknya tadi keatas meja yang ada disana. Ia kemudian berlutut, menyesuaikan tinggi tubuhnya dengan Soeun yang masih terduduk di atas sebuah kursi.

“Aku..” Ujar Yesung lembut sambil mengusap rambut Soeun. Mata mereka saling bertemu satu sama lain. “Menyukaimu…”

“Oppa..”

“Jangan cemas..” ucap Yesung sambil tersenyum melihat ekspresi kaget Soeun. “Aku hanya mengungkapkan apa yang aku rasakan, kau tak perlu merasa terbebani. Aku tak akan memaksamu membalas perasaanku. Aku hanya ingin kau tahu itu dan mulai melihat keberadaanku, bahwa aku bukan lagi oppamu, tapi seorang laki-laki… yang menyukaimu…” sambung Yesung. Ia terus mengusap rambut Soeun untuk membuat gadis manis itu merasa tenang. Soeun terus menatapnya.

“Oppa..”

“Tak ada yang salah di dunia ini. perasaanmu pada Jongwoon, perasaanku padamu, tidak ada yang salah dengan semua itu. Toh, kita bertiga terlahir dalam lingkaran yang gila, lingkaran dimana pada akhirnya akan ada diantara kami yang menikahimu. Jadi kita harus mulai bersosialisasi dengan lingkaran itu. Kau.. boleh mengejar cinta Jongwoon, asalkan kau membiarkan aku mengejarmu. Kumohon jangan menutup hatimu untukku, karena mungkin suatu saat kau akan berubah fikiran dan membalas perasaanku…”

“Kau mau memberikan kesempatan untukku, bukan?”

Soeun terdiam sambil terus menatap mata Yesung yang menyiratkan ketulusan. Tak lama ia kemudian terseyum, mengangguk.

“Ne..”

“Gomawo..” sahut Yesung begitu bahagia setelah mendapat sahutan dari Soeun. Ia kemudian mengembangkan kedua tangannya. “Bolehkah aku memelukmu? Sebagai perayaan akan zona hidup kita yang baru. Sebuah zona yang disebut cinta dan mengucapkan selamat tinggal untuk persaudaraan yang kita bina selama lima belas tahun ini. Bolehkah?” Tanya Yesung. Soeun tersenyum, lalu menganggukkan kepalanya membuat Yesung langsung menarik Soeun dalam pelukannya. Keduanya berbagi kehangatan.

“Aku akan begitu merindukan adik kecilku..” ucap Yesung sambil terus mempererat pelukannya pada Soeun. Sementara Soeun hanya terdiam sambil balas memeluk Yesung.

‘Kau tahu oppa? Kau adalah orang yang sangat… kusayangi. Berat rasanya ketika aku harus kehilangan oppa kesayanganku. Tapi.. kau benar.  Kita berdua sama-sama membutuhkan sebuah kesempatan untuk membuka hati orang yang kita cintai. Semoga kau berhasil oppa, karena aku tahu bahwa tak ada yang lebih baik menjagaku selain dirimu. Aku akan berusaha mencintaimu, walau jujur… jauh dalam hatiku aku ingin Jongwoon oppa bisa mencintaiku seperti dirimu. Dan jauh dalam hatiku, aku berharap kau akan selalu menjadi oppa yang menjagaku. Jadi mari kita melihat pada takdir untuk saat ini..’

Soeun menutup matanya demi meresapi pelukan mereka.

Sementara tanpa mereka sadari Jongwoon memperhatikan mereka dari balkon kamarnya. Kedua orang itu memang berbicara di taman samping rumah mereka sehingga Jongwoon bisa melihatnya dengan jelas. Jongwoon tersenyum dengan samar.

“Semoga kau bahagia, belahanku…”

*

“Apa? Kau ingin menyambung kuliah di Amerika?”

Tuan Kim langsung menoleh pada Jongwoon setelah kata-katanya. Yesung dan Soeun yang ada disana tampak juga langsung menghentikan makan mereka sambil menatap Jongwoon.

“Begitulah..” Jongwoon menyahut sambil tersenyum.

“Tapi Woonie, kenapa?” Tanya Tuan Kim lagi.

“Tidak ada alasan khusus kakek. Namun karena aku terlalu menyukai basket, aku fikir Amerika akan memberiku kesempatan lebih..”

Tuan Kim menundukkan wajahnya, sementara Soeun tampak ikut menunduk. Lain lagi dengan Yesung yang terus menatapnya.

“Bagaimana pendapatmu, Sungie?” Tanya Jongwoon pada kembarannya karena Yesung belum mengeluarkan suara dari tadi.

“Jongwoon… kau yakin?” Tanya Yesung melunak. Jongwoon tersenyum dan mengangguk.

“Ya, ini memang egois. Aku sebenarnya tak boleh pergi dalam keadaan kakek seperti ini, tapi aku rasa ini yang terbaik untuk masa depanku..”

Yesung tak lagi mengatakan apapun, pandangannya beralih pada Soeun yang menunduk dengan dalam. Ia terlihat cukup kaget sekaligus sedih dengan keputusan Jongwoon.

“Kalau menurutmu ini yang terbaik, maka pilihlah Woonie..”

Tuan Kim kembali bersuara tak lama setelah itu. membuat semua orang menatap padanya.

“Benarkah? Kakek tidak marah padaku?” Tanya Jongwoon. Tuan Kim tersenyum, lalu menggeleng walaupun dengan ekspresi berat.

“Tidak, kalian semua sudah dewasa. Kalian berhak menentukan pilihan kalian sendiri.. Kakek sudah membesarkan kalian bertahun lamanya, sekarang kakek tinggal melihat hasil didikan kakek dengan melihat kalian sukses..” ucap Tuan Kim sambil tersenyum pada Jongwoon. Jongwoon ikut tersenyum, ia kemudian bangkit dari tempat duduknya dan memeluk bahu Tuan Kim.

“Aku akan sering-sering menelpon kakek..” ucap Jongwoon senang, Tuan Kim tampak mengangguk dan mengusap tangan Jongwoon.

Sementara itu.. Yesung dan Soeun tampak masih terdiam di posisi mereka. Yesung mengalihkan perhatiannya pada Soeun yang menunduk semakin dalam.

*

Tempat itu begitu ramai hari ini. Semua orang pecinta seni tampak berkumpul untuk menyaksikan pameran lukisan musim semi terbesar di kota ini. Puluhan pelukis berbakat tampak menyumbangkan lukisan mereka untuk ikut berpartisipasi untuk memeriahkan festival besar itu.

Dan disanalah salah satu pelukis berbakat kita. Memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang disekitar sana dengan wajah tanpa gairah. Bukan, ia bukan tidak bergairah karena acaranya yang tidak terlalu menarik. Suasana hatinya yang memang tidak baik. Tidak baik karena khabar yang didengarnya pagi ini.

Jongwoon akan pergi?

Jongwoon Pergi?

Pergi?

Hatinya berontak keras karena tidak menginginkan itu semua. Namun apa yang bisa ia lakukan, karena ia tahu, jangankan mendengar permintaannya. Melihat wajahnya pun, sepertinya laki-laki yang disukainya itu tak pernah mau..

*

Yesung mengemasi alat-alat tulisanya setelah sang Dosen menutup pertemuan kali ini. Ia memang sudah bersiap untuk segera meninggalkan kampusnya sesegera mungkin hari ini, karena ia sudah berjanji untuk menghadiri pameran lukisan Soeun. Ia sepertinya tak sabar untuk itu.

“Mau kemana?”

Seseorang menahan bahunya ketika Yesung berniat keluar. Seseorang yang ternyata rekannya di Teater itu tampak tersenyum padanya. Yesung membalas senyumannya.

“Aku harus pergi ke suatu tempat..” sahut Yesung.

“Huh, pergi? Bukankah kita ada pertemuan para anggota teater siang ini?”

“Huh?” Tanya Yesung kaget. Ia segera mencari-cari ponselnya.

“Undangannya dikirim tadi pagi. Apa kau tak mengecek emailmu?” Tanya temannya itu. Sementara Yesung tampak menatap serius ponselnya.

“Arh, benar. Aku tak tahu..” keluh Yesung sambil menggigit bibir bawahnya.

“Ini rapat penting, sepertinya semua harus hadir. Lalu bagaimana dengan acaramu?” Tanyanya lagi. Yesung tampak berfikir sesaat, sebelum akhirnya kembali mengotak atik ponselnya dan menghubungi seseorang.

*

“Huh? Menghadiri pamerannya?”

Jongwoon berhenti memainkan bolanya ketika mendengarkan permintaan Yesung.

‘Begitulah, aku harus menghadiri sebuah acara sementara kakek ada rapat. Hanya kau yang bisa diandalkan untuk menghadiri pamerannya. Ayolah, Soeun akan kecewa kalau tidak ada yang datang..’

“Tapi Yesung, aku—“

‘Aku tahu kau masih belum menyukainya. Tapi tolonglah, anggap ini permintaan dariku..’

Jongwoon menghela nafas panjang. Berfikir. Sebelum akhirnya mengangguk.

“Baiklah..”

‘Ahh, aku sudah menyangka kau akan mau. Makasih, Woonie kau memang kakak kembarku yang paling mengerti padaku…’

“Aish, jangan merayuku..” ucap Jongwoon sambil tersenyum. “Lagipula ini juga merupakan caraku untuk berpamitan padanya. Walau bagaimanapun, aku tetap tak bisa pergi saja tanpa mengatakan apapun padanya bukan?”

*

Jongwoon bergabung dengan keramaian tempat itu ketika ia baru saja datang. Ia kemudian berjalan dengan pelan untuk mencari Soeun sekaligus melihat lukisan-lukisan yang terpajang. Hingga akhirnya ia tampak menghentikan langkahnya ketika melihat Soeun disalah satu lorong. Menatapnya… sedikit panjang. Jongwoon mendekatinya.

“S-Sungie Oppa?”

Tanya Soeun pelan sambil memperhatikan pemuda di depannya dengan ragu. Jujur ia melihat sosok di depannya adalah Jongwoon karena gaya rambut dan bahasa tubuhnya, namun ia masih ragu kalau Jongwoon akan datang kesini. Membuat ia akhirnya bertanya. Jongwoon tersenyum dengan begitu tipis mendengar pertanyaan Soeun.

“Sudah belasan tahun begini kau belum bisa membedakan kami? Aku Jongwoon..” ucapnya tenang. Soeun tampak kaget mendengarnya.

“S-Sungie oppa?”

“Hum..”

Jongwoon bergumam pendek sambil memutar tubuhnya. Memperhatikan kembali lukisan-lukisan yang terletak di dinding. Sementara Soeun masih terdiam di tempatnya.

“Yesungie tidak bisa datang karena ada pertemuan dengan anggota Teater kampusnya, sementara kakek ada rapat penting siang ini. itu sebabnya aku yang datang..” jelas Jongwoon sambil memperhatikan sebuah lukisan. Soeun terus berdiri dibelakangnya.

“T-Terima kasih oppa..”

“Tak perlu berterima kasih. Lagipula bukankah sebelumnya kau pernah datang kepertandinganku? Anggap ini balasanku untuk itu..” jelas Jongwoon. Soeun menganggukkan kepalanya, pelan.

“Baiklah..”

Soeun hanya menyahut dengan begitu pelan. Jujur, ia tak bisa melepas Jongwoon untuk pergi dengan keadaan seperti ini. Walau bagaimanapun ia membutuhkan jawaban dari perasaannya. Namun ia menyesali fakta bahwa ia tak begitu berani mengungkapkan semua itu pada Jongwoon, karena pada nyatanya ia masih begitu takut kalau tatapan Jongwoon akan lebih dingin setelah ucapan cintanya.

“Wah!! Lihat ini!”

Soeun mengangkat wajahnya ketika mendengar seruan bersemangat Jongwoon. Jongwoon bergerak kearah lukisan lainnya, membuat Soeun kembali mengikutinya.

“Basket. Hidupku..” ucap Jongwoon sambil menyentuh dasar lukisan itu. Sementara Soeun masih terdiam. Ia tak berani menyebut bahwa lukisan yang dipegang Jongwoon adalah hasil tangannya yang terinspirasi dari dirinya.

“Aku menyukai ini..” ucap Jongwoon sambil terus menyentuh lukisan itu. Senyuman berbinar kembali terlihat dari wajahnya. “Lapangan basket melambangkan hidupku. Langit adalah lambang kebebasan. Awan adalah kedamaian. Semuanya benar-benar melambangkan diriku…” ucap Jongwoon takjub. Sementara Soeun hanya terus terdiam sambil terus mendengarkan Jongwoon.

“Dan Pelukisanya adalah—“

“—Kim So Eun?”

Jongwoon menoleh kebelakang setelah membaca tulisan itu. Ia tampak sedikit kaget. Sementara Soeun langsung sedikit menundukkan wajahnya. Gugup.

Jongwoon tersenyum.

“Kau menggambar dengan baik. Aku menyukainya. Selamat..” ucap Jongwoon pelan namun mengandung makna yang begitu dalam bagi Soeun. Soeun segera mengangkat wajahnya untuk menatap Jongwoon yang mulai berpindah ke lukisan lainnya.

Jongwoon tersenyum padanya? benarkah? Jongwoon menyemangatinya? Benarkah? Jongwoon menyukai hasil karya Soeun yang memang didedikasikan untuknya? Benarkah? Astaga, bertahun mereka saling mengenal, itu adalah untuk pertama kalinya Jongwoon berlaku baik padanya. Betapa ini cukup menyesakkan bagi Soeun. ya, rasanya sesak bukan senang. Sesak karena Jongwoon baru bersikap seperti ini setelah ia memutuskan untuk pergi. Alangkah kejam.

“Ya! Kenapa kau masih disana? Kemarilah!”

Soeun mengangkat wajahnya setelah mendengar panggilan Jongwoon. Lihat, setelah lima belas tahun ia baru ingat cara tersenyum ketika berbicara pada Soeun. Ia baru ingat caranya ramah pada Soeun. Bukankah ia kejam?

Soeun menyeka air matanya yang ingin keluar. Lalu kembali mengikuti Jongwoon.

*

Yesung terus mempermainkan jemarinya dengan risau sambil terus mengikuti jalannya rapat. Pandangannya memang terus tertuju pada sang pembicara, namun fikirannya ternyata tidak.

Soeun… Jongwoon..

Otaknya daritadi memikirkan ini. Apakah keputusannya tepat untuk mengirim Jongwoon pada Soeun dihari penting ini? Bagaimana kalau sesuatu terjadi? Sesuatu yang membuat Yesung pada akhirnya harus merasa sakit ketika akhirnya Soeun mendapatkan cintanya? Bagaimana kalau Jongwoon membalas perasaan Soeun?

Astaga, Yesung benar-benar belum kuat menerima itu semua. Bolehkah Yesung egois berharap Jongwoon tidak menyukai hal yang sama dengannya kali ini? Bolehkah Yesung berharap waktu perlahan bisa mengubah perasaan Soeun untuknya? Toh bukankah selama ini Yesung adalah satu-satunya orang yang paling menjaga Soeun? Tidak bisakah Yesung diberi kesempatan atas kebaikan hatinya dari dulu?

Tak bolehkah Yesung mengharap pamrih untuk—

— Kali ini

*

“Minuman hangat..”

Jongwoon berseru pelan sambil mengulurkan secangkir minuman hangat pada Soeun. Soeun yang tersadar dari lamunannya langsung tersadar dan mengambil minuman yang diberikan Jongwoon.

“Terima kasih oppa..”

“Hum..”

Jongwoon tampak menatap lurus taman di depannya sambil menyesap minumannya. Sementara Soeun tampak beralih padanya, menatapnya dengan cukup lama. Membuat Jongwoon akhirnya menoleh dan beralih padanya.

“Kenapa?” Tanya Jongwoon heran. Soeun mengalihkan perhatiannya dari Jongwoon.

“Tidak ada. Hanya aku tak percaya ini dirimu..”

Jongwoon tersenyum tipis, lalu kembali menyesap minumannya. Sementara Soeun kembali menatapnya.

“Yah, aku tak enak terus dipandangi seperti itu..” Protes Jongwoon setelah menyelesaikan minumnya. Namun kali ini Soeun tak cepat beralih padanya, ia masih tetap menatap Jongwoon sedikit lama. Lebih dalam. Membuat Jongwoon mulai merasa tak nyaman karena bingung. “Kenapa? kau membuatku takut..”

“Apa kau benar-benar Jongwoon oppa? Bukan Yesung oppa?”

“Aish..” Jongwoon sedikit terkekeh lalu meletakkan kopi panasnya. Ia bergerak melonggarkan mantel yang dipakainya, lalu setelah itu bergerak membuka leher kemejanya. Memperlihatkan sebagian bahunya. “Lihat, aku tak punya tanda lahir disini..” ucapnya serius. Jongwoon memperbaiki pakaiannya kembali.

“Tapi sikapmu padaku.. bukan seperti Jongwoon oppa..”

Jongwoon tersadar dengan arah pembicaraan Soeun. ia sedikit terkekeh. “Apa ini? kau tak suka aku bersikap lebih baik? Kau ingin aku bertindak dingin lagi padamu?” Tanya Jongwoon bercanda. Namun Soeun sama sekali tak tertawa karena kata-katanya, membuat tawa Jongwoon memudar dan menghilang. “Yah, kau tak bisa menatapku terus seperti itu..”

“Berpura-pura sungguh melelahkan bukan? Sebaiknya oppa menjadi dirimu sendiri..” ucap Soeun sambil berpaling dan meminum minumannya. Membuat Jongwoon tersadar dan lebih menatapnya.

“Mungkin aku selama ini sudah keterlaluan padamu. Tapi.. aku sebenarnya tak berniat membencimu, aku sudah menyadari bahwa semua itu hanya kekanakanku..” jelas Jongwoon sambil menatap Soeun. Soeun menghentikan gerakannya, lalu balas menatap Jongwoon.

“Kenapa oppa baru menyadarinya begitu terlambat? Setelah oppa ingin pergi? Apa oppa hanya ingin membuatku senang sebelum kau pergi?”

Jongwoon menghela nafas, lalu mengalihkan perhatiannya dari Soeun. “Kalau boleh jujur memang begitulah. Berdebat sungguh tidak menyenangkan..” ucap Jongwoon singkat sambil kembali meminum kopinya. Soeun menatapnya, kesal, air matanya jatuh begitu saja.

“Jongwoonie oppa, benar-benar… jahat.”

Jongwoon menatap pada Soeun, begitu kaget ketika yang didapatinya kali ini adalah wajah penuh kesedihan Soeun. ia menangis.

“Kenapa kau menangis?”

“Kau benar-benar jahat. Tega sekali kau memperlakukan aku seperti ini. apa salahku? Huh?” Soeun menangis semakin deras.

“Y-Yah, kau kenapa?”

“Kejam. Lima belas tahun aku menunggumu untuk kau bisa menerima kehadiranku. Lima belas tahun.. aku menunggumu. Tapi kenapa kau baru datang sekarang sebelum kau pergi. Kenapa?”

“Kau benar-benar kejam. Tak sadarkah kau telah terlalu lama menyakitiku?” Tanya Soeun dengan air mata yang semakin deras. Sementara Jongwoon hanya terdiam, mungkin tak menyangka akan mendapat respon yang begini dari Soeun.

“Kau jahat. Kalau kau mau pergi sekarang, baik tak usah sok peduli padaku..” ucap Soeun sambil memukul bahu Jongwoon. Mengusirnya. “Pergi..”

“Yah, kau kenapa?” Jongwoon ikut terpancing dan menepis tangan Soeun dari bahunya. “Aku.. sedang berusaha kita berdamai sebelum kepergianku disini. Tapi kenapa kau malah salah mengerti begini? Apa maksudmu?”

“Kau tak peduli maksudku?” Soeun menyahut sinis. “Lukisan itu. Langit, lapangan basket, awan, kau tak mengerti apapun? Apa kau benar-benar sebodoh itu?”

“Kim So Eun!”

“Aku mencintaimu! Kau puas sekarang!”

Jongwoon terhenti, kaget. Sementara Soeun menangis lebih deras.

“Soeun-ah..”

“Kau kejam padaku..” ucap Soeun kembali menangis dan memukul-mukul bahu Jongwoon. “Kau terus menolakku, memaksaku untuk membencimu namun disaat yang sama menghalangiku untuk melakukan itu. Kau terus disana, dengan ambisimu, dengan keras kepalamu sambil terus menyakitiku. Kau sudutkan dengan semua ketidak pedulianmu. Tapi bodohnya aku, DISAAT YANG SAMA AKU MASIH BERHARAP KAU TERUS DIDEKATKU WALAU HANYA SEKEDAR MENATAP BENCI PADAKU. Sekarang.. kau baru datang.  KAU BARU BAIK PADAKU SEBELUM KAU PERGI. Kau tak punya hati! Menyebalkan!!” ucap Soeun sambil terus memukul-mukul bahu Jongwoon. Sementara Jongwoon hanya terdiam, terpaku sambil terus membiarkan Soeun memukulnya kini. Kata-kata Soeun benar-benar mengagetkannya, benarkah ia telah bertindak sejauh itu?

“Kim Jongwoon.. kau benar-benar jahat. Kau tak punya hati..”

“Lepas!”

Jongwoon tiba-tiba tersadar dan kembali menepis tangan Soeun. ia segera bangkit dan menatap Soeun yang terus menangis.

“Kau benar-benar orang paling aneh yang aku temui. Daridulu kau selalu meminta untuk diperlakukan dengan baik, sekarang ketika aku melakukannya kau malah berbuat seperti ini. Sekarang terserah.. aku benar-benar tidak akan peduli padamu lagi..” ucap Jongwoon kembali dingin. Ia menarik mantelnya yang terletak dibangku, lalu setelah menatap Soeun sejenak ia meninggalkan tempat itu. Meninggalkan Soeun yang menangis lebih keras.

*

Jongwoon membawa mobilnya dengan kencang menembus jalanan Seoul. Matanya tampak tajam, berkilatan menatap jalanan sementara fikirannya terus menerawang.

Apa yang telah ia lakukan?

Benarkah ia menyiksa gadis itu segitu jauh? Astaga, bodoh.. Jongwoon merutuki dirinya sendiri. Bagaimana mungkin ia bisa sekejam itu sehingga membuat Soeun sampai terluka separah itu. Tangisannya, kata-katanya, pukulan tangannya.. semuanya benar-benar membuat Jongwoon mengutuk dirinya sendiri untuk semua kebodohannya.

Tapi..

Ini sudah terlambat.

Baik terus seperti ini dan mengharap penyelesaian. Dengan terus bertindak seperti ini setidaknya Soeun akan benar-benar membencinya. Setidaknya Soeun akan melupakannya. Setidaknya Soeun akan menghapus perasaannya. Lalu.. Yesung akan selalu bersamanya untuk menemani Soeun. Mengobati lukanya. Lalu Soeun—

— Akan membalas perasaan Yesung.

Itulah harapannya.

Jongwoon menghentikan mobilnya dengan kasar disalah satu sisi jalan. Ia lalu meraih ponselnya, menghubungi seseorang.

“Yeobseyo, Yesungie. Ku harap kau bisa menjemput Soeun—“

*

Yesung berlari-lari di taman itu untuk menemukan Soeun. Tadi ketika Jongwoon menghubunginya konsentrasinya langsung buyar. Yesung akhirnya memilih meninggalkan rapat begitu saja dan menemui Soeun disini. Sumpah demi apapun nada Jongwoon berbicara tadi sudah membuatnya begitu cemas, ia tahu terjadi sesuatu tidak baik disini.

“Soeun!”

Yesung langsung mendekati Soeun ketika menemukan Soeun tengah menangis di salah satu bangku taman. Mendengar panggilan Yesung Soeun tampak mengangkat wajahnya, ia langsung memeluk Yesung setelah itu.

“Kenapa?” Tanya Yesung sambil mengusap bahu Soeun dan berusaha menenangkannya. Sementara Soeun tak menyahut, ia masih juga menangis sambil memeluk Yesung dengan erat. Berusaha menumpahkan kesedihan yang melanda hatinya di bahu Yesung, tempat yang ia tahu betul adalah satu-satunya tempat ternyaman baginya.

Yesung menghela nafas melihat setiap reaksi Soeun. Ya, sepertinya secara samar ia mengetahui apa yang telah terjadi antara mereka berdua.

“Hum, aku mengerti. Tenanglah, ada aku disini..” gumam Yesung pelan dan terdengar samar. Ia kembali mengusap bahu Soeun dengan lembut. Berusaha membuat Soeun yang terlihat begitu buruk merasa lebih baik.

*

Mobil milik Yesung berjalan melintasi jalanan Seoul yang sudah lengang. Yesung tampak hanya diam sambil memperhatikan jalannya kedepan, sementara Soeun yang duduk disampingnya masih terdiam. Matanya menatap kosong keluar jendela dan menatap hamparan angkasa yang muram  tanpa bintang.

“Oppa, kenapa kau bisa menyukaiku?”

Yesung reflek menoleh karena pertanyaan lirih Soeun tersebut. Ia menghela nafas sambil kembali fokus menyetir.

“Aku juga tidak tahu…”

Helaan nafas yang lainnya terdengar dari pihak Soeun. Gadis itu mengalihkan perhatiannya dari jendela, menatap Yesung.

“Apa mencintaiku menyakitkan?”

Yesung seperti tersengat karena pertanyaan itu. Namun ia tak menoleh pada Soeun, pandangannya masih lurus menatap jalanan.

“Pasti begitu, maafkan aku…” lirih Soeun sambil menundukkan wajahnya.

“Apa yang kau katakan?” Tanya Yesung sedikit menoleh pada Soeun. Soeun hanya tersenyum kecil sambil menggeleng kecil, kepalanya masih juga tertunduk.

“Hanya ketika aku kembali mengingat apa yang kau katakan dan apa yang sedang aku rasakan. Aku bertanya-tanya apakah kau merasakan kesakitan yang sama…”

“Apa yang sedang ingin kau sampaikan?”

Soeun kali mengangkat wajahnya, lalu menggelengkan kepalanya. Ia mencoba tersenyum dan memastikan semua baik-baik saja pada Yesung, kemudian kembali menunduk. Meninggalkan Yesung yang terus menatap jalanan dengan fokus yang lainnya dalam fikirannya.

*

“Kenapa belum juga pulang?”

Jongwoon mengeluh risau sambil melirik jam dinding yang tergantung di kamarnya. Daritadi ia mondar-mandir di dalam kamarnya sambil beberapa kali melihat keluar jendela. Ini sudah hampir tengah malam, dan baik Soeun ataupun Yesung belum ada diantara keduanya yang pulang. Hal itu membuat Jongwoon benar-benar merasa begitu khawatir, apalagi seingatnya mungkin ia adalah salah satu penyebab kenapa semua ini terjadi.

!!

Jongwoon segera beranjak menuju jendela ketika mendegar suara mesin diluar sana. Ia menyingkap gorden yang menutupi jendela untuk melihat lebih jelas keluar sana. Langsung menemukan mobil putih milik Yesung yang baru saja memasuki perkarangan. Jongwoon terlihat sedikit antusias untuk menunggu orang di dalam mobil untuk keluar, memastikan bahwa Yesung membawa Soeun bersamanya.

*

“Arh, akhirnya sampai. Terima kasih oppa…”

Soeun langsung mengembangkan senyumannya sambil menatap Yesung ketika menyadari mereeka telah sampai di rumah. Yesung tampak mengalihkan perhatiannya pada Soeun. Menatap penuh mata Soeun yang masih terlihat membengkak.

“Apa sudah tak apa-apa?” Tanya Yesung risau. Soeun tampak tersenyum dan mengangguk pelan.

“Tentu, arh.. hari ini aku pasti sudah terlalu banyak membuat oppa repot sekalipun cemas. Maafkan aku…”

“Tak perlu minta maaf.. aku memang seharusnya melakukan ini…”

Keduanya terdiam. Saling menatap mata masing-masing untuk beberapa saat, sebelum akhirnya Soeun mengalihkan perhatiannya dan mulai bergerak membuka sabuk pengaman.

“Tsk, aku besok harus masuk pagi-pagi sekali dan aku lelah. Aku sepertinya harus segera beristirahat, oppa. Kau juga, kau terlihat lelah oppa…” ucap Soeun kembali menoleh pada Yesung setelah membuka sabuk pengaman. Sementara Yesung hanya terdiam sambil memperhatikan gerakan Soeun, mencoba menemukan sesuatu yang daritadi belum juga ia temukan. Yang entah mengapa Soeun enggan menyampaikan padanya. “Yah, kenapa oppa menatapku begitu? Kau terlihat menyeramkan seperti Woonie oppa…” ucap Soeun mulai tidak enak dengan tatapan Yesung. Namun Yesung sama sekali tak merubah bahasa tubuhnya.

“Tsk, kau benar-benar menyebalkan. Ya sudah, bukankah oppa harus memasukkan mobil ke garasi. Aku akan duluan masuk karena aku ingin cepat-cepat tidur. Anyeong…” ucap Soeun sambil melayangkan senyuman manis sesaat pada Yesung, sebelum akhirnya mulai membuka pintu dan keluar dari mobil. Yesung tampak hanya diam setelah kepergian Soeun, sebelum akhirnya sesuatu terlintas dalam fikirannya dan membuat ia dengan cepat membuka sabuk pengamannya. Ia kemudian ikut keluar dari mobil dan menyusul Soeun.

“Sebenarnya ada apa? Dia mengatakan apa padamu? Kenapa kau menangis separah ini!”

Soeun menghentikan langkahnya karena seruan Yesung. Tak lama ia berbalik, menghadap pada Yesung yang kini berjalan mendekatinya.

“Oppa—“

“Kumohon ceritakan padaku…”

Soeun mendesah pelan, memejamkan matanya, lalu menggeleng. “Tidak ada apa-apa, ini hanya akan menyakitkan malam ini. Besok semua akan membaik…”

“Kau tak mau berbagi denganku…”

“Bukan begitu… hanya saja…” ucap Soeun ragu sambil kembali menunduk. Sementara Yesung terus memperhatikannya dengan tatapan yang sama, tatapan yang seakan-akan menyudutkan Soeun dan membuatnya tak bisa berkutik. “Aku…”

“Kenapa kau tak mau berbagi denganku, apa kau fikir aku terlalu lemah hanya sekedar mendengar kegagalan cinta pertamamu?”

“Huh?”

“Aku juga tahu semuanya, kau fikir aku tak tahu? Kau.. suka Jongwoon bukan? Itu yang membuatmu begitu terlihat buruk di hari terbaikmu ini, karena dia, karena Jongwoon. Lalu kenapa kau tak menceritakannya padaku? Kau takut aku akan kecewa ketika aku mengetahui ini semua?”

“Oppa—“

“Apa kau fikir aku  selemah itu hingga kau tak berani menceritakannya padaku?”

“Sungg—“

“Jangan perlakukan aku seperti anak kecil…”

Soeun terdiam mendengar kata-kata terakhir Yesung dan mendapat sinaran berbeda itu dari Yesung. Ia kemudian menundukkan wajahnya, berusaha menahan air matanya lagi walau ia terasa begitu sulit.

“Aku tak pernah bermaksud seperti itu, kau tahu bukan bahwa aku yang lebih seperti anak kecil diantara kita berdua?” ucap Soeun sambil terus menunduk dan menahan air matanya, walau air mata itu sepertinya benar-benar tak mau berdamai dengannya. Mereka tetap memaksa untuk melesak keluar. “Aku tak tahan dengan semua ini…”

“Apa maksudmu?”

“Aku selalu bertanya kenapa kita bisa seperti ini…” suara Soeun kembali terdengar. Sedikit terbata. “Aku bertanya kenapa hubungan persaudaraan kita harus berakhir seperti ini. Kau menyukaiku, aku menyukai Joongwoon oppa, kita terjebak dalam rencana pertunangan atau bahkan pertunangan. Ini terasa begitu gila…”

“Kau keberatan dengan itu?”

“Ne..” Soeun mengangkat wajahnya. Balik menatap Yesung dengan matanya yang kembali membasah. “Bukankan kau juga merasakan ini begitu menyakitkan? Bagimu.. dan bagiku, ini tidak adil ketika kita harus sama-sama merasakan cinta yang tak terbalaskan. Ini menyakitkan, oppa juga tahu itu…”

“Lalu?”

“Tak bisakah kita kembali seperti dulu? Seperti lima belas tahun yang lalu sebelum kita mengenal kata cinta?” Tanya Soeun penuh emosi, air matanya benar-benar membasahi pipinya. Sementara Yesung hanya terus menatapnya, mendengarnya.

“Kau belum juga menerima takdir kita?”

“Tidak, aku pernah menerimanya. Kemarin, tadi pagi, bahkan mungkin sejak lima belas tahun lalu aku bisa menerimanya. Tapi setelah hari ini aku mulai keberatan untuk itu, ini terlalu menyakitkan. Mencintai seseorang yang tak mencintaimu itu menyakitkan, apa kau tak merasakan hal yang sama?”

“Apa kau hanya memandang cinta dari sudut sempit itu?”

“Ne, aku masih belia. Aku hanya memandang cinta dari sudut itu, kau.. yang lebih dewasa dariku, seperti apa cinta dimatamu? Dimata laki-laki yang mengaku mencintaiku—“

Grep..

Ucapan Soeun terputus ketika Yesung menarik pinggangnya dan langsung mencium bibirnya. Terhitung detik awalnya Yesung hanya menempelkan bibir mereka, sebelum akhirnya mulai berani mengulum dan menghisap bibir itu dengan pelan. Dengan perasaan. Merasakan rasa manis serta asin yang didapatkan dari air mata Soeun.

Perlahan Yesung melepaskan ciuman itu setelah hampir satu menit ia merasakannya. Matanya yang tadi tak berani menatap Soeun mulai bergerak mencari-cari iris caramel dimata Soeun. Dimana ia tak menemukannya karena gadis itu menutup kedua matanya rapat. Hanya meninggalkan nafas yang saling bersahutan dari keduanya.

“Ini cinta dalam sudut pandangku, membuatmu merasakan bahagia sepanjang hidupku. Aku tahu bahwa kau belum mencintaiku, tapi aku yakin secara perlahan kau akan mulai melihat keberadaanku. Karena kau harus kembali mengingat bahwa hanya akulah satu-satunya tempat ternyaman yang bisa kau singgahi…” ucap Yesung dengan nada berbisik sambil tetap menempelkan dahinya di dahi Soeun. Membuat kedua matanya lebih merasa betah terpejam merasakan hangat nafas Yesung yang menerpa wajahnya.

“Kumohon.. mulailah melihat dari sudut yang sama denganku…” bisik Jongwoon lagi menyudahi kata-katanya sebelum kembali mencium bibir Soeun. Kembali mengalirkan perasaannya dengan harapan Soeun dapat menangkapnya dengan baik. Sementara Soeun hanya terdiam merasakan ciuman Yesung sambil terus menutup matanya. Kau tahu? ciuman Yesung benar-benar menenangkan untuknya, sekaligus membuatnya masuk lebih dalam kedalam jurang kebingungannya.

*

Jongwoon sedang berusaha memejamkan matanya ketika seseorang memasuki kamarnya begitu saja. Pemuda bermata Onix itu terduduk, menatap kembarannya yang tampak berdiri di hadapannya.

“S-Sungie…”

Yesung tersenyum halus, ia kemudian mengangkat salah satu tangannya. Menunjukkan apa yang ada disana. “Mau minum bersama?” Tawar Yesung. Jongwoon beranjak dari posisinya.

“Bukankah kau tak kuat minum? Kenapa tiba-tiba mengajakku minum?” Tanya Jongwoon sambil menyusul Yesung yang sudah mendekati sofa. Ia meletakkan minuman dan gelas yang dibawanya keatas meja kaca yang terletak di tengahnya.

“Aku sedang mencobanya, lagipula kapan lagi aku bisa minum dengan hyung kembaranku. Mengingat kau mau pergi ke Amerika…”

Keduanya diam untuk sejenak setelah ucapan itu. Yesung tampak menuangkan minuman tadi ke dalam dua gelas yang dibawanya, sementara Jongwoon hanya terdiam dan menatap pekerjaan Yesung. Sebenarnya ia masih belum yakin kalau Yesung benar-benar mengajaknya minum – setahu Jongwoon Yesung memang tak suka minum.

“Bersulang?”

Jongwoon sedikit tersentak ketika Yesung kembali berseru padanya. Saat ini kembarannya tersebut tampak sudah mengangkat satu tangannya dengan minuman diatasnya. Membuat Jongwoon tersadar dan mengambil gelas miliknya. Kedua gelas itu kemudian beradu.

Ting…

“Arrh, rasanya tak terlalu buruk…” komentar Yesung setelah meneguknya. Keduanya sama-sama meletakkan gelas mereka kembali.

“Apa yang terjadi, Sungie? Kau punya masalah?” Tanya Jongwoon langsung setelah itu. Yesung mengangkat wajahnya, sedikit tersenyum.

“Mengajakmu minum bukan berarti aku dapat masalah, bukan?”

“Hm, memang. Tapi ini tetap aneh bagiku, dalam fikiranku kau tahu? Kau adalah orang yang terakhir menyentuh minuman kalau memang sudah tak ada lagi yang dapat diminum. Tapi lihat sekarang…”

“Sudah ku katakan, ini karena kau akan meninggalkan Korea. Aku tahu, setelah kau pergi mungkin aku tak akan mempunyai kesempatan lagi…”

“Tsk, kau berkata seolah-olah aku akan pergi selamanya…” ucap Jongwoon sambil geleng-geleng kepala. Ia meneguk minumannya kembali, meninggalkan Yesung yang terdiam sambil memperhatikannya. “Kenapa, huh? Kau terus memperhatikanku dengan aneh…”

“Kau benar-benar tak punya perasaan padanyakan?”

“Huh?”

“Maksudku Kim So Eun…”

Jongwoon mendesah pelan. Ia meletakkan minumannya tadi dan menatap Yesung. “Kenapa tiba-tiba menanyakan ini?”

“Aku menebak ia telah mengungkapkan perasaannya padamu siang tadi. Aku tak salah, bukan?”

Jongwoon kembali tersenyum samar. Ia menunduk dan menyentuh minumannya kembali. “Aku menyesal telah membuat ia begitu buruk, tapi aku bersyukur kau ada disana dan menjaganya. Setidaknya ia bisa merasa lebih baik..”

“Aku tak menjaganya sebaik itu…” lirih Yesung pelan. Membuat Jongwoon mengangkat wajahnya kembali, melirik wajah Yesung yang terlihat lesu. “Walau sudah kucoba ia tetap terlihat begitu buruk, dia begitu menyukaimu…”

Jongwoon tersenyum halus. Tangannya kemudian mulai terulur, menyentuh lembut bahu kembarannya. Membuat Yesung mengangkat wajahnya kembali dan balas menatap Yesung.

“Itu hanya masalah waktu, lagipula bukankah hanya kau yang bisa menjaganya dengan baik. Aku yakin cepat atau lambat hatinya akan melunak dan mulai membalas perasaanmu…”

“Aku memang berharap begitu, selalu berharap begitu. Hanya saja…” Yesung menghentikan kata-katanya dan melirik kearah lain. Awalnya ia terlihat ragu, sebelum akhirnya ia kembali bersuara. “Seperti kataku tadi Soeunie begitu menyukaimu. Aku mulai gelisah, aku takut untuk kali ini aku tak bisa mengatasinya. Aku takut ia menjadi lebih buruk..”

“Jadi apa yang ingin kau katakan?” Tanya Jongwoon mulai menebak arah pembicaraan Yesung.

“Kalau boleh meminta aku tak ingin kau pergi, sungguh. Soeun akan begitu buruk kalau kau pergi. Seperti katamu tadi, aku yakin kalau kau tinggal secara perlahan waktu akan merubah hatimu. Mulai balas menyukainya misalnya…”

“Too much Cheesy, heh. Kau mulai mengatakan lelucon..”

“Ini bukan lelucon..” protes Yesung cepat. Menatap Jongwoon kembali. “Tapi ini pilihan, aku tak suka melihatnya menangis, sungguh…”

Jongwoon terdiam, menatap Yesung lebih serius setelah kata-katanya. Dimana pemuda itu saat ini sedang menundukkan kepalanya.

“Lalu bagaimana dengan dirimu, huh? Bukankah kau juga begitu menyukainya, bahkan… aku tahu kau mencintainya…” tanya Jongwoon pelan. Yesung mengangguk pelan.

“Hm, benar. Tapi kalau itu bisa membuatnya bahagia…”

“Lalu dirimu?”

“Entah…”

Jongwoon kembali tersenyum, ia kembali menyentuh bahu Yesung. Mengusapnya pelan. “Aku.. tidak akan mungkin bisa memperlakukannya dengan baik. Jadi jangan pernah berfikir untuk menyerahkannya padaku. Dia milikmu, kau adalah satu-satunya yang bisa memperlakukannya dengan baik dan aku yakin ia menyadari itu. Jadi.. jangan menoleh ke sisi yang salah, teruslah dengan arahnya yang sebelumnya. Membuatnya melihat keberadaanmu dan membalas perasaanmu…”

“Aku harap ini bisa berjalan…” lirih Yesung pelan sambil menyentuh gelasnya lagi. Ia tampak berniat kembali meminum cairan itu, namun ketika bibir gelas baru menyentuh bibirnya ia menghentikan gerakannya. “Tapi kau benar-benar tak menyukainya, kan?” Tanya Yesung menoleh padanya. Jongwoon tersenyum, lalu mengangguk.

“Kali ini selera kita tidak sama..” lirihnya sambil meneguk minumannnya. Meninggalkan Yesung yang tampak berfikir sambil menatap cairan Wine di gelasnya.

*

Soeun memindahkan alat-alat lukisnya dari dalam tas untuk kembali menatanya di atas meja. Ia melakukannya dengan pelan, dengan konsentrasi yang terlihat tidak terlalu terfokus. Hal itu terbukti dengan pandangannya yang kosong sambil terus memindah-mindahkan alat lukis itu.

*Kiss*

Soeun reflek menghentikan gerakannya ketika ia mengingat hal itu kembali. Gadis itu terdiam, jemarinya mulai menyentuh bibirnya kembali. Dimana bagian itu masih terasa aneh sejak tadi.

“Yesung oppa begitu mencintaiku, seharusnya aku tidak menyia-nyiakan perasaannya hanya demi rasa cintaku yang semu…”

*

Pagi sudah kembali menggeser sang kegelapan, dan seperti biasa… kehidupan keluarga Kim selalu dimulai dengan acara sarapan bersama. Tuan Kim tampak sudah duduk di singasananya, ditemani oleh kedua cucu kembarnya yang tampak sibuk bercanda satu sama lain.

Tuan Kim melipat surat khabarnya. Pandangannya beralih pada kedua cucu kembarnya, lalu beralih pada bangku kosong yang terletak antara tempat duduknya dan Yesung.

“Soeun kemana? Apa belum juga keluar?” Tanya Tuan Kim pada salah satu Maid. Hal itu membuat Jongwoon dan Yesung yang awalnya saling bercanda ikut menoleh kearah kakeknya. Lalu serempak melirik bangku kosong diantara mereka.

“Aku disini, kek..”

Ketiganya menoleh ketika mendengar suara Soeun dari tangga. Benar saja, gadis itu tampak mendekat kearah mereka. Sebuah tas yang biasa ia gunakan untuk mengemasi alat lukisnya tampak bertengger di bahunya.

“Kau mau kemana, Soeunie?” Tanya Yesung heran. Gadis itu tersenyum, dengan samar.

“Karena pameran kemarin berjalan lancar, aku dan Teamku akan melakukan home stay selama tiga hari di Taean…” jawab Soeun.

“Hari ini juga?” Tanya Yesung lagi. Gadis itu mengangguk.

“Hum, bus yang akan membawa kami sedang menuju kemari. Aku yakin mereka akan sampai sebenatar lagi..”

Tuan Kim dan Yesung tampak saling mengangkat alisnya dan bertatapan. Beda lagi dengan Jongwoon yang hanya terdiam sambil terus melanjutkan acara sarapannya. Namun ia seperti mendengarkan dengan baik pembicaraan keluarganya yang lain.

“Apa begitu terburu-buru? Kau bahkan belum sarapan..” ucap Tuan Kim kemudian.

“Aku sebenarnya ingin sarapan, tapi aku tak mungkin membiarkan mereka menunggu terlalu lama…”

“Mau bagaimana lagi kalau begitu…” gumam Tuan Kim dan Yesung secara bersamaan. Sementara Jongwoon masih asyik dengan makanannya.

!!

Semuanya mendongakkan kepala ketika mendengar klakson mobil. Sepertinya bus yang menjemput Soeun telah datang.

“Itu mereka, Sungie oppa.. kakek aku pergi dulu…” ucap Soeun mulai panik sambil mendekati Tuan Kim dan Yesung. Ia menciumi kedua pipi Tuan Kim serta Yesung, setelah itu ia tampak memperbaiki posisinya dan menoleh pada Jongwoon. “Woonie oppa, aku juga mau minta maaf karena tidak ikut mengatarmu ke bandara ketika kau pergi ke Amerika. Aku berharap keberhasilanmu disana.. aku pergi!!”

Hanya itu, Soeun kemudian dengan cepat berlari meninggalkan tempat itu. Meninggalkan Tuan Kim yang menatap punggungnya, serta Yesung dan Jongwoon yang mengikuti kepergiannya dengan satu pertanyaan besar di fikiran mereka.

*

Seet~

Mini bus itu berhenti tepat di depan sebuah halte. Darisana, keluar seorang gadis dengan syal putih. Gadis itu tampak terseyum pada orang-orang yang tersisa di dalam, lalu membungkukkan badan.

“Aku benar-benar minta maaf karena telah merepotkan…” ucapnya pelan pada orang-orang yang ada disana.

“Sekarang kau mau kemana, Soeun?” Tanya salah satu temannya. Seorang gadis dengan pita di rambut pirangnya.

“Tentu aku mau melanjutkan rencanaku untuk liburan sendiri ke Taean. Aku akan segera pergi ke stasiun kereta api..”

“Tsk, aku cemas padamu. Kau terlihat berbeda dan aneh belakangan ini. Kau sampai membohongi keluargamu segala, apa benar tak apa-apa?” Tanya temannya yang lain ragu. Soeun tersenyum dan menganggukkan kepalanya.

“Tidak apa-apa, lagipula aku memang sedang ingin menenangkan diri. Aku yakin keindahan pantai Taean akan banyak menghiburku dan membantuku mendapat ide terbaru untuk melukis…”

“Baiklah kalau kau maunya begitu. Berhati-hatilah…”

“Hum…”

Mesin mini bus itu mulai kembali menyala. Membuat mereka semua mulai saling melambaikan tangan dan mengucapkan salam perpisahan. Tak lama mini bus itu mulai bergerak, meninggalkan gadis bersyal putih itu sendirian disana. Gadis itu menatap bus itu sampai menghilang, sebelum akhirnya menghela nafas dan mulai meninggalkan tempat itu.

*

Yesung terdiam di kamarnya sambil memainkan robot ditangannya. Senyumannya terkembang sambil menyentuh beberapa bagian tubuh robot pertama yang diberikan Jongwoon untuknya itu. Berusaha menginga kembali sejarah benda tersebut dengan persaudaraan hangatnya bersama Jongwoon.

“Kau terlalu banyak mengalah untukku. Sementara diriku? Apa yang pernah aku lakukan untukmu…” ucap Yesung sambil terus menggerak-gerakkan tangan kaku milik si robot. Menimbulkan keasyikan sendiri baginya dan sesekali ia terkekeh, mengenang cerita lugu miliknya dan Jongwoon tentang boneka itu beberapa tahun yang lalu.

Dan, sejelan dengan kenangan tua itu, kenangan baru tiba-tiba ikut teringat…

“Hey, bintang lapangan! Apa yang membuatmu sampai tersesat di toko buku!!”

Yesung berjengit merasakan seseorang menarik lehernya, kemudian menggayutinya. Membuatnya sedikit meringis merasakan serangan seseorang itu. Namun seperti malah puas, orang itu malah semakin mengapit lehernya.

“Aish, jangan berakting.. kau tak cocok dengan wajah lemah begitu. Aku akan membuatmu sampai kehilangan nafas…”

“K-aau… S-Shahah…” ucap Yesung dengan sulit karena merasa cukup sesak. Pemuda itu tampak mulai menoleh heran padanya.

“Apa katamu?

“Lheppas!”

Pada akhirnya Yesung berhasil meraih tangan pemuda itu. Melepaskan tangannya dari leher Yesung. Pemuda itu menatap heran.

“Aku bilang kau salah orang. Aku bukan Kim Jongwoon, aku Kim Yesung…”

“K-Kim Yesung?” Pemuda itu tampak terpana, bingung. Sebelumnya ia mengingat sesuatu dan ia tergagap. “A-A, yah, aku sepertinya telah salah. Maafkan aku…” ucapnya menyesal. Yesung tersenyum padanya.

“Tak perlu merasa tak enak, kau bukan orang pertama yang salah mengenali kami..”

“Habis.. kalian begitu identik. 99,99% mirip…” pemuda itu geleng-geleng kepala menyadari kekeliruannya. “Oiya, ngomong-ngomong kita belum berkenalan kembaran Jongwoon. Aku adalah Lee Hyukjae, sahabat terbaik Kim Jongwoon. Kau Kim Yesung bukan begitu?” Ucap Hyukjae sambil mengulurkan tangannya. Yesung balas menjabatnya.

“Ya, aku adalah Kim Yesung. Senang mengenalmu, Lee Hyukjae..”

Keduanya tampak kembali saling tersenyum satu sama lain…

 

“Tapi benar, kalian mempunyai kemiripan hampir mencapai angka sempurna. Hanya dandanan kalian yang sedikit berbeda..” celoteh Hyukjae sambil memutar sedotan minumannya. Saat ini mereka tengah berada di sebuah kafe di dekat toko buku tadi, rasaya sayang kalau pertemuan menarik ini hanya berjalan tanpa saling mengenal lebih jauh.

“Oiya, Jongwoon menyebut bahwa ia akan kuliah di Amerika. Apa itu benar?” Tanya Hyukjae setelah menyudahi tegukan jusnya yang pertama. Yesung tampak langsung mengangggukkan kepalanya.

“Ya.. dari awal dia memang terlalu menggilai basket dan NBA. Aku kira ia berfikir ini adalah saat yang tepat..”

“Tsk, aku akan merindukan teman terbaikku itu..” keluh Hyukjae. Yesung menoleh lagi padanya.

“Kau dan Jongwoon pasti begitu dekat ya?” Tanya Yesung. Hyukjae mendongak, lalu mengangguk.

“Tentu, kami begitu berteman baik dan dekat. Kami terlalu sering saling berbagi satu sama lain…”

Yesung hanya terdiam dan mengangguk mendengar perjelasan Hyukjae. Perlahan, ada sedikit perasaan sejenis cemburu dalam hatinya ketika mendengar penjelasan Hyukjae. Mereka sepertinya begitu dekat dan bahkan saling mengerti satu sama lain, mungkin Hyukjae adalah orang yang diangggapnya sebagai kembaran lainnya Jongwoon yang pernah sekali Jongwoon ucapkan padanya ketika dulu mereka masih bersitegang. Yah, Yesung mungkin mulai tahu bagaimana perasaan Jongwoon ketika dulu Yesung lebih banyak menghabiskan waktu bersama Soeun.

“Tapi..” Eunhyuk menggeser posisi duduknya sambil mengatakan sesuatu. Membuat Yesung ikut menoleh padanya. “Belakangan kurasa ia mulai main rahasia-rahasiaan denganku, jujur saja.. aku masih belum mengerti dengan niatnya yang ingin pindah ke Amerika secara tiba-tiba…”

“Dia menyebutnya juga tiba-tiba kepada kami..” timpal Yesung.

“Memang, tapi.. aku melihat belakangan ia juga ikut berbeda…” jelas Hyukjae. Membuat Yesung menoleh padanya. “Entah hanya firasatku atau tidak, yang jelas kepergiannya bukan hanya bentuk obsesinya terhadap NBA. Namun ada faktor lain disana, kurasa tentang cinta…”

“Cinta?” Tanya Yesung tak yakin. Sementara Hyukjae langsung mengangguk dengan yakin.

“Kau pasti sangat tahu kalau Jongwoon itu benar-benar tertutup soal cinta, malah aku sempat berfikir dia sedikit punya kelainan karena ia terlihat tak tertarik pada ratusan wanita yang mengejarnya. Namun belakangan ia mulai mengeluh dan bertanya banyak padaku soal cinta, aku tak tahu… tapi pertanyaan-pertanyaan itu terdengar penuh frustasi…”

“Maksudmu?

“Ia pernah bertanya mengenai perbedaan benci dan cinta, tanda-tanda ketika kau menyukai seseorang, bahkan cara melupakan seseorang yang kita sukai. Itu semua benar-benar aneh bagiku, belum lagi ketika belakangan ia sering menangis ketika ia sudah mabuk karena pengaruh minuman…”

“Menangis?

“Hm, kau adalah yang paling sering ia tangisi ketika ia sudah mabuk. Hubungan kalian tidak terlalu baik, bukan? Ia tak pernah lupa menyebut namamu ketika ia menangis. Menceritakan tentang betapa sayangnya ia padamu, jujur aku merasa heran melihat sosok karismatiknya menjadi begitu menyedihkan setiap kali mabuk dan menceritakanmu…”

“Hm, itulah sebenarnya dia. Dia hanya pura-pura dingin dan kuat, padahal dia cukup rapuh…”

“Dan, sekali ia pernah menyebut nama lainnya ketika ia mabuk. Nama wanita, ku kira wanita ini adalah wanita yang membuatnya patah hati…”

“Wanita? Siapa?

“Hhum, tunggu. Aku kira aku butuh mengingatnya, karena ia benar-benar hanya menyebutnya satu kali. Kalau tidak salah namanya adalah Im.. Im.. Im So.. Im So.. eung, bukan, mungkin Kim.. Kim So…”

“Kim So Eun?

“Hah, ya! Kim So Eun, benar. Aku rasa itu adalah wanita yang membuatnya patah hati. Apa kau mengenalnya?

Sementara Yesung hanya terdiam dan otaknya kembali memikirkan yang lain.

“Hh..”

Yesung menghela nafasnya ketika ia menginga pertemuannya dengan teman Jongwoon beberapa hari yang lalu. Ia kemudian menoleh kembali pada robotnya, memainkan tangan kaku itu lagi.

“Dan… jika semua itu benar. Apakah menurutmu saat ini Jongwoon sedang kembali mencoba mengalah untukku?” Tanya Yesung pelan pada benda mati itu. Matanya terus menatap benda tersebut, berusaha mencari jawaban dari benda mati tersebut. Hingga akhirnya ia seperti menemukannya, Yesung kemudian mengangguk dan bergerak keluar dari kamarnya.

*

“Woonie!”

Hup!

Jongwoon reflek menangkap bola basket yang dilemparkan tiba-tiba oleh Yesung padanya. Jongwoon memperbaiki posisi duduknya, menatap kembarannya yang tersenyum smirk padanya.

“Ada apa?” Tanya Jongwoon heran sambil memperhatikan Yesung yang sudah siap dengan pakaian basketnya. Jongwoon tampak melepas Headphone yang tadi dipakainya.

“Ayo kita main basket..” ajak Yesung sambil mengedikan kepalanya. Jongwoon masih menatap bingung padanya, menautkan alisnya. “Tsk, kenapa wajahmu benar-benar aneh begitu ketika aku mengajakmu. Ayolah, aku sudah tak sabar mengalahkanmu…” ucap Yesung sambil melenggang keluar kamar Jongwoon. Meninggalkan Jongwoon yang masih bingung sambil menatap bola ditangannya. Namun tak lama ia tampak mulai tersenyum, mulai bangkit dari tempat duduknya dan menyusul Yesung.

*

Dragg…

Bola itu memasuki keranjang untuk yang kesekian kali. Membuat Jongwoon yang masih terduduk dilantai sedikit menengadah, mengikuti bola yang mulai menggelinding menjauh.

“Ada apa denganmu, Bintang lapangan? Bagaimana mungkin kau kalah dengan seorang aktor teater..” ledek Yesung sambil mendekat. Ia kemudian mengulurkan tangannya pada Jongwoon, membantu Jongwoon berdiri.

“Huh, ada apa denganmu hari ini. Kau terlalu banyak energi..” tanggap Jongwoon sambil menerima uluran tangan Yesung. Yesung menjawabnya dengan kekehan kecil.

“Bukan aku yang terlalu berenergi, kau yang terlalu lesu atau mengalah? Entahlah.. yang pasti kau membuat gamenya tidak menyenangkan..” ucap Yesung sambil menjemput bola tadi. Meninggalkan Jongwoon yang menatap setiap pergerakannya. Dilihat dari sisi manapun, Yesung memang terlalu berbeda belakangan ini. Mengajaknya minum, dan sekarang mengajak tanding basket. Belum lagi keagresivan Yesung dalam bermain, membuat Jongwoon bahkan melihat sosok yang berbeda dari sosok Yesung yang sekarang. Sosoknya sendiri? Entahlah, yang jelas sosok ini memang benar-benar berbeda.

“Tsk, kau melamun lagi?!”

Hup!

Lagi Jongwoon reflek menangkap bola yang dilempar Yesung mendadak. Sementara Yesung malah kembali menyeringai sambil mengambil posisinya dan bersiap-siap, mengintai Jongwoon yang masih terpana sambil memegang bola ditangannya.

“Ayolah!” Seru Yesung tak sabar. Membuat Jongwoon ikut tersadar dan mulai berfikir memainkan bola ditangannya. Ia mulai memantul-mantul bola itu ketanah dan bersiap untuk melewati Yesung untuk mendekati keranjang. Namun tiba-tiba Yesung bergerak cepat dan menangkap pergerakan Jongwoon dengan sebuah dorongan yang sedikit kasar. Membuat bola itu terebut dan lagi-lagi Yesung mencatat angkanya.

*

Kereta api ini berjalan cukup pelan memasuki sebuah terowongan. Di dalamnya semua orang telah terlelap untuk mengikuti alunan musik yang dipantulkan angin yang berlalu lalang. Meninggalkan seorang gadis bersyal putih tadi yang masih terjaga sambil menatap keluar jendela.

“Hh..”

Ia menghela nafas. Gadis itu menengadahkan wajahnya ke atas langit, menatap hamparan langit yang biru. Yang diselingi awan-awan yang menghiasinya. Pandangannya menanar, lalu satu tangannya terangkat. Mencoba berimajinasi seakan-akan ia dapat menyentuh hamparan menakjubkan itu.

“Kau benar-benar tinggi. Bagaimana mungkin aku pernah bermimpi untuk mengggapaimu?” ucapnya pelan. Tangannya terus menyentuh udara, tetap berimajinasi kalau ia dapat menyentuh angkasa. “Aku tetap tak akan bisa menggapaimu walau seperti apapun aku mencoba…”

Ia menurunkan tangannya dan mengalihkan pandangannya dari langit. Gadis itu kemudian menyandarkan tubuhnya yang lelah, pandangannya tadi mulai kembali terlihat kosong dan menatap lurus kedepan sana.

“Mungkin memang ini saatnya, aku… berhenti berharap bisa menyentuhmu. Ini melelahkan dan tak ada gunanya…” gumamnya pelan. Gadis itupun mulai memejamkan matanya.

*

Hup!!

Bragg!!

Angka untuk Yesung kembali tercipta, sementara angka kejatuhan Jongwoon juga ikut bertambah disana. Entah sejak kapan, permainan jadi terlalu panas – bagi Yesung. Entah untuk keberapa kali Jongwoon harus terjatuh ke tanah akibat obsesinya untuk menang.

“Ss..” Jongwoon meringis pelan sambil memegangi sikunya, dimana untuk kesekian kalinya bagian itu membentur tembok lapangan dibawahnya.

“Tsk, kau kenapa Woonie? Ini terlalu membosankan…” keluh Yesung sambil kembali mendekat dan mengulurkan tangannya untuk membantu kembarannya berdiri. Jongwoon sedikit mendesah, lalu menerima uluran tangan itu.

“Kau malah terlihat bersenang-senang…” ucapnya santai sambil bangkit dengan sedikit tertatih. Membuat Yesung mendesah bosan.

“Itu karena kau yang selalu mengalah, ayolah… permainan tidak lagi seru kalau hanya satu pihak yang minat untuk bertanding…” omel Yesung serius. Sementara Jongwoon hanya terkekeh pelan sambil sedikit tertatih ke pinggir lapangan, meraih minuman. Yesung mengikutinya dengan bosan. “Ayolah, tunjukkan kepandaianmu. Setahuku kau bahkan bisa mengalahkan lawan yang tubuhnya dua kali lebih besar darimu, tapi kenapa baru segini saja kau sudah terlihat payah…”

“Aku hanya memakai kekuatan ketika aku benar-benar bertanding, Yesungie…”

“Lalu kau tak menganggap ini bertanding?”

Jongwoon hanya terkekeh pelan mendengar omelan Yesung. Ia terus melanjutkan kegiatannya untuk minum. Meninggalkan Yesung yang menatapnya semakin bosan, semakin kesal.

“Aku serius bilang kalau kau tak harus selalu mengalah untukku, Woonie…” ucap Yesung agak meninggi. “Aku bukan anak kecil lagi…”

Jongwoon menghentikan gerakannya. Menatap pada Yesung setelah mulai merasa aroma pembicaraan mulai berubah begitu saja. Yesung menunjukkan wajah tak senangnya.

“Aku memang lebih muda darimu, tapi aku tak lebih muda bertahun darimu, kau hanya lebih tua dariku dalam beberapa menit. Jadi berhentilah memperlakukanku seperti anak kecil. Karena kita seumuran…” ucap Yesung dingin. Membuat Jongwoon benar-benar menoleh padanya.

“Kemana arah pembicaraanmu?”

“Kau begitu tahu itu!” sambar Yesung cepat. “Mainan, robot, bahkan pertandingan ini.. kau mungkin bisa mengalah untukku dalam beberapa alasan. Tapi tidak untuk perasaan, aku benar-benar tak suka dengan perlakuan sok mengasihimu…”

“Sungie..”

“Apa kau fikir aku masih anak lima tahun yang akan menangis hanya karena tak mendapatkan keinginanku? Kau fikir aku seorang pesakitan hingga kau perlu mengasihiku? Aku benar-benar tak suka dengan caramu!”

Hening sesaat, keduanya masih saling bertatapan. Larut dalam atmosfer yang tak terlalu nyaman ini. Yesung masih menatap Jongwoon dengan kesal sementara Jongwoon hanya balas menatap. Mencoba lebih mendalami sinaran mata Yesung.

“Kau juga mencintai Soeun, bukan? Namun karena kau tahu perasaanku padanya itu sebabnya kau begini. Kau kembali berlagak sok menjadi pahlawan bagiku, tapi kau tahu… kau malah membuatku benar-benar membencimu. Kau merusak semuanya, merusak hati Soeun dan membuatnya menangis..”

“Ye—“

“Kau bodoh!”

Jongwoon terkesiap, sementara Yesung terus menatapnya lebih tajam.

“Lihat, aku bukan anak kecil lagi, aku bahkan dapat mengalahkanmu atau melukaimu seperti itu. Apa yang ada di dalam fikiranmu ketika kau berfikir mengorbankan cintamu untukku. Seingatku bahkan kau tak pernah mau balas memukulku walau aku sudah membuatmu babak belur. Apa namanya kalau tidak bodoh?”

“Tentu aku tak ingin kau terluka..”

“Sial, kau terus menganggapku seperti seorang bocah! Kau tak lihat aku bukan anak kecil lagi!” ucap Yesung kesal sambil mendorong kedua bahu Jongwoon. Membuat botol minuman tadi terjatuh begitu saja kelantai. “Dengar itu, bodoh?!”

Jongwoon mulai terpancing kesal, ia menatap botol minumannya yang jatuh ke tanah. Lalu beralih menatap Yesung yang masih menatap tajam padanya.

“Hentikan Sungie—“

“Bagian mana yang harus dihentikan!” tantang Yesung kembali mendorong bahu Jongwoon. “Kau yang harus berhenti!”

“Yesung!”

“Kau mau memukulku, ayolah.. ini sudah bertahun lamanya kau tak pernah melakukannya…”

“Yesung!” seru Jongwoon kesal dan mulai muak sambil menepis kedua tangan Yesung yang terus menganggunya. Ia balas menatap tajam Yesung. “Hentikan!” desisnya tak suka. Malah tatapan Yesung yang melunak saat tatapan Jongwoon menajam.

“Kau yang seharusnya menghentikan kebodohanmu, bodoh. Berhentilah berbuat bodoh…”

“Aku benar-benar tak suka dengan arah bicaramu. Dari dulu kau tetap sama, kau masih kekanakan. Jadi berhentilah bersikap dewasa…” desis Yesung lagi sambil menyambar handuknya. Ia menatap Yesung kembali dengan tatapan tajam, lalu berbalik dan berniat meninggalkan tempat itu.

“Tapi kau telah menghancurkan hatiku! Kau menyakitiku dengan menyakiti Soeun, sampai kapan kau mengerti itu, bodoh?!” Seru Yesung lagi. Membuat langkah Jongwoon terhenti. “Mengertilah, mengalahmu kali ini sama sekali tidak menguntungkan untuk siapapun. Untukmu, untuk Soeun, bahkan untukku…”

“Sungie—“

“Berhentilah berfikir bahwa hanya kau yang dewasa disini Woonie. Ayolah, ini menyesakkan sekali dengan kau memperlakukan aku dan Soeun begini…”

Jongwoon menghela nafas, lalu kembali berbalik. Menatap Yesung kembali dengan tatapannya yang menanar.

“Lalu aku seharusnya bagaimana Sungie. Kau bahkan juga tidak mengerti akan apapun. Tolong fahami juga posisiku..”

*

Pantai Taean masih terlihat begitu indah walau langit sudah terlihat mulai kelabu. Sinar matahari tampak memudar, tertutup oleh awan yang muram. Mulai membiaskan kedatangan malam bersama hujan yang mulai turun tetes pertetes.

Namun, gadis itu masih disana. Menatap kosong hamparan lautan yang masih mempermainkan ombak untuk datang dan pergi. Air langit mulai berjatuhan, namun ia masih terdiam disana dan enggan untuk bergerak. Seakan tak memperdulikan air yang mulai turun lebih lebat.

Perlahan, langkah yang lainnya mendekat. Membawa dua kaki itu untuk mendekati sosok yang masih terpaku bermandikan air hujan.

!

Soeun menengadah ketika merasakan air yang daritadi membasahinya mulai tak berjatuhan lagi membuatnya basah. Ia mendongak, menatap seseorang yang entah sejak kapan sudah berada di belakangnya. Memayunginya.

“Apa yang kau lakukan hujan-hujan begini..” sapa pemuda itu dengan senyumannya yang lembut. Soeun tampak mengerutkan dahinya bingung, lalu mulai bangkit dari hamparan pasir pantai yang di dudukinya.

“Sungie oppa, kenapa kau disini?”

“Untuk menegurmu, tsk, bagaimana mungkin kau membohongi kami semua dengan bilang kalau kau kemari bersama teman-temanmu. Tapi nyatanya kau hanya sendiri disini..” ucap Yesung memasang wajah pura-pura marah. Soeun langsung memasang wajah tak enak dan merasa bersalahnya.

“Maafkan aku…”

“Tak usah difikirkan…” ucap Yesung santai sambil terrsenyum ringan. Ia menyentuh kepala Soeun, menyingkirkan tetesan-tetesan air hujan yang berada disana. “Hujan akan bertambah lebat. Sebaiknya kita mencari tempat berteduh. Kau sudah mendapatkan tempat untuk menginap?” Tanya Yesung. Soeun langsung mengangguk cepat, membuat Yesung tersenyum. “Ya sudah, lebih baik kita kesana. Ayo..” ajak Yesung. Soeun tampak mengangguk, lalu kemudian keduanya mulai meninggalkan tempat itu. Berjalan menuju jajaran penginapan berbentuk pondok kecil yang berjejer ditepian pantai.

*

Yesung memperhatikan satu persatu alat lukis yang bertebarang di atas meja. Saat ini Soeun sedang mengganti pakaiannya yang basah akibat kehujanan tadi. Meninggalkan Yesung sendirian di tempat itu dan mulai menghilangkan rasa bosannya dengan mengotak-atik alat lukis Soeun.

“Oppa mau aku buatkan sesuatu?” Tanya Soeun dari arah dapur. Sepertinya ia sudah selesai berpakaian dan tanpa sepengetahuan Yesung ia sudah berada bergerak ke dapur.

“Apa saja yang penting hangat!” sahut Yesung tanpa menoleh. Ia masih juga memperhatikan satu persatu alat lukis Soeun.

Selang beberapa menit Soeun tampak sudah kembali dari dapur dengan dua cangkir cokelat panas ditangannya. Ia kemudian bergabung dengan Yesung yang kali ini asyik membolak-balik kertas sketsa Soeun.

“Minum dulu, oppa..” tawar Soeun sambil meletakkan salah satu gelas di hadapan Yesung. Yesung tampak menoleh sesaat dan mengangguk, sebelum akhirnya kembali memperhatikan kertas sketsa Soeun.

“Gambarmu bagus-bagus…” puji Yesung pelan. Membuat Soeun menghentikan minumnya dan menoleh pada Yesung.

“Tentu saja, aku memang ditakdirkan untuk menjadi pelukis terkenal. Oppa harus tahu itu..” ucapnya bangga. Yesung tampak terkekeh mendengar jawaban Soeun, lalu kembali membalik kertas-kertas itu.

“Aku penasaran apa kau bisa melukis wajahku atau tidak..” lirih Yesung. Soeun kembali menoleh padanya.

“Tsk, sikap narsismu muncul lagi..” ucap Soeun pelan sambil berniat kembali meminum cokelat panasnya.

“Seingatku kau belum pernah melukis sesuatu yang berhubungan denganku, adapun kau melukis sesuatu yang berhubungan dengan Jongwoon..” timpal Yesung kemudian yang lagi-lagi membuat Soeun menghentikan gerakannya. Soeun terdiam, entah kenapa mendengar nama itu menjadi sengatan sendiri untuknya. Hal itulah yang membuat Yesung tersadar dan menoleh padanya. “Kenapa kau tiba-tiba diam?” Tanya Yesung. Soeun segera tersadar dan menggeleng.

“Tidak apa-apa..” sahutnya sambil kembali melanjutkan kegiatannya meminum cokelat panasnya yang tadi terhenti tiba-tiba. Yesung tampak menatap Soeun sedikit lama akibat perubahan sikapnya, lalu ia kemudian mendekati Soeun.

“Kenapa? Apa aku salah bicara?” Tanya Yesung pelan. Soeun dengan cepat menggeleng.

“T-Tidak… tentu tidak…”

“Lalu kenapa ekpresimu berubah ketika aku membahas Jongwoon. Kau tidak suka aku membahasnya?” Tanya Yesung lagi. Soeun hanya terdiam mendengar kata-kata Yesung, bingung untuk menjawab apa. Tak lama perhatiannya kembali pada Yesung.

“Tsk, oppa juga kehujanan. Pakaianmu basah, kau seharusnya menggantinya…” ucapnya mengalihkan pembicaraan sambil berniat menyentuh kemeja Yesung. Namun tangannya tiba-tiba dicegat Yesung, yang mau tak mau membuat keduanya saling bertatapan.

“Kau belum menjawabku…”

Soeun menghela nafasnya, ia lalu mengalihkan perhatiannya kearah lain. Yesung menunggu jawabannya dengan sedikit was-was.

“Aku akan mengambilkan handuk untuk oppa…” ucap Soeun sambilbergerak dari tempat duduknya dan menghindari pertanyaan Yesung. Ia kembali kearah dimana terakhir ia meletakkan handuk dan meninggalkan Yesung yang terdiam ditempat duduknya. “Tak ada baju ganti yang bisa kau pakai disini oppa, siapa suruh kau datang secara tiba-tiba..” ucap Soeun tak lama setelah itu.

Ia tampak bergerak mendekati Yesung yang kini sudah berdiri di dekat jendela. Mendekatinya hingga mereka begitu dekat, sebelum akhirnya berjinjit untuk membantu Yesung mengeringkan rambutnya yang basah.

Dan lagi diam… keduanya hanya sama-sama sibuk dengan kegiatan masing-masing. Baik Soeun yang sibuk mengeringkan rambut Yesung ataupun Yesung yang sibuk memandangn Soeun. Menahan pertanyaan yang masih tertahan diujung lidahnya.

“Soeun…”

Suara Yesung menggema tak lama. Soeun mulai menoleh padanya setelah itu.

“Hum?”

“Apa kau begitu mencintai Jongwoon?”

Soeun kembali menghela nafas. Ia menghentikan pekerjaannya dirambut Yesung. Lalu menyerahkan handuk tadi ketangan Yesung.

“Aku akan membuatkanmu makan—“

“Tolong jawab aku, Soeun…” cegat Yesung sambil menahan Soeun pergi dengan menarik salah satu pangkal lengannya. Membuat Soeun kembali berbalik padanya, begitu dekat dengannya. “Jawab aku..” ulangnya.

“Oppa…”

“Jawab aku Soeun…”

Yesung semakin membawa Soeun mendekat padanya, seiring pertanyaannya yang semakin mendesak. Soeun tampak masih berusaha menghindarinya, walau kian terasa sulit ketika Yesung terus mengikis jarak antara keduanya.

“Oppa aku—“

“Tatap aku ketika kau menjawabnya…”

Soeun menyerah. Pada akhirnya ia mengangkat wajahnya, mulai membalas tatapan Yesung apapun yang terjadi. Membiarkan Yesung melihat sendiri air matanya dengan matanya yang Soeun yakin juga akan membasah dengan semua ini. Mereka sudah sama-sama memahami hati masing-masing.

“Beritahu aku sekali lagi perasaanmu…”

Soeun sedikit terpana ketika untuk pertama kalinya menemukan sepasang mata milik Yesung. Baru ia sadari kini bahwa mata itu berubah, lebih tajam. Reflek Soeun mengalihkan perhatiannya, tangannya yang sejak tadi sudah menyentuh bahu Yesung bergerak, menyingkap sediki leher kemeja yang digunakan oleh laki-laki di depannya. Dan setelah itu ia terasa membeku, tangannya bahkan sampai bergetar. Hampir saja ia jatuh dari tempatnya berdiri kalau tidak dengan cepat laki-laki itu menahan pinggangnya.

“W-Woonie… oppa…” ucapnya bergetar dan tak percaya sambil kembali menatap kedua mata itu. Laki-laki itu balas menatap dalam mata Soeun dengan matanya yang membasah. Ia menganggukkan kepalanya.

“Ne, ini Jongwoon. Kim Jongwoon. Maaf…”

“Oppa—“

“Maaf, benar-benar maaf..” ucap Jongwoon lagi sambil kali ini menarik Soeun kedalam pelukannya. Memeluk tubuh itu erat sambil terus mengucapkan kata yang sama. Maafkan aku… maafkan aku… dan,

“Aku juga sangat… mencintaimu…”

*

Yesung masih terduduk di lapangan basket tersebut dan membiarkan hujan membasahi tubuhnya. Pandangannya menatap lurus menembus rintikan-rintikan hujan, mengenang kembali apa yang terjadi.

“Kejar cintamu, Woonie. Jangan sampai kau menyesal nantinya…” ucap Yesung dengan yakin. Sementara Jongwoon menatapnya sedikit lama, ragu.

“Tapi Sungie, bagaimana denganmu?

“Kau tahu itu bahwa aku akan baik-baik saja. Berapa kali aku harus mengulang bahwa aku bukan anak kecil yang selemah itu…”

“Sungie—“

“Kumohon, Woonie…”

Kedua kembaran itu terdiam sesaat. Masih saling bertatapan, sebelum akhirnya pemilik onix mengalihkan perhatiannya dan menunduk.

“Tapi sudah terlambat, Sungie. Dia pasti… sudah membenciku…” lirih Jongwoon. Yesung dengan cepat menggeleng.

“Tidak, dia tidak akan membencimu, percayalah. Kau harus tahu bahwa hatinya begitu mengagumkan, Woonie. Dia pasti akan begitu senang ketika menyadari untuk pertama kalinya kau datang, datang padanya…”

“Benarkah?

“Hum.. cepatlah, pergi sekarang. Jangan biarkan ia terlalu menunggu…”

“Apa maksudmu?

“Susul ia ke Taean, nyatakan kebenarannya padanya. Buat semua ini lebih jelas…”

“Tapi—“

“Dia menunggumu, Jongwoonie…”

Jongwoon terdiam, menatap mata kembarannya itu sekali lagi. Dimana kembarannya itu menatapnya dengan pandangan yang meyakinkan, memberikan semangat untuknya.

“Terima kasih, Yesungie..”

Yesung mengangguk cepat. Ia kemudian berjalan kembali mendekati Jongwoon, menerjang Jongwoon setelah itu dan memeluknya erat.

“Aku percayakan dia padamu, kumohon jagalah dia sebaik-baiknya…”

Yesung tersenyum halus ketika ia kembali mengingatnya. Ia kemudian menengadah wajahnya, menatap langit yang masih menurunkan butiran-butiran hujan.

“Soeun, sekarang langit itu ada dalam jangkauanmu. Berbahagialah..”

*

Kedua orang itu masih saling berpelukan dengan erat, berusaha melepaskan kerinduan dalam hati keduanya. Yang perempuan tampak sudah tak bisa mengatakan apapun lagi, terus menangis dibahu laki-laki yang memeluknya dengan erat. Dimana laki-laki itu masih menggumamkan kata-kata yang sama. Maaf dan aku mencintaimu.

“Maaf, benar-benar maafkan aku…” ucapan itu kembali terdengar pelan untuk keberapa kalinya. Sementara gadis itu terus menangis dibahunya, semakin memeluk tubuh ini lebih erat seakan takut melepasnya. “Maafkan aku,sungguh aku menyesalinya. Maafkan aku..”

“Kau mau memaafkanku, bukan?”

Sebuah gelengan. Ucapan Jongwoon tertahan, ia berusaha menatap wajah Soeun setelah itu.

“Kau tak mau memaafkanku?” ulangnya. Lagi-lagi Soeun menggeleng. “Kenapa?”

Lagi-lagi sebuah gelengan. Entah apa maksud Soeun yang jelas ia terus memeluk Jongwoon semakin erat, terus menangis sementara ia terus menolak kata maaf dari Jongwoon.

“Soeun—“

Lagi-lagi kata itu terhenti ketika Soeun kembali menggeleng. Kali ini menolak ketika Jongwoon berniat melepas pelukan mereka. Soeun malah semakin memeluknya erat.

“Jangan berniat pergi lagi dariku…” ucap Soeun serak sambil terus mempertahankan pelukannya. Jongwoon terdiam, sedikit tak mengerti dengan sikap Soeun. “Jangan pernah pergi lagi, jangan…”

“Aku tak akan kemana-mana…”

“Jangan lepas pelukanmu…” ucap Soeun sambil terus memeluk Jongwoon. “Aku tak mau melepasmu walau mungkin ini hanya sebatas mimpi. Aku tak mau melepasmu…”

Jongwoon terdiam, semakin kesininya ia semakin mengerti. Ia menurut, semakin memeluk pinggang Soeun dimana Soeun memeluk lehernya dengan erat. Ia kemudian mencium rambut Soeun dengan sayang, sebelum kembali membisikkan kata yang sama.

“Tolong maafkan aku…”

“Kumohon, maafkan aku…”

“Benar-benar maafkan aku..”

“Maaf—“

Ciuman Jongwoon terhenti, begitupun dengan ucapan maafnya ketika Soeun melepas pelukan mereka. Gadis itu kini berdiri di depannya, menatapnya.

“Aku tak butuh kata maafmu, sungguh. Aku tak butuh itu. Bukan itu yang ingin kudengar darimu…”

“Lalu apa?”

“Kata-kata yang satunya… hanya itu satu-satunya kata yang ingin kudengar darimu—“

“Aku mencintaimu…” potong Jongwoon cepat. Sementara Soeun masih terdiam, menatapnya tak percaya.

“Oppa—“

Ucapan Soeun ter-intrupsi ketika Jongwoon lagi-lagi meraih pinggangnya. Membuat mereka kembali dekat. Keduanya saling bertatapan, dan kedua tangan Jongwoon mulai kembali bergerak. Menangkup kedua pipi Soeun.

 “Aku bilang mencintaimu, kau dengar itu? aku mencintaimu. maaf untuk semua kebodohanku selama ini. Aku benar-benar menyesalinya. Mohon maafkan aku…” ucap Jongwoon lirih, pelan, namun begitu jelas terdengar bagi Soeun. Jongwoon tersenyum menatap mata Soeun yang kembali membasah, Gadis itu malah kembali menangis.

“Apa ini benar kau?”

“Hhum, ini benar-benar aku. Kim Jongwoon…”

“Tapi kenapa tiba-tiba—“

Ucapan Soeun kembali terhenti karena Jongwoon tiba-tiba mengecup bibir itu singkat. Soeun mendongak, menatap mata itu kembali dimana sepasang onix yang biasanya dingin itu mulai memancarkan kehangatannya untuk pertama kali.

“Aku yang bodoh, maafkan aku. Kau tak tahu betapa aku benar-benar menyeseali semuanya, kau mau memaafkanku bukan?” Tanya Jongwoon lagi. Matanya terus menatap dalam lelehan caramel milik Soeun. Berusaha meyakinkannya. “Tolong maafkan aku…”

“Apa oppa benar-benar mencintaiku, aku.. Kim Soeun, apa mungkin seorang Kim Jongwoon bisa mencintaiku?” Tanya Soeun masih memancarkan keraguan. Jongwoon kembali tersenyum.

“Kau seharusnya melihatnya sendiri. Ya, ini aku… seseorang yang sebenarnya juga telah lama mencintaimu…”

Jongwoon kembali melingkarkan tangannya di pinggang Soeun dan membawanya mendekat. ia kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah Soeun. Mencium bibir itu untuk ketiga kalinya. Menciumnya dengan lembut, dengan sayang. Mencoba engalirkan rasa yang sebenar-benarnya dari dirinya setelah selama ini perasaan itu terlalu lama tersimpan di dalam pribadinya yang membeku.

Aku mencintaimu…

 [The End..]

Wha~ akhirnya menemukan ending ini setelah hampir berkutat dengan cerita beberapa versi. Maaf untuk semua typo, ke-lebay-an, atau ketidak tepatan endingnya. Ini adalah usaha terakhirku setelah sebelumnya aku sempat menghapus kembali hampir 30 halaman untuk menemukan ending yang tepat. Semoga tidak terlalu ngecewain ya… gomawo, all *bow bareng Yesung*

 

 

 

69 Comments Add yours

  1. tanti no kawai mengatakan:

    # “Kau terus menolakku, memaksaku untuk membencimu namun disaat yang sama menghalangiku untuk melakukan itu. Kau terus disana, dengan ambisimu, dengan keras kepalamu sambil terus menyakitiku. Kau sudutkan dengan semua ketidak pedulianmu. Tapi bodohnya aku, DISAAT YANG SAMA AKU MASIH BERHARAP KAU TERUS DIDEKATKU WALAU HANYA SEKEDAR MENATAP BENCI PADAKU. Sekarang.. kau baru datang.  KAU BARU BAIK PADAKU SEBELUM KAU PERGI. Kau tak punya hati! Menyebalkan!!”

    Baik terus seperti ini dan mengharap penyelesaian. Dengan terus bertindak seperti ini setidaknya Soeun akan benar-benar membencinya. Setidaknya Soeun akan melupakannya. Setidaknya Soeun akan menghapus perasaannya. Lalu.. Yesung akan selalu bersamanya untuk menemani Soeun. Mengobati lukanya. Lalu Soeun—
    – Akan membalas perasaan Yesung.

    “Ini cinta dalam sudut pandangku, membuatmu merasakan bahagia sepanjang hidupku. Aku tahu bahwa kau belum mencintaiku, tapi aku yakin secara perlahan kau akan mulai melihat keberadaanku. Karena kau harus kembali mengingat bahwa hanya akulah satu-satunya tempat ternyaman yang bisa kau singgahi…”. #
    Bener2 di buat mewek ma Line Ĭηĭ … (-̩̩̩⌣́_⌣̀-̩̩̩)

    “Hhum, tunggu. Aku kira aku butuh mengingatnya, karena ia benar-benar hanya menyebutnya satu kali. Kalau tidak salah namanya adalah Im.. Im.. Im So.. Im So.. eung, bukan, mungkin Kim.. Kim So…”
    #LoL hyukppa# kekekke

    #Soeun sedikit terpana ketika untuk pertama kalinya menemukan sepasang mata milik Yesung. Baru ia sadari kini bahwa mata itu berubah, lebih tajam. Reflek Soeun mengalihkan perhatiannya, tangannya yang sejak tadi sudah menyentuh bahu Yesung bergerak, menyingkap sediki leher kemeja yang digunakan oleh laki-laki di depannya. Dan setelah itu ia terasa membeku, tangannya bahkan sampai bergetar. Hampir saja ia jatuh dari tempatnya berdiri kalau tidak dengan cepat laki-laki itu menahan pinggangnya.

    “W-Woonie… oppa…” ucapnya bergetar dan tak percaya sambil kembali menatap kedua mata itu. Laki-laki itu balas menatap dalam mata Soeun dengan matanya yang membasah. Ia menganggukkan kepalanya.

    “Ne, ini Jongwoon. Kim Jongwoon. Maaf…”

    “Oppa—“

    “Maaf, benar-benar maaf..” ucap Jongwoon lagi sambil kali ini menarik Soeun kedalam pelukannya. Memeluk tubuh itu erat sambil terus mengucapkan kata yang sama. Maafkan aku… maafkan aku… dan,
    “Aku juga sangat… mencintaimu…” # Ikut tegang dan merinding baca line Ĭηĭ …. ><

    Kyaaa…. Bener2 akhir Ϋά̲̣̥ηġ tak ϐïśª di tebak_kiraen jongwoon bener2 merelakan ηγά̲̣̥ untuk Yesung…..
    Dan lihat betapa saudara kembar itu saling memahami dan melengkapi satu S̤̥̈̊ɑ̤̥̈̊м̣̣̥̇̊ɑ̤̈̊ laen…

    Endinggg Ϋά̲̣̥ηġ kerennnnn putriiii….. 

    #Huaaaa…. Akhirrrnyaaaa di post juga lanjutan ηγά̲̣̥….
    Sempet pesimis dan shock juga_waktu baca status putri Ɣªήğ bilang mau bikin ff yaoi…
    Huhuhuhuh
    #semoga itu cumn April-Moop yah putri???# Ơ̴̴͡.̮Ơ̴̴̴͡

  2. ssoangel mengatakan:

    huaaaaa so sweet bgt akhirnya, walaupun ga tega cinta yesung ga terbalaskan..
    kirain endingnya mereka bertiga bakal tete saudaraan thor hehe. daebak daebak!
    bikin special partnya thor hehe :p
    ditunggu karya selanjutnya hwaiting😀

  3. Dear Dhiyah mengatakan:

    Happy ending ^_^
    dan semoga Yesung juga menemukan kebahagiannya

  4. AngelsShe~ mengatakan:

    kya keren ban9et *o*
    akhirx woonsso b’rsatu ju9a untk yesung ngak usah s’dih kan ada autor (putri) !!
    endingx so sweet bnget aq suka . . aq suka . .aq suka

  5. nurul mengatakan:

    ah gak bisa coment pokoknya DAEBAK!!
    SEKUEL SEKUEL SEKUEL

  6. kim yesso mengatakan:

    WOW
    WOW
    WOW
    SERUUU BGT

    ‘n aq hrap ff yg laen segera dilnjutin jga y🙂

  7. elisa mengatakan:

    tetap yg terbaik…DAEBAK AUTHOR….
    tetap bekarya..faighting…..

  8. rakha mengatakan:

    ini keren kok, apalagi pas so eun baru tau klo itu jongwon, aku yg bacanya bener2 dapet feelnya..
    Di tunggu ff selanjutnya terutama kyusso n haesso!

  9. andri susilowati mengatakan:

    waaaa akhirnya dipost jg.
    keren. happy ending. hahahaha..
    yesung…kau mengambil keputusan yang bijak, sukaaaaaaaaaaa.
    jongwoon, waaa pernyataan cintamu.kkkkk suka sm gayanya.
    lanjut ff lain thor

  10. erika mengatakan:

    wah keren2…….
    akhirnya woonsso bersatu🙂, tpi ksian yeppa hrus tersakiti😦
    ohya jngan lupa lanjutin ff yg lainnya y thor🙂
    semangat……

  11. Puspa Kyukyu mengatakan:

    Wuuuuaaa….
    Udh ending aja nie…

    Sesungguhnya Puspa lebih sesuju,Sso bareng Yesung ktimbang Jongwoon….:/:/ #peace v,v

    gag tw mw coment apa lagi T.T
    cuman itu yg mo Puspa bilang…

    Seperti biasa FF Uni selalu Daebak…
    Keep Spirit !!
    Tetap semangat dan selalu tersenyum walupun ntar Yesung Oppa wamil,Okey?;)😉😉

  12. anastasia erna mengatakan:

    daebak putri…
    bagus ending nya…
    buat spesialnya donk
    kasian yesung ga ada pasangannya….

  13. cucancie mengatakan:

    Wuahhh…akhirnya…terharu bgt baca endingnya…yesung atau joong woon sm aja ikhlas deh buat dapetin so eun,tp disatu sisi kasian ma yesung yg ga dpt cintanya so eun…huaaa…benar2 mengharukan…pantas aja authornya bingung nyari ending yg tepat…reader jg bingung n sedih klo salah satu dr yesung atau joong woon patah hati…hhhhh…salut deh sm authornya…kerennn…ditunggu karya lainnya…yesso couple tentunya… Hwaiting!!^^

  14. Kyusso shipper mengatakan:

    keren bgt baik bgt yesung mau berkorban demi jongwoon dan so eun.
    feelnya dpt bgt🙂 lanjutkan thor ff lainya semangat :))

    oh iya masalah ff yaoi jgn dibuat ya eon geli bacanya semoga itu cuma april mop aja. ditunggu ff shadow sama haru nya fighting eonie🙂

  15. cutewhite mengatakan:

    Woooaaahh akhirnyaa endingnya dipublish jg..
    Aduuuuhhhh feelnya dpt bgt deh ah smpe ikutan (╥_╥)
    Oh akhirnyaa soeun bsa nyentuh kebahagiaannya..bersatu sma jongwoon..
    Oh sungie kasian sekaliitpi yesung bakal tetep jdi oppaaa kesayangaaaaannyaaa sso..

    Ditunggu lanjutan ff lainnya thor^^daebaak thor

  16. Denanti mengatakan:

    Ini bener-bener keren.. Happy Ending.
    Aku gak tahu mau ber’comment apalagi, gak bisa berucap lebih.
    Ini bener-bener keren..

    Huaaaaa, kasih yesungnya ke aku aja, wkwk.

  17. luthfiangelsso mengatakan:

    Ga koq ga ngecewain🙂
    Suka malah !

    Ya ampun pengorbanan yesung buat jongwoon bikin terharu aduh pas bagian akhir” bikin terharu :’)

    Suka sama ceritanya !
    Ok di tunggu ff yg lainnya !
    Yg shadow part 2 nya di tunggu chingu !

    Keep spirit yaa ^_^

  18. haekyusso mengatakan:

    Keren,,,keren,,,kereeeeeennnnnnnn!!!!! DEABAKKKK!!!! Crt part akhir y thour wlpn da tlsn yg typo dikit,,🙂
    Akhir y jung woon menyadari klo dia bnr” jth cinta trhdp sso dan akhir yg happy end bt woonso🙂
    Ya wlpn hrs da yg berkorban bt cinta y sso yaitu yesungie yg merelakan sso dgn jung woon😦
    D tunggu ff yg laen y pa lg black n white y mndh”n cpt publis yach thour dan ttp slalu SEMANGAT🙂🙂

  19. Choi shinae mengatakan:

    waaaaaa suka degan2 terakhirnya kkkk
    yesung come to me please😄
    keren deh selalu ni ff buatan author ^^
    udah gabisakomrn apa2 lg selain ngena bgt dan keren ^^

  20. Ayu ChoKyulate mengatakan:

    Yeee akhirnya di post juga kelanjutan ff ini ^^
    aku suka banget sama ceritanya, kirain jongwoon bakalan ngerelain Sso buat Yesung.. Bener” jalan ceritanya ga ketebak, keren deh buat Putri eonni yg bikin ff bermakna dan menyentuh banget🙂

  21. ribka3003 mengatakan:

    Wuaahhh..seru!! Kirain so eun akan lupain jongwoon trus jadian ama yesung…hehehe..
    tapi dua2nya sama aja kok..jongwoon or yesung..^___^
    Semangat!! Di tnggu ff selanjutnya..semoga yg haru cpt di publish yakkk..hehehe

  22. vani mengatakan:

    puas put, wkwkwkwk
    puas sungguh puaaas sso mgetahui kalian (with jongwon brsatu)

    maaf ya sungi oppa

    kisah pantai taeyannya romantis, aplg mbayngin pas oppa mayungi sso

    proyek 2th udh kelar kan put?

    smoga BW nya kmbli lanjut, kangeeen bgt ma klnjutan ff itu, udh brbulan2 ngarep😦

  23. lee jihyun mengatakan:

    Hua…. Keren2…

    Q suka…

    Ending yg mnharukan n mmbahagaiakan… Tp ksian jg sungie oppa nya… ;(

    Btw,, bener2 kren crtanya chingu….🙂

  24. minmin_mizana mengatakan:

    bagus ^^
    Suka ma kata2nya yesung yang ini “Tak ada yang salah di dunia ini. perasaanmu pada Jongwoon, perasaanku padamu, tidak ada yang salah dengan semua itu. Toh, kita bertiga terlahir dalam lingkaran yang gila, lingkaran dimana pada akhirnya akan ada diantara kami yang menikahimu. Jadi kita harus mulai bersosialisasi dengan lingkaran itu. Kau.. boleh mengejar cinta Jongwoon, asalkan kau membiarkan aku mengejarmu. Kumohon jangan menutup hatimu untukku, karena mungkin suatu saat kau akan berubah fikiran dan membalas perasaanku”
    awalnya udah galau gara2 kasian ma yesung yg udah bener2 suka ma soeun, trus kirain author bakalan bikin ending yesung-soeun hehehe…
    aku suka ma jongwoon yg begitu menyayangi kebaranya ^^
    aku suka cerita persaudaraan mereka dan perjuangan cintanya ^^
    kau selalu membuatku terkagum-kagum dengan ide ceritamu put🙂
    oya ditunggu shadow ma hoe a bout my love’a….

  25. Kyaaaaaa stlah lma menunggu akhirnya ff ini keluar dan ending x so sweet bgt. Jong-eun brsatu hahaha sng bgt, tp sdih liat yeppa😦
    cb z da chu ga eul bwt yeppa hehe ngarep#plak.
    Tp sy puas bgt dgn akhir crita yg manis. Typo x gk pntg mnrt sy yg jelas ff putri slalu membuat pmbcax puas. Ok dtggu ff yg lain yah smangat..!!🙂

  26. Kyaaaaaa stlah lma menunggu akhirnya ff ini keluar dan ending x so sweet bgt. Jong-eun brsatu hahaha sng bgt, tp sdih liat yeppa😦
    cb z da chu ga eul bwt yeppa hehe ngarep#plak.
    Tp sy puas bgt dgn akhir crita yg manis. Typo x gk pntg mnrt sy yg jelas ff putri slalu membuat pmbcax puas. Ok dtggu ff yg lain yah smangat..!!!🙂

  27. Kyaaaaaa stlah lma menunggu akhirnya ff ini keluar dan ending x so sweet bgt. Jong-eun brsatu hahaha sng bgt, tp sdih liat yeppa😦
    cb z da chu ga eul bwt yeppa hehe ngarep#plak.
    Tp sy puas bgt dgn akhir crita yg manis. Typo x gk pntg mnrt sy yg jelas ff putri slalu membuat pmbcax puas. Ok dtggu ff yg lain yah smangat..!! 🙂

  28. Anna mengatakan:

    Finallyy legaaa dgn endingny yg haru biru,,prihatin&kshn jg dgn yesung tp tdk ada rs kecewa n justru rela soeun bs brstu dgn jongwon,,untg aja kebijaksanaan yesung bs mengalahkan kekeras kepalaan jongwon,,lbh baik stu pihak yg trsakiti drpd mngorbankn byk prsaan,,good story putri sukaaaa gomawo🙂

  29. Choi Hye Mi mengatakan:

    Finaly… FF in Happy Ending juga… Yeeey… Soeun memilih JongWoon tuh… Kasian Yesung Oppa.. Semoga dy bisa nemuin Kebahagiaannya sendiri.. Banyak Scene disini yg Q suka.. Emosinya sampe bgt…. Endingnya juga sweet … Kyaaaaa pokoknya Daebak.. Di tunggu FF nya yg lain juga ya Putri…. Okeee…

  30. Devi mengatakan:

    Akhir’a eoNNie so euN trblaskN ciNta’a ma oppa joNgwooN aNd akhir’a mreka brsatu mskpN d aNtra kbahagiaN mreka da yg trsakiti,,,,,,,

    Tpi salut ma oppa yesuNg merelakN orNg yg d ciNtai bahgia,,,,,,
    MemaNg ciNta tak hrus sliNg memiliki,,,,,,

    KereN bNgeeeet thor eNdiNg’a,,,
    D tNg2u karya2 laiNNya,,,,

  31. qindae mengatakan:

    Aaaaaaa DAEBAK !!
    Suka bgt sama ceritanyaaaa , apalagi Endingnya !!!

    Author hebaattt *sodorinEskrim*
    Dtggu next ff nya ya eon , khususnya Kyusso ! Hehehee
    Fightingg !

  32. uriinko mengatakan:

    daebak… bner2 keren bahasa’y… maksa org buat komen nih saengi… bner2 dapet dr crita, karakter sm bahasa yg bnr2 mnyentuh pkok’y,,,, salam kenal sblum’y,,, aku reader yg mungkin komen cm bbrapa kali…:D aku suka yeye

  33. SnowAngels 'Seli M' mengatakan:

    Wattados!!
    Nice FF Thow, Keren Sangat ^^
    pas aku baca pertengahan kirain bakal jdi bareng Yesung😉..
    Eh ternyata ama JongWoon.. Hehehe
    Like Ending😀
    Shadow ditunggu, yg lain jga😉

  34. Irnawatyalwi mengatakan:

    Aq ckup trlmbt bc threeshootX untg hmpir tiap hr buka wpx putri, endingx sesuai dgn harapan para readr, tpi ksian jg dgn yesung, put ff lainx jg cpt d post y, aplg yg main castx HAESSO

  35. Tikka mengatakan:

    Keren, kece, daebak. !! Ending yang mengagumkan dimana si Es telah mencair karna cinta.!🙂 huaa. .kakak miris bnget hrus ng’hapus 30 hlm bwt bkin ending yg sempurna dan ini bnar2 brhasil hasilnya AMAZING😀 good job trus buat FF’nya GANBATE. ! ^^

  36. ticha_ mengatakan:

    keren!!!!🙂
    Ga nyangka yesung oppa yang bkln relain so eunnie buat wookie oppa,,,
    Oh,,,so sweet😀
    Ga bisa komentar ap2 lg.,
    Bener2 DAEBAAAAAKKK!!!!
    10000 jemp0l buat saeng…
    Wuuaaah,,,DAEBAK!!!

  37. pipip mengatakan:

    Waaa seru bnget nih ff nya tpi kyknya scene jongwon dgn sso dkit ya #kode
    Feel nya dpt bnget thor dtnggu ya thor krya lainya

  38. elvin mengatakan:

    omo keren banget chingu😦 jdi nangis ngebaca endingx sambil dengerin lgu yesung yg jdulx gray paper😦

    nggak nyangka trnyata yesung ngerelain so eun buat jongwoon, kasian banget sunggie oppa! buat so eun dan jongwoon selamat berbahagia🙂
    buat author jg hwaiting!!!😀

  39. Deshie Wookie mengatakan:

    yeaaaaaa putri… akhirnya aku bisa baca hahahahaha *ga ada yg nanya*

    part ini T.O.P.BE.GE.TE…… TOP BANGEEEETTTTT….

    mau tau nggak? aku baca siang2 gini sambil nangis gara2 ceritanya yang begitu dalem kyaaaaa ….. gue cengeng ;(

    Kalo boleh jujur dari semua karya mu yg udah publish, baru FF ini yang semuanya dapet kayak Judul, Alur, penyampaian cerita, Feel, Quote, sampe pesan moralnya…..semuanya nyambung… tapi berharap di kedepannya ada lagi karya2mu yang lebih cetar membahanaaaaaaa hahaha😄

    sekian komenku… sampai jumpa di FF berikutnya (?) Chu:*

  40. nita mengatakan:

    wah akhirx d post jga,, crtax krng thor,,
    author deabak deh,, d tnggu lnjtn ff yg lainx y thor,,

  41. Dina_zoey mengatakan:

    wah aq suka ceritax klo happy ending, akhirx jongwoon ma sso tapi kasian jg si yesung, makax jongwoon jgn sembunyikan perasaanmu..

    pokokx aq suka bgt cerita yg happy end, aq tunggu ff lainx ya..:-D

  42. shane mengatakan:

    Emeem ,knapa reader nyesek ye bcnye ..nyesek2 bahagiaa gmna gt …berkaca _kaca bacanya ..bearti sukses dah ni ff menghipnotis aye😉
    Yg paling reader suka happy ending bang jong ma sso na😉
    Bang yeye love U :*
    Reader sempet mikir ni ff berakhir dng kt persaudraan aja …ternyata D bikin surprice🙂
    Part yg paling reader suka eksekusi ending ni ff …bravo cipuuut😉

    Ni ff masuk dlm daftar favourite reader🙂
    (y) (y) (y) ……:)
    .=D=D……
    …=Dћªǟªћª=D…
    =Dћǟªћǟªћªǟ=D
    …=Dћªǟªћª=D…
    …….=D=D……
    Like it
    Bravo
    Bravo

    Keep spirit
    The special thumb just for you (y)

  43. RyaniAngels mengatakan:

    q gk nyangka endingnya bkl bgni..q pkir ntr Sso ma yesung. Yg nyusul Sso ke pantai jongwoon toh?, kirain yesung?!..thx 4 ur amazing story

  44. Arhy_SufithreElf mengatakan:

    wow.. Keren chingu..
    Akhirnya so eun sama joong won juga
    *prok prok prok
    Gak ada yg lebay kok chingu , ini malah bagus banget..
    Ditunggu ne ff yang lainnya…
    FIGHTING!!!!!!😀

  45. deewookyu mengatakan:

    putriiii…..saeenggii…

    ditungguin lanjutaannnya…lamaaa banget.
    tp…
    akhirnya…
    gak mengecewakan…
    bagusss….

    kereeen waktu soeun nyatain perasaannya ke Jong woon….
    hhhuumm……..
    lumayan lah peran hyukjae….
    gak langsung
    bikin Jong woon _ Soeun bersatu……..

    cerita lainnya lagi dooong saaeengg…!!!!!!!!

  46. Rika Oktaviani mengatakan:

    wah ceritanya daebak
    ditunggu ff yang lainnya
    Author lanjutkan karyamu
    fighting🙂

  47. Vie ♥ (@LeoCloudY) mengatakan:

    keren… bikin nangis
    ending’y aku suka

  48. yolanloen mengatakan:

    Wahhh akhirnya so eun denger juga pengakuannya jongwoon,,,
    Tapi kayanya agak sedikit kurang deh endingnya
    Yesungnya gimana nasibnya setelah ini?? Trus apa so eun bener2 jadian n tunangan sama jongwoon??
    Kalo boleh minta, ada part epilognya,, hehehehehe maaf yaa cuma mau kasih saran aja,
    Tapi keren bgt kata dalam ff ini menyentuh bisa bikin sedih trus ikut nangis juga,, apalagi pas yesung sadar kalo hyungnya selalu ngalah untuk dia,,, persaudaraan tetap terjalin dengan baik ^_^
    Tetap semangat yaa author ^^
    Lanjutkan terus karya2 ff mu….
    Gomawo

  49. mala incloudian mengatakan:

    omg…sedih bgt…
    aku sempet baca yg part 1 plus komen’y jg…:)
    aku udh nyangka nih bkal sm jongwoon…sesuju…::)

  50. Kyusso Eunnie mengatakan:

    Keren..keren..keren..keren..
    bnr2 puas dgn endingx put..😀
    paling suka scene di Taean..tp td dr awal aq udh pnya frasat kalo si woonnie bkal pura2 jd yeye utk ngungkapin prsaanx k sso..trnyata bnr😀
    suka bgt pas adegan itu..emosix dpt bgt..
    tp ksihan sm yeye gk ada psanganx..😦
    knp gk dksh aja psanganx put..bikin kmbaranx sso n namax jd ga eul..kan unik tuh jd psngan kmbar..😀
    di ending ini si kakek gk trlalu mncul ya..tp si hyukjae peranmu bnr2 mmbntu coz bs mmprsatukan woonnie n sso..😀

  51. angelf mengatakan:

    akhirnya ending juga
    tpi kasian liat yesungnya sma siapa?
    Untungnya jongwon sadah jga klo cinta sma sso
    rendah hati bnget ya yesug mau ngalah ma jongwon
    seneng akhirnya ada slah stu dri mreka yg dpetin soeun tpi knpa hrus ada yg terluka

    ditunggu ff lainya author fighting

  52. ina freedom mengatakan:

    akhirny happy ending …seneng bgt ngettttt pokoknya put ,sumpah deh put ,keren bgt..
    awalny q sempat terharu ,nangis pas sso bilang ke jong woon klo dia cinta ma jongwon ..ehh malh di tolak dan akhirny sso pergi ..jongwon dtng padany bilang kt maaf ,dan cinta padany …bagian tu benar2 so sweet bgt …intiny keren abizzzz deh put ?
    makin cinta sm blog kmu put …putri makin eksis aja deh ..putri is the best.
    good job …

  53. kiki chan mengatakan:

    aku nungguin ff ini.. akhirnya keluar jg.. kalo yesso suka deh ^^
    suka suka.. suka sm ceritanya.. akhirnya jongwoon n sso bersatu.. horee🙂
    smoga yesung dpt yeoja yg lebih baik. haha

  54. veranicka mengatakan:

    KEREN KEREN KEREN!!
    Akhirnya Jongwoon sama Soeun bersatu juga🙂
    Kirain yang nyamperin si Soeun di Taean itu Yesung, ternyata Jongwoon toh hehe
    Ditunggu karya selanjutnya🙂

  55. Ayunie CLOUDsweetJewel mengatakan:

    Huwaaaaaaaa, suka endingnya \(^_^)/

    So Eun akhirnya sama JongWoon, ahhayyyyy… entah knp aku lebih sk JW-SoEun drpda Yesung-SoEun, padahal JW n Yesung klo dibayangkan tetap saja org yg sama. kkkkkk

  56. zhuryia mengatakan:

    critanya bagus,,,

  57. Princess ice mengatakan:

    Sptrti biasa baca ffmu slalu bikin reader senyum2 gaje ><
    Sebenernya aku uda ngira kalo sso bakal ma yesung tapi hati kcilku nolak*ceileh bahasanya* dan terereeeng….ternyata memang itu tidk trjadi hohoho sya snang skali..😉 :-* Sungguh ending yg sosweet apalgi dtmani biskuit tambah mmberi kesan manis*apasih?*
    yesung ama aku aja sini😀 kasian bgt ama yeye tapi mau gmna lg t0h cinta sso cuma bwt abang j0nwoon seorang..

  58. Niniet mengatakan:

    gila..ini bener bener nguras emosi… feelnya ngena banget.. bikin geleng2 kepala baca nya.. putriii bisa2 nya kamu bikin ff yang keren2 gila..gia..gila..salut deh buat Putri…;D

  59. Wi Cuitz mengatakan:

    Wach,,gimana nasib yesung???
    Yesung ama q za eon,,hhhe
    critanya daebak,,,,

    humn q new reader d blog eon,,slam knal eon n’ mw izin bca ff eon yg laen???
    Boleh kan??

  60. nisag1190 mengatakan:

    Putriiiiiiiiiii!!!!
    FF yang aq tungguin gimana part lanjutannya, akhirnya malah kelewatan buat baca saat udh publish -,-”
    Cuma satu kata, DAEBAK..
    Y ampun Putri, konfliknya dapet banget, dari family sampe romance’y dpet bgettttt, klo misal aq ditanya mana bagian terbaiknya?, gak bisa milih coz bagian terbaik dari cerita ini adalah semuanyaaaaaa.
    Suka semua cara putri nyampein cinta segitiga Jongwoon, Sso, Yesung… Sampe dibuat jadi ababil krna awalnya ngedukung Sso-Jongwoon, tapi pas d awal sampe akhir betapa sempurnanya punya Oppa kayak Yesung, terus mikir ‘ah klo Sso sma Yesung gppa deh’, trus inget lagi betapa menarik karakter Jongwoon yg jutek dn buat aku mikir lagi, ‘gak ah tetep sma jongwoon aj’…
    Putri FF ini jempol buatmuuuuuu dekkkkk,
    Love U Putri, Love FF mu Putri, Fighting!!!! Semangat dan terus berkarya dear🙂

  61. Dizhaadrya mengatakan:

    Sya telat komen ny ending yg bgs putri akhr ny sso ma jongwoon brstu jga ^^ n buat bang yesung sbr ya oppa emg co”k hnya mnjdi oppa ny sso bkn utk mnjdi pcr ny d tgu next ff ny putri

  62. Deborah sally mengatakan:

    Good buat putri. . . .

    Ceritanya makin bagus. Tapi sayang, hanya sampe part 3 #LOL

  63. Soeun mengatakan:

    Huuuaaaa >.<
    oppa yesung bnar" hebat
    walaupun ia bersedih tpi ia rela demi kebahagiaan so eun eonnie
    akhirnya kim jong won mengungkapkan isi hatinya
    benar" keren
    I like them so much :*

  64. YeojaNiel mengatakan:

    Happy ending😀 . Tapi tetap sad bagi Yesung *peluk* *diseret Niel pulang*
    aww, waktu baca awal2 part 3 sempat ngira jg klo pada akhir’a Sso berbalik ke Yesung. Tapi, ternyata enggak. Cerita yang sangat bgs kakak. Ini keren sekali.

  65. geill mengatakan:

    Yeeeeeeee….berakhir dgn happy ending….
    Akhirnya Sso bisa bersatu jg dgn jongwoon uuuuuu……sooooo….sweeeet….
    Pokoknya puas bgt deh sm cerita and endingnya…puassssssss………
    Good job deh buat author yg dah buat nih crt jd bgt menarik buat di bc….semangat buat author…semangatttttt……

  66. Kim Ha Byung mengatakan:

    Happy end Jongwoon dan soeun
    Tapi gimana nasib Yesung???
    Sama siapa dia???

  67. kim Ra rA mengatakan:

    WOW ending nya keren. Penasaran gimana akhir cinta segitiga si kembar ini. khawatir dengan hubungan c kembar…. tapi untung semua berakhir Baik.

    Ceritanya seperti biasa SERU dan selalu KEREN. tapi kali ini di tambah dengan kata unik/ mungkin karna Cast cowox nya di bikin Twins. pokok nya Enjoy dan puas banget dech baca nya…

    “Sukses Terus Buat Putri” selalu di tunggu karya karyanya

  68. deewookyu mengatakan:

    beneerr banget…

    Bencii………….Cinta …………

    itu tiipiisss bangeets……

    awalnya benci …..jadi Cinta……….

    Jong woon……I LopE Yu tuuuu….

  69. Rani Annisa mengatakan:

    wah happy ending ceritanya…🙂

    Dan terjawab sudah siapa yang sama so eun,, dan cukup puas dengan hasilnya….

    walaupun yesung nggak sama so eun nggak apa-apa karena so eun lebih cocok kan sama jongwoon….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s