~Sweet Piece Of Love Part 10 [Final]~


Sweet Piece Of Love 10 [Final]|PrincessClouds – Putri Andina|Romantic, Family, Friendship, Comedy|Kim Soeun, Super Junior’s Yesung, SNSD’s Jessica, Super Junior’s Sungmin, Super Junior’s Kyuhyun, Yesung’s Mom, Kim Jongjin, SNSD’s Tiffany, F(x)’s Krystal, SNSD’s Sunny, and Other….

sweet10

Summary: “Kesempatan terakhir untuk memilih..”

Warning: Typo(s)

~

Bagaimana perasaanmu padanya? Apakah menyukainya?

Pertanyaan Jessica berdering di otaknya begitu saja. Pemuda itu terdiam, tak lantas menyahut karena otaknya juga seakan sedang bekerja keras untuk mencari jawabannya. Ini bukan pertanyaan yang sulit, namun kenapa ia kebingungan?

So Eun. Kim So Eun. Gadis itu datang membawakan begitu banyak kesialan. Jika ada penghargaan khusus untuk ‘orang yang paling memeberikan kesialan dalam waktu tersingkat dalam hidupnya’ maka Ye Sung tidak akan ragu memberikannya kepada So Eun. Namun walau begitupun juga jika dikesempatan selanjutnya ia ditanya tentang ‘siapa orang yang paling membuat hidupnya berwarna’, ia juga tak ragu memberikannya pada So Eun. So Eun sudah menjadi elemen dalam kehidupannya, ia menghiasi sebuah halaman hidup Ye Sung yang akan ditandainya sepanjang hidupnya.

Lalu apakah? Apakah semua itu terjadi tanpa alasan? Kenapa So Eun bisa begitu berharga padahal mereka baru bertemu kurang lebih dua bulan yang lalu? Apakah semua itu murni karena ia menyayangi So Eun layaknya seorang adik perempuan? Benarkah begitu?

Rasanya tidak! Tidak mungkin sesederhana itu.

Oppa?” panggil Jessica lagi ketika ia menyadari bahwa Ye Sung terdiam dan menundukkan kepalanya. Tatapan yang curiga terlihat di wajahnya. “Oppa jangan bilang kau..” ucapnya dengan ragu melanjutkan kata-katanya.

Mungkinkah ia menyukai, bukan, mungkinkah ia mencintai So Eun? Apakah selama ini ia telah melakukan hal yang bodoh karena tidak menyadari perubahan yang terjadi? Tentu saja, dia bisa saja menganggap So Eun hanya sebatas perasaan dari kakak kepada adik seperti dugaannya selama ini namun ia sendiri tak menyadari bahwa ia meletakkan perhatian terlalu jauh. Dia bahkan lebih mencemaskan So Eun dibandingkan kencan istimewanya dengan Jessica setelah waktu yang lama, ia lebih sering memikirkan So Eun bahkan ketika bersama dengan Jessica sekalipun, bahkan.. ketika ciuman pertamanya dengan Jessica sering hilang dari fikirannya tapi dengan So Eun…

Keadaannya berbeda.

Apakah…

Oppa, jawab aku!” seru Jessica lagi yang kembali membuatnya tersadar. Ye Sung mengangkat kepalanya dan menatap Jessica.

“Jessica aku..”

Ye Sung menahan kata-katanya, mulai bingung untuk selanjutnya. Apa? Apa memangnya yang ia ingin katakan? Mengatakan kebenarannya? Oh, apakah dia sudah gila? Lagipula ia pasti juga masih lebih mencintai Jessica daripada siapapun saat ini mengingat mereka telah bersama begitu lama. Apa yang dia fikirkan memangnya? Melepaskan Jessica, huh? Ia pasti sudah gila melakukannya setelah perjuangan yang selama ini ia lakukan untuk memperbaiki hubungan mereka. Lagipula sejak kapan ia menjadi laki-laki berfikiran liar seperti itu? Bukankah selama ini ia telah berjanji akan setia kepada satu wanita saja yang dikencaninya?

Namun, So Eun. Bagaimana dengan perasaannya pada So Eun? Sejauh mana memangnya sampai ia tak benar-benar menyadarinya.

“Aku..”

“Fufu… lihat wajahmu, begitu lucu..” ucap Jessica tiba-tiba terkekeh dan merubah ekpsresinya. Perempuan itu kemudian langsung lebih mendekati Ye Sung yang fikirannya masih berkecamuk dan memeluknya.“Aku tahu jawabanmu, kau tentu saja tak menyukainya. Kitakan sudah saling mencintai begitu lama, mana mungkin kau akan jatuh cinta dengan mudah kepada orang lain sementara kau selama ini selalu berusaha untuk tetap bersamaku. Aku tadi hanya bercanda…” ucap Jessica pelan.

“Aku lebih mempercayaimu daripada rekaman CCTV itu sekalipun karena aku jauh lebih mengenalmu dari benda elektronik tak berguna itu. Apapun yang terjadi malam itu aku percaya bahwa kau sama sekali tak berniat mengkhianatiku. Aku sudah cukup belajar dari kesalahfahaman yang terjadi antara kita di masa lalu…”

Ye Sung kembali terdiam, fikirannya kembali terasa penuh oleh hal yang bahkan ia tak mengerti. Tapi satu hal yang ia tahu pasti bahwa baru saja ia telah terselamatkan. Ia terselamatkan untuk menyelamatkan hubungan mereka. Entah Jessica memang melakukan ini tanpa tujuan namun ini telah membawanya kembali ke tempat dimana ia seharusnya berdiri. Bagian yang ia yakini dimana ia memang seharusnya disana.

Dia pasti sudah gila, maksudnya perasaannya pada So Eun. Ia pasti hanya bingung atau mungkin ini hanyalah perasaan sesaatnya saja. Karena tidak mungkin So Eun yang baru dikenalnya dan memberikan terlalu banyak masalah untuknya bisa ia sukai daripada Jessica yang telah memberikannya begitu banyak kenangan yang manis. Ya, ia pasti hanya sedang ngelantur lagi saat ini.

Ye Sung menggelengkan kepalanya pelan sambil berusaha mengusir semua fikiran yang menganggunya, lalu mulai membawa lengannya untuk melingkari bahu Jessica. Membalas pelukan itu dengan erat.

“Ya, tentu aku hanya menyukaimu seperti janjiku waktu itu. Maafkan aku telah membuatmu bingung. Aku sungguh tak bermaksud semuanya berakhir seperti ini..”

Jessica menganggukkan kepalanya pelan. “Ya aku mengerti. Aku saja yang terlalu berlebihan..” bisik Jessica sambil memeluk Ye Sung lebih erat. “Ye Sung oppa, sepertinya ini adalah saat yang tepat untuk kita mempertegas hubungan kita. Aku fikir mungkin sudah saatnya kita bertunangan..”

Ye Sung kembali terpana, pemuda itu menatap Jessica tak yakin dengan apa yang didengarnya setelah melepas pelukan mereka. “T-Tunangan?”

“Ya, kita sudah menghabiskan banyak waktu bersama, kita juga sudah saling memiliki satu sama lain. Aku fikir ini sudah saatnya kita mengikat hubungan kita ke arah yang lebih serius, yaitu dengan bertunangan..”

Ye Sung hanya menatap Jessica dalam beberapa saat setelah mendengarnya. Ada perasaan yang terus berkecamuk di dalam dirinya hingga semua ini terasa membingungkan. Tapi mungkin benar, ini adalah yang terbaik. Mungkin dengan terikat dengan jalan seperti itu fikirannya akan lebih benar. Ye Sung memang percaya bahwa ia bukan sejenis laki-laki yang bisa melirik wanita lain ketika ia sedang memiliki kekasih namun ia tak bisa memungkiri kalau bisa saja ia melakukan kesalahan yang tak bisa ia hindari nantinya. Kasus So Eun contohnya.

Tapi bisakah semudah itu?

“Kau berfikir itulah yang terbaik? Kau yakin?” Tanya Ye Sung. Jessica dengan cepat tersenyum dan menganggukkan kepalanya.

“Ya, aku sangat yakin. Apa kau mau?”

Ye Sung menatap Jessica dalam beberapa detik sebelum tersenyum dan menganggukkan kepalanya. “Kalau kau berfikir itulah yang terbaik, maka ayo kita lakukan..” ucap Ye Sung. Jessica tampak senang dengan jawaban itu sebelum kembali melarikan dirinya ke dalam pelukan Ye Sung, gadis itu memeluknya dengan lebih erat.

“Aku mencintaimu Kim Jong Woon..” bisiknya bahagia. Ye Sung tersenyum halus sambil ikut mempererat pelukannya di bahu Jessica.

“Aku juga mencintaimu Jung Soo Yeon..” balasnya berbisik.

Sementara tanpa ia sadari Jessica sedikit merubah ekspresinya di belakang punggungnya. Senyuman bahagia gadis itu tampak sedikit berubah menjadi wajah dingin yang seakan memendam sesuatu. Namun secepatnya Jessica menepis pemikirannya dan lebih memeluk Ye Sung sambil memejamkan kedua matanya.

*Sweet_Piece_of_Love_Part_10*

So Eun meraih kembali gagang pintu dengan tangan yang gemetaran sebelum menguncinya dengan rapat. Tak lama seakan kehabisan tenaga tubuhnya ambruk terduduk begitu saja di belakang pintu, menyebabkan sebuah tas kulit berwarna biru tua yang sejak tadi dipeganganya jatuh begitu saja di lantai di dekatnya.

Semuanya bergetar. Tangan, kaki, bahkan bibir tipisnya. Semua itu menunjukkan bahwa saat ini keadaan So Eun sedang tidak baik-baik saja, ada sesuatu yang menganggunya. Sangat menganggunya.

“Aku dan kekasihku berencana bertunangan minggu depan..”

Suara dingin sepupunya berdengung kembali di telinganya, membuat segalanya kian memburuk. Lalu kemudian lagi, lagi, dan lagi semua itu terdengar dan terdengar. Berputar-putar dalam fikiranya, membuatnya pusing bahkan cukup untuk membenturkan kepalanya.

“Aku baik-baik saja..” ia bersuara pada dirinya sendiri, pelan. Gadis itu kemudian membenturkan kepalanya pelan pada pintu eboni yang berada di belakangnya. “Aku baik-baik saja!” tekannya pada dirinya sendiri.

“Aku tak apa-apa, pada akhirnya aku tahu akan seperti ini jadi aku tak apa-apa..” bisiknya perlahan, lalu kembali membenturkan kepalanya yang berdenyut pada pintu kayu di belakangnya. “Aku tak apa-apa. Aku tak kecewa, aku tak patah hati, ataupun terluka. Aku bisa menerima ini..” bisiknya pada dirinya sendiri dengan tubuh yang lebih bergetar dan bergetar lagi. So Eun memeluk tubuh dan kakinya sendiri ketika tubuhnya tak berhenti bergetar, tubuhnya malah kian bergetar sehingga iapun sulit untuk menguasainya. Ada apa dengannya?

“Aku tak apa-apa, aku tak akan apa-apa. Aku tak akan menangisi laki-laki miskin, bodoh, dan tak mempesona seperti dia. Aku tak apa-apa. Aku tak apa-apa..” bisiknya sendiri namun kali ini lebih bergetar, air mata entah sejak kapan menggenangi kedua mata sipitnya dan jatuh begitu saja tanpa tertahan. So Eun pun kini berusaha membungkam mulutnya karena suara yang tak ia inginkan malah sudah keluar begitu saja, isakkan?

Semuanya terasa asing. Semuanya seperti tak bersahabat dengannya. Tubuhnya ini, kelembapan suara, bahkan suara-suara disekitarnya semuanya seperti menyudutkannya dan membuat kepalanya kian berdenyut hebat. Semua ini jelas begitu menganggunya.

Pada usaha terakhir So Eun akhirnya memilih menutup kedua telinganya dengan kedua tangan. Apalagi merasakan bahwa udara di sekitarnya juga mulai berbalik mengganggunya.

Ye Sung menatap kosong air-air yang berjatuhan dari langit dan membasahi halaman depan rumahnya. Saat ini terhitung lima belas menit sudah ia melakukannya sepulang ia menemui Jessica beberapa menit sebelumnya. Ye Sung enggan masuk ke dalam rumahnya sejak tadi, hingga ia akhirnya memilih menatapi hujan yang terus berguguran dari langit yang bahkan sempat membasahinya tadi.

*!*

Suara derit pintu terdengar dari samping kanannya dan membuat ia mengalihkan pandangan kosongnya dari hujan menuju arah suara. Seorang wanita setengah baya yang sudah begitu dikenalnya tampak berdiri disana dan menatapnya.

“Kau sudah pulang? Ibu kira kau masih diluar..” ucap Nyonya Kim dengan nada khawatir. Di tangannya Ye Sung terlihat membawa sebuah payung. Ye Sung menebak bahwa ibunya tadi berniat untuk mencarinya karena takut ia kehujanan. “Syukurlah kau sudah pulang..”

Ye Sung tersenyum kecil dan beranjak menghampiri ibunya, ia meraih payung itu dan meletakkannya di atas meja sebelum mengajak ibunya untuk duduk bersamanya.

“Ibu tak perlu merisaukanku seakan-akan aku masih anak kecil. Bahkan walau terkena hujanpun laki-laki dewasa sepertiku tidak akan apa-apa..”

“Tidak ada masanya seorang anak benar-benar dewasa di mata orang tuanya, bahkan hingga kau menikah ataupun memiliki anak sekalipun. Anak tetaplah anak, bagian dari jiwaku yang tentu saja akan selalu aku risaukan kalau kenapa-napa di luar sana..”

Ye Sung tersenyum kecil mendengarnya. Ibunya tak pernah berubah, walau bertahun sudah ia tetap seperti ini. Seorang ibu yang selamanya menganggap anak-anak sebagai anak kecil. Ye Sung pada akhirnya tak bisa menyalahkan betapa seringnya teman-temannya mengejeknya dulu sebagai anak yang manja, karena memang seperti itulah dirinya. Tapi toh Ye Sung tak terlalu peduli, yang penting ia menyenangkan hati ibunya dan berbakti pada wanita yang telah melahirkanya itu seumur hidupnya.

“Apa yang tadi kau lakukan diluar sana? Apakah kau tadi menemui kekasihmu itu?” Tanya nyonya Kim setelah beberapa menit mereka terdiam. Hal itu membuat Ye Sung kembali tersadar, sekalipun membuat ia ingat kembali dengan pertemuan yang tadi membuatnya termangu di luar sini.

“Begitulah, ada masalah yang perlu kami luruskan..” ucap Ye Sung pelan. Ye Sung menghembuskan nafas, kini ia harus menyampaikan keputusannya dengan Jessica yang ingin mengikat hubungan mereka. Ye Sung kini agak ragu mengatakannya karena ia tahu sendiri bahwa sampai sekarang ibunya tak sepenuhnya menerima Jessica.

“Ye Sung?” ibunya tiba-tiba memanggil namanya. Ye Sung yang awalnya tampak sedikit kaget sebelum menoleh.

“Ya?”

“Apa kau sudah bertemu dengan So Eun?”

Ye Sung sedikit tersedak kaget, ia tak mengantisipasi pertanyaan ini sama sekali. “Huh?” Ye Sung mengalihkan pandangannya karena kini ia kembali ragu. Kalau ditanya apakah ia sudah bertemu dengan So Eun tentu ia sudah bertemu dengannya dua kali. Hanya saja kini masalahnya adalah bagaimana mengatakan kepada ibunya. Haruskah ia mengatakan kebenarannya tentang siapa So Eun sebenarnya? Baikkah begitu?

“Sudah begitu lama ia hilang, dan kita tak tahu keberadaannya. Ibu takut ia mengalami sesuatu yang buruk.”

Tidak, So Eun baik-baik saja. Ia malah hidup dengan lebih baik daripada ketika saat gadis itu masih tinggal bersama mereka. Tapi bagaimana menjelaskannya? Ini adalah bagian So Eun untuk menjelaskan semuanya kepada ibunya. Ia tak mungkin memberitahukan sesuatu yang nantinya akan menjadi kesalahfahaman.

“Aku yakin dia baik-baik saja..”

“Darimana kau tahu?”

Ye Sung menghela nafas sambil mengalihkan wajahnya, ia tak berani menatap ibunya ketika ia sedang menyembunyikan sesuatu. “Naluriku yang mengatakannya. Karena aku mengenal So Eun, dia adalah gadis yang kuat. Jadi aku yakin dia baik-baik saja diluar sana.” Gumam Ye Sung pelan. “Suatu hari nanti aku pasti akan berusaha menemukannya dan membawanya kepada ibu. Dia berhutang penjelasan pada kita, bukan?” Tanya Ye Sung kemudian. Nyonya Kim tampak tersenyum halus.

“Bukan. Bukan itu yang ibu inginkan ketika bertemu dengannya. Ibu tak menginginkan apapun, tidak penjelasan sekalipun. Ibu hanya ingin memastikan bahwa dia baik-baik saja. Hanya dengan begitu maka sudah cukup..”

“Tapi bagaimana ketika kita bertemu, So Eun yang kita temukan berbeda dengan So Eun yang kita kenal? Bagaimana kalau mungkin saja, dia menyembunyikan sesuatu dari kita?” Tanya Ye Sung menggumam. Nyatanya ini memang sedikit menganggunya karena So Eun tak menjelaskan ini dengan jelas padanya sejak awal; tentang mengapa ia harus berbohong kepada mereka, mengapa ia harus pergi tanpa pamit, juga mengapa ia harus bersembunyi-sembunyi darinya dan kemudian diketahui bahwa beberapa kali juga mengikutinya diam-diam. Sungguh Ye Sung penasaran kenapa So Eun melakukan semua itu.

“Ibu sebenarnya tak mengerti dengan apa yang kau katakan, tapi mungkin bagi ibu tidak akan masalah. Ibu rasa itu tak akan mengalahkan rasa senang ibu ketika kembali bertemu dengannya..” jawab Nyonya Kim kemudian. Hal yang akhirnya hanya bisa diangguki pelan oleh Ye Sung. Sesungguhnya ia merasakan sendiri apa yang diucapkan ibunya ini, rasa senangnya bertemu kembali dengan So Eun tetap saja lebih besar daripada rasa penasaran dan pertanyaan-pertanyaan besar itu sendiri. Walau tetap tidak mungkin kalau ia tak menemukan jawaban yang sebenarnya dari So Eun.

“Ibu bersabar kembali ya? Bersabar sedikit saja, aku akan membawanya lagi kepada ibu secepatnya..” ujar Ye Sung kemudian. Nyonya Kim tersenyum.

“Tentu. Aku akan menunggu..”

Suasana kembali hening setelah itu. Disaat itulah Ye Sung kembali mempersiapkan dirinya untuk mengatakan rencanya dengan Jessica. Ia harus memberitahukan pada ibunya secepatnya.

“Ibu?” panggil Ye Sung pelan. Nyonya Kim tampak kembali menoleh padanya. “Aku dan Jessica sudah memutuskan bahwa kami akan segera bertunangan..”

Nyonya Kim jelas sedikit kaget walaupun ia terlihat berusaha tetap tenang. Namun wanita itu masih menatap putra sulungnya penasaran. “Secepat itu? Bahkan ibu belum bertemu orang tuanya…”

“Jessica sebenarnya selama ini tidak tinggal dengan orang tuanya tapi kakeknya. Dan masalah pertemuan, aku dan Jessica juga merencakan pertemuan yang tepat antara ibu dan kakeknya itu.”

“Begitu?” Nyonya Kim mengangguk pelan walau sesuatu masih terlihat tertahan di wajahnya. Hingga tiba-tiba ia menoleh kembali lebih Ye Sung, agak berlebihan kali ini. “Kenapa secepat itu? Ye Sung kau tidak meng..” Nyonya Kim menahan kata-katanya namun malah menggerakkan tangannya untuk membuat setengah lingkaran di dekat perutnya. Ye Sung hampir tersedak ketika membacanya.

“T-Tentu saja tidak! Mana mungkin aku melakukan itu pada gadis yang bukan istriku!” Seru Ye Sung cepat. Nyonya Kim tampak langsung menghela nafas lega. “Kami hanya berfikir bahwa memang sudah saatnya saja..” ucap Ye Sung kemudian, sedikit memutar bola mata juga mengingat reaksi berlebihan ibunya.

“Oh, begitu. Baguslah kalau kalian berfikiran begitu..” kata Nyonya Kim sambil memperbaiki ekspresinya, kembali datar dan tak menunjukkan reaksi apa-apa.

“Tapi apa ibu setuju?”

“Ibu? Tentu ibu setuju. Ibu setuju apa saja keputusan yang membuatmu bahagia..”

“Baguslah..” Ye Sung tersenyum pelan. “Aku senang kalau ibu menyetujuinya..” ucap Ye Sung yang kemudian disambut senyuman lembut oleh Nyonya Kim. Namun setelah itu malah Ye Sung yang menarik senyumannya kembali dan memalingkan wajahnya kembali menatap air-air yang berjatuhan. Ia tiba-tiba kembali mengingat So Eun saat ini… entahlah, bukankah seharusnya ia memikirkan Jessica?

So Eun sungguh tak yakin dengan apa yang telah terjadi. Seingatnya tadi semuanya baik-baik saja. Ia tadi sedang melakukan piknik dengan seluruh anggota keluarganya. Disana ada ibunya, ayahnya, serta kakak laki-lakinya. Namun dalam sekejap saja tiba-tiba sebuah angin besar melanda dan menyapu semuanya, hingga ketika ia membuka mata ia hanya menemukan sebuah tempat yang seperti mati dimana semua keluarganya sudah tak ada disana.

So Eun bukannya tidak mencoba untuk memanggil, ia bahkan memanggil mereka dengan suara yang nyaris serak. Tapi tidak ada, tidak ada yang kembali ataupun menampakkan diri. Malah ia mulai merasakan suasana kian dingin dan mencekam dimana suara-suara aneh mulai terdengar dimana-mana.

Tiba-tiba ia merasakannya, dengan sekilas ia mendengar seperti sebuah bunyi telapak kaki yang sangat besar mendekat padanya. Kian dekat, makin dekat, hingga memaksa So Eun berdiri dari tempatnya dan mulai waspada. Hingga dari sebuah rimba yang mencekam tiba-tiba sebuah bayangan yang besar menerjang ke arahnya, membuat So Eun melarikan diri dari tempat itu.

Sosok itu mengejarnya dan berlari semakin cepat sementara kakinya sudah begitu lelah dan tak kuat lagi berlari. Puncaknya ketika kaki So Eun tiba-tiba merasa begitu pedih seperti telah menginjak sesuatu hingga ia mau tak mau berhenti. Sementara itu di belakangnya bayangan itu kian terdengar mendekat dan mendekat, hingga.. hingga—

Hilang begitu saja.

Pelan-pelan So Eun membuka mata untuk melihat apa yang terjadi. Namun ketika ia melakukannya ia tak lagi menemukan bayangan yang besar tadi melainkan seseorang yang berdiri tepat di depannya. So Eun memejamkan matanya karena sosok itu menyilaukan bak cahaya, cahaya yang telah hilang semenjak ia ditinggal keluarganya.

Sosok itu tak mengatakan apapun namun ia hanya terus tersenyum lembut dan menenangkan. Sosok itu kemudian berlutut untuk memeriksa keadaan So Eun, memeriksa kaki So Eun yang sepertinya terluka dan berdarah. Masih tanpa kata sosok itu mengobati lukanya dengan hati-hati, sementara So Eun hanya membisu menatap wajah yang menawan itu. Entah bagaimana namun sosok ini terlihat familiar. Hidung itu, mata itu, bibir itu, mata itu, ia mengenalnya. Walau tak bisa ia katakan siapa, dia adalah orang asing bagaimana mungkin So Eun mengenalnya? Bagaimana mungkin So Eun bisa nyaman disisinya?

Dengan singkat kakinya telah diobati oleh orang asing itu. Sosok itu tampak melirik So Eun dan tersenyum sesaat, sebelum mengusap kepalanya lembut dan berdiri. Tanpa kata sosok itupun meninggalkannya.

“T-Tunggu!” Dengan sisa suara seraknya ia berusaha memanggil kembali laki-laki yang kian melangkah menjauh itu. So Eun bahkan berusaha untuk berdiri untuk mengejarnya, namun kakinya tak mau mengikutinya. “T-Tunggu disana! Jangan tinggalkan aku sendirian!” teriak So Eun panik sambil berusaha bangkit berkali-kali. Namun tetaplah sama.

“Tunggu aku!” Teriak So Eun akhirnya bisa menangis menyedihkan di tempatnya berada. Sementara sosok itu terus menjauh dan kian menjauh. “T-Tunggu aku! Jangan tinggalkan aku!” Teriak So Eun berkali-kali. “Ye-Sung! Tunggu aku!” sebuah nama tiba-tiba saja keluar dari mulutnya tanpa ia ketahui, masih berusaha menahan kepergian sosok yang kian menjauhinya itu. “Ye Sung.. tunggu..”

Namun sosok itu tak berhenti, ia masih terus berjalan dan berjalan hingga melewati sebuah lapisan kabut tebal dan disanalah ia menghilang. Meninggalkan So Eun lagi di tempat mencekam itu sendirian.

“Ye Sung..”

Ia masih berusaha memanggil sampai suaranya habis. Walau tak ada jawaban, yang ada kembali adalah suara yang begitu menakutkan. Seperti suara sebuah langkah yang familiar, suara langkah yang kembali mendekat padanya dan mungkin kali ini akan menginjaknya yang masih terduduk menyedihkan di tanah yang lembap dan kotor.

Pagi selanjutnya So Eun keluar dari kamarnya dengan kondisi yang menyedihkan. Gadis itu terlihat lesu dan pucat, hal itu ditambah dengan bulatan yang terlihat di bawah kelopak kedua matanya. Terlihat bahwa semalaman gadis itu tidak tidur dengan benar atau mungkin sudah terjaga sepanjang malam.

“So Eun kemarilah dan makan dulu!” Seru Tuan-Kim begitu melihat cucunya itu menuruni tangga. Namun So Eun tampak hanya menoleh sekilas dan menggelengkan kepala sebelum melanjutkan langkahnya keluar. Meninggalkan Tuan-Kim, Jessica, dan Krystal yang menatap kepergiannya penasaran – well, mungkin bagi Jessica. Karena gadis itu tampak mengalihkan perhatiannya dengan cepat dan tampak memikirkan sesuatu.

*!*

“Dia kenapa sih? Selalu saja menyebalkan dan seenaknya..” omel Krystal sambil terus melanjutkan makanannya. Tuan-Kim kemudian menoleh padanya sebelum kembali pada Jessica.

“Jessica, kita belum selesai membicarakan hal semalam bukan? Kau benar-benar akan bertunangan? Bagaimana secepat itu sementara kekasihmu belum menemuiku secara personal.”

Jessica menghentikan minumannya, ia kemudian melirik Tuan-Kim yang tampak menatap padanya dengan penasaran itu. “Um ya. Kami baru merencakannya itu sebabnya aku mengatakannya pada kakek. Kakek tenang saja aku akan mengurus semuanya jadi kakak hanya terima beres.”

“Benarkah? Tapi—“

“Pokonya kakek tenang saja. Percaya padaku. Aku akan mengurus semuanya..” ucap Jessica sambil tersenyum kecil pada kakeknya. Kakeknya kemudian hanya bisa mengangguk.

“Baiklah. Tapi kalau kau butuh bantuan kau hanya langsung mengatakannya pada kakek.”

“Tentu..” jawab Jessica singkat sambil tersenyum.

“Nona biar saya yang menyetir untuk anda. Anda terlihat tak terlalu sehat!” Seru laki-laki setengah baya sambil berusaha menyusul gadis yang kini sudah membuka pintu depan sebuah mobil mewah.

“Aku saja!” So Eun menyahut dingin. “Tolong bukakan pintu pagar untukku!”

“Tapi nona—“

“Cepat!”

Laki-laki tua itu akhirnya hanya bisa memberikan penghormatan dan mengangguk sebelum akhirnya berlari-lari kecil menuju pintu pagar rumah keluarga Kim. Sementara So Eun segera memasuki mobilnya dan menggerakkannya mengikuti sopir pribadinya yang kini mulai sibuk membuka pintu pagar yang begitu besar.

*!!*

Pintu terbuka dan So Eun berniat segera memacu mobilnya keluar dari tampat itu. Namun ketika ia baru melakukannya gerakannya sedikit tertahan menemukan seorang pemuda yang memarkir motornya di sudut di depan gerbang. Pemuda yang saat itu memegang ponsel itu juga meliriknya kemudian, sedikit terkejut.

So Eun dengan cepat memalingkan wajahnya dari Ye Sung sebelum lebih dari beberapa detik. Ia kemudian dengan cepat memacu mobilnya melewati Ye Sung dan meninggalkan tempat itu. Meninggalkan Ye Sung yang menatap kepergiannya dengan tatapan panjang.

Tak lama Jessica datang dan mengagetkannya.

Sung Min duduk dengan gelisah di bangku taman dekat parkiran kampus dimana ia dan Sunny sering menghaiskan waktu untuk berlatih musik. Pemuda itu tampak sedikit gelisah sambil sesekali berusaha menghubungi Sunny dengan ponselnya. Namun Sunny tak pernah menyahuti panggilannya.

Sung Min menghela nafas dan akhirnya menyerah setelah beberapa kali mencoba. Kali ini pemuda tampan itu memilih mengalihkan pandangannya ke depan sana dimana mahasiswa bahkan kendaraan-kendaraan berlalu lalang datang dan pergi.

Seorang gadis tampak baru saja keluar dari sebuah mobil mewah berwarna putih dan Sung Min menyadari bahwa ia mengenal gadis itu. Sung Min pun berdiri dari tempat duduknya untuk menyapa sosok yang sempat menjadi kekasihnya itu.

“So Eu—Hey, hati-hati!” Sung Min yang awalnya hanya ingin melambaikan tangan dari tempatnya segera dengan cepat menghampiri So Eun dan menangkap tubuh So Eun yang sempat akan jatuh. Sung Min menghela nafas lega karena ia tak terlambat. “Hey, ada denganmu? Kau baik-baik saja?” Tanya Sung Min khawatir pada sosok yang terlihat lemas itu.

“Tak apa-apa..” suara So Eun terdengar serak. “Aku baik-baik saja..” jawabnya berusaha bangun dari pegangan Sung Min. Namun kembali ia merasa sedikit pusing hingga ia gagal untuk bangun.

“Kau pucat sekali, matamupun membengkak. Apa yang terjadi padamu? Kau terlihat seperti tak tidur semalaman..”

“Aku tak apa-apa.” Tolak So Eun sambil lebih mengusahakan diri untuk berdiri dan kali ini berhasil. So Eun berniat akan mengatakan sesuatu lagi pada Sung Min, namun tak jadi karena Sung Min malah melihat ke arah lain di belakangnya. Ketika So Eun ikut menoleh ia menemukan seorang gadis berambut pirang sebahu yang tak asing.

“Nona-Sunny?”

Gadis itu menunjukkan ekspresi datar dan tak ramah, namun ia berusaha menyembunyikannya. “Aku datang hanya untuk memberitahu bahwa aku tak bisa ikut les untuk waktu yang belum dapat ditentukan. Tapi lihat apa yang aku temukan..” dia berkata dengan nada sedikit kekanakkan – nada yang sering So Eun gunakan.

“Ini hanya—“

“Tak perlu menjelaskan, lagipula aku tak bisa lama-lama karena harus segera masuk. Silahkan lanjutkan saja kegiatan kalian!” ucap gadis bernama Sunny itu sebelum berjalan dengan tergesa-gesa melewati mereka dan pergi. Sung Min dan So Eun menatap panjang kepergiannya.

Well, sepertinya aku sudah membuat seseorang cemburu. Aku jadi tak enak.” Kata So Eun sambil melepaskan lengan Sung Min yang ternyata masih bertengger di pinggangnya. Sung Min dengan cepat tersadar.

“Aish apa yang kau katakan? Kau belum menjawab pertanyaanku. Ada apa denganmu?” Tanya Sung Min berusaha mengalihkan pembicaraan. Ia kemudian mengikuti So Eun yang bergerak menuju bangku taman.

“Tidak ada apa-apa.”

“Tidak apa-apa bagaimana kalau kau terlihat seperti baru saja menangis semalaman begitu. Ada apa? Apa yang terjadi, huh?” Serang Sung Min sambil duduk di samping So Eun. Namun So Eun memilih tak menyahut, ia hanya berusaha memalingkan wajahnya dari Sung Min. Sung Min menghela nafas. “Laki-laki itu lagi?”

So Eun tak menyahuti apapun selain sedikit bergerak lebih merapat kepada Sung Min. So Eun kemudian meletakkan kepalanya di bahu Sung Min dan memejamkan matanya.

“Biarkan aku istirahat sejenak disini..” bisik So Eun pelan seperti menahan kesedihannya.

Sung Min hanya menghela nafas pelan sambil melarikan jemarinya untuk membelai rambut So Eun dan mengusapnya lembut. Di detik kemudian ketika So Eun meneteskan air matanya diam-diam Sung Min juga masih membiarkannya dan tak bertanya apapun. Ia membiarkan So Eun memperoleh kenyamanan di bahunya beserta usapan lembut di kepalanya.

“Aku takut tidur. Ada mimpi buruk yang terus menghantuiku..” bisik So Eun pelan sambil terus memejamkan matanya dan bersandar di bahu Sung Min. Sung Min menatap So Eun sedih sambil kali ini melarikan jemarinya untuk menghapus air mata yang mulai memenuhi pipi mulus So Eun.

Ye Sung berdiri tenang di samping Jessica dimana gadis itu saat ini terlihat sibuk memilih-milih beberapa pasang cincing pertunangan yang terpajang di sebuah toko perhiasan. Ye Sung menarik nafas panjang dan menggaruk pundak belakangnya bingung. Tadi Jessica memintanya untuk dating ke rumah untuk mengantarnya ke suatu tempat, namun ia sungguh tak menyangka bahwa Jessica akan membawanya ke tempat ini. Sekali lagi, toko perhiasan. Tempat dimana ia ingin membeli cincin pertunangan mereka.

“Jadi tadi ini berapa?”

“Tiga ribu dua ratus won..”

Ye Sung menelan ludahnya bulat-bulat mendengar jumlah kesekian yang dibacakan oleh sang penjaga toko. Pemuda itu menghela nafas berat sambil sesekali melihat layar ponselnya sendiri, atau lebih tepatnya memeriksa jumlah tabungan yang dikumpulkannya. Dan ketika ia melihatnya ia hanya dapat menghela nafas berat.

Oppa kenapa hanya berdiri disana? Kemarilah aku membutuhkan bantuanmu!” Seru Jessica yang begitu mengagetkannya. Ye Sung segera tersadar dari pemikirannya.

“H-Huh? Y-Ya..”

“Kemarilah!” Seru Jessica setelah menarik lengan Ye Sung untuk mendekat. “Lihat itu, bagaimana pendapatmu? Apa kau menyukainya?” Tanya Jessica begitu senang sambil menunjuk sepasang cincin di balik kaca etalase.

“Y-Ya… indah sekali.” Sahut Ye Sung pelan.

“Jadi kau juga suka? Kalau begitu ayo kita—“

“Um Jessica..” Ye Sung memanggilnya pelan sebelum Jessica kembali pada sang penjaga toko yang menunggu. Jessica menoleh bingung padanya.

“Ya, oppa?”

“Bisa ikut denganku sebentar?” Tanya Ye Sung sambil meraih tangan Jessica dan membawanya pergi setelah meminta ijin pada sang penjaga toko. Ye Sung kemudian membawa Jessica yang masih kebingunga hingga ke sudut yang cukup sepi.

“Ada apa?” Tanya Jessica bingung.

Ye Sung menghela nafas sambil menatap ragu gadis di depannya yang begitu penasaran. Hingga setelah ia sedikit meyakinkan diri ia melirik kembali gadis itu.

“Jessica, aku kira kita harus memikirkan ulang semua rencana pertunangan kita. Maksudku, ini terlalu terburu-buru..” ucap Ye Sung hati-hati sambil menatap Jessica. Jessica masih menatapnya bingung. “Ada banyak hal yang perlu kita lakukan sebelum itu. Maksudku kita bahkan belum mempertemukan kedua orang tua kita, aku belum meminta ijin langsung pada keluargamu. Bagaimana mungkin kita langsung merencanakan semuanya ini sendiri? Lagipula… hari ini aku belum membawa uang untuk membeli apapun, tidak, bahkan kukira uang tabunganku tidak akan cukup kalau harga cincinnya saja segitu..” kata Ye Sung kemudian. Lurus apa adanya.

“Benarkah?” Tanya Jessica bingung. “Tapi cincinnya bagus.”

“Y-Ya, aku setuju namun..” Ye Sung sedikit menundukkan kepalanya karena agak ragu menyampaikannya. “Aku rasa kita tak bisa membelinya sekarang. Bagaimana kalau kita membelinya lain kali?” Tanya Ye Sung sambil tersenyum memiris. Sungguh ia tak mau menyakiti perasaan Jessica karena nyatanya ia memang agak ragu membeli cincin tunangan yang harganya sampai segitu.

Jessica termangu sesaat sambil menatap Ye Sung, sebelum akhirnya kembali bersuara. “Baiklah. Lagipula niatku tadi memang hanya melihat-lihat saja..” ucap Jessica kemudian. “Kita akan membelinya nanti. Begitukan?”

“Y-Ya, ini terlalu cepat. Aku kira kau memintaku dating ke rumahmu tadi untuk bertemu dengan kakekmu. Aku tak menyangka kau malah mengajak kemari..” ucap Ye Sung kemudian, ia terkekeh sedikit kaku. Sejujurnya Ye Sung bersyukur bisa mengulur waktu sejenak agar Jessica tak jadi membeli benda mahal itu sekarang.

“Oh, tadi aku sudah Tanya kakek tapi kakek bilang beliau terlalu sibuk makanya ia tak sempat menemui. Dia menyuruh kita untuk mengurusnya sendirian dulu lalu nanti laporkan padanya.”

“Begitukah?” Tanya Ye Sung ragu, agak ganjil juga mendengarnya. “Tapi bagaimana dengan ibuku? Kemarin dia juga bertanya kapan dia bisa bertemu dengan keluargamu.”

“Aku juga sudah bilang. Tapi seperti kataku tadi, kakek sedang sibuk dan tak ada waktu. Lagipula kalau masalah itu oppa jangan khawatir, mereka pasti akan bertemu juga pada akhirnya bukan?”

“Memang..” Ye Sung menggumam ragu. “Tapi ini terasa aneh saja..”

“Aish sudahlah, ini semua tak perlu dipusingkan, semuanya tak serumit yang kau fikirkan.” Kata Jessica terkekeh sambil memukul pelan bahu Ye Sung. “Ya sudah kemana kita selanjutnya? Pergi makan? Kita belum sempat makan kan sejak datang. Tapi tunggu disini sebentar karena aku harus kembali ke toko yang tadi dulu dan membatalkan pembelian. Tunggu sebentar ya oppa..” ucap Jessica tersenyum pada Ye Sung sebelum berlari-lari kecil kembali ke toko perhiasan tadi. Sementara Ye Sung tampak menghela nafasnya pelan. Tak bisa diungkapkan betapa leganya ia saat ini.

“Aish, tapi pasti nanti dia akan memintanya lagi. Aku harus bagaimana?” Tanya Ye Sung sambil mengcak rambutnya.

Sementara itu Jessica tampak kembali menuju toko yang tadi dimana penjaga toko tadi masih setia berdiri di tempatnya dan menunggu Jessica.

“Bagaimana nona?” Tanya penjaga toko itu ramah.

Jessica terdiam dan tak langsung menyahut. Gadis itu hanya terdiam sejenak sambil menatap sepasang cincin yang sudah menarik perhatiannya sejak awal. Sepasang cincin mewah limited edition kata penjaganya, Jessica yakin bahwa ia dan Ye Sung akan terlihat cocok mengenakannya di jari mereka dan dengan begitu identitas mereka sebagai sepasang sudah tak bisa disembunyikan lagi. Semua orang tahu dia adalah milik Ye Sung, juga mereka tahu bahwa Ye Sung adalah miliknya. Semua orang termasuk sepupunya, Kim So Eun.

Beberapa saat Jessica terdiam sejenak sambil memperhatikan cincin itu sejenak, hingga setelah beberapa lama ia mengangkat wajahnya. Ia melirik Ye Sung sesaat dimana saat itu pemuda itu tampak sedang tak memperhatikan ke arah sini dan sibuk dengan ponselnya. Jessica melirik penjaga toko itu kemudian.

“Hmm..”

Sung Min terduduk sendiri di atas bangku taman tadi sambil mengingat pertemuan singkatnya dengan So Eun tadi.

“Tidak ada siapapun yang salah. Masalahnya hanya karena aku terlambat, aku terlambat bertemu dengannya sehingga setelah kami bertemu aku sudah tak ada kesempatan karena dia sudah mencintai orang lain..” ucap So Eun pelan sambil menunduk. Sementara kepalanya masih nyaman bersandar di bahu Sung Min.

“Lalu apakah kau sudah mengungkapkan perasaanmu yang sebenarnya padanya? Maksudku setidaknya untuk membuatmu lebih tenang.”

“Sudah, tanpa sengaja aku mengungkapkannya. Tapi sepertinya dia tak menyadari, dia terlalu bodoh. Lagipula melihat reaksinya memang sepertinya ia sebaiknya tak perlu tahu”

“Begitukah? lalu?”

“Lalu.. aku tak tahu. Aku tak tahu harus bagaimana. Aku tak tahu apakah aku harus lari atau apakah tetap berusaha kuat dan bertahan. Aku tak tahu soal itu..”gumam So Eun pelan sambil memejamkan matanya, berusaha membendung air mata yang terus saja ingin keluar. “Sudahlah, mengapa kita harus terus membahas diriku. Kau pun juga pasti dalam masalah, bukan?”

“Huh? Aku? Aku tak punya masalah. Bagaimana mungkin kau berfikiran seperti itu?”

“Wajahmu ketika melihatku tadi terlihat tak bergairah sama sekali, apalagi setelah bertemu dengan siapa nama gadis tadi? Sunny? Ya, pokoknya kau terlihat punya masalah dengannya. Ada apa, huh?”

“Oh, itu bukan masalah besar. Aku hanya sedikit bingung saja karena dia seperti menghindariku beberapa hari ini..”

“Dia cemburu. Itu terlihat dari caranya melihat ke arah kita tadi.” So Eun menyahut cepat. Sementara Sung Min menatapnya bingung. “Walau bagaimanapun sudut pandang laki-laki dan perempuan itu berbeda, begitulah yang kupelajari dengan kasus yang saat ini kuhadapi sendiri. Kau mungkin hanya berfikir bahwa gadis itu hanya sekedar pembawa masalah dengan selalu menempelimu, tapi mungkin dia berfikiran lain. Mungkin baginya itu adalah satu-satunya cara agar kau bisa melihat dan merasakan kehadirannya – bahkan perasaannya..” ucap So Eun pelan sedikit menerawang. Uh, ia kembali mengingat Ye Sung. Tidak bisakah pemuda itu lari dari fikirannya sesaat? Tak tahukah dia bahwa walau hanya memikirkannya saja rasanya benar-benar sakit dan menyiksanya.

Sementara itu Sung Min terdiam dan terpaku di tempat duduknya memikirkan ucapan So Eun. Benarkah Sunny berfikiran begitu? Ya ia tahu bahwa sejak awal Sunny memang memiliki ketertarikkan dengannya, gadis itu bahkan mengungkapkannya jutaan kali. Namun walau begitu walaupun ia sering menolak Sunny dengan bilang bahwa ia mencintai So Eun namun nyatanya gadis itu sama sekali tak terpengaruh dan terus lengket padanya. Namun kenapa tiba-tiba Sunny malah berubah begini? Padahal kini ia sudah jarang bertemu dengan So Eun dan lebih banyak meluangkan waktu dengannya.Kenapa perubahannya tiba-tiba dan mendadak begini.

“Kau harus berbicara serius dengannya, setidaknya membahas hal ini. Saat ini walaupun kau tak menyukainya, tapi kau setidaknya harus memperdulikan perasaannya. Kau harus menyuruhya menjauh, agar ia tak tersiksa dengan perasaannya. Jangan buat dia seperti diriku pada akhirnya. Tersiksa oleh perasaanku sendiri.” Ucap So Eun untuk terakhir kalinya sambil mengambil tasnya dan bangkit dari sisi Sung Min.

Sung Min menghela nafas ketika mengingat semuanya tadi dan fikirannya sejenak menjadi bingung. Sung Min pun akhirnya hanya bisa memikirkannya sambil terus bermain dengan gitar di tangannya.

“Kau tahu? Sepertinya aku harus segera mencari pekerjaan tetap..” gumam Ye Sung pelan sambil menatap langit-langit di atasnya. Ucapannya mendatangkan tolehan dari pemuuda satunya yang duduk di sampingnya.

“Benarkah? Mengapa kau berubah fikiran tiba-tiba? Bukankah kau pernah bilang bahwa kau hanya ingin terus membantu ibumu dengan usahanya?” Tanya Lee Teuk heran.

“Masalahnya aku mau bertunangan dalam waktu dekat.” Ye Sung menghembuskan nafasnya pelan. “Dengan Jessica..”

“Wow, luar biasa. Kau akhirnya benar-benar akan bertunangan dengan anak dari keluarga konglomerat itu? Wow..”

“Itulah masalahnya sekarang. Hal yang membebaniku..”

“Kenapa?”

“Tch, tentu saja mengenai status sosialnya. Dia itu adalah anak orang kaya, berbicara tunangan saja tentu akan lebih berkali-kali lipat dengan apa yang kita maksud dengan pernikahan. Seperti tadi ketika ia mengajakku membeli cincin tunangan, jantungku hampir copot menyadari harga cincinnya saja setengah dari harga tabunganku. Fikirkan itu, apa yang bisa kuperbuat dengan semua itu.” Kata Ye Sung kemudian.

“Tentu saja, salahmu mengapa kekasihmu mewah sekali. Aku saja heran kenapa dia yang seperti itu masih bisa bertahan dengan laki-laki sepertimu..” Lee Teuk terkekeh. Ye Sung menghela nafas berat.

“Terima kasih atas pujianmu, Lee Teuk. Aku tersanjung..”

“Aish, jangan tersinggung. Aku tak benar-benar mengatakannya. Jangan masukkan ke dalam hati.” Ucap Lee Teuk terkekeh sambil menepuk bahu Ye Sung. “Tapi ini serius, Ye Sung. Menurutku kau tak bisa seperti ini terus. Jessica mau berhubungan lebih serius denganmu itu artinya dia sudah siap hidup denganmu apapun yang terjadi. Kau tak perlu harus menyembunyikan dirimu yang sebenarnya, pada keluarganya sekalipun.”

“Kau benar. Hanya saja aku tak tahu bagaimana harus menjelaskannya pada Jessica. Aku sungguh tak mau membuatnya kecewa.”

“Kalau dia benar-benar mencintaimu maka ia pasti akan mengerti dengan semua ini.” Ucap Lee Teuk sebelum kembali menggenjreng gitarnya. Ye Sung terdiam sambil memikirkan ucapan Lee Teuk.

So Eun kembali ke rumahnya sekitar jam sepuluh malam. Gadis cantik yang seharian ini hanya menghabiskan waktunya dengan kuliah dan berkeliling-keliling kota itu tampak berjalan dengan langkah gotai memasuki rumahnya. Wajah gadis itu masih terlihat buruk, bahkan lebih buruk daripada dengan air wajahnya pagi ini.

“Jadi kau sudah di rumah?”

Langkah So Eun terhenti begitu mendengar suara Jessica di depannya. Benar saja, gadis itu tampak sedang berdiri di salah satu pilar di depan rumah mereka sambil berbicara dengan telefon. Siapa yang ia telefon? So Eun rasa akan lebih baik kalau ia tak mengetahuinya lebih jauh.

Jessica yang masih berbicara dengan Ye Sung di telefon melirik ke arah So Eun yang baru saja menaiki tangga menuju pintu masuk. Ekspresi cerianya tadi sekilas berubah menjadi tatapan sedikit datar dan dingin.

“Oppa aku akan menelfonmu lagi nanti jadi sekarang kau silahkan makan dulu. Bye!” Seru Jessica agak terburu-buru sebelum menutup panggilan singkat tadi. Gadis itu kemudian melirik So Eun yang sudah selesai meniti anak-anak tangga.

“Sepetinya kau satu-satunya yang belum mengucapkan selamat atas rencana pertunanganku, sepupuku..” ucap Jessica sambil berjalan ke arah So Eun. Hal itu tentu saja membuat So Eun menoleh padanya, menemukan wajahnya yang bagi So Eun begitu menyebalkan.

“Bukankah kau belum tunangan juga?” Tanya So Eun begitu saja. Sungguh So Eun sedang tak ingin bertemu dengan Ye Sung ataupun Jessica saat ini. Sungguh ia tak mau. “Lagipula bukankah selama ini kita sama-sama saling tak mengacuhkan? Aku heran kenapa kau begitu menginginkan selamat dariku sekarang.”

“Tentu saja karena kita sepupu.” Jessica menyahut singkat sambil memainkan sesuatu di jari-jarinya. Apa itu? Kenapa So Eun tak menyadari dia memegang sesuatu daritadi. “Juga karena kau telah dianggap adik perempuan yang begitu dikasihi oleh Ye Sung-oppa..”

So Eun terdiam, ia tak sanggup bereaksi walaupun sekedar menyahuti ucapan Jessica. Sesuatu lebih menganggunya disini, sesuatu yang lebih daripada label oppa yang Jessica pakai untuk memanggil Ye Sung. Sesuatu yang disebuat Jessica ‘adik perempuan’.

“Darimana kau tahu?” Tanya So Eun begitu saja.

“Tentu saja dari kekasihku. Dia tentu memberitahukan apapun yang berhubungan dengan dirinya kepadaku, bukan?”

So Eun tak menyahut dan lebih memilih mengalihkan pembicaraannya ke arah lain. Mengapa ini begitu menyakitkan? So Eun bertanya pada hatinya. Bukankah dari awal ia juga sudah tahu bahwa Ye Sung hanya menganggapnya sebatas itu? Namun mengapa ia tak menyukainya ketika mendengar ini secara langsung – apalagi dari bibir Jessica.

“Seperti ini. Lihat, kami tadi sudah membeli cincin pertunangan kami. Besok juga Ye Sung dan keluarganya akan datang kesini untuk membicarakan rencana pertunangan. Bagaimana menurutmu?” Tanya Jessica sambil menunjukkan apa yang sejak tadi dipermainkannya di jarinya. Sebuah kotak yang terbuat dari Kristal terlihat disana, terlihat sepasang cincin di dalamnya dengan salah satu cincinnya terukir sebuah nama. Kim Jong Woon.

So Eun reflek mengalihkan pandangannya dari benda itu karena sungguh ia tak kuat melihatnya lebih lama. Benda-benda itu seakan mengejek dan menertawakannya saat ini – sama seperti ekspresi Jessica.

“Aku masuk dul—“

“—Oppa juga menyebutkan soal ciuman.” Jessica kembali bersuara ketika So Eun baru hendak masuk. Membuat langkah So Eun terhenti lagi. “Kau ceroboh sekali mencium laki-laki yang sudah mempunyai kekasih ketika sedang mabuk. Untung dia menjelaskan padaku kalau tidak tentu saja aku akan salah faham lagi, bukan. Seperti kejadian di Namsan Tower dulu..”

So Eun hanya terdiam karena sungguh rasanya dadanya begitu sesak mendengar semua ucapan Jessica. Ini adalah ancaman secara tidak langsung dari Jessica agar So Eun menjauhi Ye Sung. Hal itu terlihat jelas dari setiap nada dan ucapan yang ia katakan. Sepertinya Jessica sudah tahu segalanya mengenai dirinya dan Ye Sung, bahkan hubungannya pada Ye Sung.

“M-Maafkan aku. Tak akan aku ulangi..” ucap So Eun segera meninggalkan tempat itu sebelum sesuatu dari matanya lepas tanpa kendali. So Eun kemudian dengan terburu-buru menuju kamarnya, meninggalkan Jessica yang menatap punggungnya tajam dan dingin.

Sunny terlihat kacau di atas tempat tidurnya yang terlihat cukup berantakkan. Sejak tadi gadis itu tampak hanya bergelung di dalam selimutnya tanpa memperdulikan suara ketukan pintu dari luar sana.

“Nona-Sunny ayo keluar dulu! Ayo makan malam dulu!” teriak salah satu maidnya dari luar untuk kesekian kalinya.

Namun lagi-lagi Sunny tak memberikan reaksi. Ia memilih untuk lebih menutupi seluruh tubuhnya di dalam selimut dan berusaha untuk melupakan apa yang saat ini berkumpul di kepalanya. Sesuatu mengenai Sung Min, dan mungkin juga ada Kim So Eun di dalamnya.

Dengan gitar kesayangannya malam ini Ye Sung terlihat kembali duduk di balkon rumahnya. Udara sangat dingin malam ini, karena saat ini tepat sudah tengah malam. Namun bagi orang yang saat ini memiliki banyak pemikiran di kepalanya hal itu bukanlah hal yang ada bedanya.

Ye Sung menghela nafas sambil mulai lebih memperkokoh pegangannya pada gitar. Cukup sudah masalah pertunangannya dengan Jessica memenuhi fikirannya sejak pagi. Saat ini adalah saatnya ia untuk menyegarkan fikirannya dengan benda yang selalu ampuh selama ini untuk mengusir beban fikirannya.

*Jreeng!*

Petikan pertama terdengar yang disusul oleh genjrengan lainnya yang menciptakan sebuah nada yang tak terlalu asing. Sebuah nada awal dari lagu ciptaannya yang sering ia nyanyikan kalau sudah malam begini – saat bersama So Eun waktu itu misalnya.

Ye Sung menghentikan petikannya.

“Apa So Eun marah padaku? Kenapa tadi dia bahkan tak mau menatapku?” Tanya Ye Sung pada dirinya sendiri sambil mengingat pertemuannya dengan So Eun pagi ini di depannya. Disana So Eun bahkan tak mau menatapnya. Ye Sung terdiam, salah satu jemarinya tanpa sadar menyentuh bibirnya sendiri begitu mengingat beberapa puluh malam yang lalu dimana untuk pertama kalinya bibirnya menyentuh bibir So Eun sebelum yang terjadi beberapa malam yang lalu. Jantungnya berdetak setiap kali mengingatnya. “Jadi bahkan aku sudah menyukaimu sejak malam itu? Dan mungkin kau juga telah merasakan hal yang sama.” Gumam Ye Sung pelan sambil mengingat kembali kejadian yang terjadi antara dirinya dan So Eun malam itu. Mulai dari ejekkan, canda, tawa, nyanyian, ciuman, dan detak jantung. Detak jantungnya dan detak jantung So Eun yang juga dirasakannya.

“Jika benar adanya tentang perasaanmu berarti kau pasti sangat hancur sekarang. Kau bahkan sudah membenciku, sama seperti yang kau lakukan pada mantan kekasihmu yang pernah mengkhianatimu dulu.”

Ye Sung menghela nafas berat karena bayangan So Eun yang sedang menangis terlihat saja dalam fikirannya. Tentu itu sangat menyesakkan karena dulu ia sempat melihat air mata So Eun dan dia tak menyukainya. Gadis ceria seperti So Eun benar-benar terlihat hancur dan disayangkan ketika ia menangis seperti itu.

“Kau pasti sangat hancur sekarang karena aku malah akan bertunangan dengan orang terdekatmu. Apa yang harus kulakukan? Aku tak tahu bagaimana caranya menghiburmu kali ini, karena sepertinya aku yang telah menghancurkan hatimu..” bisik Ye Sung pelan dan ambigu. Pemuda itu kemudian mengalihkan pandangannya menuju tetesan-tetesan hujan yang turun dari atap rumahnya.

Suara weker digital terdegar nyaring dari atas meja yang terletak di samping tempat tidur yang terlihat sangat besar di dalam sebuah kamar bernuansa merah muda. Bunyi itu tentu saja membuat keributan pada tempatnya yang semalaman sunyi sepi itu, sunyi sepi selain suara isakkan dan tangis.

So Eun terbangun dari tidurnya dengan sedikit tersentak. Gadis cantik yang kelihatannya semalam juga masih kurang tidur itu tampak membuka matanya yang masih juga mencetak tanda bulatan seperti mata panda. Menunjukkan caramel yang awalnya cemerlang berubah nanar akibat terlalu banyak menangis.

So Eun tetap berbaring disana tanpa berniat bergerak sedikitpun walaupun untuk mematikan benda berisik yang terus bordering di sampingnya. So Eun sangat lelah, So Eun sedang tak ingin kemanapun di luar sana. Rasanya ia ingin seharian ini hanya berbaring disana tanpa melakukan apapun – termasuk menangis.

Namun..

Ia membuka matanya yang sembap itu kembali ketika ia mengingat sesuatu. Gadis itu melihat sekitar kamarnya yang masih sepi sebelum memaksakan tubuhnya untuk bangun. Dengan tubuhnya yang masih lemah So Eun kemudian berusaha untuk berjalan ke kamar mandi untuk bersiap-siap.

Hari ini Ye Sung dan keluarganya akan datang ke rumahnya untuk membicarakan rencana pertunangan. Ia sebaiknya keluar dari rumah ini dulu daripada harus bertemu dengan mereka semua.

“Nona-Sunny aku mau bicara.” Ucap Sung Min setelah menghampiri Sunny yang baru saja keluar dari mobilnya. Sunny tampak kaget pada awalnya, sebelum kembali memasang wajah datarnya.

“Maaf tapi aku harus masuk kelas.”

“Hanya sebentar. Lagipula kelas biasanya dimulai sekitar setengah jam lagi. Setidaknya kau punya cukup waktu untuk mendengarku.” Kata Sung Min cepat. Sunny tampak sedikit tergagap, sedikit bingung akan menjawab apa untuk selanjutnya. Namun sebelum semuanya sempat tangannya sudah lebih dulu ditarik Sung Min. “Hanya sebentar saja.” Kata Sung Min sambil membawa Sunny ke arah bangku tempat dimana mereka sering berlatih gitar.

Sung Min menuntun Sunny untuk duduk setelah mereka sampai di tempat duduk faforit mereka itu. Sunny akhirnya hanya bias menurut tanpa kata karena ia juga penasaran dengan alas an Sung Min membawanya.

“Ada apa? Tolong cepat karena aku harus segera masuk.” Kata Sunny tanpa melirik. Sung Min meliriknya serius.

“Nona-Sunny, mengapa anda belakangan ini menghindariku? Apakah aku melakukan sebuah kesalahan dalam proses memberikan les ku padamu?” Tanya Sung Min langsung pada inti pembicaraan.

“Tidak sama sekali.” Sahut Sunny tanpa menoleh sama sekali. “Bukankah aku bilang kalau aku belakangan ini sibuk?”

“Sibuk bagaimana? Menurut maidmu kau beraktifitas seperti biasanya.”

Sunny sedikit tergagap dan memalingkan wajahnya, tak berani menatap Sung Min. “Itu adalah jadwalku tentu saja aku yang paling tahu. Maid-maidku itu hanya sibuk dengan pekerjaan rumah, mana mungkin mereka tahu urusanku..” ucapnya beralasan.

“Kalau begitu kenapa anda selalu tak bisa les di rumah padahal menurut Maidmu anda hanya berada di rumah dan mengurung diri di kamar?” Tanya Sung Min yang kali ini telak, membuat Sunny sedikit tersudut. Sunny kebingungan mencari jawabannya. “Langsung katakan saja, apakah anda bosan diajar olehku? Anda ingin kita kerjasama yang telah terjadi tiga bulan ini berhenti sampai disini?”

“T-Tentu saja bukan begitu!” Sunny menyahut dengan cepat dan sedikit panik.

“Lalu kenapa?”

Sunny kembali terdiam karena pertanyaan itu. Ia sedikit bingung menjawabnya. Apa yang harus dia katakan? Haruskah ia mengatakan kebenarannya pada Sung Min bahwa ia sebenarnya hanya merasa cemburu dengan kedetakannya dengan So Eun? haruskah?

“Kenapa anda diam?” Tanya Sung Min bingung karena Sunny diam dalam beberapa menit. “Apa anda menjauhiku tanpa alasan?”

Sunny menggelengkan kepalanya.

“Lalu?”

“Aku cemburu..” Sunny akhirnya menyahut dengan jujur walaupun ia mengatakannya dengan pelan. Sung Min mengangkat alis mendengarnya, sedikit tidak yakin. “Oppa waktu itu bilang sudah tak ada hubugan apapun lagi dengannya dan mau memberikanku kesempatan untuk mendekatimu. Tapi kau terus dekat dengannya.”

“T-Tentu saja.” Sung Min menyahut cepat. “Aku sudah kenal dia sejak lama. Kami pernah menjadi teman, kekasih, dan sekarang seperti saudara. Mana mungkin aku tak dekat dengannya?”

“Tapi kau berlebihan. Malam itu di pesta ulang tahunnya kau selalu bersamanya seakan lupa kau kesana bersamaku.” Ucap Sunny pelan, sedikit malu-malu.

“Benarkah?” Sung Min balik bertanya dengan nada bingung. “Aku tak mengingatnya.”

“Tentu saja kau tak ingat. Kau terlalu senang karena telah dekat dengannya dengan menggendong dan membawanya ke kamar.”

Sung Min mengangguk faham sekarang.

“Tentu saja. Aku waktu itu sedang khawatir makanya aku begitu. Lagipula aku tak melupakanmu, buktinya aku mengantarmu pulang.” Sung Min melirik pada Sunny. “Lagipula itu semua sepenuhnya karena aku khawatir padanya, itu pertama kalinya aku melihatnya mabuk. Kau tahu bukan gara-gara salah faham waktu itu dia sempat kabur dari rumah. Aku menemukan bahwa sejak itu cara fikirnya sedikit berubah, dia lebih melankolis. Dan memiliki terlalu banyak masalah.”

Sunny terdiam kali ini mendengar ucapan Sung Min. Ada beberapa hal di dalam fikirannya. “Tapi itu membuatku cemburu. Oppa kan tahu aku menyukai oppa. Aku fikir setelah kembalinya mantan kekasih oppa aku sudah tak punya kesempatan. Itu sebabnya aku memutuskan mundur secara perlahan..” ucap Sunny pelan sambil menundukkan kepalanya dan tak berani menatap Sung Min. Sung Min menghela nafas pelan ketika mendengarnya.

Setelah memikirkan semalaman Ye Sung akhirnya memutuskan untuk kembali ke toko perhiasan yang kemarin dikunjunginya dengan Jessica. Ye Sung akhirnya memutuskan untuk membeli cincin yang diinginkan Jessica.

“Selamat siang tuan, adakah yang bisa saya bantu?” Tanya seorang wanita yang menjaga toko. Wanita itu adalah wanita yang sama dengan wanita yang kemarin melayaninya bersama Jessica.

“Umm..” Ye Sung menyahut ragu sambil menyentuh tengkuknya. Ayolah, ia biasanya hanyalah membeli bahan makanan. Mana mungkin ia mengerti dengan membeli hal seperti ini. “Aku berencana untuk membeli sepasang cincin tunangan yang disukai oleh kekasihku. Kemarin kami melihatnya disini.”

“Begitukah tuan? Bolehkah kami tahu cincin yang mana?” Tanya wanita itu ramah.

Ye Sung mengalihkan pandangannya menuju deretan-deretan benda logam berharga di depannya untuk menemukan cincin yang dimaksud. Namun ia tak melihat benda yang dimaksudnya di tempat dimana ia melihatnya kemarin.

“Kemarin aku melihatnya disini.” Saja Ye Sung sambil menunjuk permukaan kaca di dekat tempat yang dimaksud. “Cincin terlihat paling bagus. Seperti yang terpajang di pamphlet ini..” kata Ye Sung sambil menunjuk sebuah pamphlet yang berada di dekatnya. Ia sempat mencocokkannya kemarin.

“Oh, maksud anda cincin limited edition itu? Maaf sekali karena kemarin sudah terjual.”

“Begitukah?” Tanya Ye Sung tak yakin.

“Benar. Tapi tunggu.. astaga, sepertinya saya mengingat anda. Anda yang dating kemarin dengan pasangan anda untuk membeli cincin, namun pada akhirnya beberapa jam kemudian hanya kekasih anda yang dating kemari dan membeli cincin-cincin itu.”

“Apa? J-Jessica?”

“Y-ya, nona Jung Jessica atau Jung Soo Yeon. Aku ingat sekali karena dia sempat meminta untuk diukirkan nama di dalam dua cincin itu. Satu namanya Jung Soo Yeon sementara yang satunya adalah Kim Jong Woon..”

Ye Sung terdiam untuk sejenak karena ia benar-benar kaget dengan apa yang didengarnya. Jadi kemarin Jessica kembali ke tempat ini dan tetap membeli tanpa sepengetahuannya? Apa yang sebenarnya Jessica lakukan dengan semua itu? Apakah ia berfikir bahwa Ye Sung tidak akan mampu membelikan untuknya hingga ia berfikir seperti itu?

“Terima kasih.” Ucap Ye Sung singkat sebelum meninggalkan tempat itu dengan cepat. Pemuda itupun kemudian segera mencari-cari ponselnya untuk menghubungi Jessica. Tanda Tanya besar sedang tergambar di otaknya saat ini, dan ia ingin Jessica segera menjawabnya sebelum ia mengambil kesimpulan lain bahwa Jessica sama sekali tak menghormatinya dengan melakukan hal ini.

Ponsel Jessica bergetar di sudut kamarnya namun Jessica sama sekali tak menyadarinya. Saat ini gadis itu terlihat sibuk dengan dua benda di tangannya – sebuah kotak cincin dan sebuah buku catatan.

Untuk kesekian kalinya Jessica memperhatikan kotak cincin Kristal di tangannya. Jessica sangat menyukai benda itu, ia benar-benar menyukainya sejak awal melihatnya. Jessica begitu yakin bahwa cincin itu akan begitu cocok untuk mengikat dirinya dan Ye Sung sehingga hal itulah yang akhirnya membuat ia nekat diam-diam kembali ke toko perhiasan itu dan membelinya atas nama mereka berdua. Nyatanya itu berguna banyak karena baru saja ia menunjukkannya pada So Eun gadis itu terlihat langsung merubah air wajahnya.

Jessica tersenyum kecil sambil meletakkan benda berharga itu ke atas meja lalu kali ini beralih meraih buku catatan berwarna cokelat di sampingnya. Sebuah buku dengan nama Kim Jong Woon di depannya. Buku yang diam-diam ia ambil dari kamar Ye Sung waktu itu.

“Masuklah Jessica! Bersihkan dirimu.” Kata Ye Sung sambil membukakan pintu kamarnya pada Jessica yang saat ini masih memakai celemek setelah membantu ibunya di dapur. Jessica tampak tersenyum dan melangkahkan kakinya ke dalam. “Tapi semoga kau bisa menerima kalau kamarnya begitu sederhana dan—“

“Tidak apa-apa, yang penting ada airnya.” Ucap Jessica sambil tersenyum pada Ye Sung. “Lagipula ini adalah pertama kalinya aku masuk ke kamarmu. Fakta itu lebih menarik daripada aku pernah masuk kamar selebriti sekalipun..”

“Haha, kau ada-ada saja.” Ye Sung tersenyum. “Ya sudah silahkan membersihkan diri. Aku akan menunggumu di luar.” Kata Ye Sung sebelum melambaikan tangan dan mengucapkan selamat tinggal. Pintu pun kembali di rapatkan setelah itu.

Jessica berbalik setelah mengunci kembali pintu kamar Ye Sung untuk memperhatikan lebih seksama lagi kamar kekasihnya itu. Senyuman gadis itu terus saja terlihat mengingat bahwa pertama kali baginya memasuki kamar pujaan hatinya.

Jessica melangkahkan kakinya lebih memasuki kamar yang diisi oleh nuansa biru. Aroma khas Ye Sung tercium dimana-mana, membuat kesan yang lebih nyaman selain fakta bahwa kamar itu tertata dengan baik dan rapi. Ye Sung memang pemuda yang cukup langka di saat sekarang-sekarang ini.

Jessica terus melangkahkan kakinya ke berbagai sudut hingga akhirnya ia berhenti di sudut dekat jendela dimana disana di letakkan sebuah akuarium berisi kura-kura. Jessica tersenyum tipis.

“Jadi kau yang namanya Ddangkoma? Aish harus aku akui bahwa aku sedikit jijik padamu walau oppa begitu menyukaimu. Kau pasti bau.” Kata Jessica sedikit bergidik geli. Tak lama mata gadis itu tiba-tiba beralih menuju sebuah buku catatan berwarna cokelat di samping akuarium. Jessica langsung mengambilnya. “Ini apa?” tanyanya sambil mendekati ranjang dan membuka lembaran pertama.

“Ada gadis cantik yang mencuri hatiku di pandangan pertama,
Jung Soo Yeon namanya.
Soo Yeon sangat cantik, ia memiliki wajah menawan percampuran antara Amerika dan Korea,
Karena kau lihat? Ia memiliki bola mata yang hitam kecokelatan.”

“Jessica kemana? Kenapa dia tak mengangkat panggilanku?” Tanya Ye Sung penasaran sambil terus berusaha menghubungi Jessica untuk yang kesekian kalinya. Namun tetap sama, Ye Sung hanya mendapatkan pemberitahuan rekaman suara. “Tch, apa yang dia lakukan.” Omel Ye Sung setelah akhirnya menyerah.

Ye Sung mendudukkan tubuhnya pada bangku taman yang terdekat untuk mengistirahatkan tubuhnya yang lelah bersama beberapa emosi yang juga ikut bersemayam. Ye Sung hanya tak bisa mengerti tentang apa yang telah dilakukan Jessica dengan tetap membeli cincin tadi secara diam-diam. Bukankah Ye Sung berjanji akan membelikannya lain kali pada waktu itu? Namun kenapa Jessica tak menurutinya dan lebih memilih untuk membelinya sendiri tanpa persetujuannya? Apakah Jessica berfikiran bahwa Ye Sung tidak akan mampu membelikan benda itu untuknya?

Ye Sung benar-benar merasa cukup terganggu saat ini.

Noona! Ayo bermainlah dengan kami. Ayo! Noona cantik tak seharusnya hanya berdiam diri seperti ini!”

Seruan beberapa anak membuat ia tersadar dari lamunan dan emosinya hingga membuat Ye Sung mengalihkan pandangannya ke arah suara. Ye Sung tampak sedikit agak kaget melihat siapa yang tengah dikerubungi oleh anak-anak kecil itu.

Noona ayolah…”

“Tinggalkan aku.” Suara itu terdengar sedikit tidak jelas karena serak. Namun jauh dari itu pemilik suara itu terlihat tak memiliki gairah sama sekali. “Aku tak mau diganggu..”

“Ayolah, noona..

“Aku sedikit bosan, aku melirik terlalu sering jam di pergelangan tanganku.
Dimana Jessica? Kenapa dia belum juga menampakkan dirinya?
Lupakah dia hari apa ini?
Lupakah dia kalau ia sendiri yang meminta untuk bertemu disini,
Di namsan tower.

Semua orang berlalu lalang, mereka datang dan pergi,
Namun tidak untuk gadis yang saat ini berdiri di sampingku.
Dia adalah gadis yang cantik dengan balutan syal yang dikenakannya malam itu.
Sejak aku datang dan lama berselang ia masih berdiri disana dan menengadah ke angkasa,
Gadis secantik bintang sedang menatap bintang.

Waktu berselang namun aku dan dirinya masih saja betah di posisi kami,
di sudut jendela bagian paling dekat ke utara.
Kami tak menyadari semua orang telah pergi satu persatu dan hanya meninggalkan kami,
Apa yang kami fikirkan sehingga kami baru tersadar ketika seluruh lampu dimatikan?”

Noona, ayolah!” Rengek anak kecil tadi sambil kembali berusaha menarik-narik tangan So Eun yang tetap diam di tempatnya tanpa memberikan reaksi. So Eun lelah, ia sangat lelah, So Eun ingin sendiri. Namun ia tak dapat melakukannya karena anak-anak ini terus menganggunya. So Eun pun tak tahu darimana mereka datang.

“Tinggalkan aku..” ucap So Eun yang entah mengapa terdengar begitu bergetar. So Eun sangat lelah, ia begitu lelah, So Eun hanya ingin sendiri sekali lagi ia katakan. Ia sungguh tak ingin diganggu siapapun. Ia tak mau didekat siapapun. Ia sedang ingin lari sehingga tak ada yang akan menemukannya – siapapun dia.

Noona—“

“Adik kecil, noona sepertinya sedang tak ingin bermain. Jadi sebaiknya kalian tidak menganggu gadis cantik, bukan?”

Sebuah suara tiba-tiba terdengar meredakan rengekkan anak-anak tadi begitu saja. So Eun yang awalnya tengah menundukkan kepalanya berusaha mengacuhkan rengekan anak kecil tadi mengangkat wajahnya ketika ia merasa seperti mengenali suara khas baritone itu. Lalu ketika ia mengangkat wajahnya ia sungguh tak menyangka dengan siapa yang saat ini berada di hadapannya. Seorang pemuda yang selama ini difikirkannya yang menatapnya tanpa mengatakan apapun – menatap mata So Eun yang mungkin masih basah dan terlihat menyedihkan saat ini.

“Monster kecil itu menangis, aku sungguh tak menyukainya.
Bukan, aku tak bermaksud mengatakan tidak menyukai seperti yang pernah kukatakan sebelumnya tentang bagaimana dia mengacaukan hari-hariku.
Hal yang tak kusukai adalah air matanya,
Aku benci melihat kesedihan di dalam mata yang biasanya memandangku dengan penuh keangkuhan itu.
Aku juga tak mengerti kenapa.

Dia menangisi hal yang menyebalkan pada awalnya,
tentang bagaimana ia mengeluh dihukum setelah insiden pagi ini.
Tapi aku tak tahu mengapa aku tetap saja merasa prihatin,
Aku tetap saja merasa bersedih akan kesedihannya walau saat itu tanganku perih luar biasa karena ulahnya..”


So Eun dengan cepat tersadar dan bangkit dari tempat duduknya setelah menyadari bahwa Ye Sung saat ini berada di depannya. Ia pun kembali berusaha membawa tubuh lemahnya menjauh.

“So Eun!” Ye Sung memanggil dan menyusulnya, meninggalkan bocah-bocah tadi yang hanya melongo melihat keduanya. “So Eun!” ulang Ye Sung sambil mempercepat langkahnya. Hingga akhirnya ia mendapatkan lengan So Eun dan meraihnya.

“Lepaskan aku!” So Eun berusaha memberontak dan melepaskan pegangan di tangannya. Namun itu tentu saja tidak membantu karena bahkan tubuhnya begitu sangat lelah.

“Kita perlu sedikit bicara. Kenapa kau menghindariku?” Tanya Ye Sung masih mempertahankan lengan So Eun.

“Tidak ada yang bisa dibicarakan.”

“Tentu kita punya banyak hal yang harus dibicarakan. So Eun, kau kenapa? Kau marah padaku?”

“Tidak! Untuk apa aku marah?” So Eun memalingkan wajahnya agar Ye Sung tak melihatnya. Oh tidak air matanya ingin keluar lagi. “K-Kau tak pernah punya salah, kau bahkan membantuku. Aku yang selama ini selalu merepotkanmu jadi kau yang harusnya kumintai maaf..”

“So Eun?” Ye Sung menatap sedih So Eun yang membelakanginya. Banyak cerita yang ia lalui dengan So Eun dimana semuanya adalah kisah yang menjengkelkan karena sikap angkuh pada diri So Eun. Namun walau begitu semuanya tetap lebih baik daripada So Eun yang seperti ini. So Eun yang terlihat menyedihkan. “Kalau kau mau marah padaku tidak apa-apa. Aku tahu aku sudah salah karena telah menuduhmu sembarangan beberapa hari yang lalu. Yang penting kita perlu bicara.”

“Tidak ada yang perlu dibicarakan. Kau tak punya waktu bukan? Bukankah hari ini kau dan keluargamu mau menemui kakek untuk membicarakan pertunangan?”

“Apa?”

Ye Sung sedikit kaget sehingga sedikit melonggarkan tangannya memegang So Eun. So Eun tak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk lari dari Ye Sung.

“S-So Eun?” Panggil Ye Sung sambil berusaha kembali mengejar So Eun. Namun baru saja hendak kembali teraih tiba-tiba seseorang yang entah darimana datangnya terlebih dahulu meraih tubuh So Eun darinya. Ye Sung menghentikan langkahnya dan sedikit agak kaget menemukan seorang pemuda yang wajahnya terlihat tak asing itu.

“Jessica menolak semuanya,
ia bahkan menolak lagu yang pernah kuciptakan hanya untuknya.
Semuanya semakin sulit kini, Jessica sepertinya tak memberikan celah untukku walaupun hanya meminta maaf.

Sementara si cerewet So Eun masih terus menempeliku kemana-mana.
Biarlah setidaknya aku memiliki hiburan di antara rasa pusing yang kurasakan mengenai masalahku dengan Jessica.
Walaupun dia membalasku dengan begitu kasar dan tidak sopan namun ia tetap lucu setiap kali melakukannya.”

“Wow ada apa disini? Sebuah usaha pencurian?” Tanya pemuda itu terkekeh pelan sambil menatap Ye Sung di hadapannya. Sementara So Eun tampak masih berada di pelukannya, tertahan disana. Ye Sung menatap So Eun sedikit panjang sebelum melirik pemuda itu.

“Siapa kau?”

“Bukankah itu seharusnya pertanyaanku?” laki-laki itu terkekeh. “Mengapa kau mengejar-ngejar calon tunanganku? Aku tentu saja takut kau akan menculiknya, kau tahu?”

Ye Sung tampak kaget dan terlihat kurang yakin dengan jawaban yang diterimanya. Ye Sung melirik So Eun untuk mendapatkan klarifikasi akan hal itu namun So Eun masih tak bereaksi di dalam pelukan pemuda itu. “Tunangan?”

“Ah.. kita belum memperkenalkan diri padahal kita sama-sama calon menantu Direktur Kim.” Pemuda ini berbicara seenaknya sambil mengulurkan satu tangannya pada Ye Sung. Dengan ragu Ye Sung menerimanya. “Perkenalkan aku adalah Cho Kyu Hyun. Aku adalah calon tunangan yang dipilihkan Direktur-Kim untuk cucunya ini. Benarkan sayang?” Tanya pemuda itu sambil berbisik pada So Eun yang masih berada di pelukannya. Ye Sung terdiam menunggu jawaban So Eun, jauh di dalam hatinya ia berharap bahwa So Eun akan menolaknya. Ye Sung tak tahu mengapa, hanya saja hatinya terasa tak terlalu menyukainya.

*Cup..*

Ye Sung sedikit kaget ketika So Eun tiba-tiba mengecup pipi pemuda itu sekilas, seakan membenarkan ucapannya. Kyu Hyun juga terlihat cukup kaget walaupun ia bisa menyembunyikannya. Kyu Hyun tersenyum tipis sambil melirik Ye Sung.

“Kau lihat?”

Ye Sung hanya terdiam tanpa mengatakan apapun.

“Kami berciuman.
Itu terjadi begitu saja ketika aku sedang memainkan lagu ciptaanku So Eun tiba-tiba datang padaku.
Wajahnya terlihat pucat,
Sepertinya ia baru saja bermimpi buruk.

Kami berciuman.
Semuanya dimulai dari sebuah lagu sederhana yang kulihat ia terlalu memaknainya terlalu dalam.
So Eun terlihat menyedihkan belakangan ini, aku tak tahu mengapa karena semenjak aku berbaikan dengan Jessica aku jadi sedikit memberikan sedikit waktu bersamanya.
Namun ia sepertinya tetap berusaha untuk berada di dekatku dengan mengajariku ciuman setelah dia tahu bahwa aku gagal mencium Jessica sore ini.

Dan kami berciuman,
sebelum Kkoming meneriakkan kecemburuannya dengan menghancurkan seisi meja.”

“Jadi sekarang kau mau meninggalkan calon tunanganku sendirian, Jong Woon-ssi. Seperti yang dilakukannya pada anak-anak tadi, dia sedang tak ingin diganggu..” ucap Kyu Hyun sambil berusaha memasang senyumannya pada Ye Sung.

Ye Sung hanya terdiam dan tak banyak berkomentar, sejujurnya ia masih cukup kaget dengan apa yang didengarnya. Jadi So Eun juga akan bertunangan? Dia baru saja tahu hal itu.

“Baiklah, maafkan aku. Aku sungguh tak bermaksud untuk menganggunya. So Eun maafkan aku.” Ucap Ye Sung sedikit mengeraskan suaranya agar So Eun mendengarnya. Namun So Eun tetap tak bergeming di bahu Kyu Hyun. Oh, entah kenapa tiba-tiba Ye Sung ingat bahwa dulu ia juga pernah melakukan hal yang sama pada So Eun ketika laki-laki bernama Sung Min menemukannya. Ye Sung begitu ingat betapa sungguh menyedihkannya So Eun waktu itu dengan berlindung di bahunya, Ye Sung sungguh tak menyangka kini gilirannya untuk berada di posisi itu. Hal yang begitu disayangkan Ye Sung.

“Dia tak apa-apa. Aku akan menjaganya..” ucap Kyu Hyun masih berusaha tersenyum ramah – pura-pura ramah tepatnya.

“Baiklah aku pergi. Tolong jaga So Eun untukku..” ucap Ye Sung terakhir kalinya sebelum berbalik dan meninggalkan tempat itu. Kyu Hyun lagi-lagi tersenyum ramah sebagai sahutannya.

Sementara Ye Sung hanya berjalan lurus meninggalkan tempat itu membawa langkahnya dengan rasa tidak nyaman di dadanya. Kini ia tahu semuanya lebih jauh, rasa buta dan ketidaktahuannya terhadap keadaan akhirnya terbuka begitu saja. Sebuah rasa sakit yang ia yakin juga bersarang di dalam hati So Eun saat ini.

Sebuah rasa kecewa karena takut kehilangan. Takut kehilangan seseorang yang dicintainya di saat-saat tak tepat. Perasaan yang begitu terlambat disadarinya.

“So Eun menghilang tiba-tiba, dia tak ada dimana-mana.
Ia menghilang begitu saja setelah terakhir kalinya ia melarangku pergi menghadiri kencanku dengan Jessica.
Ia bilang ia akan pergi kalau aku tinggalkan, tapi aku tak mendengarkannya.
Hingga inilah yang kuterima ketika baru saja kulangkahkan kaki pertamaku memasuki rumah kami malam ini.”

“Lepaskan aku..” pinta So Eun pelan beberapa menit setelah kepergian Ye Sung. Kyu Hyun pun segera menurutinya. “Terima kasih..”

“Kenapa kau lari? Padahal biasanya kau yang mengikutinya..”

So Eun hanya menghela nafas pelan. “Juga maaf karena insiden tadi. Aku sama sekali tak bermaksud.. kau tahukan maksudku?”

“Ah, tentu, tak perlu minta maaf. Aku cukup menikmatinya..” Kyu Hyun terkekeh. So Eun lagi-lagi hanya menghela nafas pelan.

“Ya sudah, aku harus pergi.” Ucap So Eun sambil sepenuhnya melepaskan Kyu Hyun dan melanjutkan perjalanannya. Kyu Hyun menatap punggungnya.

“Kau mau kemana?”

“Ke suatu tempat yang hanya ada aku seorang disana..” So Eun menyahut tanpa menoleh. “Jangan mengikutiku.”

“Huh, kapan aku mengikutimu. Percaya diri sekali..” ucap Kyu Hyun terkekeh sambil mengangkat kameranya dan mengarahkan ke arah So Eun yang kian menjauh. “Hati-hati di jalan objek foto favoritku..” ucapnya pelan sebelum mengabadikan sebuah gambar So Eun.

Ye Sung duduk diam di salah satu sudut sungai Han sambil matanya menatap aliran sungai yang begerak cukup pelan ke arah yang lebih rendah. Berkali-kali ia melemparkan beberapa kerikil ke dalam hamparan air sambil menunggu kedatangan Jessica. Ya, setelah berjam-jam mengacuhkan panggilannya satu jam lalu Jessica mengajaknya untuk bertemu di tempat ini. Pukul Sembilan malam tepat.

Bicara mengenai sungai-Han, Ye Sung merasa bahwa ada satu hal yang ia lupakan sesuatu antara dirinya dan sungai paling terkenal di negaranya itu. Sesuatu hal yang mungkin bisa diingatnya kalau ia berusaha sedikit saja. Namun hari ini sepertinya Ye Sung sedang tak ingin mengingatnya karena fikirannya sudah dipenuhi oleh beberapa hal yang membuatnya ingin meledak.

“Di Sungai-Han, kulepaskan cintaku untuk Jessica.
Sore ini bersama hujan-hujan yang membasahi tubuhku aku memutuskan untuk melepaskan gadis itu.
Hanyut bersama arusnya yang pelan namun menjanjikan.”

Ye Sung segera memutar kepalanya begitu mendengar suara Jessica dari belakang.

Namun hal itu bukan hal yang mengagetkannya sepenuhnya, ia lebih kaget mendengar apa yang dikatakannya. Ia seperti mengenal baris-baris itu.

“Di sungai Han, kulepaskan perasaanku.
Aku tahu cinta memang seharusnya selalu bersama.
Namun cinta yang sebenarnya adalah bagaimana membuat orang yang kita cintai bahagia.
Seperti sungai Han yang membiarkan air-air itu hanya melewatinya begitu saja..”

“Jessica!” Ye Sung segera berdiri, sejenak segala hal teringat olehnya. Segala hal tentang dirinya, Sungai-Han, dan Jessica.

“Jadi kau membuang perasaanmu padaku sejak… sebulan yang lalu disini?” Tanya Jessica sambil menunjukkan catatan cokelat di tangannya. Ye Sung cukup kaget melihat catatan miliknya itu ada di tangan Jessica.

“Darimana kau mendapatkan itu?”

“Apakah itu penting?” Jessica memotong cepat. “Yang penting sekarang adalah isinya. Apakah itu benar?”

Ye Sung terdiam, sedikit bingung akan menjelaskan bagaimana. Kini ia ingat catatan itu. Catatan dimana ia sering mengeluarkan isi hatinya mengenai kisah cintanya dengan Jessica sebelum menjadikannya menjadi lirik lagu. Namun sudah lama ia tak menyentuh catatan itu lagi, semenjak So Eun mengejeknya kuno. Namun kenapa tiba-tiba catatan itu tiba-tiba berada di tangan Jessica?

“Ini benar-benar halaman terakhir dimana namaku tercantum di dalamnya. Karena selanjutnya adalah So Eun, So Eun, dan So Eun..”

Ya, Ye Sung ingat semua itu dan bersumpah kalau semua itu terjadi begitu saja. Memang setelah keputusannya yang pernah berniat melupakan Jessica hal yang ia tulis secara alami adalah So Eun. Seseorang yang sering dating dan mengganggunya ketika ia hendak menumpahkan pemikirannya ke dalam kertas itu. Ye Sung ingat semuanya ia tulis disana, termasuk..

“Kau membaca semuanya?”

“Yang mana maksudmu? Bagian ketika kau menyamakannya dengan bintang? Bagian kau ikut sedih melihatnya menangis? Kau selalu senang melihatnya merengek meminta sesuatu padamu? Atau.. ketika kalian berbagi ciuman pertama?”

Ye Sung menghela nafasnya berat. Bagian terakhir adalah maksudnya walau secara keseluruhan sebenarnya Jessica tak seharusnya membacanya.

“Dengar Jessica, aku sama sekal—“

“Disini kau mengakui bahwa kau pura-pura batuk untuk menghindari ciuman kita namun hanya beberapa jam kemudian kau malah menikmati berciuman dengan gadis lain.”

“Aku sama sekali tak bermaksud begitu. Aku hanya..” Ye Sung terdiam, sedikit bingung untuk melanjutkan ucapannya. “Kau tahukan, aku benar-benar gugup saat itu. Sudahlah, bisakah kita membicarakan hal yang lebih penting kita bicarakan saat ini?”

“Apalagi yang lebih penting memangnya daripada ini? Daripada fakta bahwa kau telah membuang perasaanmu padaku jauh sebelum kita kembali bersama dan dicatatanmu kau terus menyebut gadis lain?” Jessica sedikit meninggikan ucapannya, eskpresinya terlihat lebih berubah saat ini. “Ini sama artinya bahwa kau sudah tak mencintaiku lagi semenjak kita kembali bersama karena kau telah mencintai gadis lain.”

Ye Sung mengalihkan pandangannya ke arah lain. Benar, ia pun sudah menyadari kini apa yang sebenarnya terjadi hingga belakangan ini ia lebih sering memikirkan So Eun dibanding Jessica sekalipun. Namun apa yang harus ia lakukan? Ia dan Jessica bahkan sudah merencakan pertunangan.

“Sejak kapan kau mengetahui semua ini?”

“Sejak kencan kita waktu itu di namsan tower. Saat kau lebih memikirkan gadis yang menginap di rumahmu daripada kencan kita setelah sekian lama. Aku mulai merasa kau berubah disana dan setelah menemukan catatan ini dua minggu yang lalu akhirnya semuanya terjawab sudah.”

“Kau tahu selama itu namun kau hanya terus menyimpannya? Lalu apa maksudnya pertunangan ini dan.. ketika kau mengajakku ke rumahmu waktu itu?”

“Aku sengaja ingin mempertemukan kalian berdua. Ingin meyakinkan bahwa catatan itu tak sepenuhnya sama dengan perasaanmu. Namun.. aku menemukan kebalikannya..”

Ye Sung menghela nafas panjang sambil melirik Jessica. Kejutan, semuanya sungguh penuh kejutan. Ye Sung sejujurnya lagi-lagi bingung bagaimana harus bersikap. Ya, mungkin benar bahwa ia sudah tak memiliki perasaan yang sama lagi dengan Jessica dilihat dari hubungan mereka yang kembali terjalin sebulan ini. Rasanya berbeda karena nyatanya bukan Jessica lagi yang selalu ada di dalam fikirannya, tapi So Eun.

“Jadi apa yang bisa kulakukan untukmu? Ini salahku, aku sadari itu. Salahku karena bisa dengan mudahnya mencintai orang lain padahal aku pernah berjanji untuk setia padamu.” Kata Ye Sung akhirnya, kembali menatap Jessica.

“Menurutmu apa? Walaupun malam ini kusuruh kau melompati sungai ini lagipun untuk mengambil kembali cintamu padaku yang pernah kau buang nyatanya sudah sangat terlambat karena ia sepertinya sudah pergi jauh. Lagipula, ini mungkin juga sebuah balasan fatal yang harus kuterima karena pernah tak mempercayaimu waktu itu. Ini sepenuhnya tak adil tapi kesalahan adalah kesalahan.” Jessica mengalihkan pandangannya agar tak bertemu mata Ye Sung. Hatinya sungguh terasa sakit saat ini, sejujurnya bahkan ia menangis menyesali semuanya.

“Maafkan aku..” ucap Ye Sung pada akhirnya.

“Aku tak akan memaafkanmu. Kau bodoh.”

“Ya, orang bodoh sepertiku memang seharusnya tak pantas untukmu. Bahkan untuk membelikanmu cincin tunangan saja aku harus membuatmu harus diam-diam membelinya sendiri..”

Jessica mengangkat wajahnya sambil kembali menatap Ye Sung. Ye Sung tampak hanya balas menatapnya tanpa mengatakan apapun.

“Carilah So Eun. Dia pasti sedang sangat hancur sekarang. Seluruh orang berusaha mencarinya, dia kembali menghilang tanpa jejak sejak pagi ini seperti waktu dia melarikan diri dari rumah..” kata Jessica kemudian. “Dan bawa buku ini untuk membujuknya pulang.” Kata Jessica sambil menyerahkan catatan milik Ye Sung itu kembali pada pemiliknya. Ye Sung menerimanya sedikit ragu.

“Sekali lagi maaf telah membuatmu kecewa, Jessica..”

“Aku akan lebih marah dan kecewa padamu kalau kau tak membawa sepupuku kembali.”

Ye Sung menganggukkan kepalanya pelan, walau dalam hati ia masih merasa tak enak. “Aku akan membawanya kembali sebagai rasa tanggung jawabku padamu.”

“Bagus. Pergilah.”

“Lalu kau sendiri?” Tanya Ye Sung ragu.

“Aku? Aku tentu saja harus berada disini sejenak untuk mengikuti jejakmu membuang perasaanku padamu. Kau kira menyenangkan menyimpan perasaan ini terus.” Jessica menjawab dingin. Ye Sung menganggukkan kepalanya faham.

“Semoga kau berhasil, kau bisa memaki-makiku kalau perlu.”

“Tentu aku akan memakimu. Sekarang segeralah pergi agar aku bisa memakimu sepuas hatiku!”

“Baiklah.” Ye Sung menganggukkan kepalanya sambil terus mundur ke belakang. “Jaga dirimu, Jessica. Kau masih wanita tercantik yang pernah aku lihat dalam hidupku..” ucap Ye Sung terakhir kalinya sebelum berbalik dan meninggalkan tempat itu. Kini langkahnya sudah pasti tanpa keraguan lagi yaitu untuk menemukan So Eun, satu-satunya gadis yang dicintainya saat ini.

Sementara itu Jessica terus menatap kepergian Ye Sung hingga pemuda itu hilang dari pandangan. Wanita kemudian mengalihkan pandangannya menuju hamparan sungai di depannya.

“Kau bilang aku yang tercantik namun kau tak mau mempertahankan posisiku di hatimu lebih lama..” gumam Jessica pelan sambil memeriksa sesuatu dari saku mantelnya. Jessica mengeluarkan sebuah kotak perhiasan kristal dari sana. “Sekarang giliranku membuangmu dari hatiku..” ucap Jessica sebelum lebih menggenggam kotak perhiasan itu dan berniat melemparkannya ke dalam sungai. Namun ia menghentikan gerakkannya sebelum benar-benar membuang benda berharga itu.

“Namun aku memilih untuk tetap menjagamu dalam hatiku, Kim Jong Woon. Kau adalah salah satu laki-laki terbaik yang pernah hadir dalam hidupku..” bisik Jessica pelan sambil lebih menggenggam kotak berharga itu dan meletakkannya dekat ke hatinya. Air mata yang sejak tadi ditahannya mulai turun begitu saja setelahnya.

Sunny tersenyum senang dan setengah malu-malu menatap pemuda yang saat ini duduk tepat di depannya. Rasanya begitu senang karena akhirnya semuanya lebih jelas kini bahwa ia mungkin saja dapat lebih dekat dengan pemuda itu.

“Nona-Sunny bisakah kau berhenti menatapku dan kembali berkonsentrasi dengan kertas notmu?” Tanya Sung Min setelah beberapa saat. Sunny tersadar dari kelakukan bodohnya dan hanya memberikan cengiran kecilnya sebelum kembali berusaha menekuni kertas di tangannya.

*Bip!*

Suasana yang sempat hening itu sedikit terganggu dengan dering ponsel Sung Min. Sung Min tampak sedikit kaget sambil memeriksa sakunya sementara Sunny menatapnya penasaran.

Sung Min pada awalnya terlihat cukup kaget melihat layar ponselnya yang terus berdering sebelum memutuskan mengangkatnya. “Ya tuan-Kim?”

Sunny tampak hanya menghembuskan nafasnya pelan sebelum berusaha kembali menekuni kertas not-nya, namun ia tetap tak bisa berkonsentrasi karena ia penasaran dengan apa yang Sung Min bicarakan.

“Huh? So Eun kabur lagi?” Tanya Sung Min tampak sedikit kaget. Sunny juga ikut lebih mendongakkan kepalanya. “Tak memberikan kabar sejak meninggalkan rumah? Baiklah aku akan segera ikut membantu sebisaku.” Ucap Sung Min sebelum mematikan kontak telefonnya. Ia kemudian menatap Sunny yang tampak juga menatap was-was padanya.

“Um maaf sebelumnya nona-Sunny namun sepertinya kita harus menyelesaikan lebih cepat les kali ini.” Ucap Sung Min terburu-buru sambil mulai sibuk mengemasi barang-barangnya. Sunny tampak menatapnya bingung.

“Tapi aku belum terlalu mengerti!” Serunya berusaha menahan kepergian Sung Min.

“Benar tapi kita bisa melanjutkan besok. Aku benar-benar harus pergi ke suatu tempat.” Kata Sung Min sebelum meninggalkan tempat itu. Sunny akhirnya hanya bisa menatap kepergiannya sedikit kecewa.

“Kau bilang kau mau memberikan kesempatan agar kau bisa menyukaiku. Namun kau terus sibuk dengannya..” ucap Sunny tiba-tiba dengan suara pelan. Hal itu membuat Sung Min menghentikan langkahnya dan melirik ke belakang dimana Sunny telah tertunduk kecewa.

Sung Min menghembuskan nafasnya sebelum lebih menghadap Sunny. “Aku tak berbohong akan kata-kata itu. Tapi saat ini kau seharusnya mengerti bahwa keadaannya berbeda.” Ucap Sung Min kemudian, Sunny mengangkat wajahnya dan menatap Sung Min. “Aku benar-benar akan memberikanmu kesempatan untuk membuatku bisa berbalik menyukaimu. Aku tidak berbohong..” ucap Sung Min sambil tersenyum lembut pada Sunny. Sunny terdiam sambil menatap Sung Min, wajahnya memerah tiba-tiba. “Sampai ketemu besok pagi di kampus, nona-Sunny..” ucap Sung Min kembali sambil tersenyum dan melambaikan tangan sebelum berbalik dan meninggalkan tempat itu. Meninggalkan Sunny yang menatap kepergiannya dengan senyuman yang senang dan sedikit malu-malu.

Dengan nafas yang sedikit terengah-engah Ye Sung akhirnya sampai di tingkat paling atas dari Namsan Tower, tempat dimana ia pertama kali bertemu dengan So Eun. Ye Sung kemudian dengan cepat berlari ke sudut dimana ia pertama kali melihat So Eun waktu itu.

“Tidak ada..” ucap Ye Sung sambil sibuk mengendalikan nafasnya. Yesung kembali melayangkan pandangannya menuju seisi tempat itu yang mulai terlihat agak sepi karena sekarang sudah jam sebelas malam. So Eun tak ia temukan dimana-mana. “Dimana? Apakah kali ini tak melarikan diri karena sudah tahu akan ada yang mencarinya kesini?” Tanya Ye Sung menggigit bibir bawahnya sambil berfikir.

Ye Sung mengalihkan pandangannya menatap kaca tipis yang membatasinya dengan udara di luar sana dimana terlihat mendung dan tidak ada bintang-bintang tampak berkeliaran di angkasa. Sudut itu adalah tempat pertama kali ia bertemu So Eun dimana ia berharap So Eun akan ada disana. Namun So Eun sama sekali tak ada.

“Dimana kira-kira?”

*Bip!*

“Kami memberitahukan kepada seluruh pengunjung Namsan Tower malam ini bahwa kami menerima informasi dari pihak BMG bahwa akan turun hujan dalam beberapa jam lagi. Untuk itu kami menghimbau anda semua untuk pulang lebih awal agar tidak terjebak nantinya. Kami juga akan segera tutup tiga puluh menit lagi. Terima kasih.”

Ye Sung mengalihkan pandangannya dari salah satu pengeras suara yang berada paling dekat dengannya kepada seluruh pengunjung yang tampak sedikit heboh mendengar pengumuan tersebut. Mereka pun kini tampak mulai meninggalkan tempat itu untuk menghindari badai.

“Bagaimana kalau So Eun masih berada di luar sana? Kemana aku harus mencari?” gumam Ye Sung pelan sambil kembali mengalihkan pandangannya menuju sudut tadi. Namun tiba-tiba sesuatu terfikir olehnya. “Mungkinkah?”

Ye Sung mengalihkan pandangannya menuju tempat paling tersembunyi di tempat itu, tepatnya pada bagian belakang tangga yang menghubungkan lantai ini dengan ruangan petugas di lantai atas. Ye Sung awalnya tidak melihat apa-apa hingga ia menemukan seperti sebuah ujung sepatu disana, ujung sepatu yang sepertinya dikenalnya. Ye Sung segera menghampirinya.

Ye Sung sedikit memiringkan kepalanya untuk mengintip posisi yang memang tersembunyi itu karena terhalang oleh sebuah pot besar di kedua sisinya. Tak lama senyuman terlihat di wajahnya begitu menemukan sosok yang sedang dicarinya duduk tenang disana sambil memejamkan matanya. Ye Sung perlahan ikut mengendap masuk ke dalam yang hanya pas untuk dua orang itu.

So Eun sepertinya sedang tertidur sehingga ia tak juga menyadari kehadiran Ye Sung. Sementara Ye Sung juga hanya diam menunggu So Eun untuk menyadari kehadirannya sendiri. Hal lainnya karena ia tak mau menganggu tidur So Eun karena ia sudah menebak kalau So Eun pasti kesulitan istirahat belakangan ini dilihat dari sinar mata lelahnya ketika mereka bertemu sore ini.

Keduanya hening disana sementara diluar orang-orang berlalu lalang untuk meninggalkan tempat itu.

Ekspresi damai di wajah So Eun tiba-tiba saja berubah sedikit gelisah lima belas menit setelah Ye Sung menatapnya. Ye Sung menatap sedikit heran sambil mendekat, namun ketika jemarinya baru saja hendak menyentuh rambut So Eun tiba-tiba So Eun sudah terlebih dulu membuka matanya. Membuat Ye Sung membeku pada posisi tangannya yang menggantung, menatap So Eun yang juga menatapnya sedikit kaget.

“Apa yang kau lakukan disini?” So Eun tersadar dan dengan cepat menepis tangan Ye Sung. Ia baru saja berniat bangkit dan keluar dari tempat itu namun karena panik ia lupa kalau diatasnya adalah dinding beton hingga ia sedikit terbentur. “Aw..”

“Hey kau baik-baik saja?” Tanya Ye Sung kaget sambil berusaha memeriksa keadaan So Eun. So Eun terdiam merasakan sentuhan Ye Sung sebelum tak lama menepisnya lagi.

“Tinggalkan aku..” ucap So Eun serak sambil kembali bangkit dari tempat itu. Namun setelah benar-benar sadar ia baru sadar bahwa tempat itu sudah sepi, bahkan beberapa lampu sudah dimatikan dan menyisakan beberapa lampu saja yang membuat tempat itu temaram. Persis seperti waktu itu.

“Semua orang sudah pergi.” Kata Ye Sung menyusul So Eun keluar dari tempat persembunyian mereka. Ia ikut menatap tetes hujan yang berjatuhan di luar sana bersama So Eun.

“Mengapa kau tak membangunkanku? Kau sengaja membuat kita terjebak lagi di tempat menyebalkan ini?” Tanya So Eun tak lama kemudian, menatap Ye Sung sebal.

“Kukira kau memang sudah merencanakan semuanya seperti itu. Kalau tidak mengapa kau bersembunyi disana dan tertidur?”

So Eun berdecak pelan sambil memalingkan wajanya dari Ye Sung. Ya benar, walaupun ia sebenarnya takut namun ia memang rencana mengurung dirinya di tempat itu agar tidak ada yang menemukannya dan membawanya pulang. So Eun yakin hari ini keluarga Ye Sung pasti akan datang ke rumah untuk membicarakan pertunangan. Tapi kenapa pemuda ini malah disini?

“Bukankah kau tak seharusnya disini?” Tanya So Eun kemudian, terdengar dingin dan jutek. Ia masih ingat tentang komitmennya yang tak ingin melihat Ye Sung lagi sampai ia memutuskan berpindah ke luar negeri, namun kenapa pemuda ini tiba-tiba berada di tempat kenangan mereka ini? So Eun tak mengerti.

“Kaukan juga tak seharusnya disini. Kalau tadi kita ketahuan kita sama-sama ditendang keluar.”

“Bahkan itu maksudku!” So Eun memotong Ye Sung cepat ketika pemuda itu mulai bercanda disaat seperti ini. Pemuda bodoh ini. “Kaukan seharusnya membicarakan pertunanganmu dengan Jessica di rumah..” ucap So Eun kemudian. Semakin menundukkan kepalanya.

“Oh..” Ye Sung menggumam faham. “Jadi itu alasannya kau lari dari rumah? Kau tak ingin bertemuli di rumahmu?”

“Kau belum menjawab pertanyaanku, bodoh!”

Ye Sung tersenyum kecil mendengar seruan kesal So Eun kepadanya. Hal yang paling dirindukan seumur hidupnya.

“Tidak ada pertunangan. Setidaknya antara aku dan Jessica..”

“Apa?” So Eun menoleh cepat padanya. “Apa maksudmu?”

“Kami memutuskan untuk tidak bertunangan. Atau lebih tepatnya, dia menolak bertunangan denganku..”

“Huh?” So Eun segera menatap pada Ye Sung, sedikit panik. “Kenapa? Apa yang terjadi? A-Apa ini berhubungan dengan apa yang terjadi malam itu? Apa semua itu gara-gara aku?” Tanya So Eun sedikit panik dan khawatir. Ye Sung tersenyum lembut melihat ekspresi So Eun. So Eun yang merengek dan panik adalah favoritnya sampai kapanpun.

“Ya, kau adalah salah satu penyebabnya.” Jawab Ye Sung merendahkan nada suaranya, membuat nada itu terdengar sedih.

“Benarkah?” Tanya So Eun benar-benar kaget. Matanya terlihat memancarkan kepanikkan dan tentu saja ketakutan. “A-Apa lagi yang aku lakukan sekarang?” Tanya So Eun bingung. Matanya tampak sudah kembali berkaca-kaca. Dia mengacaukan hidup Ye Sung lagi! Dia membawa kesialan pada Ye Sung lagi! Bagaimana ini? Apa yang harus ia lakukan?

Ye Sung menatap lekat So Eun yang tampak sedih dan kebingungan di depannya. Ia perlahan lebih mendekati So Eun. Hingga ketika So Eun mendongak ia dapat langsung mempertemukan bibir keduanya. Mengecupnya lembut dan singkat.

So Eun tentu saja kaget menerima perlakukan tiba-tiba Ye Sung. Ia menatap Ye Sung tak mengerti.

“Kesalahanmu adalah masuk begitu mudah ke dalam hatiku. Membuatku menyukaimu diam-diam bahkan tanpa aku sadari. Persis seperti hantu.” Bisik Ye Sung pelan sebelum meraih bahu So Eun dan memeluknya erat. Ye Sung juga mengecup pelan pucuk kepala So Eun yang sempat terbentur tadi.

“Aku mencintaimu Kim So Eun..” bisik Ye Sung pelan sambil semakin mempererat pelukannya pada So Eun. Sementara So Eun tampak hanya terdiam dengan wajah yang terlihat masih shock, tak terlalu percaya dengan apa yang baru saja terjadi dan didengarnya.

“Jadi dia menemukan buku ini beberapa minggu yang lalu dan mengetahui semuanya. Tapi ia pura-pura tidak tahu dan malah mempertemukan kita di pesta itu?” Tanya So Eun meyakinkan dirinya sambil membalik-balik buku catatan bersampul cokelat di tangannya. Ye Sung yang saat itu duduk disampingnya tampak menoleh sesaat dan mengangguk.

“Begitulah.” Sahut Ye Sung singkat sambil masih sibuk memasangkan jaketnya untuk menutupi tubuh keduanya. Rasa dingin memang semakin menyerang karena hujan diluar semakin lebat.

“Aku tak menyangka dia akan melakukan itu. Aku kira dia tak pernah peduli padaku..” ucap So Eun pelan sambil menundukkan kepalanya.

“Selalu diam dan tak mengajakmu bicara bukan berarti seseorang membencimu bukan? Sekarang giliranmu untuk lebih memperhatikan sepupu-sepupumu itu..” ucap Ye Sung terkekeh kecil sambil mengacak rambut So Eun. So Eun tersenyum kecil karena merasakan usapan tangan Ye Sung dirambutnya setelah segitu lama. Ia membuka catatannya tadi sebelum melirik Ye Sung.

“Tapi benarkah kau pernah menyamakan aku dengan bintang? Aku tak menyangka kau bisa merangkai kata seperti itu padahal dulu kau selalu mengomeliku..” ucap So Eun sambil tersenyum pada Ye Sung. Ye Sung ikut tersenyum kecil.

“Itu hanya basa-basi saja. Namanya juga syair tentu kata-katanya harus indah bukan? Tidak mungkin aku jujur menyebutmu begitu galak disana..” kata Ye Sung terkekeh. So Eun sedikit cemberut.

“Jangan mulai lagi.” Ucapnya sedikit kesal. Namun itu tak lama karena ia kembali menyentuh bibirnya begitu mengingat kecupan singkat Ye Sung tadi. “Tapi walaupun kau menyadari perasaanmu padaku namun skill ciumanmu tetap saja tidak berubah. Seseorang pernah berkomentar bahwa kita selalu berbagi ciuman yang amatiran..” ucap So Eun tak lama. Ye Sung terkekeh sambil melirik So Eun.

“Siapa yang bilang? Tunangan pura-puramu tadi?”

“Huh?” So Eun menoleh kaget padanya. “Darimana kau tahu?”

“Kau juga pernah meminjam bahuku untuk berlindung dari kejaran mantan kekasihmu dulu dengan bilang kita pacaran. Melihat gelagatmu aku sudah tahu bahwa kau berdusta..” Ye Sung terkekeh kecil. So Eun tampak sedikit takjub dengan tebakan yang benar itu.

“Tapi tidak juga. Kakek-kakek kami memang berencana untuk menunangkan kami. Hal itu mungkin saja terjadi suatu hari—“

“– Benarkah?” Kali ini Ye Sung yang memotong ucapan So Eun dengan ekspresi kaget. Giliran So Eun yang terkekeh.

“Aku bercanda..” So Eun memeletkan lidahnya pada Ye Sung. “Akukan gadis modern, aku tak mau hidupku diatur. Aku ingin hidup dengan orang yang kucintaimu. Dengan dirimu..” Kata So Eun tersenyum sedikit malu-malu. Ye Sung kembali tersenyum sambil mengacak rambut So Eun lalu membawa kepala So Eun untuk bersandar di bahunya.

“Kalau mau hidup bersamaku kau harus sedikit bersabar. Hampir bertunangan dengan Jessica membuat aku menyadari banyak hal..” ucap Ye Sung sambil mengusap rambut So Eun. “Oiya So Eun, kapan kau ikut ke rumah untuk bertemu ibu dan Jong Jin?”

“Aku mau besok. Jadi kau bisa langsung memperkenalkan aku sebagai kekasih barumu..” keduanya sama-sama terkekeh. “Tapi aku sedikit takut. Bagaimana kalau bibi marah ketika tahu aku membohonginya?” Tanya So Eun tak lama. Nadanya memelan.

“Jangan takut, ibu pernah mengatakan bahwa ia tak akan marah padamu apapun yang terjadi selama kau baik-baik saja. Ibu sempat berfikir kau kenapa-napa waktu itu sehingga kalau tahu kau baik-baik saja bagi beliau itu sudah cukup..”

“Benarkah? Hati seorang ibu memang begitu hebat..” puji So Eun pelan. Ye Sung tersenyum sambil memperat dekapannya pada So Eun.

“Kau kedinginan?” Tanya Ye Sung sambil memantapkan mantelnya di tubuh So Eun. So Eun menggelengkan kepalanya.

“Selama ada dirimu aku merasa hangat. Seperti dalam mimpiku, kau adalah harapan satu-satunya di dalam hidupku kini. Aku akan baik-baik saja selama aku memilikimu..”

Ye Sung tersenyum kecil mendengar ucapan polos So Eun. Ia kemudian sedikit menggeser kepalanya untuk mengecup pelan dahi So Eun. “Sekarang tidurlah. Aku akan menjagamu..” bisik Ye Sung pelan. So Eun mengangguk dan tersenyum kecil. Ia kemudian semakin menyamankan diri di dalam dekapan Ye Sung.

“Aku beruntung mengenalmu Kim Jong Woon. Aku juga mencintaimu..” gumamnya pelan. Kedua orang itu sama-sama tersenyum sambil sama-sama mencari kenyamanan dan kehangatan satu sama lain.

sweetpiecebanner

< THE END>

36 lembar! Haha, aku yakin ada yang sedikit capek membacanya karena kepanjangan dan alurnya ribet. Namun aku memilih menggabungkan saja dan tak membaginya menjadi dua agar emosinya nyambung hingga akhir.
Salahkah fikiranku?

Well selamat membaca FF yang mungkin hampir tiga tahun ini dan tunggu kembali comeback mereka dengan sebuah cerita chapter yang baru ^^

 

57 Comments Add yours

  1. Minda amalya mengatakan:

    Wah setelah lama menunggu akhirnya di post juga. Seneng liat sso sama yesung bersatu.. Itu kyu muncul bentar doang. Ditunggu ff lainnya eon. Hwaiting!

  2. Puspa Kyukyu mengatakan:

    Wkwkwkwkwkwk..
    Bener Uni, rada capek bacanya u.u #peace

    penuh Emosi~
    Kyuhyun cuman jd Cameo aja .-.
    Wkwkwkwkwkwk #PoorKyuhyun

    Kirain Jessica bakal nyatuin Soeun sma yesung dihari pertunangan ntar,gak tahunya Jessica udh ngerelain duluan,sebelum org itu tunangan~

    ditunggu FF barunya Uni~
    tetap semangat~
    juga ditunggu chapter FF lainnya~
    Uni tahukan ya,yg paling banyak ditunggu reader ;))😉

  3. sendysw mengatakan:

    akhirnya yesso bener2 bersatu🙂
    untung yesung cepet sadar kalo dia cinta sama sso😀 dan untungnya jessica juga udh ngerelain yesung sama sso xD
    ditunggu ff lainnya😉

  4. erika mengatakan:

    Huaa udah end…
    YeSso momentnya kurang nih author putri xD
    Ternyata jesica peduli sama Sso eonni dan akhirnya dia melepaskan yesung untuk Sso eonni.
    Hmm sungmin oppa pun sekarang memberikan harapan ke pada sunny lalu bagaimana dengan Kyuhyun?
    Biarkan si epil itu menghilang bak hantu xD yg berhati malaikat, berkat kyuhyun juga yesungie jadi sadar sama peeasaannya ke Sso eonni

    Tapi, tapi itu loh yesso momentnya kurang banyak xD hihihi mau sequel *plak* reader banyak maunya/?
    Huh tapi syukurlah akhirnya Yesso bersatu😀
    Hemeh, kyu skill ciuman yesso aja pake di komentarin iye-iye yg skill ciumannya bagus mah xD hehehe…

    Di tunggu ya n

  5. erika mengatakan:

    Hadeuh padahal tadi udah komen panjang-panjang tapi malah ilang -_-
    Ulang lagi deh.

    Uhh udah end.
    Yesso momentnya kurang author putri xD ini berasa ngegantung pengen sequel *plakk* /? Reader banyak maunya😄
    Sso eonni belum ketemu sama ibunya yesung hubungan mereka juga kurang moment xD
    Hmm sungmin oppa mulai memberi harapan sama sunny dan jesika tengKyu telah melepaskan yesung oppa untuk Sso eonni ga nyangka ternyata dia peduli juga sama sepupunya itu.
    Terus gimana sama kyuhyun/? Dia bagaikan epil berhati malaikat, karna dia juga yesung oppa jadi sadar sama perasaannya ke Sso eonni O:)

    Di tunggu lanjutan ff lainnya ya author putri, kalo bisa bikin sequel untuk ffbini yah hehehe xD

  6. mun taryati mengatakan:

    happe end,,,eeeiii pdhl nunggu moment Soeun ktm mommy Yesung… keren lah semangat terus put…

  7. YhulaiiSoeun mengatakan:

    Ahhh ff kesayanganQ tamat … Tpi gak apa apa kan bkalan ada cerita YeSso yg baru lagi…😀

    Aduh aduh aduh.. Gak nyangka trnyata jessica udh tau smua yah… Tpi wk2 dia ngerencanain tntang pertunangan itu agak kesel jga,, :p aku suka line waktu kyu muncul dan meluk Sso wkwkwk,.😀 Yeppa.y jadi cemburu,, masalah yeppa trnyata udh lama jga dia cinta.y ma sso, hanya otak.y sdikit lelet -__- #d.jitakyesung :p😀
    Tpi bneran greget bgt sm yesung lama bgt euy nyadar.y sharus.y dia udh sdar wk2 prtama kali sso ngucapin …
    Paling suka Line Yesso d.N.Tower,, huhuhuy ,,krna d.situ mereka akhr.y saling menyatakan cinta.y … Ceilee …😀 oh yah salut jga ma jessica yg ngalah kirain bkal ttp mksa buat ngelanjutin tunangan.,tpi ni malah nyuruh yesung buat nemuin sso… Bgus sepupu yg baik😀😀
    padahal aku pngen sso ktemu ama ibu.y yesung,,kn kshan tuh ibu.y udh pngen ktemu… Huumm sdih jga brpisah ma ni ff trlebih karna aku Yesso shipper,, tpi d.tggu Project Baru YeSso yah… Tetap smangat buat ngelanjutin ff yg lain dan pasti.y d.tggu …😀 :*

  8. Devi mengatakan:

    akhir’a yesso bersatu,,
    mskipun d awal2 agk ragu klo yeppa tuch mencintai eonnie so eun tpi untung zh yeppa cepat sadr’a klo yeppa tuch sebenar’a mencintai eonnie so eun,,,,,

    d tnggu thor FF lainnya,,,,
    semngat,,,🙂🙂

  9. Rubiah sparkyuangelsso mengatakan:

    Daebak eonni,,endingnya gak bisa ditebak..kirain sso ama kyu kkk #nyimpang ternyata YeSso bersatu,,huaaa jes eonni baik juga ternyata sekarang tinggal sso yang harus memperbaiki tingkah lakunya sama kedua sepupunya…

  10. HaeNy Choi93 mengatakan:

    Wooo.. Akhirnya YeSso bersatu juga.
    Tapi aku salut banget sama Jessica dia biasa ngerelain Yesung buat Soeun. Ngga mudah lho ngerelain orang yg kita cintai buat orang lain. So Daebak Jessica Eonni..

    Ngomong2 tentang Kyuhyun kenapa setan itu cuma nyempil sedikit aja perannya. Padahal masih mau KyuSso moment. Ahaha #ShipperKumat

    overall q suka part terakhir ini. Feel emosinya dape banget.
    Daebak! Put! Ditunggu ff selanjutnya. Fighting!

  11. yehaesso mengatakan:

    akhirnya ada postingan baru juga hehe
    yeeey yesso bersatu😀
    jessica terima kasih *bow
    wah catatan yesung ikut andil nyelametin cinta yesso *bow again
    dan berarti kyu sendiri ? hoho *bawa lari kyu
    ditunggu chapter yesso selanjutnya🙂

  12. Ayunie CLOUDsweetJewel mengatakan:

    Aku sempat bertanya-tanya, gimana jalan ceritanya sehingga Jong Woon dan So Eun bisa bersama sebagai kekasih? Ternyata Jessica sendiri yang menyerah, aku kira Jong Woon yang mengaku duluan menyukai So Eun diacara pertunangan itu. Kekekeke…

  13. anna mengatakan:

    finally puas bgt&lega dgn endingnya yesso bs brstu dgn lncr,,trnyt jessica ckp brhti lpang&untgny tdk sejahat/seculas yg dubygkn,,good story putri dtggu kry slnjtny gomawo🙂

  14. choi shinae mengatakan:

    Waaaaaaaa akhirnya rilis juga. Sumpah speechless bacanya gatau hrs komentar apa, yg jelas ini feelnya dpt bgt, ceritanya juga hebat. Finally yesso bersatu❤ daebak! Wanjeon dabeak! Good job author❤

  15. Soeun mengatakan:

    Akhirnya di post juga eon

    Sso merasa sngt menyedihkan dgn pertunangan yesung dan jessica padahal jessica tahu bahwa Sso dan yesung sma2 saling mencintai

    kyuhyun hanya sedikit aja y muncul nya😛

    tpi syukur lah jessica mau merelakan yesung untuk bersama Sso

    happy ending…. (y)
    yg pasti ff eon slalu daebakkkkkk

  16. Rakha mengatakan:

    Akhirnya yesso bersatu,kirain bakal ada persaingan sengit antara yekyu….
    Bener2 panjang sampe puas bacanya juga put…

  17. Safriyanti mengatakan:

    Hwaaaaaaa stlah skian lma ff yg dr sbgagin ff putri yg pling aq suka mnmkan titik akhr jg stlah brbgai mslah trlalui,,,,
    hhhehhehhe
    aish momen kyusso sdkit dsne tp tetep j bisa buat aq terkekeh ma tgkah kyusso yg sllu aneh2,,,
    msak sso djdiin objek foto favorit,,,mank cocok sech,,,
    trnyta jessica tlah lma sdar xlo yeye mncntai sso,,
    dsar yeye,a j gk sdar2,,,
    untunglah smua mslah slsai n sso bsa mnmkan kbhgiaan,a,,,
    kyusso couple favorit aq,,
    mga j yesso slma,a bsa brsma trmsuk d dunia nyata,,,

  18. aina freedom mengatakan:

    benar2 keren bngt …walaupun happy ending ,tetep aja masih kurang pnjng moment yesso nya .dan tentang perasaan kyu ke sso masih gantung menurut aku .pokoknya daebek ff nya putri .good job .

  19. shafa nazila mengatakan:

    Akhirnya yesung sadar juga kalau dia cinta sama soeun.kirain jessica gak bakal ngelepas yesung meskipun dia tau klo yesung udah gak cinta tapi ternyata dia baik juga.. Itu kyuhyun kaya setan aja dikit dikit nongol dikit dikit ngilang😀. Ditunggu lanjutan ff lainnya yang masih terbengkalai ^^

  20. ikayeoja fishy mengatakan:

    huuuuuuuftttttt akhir’y selasai juga baca’y dan selesai juga cerita’y..
    akhir’y YeSso bersatu juga..🙂
    ok di tunggu ff laen’y put..terutama ff favoriteku Black and White..

  21. akhirnya yesso ber akhir bahagia !!

    ending yg manis !!

    aq harap ff yg mau comeback itu BMG yah !?!

    ff favorit qw ,dan malah aq seneng kalo ff nya paaaanjaaang karna ga pernah bosen buat baca ff kim so eun apa lagi kyusso hahahahaha

    di tunggu ff nya !!

  22. akhirnya yesso ber akhir bahagia !!

    ending yg manis !!
    dan sso beruntung punya sungmin yg selalu ada buat dia meski di awal terjadi slah paham !

    aq harap ff yg mau comeback itu BMG yah !?!

    ff favorit qw ,dan malah aq seneng kalo ff nya paaaanjaaang karna ga pernah bosen buat baca ff kim so eun apa lagi kyusso hahahahaha

    di tunggu ff nya !!

  23. senrumi mengatakan:

    chingu sptnya da yg kurang jelas disni ttg mimpi sso aq msh penasaran chingu

  24. Aisparkyu mengatakan:

    .hha akhirny d post jga,,bng evil mngolny cma dkit bnget cih,,tpii gk ppa yng pnting yesso brstuu happy ending dach jdiiinya,,huuuah putrii emng daebak,,ok d tnggu ja post ff brikutnya oe ya lpaa jessica baek bnget sich dach mau ngrlain bng yye buat sso ya wlau pn agk nyblin d awal,,hhe ok dech thour d tnggu comeback ff yessony:-)

  25. Ayu ChoKyulate mengatakan:

    woahh puass banget deh sama ending nih ff setelah sekian lama ngikutin cerita cinta yesso ^^
    mereka dipertemukan di namsan tower dan dipersatukan juga disana, ahh so sweet nyaa.. Simple tapi sangat bermakna🙂
    emang deh putri eonni paling bisa bikin readers ngefly :v

  26. shaneyida mengatakan:

    Wawww puas bingit bacanya mana puanjang dan bener2 terlarut kedalam lingkaran ni story :*

    Sempet getar getir ,kk pikir harapan yesso bersatu d part ini bakalan berkurang ;* mengingat yesung yg mengasihi sica dan berusaha cukup tak keras hhhe buat meyankinkan diri melekat k sica hihii.

    Bang jong bener2 diambang d lema cinta ketika hati dah di curi wanita yg bukan kekasih nya di sisi laen dia mash menempatkan diri di tempat kekasihnya* nah binggung sendiri ngomong apaan ni kk hhhhi *

    Proses bang jong berpikir cukup lama tuk menyadarkan hatinya bahkan kudu d sadarkan bru dia merasa yakin, tadinya kk berfikir sica akan mementingkan dirinya setelah meliat isi tulisan bang jong yg jelek itu kkkke😄, mengingat kelakuan sica di sini yg sengaja memancing bang jong dg kt yg manis.terlebih mengajak bertunangan dan sengaja membeli t cincin buat menyakiti soeun terbukti soeun bener2 merasa terpuruk dan di hari2nya d penuhi banjir kkke rp nya tebakan kk salah or gimana .teryata itu malah membuat sica berpikir dan bs membuat sikap :*
    Wah sica dapet titipan ciuman hangat dr onew ni hhhe

    Hmm kyu maen ganggu moment kyusso aja yak kkke, eits tpi pangeran ku ini jd malaikat loh d sini ,nah gitu bang jd malaikat baik kan mana dapet hadiah kissue d pipi lgi hihiii :*
    Ni salah satu yg menyadarkan yesung .akan betapa perihnya hatinya terlebih dia menyadari hati soeun pun yg teriris oleh nya .
    Dan peran sica lah yg bener2 mengeluarkan yesung dr lingkaran kekasih sica .

    Eoh btw , bru thu dangko ngamuk ngeliat appa nya kissue an hhaaa * ngakak* apalgi klo dangko thu appanya jadian ma soeun kkke bisa2 yesung akan d usir dr kamar hihii😄

    Moment persatuan kisah kasih yesso bener2 romantis abis dan suangat berkesan di hati yesso dan di hati reader tentunya :*
    Kembali mengulang ketika pertama bertemu dan terjebak d tempat yg begitu special dan akan menjadi sejarah memulai stts bru bagi keduanya trus d lengkapi moment kehangatan yesso yeah eksekusi ending yg bagus bgt put (y)
    Sukses euy :*

    Sunny dan umin pun akan memulai lngkah yg baru cieeee

    Mantab bgt put, puas bgt bacsnya ,perasaan hati kk juga teracak2 baca ni story .dr kesel sedih kecewa bahagia smuanya nyatu kek adonan kue yg penting akhirnya happy dan kk dan onew pun bs tidur nyenyak ni malem yeahh :*

    3 jempol kaki bang jong buat puput (y) yeah ;*

    Final partnya special n adorable :*

    Thumb up (y)
    Cmunguuuuth puput :*

  27. kristienuuna mengatakan:

    wah puanjang bgt Putri..
    sempet capek sich..
    tapi aku menikmati adegan tiap adegan..
    apalagi waktu Soeun begitu terpuruk tw Yesung ama sicca tunangan..
    berasa kasian.. apalagi tau mimpi na Soeun..
    bener bener menyedihkan..

    tapi juga sempet terhibur dg scene seuprit na Kyusso..
    wow, Kyu cocok bgt jadi sohib na Soeun..
    keliatan na mereka cocok d jadiin temen yg saling mengerti..
    Kyu yg lebih mengerti maksud na.. hahahahahaa..

    tapi adegan yg paling aku suka d namsan tower..
    waktu Yesung nemuin Soeun..
    duduk d sebelah na.. memperhatikan Soeun diam diam..
    sampai mereka sama sama jujur ama perasaan masing masing..
    so sweet bgt.. d dalam namsan tower yg remang dan sepi.. hanya ada Soeun dan Yesung.. memandang hujan yg lebat di Luar.. berbagi kehangatan bersama dalam sebuah pelukan.. bersama mencari kenyamanan satu sama Lain.. wah romantis na pake banget..
    aku suka akhir yang bahagia buat YeSso..

  28. Luthfiangelsso mengatakan:

    wah satu ff udah tamat
    fiuh akhirnya happy ending jg, untung jessica mau ngalah yaaa🙂
    wahh kyu dikit bgt muncul nya
    yeay yesso bersatu (y) tapi padahal pengel liat pertemuan sso ma jongjin dan eomma nyaa…..

    ok di tunggu next project dan ff nya put ^^

  29. nita mengatakan:

    Huah udh nympe final part. Untung tuh yeye cpt sdr low dia udh gk cinta lg sm jesica tpi dia udh jth cinta sm sso.
    Happy end yesso bersatu pda akhir ny. D tnggu next ff yg lain nh y eon.🙂

  30. dyyyy mengatakan:

    happy ending buat yesso….
    yesung akhirny mnyadari prasaan dia yg sbnarny….

  31. Elisa mengatakan:

    Wah akhir a d post jgak…bgus crta a….kirain pas bca d atas mrka akn d stukan pas tunangan…wah author daebak…..
    Yah kyu oppa numpang lewat tu mlh dpet kiss d pipi plak..dsar evil oppa…
    Ff yg mn an tu author..wah d tunggu bnget ni author….
    Moga2 haesso..he..he..he ngarep….😀
    author faihgting..chayo…

  32. Tikka mengatakan:

    WOAH. . Final yg menguras emosi dan jujur bacanya ribet apalagi pas masuk ke part yg jessica lgi bca buku yesung.. Tpi, dari awal emosinya ah~ ani feelnya naik turun di mana saat kita ngerasain kesedihan soeun, bingungnya yesung dan bumbu sungmin dan sunny *apalah bahasanya😀 Sweet piece of love.. Kategori FF yang menguras emosi mulai part 1 sampe sini.. Kita belajar untuk lebih terbuka dan peka dgn hati kita, tdk menyianyiakan cinta dan tdk membohongi perasaan sendiri *seenggaknya itu yg aku tangkap dari sini😀 hehe sempat tertegun sejenak ketika di tengah2 baca ada kyuhyun nyembul(?) jadi tunangan soeun haha ngaku2 tak ingatkah dia jika anak2nya di rumah menanyakan dan berteriak ‘bapaaak *abaikan* oke, Ini… Udahlah ini keren, apik, rapih, panjang, dan indah🙂

  33. princess ice mengatakan:

    dan akhirnya ff favoriku tamat juga. sempet khwatir sama endingnya. takut yesung jadinya sma jessica..dan ohh thanks putri kamu bkin ini happy ending. pokonya so sweet bgt deh endingnya..mereka bertemu dan saling mengakui prsaan mreka di tmpat dmna mreka prtma kali bertmu. jjur aja pertma kali bca ff ini selalu keinget dan wlopun cerita’a kebilang gak terlalu berkonflik pelik kaya ff yg lain’a,jstru ini kaya semacam porsi yg pas namun ttep manis,sma kya jdulnya. alhamdulilah..makasi bgt bwt putri karna ff ini dikasi ksemptan pnya ending..fiuhhh..
    oke…next harus lebih baik lagi yaaa,lebih berusaha,bnyak belajar,jgn cpet puas tapi ttep bersyukur *so’ngegurui😀 yupz.. semngat putriii….

  34. Dizha adrya mengatakan:

    hoho akhirnya happy ending juga🙂 trnyta si jessica baik juga ya cm mau ngetes aja,, ciee si kyuvil ksmptn dlm ksmpitan ni dpt ciuman dri objek fto fvoritnya psti seneng bgt tu hehe n utk Yesso smga hdp brbhagia hehehe🙂

  35. cucancie mengatakan:

    Cerita yang panjang namun berakhir manis bagi so eun dan yesung…so eun yesung bisa bersatu lagi senangnyaaa…terima kasih putri udh buat ff ini sampe akhir,ditunggu ff selanjutnya..;)

  36. lee_jihyun mengatakan:

    hua… Yesso couple nya so sweet bgt…

    Dan senangnya kisah cinta yesso couple berakhir dengan happy…

    keren bgt lah pokoknya chingu…🙂

    Ditunggu yah chingu karya yg mengisahkan ttg yesso couple lg…hehe

  37. Dewi mengatakan:

    sumpah demi apa ini ff keren bgt
    aku yg tadinya bener2 ga suka sm pairing yesso entah knp di ff ini emang pas bgt pairingnya yesso
    kayaknya ini salah 1 maha karya sejenis black n white, yg paling bisa ngaduk2 perasaan readernyaa
    pokoknya salut bgt sm kak putri, YOU ROCK!

  38. Vhi mengatakan:

    Cape baca nya tapi senang akhirnya yesung sama so eun bersatu🙂 .

  39. ticha_ mengatakan:

    akhir’a……😀
    Yesso bisa bersatuuuu……
    Ga nyangka ternyata jessica udah tau perasaan yesung oppa ke sso…🙂
    huuuaaa…..awal’a ikutan nyesek liat sso yg down bgt…
    Kyuppa jd cameo doang…. Kkkk
    Gpp put,,,,dijadiin satu mlh makin greget….
    Daaaaaeeeeebbbbaaaakkkk!!!!!!!😀
    Q tgg ff yesso lain’a…… :*🙂

  40. Niniet mengatakan:

    Hahaha kyu nyuri perhatian meski muncul sekilas😀 btw bacanya puas bgt, ternyata jesicca udah ngerelain yeye ma sso, pdhl td nya aku udah kesel bgt…akhir satu lg ff yg tamat, ditunggu ff lanjutan yg lainnya ya Put😀

  41. pipip mengatakan:

    Waaaa gak nyangka nih ff nya udh tamat
    Pdhal dliat dri part sbelumnya konfliknya masi bnyk gtu
    Hdi agak sdkit lma lgi buat tamat
    Tpi berkat pemikiran yg kreatif singkatnya jdi bsa ramat agak sdkit bngung bcanya wktu bgian jesica baca bku coklat yesung itu dikueaiin ini kmana gtu bcanya
    Trnyra itu isi buku coklat hihi
    Ff ini kyknta kbnyk kobflik batinya kata2 nya jdi yg ngebyat konfliknya terbangun gtu
    Dan gak nyangka jesica bkalan mlih mndur nih yaa
    Ff ini ceritsnya pling gak nyangka bnget
    Pkoknya jjang deh ceriranya
    Dtnggu lnjutan ff lainnya hehe

  42. maya mengatakan:

    Finally…. Setelah nunggu sekian lama… Senangnya couple ini bersatu yeay…. ^^

  43. Kim Ra rA mengatakan:

    yeeee akhirnya mereka bisa bersatu… gak nyngka jesica ternyata peduli juga sama sepupunya. kirain mereka beneran mau Tunangan…!

    kang uyun keren banget dech walau cuma lewat bentar tapi suka banget sama karakternya… Love you Evil…!

    huaaaa udah END ceritanya Asik danyang pasti Seru bangat.

  44. dania mengatakan:

    Aduhhh menguras emosi bangetttt yappp. Suka banget sama karakter kyu disini padahal bukan dia fokus utamanya. Daebakkkkk! Keren. Ditunggu ff yg lainnya!

  45. Qazz mengatakan:

    Huft! Untunglah! Untunglah!
    Yeppa yang awalnya gak terlalu yakin sama perasaannya akhirnya sadar kalo yeoja yang benar² ada di hatinya adalah Sso eonni.
    Kasian Jessica, ya. Dia juga tulus mencintai Yeppa, tapi dia merelakan Yeppa untuk Sso eonni. Eonni, terima kasih banyak. ^_^

    Menderita banget kayaknya Sso eonni.😦 Pasti dia stres berat gara² tahu Jessica sama Yeppa mau tunangan.😥
    Tapi, akhirnya Sso eonni bisa bahagia bersama Yeppa.🙂 Chukhahae, eonni. Jangan sedih lagi, ya. Ntar muka eonni jadi jelek.🙂

    Sunny, berjuang terus, ya untuk ngedapetin hati Sungmin.🙂 Jangan ngambek lagi kalo Sungmin perhatian sama Sso eonni karena mereka cuma sahabat dekat. Oke?😉

    Whoa~ Panjaaang banget! Tapi aku suka karena jadi puas bacanya. ^_^
    Ditunggu, ya Kak ff lainnya. Semangat terus, yaaa…! >:O😀

  46. Deborah sally mengatakan:

    Eish udah ada aja lanjutannya. Gak bilang2 sih, kan aku ketinggalan jadinya :v

    keren putri, lucunya saat ada Kyuhyun yang di cium Soeun itu wkwkwk

  47. sitieunnie mengatakan:

    hihi..akhirx yesso brsatu jg.. >o<
    aq pkir awalx jessica pnya niat jhat u/ memisahkan yesung n sso n pkai cra licik agr yesung mau brtunangan dgnx..
    tp syukurlah akhirx jessica sdar diri jg n mau mmpersatukan yesso kmbali..kkk :p
    gk kerasa ff ini akhirx tamat jg…#sedih😦
    pdhal brharap putri mau mmperpnjangx lg..hehehe #dgetokputri😀
    suka endingx put..ngeliat si kyupil ikutan nyempil dikit, ttp aja khadiranx mmeriahkan suasana..kkk😀
    tp sygx prtemuan sso n ibux yesung gk dliatin yaa..pnsrn gmn reaksi eommax yeye bgitu ktemu sso n tau kalo sso udh jd kkasihx bang yeye, psti lngsung jingkrak2 tuh n lngsung nyuruh mreka brdua cepetan kawin..wkwkwk xD

  48. Hua akhrnya mreka brsama. Kisah cinta yg sederhana namun keren menurutku. Pdhal td nya pgn ada kelnjutan bwt kyusso tp gpp deh yesso jg aku suka bgt.. Pokoknya keren aku suka bgt! Dtggu lnjtn ff yg lain yah apa lg yg kyusso hehe tetp smgt..

  49. putri mengatakan:

    ending yang membahagiakan,aku kira bakal ada lanjutannya lgi ternyata cuman sampe part 10 huff. tetep ditunggu yang selanjutnya eonni, hwaiting!!

  50. isty amelia mengatakan:

    Putri🙂 dari part 1 – 10 sorry yaa akuu baru coment di part trakhir🙂
    soalnya akuu baca dari hp .😦

    dari semua ff yg kubaca . ni lah ff yg terbagus , pokoknya Daebaaak !!!😀

    aku mau karya selanjutnya yaa > tpi aku mau cast yesung oppa yaa,
    cerita kamu bagusssssssssssssssssssssss !!🙂

  51. muntaryati mengatakan:

    Heeem ternyata jesica ngebantu mereka (YeSso) menyadari (?) Perasaan mereka masing”

  52. Rani Annisa mengatakan:

    emang panjang banget part ini tapi aku suka kalau panjang gini,, juga nggak capek kok bacanya…🙂

    Wah akhirnya yesung & so eun bersatu juga🙂

    Dan jessica juga udah ngerelain mereka berdua…

    Ternyata kyuhyun itu hanya cameo aja,, walau sebentar tapi gpp lah yang penting kyuhyun ada…

  53. 2425yy mengatakan:

    Suka ffnya, ff pnjng yg pling dsuka nih, suka ceritanya, dn suka maincastny
    Akhirny jessica ngelepas yesung, berharap ad lnjutannya…
    Konflikny so eun yg djodohin ma kyuhyun, tw jessiica yg msh mw ma yesung, tp ttp brhrp ad bnyk momen yesso….hehehehe
    Plng suka couple ini

  54. yulisarah25 mengatakan:

    Eonni aku suka banget ff ini happy endingnya sweet… Tapi yesso momentnya kurang banyak eon hehehehe
    Aku paling suka couple ini deh sering2 buatin ff utk couple ini ya eon ^^

  55. yolanloen mengatakan:

    aku kira jesica jahat beneran ternyata di peduli juga sama sepupunya, hehehe
    akhirnya si yeppa sadar sama perasaannya, pake galau dululah,,,
    seneng juga happy ending,,,,

  56. Ranynatasha mengatakan:

    Sosweet bnget!
    Apa lagi wktu mereka berpelukkan :v
    aku suka bacanya, apa lagi main castnya si oppa keceh aku :v
    soeun eonni itu hidupnya bebas!
    Aku suka…!
    Wkwkwkw… Kyu oppa cuma jdi pajangan doang!
    Sabar oppa! :v

  57. Mama Nikita widiyati mengatakan:

    Wuuuihhh,kereeen abisss……udah cuma itu aja…habisnya mmg keennnn kok…feelnya dapet,emosi,sedih,pokoknya campur aduk.bagian yg paling keren waktu kyu dateng dan meluk so eun…..wuiiihh si evil tuh mulutnya pedes bgt,tapi mampu bikin orang klepek2!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s