~Refill Your Memory Part 10 (Finally) | ENDING ~


Refill Your MemoryPart 10 (Finally) |PrincessClouds aka Putri Andina|Chaptured|Romance, Friendship, and Family|Kim So Eun as Kim So Eun (Namja) & Kim Soyoung, Choi Minho, Lee Jinki, Lee Taemin, Kim Jonghyun, Kim Kibum, and others

Cameo : Shin Hye Sung (Shinhwa)

refill10

Summary: Dan kita menemukan titik terang dalam perjalanan yang begitu panjang.

Warning: Typo(s)

“Soeun!” seru Soyoung sambil berniat bergerak kearah kembarannya yang terlihat begitu menyedihkan. Tapi gerakannya lagi-lagi tertahan oleh dua orang yang memeganginya. Membuatnya akhirnya menahan hasratnya untuk mendekati kembarannya yang tampak hanya menatapnya tanpa bereaksi. Ia tampak begitu kaget melihat seseorang yang terlihat mirip dengannya.

“Akhirnya dua keponakan kembarku bertemu kembali. Ini akan bagus sekali…”

Soyoung mengalihkan perhatiannya kembali pada bibinya ketika wanita itu kembali bersuara. Ia menatap tajam pada wanita itu. terlihat marah.

“Apa yang ingin bibi lakukan pada kami berdua?”

*Refill_Your_Memory_Part 10*

“Huh, apa yang akan kulakukan pada kalian berdua ya..” Tanya wanita itu dengan nada pura-pura berfikir. Ia sedikit bergerak dari posisinya, membuat kedua gadis dengan wajah sama itu berjaga-jaga. “Aku ingin kalian sedikit membantuku disini..” jelas wanita itu sambil menarik dokumen yang diberikan oleh suruhannya menunjukkan kepada dua gadis itu.

“S-Surat pemindahan kekuasaan?” Gumam Soyoung kaget setelah membacanya. Lalu kembali menatap bibinya, tajam. “TIDAK AKAN!”

Wanita malah tertawa keras mendengar penolakan Soyoung. Ia kembali berjalan dengan pelan dari posisinya mendekati keduanya, membuat kedua gadis itu kembali waspada.

“Huh, kau tidak mau? Kalau begitu…”

“ARHH!!”

Soyoung begitu kaget ketika wanita itu menarik dengan kasar rambut kembarannya yang baru ia temukan itu. Membuat gadis yang lebih lemah darinya itu merintih kesakitan. Soyoung menatap geram.

“YAH! APA YANG KAU LAKUKAN PADANYA!!” Serunya emosi.

Ketiga member SHINee yang mendapat bagian memasuki rumah tersebut tampak semakin mendekati rumah tadi. Mereka bergerak dengan pelan, berusaha tak membuat suara yang pastinya hanya akan merusak segalanya. Minho kali ini tampak memimpin mereka.

Tap!

Minho menghentikan langkahnya, seiring dengan kedua hyungnya. Ketiganya menyembunyikan diri di sebuah tembok, dimana beberapa meter dari mereka terlihat dua orang laki-laki bertubuh besar menjaga pintu belakang.

“Oh, mereka menjaga dengan ketat..” komentar Jonghyun setelah sedikit megintip.

“Ya, tapi ini adalah jalan satu-satunya untuk masuk..” sahut Onew sambil memantau. Sementara Minho tampak diam sambil berfikir.

“Mereka bahkan membawa senjata, bagaimana kita melewatinya?” Tanya Jonghyun. Ketiganya tampak hening sesaat sambil berfikir.

“Biar aku yang bergerak pertama..” ucap Minho tiba-tiba. Membuat dua lainnya menoleh padanya.

“Kau  yakin Minho? Tapi—“

“—percaya padaku, hyung. Yang jelas nanti ketika aku suruh mendekat, maka kalian harus mendekat…”

“Ne, tapi.. Hey Minho!” Jonghyun menelan lagi teriakan ala berbisiknya ketika Minho diam-diam sudah bergerak. Pemuda itu tampak melintasi pagar dan bersembunyi di balik sebuah pot besar yang ada disana, tampak begitu rapi karena kedua orang itu tampak tak menyadarinya bahkan ketika Minho semakin mendekati salah satu dari mereka.

*Bruk!!*

*Krek!!*

Salah satu dari mereka yang tersisa tampak kaget ketika kawannya tiba-tiba tumbang begitu saja. Namun hal yang lebih mengagetkan adalah sebuah pistol yang diacungkan kepadanya, lebih cepat persekian detik dari acungan senjatanya kearah yang sama.

“Astaga..” Jonghyun sedikit bergidik ngeri melihat Minho dan penjaga yang tersisa sama-sama menodongkan pistol satu sama lain. Onew juga tampak tegang.

“Apa yang kau lakukan, anak muda?” Tanya laki-laki itu dengan nada sedikit geram. Masih mempertahankan senjatanya kewajah Minho, dimana Minho juga melakukan hal yang sama.

“Hanya main-main…” sahut Minho cuek. Diam-diam ia menggerakkan tangannya yang lain dengan perlahan, namun disadari benar oleh dua rekannya.

“Ayo..” ajak Onew mendahului Jonghyun untuk diam-diam mendekati mereka. Jonghyun tampak mengikutinya dengan sedikit gugup.

“Huh, bukankah kau artis itu? Untuk apa kau melibatkan dirimu disini” Tanya laki-laki itu sinis pada Minho. Tidak menyadari pergerakkan Onew dan Jonghyun yang perlahan bergerak kearahnya.

Minho tampak sedikit menarik sudut bibirnya, menciptakan sebuah seringaian. “Apa aku perlu memberitahumu?”

*BRUK!!*

“Arhh!!”

Laki-laki itu jatuh ke lantai setelah Onew memukul pangkal lehernya dengan cukup keras. Jonghyun dengan cepat memungut senjata laki-laki itu.

“Cool..” ucapnya takjub.

“Ayo masuk!” Seru Minho setelah itu. Kedua yang lainnya mengangguk, lalu mengikuti Minho yang telah terlebih dahulu memasuki tempat itu.

“Arrh, Lepp-pass…”

Soeun mengeluh kesakitan ketika wanita itu terus menarik kasar rambutnya tanpa belas kasihan. Membuat kepalanya pusing bukan kepalang.

“Lepas dia, bibi! Bibi sudah keterlaluan!” Seru Soyoung benar-benar kesal. Kalau saja ia tak terikat saat ini, ia yakin ia sudah menerjang wanita itu untuk menjauhi kembarannya dengan kepandaian karate yang dimilikinya.

“Keterlaluan? Huh, kalian baru tahu? Yah, aku memang keterlaluan..” ucapnya sambil semakin mencengkram rambut Namja atau Soeun. Membuat gadis itu semakin merintih sakit.

“Apa maumu, huh?” seru Soyoung kesal.

“Kau sangat tahu apa mauku, Kim Soyoung. Kalian menandatangani dokumen ini..”

“Tapi semua itu milik orang tua kami, itu hak kami. Kau tak bisa mengambilnya!”

“Siapa yang mau mengambilnya? Aku hanya memintanya. Yah.. walau dengan sedikit pemaksaan..” ucap wanita itu sambil berseringai sementara ia terus mencengkram leher serta rambut Soeun. Membuat gadis itu terlihat begitu kesakitan.

Soyoung menatap kembarannya panjang, tampak begitu bimbang dengan pilihan yang akan diambilnya. Menyelamatkan Soeun, tentu saja, tapi menyerahkan harta benda mereka kepada wanita tamak seperti dia jelas bukan hal yang baik.

“Oh, kau masih terlalu lama berfikir, Kim Soyoung? Baiklah, kalau begitu aku..”

“Akh!”

“YAH! LEPASKAN TANGANMU DARINYA!!” Seru Soyoung geram melihat adik kembarnya kembali disiksa oleh bibinya. Kali ini ia semakin memperkuat cengkaramannya di leher Soeun, membuat gadis itu tercekat dan sulit bernafas.

Soyoung tiba-tiba memegangi lehernya. Ikut merasa sesak.

“To-hhk..”

“L-Leppaskan.. D-DIA!!” Seru Soyoung tak tahan sambil mengendalikan nafasnya. Yang sayangnya di balas cekikikan oleh wanita itu.

“Aku hanya akan melepasnya ketika kau bilang iya..” tantangnya sambil terus menekan leher Soeun. Membuat kedua gadis itu kesulitan bernafas dengan konteks yang berbeda.

“Baiklah..”

“Huh?”

*Bruk!!*

Tubuh Soeun terjatuh begitu saja ketika wanita itu melepasnya. Terduduk dengan tanpa tenaga.

“Akhirnya kau mau, huh? Syukurlah..” ucapnya cuek sambil melewati Soeun yang tampak masih berusaha menormalkan jalan nafasnya.  Soyoung tampak menoleh cemas padanya.

“Soeun-ah, kau tak apa-apa?” Tanya Soyoung memastikan. Soeun segera bergeming dan mengangkat wajahya, mengangguk pelan sambil menahan rasa sakit yang dirasakannya.

“Baiklah, tanpa berlama-lama.. ayo kita menyelesaikan hal yang satu ini..” ucap wanita itu kembali memecah keadaan. Menunjukkan dokumen-dokumen tadi.

“Kim Soyoung, Kim Soeun.. kalian harus menandatangani ini!”

“Astaga, belum ada khabar dari mereka. Aku cemas sekali..”

Key kembali mengeluh sambil memeriksa jam tangannya. Pandangan pemuda itu kembali teralihkan menuju rumah besar yang berdiri megah beberapa puluh meter dari tempat mereka bersembunyi – dimana ia ditemani oleh maknae dari grup mereka.

“Hyung, bagaimana kalau kita panggil polisi saja sekarang? Aku takut terjadi apa-apa pada mereka..” keluh Taemin risau, ia memang memperlihatkan kengeriannya dari awal.

“Sst, jangan dulu..” Ucap Key sambil melirik padanya. “Walau bagaimanapun mereka masih menyandera Namja dan Kim Soyoung. Akan sangat bahaya kalau penjahatnya sampai tahu bahwa keberadaan mereka diketahui oleh polisi..” larangnya kemudian.

“aku tahu, ini lama sekali..”

“Kita tunggu saja dulu, bukankah tadi Minho bilang kita baru boleh memanggil polisi kalau sudah ada peringatan atau tanda? Oleh sebab itu kita sebaiknya menunggu saja..”

“Baiklah..” ucap Taemin menurut, kedua pemuda itu kemudian kembali memperhatikan rumah itu dengan waspada.

Ketiga pemuda lainnya tampak kembali mengendap-endap di tengah rumah yang besar itu. Ketiganya benar-benar terlihat begitu waspada, takut pergerakan mereka diketahui.

“Tunggu..”

Minho berbisik sambil mengembangkan satu tangannya untuk menahan pergerakan dua hyungnya. Pemuda bermarga Choi itu kemudian kembali mengintip dari balik tembok untuk melihat kearah dimana ia melihat salah satu penjaga bertubuh besar di tangga.

“Sepertinya mereka berada di lantai dua..” simpul Onew yang ikut mengintip. Minho tampak menganggukkan kepalanya, setuju dengan ucapan Onew.

“Lalu bagaimana caranya kita kesana?” bisik Jonghyun di belakang.

Minho tak menyahut untuk sejenak, ia tampak berfikir sambil matanya bergerak liar ke seluruh sudut ruangan – berusaha mencari apa yang harus mereka lakukan selanjutnya.

“Ini benar-benar sangat berbahaya karena hampir semua dari mereka memegang senjata..” bisiknya kemudian, masih memantau pergerakan laki-laki bertubuh kekar itu.

“Ne, walaupun kita sudah punya dua senjata itu bukan berarti aman juga untuk kita. Bahkan tidak ada dari kita bertiga yang pandai memegang senjata..” Jonghyun ikut berpendapat, Onew tampak menghembuskan nafasnya.

“Tapi kita tetap harus cepat. Namja dan Soyoung benar-benar dalam bahaya, kalau kita terlambat kita tak bisa memastikan apa yang terjadi selanjutnya..”

“Begitulah..”

Minho mempertajam pandangannya untuk melihat laki-laki tadi. Benar, otaknya sedikit buntu untuk berfikir mengenai cara melewatinya. Tentu saja karena laki-laki itu memegang senjata, amat berbahaya adanya kalau ia tiba-tiba menampilkan diri disana.

“Tak ada cara lain..” Pemuda itu bergumam pelan, membuat dua lainnya menoleh padanya. Sementara itu Minho membalikkan badan kemudian. “Hyung, berikan aku dua senjata itu..”

“Huh?”

“Ini satu-satunya cara, ketika aku bilang tangkap maka tangkaplah apa yang aku lemparkan dengan hati-hati..” ucap Minho sambil merebut kedua senjata itu dari tangan hyungnya, Minho tampak sibuk membuka tempat peluru atau bagian magazine  peluru sebelum mengeluarkan beberapa peluru yang ada di dalamnya. Ia menyerahkan bagian yang ia buka itu pada dua hyungnya yang menatap bingung pekerjaannya. “Peganglah, Onew hyung. Biar nanti Jonghyun hyung yang menangkap pistolnya dan langsung masukkan bagian ini ke dalam pistol setelahnya..” jelas Minho sambil menyerahkan benda tadi pada Onew. Keduanya tampak hanya mengangguk walaupun memang sedikit bingung.

“A-Apa rencanamu, Minho?” Tanya Jonghyun mulai berkeringat dingin. Pemuda itu tak lantas menjawabnya, ia tampak kembali memantau penjaga yang berdiri di tangga sebelum akhirnya menggerakkan tangannya untuk memberi kode agar dua rekannya mundur. Onew dan Jonghyun tampak menurutinya.

Minho lagi-lagi menghela nafas, sebelum akhirnya mengambil sesuatu dari sakunya dan menjatuhkannya.

*Bruk!*

“M-Minho?” Onew dan Jonghyun sentak bersuara kaget menyaksikan apa yang baru saja dilakukan Minho. Mata mereka masih melebar menatap dompet milik Minho yang baru saja ia jatuhkan ke lantai, suara jatuhnya cukup keras untuk didengar oleh panjaga tadi serta posisinya tepat di depan Minho berada. Memastikan bahwa penjaga itu pasti melihat benda itu.

Dan benar, penjaga bertubuh besar yang awalnya sedang merokok itu tampak langsung menoleh kearah suara. Tanpa fikir panjang laki-laki itu menjatuhkan puntung rokok yang dihisapnya, lalu menginjaknya sambil bergerak kearah dimana benda itu secara aneh muncul. Penjaga itu juga tampak memasang langkah siaga bersama senjatanya yang lebih ia genggam.

*Tap Tap Tap*

Suara langkah mendekat terdengar bersahutan dengan jalan nafas ketiga pemuda itu. Jonghyun dan Onew tampak saling berpandangan dengan gugup, sementara Minho tampak mengendalikan jalan nafasnya sambil menggenggam lebih erat dua senjata di tangannya.

Hingga…

“S-Siappa—“

Laki-laki itu menghentikan kata-katanya serta membelalakkan mata, menemukan seorang pemuda mengancungkan dua pistol kearahnya. Lebih satu dari senjata yang kini ia acungkan kearah pemuda tinggi itu.

Soyoung menatap emosi wanita di dalamnya sambil sesekali berganti pada kembarannya yang masih terduduk kelelahan di atas lantai. Mata si sulung di antara kedua saudara kembar itu tampak lebih menajam, menatap benci pada waita dengan Over Make-up di wajahnya itu.

“Jangan melihatku begitu, Soyoung-ah. Itu tak akan berlaku banyak..” kata wanita itu santai sambil membuka dokumen yang ia letakkan tadi. Wanita itu tampak kembali mengangkat wajahnya, melirik dua keponakan kembarnya secara bergantian. “Jadi siapa yang pertama? Soyoung-ie? Atau Soeun-ie—“

“—Yang melukai kakek itu kau bukan?”

Ucapan wanita itu terpotong ketika Soyoung memotong ucapannya dengan nada yang datar namun tajam. Wanita itu tampak menyeringai, “Eey, terlalu lama berada di Amerika sepertinya membuatmu menjadi lupa tata krama dari negara asalmu. Bagaimana mungkin kau memanggil bibimu dengan kata, Kau?”

“Tak usah bertele-tele, aku tahu bahwa KAU adalah yang menyebabkan keadaan kakek memburuk. Kau tertangkap di CCTV dan disana terlihat bahwa kau memukul kepala kakek dua kali dengan kamus tebal. Kau sangat tahu karena kondisi kakek yang rentan maka hanya dengan memukul dengan keras maka kau tahu bahwa hal itu akan berdampak besar bagi kesehatan beliau..” jelas Soyoung dengan ekspresinya yang terlihat begitu marah, begitu geram. Walau kembali dijawab seringaian oleh wanita itu.

“Yups, aku sepertinya melupakan CCTV sebelumnya. Tapi jangan khawatir, selesai perjanjian kita ini aku akan membantumu untuk menghapus rekamannya…” sahutnya santai tanpa rasa bersalah. Membuat Soyoung kian terlihat marah dan geram.

“K-Kakek?”

Pandangan keduanya teralihkan pada gadis satunya yang daritadi hanya diam karena kehabisan tenaga. Gadis itu tampak menatap bergantian Soyoung dan bibinya itu, terlihat tak terlalu mengerti dengan orang yang bicara.

“Hum, bagaimana mungkin kau sampai melupakan laki-laki yang merawatmu sejak kecil itu, Soeun-ie? Apakah efek ramuan ajaib itu sekuat itu?” Tanya wanita itu dengan nada meremehkan pada gadis yang selama ini kita kenal dengan nama Choi Namja itu.

“Apa maksudmu?” Tanya Soyoung dan Soeun bersamaan dengan nada yang terlihat berbeda. Soeun dengan nada bingung tak mengerti, sementara Soyoung dengan nada tinggi dan emosi.

Wanita itu tampak kembali menunjukkan seringaiannya yang menyebalkan, sebelum akhirnya berkata, “Beberapa bulan yang lalu, ketika mengadakan sebuah liburan keluarga besar dengan berlayar di lautan Jeju, aku mencampurkan sebuah ramuan ajaib ke dalam minuman Soeun yang dapat menghapus semua memorinya. Tentu efek ramuan itu juga begitu hebat hingga Soeun merasa tidak enak badan dan memilih kembali ke kamarnya, namun tak ada yang tahu bahwa diam-diam aku dan salah satu suruhanku yang sudah menyamar menjadi awak kapal mengikutinya di belakang dan kemudian membawanya tanpa sepengetahuan siapapun. Kami kemudian melemparkan gadis itu ke tengah lautan setelah itu..”

“Kau..” Soyoung bergumam geram mendengar penjelasan wanita itu, sementara Soeun wajah Soeun sendiri tampak memuram mendengarnya.

“Awalnya aku kira mayatnya akan ditemukan keekokan harinya, namun ternyata ia bagai hilang ditelan bumi. Beberapa hari aku mengerahkan anak buahku untuk memastikan, namun akhirnya aku berfikir untuk tidak membuang tenaga karena Soeun pasti tak akan selamat dari kejadian itu. Lagipula kalau ia selamat apa yang bisa ia lakukan dengan ingatan yang tidak sempurna..”

“Kau benar-benar lebih dari iblis..” desis Soyoung tajam sambil menatap wanita itu, sementara wanita itu juga malah tersenyum – seakan-akan ucapan Soyoung barusan adalah sebuah pujian.

“Kenapa?” Keduanya mengalihkan perhatian ketika mendengar Soeun bersuara dengan lirih, nyaris tak terdengar. Dimana gadis itu tampak terus diam setelah mengetahui kebenaran yang ada. “Kenapa kau begitu membenci kami?” tambahnya kemudian.

“Tentu jawabannya begitu sederhana.. harta.” Ladennya sederhana.

“Apa hanya karena harta kau sampai tega menyakiti ayahmu sendiri dan meracuni kepokanmu?” Tanya Soeun masih tak habis fikir.

“Tentu..” wanita itu masih meladeni kata-kata Soeun walau dengan ekspresi wajah yang lebih tak nyaman. “Aku bahkan pernah menciptakan kecelakaan untuk seluruh keluargamu. Yang ternyata masih juga mampu menyelamatkan bocah merepotkan seperti kalian..”

“Kau benar-benar lebih dari gila..” seru Soyoung benar-benar emosi – kalau saja ia tak diikat mungkin ia sudah mencekik wanita di depannya atau lainnya.

“Benar. Tapi itu adalah karena perbuatan mereka sendiri. Siapa suruh mereka mengabaikanku dari awal. Bertindak seakan-akan aku adalah anak pungut di rumah itu. Jadi aku tak ada pilihan lain. Tch, apakah cukup dengan nostalgianya? Sekarang ayo kita kembali dengan bisnis kita.” Ucap gadis itu memutuskan perbincangan. Ia kemudian kembali sibuk dengan map tadi, meninggalkan Soeun dan Soyoung yang saling mengalihkan perhatian satu sama lain.

Laki-laki itu masih dalam keterkejutan setelah menyaksikan dua pistol teracung padanya. Minho tampak tersenyum tipis sesaat sebelum dengan gerakan cepatnya, melempar salah satu pistolnya tadi kearah Jonghyun.

“Tangkap Hyung!”

Salah satu pistol segera berpindah tangan pada Jonghyun yang tentu saja berhasil membuat laki-laki tadi kehilangan konsentrasi karena gerakan cepat Minho. Kesempatan itu digunakan kembali oleh Minho dengan menendang tangan laki-laki itu, membuat pistol di tangannya terlepas. Laki-laki itu lebih terkejut lagi ketika ia kembali menatap Minho, dua pistol kembali mengancung padanya dari Minho dan Jonghyun yang baru selesai memasukkan peluru dari Onew dan ikut mengancungkan padanya.

“Kau kalah cepat..” ledek Jonghyun menyeringai puas melihat wajah bodoh si penjahat. Sementara Onew dengan santai berjalan kearah pistol yang terlempar dari tangan penjahat tadi, lalu bergabung dengan dua rekannya dan mengancungkan pistol itu pada laki-laki itu.

“Tiga kosong disini..”

Laki-laki itu tentu tak bisa mengatakan apapun selain mengeluarkan keringat dingin. Akhirnya ia memilih mengangkat kedua tangannya.

Soeun masih terdiam dan bingung sambil berganti menatap kertas dan bollpoint di tangannya. Saat ini ia telah dilepas untuk mengambil giliran pertama untuk menandatangani dokumen. Namun walau begitu salah seorang penjahat tetap berdiri santai di sampingnya sambil mengancungkan pistol tepat di salah satu bagian pelipisnya – siap meledak jika gadis itu melakukan apa yang tak diinginkan wanita kejam tadi.

“Ayo.. Soeun. Ini sudah beberapa menit sejak kau hanya menatap kertas itu..”

Wanita itu berseru malas sambil masih berdiri di sudutnya yang lain. Sementara Soyoung tampak juga masih memperhatikannya ketika Soeun berganti menatapnya dengan dokumen di depannya. Tampak meminta pendapat dari gadis yang Soeun sudah tahu pasti itu adalah kakak kembarnya.

“Lakukan saja, Soeun..” ucap Soyoung mengetahui Soeun menantikan sesuatu darinya. Ia sepertinya tahu bahwa Soeun masih bingung dan ragu dengan apa yang benar-benar terjadi.

“T-Tapi..” Soeun melirik kertasnya lagi, tangannya yang memegang bollpoint cukup basah akibat berkeringat. “A-Aku tak tahu b-bagaimana tanda tanganku sendiri..”

Wanita itu dan Soyoung sama-sama menatapnya cukup kaget, menatap Soeun setelah ia mengutarakan sendiri hal yang sejak tadi menganggunya.

“A-aku sama sekali tak tahu bagaimana caranya membuat tanda tangan..” ulang Soeun agak gugup.

“Tch, menyusahkan..” wanita itu mengomel lagi walau ia pasti tahu bahwa Soeun sampai begitu karena ulahnya juga. Pandangannya kemudian kembali pada Soyoung. “Kau telah menjadi Soeun dalam dua minggu ini, kau juga bisa memalsukan tanda tangannya dengan sempurna. Kau tentu tak keberatan membantu saudaramu bukan, Kim Soyoung?”

Soyoung kembali menatap muak wanita itu mendengar kata-katanya. Tapi ia dengan cepat mengangguk. “Tentu, aku bahkan bisa membantumu menandatangani sampai seluruh wajahmu biar kau puas…” ladennya dingin yang hanya ditanggapi kekehan dari wanita itu.

“Baguslah.” Ia beralih pada orang-orang suruhannya. “Ikat dia dan lepas Soyoung. Jangan lengah pada yang satunya ini, karena ia lebih berbahaya lima kali dari adik kembarnya..” katanya sambil berseringai pada Soyoung. Memberi pertanda bahwa Soyoung bahwa ia tak bisa melakukan apapun di bawah pengawasannya – tentu saja kalau ia ingin selamat.

Soyoung hanya mendengus bosan sambil mengalihkan perhatiannya.

Anak buah suruhan wanita itu tampak kembali menyeret Soeun untuk mengikatnya, sementara yang lainnya mulai membantu membuka ikatan Soyoung.

“Ini lebih lama dari perkiraanku..” ucap Key risau sambil menatap layar ponselnya. Berharap akan ada instruksi dari teman-temannya yang ada di dalam untuk memanggil polisi atau sejenisnya. Namun lagi-lagi tak ada tanda seperti itu.

“Bagaimana kalau sesuatu terjadi mereka sehingga mereka tak bisa memberitahu pada kita, hyung?” Tanya Taemin risau sambil mengalihkan perhatiannya dari gedung di depannya kepada Key.

“entahlah..” Key menghembuskan nafas berat sambil memijit kepalanya sendiri. “Tapi mereka bilang kita tak boleh sama sekali asal bertindak, mereka takut Namja dan kembarannya kenapa-kenapa di dalam sana..”

“Tapi menunggu terlalu lama juga tak terlalu baik, hyung. Yang dalam bahaya sekarang bukan hanya namja dan Soyoung, tapi mereka juga..” ucap Taemin cepat, masih penuh kerisauan.

“Kau benar..” Key menganggukkan kepalanya sambil setelah itu menunduk. Mencoba sedikit berfikir. “Kita menunggu untuk sepuluh menit lagi, kalau tetap tak ada khabar kita mulai hubungi polisi..” ucap Key akhirnya memutuskan. Taemin tampak mengangguk setuju dengan usulannya.

“Itu lebih baik..”

Setelah memastikan orang tadi terikat dengan kuat di salah satu tempat yang tersembunyi, ketiga pemuda tadi meninggalkannya. Mereka juga tak lupa membungkam mulut laki-laki itu. Kalau saja prediksi mereka benar, maka semua penjaga rumah itu sudah mereka lumpuhkan. Mereka hanya perlu mengatasi penjaga-penjaga yang saat ini mungkin sedang berada di sekitar Soeun dan Soyoung, dan mereka sendiri juga tidak tahu seberapa banyak dan seberapa kuat orang-orang itu.

Mereka selesai menaiki tangga besar yang ada di rumah itu. Saat ini, ketiganya di sambut oleh beberapa pintu ruangan yang tertutup rapat dengan posisi memanjang. Mereka yakin salah satu dari ruangan itu adalah tempat dimana Namja dan kembarannya disekap.

Dengan kode tangan, ketiganya memencar dengan hati-hati dan tanpa suara. Memeriksa pintu-pintu tadi untuk menemukan apa yang mereka ingin temukan. Kehati-hatian begitu terlihat dari setiap gerakan yang mereka lakukan, terlihat tak mau gegabah mengingat mereka sudah sejauh ini.

“Disini!”

Jonghyun tiba-tiba berseru dengan nada berbisik, membuat Minho dan Onew yang tadinya juga sempat memeriksa  beberapa pintu menoleh padanya. Kedua pemuda itu kemudian bergabung bersama Jonghyun yang telah mengintip di depan sebuah pintu yang terletak paling sudut kiri.

Ruangan yang menjadi tempat sisa penjahat terkumpul terlihat begitu terang oleh sinar lampu. Di dalamnya terlihat sekitar lima laki-laki bertubuh kekar berdiri di antara tiga orang perempuan. Satu perempuan yang terlihat angkuh tampak berdiri di samping seorang gadis yang tampak menghadapi sebuah dokumen dengan salah satu penjaga dengan sebuah senjata di sebelah kirinya, sementara gadis yang satunya tampak duduk tak jauh darisana yang juga didampingi oleh laki-laki kekar dengan senjata lainnya disisi kanannya.

“Tch, ini akan lebih susah..” keluh Jonghyun sambil menghembuskan nafasnya, pandangannya juga terus tertuju disana. “Oiya, mana namja dan mana Soyoung?” Tanyanya kemudian.

“Yang duduk adalah Namja, jadi yang sedang berdiri adalah Soyoung..” Onew menyahut cepat. Jonghyun tampak menganggukkan kepalanya.

“Tak tahu bagaimana caranya, kita benar-benar harus cepat. Lihat, Soyoung tampak sedang dipaksa menandatangani sesuatu. Kita harus bisa mencegah hal itu..” Minho bersuara dengan wajah seriusnya.

“Tapi bagaimana caranya? Mereka bahkan menjaga keduanya dengan ketat, takutnya kita berbuat sedikit kesalahan saja keduanya terluka..” sela Onew.

Minho tak menyahut, ia terus menatap ke dalam sana. Bila sebelum-sebelumnya ia masih bisa mencari jalan keluar untuk menghadapi orang-orang yang telah mereka ringkus kali ini ia terlihat bingung. Minho takut berbuar gegabah yang bisa saja melukai dua gadis di dalam.

Minho menghela nafas, mengalihkan pandangannya lebih spesifik pada gadis yang terduduk dengan wajah bingung bercampur ketakutan di dalam sana. Gadis itu adalah prioritasnya, bagaimana caranya kira-kira melepaskan gadis itu dari ketakutan yang mengelilinginya tapi tidak sampai melukainya.

Setelah tangannya bisa bergerak lebih nyaman, Soyoung mengambil bollpoint yang sudah disiapkan oleh wanita yang mengaku bibinya tadi. Pandangannya kemudian beralih kearah dokumen yang ada dibawahnya, menemukan tulisan SURAT PEMINDAHAN KEPEMILIKKAN DISANA.

“Cepat lakukan, Kim Soyoung. Jangan membuat aku terlalu bosan menunggu..”

Wanita dengan nilai hati yang Soyoung yakin sudah terlalu rendah itu kembali mengomel dan mengomel. Membuat Soyoung lagi-lagi harus menatapnya tak kalah tajam, dengan kebencian.

Soyoung menghela nafas sambil sekilas mengalihkan perhatiannya ke seisi ruangan. Sebenarnya daritadi ia menunggu saat ia terlepas seperti ini. Soyoung berusaha menemukan jalan keluar untuknya dan kembarannya Kim So Eun. Namun sejauh ini ia tak menemukan cara apapun mengingat saat ini lima laki-laki kekar dengan senjata tampak mengelilingi mereka, belum lagi satu yang sejak tadi mendampingi Soeun. Membuat ini kian terasa berat.

Soyoung mendesah lagi, melirik kertas tadi kembali. Biar bagaimanapun menandatangani ini bukanlah sebuah hal yang baik. Soyoung tahu bahwa wanita di depannya akan berbuat semaunya jika ia mendapatkan apa yang ia kehedaki – termasuk menyakiti kakeknya dan kembarannya lagi dan lagi.

“Cepatlah Kim Soyoung, lakukan sekarang..”

Soyoung beralih menuju wanita itu dengan tatapan jengkel, lalu kemudian beralih pada kembarannya. Dimana kembarannya itu tampak sudah begitu lemah bersama luka-luka yang menggores beberapa bagian tubuhnya. Soyoung seperti meminta pendapat dari Soeun.

Jangan lakukan..

Soeun seakan mengatakan itu sambil menggelengkan kepalanya. Ya, tentu saja kalau tidak terpaksa Soyoung tak akan melakukan ini semua, tapi keadaan sekarang…

“Jangan buat aku memaksamu, Kim Soyoung!” Desis wanita tadi bosan karena Soyoung terus mengulur waktu. Membuat Soyoung menoleh kembali padanya. Soyoung mendengus jengkel, lalu tanpa fikir panjang Soyoung menarik kertas tadi dan menandatangani form namanya dengan nama Soeun dengan cepat. Meninggalkan Soeun yang begitu kaget, sementara wanita tadi tersenyum puas.

“Ambillah! Sekarang lepaskan kami!” Seru Soyoung dingin sambil melempar dokumen tadi dengan kasar ke bawah kaki bibinya. Bibinya berseringai, lalu berniat merungkuk untuk memungut kertas itu.

*Brug!*

*DOR!!*

Semua orang yang ada disana kaget begitu mendengar seruan diiringi oleh letusan senjata api.

*DOR!*

“H-Hyung!” Taemin dan Key sama-sama tersentak mendengar suara senjata api. Kedua pemuda itu sama-sama saling bertatapan, terlihat cemas. “Tak bisa ditunggu lebih lama, hyung. Ini saatnya memanggil polisi..” kata Taemin kemudian.

“N-Ne..” ucap Key cepat sambil memeriksa saku celananya untuk mencari ponselnya. Tangannya tampak bergetar ketika ia melakukannya, terlihat cemas setengah mati.

“Cepat hyung, cepat! Mereka dalam bahaya..” pinta Taemin juga panik sambil melirik rumah itu.

“Iya..” sahut Key setelah menemukan apa yang dicarinya. Secepatnya pemuda itu menghubungi polisi.

Minho, Onew, dan Jonghyun sama-sama kaget sambil menoleh kebelakang mereka dimana ledakkan tadi tiba-tiba terdengar. Jonghyun adalah yang paling shock, ia menatap tak percaya bahwa ia baru saja tanpa sengaja menarik pelatuk benda berbahaya itu yang untung saja meledak kearah lantai di bawahnya, beberapa Centimeter dari kakinya.

“HEY SIAPA KALIAN?”

Ketiganya selesai dengan kekagetan itu ketika kekagetan lainnya datang, ketiganya berbalik kembali ke dalam – menemukan semua orang di dalam sana mengetahui keberadaan mereka saat ini.

“C-Cheonsa?”

Minho mengalihkan pandangannya pada Soeun sejenak sebelum mengangkat senjatanya, mengarahkan pada gerombolan penjahat yang tersisa disana.

“Lepaskan mereka!”

Wanita itu dan anak buahnya tertawa melihat aksi ketika pemuda tadi, menyepelekan ketiganya.

“Tch, kalian fikir ini adegan MV huh? Kalian benar-benar sok berlagak menjadi pahlawan kesiangan ternyata..” ledek wanita itu sama sekali tidak takut – begitupun anak buahnya.

“Biar kami yang bereskan bo—“

“—Tetap disana!” Seruan Soyoung tiba-tiba kembali terdengar ketika ia dengan cepat memungut kertas tadi – membuat orang-orang tadi menghentikan langkah mereka.

“Apa yang ada difikiranmu saat ini, Kim Soyoung. Kau tak juga bosan bermain, huh?” Wanita itu berseru sebal pada aksi Soyoung yang terbebas kali ini. Memundurkan langkahnya untuk bergabung bersama tiga pemuda tanggung tadi. “Kembalikan kertasnya!”

“Tidak! Aku tahu rencana busukmu setelah ini. Kau pasti akan membunuh kami dan menelantarkan kakek. Aku tak akan membiarkan semua itu..”

“Tch, kau benar-benar membuat kesabaranku habis..” wanita itu mendesis, lalu beralih pada Soeun. “Lihat, Soeun masih berada di tanganku. Kau mau aku melakukan magic lagi padanya, huh? Agar kau menyerahkan kertas itu..”

Soyoung tersurut, terdiam. Ya, ia melupakan bagian itu. Walau bagaimanapun Soeun masih dalam cengkraman mereka saat ini. Itu berarti…

“Jangan berbuat bodoh, nyonya. Anda tak akan bisa keluar dari jeratan hukum akibat perbuatan anda..” Minho tiba-tiba bersuara dengan tenang – masih dengan memegang senjatanya dengan waspada. “Kami sudah menghubugi polisi dan pasti sebentar lagi akan datang. Sebagaimanapun kalian semua mencoba kalian tidak akan lolos. Jadi jangan melakukan hal yang gila yang hanya akan membuat hukuman anda semakin berat..”

“Apa?” Wanita itu terlihat begitu kaget, begitupun anak buahnya yang saling bertatapan.

“Seharusnya kau sadar, bibi. Kejahatan tidak akan pernah menang..” kata Soyoung kembali setelah mendapatkan keberaniannya lagi, mengangkat dokumen tadi.

“Sialan..” wanita itu mendesis sejenak, sebelum akhirnya menarik salah satu senjata anak buahnya dengan cepat. Ia kemudian menarik Soeun untuk berdiri, mengalungkan lengannya di leher Soeun sementara lengannya yang lain mengarahkan pistol tepat di pelipis Soeun.

Semua orang begitu kaget dengan gerakan itu – bahkan anak buahnya sendiri.

“Mmh..”

“Jangan harap aku akan kalah disini..” wanita itu mendesis, mempererat cengkramannya pada Soeun yang membuat gadis itu lebih meringis. “Kembalikan kertas itu, atau.. kau tak akan pernah melihat kembaranmu lagi, Kim Soyoung…” ancamnya dengan seringaian iblis.

“Tch, bibi kau benar-benar…”

“Apalagi yang bisa kau lakukan, nyonya?” Onew tiba-tiba bersuara, dingin. “Dokumen itu jelas tidak valid karena terjadi dibawah pemaksaan. Ada lima orang yang bersaksi disini, menjadi sepuluh dengan anak buahmu. Apapun yang kau lakukan kau tak akan pernah lolos dari pidana. Baik menyerahkan diri, dengan begitu hukumanmu mungkin bisa lebih ringan..” sambungnya kemudian masih dengan nada dingin yang sama.

“Begitukah?” wanita itu terdengar meledek. “Kalau begitu bagaimana kalau kita perjelas ini..”

“Eunghh..”

Semua orang kaget ketika cengkraman wanita itu malah semakin kuat di leher Soeun – membuat gadis itu sulit bernafas.

“APA YANG KAU LAKUKAN BIBI!” Seru Soyoung setelah merasakan rasa tak nyaman yang sama di bagian leher Soeun. “LEPASKAN SOEUN!!”

“JANGAN MEMPERSULIT SEMUANYA NYONYA!!”

“Huh, biar saja. Toh kalau benar-benar masuk penjara setidaknya aku puas karena bukan hanya aku yang berduka..” Wanita itu terus menyeringai dan mempererat cengkramannya pada Soeun. Membuat Soeun benar-benar kesulitan bernafas.

“Lep—pas..”

“Apa katamu Soeunie?”

“Aku bilang.. LEPAS!”

Brughh!!

Semua orang benar-benar kaget ketika Soeun melakukan gerakan cepat. Meraih tangan yang tadi melilit lehernya dan memelintirnya kasar. Membuat wanita itu kesakitan bahkan melepas senjata api yang daritadi dipegangnya.

“Wow..” Jonghyun menggumam tanpa sadar, membuat yang lainnya ikut tersadar dari kekagetan mereka sebelumnya.

“Arhh…” Wanita itu merintih kesakitan akibat gerakan Soeun yang begitu mengejutkannya tadi. Membuat tubuhnya langsung jatuh ke tanah. Tubuh Soeun juga langsung kembali lemas setelah itu.

“Namja!” Minho berlari sambil menyongsong Soeun, menangkap tubuhnya sebelum ikut jatuh ke lantai. Sementara itu Soyoung dibantu Onew dan Jonghyun langsung mengamankan wanita tadi agar ia tak kembali berbuat gila. Sementara para suruhan tadi tampak sama-sama saling bertatapan bingung, sebelum akhirnya memutuskan melarikan diri – meninggalkan tuannya yang merintih kesakitan.

“Arhh, kita mendapatkannya..” Jonghyun berseru bangga, membantu Soyoung mengikat kedua tangannya.

“Hum, beruntung Soeun mengingat bagian Taekwondonya di saat-saat penting seperti ini. Kalau tidak aku tak tahu apa yang terjadi..” sahut Soyoung juga tampak tersenyum lega, mengalihkan perhatiannya pada Soeun yang berada tepat di belakangnya. Namun yang ditemukannya justru Minho yang tampak sibuk menyentuh pipi Soeun yang sepertinya sudah hilang kesadaran.

“Dia pingsan..” ucap Minho sedikit panik. Onew yang sejak tadi memungut dokumen-dokumen yang berada disana beralih, mendekat kearah keduanya.

“Jangan khawatir, ia akan segera sadar..” ucapnya lirih, berlutut di depan kedua orang itu. “Dua hari ini merupakan hari yang berat untuknya. Sudah selayaknya ia merasa lelah setelah mengeluarkan tenaga terakhirnya seperti tadi..” sambungnya sambil tersenyum menatap Soeun, lalu kemudian beralih pada Minho. Minho tampak mengerti, menganggukkan kepalanya sebelum kembali mempernyaman posisi Soeun di dekapannya.

Sementara itu Soyoung tampak tersenyum samar melihat moment itu, sebelum akhirnya beralih kembali pada wanita di depannya. Menatap wanita itu dengan tajam dan penuh kebencian lalu memperkuat ikatan yang membelenggu tangannya agar tak lagi bisa bergerak – tak lagi bisa menghancurkan hidupnya dan keluarganya.

Aroma obat-obatan membuat Soeun tersadar dari tidur panjangnya. Gadis itu bergeming, mulai menggerakkan beberapa bagian tubuhnya. Sebelum akhirnya mulai berusaha membuka matanya yang terasa berat.

“Namja bangun!”

Itu suara Taemin, Soeun mengenalnya – membuat gadis itu semakin berusaha membuka mata. Soeun kali ini berhasil, walau ruang muram adalah yang pertama yang ia temukan.

“Namja-ah, Choi Namja! Kau bisa mendengarku!”

“Choi Namja! Kau bisa melihatku?”

“Namja!”

Secara perlahan namun pasti Soeun dapat melihat lebih jelas. Kali ini secara bergantian ia bisa melihat wajah-wajah dari orang-orang yang daritadi khawatir dengan keadaannya. Orang-orang yang selama ini menjaga dan melindunginya.

“Eung..”

“Choi Namja!”

Soeun tersenyum, menatap wajah-wajah tampan itu dengan bahagia setelah ia dapat melihat mereka benar-benar jelas.

“Y-Ya..”

“Hhfft, kau benar-benar sudah sadar? Syukurlah, kami mencemaskanmu..” celoteh Key dengan senyuman lega. Menatap gadis manis itu. “Apa kau tak apa-apa? Adakah yang sakit?”

Soeun tersenyum mendengar pertanyaan Key, lalu mengangguk. “T-Tidak ada. Aku baik-baik saja…”

“Ahh, syukurlah!!”

Soeun mengalihkan perhatiannya, beralih melirik kearah lain ketika ia merasa tak menemukan sesuatu. “Soyoung, Cheonsa, Onew Oppa, Jonghyun oppa? Mereka dimana? Mereka tidak kenapa-kenapa bukan?” Tanya Soeun kemudian, terlihat cemas.

“Tenang saja, mereka baik-baik saja. Saat ini mereka sedang berada di kantor polisi untuk bersaksi mengenai kasus yang menimpamu. Kami tadi yang membawamu kemari karena kau pingsan..” Taemin berceloteh yang diangguki Key.

“Hm, kau pingsan cukup lama, kami cemas sekali..” sambung Key penuh ekspresi. Membuat Soeun lagi-lagi tersenyum.

“Aku sudah tidak apa-apa, terima kasih..” ucapnya kemudian. Dua pemuda itu tampak ikut tersenyum, mengangguk.

“Tidak perlu berterima kasih, kami senang kau baik-baik saja..”

“Ya, kami bersyukur untuk itu..”

Ketiga orang itu sama-sama tersenyum, terlihat lega apa yang telah mereka capai dan dapatkan di titik ini.

*Klek!*

“Soeun!”

Ketiganya mengalihkan perhatian ke arah pintu ketika seseorang membuka dari luar. Tak lama terlihat Soeun masuk dengan tergesa-gesa, langsung menyongsong Soeun dan memeluknya erat.

“Soeun, kau tak apa-apa? Aku mencemaskanmu..” bisik Soyoung padanya.

Soeun yang awalnya masih memandang kearah pintu ketika melihat Minho, Jonghyun, dan Onew ternyata berada di belakang Soyoung dengan cepat mengalihkan perhatiannya. Ia tersenyum lembut dan mengusap bahu Soyoung pelan.

“Ya, sudah tak apa-apa. Tak usah khawatir..” bisiknya pelan. Ya, Soeun menemukan keterikatannya dengan Soyoung walaupun ia sama sekali tak mengingat sedikitpun jati dirinya.

Pelukan dua kembaran itu terlepas, keduanya saling tersenyum sebelum mengalihkan perhatiannya ke belakang. Menemukan dua pemuda lainnya yang berdiri di dekat pintu.

“Onew oppa, Cheonsa.. kalian tak apa-apa?” Tanya Soeun pada keduanya.

“Hm, tentu. Lain kali kau seharusnya mendengarkan kata-kata orang lain sebelum berbuat, lihat apa yang terjadi padamu karena kau tak mendengarkan nasehat Onew hyung..” sahut Minho datar, cuek – yang tentu saja membuat Soeun menundukkan kepalanya.

“Tch, tak usah dengarkan dia..” Onew tersenyum sambil mendekat, menyentuh lembut kepala Soeun. “Kami lega kau baik-baik saja, dia hanya terlalu khawatir itu sebabnya ia begitu. Tak usah dengarkan dia ya…” kata Onew sambil tersenyum lembut pada Soeun. Membuat senyuman berbinar kembali terlihat di wajah Soeun, gadis itu menganggukkan kepalanya.

“Sok tahu..” Minho menyela bosan, memutar bola matanya sambil bergabung dengan Jonghyun yang sedang menyantap makanan yang dibawakan Key seperti orang kelaparan – karena aksinya bersama Minho dan Onew semalam.

“Oiya, Soyoung-ssi..” Soyoung beralih pada Soeun ketika ia memanggilnya dengan nada bicara yang terdengar aneh di telinganya.

“Kenapa kau memanggilku begitu? Kita sudah bersama semenjak dalam kandungan, kau tak bisa memanggilku begitu..” protesnya sambil sedikit cemberut. Soeun tergagap.

“O-Oh, Maaf… Maksudku, S-Soyoung-ah..”

“Itu lebih baik..” Soyoung tersenyum senang. “Ya, ada apa Soeun-ah?” Tanyanya sambil kembali mendekati Soyoung.

“Bukankah sebelumnya kau menyebut bahwa kita masih mempunyai kakek yang merawat kita semenjak kecil? Hum, maukah kau mengantarku padanya?”

“Tentu..” Soyoung tersenyum berbinar sambil meraih bahu Soeun. “Kebetulan kakek dirawat di rumah sakit ini juga, dia pasti akan senang melihatmu..” ucap Soyoung sambil memegang kedua bahu Soeun. Soeun ikut tersenyum dan mengangguk.

“Terima kasih..”

“Aku akan mencarikan kursi roda..” Taemin tiba-tiba bangkit dari tempat duduknya dan dengan cepat keluar dari ruangan untuk menemukan kursi roda untuk Soeun – meninggalkan hyung-hyungnya yang terlihat sedikit bingung.

“Aneh sekali anak itu mau bertindak tanpa disuruh dulu..” ucap Jonghyun menghentikan kegiatan makan besarnya sejenak, melirik teman-temannya yang lain yang kebingungan.

“Tentu saja..” Key terkekeh. “Dia seperti merasa bersalah karena tadi tak ikut turun tangan menyelamatkan namja. Kalian harus lihat wajahnya tadi ketika mendengar tembakan ataupun ketika Namja tak kunjung sadarkan diri ketika pingsan tadi, dia benar-benar pucat. Sepertinya ia menyalahkan dirinya karena begitu penakut..” celoteh Key sedikit terkikik. Sementara tiga member lainnya juga tampak tertawa sambil terus melanjutkan acara makan mereka.

“Yeah, setidaknya Maknae kita sudah bisa sedikit berfikir dewasa..” tanggap Onew pendek, melanjutkan acara makannya.

*Klek*

Pintu itu terbuka dari luar. Tak lama terlihat dua gadis dengan wajah serupa memasuki tempat yang dihuni oleh seorang laki-laki paruh baya itu – dimana salah satunya tampak menaiki sebuah kursi roda yang didorong oleh kembarannya.

Soeun terdiam ketika ia dapat menyentuh pinggiran tempat tidur Tuan Kim. Ia menatap wajah tenang yang masih terlelap damai itu, dan disaat yang sama hatinya tampak tergerak – memberikan pertanda bahwa ia begitu mengenal sosok ini.

“Soeunie, ini adalah kakek kita. Seseorang yang merawat kita semenjak kedua orang tua kita telah tiada, terlebih dirimu..” ucap Soyoung sambil mengusap kedua bahu Soeun. Gadis itu kemudian bergerak ke samping Soeun, membantu merapikan selimut tuan Kim sebelum menggenggam tangan laki-laki berumur itu. “Kakek, bangunlah.. ada Soeun disini yang datang mengunjungi kakek..” bisiknya ke telinga laki-laki itu.

Sementara Soeun masih terdiam di tempat duduknya. Ia memperhatikan wajah keriput itu dengan seksama, berusaha mengenali lebih jauh wajah yang ia akui memang memiliki ikatan khusus dalam dirinya.

“Soeun..” Lamunan Soeun terhenti ketika Soyoung kembali memanggilnya sambil meraih jemari Soeun dan meletakkannya diatas jemari Tuan Kim. “Coba kau bantu membangunkan kakek, mungkin kalau kau yang memanggil beliau bisa mendengarmu..” ucapnya sambil tersenyum dan menggenggam kedua jemari itu, membantu Soeun untuk menggenggam jemari Tuan Kim.

Soeun lagi-lagi hanya terdiam untuk sementara, ia menatap wajah itu sekali lagi sebelum bersuara, “K-Kakek? A-Aku datang…”

Jemari itu tiba-tiba bergerak, membuat kedua gadis itu sedikit kaget. Keduanya dengan cepat kembali melirik wajah damai itu – dimana kali ini kelopak mata laki-laki itu mulai bergerak pelan.

“Kakek sepertinya mendengarmu Soeun, ia sepertinya akan bangun..” ucap Soyoung senang sambil tersenyum pada Soeun. Soeun ikut mengangguk senang, lalukembali menggenggam pelan jemari itu.

“Apa kakek mendengarku? Aku disini..” bisiknya lagi, dengan perasaan lebih yakin terhadap dirinya.

Lagi-lagi bereaksi, gerakan laki-laki itu lebih banyak. Kelopak matanya juga terus bergerak dan membuka dengan tempo yang pelan, hingga tak lama benar-benar terbuka dengan sayu.

“Kakek!” Kedua saudara kembar berseru senang, menatap mata sayu yang baru saja terbuka itu. Menampakkan tatapan yang kosong, namun tetap terlihat bahagia ketika menemukan kedua gadis kembar itu berada di dekatnya. Kedua gadis kembar itu lebih terlihat bahagia.

*Klek*

Moment indah itu terhenti sejenak ketika mendengar pintu terbuka, kedua gadis itu memalingkan wajah ke arah pintu mendengar kedatangan seseorang. Menemukan seorang laki-laki yang menatap kaget kearah keduanya.

“Soyoung… Soeun…”

“Huh, berita ini benar-benar sudah menyebar tanpa bisa ditahan. Kini seluruh dunia sudah tahu keseluruhannya..” Ucap Key sambil bergerak dari tempatnya tadi membawa smartphonenya untuk ditunjukkan kepada teman-temannya. Member lainnya tampak ikut menoleh kesana dengan penasaran.

“Mereka sungguh mengetahui semuanya?” Tanya Minho kemudian.

“Ya, benar-benar semuanya. Dari Minho menemukan Namja serta aksi heroik kita ketika menyelamatkan keduanya…” ucap Key sambil mengangkat satu alisnya, sedikit membanggakan diri.

“Bagaimana pendapat mereka?” Tanya Onew kemudian.

“Yeah, seperti biasanya, tentu ada fans yang tidak menyukai kenyataan ini. Tapi tenanglah, kita mendapat cukup banyak dukungan disini..”

“Lalu bagaimana dengan perusahaan hyung? Apa sudah ada khabar?” Tanya Taemin pada leader mereka, Onew mengangkat bahu.

“aku tidak terlalu tah—“

“—Mereka tak akan mempermasalahkannya..” Minho tiba-tiba memotong. “Berdasarkan pengalamanku dengan skandal sebelumnya mereka malah akan senang dengan hal ini, lagipula kita sudah mendapat pujian dari pihak kepolisian. Aku kira tak ada alasan mereka untuk menegur kita..” ucap Minho ambil cuek. Member lainnya tampak menganggukkan kepalanya dengan senang, tanda setuju dengan ucapan Minho.

“Syukurlah kalau begitu..” Tanggap Jonghyun sambil kembali mengambil posisi nyaman di sofa, berusaha mengistirahatkan tubuhnya.

Minho tampak bangkit tiba-tiba dari tempatnya, mendatangkan tolehan dari teman-temannya.

“Mau kemana hyung?” Tanya Taemin penasaran pada Minho yang telah bergerak kearah pintu.

“Toilet!” Minho menyahut tanpa menoleh.

Ruangan itu terlihat cukup hening dalam beberapa saat, seluruh orang-orang disana tampak menunjukkan wajah yang serius. Mereka semua tampak memikirkan sebuah masalah yang saat ini sedang mengganggu keduanya.

“Jadi itu semuanya yang terjadi padamu, Kim So Eun?” Tanya Shin Hyesung, pengecara keluarga Tuan Kim yang selama ini mengurus semua hal berkaitan hukum di dalam keluarga Tuan Kim. Termasuk masalah harta warisan dan lainnya.

Soeun tampak mengangguk kecil menanggapi pertanyaan yang diajukan oleh laki-laki yang masih cukup asing baginya itu. Jemarinya masih menggenggam tangan tuan Kim yang saat ini sudah cukup terjaga dan mendengar percakapan antara cucunya dengan orang kepercayaannya.

“Kira-kira apa yang bisa kita lakukan, Pengacara Shin? Bisakah kita membantu Soeun untuk mengingat semuanya?” Tanya Soyoung kemudian.

Laki-laki itu tampak terdiam sejenak, sedikit berfikir otak mengenai pertanyaan Soyoung barusan. “Sebenarnya ini masalah yang benar-benar rumit, maksudku kita tak mengetahui cairan seperti apa yang telah diberikan kepada Soeun sebelumnya. Perlu penanganan medis untuk mengetahui semuanya lebih pasti..” jawab laki-laki itu.

Soyoung dan Soeun bersamaan menghela nafas, menundukkan wajah ketika merasa bahwa semuanya kian semakin sulit.

“Tapi aku pernah mendengar terapi-terapi khusus yang ada di Amerika. Kurasa kita bisa mencobanya dengan membawa Soeun kesana…”

Soeun sedikit kaget dengan penuturan itu. Dibawa ke Amerika?

“Ya, aku juga pernah mendengarnya!” Soyoung menyahut cepat, lebih bersemangat. “ayo kita lakukan, Ya Soeun.. Ayo kita lakukan!” Seru Soyoung senang sambil menggenggam jemari Soeun, meminta persetujuannya yang oleh Soeun dijawab dengan senyuman kaku – terlihat bingung.

Sementara itu tanpa mereka ketahui seseorang mendengar percakapan itu dari luar. Seseorang yang ternyata Minho itu tampak sedikit terdiam mendengarnya, berfikir sejenak sambil melirik Soeun yang tampak masih mempertimbangkan hal itu di dalam sana sebelum akhirnya memilih meninggalkan tempat itu secara diam-diam.

Gadis yang masih menggunakan kursi roda untuk bergerak itu sore ini tampak membawa dirinya keluar dari ruang inap Tuan Kim. Hari ini semenjak pagi Soeun memang berada disana untuk menjaga kakeknya karena Soyoung sedang sibuk-sibuknya dengan perusahaan.

Sudah dua hari semenjak kejadian mengerikan itu dan dua hari ia berada di rumah sakit. Saat ini kondisi Soeun bisa dikatakan lebih baik walau tetap ia masih memerlukan kursi roda untuk bergerak karena memang kakinya sedikit cidera akibat pengalaman buruk yang dialaminya sebelumnya.

Soeun tampak menghentikan gerakan kursi rodanya tepat di depan mesin minuman kaleng. Gadis itu kemudian mencari-cari koin di sakunya untuk ditukarkan dengan sekaleng minuman yang diinginkannya. Namun karena kesalahannya, tanpa sengaja koin yang diambilnya tadi terlepas, menggelinding di lantai.

*Srrt..*

Koin itu terhenti ketika tepat di depan sepasang sepatu, penasaran Soeun segera mengangkat wajahnya untuk melihat siapa yang datang.

“Cheonsa..” panggilnya sedikit tak menyangka.

Minho, pemilik sepasang sepatu tadi tersenyum singkat. Pemuda tampan itu kemudian membawa langkahnya kearah mesin minuman tadi.

“Kau tak pernah lolos dari yang namanya masalah yang ditimbulkan karena kelalaianmu sendiri..” ucap Minho singkat. Pemuda itu kini tampak sibuk memasukkan koin tadi dan meminta Soeun untuk memilih minuman yang diinginkannya, setelah ia mengambil minuman yang dipilih Soeun ia kemudian meraih dua botol yang sama yang keluar dari benda ajaib itu. Ia menyerahkan salah satunya pada Soeun.

“Terima kasih…” ucap Soeun sambil menerimanya, Soeun awalnya langsung berniat membukanya, namun ia menunda hal itu dan kembali melirik Minho. “Apa yang Cheonsa lakukan disini? Apakah Cheonsa tidak bekerja?” Tanya Soeun padanya.

“Aku ada pemotretan hari ini..” sahut Minho singkat sambil mengambil kaleng tadi lagi dari Soeun. Minho tampak membantu Soeun untuk membuka tutupnya lalu meletakkan kembali di tangan gadis itu. “Tapi aku  mendapat bagian terakhir dan bagianku baru sekitar dua jam lagi, jadi aku putuskan kemari..”

Pembicaraan mereka terhenti sesaat dan keduanya sama-sama terdiam sejenak. Minho tampak kembali bergerak saat ini, mendorong kursi yang diduduki Soeun dan membawanya menuju sebuah bangku terdekat yang ada disana. Setelah mendapatkan posisi yang cukup nyaman bagi Soeun dan kursi rodanya, ia bergerak duduk di bangku tadi.

“Bagaimana keadaan kakekmu?” Tanya Minho setelahnya, kali ini ia tampak sibuk membuka kaleng minumannya sendiri dan meminumnya.

“Hm, beliau sudah membaik bahkan kata dokter beliau bisa pulang dalam beberapa hari..” sahut Soeun pelan, dengan wajah berbinar.

“Syukurlah..” tanggap Minho pelan, terus meminum minuman kaleng di tangannya.

“SHINee sendiri bagaimana? Dorm..” tanya Soeun kemudian.

“Hm, masih sama seperti dulu. Tapi yang jelas tempat itu lebih nyaman kini karena tidak ada lagi yang berisik sepertimu..” ucap Minho sambil sedikit tersenyum, sementara Soeun malah sedikit cemberut – cukup kesal dengan jawaban Minho.

“Kalian sepertinya bersenang-senang setelah aku pergi..”

“Ya, kira-kira begitu..”

Hening kembali, dua orang itu tampak sibuk dengan fikiran dan minuman mereka masing-masing. Soeun tampak sibuk mengetuk-ngetuk kaleng minumannya dengan ujung jari, sementara Minho tampak juga sedikit menunduk sambil sesekali meminum minuman di tangannya.

“Oiya..” Minho tiba-tiba mengingat sesuatu. Pemuda tampan itu tampak mengangkat wajahnya dan melirik pada Soeun. “Aku dengar dari Soyoung, kau akan ke Amerika, benarkah begitu?” Tanya Minho kemudian, nadanya terdengar sedikit ragu.

Soeun sedikit menghela nafas mendengar pertanyaan Minho, ia kemudian mengangguk pelan. “Ya, begitulah. Mereka bilang peralatan medis disana begitu canggih dan dapat membantuku untuk pulih..” sahut Soeun dengan pelan.

Minho tampak menganggukkan kepalanya dengan pelan mendengarnya. “Oh, kufikir tak ada salahnya dicoba. Amerika terkenal sebagai negara serba ada, bukan begitu?” Tanya Minho sedikit tersenyum miris, kembali menenggak minumannya.

Soeun terdiam mendengar ucapan Minho. Sebenarnya, ada sebuah hal yang selama ini membuatnya ragu untuk menerima tawaran untuk pergi ke Amerika. Sesuatu yang rasanya akan begitu akan sangat sayang untuk ia tinggalkan, Soeun tak mau meninggalkan bagian itu begitu saja.

“Aku harap ketika kau berada di Amerika kau mulai belajar untuk tak merusak apapun yang sedang kau kerjakan. Contohnya seperti membeli minuman seperti tadi, kau tak bisa terus melakukan kecerbohan yang sama ketika kau sudah berada di tempat yang jauh seperti itu..”

Soeun kembali menunduk mendengar ucapan Minho. Ya, terlalu jelas menyebutkan bahwa sesuatu yang menahannya tadi adalah Minho. Satu hal yang membuat Soeun sulit untuk meninggalkan negara ini adalah pemuda di sampingnya ini – walau dengan jelas Minho menunjukkan ia sama sekali tak peduli bahkan jika ia akan berpisah dari Soeun. Soeun berfikir mungkin Minho malah merasa senang ketika Soeun tak lagi membebaninya.

“Aku akan berusaha…” Soeun menyahut singkat mengenai ucapan Minho tadi, menundukkan wajahnya semakin dalam guna meredam apa yang sebenarnya membebani fikirannya saat ini.

“Baguslah..” Minho lagi-lagi tersenyum samar mendengar sahutan Soeun, ia menenggak sisa minuman di tangannya sebelum membuang kaleng tadi ke tempat sampah terdekat. “Kukira sudah saatnya kau kembali ke kamar. Ayo kuantar…” ucap Minho sambil bangkit. Pemuda itu kembali meraih gagang kursi roda Soeun, lalu mendorongnya dengan pelan menuju dimana ruang inap Soeun.

Suasana hening lagi-lagi memerangkap keduanya sepanjang perjalanan singkat mereka kembali ke ruang inap Soeun. Soeun tampak terdiam dan menundukkan kepalanya sambil berusaha menghilangkan masalah yang memberatkannya, sementara Minho tampak terus mendorong kereta dengan pelan sambil masih terus menutupi identitasnya dengan topi dan kacamata hitam yang dipakainya.

“Kita sampai..” Pemuda itu lagi-lagi bersuara memecah keheningan, ia tampak mengulurkan tangannya – mendorong pelan ruangan itu. Setelah terbuka lebar, ia kembali mendorong Soeun untuk masuk bersamanya. “Kau mau langsung beristirahat di tempat tidur atau—“

“Hum, tak perlu Cheonsa, aku masih ingin duduk-duduk di dekat jendela..” Soeun memotong cepat, membuat pemuda itu mengangguk.

“Baiklah..” tanggap Minho singkat, pemuda itu kemudian mendorong kursi itu ke dekat jendela yang ada disana – memungkinkan Soeun untuk melihat tatanan kota Seoul dari tempat itu. “Kau bisa melihat semuanya..” ucap Minho kembali tersenyum, mengalihkan perhatiannya ikut melihat pemandangan yang terlihat dari tempat itu.

Hening lagi untuk beberapa saat, Soeun kali ini benar-benar mulai merasa bosan hanya diberatkan oleh pemikiran yang sama. Hal itulah yang membuat gadis itu bergeming, mengalihkan perhatiannya pada Minho yang berdiri di samping kursi rodanya.

“Cheonsa? Bolehkah aku bertanya?” Tanya Soeun pelan, ragu.

“Tanyakan saja..” Sahut Minho setengah acuh, masih juga asyik memperhatikan pemandangan di depannya.

Soeun menghela nafas, mengalihkan perhatiannya keluar sana sebelum kembali bersuara, “Kira-kira kalau aku jadi pergi ke Amerika, apakah kau akan merindukanku?”

Ekspresi Minho langsung berubah dengan pertanyaan itu, ia sedikit terdiam – sebelum beralih melirik gadis itu. “Kenapa kau menanyakan itu?”

“Hm..” Soeun tergugup. “M-Maksudku, A-Aku hanya.. ingin tahu..” ucapnya kian gugup, menundukkan kepalanya.

Minho lagi-lagi tersenyum samar, mengalihkan pandangannya kembali menatap pemandangan yang terpampang di luar sana. “Kau menanyakan apakah aku merindukanmu, tentu.. aku akan merindukanmu. Bahkan sangat..” Minho bersuara ambigu, tanpa nada. Membuat Soeun mengangkat wajahnya kembali, sedikit tak percaya dengan apa yang didengarnya itu. “Tapi aku begitu sadar bahwa kau memang harus pergi untuk menyembuhkan ingatanmu, aku pasti akan menunggumu, asalkan..”

Minho kembali mengalihkan perhatiannya, melirik gadis itu dengan tiba-tiba sehingga ia telak mendapatkan kedua matanya.

“Ketika kau memiliki semua memorimu kembali, kau tak melupakan memori yang pernah kau jalani bersamaku..”

Soeun terdiam, ia lebih kaget tak menyangka lagi dengan apa yang baru saja Minho katakan. Astaga, apakah ini semua nyata, tapi kenapa terasa.. mustahil.

“B-Bukankah Cheonsa membenciku? Kenapa..” Soeun tak melanjutkan kata-katanya, tak tahu berbicara apa.

“Hm, aku membencimu. Aku benci mengingat bagaimana orang sepertimu bisa dengan mudah mencuri perhatianku, lalu sekarang.. berniat melarikan diri begitu saja..”

Kian terasa membingungkan, kenapa Choi Minho…

Lamunan Soeun terganggu ketika tiba-tiba Minho berlutut di depannya sambil menggenggam kedua tangannya. Membuat Caramel milik Soeun bertemu dengan Orb miliknya.

“Segeralah berobat, lalu kembali setelah itu untuk menemuiku. Ini semua harus lebih jelas bila kau telah datang dengan dirimu yang sebenarnya, agar aku benar-benar bisa mencintai Kim Soeun seperti yang telah aku lakukan kepada seorang Choi Namja..” ucap Minho sambil terus menatap Soeun, berefek membuat Caramel Soeun seperti meleleh – bersiap mengeluarkan air mata.

“Cengeng..” Ledek Minho sambil menghapus cairan-cairan yang sempat keluar dari kedua sudut mata Soeun. Menatap gadis itu kembali dengan dalam, sebelum mengangkat tubuhnya lebih tinggi untuk mendekatkan wajah mereka. Mempertemukan bibir mereka kembali dalam ungkapan yang lebih dapat diterima daripada ciuman mereka yang sebelumnya.

#Setahun Kemudian#

Pemuda itu masih sama, masih tampan dengan tubuh tinggi atletis serta bentuk wajah yang mendekati sempurna. Saat ini, pemuda tampan itu tampak kembali harus memakai topi yang tertutup serta kacamata berwarna hitam yang membuat wajahnya hampir setengahnya tertutupi. Duduk tenang di tempat yang sepi di sudut-sudut bendara.

“Hhh..”

Ia mendesah bosan, melirik pergelangan tangannya sambil mengalihkan perhatiannya kearah Terminal bagian kedatangan. Tak lama ia melihat orang-orang mulai keluar darisana, membuat senyuman sedikit terlihat di wajahnya. Setelah memantapkan posisi topinya pemuda itu bergerak dari posisinya.

Sementara itu dari dalam sana diantara orang-orang yang keluar, seorang gadis manis dengan syal putih yang melilit lehernya tampak baru saja keluar. Gadis itu tampak menoleh ke sekitarnya dengan bingung, sambil sesekali melirik jam di pergelangan tangannya.

“Dimana?” Tanyanya bingung sambil memisahkan diri dari keramaian, mulai memeriksa ponselnya pada di dalam tas yang dibawanya.

*Brugh!!*

Ia kaget ketika seseorang menabraknya tiba-tiba, membuat tasnya jatuh ke lantai bandara. Ia dan orang yang menabraknya tampak sama-sama kaget.

“Astaga, M-Maaf..”

Orang itu mengungkapkan penyesalannya sambil membantu memungut tas gadis tadi yang terjatuh. Ia kemudian mengulurkan tas tadi kembali pada pemiliknya.

“Tas anda nona..”

Soeun terdiam, menatap tas yang diulurkan tadi sambil berganti menatap orang yang berdiri di hadapannya. Perbuatannya tentu saja membuat orang itu bingung.

“Nona? Tas anda..”

Gadis itu tersadar, masih memasang wajah yang datar. Tak berapa lama ia mulai mengangkat tangannya, berniat mengambil kembali tasnya.

*Grab!!*

“Berhenti main trik denganku, Choi Minho-ssi..” ucap gadis itu sambil tersenyum kecil, menggenggam pergelangan tangan dari orang dihadapannya.

Laki-laki itu tampak tersenyum mendengar ucapan gadis di depannya. Ia kemudian melepas kacamata hitam yang dipakainya. “Kau ternyata masih mengingatku dengan baik..” ucapnya datar, memasang kembali kacamatanya.

“Hanya karena takut aku tak akan mengingatmu kau tak perlu membuat lelucon, Cheonsa..” Kim So Eun, gadis itu mencibir.

“Yeah, jadi seperti ini Kim So Eun yang sebenarnya? Terlihat lebih cerdik dan pintar dari seorang gadis Amnesia yang aku temukan lebih dari setahun yang lalu..” ledek Minho.

“Hm, kecewa dengan itu..” ledek Soeun balik.

“Tidak juga..” Minho menyahut pendek sambil merebut koper Soeun. “Bahkan kufikir yang seperti ini lebih keren, menantang..”

Kedua orang itu sama-sama tersenyum sambil bergandengan tangan keluar dari bandara – mengacuhkan orang-orang yang juga tak ambil pusing dengan keduanya.

“Oiya, bagaimana khabar member SHINee lainnya? Onew oppa, Jonghyun oppa, Key oppa, dan Taemin? Bagaimana khabar mereka saat ini?” celoteh-celotehan itu tetap terdengar seiring mereka yang kian menjauh dari pandangan.

“Hum, Jonghyun hyung dan Taemin sudah punya pacar sekarang, Jonghyun hyung dengan gadis kalangan bukan selebriti sementara Taemin dengan salah satu Hoobae dari member girlband Management yang sama. Sementara Key, uh… kau tahu sendiri bukan kalau ia bukan tipe orang yang bisa terikat dengan hubungan yang serius?”

“Hum, bagaimana dengan Onew oppa?”

“Huh, Onew Hyung, entahlah, aku juga tak tahu. Soyoung sering mengungkapkan rasa tertariknya pada padanya namun Onew hyung belum juga menjawabnya. Ia malah semakin sibuk dengan pekerjaannya sekarang..”

“Benarkah? Aku rasa ia tengah menungguku..”

“Apa yang kau katakan…”

“Pasti begitu…”

“Tidak mungkin…”

“Iya..”

“Kau terlalu percaya diri…”

Dan, semakin jauh, yang ada kini hanya sisi terang. Setelah sisi gelap yang melingkupi mereka selama ini sudah benar-benar menghilang. Dan ketika semuanya sudah terang, maka akan lebih mudah bagimu untuk menemukan lebih banyak kebahagiaan.

ending Refill Memory

39 Comments Add yours

  1. idhacutvit mengatakan:

    Anyeong chinguuuuuu >< . . .

    Aishh . . . Minho_ssi emg cool n ngga da kesan2 romantisx sma skali , , nembakpun ngga romantis bngt . . . Ckckckck -_-
    Ngga xngka aja udh smpe part ending , , kirain masih pnjg eh txta udh end , , bklan kngen nich ma couple ini . . . Endingx keren chingu cz da adegan actionx . . . Daebak . . .
    Aq tunggu epepmu yg lain chingu . . .

    Tetep cemungut . . .
    FIGHTING . . . ^_^

  2. cucancie mengatakan:

    Kyaaaa…akhirnya selesai juga,,,happy ending…seru bgt tuh td fight nya,,,lg serius dan tegang td pas tiba2 senjatanya jonghyun meledak…bikin kaget aja…wkwkwk…minho so eun yeayyy so sweet…sukaaa…kereenn…ditunggu ff lainnya…author fighting!!!

  3. Anna mengatakan:

    Lega-ny happy end jg stlh pnntian yg pnjg,eiiiiyy soeun yg bru trnya lbh trksn smart n prcy dri lenyap deh sso yg polos n lemah,,tp ttep lembut minho nie mpe ekhr ttp aja cool n cold,,good ending gomawo🙂

  4. tanti no kawai mengatakan:

    Di line pertama di buat ikut tegang_dengan aksi penyelamatn merka terhadap si kembar….
    Tapi Ĵåϑΐ senyum2 sendri_sa’at line Jonghyun tanpa sengaja menembk….
    Ckckkckkc #LoL jonghyun#

    Dan pada akhirnya si kembar bersatu η berkumpul kembali dengan kakekny…🙂
    Line di mana Sso_bertemu dengn k2k ηγά̲̣̥ η membuat kakeknya sadar dari koma sangat mengharukan…😥

    Ckckkckc…. Sedikit di buat gregetan ma sikap minho Ϋά̲̣̥ηġ tetep dingin ma Sso…. U.U

    Tapiii pada akhirnya MinSso bersatu juga…. Minho sweet deh sa’at di rumah sakit…🙂

    Kkkkk…. Ending di bandara itu_lucu juga percakapan mereka….😀

    Huaa…. Part end Ϋά̲̣̥ηġ komplit…. Dari Ϋά̲̣̥ηġ menegangkan .͡▹​ Mengharukan .͡▹​ Lucu dan Sweettttt ηγά̲̣̥ juga dapettt bangettt….. Kerennn deh pokoknya…. (y)🙂

  5. pipip mengatakan:

    Waaah akhirnya ff ini ending jg
    Ceritanya seru tegang wktu mreka mau nyelamatin soeun brsa nnton film aksi
    Eon crita minho dgn soeunnya blm jdian nih? Bknin special oartnya dong osti seru hihi

  6. asisadinda mengatakan:

    Aaah.. Pertama, Seneng karna soeun sama minho udah bisa bersatu.. Tapi Sedihnya ff ini juga harus end T_T..
    Tapi seperti biasa, secara keseluruhan ffnya DAEBAK !!
    ending yg manis..
    Ditunggu karya lainnya kak😀

  7. Dizha adrya mengatakan:

    Akhirnya happy ending jg mrka smua sfh mmiliki psngn kcuali key ma onew,, ayo onew trma za soyoung nya kn wjh nya mrp ma sso d tgu next ff nya putri fighting ^^

  8. andri susilowati mengatakan:

    yeayyy, finalll. ending.
    suka-suk-suka thorrr.
    happy ending hoahhhhh. minho-sso eun kerennn.
    ditunggu ff lainnya.

  9. aina freedom mengatakan:

    super keren minho dkk , ceritanya bener2 daebek ,sungguh seneng bgt bacanya kyk liat drama korea …tak tau mau coment apa lg , dan akhirnya happy ending buat semuanya trutama buat minsso …
    fighthing …god joob put ?..putri emg top bgt🙂

  10. erika mengatakan:

    pertama2nya agak tegang jga yg pas nyelamatin sso eonni….
    tpi akhirnya sso eonni bisa bersatu sama minho oppa jga😀
    aku jdi ikuttan sebel + emosi sama bibinya sso eonni, tpi akhirnya masuk penjara jga hohoho #ketawaEvilBarengKyuppa

  11. Puspa Kyukyu mengatakan:

    Suuukkaaaaaaaaaa~

    Yeaaaa…
    Suka Soeun sama Minhoo
    Lope-lope dah buat mereka….. !!

    Ditunggu karya lainnya😉😉😉

  12. Yhulaiisoeun mengatakan:

    Huff,.. Akhir.y bibi mereka yg jahat itu menerima balasan.y..
    Geregetan jga tdi waktu sso.y d.jambak,, pngen jambak jga tuh rambut bibi.y …. Smoga d.pnjara yah seumur hidup… Kkkk ~
    yahh minhoo dirimu bgi2 dingn dan cuek,,tpii aku suka..hahah,,
    pas minho ngehapus air mata.y sso,, kesan.y gimana gitu… Wkwkwk…
    Brsatu jga sso sma minho,, trus onew,?napa gk trima soyooung ajja.. Apa lg ngeharapin sso yah..?heheh… ;D
    Tetap smangat yah buat ff.y …🙂

  13. Deborah sally mengatakan:

    Menegangkan + lucu. Itu mereka shock bikin ngakak haha. .
    Loh ini end kah? Apa ada sequelnya?

  14. Natalia mengatakan:

    Huaa chingu dhiza……daebakkkkkkk……kerennnnn….asli…..ga bisa komennnn….part 1 sampai 10…ceritanya menarik sekali….
    Seribu jempollllll….
    Ching makan apa sih…pintar bikin ff bgini…pa lgi cast utama kim so eun eonniii…q suka

  15. senrumi mengatakan:

    wah happy ending seneng jg akhrya yg ditgg2 nogol jg sukses bt u thor aq sk smua kry u
    good job ditgg ff seljtnyao_O

  16. mizanafidausi mengatakan:

    Wuaaa berasa lagi nonton film action kekeke~
    Ya jonghyun lucu bikin orang kaget aja😄
    Minhonya so sweet…
    Bibinya gila… Bikin murka…
    Taemin pacaran dg hobae yg satu managemant? Ah pasti yg dimaksud itu sulli kekeke~
    So eun setelah ingatanya kembali jadi narsis…

  17. vaaani mengatakan:

    jadiiiiiiiiiiii minho ma sso ndak put, nggantung😀

    aaaaah black and white nya segera aaaaae abis 2minggu ini

  18. pujaRisa mengatakan:

    hhhwwaa daebak onn endingnya . gokil pas jonghyun oppa bilang WOW pasti luci deh mukanya

  19. Devi mengatakan:

    Akhir’a happy eNdiNg,,,,

    MskpuN d awal cerita mNegaNgkaN tpi akhir’a happy eNdiNg,,🙂

    Akhir’a eoNNie so euN aNd choi miNho brsatu,,,,,

    Pkok’a crta’a kereN aNd lcu,,,,
    d tNg2u FF2 laiNnya,,,
    SmNgaat ,,,🙂🙂

  20. Devi mengatakan:

    Akhir’a happy eNdiNg,,,,

    MskpuN d awal cerita mNegaNgkaN tpi akhir’a happy eNdiNg,,🙂

    Akhir’a eoNNie so euN aNd choi miNho brsatu,,,,,

    Pkok’a crta’a kereN aNd lcu,,,,
    d tNg2u FF2 laiNnya,,,

    SmNgaat ,,,🙂🙂

  21. luthfiangelsso mengatakan:

    Ahh usah part end aja suka ma ending’a🙂
    Ya ampun menurut aku minho disini cool nd romantis jg, asli’a gimana yaaa (?) *pengen tau

  22. ticha_ mengatakan:

    huaaa,,,,akhir’a ne ff keluar jga…..😀
    Awal’a ikutan tegang,,berasa dibelakang oppadeul waktu nyelametin so eunnie….
    Ga kebayang gmn cool’a seorang choi minho,,,,🙂
    Keburu pingsan duluan *kekekeke😀
    Ck…..sebel ama bibi’a tuh..juaaahat bgt sich….#pengen q tendang biar sampay antartika sna…..hahahaha
    Yey,,,,akhir’a ngg slma 1th,minho oppa bsa leat sifat asli’a sso eunnie,,,jadi’a tambah cinta kan???😉
    Akhir’a happy end
    Saeng,,Daebak,,,!!!!😀
    1000jempol buat saeng🙂

  23. Qazz mengatakan:

    Keren keren keren…!!! >-<
    Jadi ikut-ikutan tegang tadi…..~,~
    Bibi yang jahatt…!!
    Bisa-bisanya dia melakukan semua itu hanya demi harta..! ®reader ngomel -,-
    Tapi untung semuanya sudah selesai…^,^
    Agak sedih,sih waktu tau So Eun bakal pergi ke Amerika…*gimana sama Min Ho..?
    Tapi,pada akhirnya mereka tetap bisa bersama lagi….
    Huft…
    Selesai dengan manis dan bahagia…🙂
    Tenang hatiku….
    Semangat terus,ya Kak Putri…!
    Aku akan selalu menunggu karya-karya Kak Putri selanjutnya….🙂
    Pai Pai~~~

  24. Dear Dhiyah mengatakan:

    akhir y tamat juga
    klo jodoh mang ga akan kemana
    hihihi
    DAEBAK !!!!

  25. Risty mengatakan:

    aku reader baru ff kamu, buat ff yang diproteksi bagaimana caranya dapet pw-nya yah😦. aku udah baca ff kamu smuanya keculai yang diproteksi. mohon infonya dong ^^

  26. Elryeleekim_kim mengatakan:

    Akhirnya happy ending jua….
    Kekeke

    mwo?? Taemin pai segitu nya… Wkwkw

    biasanya klu nyuruh taemin itu hrs menunggu pai gajah bertelur! Ck wlau itu g mungkin..

  27. shane mengatakan:

    Happy Ending peu! tendu au début de l’histoire .. quoi d’autre ils voient mal tante, mais heureusement il Minho et ses camarades qui ont contribué à (y)! Mettez, puuuuut, Esprit ;*

    Btw ngerti g put sm commenan kk ..hehe
    Kk aja g ngerti…ghghgh😀

  28. RyaniAngels mengatakan:

    ckckck, romantis dikit napa minho oppa?!…bner kali ya, onew nunggu Sso mpe gk peduli ma soyoung..

  29. dyyyy mengatakan:

    happy ending wlopun hubngan onew ma sooyung msh ngambang….

  30. Minda amalya mengatakan:

    Endingnya sweet~ keren!!

  31. Esaa mengatakan:

    Akhirnya Ending juga…
    Sempet deg degan sih waktu si kembar di sekap, tapi untungnya semua berakhir dengan bahagia🙂
    di tunggu karya lainnya😉

  32. qiqie mengatakan:

    Kyaaaa ! Keren ! Ceritanya bagus bangeeettt . Klo Minho dan sso jd MinSso ya shipper nya ? Kkk ~ tiba2 jadi suka sama ini couple gr2 baca ff ini .
    Tapi tetep sama KyuSso Shipper . Wkkwwk

    Dtggu ff lainnya putri🙂 hwaiting😀

  33. angelf mengatakan:

    wa…. Minho cool banget,suka walaopun cool tpi ttep romantis

    beneran suka adegan minho onew ma jonghyun yg nyelametin soeun ma soyoung wlaupun amatiran tpi ttep keren

    suka jga ma key n taemin wloupun taemin keliatanya nyebelin tpi tetep care

    seneng dech minho sma soeun sweet banget
    suka pokoknya sma semua ceritanya authornya keren banget nulis ffnya
    ditunggu ff lainya chingu
    fighting…

  34. Soeun mengatakan:

    Gak nyangka udh END
    FF nya bnr2 (y) eon apalagi waktu shinee dlm menyelamatkan NAMJa/Sso wow keren

    agak kesal dgn sikap minho yg cuek dan sok cool # dikit
    tpi senang waktu kiSs minSso

    ditunggu karya2 eon yg lain
    semangat

  35. Kim Ha Byung mengatakan:

    Akhirnya ff ini kelar juga eon..🙂
    Dan Happy end..😀
    Perjuangan panjang membaca ff ini,, butuh 2 tahun menunggu akhirnya🙂

  36. SnowAngels 'Seli M' mengatakan:

    Telat banget deh kayanya komen.. Hehehe
    padahal ni ff kesukaan ky loh, jdi msih sayang bnget klw harus end.. Kkkk
    berharap nanti ada ff baru minho-soeun couple lagi deh, heheh
    tapi pngennya beresin dulu ff yg belum taman eon🙂
    btw endingnya jauh dr perkiraan aku loh.. Tpi tetep suka🙂 Daebak!

  37. sitieunnie mengatakan:

    Yaaah..udh end..😦
    tp aq suka dgn endingx..so sweeeet..hihi😀
    smpat tegang ngeliat aksi shinee mnyelamatkan si kembar..tp untunglah tdk terluka n tdk trjdi apa2..
    tp put,gmn tuh nasibx si tante iblis dia kan dpenjara..kalo udh lepas gmn dong,bs2 trancam lg nasib si kmbar..moga aja tuh tante dhukum mati jd gk mmbahayakan org lg..hehehe😀
    knp onew gk nrima soyoung aja ya, apa onew msh suka sm so eun..???😀 #pnsrn

  38. senrumi mengatakan:

    Happy ending ya
    sedikit da adegan romantis sso n minho mgkn lbh bagus

  39. Rani Annisa mengatakan:

    wah akhir ceritanya happy ending🙂

    Suka.. Suka waktu diterakhirnya so eun sama minho dan lumayan romantis sih…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s