~ [Twoshot] Stupid Boy 2/2 [4th Cloudyelfputriandina] ~


stupid boy

Title       :               Stupid Boy (Seq: If I Were a Boy)

Author  :               PrincessClouds/@helloputri228

Genre   :               Romance

Rated    :               PG-15

Main     :               Choi Si Won – Kim So Eun

Minor   :               Lee Dong Hae – Victoria – Kim Ki Bum – Kim Jong Woon – Lee Hyuk Jae

Summary:           Oh is the same old, same old, stupid boy.

Prompter :          RANI

Recommended Song:    Stupid Boy covered by. Cassadee pope

Related page for story :                rianiflower.wordpress.com

Warning:             Typo(s)

*

Ponselnya berbunyi untuk kedua kalinya setelah sebelumnya ia acuhkan. Hal itu membuat Si Won lagi-lagi mendesah sambil menatap layar ponselnya itu dimana tulisan IBU tergambar disana. Si Won sengaja membuatnya berdering cukup lama sebelum akhirnya ia memutuskan menerima panggilan itu.

“Halo?” sahutnya tak bersemangat.

“Tch, kenapa lama sekali mengangkat panggilanku, nak..” keluh ibunya dari line seberang. Si Won lagi-lagi mendesah pelan.

“Aku sibuk. Aku baru saja sampai di kantor..” sahutnya bohong. Karena saat ini jelas-jelas ia masih duduk santai di atas mobil mewahnya dengan sang sopir yang sibuk menyetir ke arah kantor untuknya. “Ada apa ibu menelpon?”

“tch, ada apa dengan pertanyaanmu itu? Kau tak suka ibu menelpon begitu?” ibunya mengomel pelan dengan kekehan. “Padahal ibu mau mengabarkan kalau kunjungan ibu akan dipercepat..”

“A-Apa?” Si Won sedikit berseru kaget. Tak terlalu menyukai kabar yang dianggap baik ibunya itu. “K-Kapan tepatnya?”

“Hum.. entahlah. Pokoknya dalam minggu ini..”

Si Won terdiam tak menyahut. Di dalam otaknya kini tersusun berbagai hal dan kemungkinan setelah mengetahui kabar ini. Ibunya pasti akan kaget mengetahui apa yang terjadi pada pernikahan putranya, namun Si Won pun juga tak ingin bersandiwara lebih lama. Tak ingin juga repot-repot memikirkan hal lainnya untuk menyelesaikan ini mengingat otaknya sudah cukup sakit memikirkan masalah bisnisnya.

“Ya sudah, ibu hanya ingin menyampaikan itu. Ingat, ibu ingin memberikan kejutan pada istrimu sepulangnya ibu nanti. Jangan begitahukan apapun padanya, okey?” ujar ibunya untuk terakhir kalinya sebelum sambungannya terputus. Sementara Si Won terdiam dan membeku dalam beberapa saat memikirkan ucapan ibunya tadi. Ia tampak menghela nafas dan mengangkat wajahnya, hanya untuk menyadari bahwa mereka hampir sampai di gedung perusahaannya kebanggannya itu. Dimana disaat bersamaan ia tiba-tiba mengingat ucapan Ki Bum soal So Eun semalam.

“Kau tahu, letaknya bahkan cukup dekat dari kantormu. Hanya saja letaknya adalah arah sebaliknya dari jalan menuju tempat kau tinggal. Tokonya juga cukup tersembunyi..”

“Lurus saja!” Seru Si Won tiba-tiba ketika sopirnya berniat untuk memasuki halaman perkantorannya. Si sopir tampak heran sejenak, namun ia tampak langsung menurutinya dan tetap mengemudi lurus mengikuti perintah tuannya. Sementara itu Si Won lebih menajamkan pandangannya untuk memeriksa setiap sudut jalan yang dilaluinya.

“Berhenti!” serunya tiba-tiba setelah beberapa menit mobil itu berjalan lurus. Mobil itu segera sedikit menepi ke sudut jalan sementara Si Won tampak menurunkan kaca jendela di sampingnya dan mengalihkan pandangannya kearah sebrang jalan. Disana dilihatnya sebuah mobil mewah terparkir di depan sebuah toko yang menjual aneka bunga. Namun bukan itu yang menjadi fokusnya karena pandangannya kini tertuju pada dua orang yang saat ini sedang berbicara berhadapan dengan ekspresi-ekspresi tertentu di wajah mereka yang membuat sorot mata Si Won terlihat sedikit berubah. Dimana tatapan itu terkesan sangat dingin menyadari bahwa ia mengenal kedua orang itu.

*Stupid_Boy*

Selepas kepergian Dong Hae, So Eun terlihat kembali mengurusi bunga-bunganya. Tak berapa lama setelahnya ia merasakan ada seseorang yang berjalan mendekat ke tokonya. So Eun tampak memasang senyumannya kembali dan bersiap menyambut pelanggannya itu.

“Selamat da..” ucapannya menggantung aneh begitu ia menyadari siapa yang datang. Ia terlihat kaget menyadari sosok yang saat ini berada di hadapannya dan menatap padanya. “d-datang..” sambungnya kemudian.

Orang yang disambut tampak hanya menatapnya datar, sebuah tatapan yang sudah sangat dikenalnya. Sesaat setelahnya barulah keluar sebuah senyuman darinya, bukan, lebih tepatnya sebuah seringaian samar. “Kau terlihat begitu menikmati kehidupanmu..” ujar Choi Si Won datar sambil mengalihkan pandangannya pada seisi toko dengan tatapan merendahkan. “Kau terlihat bersenang-senang..”

So Eun masih terdiam, masih belum tahu akan bereaksi seperti apa. Namun ia berusaha untuk menenangkan perasaannya yang berkecamuk. “A-Apa anda mau membeli bunga, tuan?”

“Bunga?” Si Won menyahut dengan nada melecehkan. “Apa aku terlihat akan menghabiskan uangku untuk membeli hal yang seperti itu?”

So Eun menghela nafas dan mengalihkan perhatianny dari Si Won. Sekuat hati ia berusaha menahan emosi yang saat ini berkecamuk di dalam dirinya terhadap sosok yang masih suaminya tersebut. Setelah merasa cukup ia kemudian melirik laki-laki itu lagi. “Kalau tidak membeli bunga, lalu untuk apa anda kemari?”

“Kau sungguh hebat, Kim So Eun..” Gumam Si Won pelan. “Bahkan dengan statusmu yang masih istriku kau bisa dengan leluasa menyebarkan pesonamu dengan wajah sok polos tanpa dosa itu. Luar biasa..”

“A-Apa maksudmu?” So Eun bertanya tak mengerti. Sementara Si Won terus mempertahankan ekspresi angkuhnya dengan seringaian tipis di wajahnya.

“Laki-laki yang barusaja pergi terlihat mapan. Dia memiliki mobil yang bagus dan bisa dipastikan dia kaya raya. Kim Ki Bum, pengagummu selama beberapa bulan ini juga kaya. Dan, pengacaramu. Kulihat dia terlalu serius dengan kasus perceraian ini sampai harus mengetuk pintu rumahku pagi-pagi sekali hanya untuk menyerahkan surat tuntutan. Siapa lagi? Aku bahkan tak tahu yang lainnya..”

So Eun terpana, kini ia mengerti dengan maksud ucapan Si Won dan tentu saja ia merasa sangat tersinggung sekalipun sedih dengan tuduhan suaminya itu padanya. “Apa sekarang kau menuduhku merayu mereka semua?” tanya So Eun, masih berusaha mengendalikan emosinya.

“Apa aku harus memperjelas ucapanku?” Si Won menyahut tanpa tersurut sama sekali. Ia sudah begitu terbiasa menyakiti hati So Eun, jadi sepertinya ia sampai tak tahu apa arti rasa bersalah sama sekali walau ia menyadari sorot terluka di mata itu.

Sementara itu So Eun terdiam, terus berusaha menahan dirinya walau hatinya lagi-lagi merasa sakit karena ucapan itu. “Kalau memang anda tidak membeli bunga tolong segera tinggalkan tempat ini, tuan. Terima kasih..” ujar So Eun sambil memberikan hormatnya. Setelah itu So Eun lebih memasuki tokonya dan meninggalkan Si Won yang menatapnya sewot.

“Kau mengusirku sekarang?!” Seru Si Won tak terima dengan jawaban So Eun. Namun yang ada ia semakin kesal karena So Eun tidak mengacuhkan ucapannya sama sekali. “Tch, baru beberapa minggu dia langsung punya banyak kemajuan. Berani sekali dia memperingatkanku begitu..” omel Si Won sambil akhirnya meninggalkan tempat itu. Sementara kini giliran So Eun yang berbalik dan menatap kepergian suaminya itu dengan mobil mewah miliknya.

Stupid boy, you can’t fence that in..
Stupid boy ohh, it’s like holding back the wind

Sampai di kantornya pun Si Won tampak masih kesal dengan pertemuannya dengan So Eun tadi. Hal itu diperparah dengan pemberitahuan sekretarisnya begitu ia sampai di kantor.

“Pengacara Kim Jong Woon mencari anda sejak beberapa menit yang lalu, direktur. Saya sudah memintanya menunggu di ruangan anda..”

“Huh? Kenapa seenaknya memutuskan?” tanya Si Won cepat.

“Saya hanya mengikuti perintah ada di sms pagi ini, direktur. Bahwa karena anda sedikit terlambat ke kantor maka siapapun yang menunggu dipersilahkan menunggu anda di dalam. Maafkan saya tuan..”

Si Won menghela nafas, akhinya baru teringat bahwa tadi ketika ia memerintah sopirnya untuk menuju toko So Eun ia sempat menerima pesan dari sekretarisnya yang mengabarkan seseorang mencarinya. Si Won fikir tadi hanya klien biasa, sehingga itu sebabnya ia memerintahkan sekretarisnya itu untuk menyuruh sang tamu menunggu di dalam ruangannya. Siapa sangka ini tamu yang berbeda?

Pada akhirnya Si Won tetap menemui tamunya itu di ruangannya. Ketika ia memasuki ruangannya, laki-laki yang bertemu untuk kedua kalinya dengannya itu segera berdiri dan memberikannya hormat. Sementara itu Si Won melenggang angkuh duduk di hadapannya.

“Anda terlihat sangat berminat dengan kasus ini, Pengacara-Kim. Sampai mau menunggu untuk lawan klienmu..” ujar Si Won kemudian. Ekspresi kesal masih terlihat di wajahnya, apalagi mengingat pertemuannya dengan So Eun tadi. Pembicaraan mereka juga. “Kim So Eun pasti adalah klien yang berharga..”

“Anda cemburu?” Laki-laki berkacamata itu mengucapkan sesuatu yang membuat Si Won hampir ttersedak ludahnya sendiri. Tidak menyangka karena pemuda itu menyahuti ucapannya dengan ucapan itu sesungguhnya.

“Saya? Cemburu? Yang benar saja..” Si Won memutar bola mata bosan. “Saya hanya heran dengan keloyalan anda terhadap So Eun untuk mengurus kasus perceraian ini. Saya penasaran apakah anda juga melakukan hal yang sama pada klien anda lainnya..”

“Menurutku ya, anda terlihat cemburu..” Pengacara bernama Kim Jong Woon itu menyahut santai. “Tapi jangan khawatir, ini bukan seperti yang anda bayangkan maka anda tidak perlu harus merasa cemburu..”

“Aku sungguh-sungguh tak cemburu!” Si Won menyahut tak mau kalah. Sementara Jong Woon terlihat sudah tak mengacuhkannya lagi.

“Saya adalah sepupu dari teman baiknya, jadi So Eun sudah seperti adik untukku sehingga itu sebabnya saya sangat serius dengan kasus ini..” Jong Woon menyahut datar sambil meraih kopi dan menyesapnya. Sementara Si Won mengangkat alis mendengarnya.

“Sepupu dari temannya? Siapa? Victoria?”

Jong Woon tampak tersenyum tipis sambil meletakkan kembali cangkir minumannya. “Sebagai suami tak tahu malu dan tak bertanggung jawab anda cukup perhatian padanya ternyata. Anda sampai hapal kalau memang dia hanya memiliki seorang teman..” sindirnya kemudian. Si Won lagi-lagi memutar bola matanya bosan.

“Itu tak terlalu sulit ditebak. Mengingat betapa kunonya wanita dari jeju itu..”

“Saya kesini ingin menanyakan mengenai surat perjanjian waktu itu. Apa anda sudah membacanya?” Tanya Jong Woon mulai tak berniat lebih berbasa-basi. Pandangan Jong Woon kembali serius pada lawan bicaranya itu.

“Huh, belum kubaca..” Si Won mengatakan kebenarannya. Karena seingatnya map yang diberikan oleh Jong Woon minggu lalu itu tak pernah tersentuh sejak hari itu. Terakhir dilihatnya masih terletak begitu saja di salah satu sofa apartementnya. “Maaf sekali, Pengecara-Kim. Tapi saya ini adalah orang yang sangat sibuk. Banyak hal yang harus dilakukan..” ucapnya tanpa menyesal sama sekali. Jong Woon mendengus.

“Anda tak bisa menahannya lebih lama, Tuan-Choi. Karena So Eun benar-benar ingin segera menyelesaikan ini semua. Kalau anda tak punya waktu, kenapa anda tak mulai menyewa seorang pengacara saja untuk mempelajarinya. Karena memang itu yang harusnya anda lakukan..”

“Aku tak punya waktu—“

“Berhentilah bersikap hanya memikirkan diri sendiri.” Jong Woon tiba-tiba memotongnya, hal yang membuat Si Won cukup terkejut dengan nada bicara yang makin tinggi. “Beberapa bulan ini anda telah memperlakukannya tidak layak seperti istri yang sesungguhnya. Sekarang setelah dia ingin pergi, maka berhentilah untuk menahannya dan mengganggu usahanya. Permudahlah semuanya dan lakukan bagianmu kali ini saja!” Jong Woon menyela tajam walau masih dengan ekspresi datar di wajahnya. Dimana itu terlihat menganggu Si Won.

“Kufikir anda tak seharusnya berbicara dengan nada seperti itu padaku..”

“Sebagai pengacaranya, mungkin kalimat seperti ini tak layak keluar dari mulutku. Tapi bukankah sudah kukatakan, aku kakak dari teman baiknya, jadi bisa diartikan juga sebagai kakak untuknya. Alasanku mengajukan diri untuk menjadi pengacaranya dari awal sangat jelas..”

Si Won tak menyahut dan hanya mendengarkan, agak kehabisan kata-kata kini. Sementara Jong Woon terlihat sudah membenahi barang-barangnya kembali.

“Oleh sebab itu, segeralah cari pengacara dan mohon perhatikan kasus ini. Saya menunggu hingga waktu seminggu sampai ada dari pihak anda yang menghubungiku membicarakan kasus ini. Karena bila tidak, saya akan mengajukan tuntutan lain ke pengadilan terhadap anda atas tuduhan mengulur dan menganggu proses hukum..” ujar Jong Woon akhirnya menyelesaikan ucapannya. Jong Woon terlihat bangkit dari tempat duduknya kini. “Hanya itu untuk saat ini. Terima kasih dan permisi, sampai jumpa lagi lain hari..” ujar Jong Woon terakhir kalinya sambil meninggalkan tempat itu. Sementara Si Won menatap kepergiannya dengan ekspresi kesal.

Sementara itu So Eun masih terlarut dalam keheningan mengingat pertemuannya dengan Si Won tadi. Senyumannya yang terkenal di kalangan pelanggan toko bunganya tampak memudar hari ini. Ia hanya memberikan senyuman yang terkesan miris kepada mereka yang datang hari ini.

Dan ketika tidak ada pelanggan, maka senyum itu hilang sama sekali. Wanita itu kini terduduk lesu di tokonya sambil matanya memberikan tatapan kosong pada jalanan yang ramai di depannya. Fikirannya juga campur aduk, mengingat kembali apa yang telah mengganggu harinya ini.

Kata-kata seperti itu… kenapa harus kembali sampai ke telinganya. Tatapan merendahkan itu… kenapa harus kembali ia terima dari orang yang sama. Padahal setelah ia memutuskan untuk pergi, ia fikir ia tak akan pernah merasakannya lagi. Tapi kenapa… semua itu masih sempat untuk kembali menyakitinya.

Choi Si Won. Laki-laki itu memang sangat keterlaluan. Setelah memperlakukannya dengan buruk, kini setelah pergi pun ia tak membiarkan So Eun untuk hidup tenang. Padahal tahukah dia betapa beratnya bagi So Eun untuk memutuskan semua itu? Tak tahukah dia bahwa sangat sulit bagi So Eun untuk meninggalkannya – seorang suami yang sangat dianggap dan disayanginya? Kenapa dia begitu? Kenapa Si Won sangat membencinya? Apakah di kehidupan yang lalu So Eun adalah orang yang membunuhnya? Sehingga kini sejak awal melihatnya pun pemuda itu langsung memberikan tatapan kebencian padanya.

Tak bisa begini. Hal ini harus benar-benar diselesaikan keseluruhan. Mereka harus segera bercerai, hingga Si Won sudah tak punya ruang untuk semakin merendahkannya.

“Kami sudah memeriksa semua karyawan perusahaan baru, direktur. Dan sejauh ini kami tidak menemukan siapapun yang mencurigakan..” jelas salah seorang kepercayaan Si Won melaporkan. Ekspresinya terlihat serius, menatap wajah atasannya yang juga berwajah serius.

Si Won yang sejak pagi ini memiliki mood yang buruk tampak mengangkat wajahnya menatap bawahannya tersebut. Garis serius terlihat kentara di wajah tampannya. “Benarkah? Apa sudah benar-benar diperiksa?”

“Sudah, direktur. Kami bahkan telah memeriksa keaslian dokumen yang mereka berikan ketika melamar. Darisana juga kami memeriksa kehidupan pribadi karyawan serta latar belakang mereka. Sejauh ini kami tidak menemukan satupun yang mencurigakan..”

Si Won mendesah panjang, kembali membuka dan membalik-balik dokumen itu. “Tch, ini memang sangat sulit untuk diselidiki. Bahkan tanpa sejarah bekerja pun, pihak Lee Dong Hae pasti menemukan cara yang lebih aman untuk menyelundupkan seseorang. Aish, anak itu!!” Si Won mengerang kesal sambil membanting lagi kertas map tadi. Emosinya kini semakin membuncah pada Dong Hae.

“Atau mungkinkah Direktur-Lee hanya ingin menggertak anda, direktur? Mungkin untuk mengalihkan konsentrasi anda?” laki-laki tadi memberikan pendapatnya.

“Tidak, tidak. Aku yakin dia serius dengan ucapannya. Walau bagaimanapun tender ini begitu penting untuknya, ditambah dendam pribadinya padaku akibat sabotase yang kulakukan di tender terdahulu. Dia pasti benar-benar memanfaatkan semua ini dan menghindari kecerobohan apapun yang merugikan..” Si Won bergumam pelan sambil sedikit berfikir. Sementara bawahannya terus menganggukkan kepalanya.

“Lalu apa yang harus saya lakukan selanjutnya, tuan?”

“Selidiki kembali, sewa tim yang lebih banyak. Tidak hanya karyawan baru tapi semua karyawan, karena bisa saja Dong Hae hanya mengalihkan perhatianku pada karyawan baru namun malah menggunakan karyawan lama. Selidiki semuanya dan laporkan selalu perkembangannya padaku..”

“Baik direktur. Namun, bagaimana dengan tendernya? Apakah anda sudah memiliki rencana?” tanya bawahannya itu lagi. Kali ini tampak senyuman samar dari Si Won.

“Santai saja. Kita belum bisa menentukan seperti apa rancangan yang kita ajukan saat ini. Komisaris-Jung dari group-Taesan baru akan melakukan pesta pembukaannya dalam beberapa minggu ke depan. Disana kita baru bisa tahu, proyek seperti apa yang dia inginkan untuk dibangun di atas tanahnya yang luas di pulau-Nami itu..” Si Won melirik padanya dan semakin menunjukkan senyuman tipisnya tadi. “Dan disana baru kita bisa memulai perang yang sesungguhnya dengan Lee Dong Hae. Maka sebelum itu urus semua ancaman yang bisa menggagalkan kemenangan kita..”

“Baik direktur..”

Setelah memberikan hormatnya laki-laki berkacamata itu tampak segera keluar dari ruangan itu. Sementara Si Won tertinggal dan melayangkan pandangannya keluar kaca yang membingkai perusahaan bertingkatnya. Dimana wajahnya kembali berubah datar seperi tak beremosi, walau kenyataan yang ada adalah sebaiknya.

“Tunggu saja, Lee Dong Hae. Kau tak akan bisa mengalahkanku. Tidak akan pernah lagi..”

Beberapa hari kemudian, sebuah taksi tampak melaju dengan kecepatan sedang di jalanan Seoul yang sibuk. Di bangku belakang terlihat seorang wanita paruh baya yang terlihat baru saja kembali dari perjalanan jauh. Wajah yang bahagia terlihat di balik kacamata hitam yang dikenakannya.

“Aku akan memberikan kejutan pada keduanya hari ini dengan kedatangan mendadakku. Apalagi So Eun, dia pasti akan sangat bahagia dan terkejut karena dia sama sekali tidak tahu dengan kunjunganku ini..” gumam wanita yang ternyata adalah Nyonya besar-Choi itu. Wanita itu tampak membuka kacamatanya dan melayangkan pandangannya menatap sekitar jalanan yang dilaluinya. “Aku jadi tidak sabar untuk bertemu dengannya..”

Wanita itu kembali memandang sisi jalan yang dilaluinya dengan wajah senang. Hingga pada akhirnya, tiba-tiba sesuatu menangkap perhatiannya. Membuat ia langsung berseru pada sopir taksi yang ditumpanginya, “Tolong berhenti sebentar..”

Wanita itu lagi-lagi tersenyum sambil menatap toko bunga yang tadi dimaksudnya. Ia lalu berjalan keluar dari taksi tersebut setelah meminta sopir tadi menunggu sebentar. “So Eun sangat menyukai bunga, dia pasti akan lebih senang ketika tahu aku datang sambil membawa bunga..” simpulnya pelan sambil membawa langkahnya mendekati toko bunga yang cukup ramai itu.

Dari tempatnya, ia dapat melihat ada banyak orang yang berkumpul di toko bunga tersebut. Mereka semua tampak sibuk memilih bunga ataupun bernegosiasi dengan pedagangnya yang tampaknya masih muda. Nyonya-Choi tersenyum dan berniat semakin mendekat, namun tiba-tiba langkahnya terhenti ketika ia melihat lebih jelas wajah wanita muda yang sepertinya adalah penjual bunga tersebut. Masih sedikit tak yakin ia tampak lebih mendekat untuk memastikan, tapi ia mendapatkan jawaban pastinya ketika ia benar-benar mendekat.

“K-Kim So Eun?” panggilnya lirih tak yakin. Namun panggilannya itu tetap didengar oleh orang yang dimaksud dan ia tampak mengangkat wajahnya. Ekspresi cerah wanita itu juga langsung berubah begitu mengenali siapa yang baru saja memanggil namanya.

“I-Ibu mertua?”

Di kantornya hingga di jam makan siang Si Won tampak berkutat dengan pekerjaannya. Dilihat dari ekspresinya, ini adalah ekspresi paling buruk yang menunjukkan moodnya yang juga sangat buruk. Bisa ditebak ini semua berkaitan dengan masalah bisnisnya, masalah persaingannya dengan Lee Dong Hae, belum lagi masalahnya tentang istrinya dan keluarganya. Semuanya hari ini menabraknya beruntun seperti menekannya hingga menjadi abu.

Tapi Si Won memutuskan untuk tidak terlalu terpengaruh dengan semua gangguan itu. Dalam prinsip hidupnya, ia sepakat dengan dirinya sendiri bahwa tak ada yang bisa menganggu pekerjaannya walaupun mood atau masalah sekalipun. Apapun yang terjadi ia harus tetap fokus menyelesaikan semuanya, sebelum menghibur dirinya dengan kembali ke gemerlapnya dunia malam dan tenggelam dengan gemerlapnya kehidupan fana itu.

Itulah sebabnya, hingga jam makan siang begini ia masih ditemukan di belakang meja kerjanya dengan mata yang terus fokus menatap layar komputer. Beberapa jenis makanan yang disediakan oleh sekretarisnya tampak bertengger tak tersentuh di sampingnya, hanya saja cangkir kopi ekspreso disampingnya yang tampak sudah hanya diisi oleh angin akibat sudah habis diteguknya ditengah kerjanya.

Perisai lainnya juga sudah disiapkannya, seperti melarang siapapun untuk datang menganggu pekerjaannya. Sepertinya semuanya juga sudah sangat faham hal itu. Karena nyatanya tak ada yang berani menganggunya hingga beberapa jam ia larut dengan sisi workaholic dirinya.

Namun itu tak berlangsung lebih lama dari itu. Karena tak lama setelah itu, tiba-tiba saja ia dikagetkan dengan pintu ruangannya yang terbuka dengan cukup kasar. Suara seruan sekretarisnya yang seperti melarang masuk juga terdengar tak lama setelahnya.

Sementara Si Won yang juga kaget dan bersiap untuk marah tampak terpaksa menarik kembali ucapannya. Sebagai gantinya ia menatap tak percaya sosok yang saat ini berdiri di depan pintu ruangannya.

“I-Ibu..” panggilnya tak yakin. Ia membagi pandangannya pada sekretarisnya untuk memintanya pergi, sebelum mendekati wanita yang melahirkannya itu. Menyapanya canggung. “I-Ibu datang hari ini? Bukankah ibu bilang..” Ucapannya menggantung aneh begitu ibunya menunjukkan sesuatu yang sejak tadi di sembunyikan di belakang punggungnya. Sebagai gantinya ia menatap bingung benda itu – atau mungkin was-was tepatnya. “Apa ini?”

“Huh, kau masih mau tetap berpura dan membohongi ibu?” ibunya menjawab dingin. Terlihat marah. “Kau pasti tahu apa maksudnya ini, kan?”

Si Won menghela nafas, menyerah. Dari awal memang ia sudah memprediksikan hari ini akan datang, bukan?

“Bagaimana ibu bertemu dengannya?”

“Apa itu pertanyaan yang lebih penting sekarang?”

“Ibu—“

“Choi Si Won, berhentilah memutar-mutar pembicaraan!” Ibunya berseru sangat kesal pada putranya itu. “Jelaskan apa yang terjadi sebenarnya? Mengapa So Eun sampai bekerja diluar seperti itu? Mengapa ia sampai pergi dari rumah? Dan yang lebih penting, Mengapa dia sampai mengajukan perceraian kepadamu? Kenapa, huh?” nada bicara Nyonya-Choi tampak meninggi akibat menahan emosi. Sementara Si Won tampak menghela nafas lebih panjang.

“Bagaimana kalau kita bicarakan nanti? Aku saat ini sedang sibuk bu—“

“APA HAL ITU LEBIH PENTING DARIPADA RUMAH TANGGAMU BAGIMU?!” Nyonya-Choi semakin meninggikan suaranya. Ia terlihat sangat marah dengan reaksi yang diberikan Si Won atas pertanyaannya.

“Ibu..” Si Won menghela nafas, namun tak lama tampak merendahkan nadanya kembali. “Baik aku akan ceritakan. Tapi sebelumnya ibu duduk dulu..” bujuknya pada akhirnya. Dimana untuk pertama kalinya Nyonya-Choi terlihat menurutinya, walau wajahnya masih tampak sangat marah begitu melewati Si Won dan mendudukkan diri di salah satu sofa di ruangan Direktur-muda itu.

Si Won mengemudikan mobilnya kembali ke kantor setelah mengantarkan ibunya ke bandara. Akibat kejadian tadi ibunya tampak begitu marah dan langsung meminta pulang selang tak sampai satu jam mereka berbicara. Tentu saja, setelah ia puas mengomeli Si Won atas semua yang terjadi.

Walau memang begini niatnya dari awal, namun sejujurnya kini Si Won malah merasakan beban baru di pundaknya. Hal itu yang membuatnya terus menatap tanpa emosi jalanan yang dilaluinya walau jauh di dalam otak dan hatinya kini semuanya berkecamuk. Kian berkecamuk.

“Jadi kau benar-benar tidak akan melakukan apapun untuk memperbaikinya? Kau tak akan membawanya kembali?” Nyonya-Choi bertanya dengan emosi, walau kini ia tampak sedikit meredam kemarahannya. Sementara itu Si Won menarik nafas dalam, mulai bersikap tenang seperti dirinya yang biasanya.

“Itulah yang terbaik, bu..”

“Choi Si Won!”

“Maafkan aku bu, tapi inilah yang terbaik..” Si Won memberanikan diri lebih menatap mata ibunya itu. “Dari awal aku sudah mengatakan bahwa aku tak menyetujui perjodohan ini, namun ibu dan ayah terus memaksa bahkan mengancamku. Aku pada akhirnya terpaksa melakukannya – demi perusahaanku..”

Nyonya-Choi tak menyahut kini. Ia tampak kehabisan kata-kata menatap putranya seakan tak percaya anak yang dilahirkan dan dibesarkannya akan mengatakan hal yang seperti ini.

“Dari awal aku tak mencintainya. Tapi ayah dan ibu tak mengerti…”

“Kami melakukan ini karena kami percaya ini yang terbaik untukmu. Waktu itu, kau hidup sangat berantakkan. Terus bermain-main dengan wanita dan menghabiskan waktumu di tempat hiburan. Itu sebabnya kami memilihkan gadis seperti So Eun, seseorang yang layaknya permata dan kami yakin akan merawatmu dan membuatmu lebih baik. Dia adalah gadis yang baik, Si Won. Dia juga cantik. Tak alasan apapun yang seharusnya membebanimu hidup dengan gadis seperti itu..”

“Tapi masalah hati tidak sesederhana itu, ibu. Tapi kita hidup di jaman berbeda, ibu dan ayah dulu memang bertemu karena cara yang sama dan kalian berakhir saling mencintai pada akhirnya. Namun bukan berarti, hal itu juga bekerja terhadapku..”

“Si Won..”

“Jadi kalau semua ini sampai begini, bukankah ini semua tak sepenuhnya kesalahanku? Ayah dan ibu yang memaksaku dengan menjadikan perusahaanku sebagai ancamannya. Sejak awal, ini telah salah..”

Nyonya-Choi lagi terdiam, mungkin kini mulai merenungi semuanya. Sekilas mungkin ia membenarkan ucapan Si Won itu, walau kenyataannya semua tetap mengganjal. Ia kasihan dan juga merasa bersalah pada So Eun semakin ia memikirkannya.

“Kami melakukannya sebagai ucapan terima kasih..” Nyonya-Choi bergumam lirih. Kepalanya tertunduk menahan sedih. “Karena kalau bukan karena keluarga So Eun, kau mungkin sudah tidak ada di dunia ini..”

Si Won terlihat melirik ibunya kembali, tak yakin dengan apa yang didengarnya. “Apa maksud ibu?”

Nyonya-Choi sedikit sesegukkan, ia balas menatap Si Won dengan mata yang basah. “Dua puluh lima tahun yang lalu, ketika kau berumur tiga tahun kami membawamu ke jeju untuk merayakan ulang tahunmu. Namun sebuah kecelakaan terjadi, kami sempat lengah, kau terlepas dari kami dan berlari ke jalan raya yang tengah ramai. Sebuah taksi yang kebetulan lewat hampir menabrakmu, namun beruntung pengemudinya sempat banting stir walau berakibat malah mobil itu yang terbalik karena kejadian yang tak bisa dihindari. Itu adalah taksi yang ditumpangi So Eun dan ibunya, dimana akibatnya membuat ibu So Eun meninggal akibat kecelakaan itu..”

“A-Apa?” Si Won terlihat tak yakin dengan apa yang didengarnya.

“So Eun yang baru berumur satu tahun tertidur di bangku belakang mobil itu, waktu itu. Dia selamat walaupun ia sempat koma beberapa hari. Sopir taksinya juga selamat. Hanya saja, kami begitu merasa bersalah ketika ayah So Eun datang dan terlihat begitu terpukul dengan apa yang menimpa keluarganya. Apalagi mengingat anak mereka yang baru berumur satu tahun menjadi piatu, sementara dirinya hanyalah seorang nelayan sederhana. Sejak saat itulah kami menjadi bersahabat, karena kami merasa tersentuh dengan pribadi Tuan-Kim yang berlapang dada dan tidak menyalahkan kami dengan apa yang terjadi. Disaat ia merisaukan masa depan So Eun, disanalah kami menawarkan rencana perjodohan ini..”

Si Won tetap terdiam, ia tampak kehabisan kata-kata. Di otaknya terbayang adegan demi adegan yang diceritakan ibunya. Dia tak mengingat apapun, namun kenapa rasanya… dia tahu, dia mengingat perasaan itu. Sebuah perasaan bersalah atau sejenis, ia merasakan bahwa ia pernah merasakan ini sebelumnya.

“Setelah semua yang terjadi ini ibu benar-benar merasa sedih dan malu. Ibu merasa bersalah pada kedua orang tua So Eun karena telah membuat hidup So Eun bukannya lebih baik, namun malah semakin berantakkan seperti ini karena rencana perjodohan ini. Ibu merasa sangat gagal…” Nyonya-Choi tampak kian menangis haru, ia terlihat benar-benar menyesali semuanya. “Kalau ibu tahu semuanya akhirnya begini seharus dari awal kami cukup pintar untuk tidak memaksakan perjodohan ini. Setidaknya, itu tidak semakin menambah besar rasa bersalah kami kepadanya. Dia pasti akan lebih bahagia kalau saja sejak awal kami tak memintanya untuk menikah bersamamu…” jelas ibunya semakin berlinangan air mata.

Si Won berdecak setelah otaknya seakan kian merasa akan meledak ketika ia mengingatnya. Ia tiba-tiba mempercepat laju mobilnya ketika sesuatu terlintas difikirannya begitu saja.

Sementara So Eun juga terlihat telah menutup tokonya lebih cepat dari sebelumnya. Wanita itu kini terlihat baru saja menutup tokonya dan berniat segera pulang. Namun ketika ia berbalik, sebuah mobil tiba-tiba berhenti di depan tokonya. Lee Dong Hae adalah orang yang keluar darisana.

“Huh? Sudah tutup?” tanyanya bingung. Namun ia tetap berjalan mendekati So Eun.

“Maaf tuan, namun hari ini tokonya ditutup lebih awal..” sahut So Eun pelan. Ia berusaha menyembunyikan ekspresi sedih di wajahnya, walau semua itu tetap cukup sulit dilakukan.

Dong Hae terdiam sejenak, dari ekspresinya terlihat bahwa ia sepertinya menyadari bahwa perasaan So Eun saat ini sedang tidak baik. Apalagi hal itu terlihat jelas dari matanya yang terlihat cukup membengkak.

“Huh… sayang sekali, padahal aku sangat bersemangat untuk belajar materi jenis bunga yang baru hari ini..” Dong Hae pura-pura mengeluh. Ia kemudian melirik So Eun lagi. “Memang apa yang terjadi? Apa terjadi masalah?”

So Eun sedikit gugup, sedikit bingung menjawabnya. Namun tak lama sebuah jawaban keluar dari mulutnya begitu saja. “Aku hanya… sedang tak enak badan..” sahutnya sedikit menundukkan kepalanya. So Eun tak sepenuhnya berbohong dengan hal itu, ia memang tiba-tiba saja merasa tak enak badan setelah pertemuan singkat dengan ibu mertuanya tadi. Di tambah memang hatinya jadi terasa sangat sakit sekali saat ini.

“Begitukah? Lalu anda mau kemana? Ke rumah sakit?” Dong Hae terlihat risau. “S-Saya bisa mengantarkan kalau anda tak keberatan..” tawarnya. So Eun tampak mengangkat wajahnya lagi, agak merasa tak enak dan tak tahu harus bersikap seperti apa.

“T-Tidak usah, tuan. Saya hanya perlu pulang dan beristirahat..”

“Begitu?” Dong Hae terlihat tak yakin. “Kalau begitu bagaimana kalau saya mengantarkan anda pulang—“

“Tidak usah, tuan.” So Eun dengan cepat menyahut. Ia lebih merasa tak enak hati lagi kini. “Saya merasa tak enak..” ujarnya kemudian.

“Tapi aku tak merasa sedang sibuk..”

So Eun terus disana meladeni dan berusaha menghindari pelanggannya yang paling sering datang ke tokonya sejak beberapa hari itu. Ia terlalu larut dengan itu sepertinya, hingga ia tak menyadari bahwa sejak tadi sebuah mobil mewah lain telah berada di sebrang jalan yang lain dan memperhatikan keduanya. Mata yang sama dengan yang menatapnya pagi ini, namun sekilas…

Sinar mata itu berbeda.

Dengan langkahnya yang lelah Si Won akhirnya memutuskan untuk kembali ke apartmentnya. Ini terhitung jarang, karena jam yang biasanya menjadi saat direktur muda itu pulang adalah ketika malam sudah begitu larut. Namun kini disinilah dia, kembali disana lebih awal dengan langkah lesu yang tak biasanya terlihat dari pemuda tampan itu.

Si Won menghempaskan tubuhnya di sofa sementara tangannya mulai melepas dasi yang melilit leher kemejanya. Pemuda itu kemudian menyandarkan tubuhnya pada sofa yang didudukinya. Menatap nanar langit-langit di atasnya.

“Akulah penyebab kematian ibu So Eun..” ia bergumam ambigu sambil terus menatap hamparan berwarna putih itu. Mengeja satu-satu apa yang melintasi fikirannya. “Karena aku di usia muda So Eun menjadi piatu..”

Si Won kini memejamkan matanya, kali ini berusaha untuk mengingat kalau saja potongan itu masih berada di dalam memorinya. Namun percuma, dia tak menemukannya. Namun kenapa dadanya merasa tak nyaman dan mempercayai semua itu.

Si Won menyerah dan membuka matanya kembali.

Si Won mengalihkan pandangannya dan kali ini matanya menangkap sebuah map yang terbengkalai di sudut ruangan itu. Hal itu membuat pemuda itu bergeser dan meraih benda yang masih diingatnya apa itu – Dokumen perceraian yang dikirim pengacara So Eun tempo hari.

Untuk pertama kali tangan Si Won tergerak untuk membuka dokumen tersebut. Mempelajari untuk pertama kali setiap huruf yang terdaftar disana seakan itu adalah dokumen proyek yang bernilai triliunan rupiah.

She laid her heart and soul right in your hand
And you stole her every dream and you crushed her plans
She never even knew she had a choice and that’s what happens
When the only voice she hears is telling her she can’t
You stupid boy!

Sementara itu So Eun terlihat tengah berdiri menatap kosong keluar jendela kamarnya. Secangkir teh hangat terlihat di tangannya, sementara sebuah kabel kecil terlihat melekat di salah satu bagian telinganya. Beberapa meter darinya, sebuah ponsel dengan layar menyala terlihat terletak begitu saja di atas tempat tidur. Tulisan ‘Jong Woon Oppa’ terlihat secara samar terpampang di layarnya.

“Seperti pembicaraan kita sebelumnya, hari ini aku kembali menemui Choi Si Won di kantornya dan seperti dugaanmu, dia bahkan belum menyewa pengacara atau bahkan belum mempelajari berkas tuntutanmu sama sekali..”

Suara Jong Woon sekilas terdengar bak angin yang saat ini berhembus di sekitarnya. Namun So Eun tetap mendengarnya dengan baik, merasainya dengan baik.

“Tapi kau tenang saja, So Eun. Hari ini aku juga telah menekannya untuk lebih serius dengan semua ini. Aku berharap dia kali ini akan mulai serius dengan semua ini. Karena kalau tidak aku akan memakai cara yang selanjutnya.. menekan secara hukum.”

Kali ini bahkan suara Jong Woon seperti tertimpa dengan hal yang lainnya, saat dimana kini ingatan So Eun kembali pada pertemuannya dengan ibu mertuanya pagi ini. Kecewa, So Eun dapat membacanya jelas melalui pandangan mata wanita paruh baya itu. So Eun pun tahu sejak awal ia memutuskan semua ini ia pasti akan membuat sedih kedua mertuanya. Namun So Eun tak punya pilihan, dia harus mulai memikirkan dirinya sendiri sejak saat itu. Karena memang ia hanya akan terus menderita bila terus menjalani rumah tangga penuh kepalsuannya bersama Choi Si Won.

“So Eun kau masih mendengarku?” Suara Jong Woon membantunya kembali tersadar ke alam nyata.

“Ya, tentu saja oppa…” sahutnya pelan. “Aku mengerti semua yang oppa katakan. Dan seperti biasanya, aku mempercayaimu dan menyerahkan semuanya kepadamu..”

“Aku akan terus berkerja keras untuk menyelesaikan ini semua. Sejujurnya akupun sudah sangat geram dengan perlakuan Choi Si Won padamu. Aku ingin masalahmu dengannya selesa secepatnya..”

“Terima kasih, oppa. Sampai saat ini aku memang hanya memiliki dirimu dan Victoria. Aku tak tahu apakah aku bisa bertahan kalau seandainya aku tak memiliki kalian berdua..”

“Ya sudah, sebaiknya sekarang kau beristirahat. Kau pasti sangat lelah karena aktifitasmu seharian. Selamat beristirahat So Eun..”

“Ya oppa juga. Selamat malam dan selamat beristirahat..”

Sambungan itu akhirnya terputus meninggalkan dunia yang terasa sepi bagi So Eun. So Eun tampak menghela nafas dan lagi-lagi menatap kosong keluar sana. Berusaha meyakinkan dirinya bahwa keputusannya untuk mengakhiri semua ini adalah keputusan yang tepat.

Keesokkan harinya Si Won sudah kembali terlihat di kantornya untuk membicarakan rencana selanjutnya tentang proyek yang tengah diincarnya. Waktunya semakin sempit kini, sementara kelompoknya masih belum mempunyai strategi untuk memenangkan tender ini dari pesaing mereka terutama Lee Dong Hae. Hal yang lainnya yang perlu ditekankan juga betapa ia kini masih dalam pengaruh taktik Lee Dong Hae soal mata-mata di perusahaannya yang sampai saat ini belum bisa diketahui pasti siapa orangnya.

“Menurut saya sebaiknya kita menunjuk tim khusus untuk merundingkan tender ini, direktur. Dimana orang-orang di dalamnya adalah orang-orang yang anda percayai untuk menghindari adanya pengkhianat..” usul salah salah satu ketua dari divisi perusahaannya. Usulannya ini disetujui oleh hampir semua yang ada disana.

“Kami setuju. Dengan begitu, maka kesempatan pengkhianat untuk membocorkannya akan semakin kecil..”

Si Won tak langsung menyahutinya, ia hanya tampak memandangi satu persatu wajah dari bawahannya. Sejujurnya kini fikirannya terus saja terprovokasi oleh ucapan Dong Hae waktu itu. Setelah data dari para karyawan baru bisa dikatakan bersih kini kecurigaannya malah menjalar kepada semua karyawan yang bekerja dengannya. Bagaimana kalau sebenarnya ucapan Dong Hae waktu itu hanya untuk mengalihkan perhatiannya dari pengkhianat sebenarnya yang mungkin saja adalah salah satu dari mereka yang saat ini duduk di hadapannya? Bagaimana kalau orang-orang itu yang nantinya malah menikam saat dirinya lemah.

“Ya, saya setuju..” Si Won akhirnya bersuara setelah para bawahannya mulai heran dengan sikap diamnya. “Saya akan memikirkan siapa-siapa saja orangnya dan akan mengumumkannya segera..” tambahnya.

Si Won berfikir mungkin sebaiknya ia bermain halus untuk ini semua. Saat ini dia tak bisa mempercayai siapapun, jadi satu-satunya rencana yang bisa ia lakukan adalah berpura-pura mengikuti setiap usulan yang diberikan kepadanya sementara disaat itu juga ia harus memikirkan rencana cadangan kalau memang nanti ia salah memilih tim yang ternyata adalah seorang pengkhianat. Dia harus ekstra hati-hati kalau tak mau dikalahkan oleh Lee Dong Hae.

“Baiklah. Jadi rapatnya kita akhiri segera. Saya akan membentuk tim kerja untuk proyek ini dan mengumumkannya segera..” ujar Si Won pada akhirnya setelah membenahi barang-barang miliknya di atas meja. Ia berniat meninggalkan tempat itu, namun sebelumnya ia teringat sesuatu dan kembali melirik para bawahannya. “Saya akan merancang tim itu secepatnya, jadi saya meminta anda semua untuk mulai memikirkan project kerja seperti apa yang akan memenangkan tander ini. Akhir minggu ini peringatan pembukaannya akan mulai dilakukan, jadi saya harap anda semua juga serius memikirkannya..” serunya pada orang-orang di hadapannya. Setelah menerima sahutan persetujuan dari semuanya direktur muda itupun kemudian meninggalkan ruangan pertemuan itu.

“Direktur, saat ini Pengacara-Lee sedang menunggu anda di ruangan anda..” ujar sekretarisnya begitu langkah kakinya baru saja melewati pintu ruang rapat. Si Won terlihat heran awalnya, namun kemudian ia memuutuskan untuk menyusul pengacaranya yang juga merupakan teman sejaknya kuliah itu.

Teman sekaligus pengacara pribadinya, Lee Hyuk Jae tampak sudah duduk santai di ruangannya ketika Si Won memasuki ruangan itu. Pemuda-Lee yang terkenal playboy sejak masa kuliahnya itu tampak memamerkan cengirannya pada Si Won ketika ia memasuki ruangan itu. Sementara itu Si Won hanya membalasnya dengan dengusan sebelum mendudukkan diri di depan pemuda itu.

“Aku tak merasa memanggilmu. Kenapa kau tiba-tiba datang hari ini?” tanya Si Won dengan nada datar. Terus terang saja ia selalu bernada datar belakangan ini, karena… tentu saja, masalahnya terlalu banyak sejak beberapa minggu belakangan ini.

“Aku sudah cukup sabar menunggu teleponmu sejak beberapa hari yang lalu. Namun karena belum juga ada tanda-tanda kau akan menghubungiku oleh sebab itu aku terpaksa meluangkan jeda di waktu sibukku untuk mengunjungimu..”

“Ada apa lagi? Bukankah kasus pajak itu sudah selesai. Dimana pada akhirnya aku tetap harus mengeluarkan uangku ratusan juta won karena lemahnya kau dalam membelaku?” sinis Si Won sebal. Namun Hyuk Jae tampak malah terkekeh mendengarnya.

“Sebagai penduduk suatu Negara yang kaya raya kau memang sudah seharusnya membayar pajak, bukan? Kau tak bisa menghindari hal tersebut walau bagaimanapun..”

“Lalu apa gunanya aku membayarmu waktu itu. Kalau nyatanya aku tetap membayar..”

“Itu hanya prosedur untuk mengulur waktu, kau juga tahu itu. Lagipula kalau saja bukan karenaku kau mungkin diharuskan membayar miliaran won, setidaknya aku berguna untuk mengurangi kerugianmu..”

Si Won pada akhirnya tak mampu menyahuti apapun lagi dari temannya itu. Terang saja, bukan pengacara namanya kalau orang itu tak pandai bicara. Lagipula ia sungguh tak punya waktu untuk perdebatan seperti itu.

“Jadi untuk apa kau kemari?” tanya Si Won setelah beberapa saat terdiam. Lee Hyuk Jae tampak menghela nafas kini, sebelum akhirnya memperlurus duduknya guna menghadap Si Won.

“Kemaren salah seorang pengacara bernama Kim Jong Woon menghubungiku untuk menanyakan tentang tuntutan perceraian istrimu terhadapmu..”

Si Won jelas terlihat kaget dan terganggu mendengarnya. Apa-apaan pengacara So Eun itu? Kenapa ia ngotot sekali dengan kasus ini?

“Aku belum sempat memikirkannya. Aku sangat sibuk belakangan ini..”

“Tapi tuntutan itu sudah didaftarkan. Kau bisa terkena masalah kalau terus menghindar..”

“Tch, aku sungguh-sungguh pusing belakangan ini kau tahu?” Si Won mengeluh sambih menyadarkan tubuhnya. “Uangku puluhan milliar tengah dalam perjudian dengan si bajingan Lee Dong Hae..”

“Tapi kau tetap tidak bisa menghindari sidang perceraian ini lebih lama.”

Si Won menyerah, ia tampak tak menyahuti apapun lagi kini. Ia tampak menghela nafas sambil memikirkan sesuatu. “Setelah kufikir-fikir semalam, sepertinya aku akan tidak bisa menerima perceraian ini begitu saja. Aku masih ingin mempertahankan rumah tanggaku..”

“Huh?” Hyuk Jae tampak cukup kaget dengan ucapan Si Won itu. Ia menatap temannya itu sedikit tak percaya. “Kau serius? Bukankah selama ini kau sendiri yang mencari-cari cara untuk bercerai dengan wanita pilihan ibumu itu? Sekarang ketika semuanya sudah sesuai harapanmu kau baru berubah fikiran?”

“Tch, kau tak mengerti. Ada alasan lainnya yang membuatku memutuskan hal ini..” Si Won mengalihkan wajahnya dari tatapan aneh nan menyelidik dari Hyuk Jae. “Yang pasti kalau aku tak menginginkan perceraian ini, apa menurutmu pernikahan ini masih bisa diselamatkan?” tanyanya kemudian sebelum menatap Hyuk Jae lagi dengan ekspresi lebih serius. Hyuk Jae juga tampak langsung serius dan memikirkannya.

“Tentu saja bisa, mengingat kita masih dalam proses mediasi. Tapi semua itu bukan berada di jalurku, kalau kau mau maka harus kau yang melakukan sesuatu..” sahut Hyuk Jae sambil menatap Si Won lagi. Giliran Si Won kini yang menatap dengan pandangan tak mengerti.

Sementara itu Dong Hae hari ini terlihat kembali mengunjungi So Eun di toko bunganya. Dan seperti biasa, Dong Hae selalu dapat menemukan timing yang tepat karena ia selalu datang saat dimana toko itu sepi. Sehingga ia bisa memanfaatkan lebih banyak waktu untuk berbicara dengan wanita itu – alasan sebenarnya ia datang kesana.

So Eun yang awalnya terlihat tengah menata bunganya tampak mengangkat wajahnya begitu menyadari siapa yang datang. Senyuman ramah nan manis kembali terlihat di wajah cantiknya.

“Selamat datang, tuan..”

Dong Hae tersenyum sambil melangkah mendekat. Diedarkannya pandangannya menatap bunga-bunga di sekitarnya sebelum kembali menatap So Eun, kembali tersenyum. “Apa kali ini aku tidak datang di saat yang tidak tepat?”

“Tidak tuan. Hari ini seperti hari yang begitu cerah, anda dapat membeli bunga-bunga yang juga bermekaran indah pada hari ini..”

“Begitukah? Baguslah. Aku senang melihat hari ini kembali cerah, tidak seperti kemarin yang sedikit mendung. Hatiku sedikit sakit melihatnya..” gumamnya pelan sambil mengalihkan pandangannya kembali pada bunga-bunga di sekitarnya. Diam-diam ia tersenyum pada ucapannya sendiri yang mungkin terdengar yang mengandung konotasi itu. Mengingat mungkin So Eun mengerti arah ucapannya. “Aku kesini mau membeli bunga sekaligus mempelajarinya. Hari ini aku mau belajar mengenai bunga paling populer di antara para bunga.” Tangan Dong Hae meraih salah satu bunga dan menunjukkannya pada So Eun. “Bunga mawar..”

So Eun ikut tersenyum, sejenak ia berusaha mengusir perasaan sedikit tak nyaman di hatinya akibat suasana yang sedikit berbeda antara keduanya. Ia kini berusaha meluruskan fikirannya untuk bekerja. “Bunga mawar biru..” So Eun meraih setangkai bunga yang dipegang Dong Hae. “Bunga mawar biru melambangkan sesuatu yang indah namun misterius. Mungkin perasaan semacam rasa kagum yang mendebarkan..” ujarnya sambil tersenyum dan menyerahkan kembali pada Dong Hae. Dong Hae tampak ikut tersenyum dan menerimanya.

“Sepertinya bunga ini sedikit melambangkan anda. Hanya sedikit, mungkin 5% saja?” Dong Hae terkekeh, sebelum akhirnya mengambil kuntum lainnya. “Kalau Ungu?”

“Mawar ungu juga memiliki banyak arti. Dia bisa mengungkapkan keunikan, cinta pada pandangan pertama, juga bahkan digunakan untuk ucapan kasih sayang terhadap kedua orang tua..”

“Bunga ini juga sedikit berkaitan dengan anda berarti, cinta pada pandangan pertama..” Dong Hae bergumam lagi sambil menatap kuntum mawar itu. Namun tak lama ia tersadar lagi kalau ia sudah kelepasan bicara. Dong Hae mendehem dan mengalihkan wajahnya dari So Eun. “K-Kalau mawar ini? Warna apa ini? Peach?”

Sementara So Eun juga mulai menyadari bahwa suasana kembali aneh antara keduanya. Sejujurnya ini sedikit membuatnya tak nyaman karena ini yang ia takutkan sejak awal kalau saja ada laki-laki lain yang mendekatinya. Dia masih istri Si Won walau bagaimanapun, lagipula.. setelah apa yang terjadi ia tak yakin bisa membuka hatinya semudah itu pada laki-laki lagi.

“P-Peach menyampaikan ucapan apresiasi, kekaguman, simpati, serta rasa terima kasih. Ini juga melambangkan kekaguman terhadap seseorang yang dinilai manis..” gumam So Eun kini dengan nada yang serius. Tempo pembicaraannya kini berubah lebih cepat. “Kalau mawar putih menggambarkan cinta sejati. Ada juga yang menyebutkan bahwa mawar putih melambangkan keluguan, kesucian, rasa menyenangkan, dan lainnya…”

“Mawar hijau melambangkan ketenangan. Sementara mawar kuning melambangkan sebuah awal baru, sebuah kegembiraan dan persahabatan. Namun mawar kuning bisa juga berarti kecemburuan, ketidaksetiaan atau perselingkuhan, mengungkapkan rasa maaf dan terima kasih..”

Dong Hae tak bisa terlalu menyimak So Eun dan kini beralih menatap wajah So Eun. Ia mulai merasakan perubahan suasana yang lebih aneh setelah ucapannya tadi. Ia sadar, kini So Eun berusaha untuk tidak memberikan celah padanya.

“Kalau mawar merah muda mengungkapkan rasa sayang, rasa kagum, kebahagiaan cinta, rasa terima kasih, dan juga sebuah pesan seperti, ‘percayalah padaku’. Sementara itu mawar merah melambangkan—“

“Cinta, kecantikan, rasa hormat, dan terima kasih..” Dong Hae tiba-tiba menyela ucapan So Eun. Dimana itu berhasil membuat So Eun berhenti menerangkan, untuk pertama kali ia menatap Dong Hae lagi setelah menghindarinya dalam beberapa menit. Saat ia bertemu sepasang mata itu, mata itu menatapnya serius dan dalam. “Juga sebuah keberanian..” sambung Dong Hae sebelum mengambil alih semua bunga mawar di tangan So Eun, termasuk bunga mawar merah.

Dong Hae menarik nafas, namun ia terlihat masih menatap dalam mata So Eun. Dimana itu memaksa So Eun untuk tenggelam menatap mata itu. “Oleh sebab itu aku kemari hari ini, aku mencoba sedikit berani untuk datang padamu untuk mengungkapkan perasaan aneh yang kurasakan sejak mengenalmu..” Dong Hae menyerahkan bunga mawar merah itu pada So Eun. “Untuk mengundangmu masuk ke dalam hidupku..”

So Eun terlihat terkejut, sinar matanya berubah. “T-Tuan—“

“Aku mengagumi sejak pertama melihatmu, nona-Kim So Eun. Maukah anda mencobanya untuk hidup bersamaku. Aku berjanji, aku akan berusaha membahagiakanmu..” ujar Dong Hae lagi dengan nada yang pelan dan bersungguh-sungguh. Sorot matanya yang dalam juga terus menunjukkan keseriusan.

Sementara itu So Eun terlihat masih belum bisa mengatasi keterkejutannya. Namun disaat bersamaan juga perasaan lain jga menguasai dirinya. Sebuah perasaan bersalah tentang perasaan yang tak seharusnya muncul di hati Dong Hae untuknya – setidaknya tidak saat ini.

“A-Aku berterima kasih atas rasa yang anda munculkan dalam diri anda terhadapku, tuan. Tapi m-maafkan aku, aku tak bisa..”dengan perlahan So Eun menyuarakan apa yang difikirkannya saat ini. Dimana lagi-lagi rasa bersalah kembali muncul di hatinya melihat ekspresi kecewa Dong Hae.

“M-Mengapa nona? A-Anda tak perlu terburu-buru menjawabnya sekarang. S-Saya bisa menungg—“

“Semuanya tidak semudah itu, tuan..” So Eun menghirup nafasnya lebih panjang dan berusaha menguatkan diri menatap mata itu kembali. “T-Tapi karena.. saya bukanlah wanita yang hidup sendiri. Saya mempunyai seorang suami.. walaupun kami dalam masa perceraian..”

Giliran Dong Hae yang terlihat terkejut kini. Ia menatap So Eun dengan apa yang baru saja disampaikannya. “A-Apa?”

So Eun memaksakan sebuah senyuman pada Dong Hae. Sungguh ia merasa tak enak pada pemuda itu. “Saya minta maaf karena tidak berhati-hati sebelumnya sehingga membuat anda merasakan hal yang tidak seharusnya begini. Saya seharusnya memberi batasan yang pantas terhadap pelanggan jadi hal ini tak seharusnya terjadi..” ucap So Eun menyesal. Sekali lagi ia menatap mata Dong Hae yang terlihat masih tak percaya itu. “Sekali lagi saya minta maaf..”Ujarnya bersungguh-sungguh pada pemuda itu.

Si Won serasa membeku. Kali ini untuk pertama kalinya ia menunggu seseorang dalam waktu yang cukup lama baginya – 30 menit. Saat ini pemuda tampan itu tampak tengah memakir mobil mewahnya di depan sebuah apartement sederhana yang terletak tak cukup jauh dari kantornya. Tentu saja alamat itu adalah tempat tinggal baru So Eun, sebuah tempat yang baru saja diketahuinya dari bawahannya.

Mungkin baru lebih beberapa menit dari waktu tiga puluh menit, namun pemuda itu terlihat sudah sangat bosan. Pemuda tampan itu kini terlihat sudah sedikit hilang kesabarannya akibat menunggu.

“Apa yang dilakukannya sampai jam segini belum juga pulang? Apa dia punya jadwal kencan juga dengan salah satu pelanggannya? Siapa? Lee Dong Hae?” Pemuda itu mengomel sinis sambil lagi-lagi memeriksa pergelangan tangannya. Wajahnya terlihat semakin kesal melihat pergerakkan jarum yang terasa begitu lama. “Empat puluh dua menit, rekor terbaikku dalam menunggu seseorang. Dan aku melakukannya karena Kim So Eun? Aku pasti sudah gila, sebaiknya aku pulang saja..” putusnya kesal sambil berniat membalik badan dan kembali masuk ke dalam mobilnya. Namun baru hendak meraih gagang pintu tiba-tiba ia melihat sebuah taksi yang berhenti di depan apartment.

Dan seperti sebuah keberuntungan acak, ternyata orang yang keluar dari kendaraan itu adalah orang yang ditunggunya. Wanita yang awal turun dari taksi tertunduk karena kelelahan itu tampak langsung terpaku begitu menyadari siapa yang saat ini berdiri di depannya. Sementara itu Si Won tampak berdiri tenang di tempatnya sambil membalas tatapan So Eun.

“Jadi jam segini jam pulang seorang penjual bunga?” Si Won menyindir sambil melirik jam tangannya. “Bahkan direktur sepertiku pun kalah..”

So Eun menghela nafasnya dengan berat. Sungguh ini bukan waktu yang tepat untuk seperti ini, hari ini fikirannya dipenuhi oleh banyak masalah yang membuat kepalanya nyaris meledak. Sekarang ia yakin Choi Si Won datang hanya untuk menambahnya.

“Aku kelelahan..” hanya itu yang mampu So Eun gumamkan dengan rendah, berharap Si Won akan faham maksudnya. Walau sepertinya itu juga terlalu berlebihan untuk berharap.

“Kau fikir aku tidak kelelahan? Kepalaku bahkan hampir meledak karena memikirkan tender triliunan won. Bagaimana mungkin kau berfikir usaha toko bunga sederhanamu mampu melebihi tingkat kelelahan yang kurasakan?”

“Aku tak punya waktu..” So Eun lagi-lagi bergumam tanpa menatap Si Won. “Apalagi untuk mendengarkanmu membanggakan kekayaanmu..”

Mungkin karena memang Si Won kesal karena menunggu, atau mungkin karena begitulah dirinya sebenarnya yang selalu menjunjung tinggi harga dirinya, sehingga itu sebabnya ia seperti melupakan tujuan awalnya datang kemari. Seperti saat ini dimana pemuda itu tampak menatap So Eun semakin kesal. “Wah, hanya beberapa minggu kau pergi kau benar-benar mengalami perubahan? Kemana perginya Kim So Eun yang lemah lembut kesayangan orang tuaku? Ini sungguh berbeda..” ujarnya penuh nada sindiran.

So Eun menghela nafas, mulai merasa lelah. Dalam hati kini seperti semua kemarahan yang disimpannya terhadap Si Won sudah memenuhi jantungnya. Bagian itu serasa ingin meledak entah mengapa. Tapi tidak.. ia tahu ia harus menahannya? Dia bukan orang yang akan bersikap emosi seperti itu. Itu bukan dirinya. “Kalau tidak ada hal penting yang ingin kau katakan maka aku akan masuk. Pulanglah, sangat dingin disini..” ujar So Eun tetap mempertahankan nada bicaranya yang rendah. Setelah mengatakannya ia berniat berjalan melewati Si Won, namun terhenti tak lama oleh seruan Si Won.

“Jadi itu alasanmu mendirikan toko bunga disana? Di sekitar kawasan perkantoran dekat perusahaanku?”

“Apa maksudnya?” So Eun melirik ke belakang kembali menatap Si Won.

“Apalagi? Tentu saja untuk mendapatkan pemuda-pemuda kaya dan menarik perhatian mereka, begitukan?”

Sinar mata So Eun berubah begitu geram, dimana terlihat seimbang dengan ekspresinya yang terlihat terluka. Dimana itu sendiri menjadi bel bagi Si Won menyadari bahwa mungkin ia sudah sangat keterlaluan untuk yang ini.

“Itu saja keinginanmu menemukanku disini?” tanya So Eun tak lama, suaranya bergetar dari biasanya. Ajaibnya, ucapan seperti itulah yang benar-benar sampai membuat terperangah setelah berbulan lamanya ia berbicara dengan Si Won. Eskpresi pemuda itu tampak sedikit berubah kini.

“Maksudk—“

“Apapun yang kulakukan, itu terserah diriku. Kau bukannya tidak peduli? Kita bahkan tak pernah benar-benar menjadi suami istri seperti yang sering kau tekankan padaku. Lalu kenapa kau tiba-tiba meresahkan ini?” So Eun sedikit lepas kendali di titik ini, dimana hal itu sepertinya hal yang cukup ampuh untuk menggugah seorang Choi Si Won. Ini cukup ajaib, karena tidak biasanya ini bisa membuat Choi Si Won terdiam.

“K-Kau…? “

“Tandatangani saja surat cerainya, jangan terus mempersulitnya seperti ini..” Mata itu membiaskan Kristal kini, dimana itu sendiri akhirnya menyadarkan So Eun kembali dari dirinya yang tiba-tiba sedikit lepas kendali. So Eun mengalihkan pandangannya dari Si Won sebelum air mata itu jatuh. “Sekarang pergilah. Aku hanya akan mau menemuimu di pengadilan..” ujarnya tak lama sambil memunggungi Choi Si Won. Tak lama setelahnya ia melanjutkan langkahnya masuk ke gedung apartement sederhananya. Meninggalkan Choi Si Won yang menatap punggungnya ia ia menghilang.

“H-Huh?” Si Won tersadar setelah beberapa menit, ia menghembuskan nafasnya dan mengalihkan pandangannya menuju arah lain. Tapi terlalu gusar, nyatanya ia menatap kembali ke arah gedung apartement tadi tempat dimana So Eun menghilang. “Jadi begitu. Dia benar-benar menginginkan perceraian ini, begitu? Apa? Bukan urusanku? Memang aku peduli? Mau dia menikah dengan Lee Dong Hae atau mafia paling berbahaya di dunia ini memangnya aku peduli? Aku tak akan pernah peduli!” serunya kesal sambil menuju mobilnya. Namun hanya beberapa langkah ia berbalik kembali dan menatap deretan jendela yang ia tak tahu mana yang merupakan milik So Eun itu. Si Won berteriak,

“AKU! AKU SAMA SEKALI TIDAK PEDULI! KAU BENAR-BENAR MAU BERCERAI! TENTU, KITA AKAN BERCERAI KALAU BISA BESOK PAGI. SUDAH BAIK AKU DATANG KESINI MENCOBA MEMBICARAKAN KEMUNGKINAN KITA BERBAIKKAN NAMUN KAU MALAH SEPERTI INI. PERGI SAJA SANA MENIKAH DENGAN SI BERENGSEK LEE DONG HAE!!!” teriaknya keras tak memperdulikan siapapun yang mendengarnya. Setelah puas pemuda itu kembali masuk ke dalam mobil mewahnya dan melaju seperti orang kesetanan.

Oh, you always had to be right
But now you’ve lost the only thing that ever made you feel alive

Setelah hari itu, Si Won sepertinya benar-benar bertekad untuk tidak lagi sekalipun menentang kepribadiannya yang sebenarnya. Pemuda itu kini kembali sibuk memikirkan tentang tender yang sedang diincarnya sementara urusan percerainnya ia menyerahkan semuanya pada Hyuk Jae. Ia telah menandatangi surat tuntutan itu malam itu juga waktu ia pulang dari tempat So Eun. Ia sepertinya sangat kesal malam itu, walau sebenarnyakita tahu bahwa So Eun lah yang harusnya meledak karena pertemuan itu.

Sementara So Eun sendiri juga memilih melanjutkan hidupnya. Pertemuan malam itu juga menjadi keyakinan sendiri baginya bahwa ia melakukan hal yang benar dengan bercerai dengan Si Won. Kini ia hanya perlu mengikuti perkembangannya yang saat ini ditangani oleh pengacaranya, Jong Woon.

Berbicara tentang hari itu, sebenarnya banyak hal yang cukup berubah sejak hari itu. Dong Hae juga tak pernah kembali lagi setelah So Eun mengatakan statusnya kepada pemuda itu waktu itu. Sepertinya pemuda itu tidak dapat menerima itu dan menyerah terhadap So Eun, sesuatu yang menurut So Eun juga terbaik untuk pemuda yang pernah jadi pelanggan setianya itu.

Namun ternyata tidak sepenuhnya begitu. Karena tiba-tiba suatu malam ketika So Eun baru akan menutup tokonya sebuah mobil yang familiar berhenti disana. Tak lama Lee Dong Hae keluar, lengkap dengan setelan rapi ala direktur mudanya. Pemuda itu dengan yakin tampak berjalan menuju So Eun yang terlihat masih belum yakin dengan kedatangan pemuda itu lagi. Ia ketika pemuda itu berdiri tepat di depannya ia mulai meyakininya.

“Baiklah. Aku akan mencobanya.” Pemuda itu bersuara tak lama, sementara matanya terus menatap dalam So Eun. “Kau dalam proses perceraianmu bukan? Baik, itu berarti tak lama lagi kau kembali menjadi wanita yang tanpa ikatan. Aku rasa itu bukan masalah bagiku..”

“D-Dong Hae-ssi.. ?”

“Aku ini adalah orang yang sibuk. Aku bahkan bisa ke luar negeri demi urusan bisnis tiga sampai lima kali dalam seminggu. Tapi, ketika aku mendapatkan waktu luangku aku datang kesini hanya untuk mendengarkan ceritamu soal tanaman-tanaman ini. Kau tahu berapa kali aku datang kesini? 11 kali, jumlah yang cukup besar untuk orang yang baru kukenal lebih dari sebulan. Lalu kau tahu berapa jenis bunga dengan warnanya yang telah aku tanyakan padamu? 78 bunga dengan jenis dan warna yang berbeda. Bagiku bahkan itu terdengar bodoh, tapi itu adalah caraku untuk mengatakan bahwa aku ingin masuk perlahan dalam hidupmu..” Dong Hae mengatakannya dengan bersungguh-sungguh dan serius. Sementara itu So Eun hanya menatapnya tanpa sempat mengatakan apapun.

“Jadi dari 11 kali itu, dari 78 bunga-bunga itu, tak bisakah kau berikan setidaknya satu hari untukku? Satu hari saja, aku ingin kau juga mencoba. Jika kau masih juga ragu, atau jika dalam sehari itu aku tak berhasil membujukmu. Maka setelah itu aku juga tidak akan memaksa. Kita bisa akhiri semua ini dan menjalani hidup masing-masing..” Dong Hae kian menatap So Eun, dimana So Eun juga seperti terhipnotis oleh sorot mata penuh ketulusan itu.

“Bisakah?”

Seminggu setelahnya kaki Si Won terlihat berhenti di depan sebuah hotel mewah yang tampak juga dipenuhi oleh para tamu-tamu yang berkelas. Pemuda tampan itu tampak memberikan tatapan datar tak tertariknya ke seisi ruangan, sebelum akhirnya masuk dan menghampiri rombongan tuan rumah. Disaat itulah senyuman ramah mulai terlihat di wajahnya, senyuman yang jelas menunjukkan basa-basi semata.

“Direktur-Choi? Anda datang?!! Sebuah seruan yang ditujukan kepadanya membuat ia menoleh. Tak lama seorang laki-laki paruh baya tampak berjalan ke arahnya. Si Won tampak mulai memasang senyuman basa-basinya.

“Tentu saja, Komisaris. Perusahaan kami adalah pihak yang paling bersemangat dengan proyek ini. Bagaimana mungkin kami tidak datang..” ujar Si Won berbasa-basi sambil balas berjabat tangan dengan target partner barunya itu. Keduanya tampak larut dalam pembicaraan bisnis dalam beberapa menit.

“Tapi kenapa anda datang sendirian? Rata-rata semua orang disini datang membawa pasangan mereka. Tapi kenapa anda tak membawa siapapun?” Komisaris-Jung bertanya setelah beberapa saat mereka sempat kehabisan topik tentang bisnis. Si Won terlihat tak cukup siap dengan pertanyaan itu, dimana ia hanya mampu menjawabnya dengan senyuman pahit. “Anda pasti masih belum juga menemukan yang cocok bukan? Aah, anda sangat terkenal dengan kehidupan anda yang seperti dua sisi logam. Siang adalah direktur, sementara malamnya adalah raja pesta. Beberapa bulan yang lalu aku sempat mendengar gosip kalau anda menikah diam-diam namun sudah kusangka kalau itu hanya omong kosong belaka hahaha..” laki-laki itu tertawa cukup keras sementara Si Won lagi-lagi hanya terlihat tersenyum pahit. Dari dulu ia selalu menyembunyikan identitasnya, namun belakangan ini setelah sebuah keajaiban pandangannya berubah tak terjelaskan. Dia merasa ada yang mengganjal di dadanya setiap kali orang menanyakan statusnya, walau ia berusaha untuk tidak memperdulikannya.

“Tapi anda sudah kalah dari direktur-Lee Dong Hae..” Komisaris-Jung kembali berbicara yang membuat Si Won kembali menoleh heran padanya. Nama Lee Dong Hae saja sudah cukup membuat darahnya mendidih, apalagi diikuti dengan kata ‘kalah’ di belakangnya. Itu bukan kalimat yang baik di telinga Si Won. “Dia hari ini datang membawa pasangan. Sepertinya ia telah menemukan wanita yang tepat untuknya. Hum.. disana! Sejak datang dan menyapa mereka selalu berada disudut sana dan terlihat tak mau memisahkan diri sama sekali. Kukira mereka benar-benar serius..”

Si Won memandang arah yang ditunjuk oleh Komisaris-Jung dan ia langsung menyesal setelahnya. Disana dilihatnya Dong Hae memang dengan seorang wanita, namun wanita itu tak lain adalah wanita yang saat ini masih berstatus sebagai istrinya. Seorang wanita yang untuk pertama kalinya terlihat begitu anggun dengan sebuah riasan yang seakan membawa dejavu So Eun di hari pernikahan mereka. Hal itu pun membuat jantungnya berdenyut dalam taraf yang samar-samar menyakitkan.

Sepertinya benar ucapan Komisaris-Jung bahwa mereka terlihat benar-benar serius. Hal itu bisa dilihat dari betapa dekatnya keduanya yang terlihat tengah membicarakan sesuatu. Dong Hae terlihat begitu memperhatikannya, sementara So Eun terlihat nyaman bersama pemuda itu. Hal yang malah memberikan efek tidak nyaman pada Si Won sehingga ia reflek membalikkan badannya.

“Direktur-Choi, anda tak apa-apa?” Komisaris-Jung terlihat keheranan dengan tingkah tak biasa Si Won. Namun Si Won terlihat tak terlalu mendengarnya karena ada hal lain yang telah merebut seluruh dunianya saat ini. Si Won tak tahu, namun ia tiba-tiba merasa ingin menangis begitu saja. Dia tak rela, tiba-tiba ia menemukan titik dimana ia menyadarinya. Panggil dia bodoh, karena setelah cukup lama ia akhirnya baru benar-benar merasakannya dalam beberapa hari ini. Saat dimana kecantikan, keanggunan, ataupun pesona So Eun yang terkenal tak mampu menembus hatinya yang seperti baja namun sebuah rasa bersalah oleh kenangannya dimasa kecil tiba-tiba mendobrak hancur semuanya. Terdengar ini memang cinta yang berawal salah, namun sungguh, hal itu seperti tamparan yang membuka lebar matanya tentang betapa bodohnya ia selama ini.

“K-Komisaris, s-saya ke toilet dulu… Saya akan masuk lagi ketika puncak acaranya dimulai..” tanpa menoleh lagi Si Won melangkah meninggalkan laki-laki tua yang menatapnya heran itu. Tentu, itu bukan Choi Si Won si gila harta yang biasanya melakukan hal seperti itu pada buruannya. Biasanya pemuda itu malah akan menjilat untuk mendapatkan keuntungannya, namun ada apa dengan hari ini?

Apapun itu terlihat Si Won tak lagi menemukannya dalam otaknya. Nyatanya kini hal lain memenuhi fikirannya. Kenangan tak layak dikenangnya ketika bersama So Eun, kelembutan dan keindahan paras istrinya itu, bahkan setiap pujian Ki Bum maupun orang-orang lainnya malah bak kaset rusak bolak-balik difikirannya. Membuat ia sudah seperti tak sadar karena sempat menabrak beberapa orang yang dilewatinya.

“Lakukan saja sesukamu, Choi Si Won. Aku hanya berharap semoga kau tak menyesal..”

Ucapan Ki Bum itu tiba-tiba menghentikan langkahnya. Setelah itu kepalanya terasa benar-benar pecah, ia mulai merasakan bahwa sekitarnya kabur bersama suara hiruk pikuk pesta yang perlahan menghilang, tak lama malah suara pekikan panjang yang terdengar. Si Won mengumpulkan dirinya kembali. Dan ketika perlahan semuanya mulai kembali seperti semula ia menemukan dirinya berbalik dan kembali ke arah yang tadi. Melewati semua orang yang menatapnya sedikit janggal, melewati Komisaris-Jung yang bahkan tak lepas mengawasinya tindakan anehnya daritadi, melewati semuanya dan berjalan ke arah dua orang yang tadi ia coba untuk hindari. Dimana ia berhasil mendapatkan perhatian keduanya yang terlihat juga heran dan terkejut dengan kedatangannya.

Hanya butuh waktu detik bagi Si Won untuk membuat pesta hening melihat tindak tanduk tak biasanya, seperti hanya beberapa detik ia sudah berada di hadapan kedua orang itu. Si Won membagi pandangan tajamnya pada Dong Hae yang terlihat masih tak tahu apa yang diinginkan Si Won, sebelum beralih pada So Eun yang juga kebingungan ditengah rasa terkejutnya atas kehadiran suaminya itu. Si Won meraih pergelangan tangan So Eun yang berada paling dekat dengan sisi dimana Dong Hae berada, menggenggamnya erat.

“Dia istriku, kau tak seharusnya membawanya ke pesta.” Si Won bersuara datar pada Dong Hae, menimbulkan kekacauan yang selanjutnya. Semua orang disana yang tentu saja mengenalnya tampak menoleh tak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar. Sementara itu Dong Hae dan So Eun juga tak bisa menghindari diri dari kekacauan tiba-tiba di pesta penting ini.

“A-Apa maksudmu?” Dong Hae mengeluarkan suaranya yang pertama. Terlihat masih tak memahami ucapan Si Won itu.

“Jangan pura-pura tidak tahu. Aku tahu apa tujuanmu dari awal dengan semua ini..” Si Won sudah sepenuhnya sadar dengan apa yang ia lakukan, namun ia terlihat tak mau menghentikan hal yang ia faham betul adalah bentuk kebodohan akan reputasinya sendiri. Namun rasanya ia tak bisa lebih memperdulikan hal itu daripada perasaan meledak di hatinya saat ini. “Kau tahu dia istriku bukan? Kau mencoba memperalatnya untuk menekanku?”

Kehebohan selanjutnya tercipta, dimana hal itu juga membuat So Eun terkejut dan segera beralih menatap Dong Hae. Ia berharap bahwa hal ini hanya bentuk kegilaan suaminya lagi, namun ekspresi Dong Hae yang tiba-tiba menjadi gugup seakan memberikan jawaban yang berbeda.

“Lihat. Kau mengakuinya bukan? Kau benar-benar lebih licik daripada aku, untuk pertama kalinya kuakui itu setelah berusaha menepis fakta itu.” Si Won menatap Dong Hae tajam untuk yang terakhir kalinya. Sambil mempererat pegangan So Eun di tangannya, ia berniat untuk menyudahi pembicaraan itu dan meninggalkan tempat itu. Namun giliran tangannya yang dicekal Dong Hae ketika ia akan membawa So Eun pergi.

“Awalnya.” Dong Hae kembali bersuara, kali ini memberanikan dirinya menatap keduanya kembali. “Tapi semuanya berubah begitu saja ditengah jalan. Kini aku serius ingin memilikinya..” Dong Hae membagi tatapan tajamnya yang melembut ketika mendarat kembali pada caramel indah So Eun. “Kini aku benar-benar mencintainya..”

Si Won memberikan senyuman sinis bercampur kesalnya pada Dong Hae. Emosinya kembali naik tak terkontrol. “Tapi dia—“

“Istrimu. Namun kalian dalam proses cerai karena selama ini kau tak pernah memperlakukannya sebagaimana suami yang sebenarnya?” Dong Hae memotong ucapannya. Kembali melayangkan pandangan tajamnya pada pemuda di depannya itu yang juga menatapnya tak kalah mematikan. “Tak lama lagi kau bukan siapa-siapany—“

“—Bajingan!”

Kejutan selanjutnya, seakan pesta yang seharusnya meriah ini kini telah berganti dengan arena pertunjukkan yang menyajikan alur yang membuat jantung tak berhenti merasakan keterkejutan. Kali ini dua direktur muda yang selama ini dikenal berkarisma dan memiliki reputasi yang baik tiba-tiba saja hancur dalam hitungan menit. Keduanya kini tak lebih seperti biang onar yang sering mereka temukan di tengah jalan yang akrab dengan kekerasan. Seperti saat ini dimana keduanya saling bergulingan di lantai sambil melayangkan serangan dan pukulan terhadap satu sama lain. Keadaan menjadi tak terkendali begitu saja.

“H-Hentikan mereka!” suara Komisaris-Jung tiba-tiba terdengar ditengah suara pukulan dan serapahan dua pemuda itu. Keadaan kian lebih panik kini ketika beberapa penjaga mulai mendekati pusat kericuhan.

“Hentikan..” Suara So Eun terdengar parau diantara kebisingan di sekitarnya. Gadis itu kini mencobanya lebih keras. “KUBILANG HENTIKAN!!” teriaknya yang kali ini berhasil memecah suasana yang tak terkendali. Semua mata kini beralih padanya, dimana salah satunya adalah Si Won yang saat ini tengah berada di atas Dong Hae dengan tangan menggantung di udara untuk melancarkan pukulannya yang selanjutnya. Pemuda ini kini mulai benar-benar sadar dengan apa yang terjadi melihat air mata di wajah itu. “Aku bukan tender yang bisa kalian perebutkan dan kalian mainkan seenak hati. Aku bukan sebuah sarana berbisnis yang bisa kalian akali dengan semua kelicikkan itu..” So Eun mengatakannya dengan lantang walau dengan suaranya yang masih bergetar. Hanya itu, karena untuk selanjutnya gadis itu berlari menebus keramaian dan meninggalkan tempat itu.

“S-So Eun!” Si Won berusaha memanggilnya dan berniat mengikutinya. Namun tak tahu mengapa, ia tiba-tiba menghentikan langkahnya saat ia menyadari bahwa ia tak punya sedikitpun pembelaan untuk menjelaskan semuanya pada So Eun.

It took a while for her to figure out she could run
But when she did, she was long gone, long gone

Sejak kejadian itu untuk beberapa hari So Eun tidak pergi ke toko bunganya. Ia memilih untuk tidak keluar rumah dan mengurung diri dalam rumah karena ia tak mau bertemu Si Won ataupun Dong Hae. Panggilan yang masuk di ponsel ataupun telepon rumahnya pun tidak ia acuhkan, ia memilih untuk tidak menambah beban fikirannya dengan apapun itu dengan hanya mengijinkan Victoria saja yang mengunjunginya.

Hingga di hari ke empat, keadaan memaksanya sedikit menghentikan pertapaannya itu ketika menyadarii bahwa stok makanannya di kulkas telah kosong. Akhirnya dengan sedikit terpaksa ia akhirnya keluar rumah untuk membeli makanan di minimarket terdekat.

Ia cukup kaget ketika ia membuka pintu apartementnya ada ada beberapa kertas berwarna kuning yang menempeli pintu rumahnya. Sepertinya dari Si Won, karena selain Jong Woon dan Victoria hanya dialah yang tahu alamatnya. So Eun meraih salah satu dari kertas-kertas itu dan membacanya.

Ini aku. Ada yang kuingin kukatakan padamu.Aku akan terus datang sampai kau mau menemukanmu. Besok aku datang lagi di jam yang sama…

So Eun menghela nafas datar dan meremas kertas itu. Selanjutnya ia melanjutkan jalannya menuju minimarket tanpa membaca sisa-sisa kertas lainnya yang disana.

Jalanan masih dingin karena saat ini masih musim dingin. Salju-salju tampak berguguran dari langit dan membasahi jalanan. So Eun berjalan di bawah guguran salju itu, terlihat tak memperdulikan sekitarnya lagi ketika ia mencapai tujuannya.

Tanpa membuang waktu So Eun memilih makanan yang akan dibelinya. Ramen, susu, sereal, dan makanan cepat saji lainnya berpindah dengan cepat ke dalam keranjang yang dibawanya. Tiba-tiba ia mengingat bahwa odolnya di rumah juga sudah habis, hal yang membuat ia melongok ke tempat dimana benda itu biasanya terletak. Ia bergerak untuk menjangkaunya, namun tiba-tiba matanya menangkap sebuah bayangan yang tanpa sengaja terpantul di kaca berbentuk cembung yang menggantung di sudut ruangan. So Eun agak membeku.

Choi Si Won, ternyata dia ada disini, dia ada beberapa meter di belakangnya. Tampaknya ia sembunyi-sembunyi mengikutinya kemari tanpa bersuara. Sesuatu yang juga bukan tipikal dirinya, kan? Karena tidak mungkin seorang direktur sukses mau main petak umpet seperti itu.

So Eun berusaha mengendalikan dirinya, berusaha bersikap wajar seakan ia tak tahu apa-apa. Ia melakukannya hingga kakinya melangkah keluar kembali dari tempat itu.

Jalan yang dilaluinya masih sama, begitupun keadaan jalannya yang memutih karena salju dan meninggalkan jejak-jejak sepatu yang dipakainya setiap kali ia menapakinya. Namun ada sesuatu yang berbeda yang So Eun sendiri menyadarinya. Perasaannya. Entah mengapa setelah menyadari bahwa saat ini Si Won mengekorinya diam-diam di belakang membuat sesuatu yang mengganjal dan sejujurnya tak nyaman. Hal yang akhirnya membuat ia menyerah dan menghentikan langkahnya, So Eun berbalik, kali ini mungkin ia akan memberikan waktu untuk dirinya tersakiti lagi sebelum benar-benar meninggalkan semuanya.

Awalnya So Eun menyangka adegan yang dipilihnya ini akan berakhir sama dengan drama-drama yang pernah ditontonnya, dimana laki-laki yang mengikutinya akan langsung sembunyi target yang diikutinya berbalik seperti ini. Namun tidak untuk Choi Si Won, ya… dia adalah Choi Si Won tokoh pria utama yang tak sama dengan tokoh pria kebanyakan. Karena nyatanya pemuda itu tampak tak berdiri beberapa meter darinya dan menatapnya dengan tatapan terkenalnya, tatapan setengah datar yang bahkan mungkin peramal terhebatpun tak akan mampu membacanya.

“Kau akhirnya berhenti menghindariku..” laki-laki itu bergumam, suaranya terdengar sedikit menggigil menahan kedinginan. Tunggu, apa sebenarnya tadi ia berdiri cukup lama sebelum mengikuti So Eun kesini? Ya, seingatnya tadi So Eun tak terlalu memperhatikan sekitarnya ketika ia meninggalkan gedung apartement itu kemari.

“Apa yang kau inginkan? Aku tak ingin membicarakan apapun denganmu..”

Si Won tak menyahut, ia menghela nafas pelan sambil berjalan mendekati So Eun. Ia berdiri beberapa langkah di depannya sambil menunjukkan sebuah bungkusan di tangannya. Menunjukkannya pada So Eun. “Lihat. Aku sebenarnya sedang demam dan flu. Lima hari sejak malam itu aku terus datang kemari dan bertahan berjam-jam menunggumu untuk menemuiku tapi kau tak keluar. Setidaknya, sebelum aku tak tahan lagi dan collaps tak bisakah kau dengarkan aku sebentar saja?” Si Won bertanya dengan nada seriusnya. Waaah, dia ternyata masih sangat menyebalkan seperti dirinya yang sebenarnya. So Eun fikir setelah semua yang terjadi semalam ia berfikir setidaknya pria ini berubah sedikit saja. Namun sepertinya itu hanya khayalannya. “Ada dua rumah sakit yang seharusnya kini kudatangi. Rumah sakit umum dan rumah sakit jiwa. Sebelum aku masuk ke salah satu dari mereka atau dua-duanya tak bisakah kukatakan apa maksudku menunggumu disana sebentar saja?”

So Eun menghela nafas, ia menyerah, ya… tentu, ia akan selalu menyerah dengan dirinya sendiri kalau mengenai laki-laki yang masih suaminya ini. Kenapa? Karena So Eun tahu bahwa ia mencintainya. Fakta yang tak terelakkan betapapun ia mencoba.

“Kita bicara di rumah. Diluar dingin.” So Eun bergumam sambil berbalik dan berjalan mendahuluinya. Tak lama langkah Si Won terdengar menyusulnya.

So Eun menahan langkahnya sebelum menghampiri Si Won yang saat ini bersantai di ruang tengah apartmentnya. Pemuda itu terlihat mempelajari seisi tempat yang baru ia masuki itu, mengalihkan pandangannya ke segala penjuru. Suara batuk-batuk terdengar cukup sering memenuhi ruangan kecil itu, menandakan bahwa ia tak berdusta mengenai ucapannya.

So Eun menghampiri laki-laki itu dan meletakkan minuman hangat tadi di depannya. Secepatnya ia juga meraih bungkusan medis yang terletak di tas meja, terlihat tekun mengurus suami yang saat ini tengah ia tuntut perceraian. Si Won tampak menatap setiap gerakkan wanita di depannya itu.

“Aku merindukan ini..” Si Won bergumam sambil tertawa miris. “Atau haruskah kuakui kalau aku membutuhkannya?”

“Minumlah. Setidaknya kalau dirawat dengan baik kau tak perlu ke rumah sakit.” So Eun mengacuhkannya dan meluruskan duduknya. Menyentuh cangkir minumannya sendiri tanpa melirik pada Si Won.

“Rumah sakit umum, tapi bagaimana dengan rumah sakit jiwanya?”

So Eun menggerakkan bola matanya melirik pemuda itu. Membuat kedua mata mereka bertemu. “Kenapa kau harus ke rumah sakit jiwa?”

“Proyekku gagal. Aku rugi puluhan miliar..”

So Eun menghela nafas bosan dan tanpa sadar memutar bola matanya. Ia memilih menyesap minumannya.

“Aku juga mungkin akan stress kalau kehilangan istri yang selama ini aku sia-siakan..”

So Eun menghentikan minumnya sedikit kasar, nyaris membuatnya tersedak. Ia kini berganti menatap pemuda yang bahkan ekspresinya tak berubah walau mungkin baru saja mengatakan ucapan yang cukup tabu dalam hidupnya.

“Apa ini strategi selanjutnya? Apa orang tuamu mengancam menarik perusahaanmu lagi kalau kau menceraikanku?” So Eun juga mengatakan hal yang cukup tabu keluar dari mulutnya yang biasanya berututur kata lembut. Tapi seperti Si Won ia sepertinya tak memikirkan hal itu saat ini.

“Tidak. Walau masih dipegang oleh grup yang dipimpin oleh ayahku tapi perusahaan itu saat ini adalah milikku. Bercerai atau tidaknya kita maka itu tak akan mempengaruhi apapun.”

“Lalu kenapa?”

“Karena kurasa aku mulai mencintaimu..”

So Eun menatap Si Won tanpa reaksi dalam beberapa detik. Namun tak lama ia meletakkan cangkirnya kembali ke atas meja. “Apalagi ini? Taktik baru? Apa Lee Dong Hae pihak yang menang tendernya lalu kau mulai menggunakanku untuk mengganggunya?” So Eun kembali lebih menaikkan nadanya. Si Won tersenyum miris dan menggeleng.

“Kenapa kau bisa mudah mempercayai ucapan Lee Dong Hae yang baru sekali kau dengar tapi kau selalu meragukan ucapanku?”

“Itu karena—“

“Aku tak pernah membohongimu. Memang kuakui aku sering berlaku tidak menyenangkan padamu tapi aku tidak pernah menggunakan sedikit kebohonganpun untuk hal itu. Sejak awal ketika pertunangan, aku juga telah mengatakan semuanya tentang kenyataan bahwa aku menerimanya demi perusaanku. Memang mendengar bajingan namun… setidaknya aku tak pernah berbohong sekalipun padamu. Termasuk ucapanku saat ini.” Jelas Si Won panjang. So Eun terus menatapnya.

“Karena kesombonganmu itu, Choi Si Won. Kau bilang kau mulai mencintaiku, namun bukan begitu cara orang normal mengucapkan cinta. Tak peduli apapun kedudukanmu kau tak bisa terus dengan kesombonganmu itu ketika mengatakannya. Siapa yang tidak ragu, karena nyatanya rasa cintamu tak akan pernah lebih besar dari kearogananmu itu..” So Eun menitikkan air matanya tanpa sadar. Namun dengan cepat segera ia singkirkan. “Sudahlah kita akhiri saja. Kurasa memang lebih baik kalau kita menjalani hidup kita yang sangat berbeda ini sendiri-sendiri. “ So Eun menyudahi ucapannya dan bangkit dari tempat duduknya, berniat menuju pintu demi membukakannya untuk Si Won. Namun baru beberapa langkah Si Won menahan tangannya, sebelum pada akhirnya Si Won melakukan satu gerakan terakhir yang tak pernah So Eun duga.

“Lalu bagaimana caranya? Begini? Apa begini? Apa kalau aku melakukan hal seperti ini maka kau akan percaya kalau aku bersungguh-sungguh?” So Eun menatap tak percaya pada Si Won yang kali ini bersimpuh di bawah kakinya. “Sekali saja, hanya benar-benar sekali lagi. Aku berjanji kali ini semuanya akan kuperbaiki. Kalau dalam waktu itu aku kembali menyakitimu, atau sekali saja arogansiku kembali melukaimu maka saat itu aku tak akan pernah lagi menahanmu pergi. Aku baru saja mempunyai perasaan seperti ini dalam hidupku, dan aku baru saja tahu rasa penyesalan tentang kebodohanku dimasa lalu. Tak bisakah kau memberikan kesempatanku satu kali lagi untuk memperbaikinya. Aku berjanji, kali ini aku tak akan mengecewakanmu lagi..” ujar Si Won dengan penuh keseriusan menengadah menatap mata So Eun. Matanya tampak sedikit memerah seperti menahan air mata, membuktikan keseriusannya.

“Kumohon So Eun… kumohon…”

So Eun sendiri tak bisa menahan air matanya begitu menatap mata yang terlihat lemah untuk pertama kali itu. Tapi air matanya itu juga mengalir tanpa sadar karena ia tersentuh dengan ucapan-ucapan itu. So Eun akhirnya memutuskan untuk ikut menyeimbangkan tubuh mereka, sebelum memeluk tubuh itu untuk pertama kalinya.

“Aku sangat mencintaimu, dan rasanya sangat sakit ketika kau terus mengabaikanku. Kalau kuberikan satu lagi kesempatan apakah kau menjamin bisa mempertanggung jawabkannya? Hatiku sudah retak dengan semua yang pernah kau lakukan untuk menghancurkannya, kalau sekali ia terpukul kuyakin dia tak akan bertahan dan akan hancur sama sekali. Apa kau bisa menjaganya? Bisakah kupercayakan dia kepadamu? Itu yang membuatku ragu..”

Si Won menggerakkan tangannya untuk balas memeluk So Eun, memeluknya semakin erat. “Aku berjanji. Aku berjanji. Kali ini sungguh… kau tak akan kusakiti.. kumohon percayakan padaku..”

Kedua orang itu terlarut, dalam keharuan dan gejolak di jiwa mereka.

Satu jam selanjutnya, keduanya tampak duduk berdampingan di sofa, berbeda dengan posisi mereka yang kita lihat sebelumnya. Suasanapun berbeda, dilihat dari ekspresi keduanya yang lebih ringan bahkan terkesan bahagia, serta sebuah genggaman erat di salah satu tangan mereka juga sepertinya telah menggambarkan keputusan seperti apa yang So Eun berikan.

“Pulanglah ke rumah. Kita perbaiki semuanya disana..” Si Won bersuara sambil menatap So Eun, suara dan tatapannya melembut dari biasanya. So Eun tersenyum kecil mendengarnya, secara perlahan ia bergerak mendekat untuk menyandarkan kepalanya di bahu Si Won. Terkesan masih cukup canggung, tapi suasana hati keduanya sepertinya membantu mereka untuk menjalani segala kemungkinan yang saat ini mereka inginkan.

“Sebenarnya aku tak suka tinggal di apartment. Aku lebih suka sebuah rumah. Walaupun kecil, tapi aku akan menghiasinya dengan bunga-bunga yang cantik. Aku akan menciptakan sebuah surge kecil disana..”

“Rumah? Itu bukan pilihan yang sulit..” Si Won menggerakkan tangannya untuk mengusap rambut hitam So Eun, juga mengecup rambutnya yang indah dan wangi. “Kalau kita punya anak. Kurasa mereka akan bermain dengan leluasa disana..”

So Eun bergeming karena ucapannya itu, beralih menatap kembali pemuda itu. Sepertinya ia cukup tersentuh dengan ucapan Si Won barusan. Si Won juga menatapnya dalam, kali ini salah satu jemarinya beralih menyentuh pipi So Eun dan mengusapnya, sementara ia semakin memperpendek jarak antara keduanya bersama So Eun yang menutup matanya.

Hmmk..” Sebuah batuk tertahan tiba-tiba terdengar ketika bibir mereka hampir bersentuhan. Keduanya tampak membuka mata kembali dan terkejut, sebelum akhirnya sebuah senyuman geli terlihat di wajah keduanya. “Pertama kita harus memastikan bahwa kau tidak ikut sakit..” Si Won tersenyum sambil beralih mengecup dahi So Eun. Keduanya kemudian lebih menyamankan diri dengan posisi itu. Terlihat begitu bahagia dengan seringanya keduanya menebar senyuman.

“Tapi ngomong-ngomong siapa pemenang tender itu? Apa Lee Dong Hae?” So Eun kembali bersuara dalam beberapa menit.

“Tidak. Namanya dan namaku sama-sama dicoret karena kejadian malam itu..” Si Won sedikit terkekeh mengatakannya, sepertinya ia sendiri malu setiap kali membayangkan apa yang terjadi malam itu. Keduanya kembali saling tersenyum sambil kembali lebih mempererat pelukan mereka. Berusaha menikmati sesuatu yang telah terbuang percuma selama hampir tujuh bulan itu.

“Tapi kau dilarang menemuinya lagi..” bisikkan Si Won kembali terdengar menengahi nuansa.

❤ THE END❤

Akhirnya bisa namatin ceritanya… hfft, aku cukup lega walau aku masih punya dua hutang lagi. Sebetulnya FF2 ini benar-benar akan dijadwalkan tamat bulan februari kemarin sebelum maretnya aku sibuk dengan tugas kuliahku, tapi nyatanya keadaannya tak mengijinkan sehingga beginilah jadinya, delay cukup lama. Aku harap reader semua mengerti.

Untuk dua FF lainnya aku juga akan berusaha menepatinya nanti ketika aku bisa nyuri-nyuri waktu lagi. Sementara untuk FF chapter aku minta maaf dulu karena aku belum tahu bagaimana nasibnya kini. Yang penting aku akan tetap mengusahakan selama aku masih niat menulis FF. Seperti yang pernah aku katakana bahwa menulis bagiku adalah hobi yang levelnya mendekati mendengarkan music atau menonton film untukku, aku melakukannya tidak lain untuk membuat senang diriku sendiri. Tentu saja juga untuk menghibur reader semua, haha. Tapi aku harap ninggalin komen ya untuk semakin memperbesar skala hiburannya, lol.

Baiklah sekian dulu untuk saat ini. Terima kasih karena telah membaca readers. Sampai jumpa ditulisanku yang selanjutnya ^^

46 Comments Add yours

  1. mothisan mengatakan:

    Akhirmya publish juga saen,,,,,
    Kebodohan selalu halnutama bila dalam merasakan jatuh cinta,,
    Acuh tak acuh terhadapmoasangan,,,,
    Bila sudah menjauh mersa kehilangan,,,

  2. sofikyussoshipper mengatakan:

    aku gtw cerita awalnya,kyaknya sso ma simon menikah karena perjodohan,dan siwon tidak pernah mencintai sso,suka ma siwon yg cemburu tapi tidak berani mengakuinya,tpi setelah mendengar omongan kibum,siwon akhirnya sadar kalo selama ini dia menyia nyiakan istri yang sangat mencintainya,dan merebut sso kembali dari hae,awalnya q g menyangka kalo hae mendekati sso agar menang tender yg bersaing dgn siwon,akhirnya hae mengakui hal itu tpi itu awalnya saja karena setelah dia selalu mendekati sso,dia malah mencintai sso,namun sso udah terlanjur sakit hati karena cara tidak langsung sso dijadikan taruhan ma hae dan siwon,tpi untung saja siwon mau menjelaskan semuanya dan sso mw memaafkan siwon,da mereka akhirnya memutuskan untuk kembali bersama,suka ma ffnya thor,maaf ya selama ni q g pernah komen,tpi mulai sekarang q janji bklan komen thor,bwt author PUTRY tetep SEMANGAT ya dan ditunggu karyanya yg lain🙂

  3. doristy mengatakan:

    Uhh~ sweet put bner deh..tp bagian donghaenya terlalu cepat 😓😓

  4. safriyanti mengatakan:

    Akhhr,a da jg lnjutan@,,,,
    Hore,,,,
    Jd trnyt hae awal,a mndkti sso dmi tender to jg,,,
    Trnyta hae tau jg klmhan siwon yg bhkan siwon sndre gk sdar,,,,
    Tp trnyta sso bsa mrbah hae mnctai,a dgn tlus,,,
    Tp gmna mo dkta bg ikan d hati sso hnya da siwon mskipun sso oenni mlai mbka hati@ tok hae,,,
    Wonsso akhr,a bsa jh so sweet,,,
    Gram ma siwon istri smprna gto d abaikan,,,
    Tp smua mslah slsai,,,
    Pling ska ma siwon yh cmburu,,,

  5. dawu azhar mengatakan:

    Kalau boleh jujur ngarepnya sso sama donghae
    Tapi apa boleh buat kan ff yg ini pairing wonsso
    Padahal sempat berpikir kalau sso mulai tersentuh dgn ucapan donghae

    Saeng, kapan ff haesso di buat lagi?
    Udah kangen dgn pairing mereka

  6. anna mengatakan:

    Awww siwon akhrny brtekuk lutut dihdpn soeun,,sngny putri bs mmbt alurny tak trduga sprt ini hal yg tdk mgkn utk siwon&soeun brsm tp trnyt tdk ada yg tdk mgkn,,haha endpartny siwon msh sempet2ny nahan dri ckckck

  7. pipip mengatakan:

    Waaaaaa
    dikiraiin donghae bneran suka dgn soeun dri awl
    eh trnyta ckck donghae awalnya udh ngrncanaiin smuanya buat bls dndm ke siwon
    utng siwon gak trllu bodoh2 bnget ya buat sdar klo donghae mnfaatin soeun
    trnyta ibunya siwon ngotot jdohin wonsso krna alesannya kuat bnget ya
    untng aja soeun masi mau maafin siwon
    dtnggu ff lainnya eon

  8. Puspa Kyukyu mengatakan:

    Akhirnya end juga….

    Kirain si Siwon gak bakal sadar.. Rupanya sadar juga.. Itu pun tunggu Soeun ‘hampir’ jd milik orang lain !?!

    Mmg Siwon bodoh banget disini..
    Kekkekekek.. Mana pake sombong lagi !! Geram sendiri baca part Siwon ke Soeun !!! Hahahahhaha😀😀

    kejadian dipesta paling Puspa suka nih… Feelnya OK !!
    Kejadian Siwon menyembah Soeun,mohon-mohon itu yg paling the best !! Hehehheehhe😀😀

    ditunggu karya-karya lainnya Uni !!
    Keep writing !!😉😉

  9. Elisa mengatakan:

    Uuuuh the end…..pingin lgi….
    Sru mnegangkan tpi mau….terhru wktu siwon nunggu diluar smek skit….
    Fshy oppa sbr ya aku tetp mndukungmu…
    Fighting authur…chayo..chayo
    untk next ff a…

  10. hellolina97 mengatakan:

    ishh… siwon awalnya selalu berpikiran buruk tentang Soeun. sama pengacara soeun pun berpikiran buruk juga😦
    Donghaee😥 kukira awalnya memang udh tertarik sama Soeun, ternyata… cuma untuk tender puluhan milliar won. eemmm…. tp.. kayaknya dia kalah sebelum bertanding:/, tiba2 udh cinta sama soeun. dan… waktu donghae mengungkapkan itu… ROMANTIS… apa mungkin itu hal paling romantis yg soeun rasakan pertama kali ya.
    Akhirnya… Siwon sadar sama perasaannya sendiri. dia udh smart🙂
    cepat sembuh Choi Si Won, biar soeun nggk ikut sakit juga. dan.. semoga Jong Woon bakalan merestui hubungan soeun siwon =D

  11. senrumi mengatakan:

    Endingnya kurang seru entahlah sptnya aq kurang tersentuh dgn usaha won oppa unt mendptkan sso

  12. YhuliSoeun mengatakan:

    Sumpahh baca part2 awal pengen banget nyekik si Siwon… Huahh visual alay knapa kw bgitu menyebalkan >__< … Huahh kalau baca ff putri feel.y slalu dapat buat aku.. D.tggu krya yg lain.. Sbnar.y lg nunggu bgt ni BMG,THE Kims,sama HAML …😀

  13. tesya mengatakan:

    Yeyyy happy ending 🎉 suka bgt adegan siwon sma donghae rebutan. Kasian jg tp donghaenya mending buat aku klo soeun gamau :p feelnya ngena bgt pas siwon perjuangin cintanya. Next ff nya ditunggu kakput🙂

  14. Luthfiangelsso mengatakan:

    Demi apa putri trus lanjutin hobi menulismu karna ff mu jg hiburan buat aku nd baca ff kamu jg jadi hobi buat aku🙂

    Di part awal sempet sebel sama siwon karna sikapnya itu di tenganh” sempet ada rsa nyesek dan gila aku jg ikutan tertipu dg si manis donghae, aisshhhh acak acak rambut haha
    Tapi pas di part” akhir sumpah sweet bgt, sederjana tapi nyentuh🙂
    Tapi adegan batuk itu memgganggu, andai saja siwon gak batuk pasti mereka udah kisseu haha tapi ciuman di kening itu lebih romantis🙂

    Di tunggu slalu ff lainnya semangat^^

  15. andri susilowati mengatakan:

    Akhirnya part end dipost. Thanks author.
    happy ending. Siwon berubah dan so eun kembali. Prok prok prok.
    aku awalny udah gk masalah klo so eun akhirnya pisah sm siwon. Kkk tp setelah tau betapa berjasanya ortu so eun jadi mikir pliss jangan pisah. Hahahha.
    Udah agak curiga sm donghae dr awal, tp yakin juga klo donghae emang juga suka sm so eun. Wkwkwk
    Bagus bgt thorrr suka sm ffnya. Ditunggu karya lainnya. Haha

  16. yehaesso mengatakan:

    akhirnya dipublish juga. tinggal tunggu HAML nih author jgn lama2 ya hehe
    stupid boy, ah siwon beneran stupid nih😀 telat menyadari perasaannya sendiri. padahal klo sama donghae sso udh nyaman bgt dan aku pun setuju haesso bersatu hihi tpi tak apalah sama siwon atau donghae sso tetep beruntung hehe
    author jangan pernah berhenti menulis ya karena klo gada ff bosanku akan ++😀
    & makasih aurthor udh sedikit mengobati kegalauan hari ini grgr #SS6INA

    keep writing! cayo!

  17. Kim Ra rA mengatakan:

    KEREEEEEEEEN hmmmm seperti nya part ini wajib baca ulang dech hehehe

    Liat tingkah siwon kok aku bayangin nya dia tuh orang yang perfecsionis dengan kewibawaan dan gaya dia yang cool. dia juga Arogan dan gak meduliin perasaab orang lain Tapi dia juga bertingkah konyol diluar kesadarannya gak tahu kenapa pas di moment dia marah marah waktu pertama kali datang ke apartement soeun dan waktu dia ngikutin ssoeun aku bayangin wajah dia yang lagi manyun sambil marah marah yang malah membuatnya terlihat konyol dan Lucu xixi
    “ada dua Rumah sakit yang harus kudatangi. Rumah sakit umum dan Rumah sakit jiwa” hadeeeeh gak bisa nahan senyum dengan kalimat ini

    ah~ Lee Donghae rajanya Scean Romance dech kalau aja dia ngomong nya di depan patung lilin udah pasti meleleh dech tuh patung.
    dan ternyata niat awal Hae tuh buat bisnis yang berujung dengan hae yang malah jatuh cinta beneran sama Sso.

    Benar benar sangat menikmati sekali part yang ini. Makasih yach put. dan seharusnya ini tuh bukan Two Shoot tapi di bikin Chapter karna asli ini tuh yah KEREN BANGET

  18. Rika Oktaviani mengatakan:

    akhirnya happy ending juga, siwon sangat menyesal karena telah menyakiti soeun, nggak nyangka ternyata donghae sengaja mendekati soeun hanya untuk membuat siwon kalah dalam bisnisnya, tapi karena sering bertemu akhirnya donghae juga menyukai soeun, ternyata ibunya soeun meninggal karena siwon dan sejak itu siwon semakin bersalah karena telah berlaku kasar terhadap soeun dan menyadari bahwa dia mencintai istrinya ckckck

  19. Vhi mengatakan:

    Awalnya kesel bnget sma si won :@ kasian kan so eun di rendahin mlu, kirain teh so eun bkal sma donghae😦 walau niat awalnya gak baik tpi omongan nya sweet😀 happy ending uga kan wonsso nya tnggal nunggu pnya anak kali ya😀 keren deh ff nya emng best lah chingu😀 ….

  20. shaneyida mengatakan:

    Ayeaaaah … Slalu cinta n special klo ngebaca ff puput :* kek brasa nonton drama beneran …mana panjang trus aye meresapi bgt ..ga tahu lg pokoke sempurna ..bagus bgt (y) terus terng klo lgi ngedrop berad ..aye suka mampir k sini ngebaca ulang story3 d sini walopun ga koment lagi hhhhhhhe ;;) dan slalu berhasil meredahkan penyakit aye😉 thankyu ya adekku syg (o ³ )o ~♡ ♥*Muãch:*♥ *♥*Muãch:*♥*

    ~ <3<3 ~
    Siwon sibuk memikikan tendernya ..takut gagal terlebih dia percaya ucapan hae ..sehingga dia menyuruh bwahannya menyelidiki karyawannya sendiri ..walopun kek nya ga terlihat klo ada penghianatan yak hhhhe ,smua orng d curigai ttp otak siwon encer bgt yak dia ttp ngikut alur .. Ni ceo siwon cool bingit euy ¨Ħiii¨¨Ħiii¨¨Ħiii ƪ(˘⌣˘)ʃ•´¯`• ♥. Dan soeun begitu berbunga2 cos dia menjual bunga3 .. Dr jauh t toko dah menghisap mangsa saking ceria n indah t t4 hingga donghae pun ikut tertempel hhhe dan siwon pun yg ga suka soeun juga ikut tertempel d bunga soeun ya yg menyebabkan bunga soeun jd layu hhhhe *eoh* ketika siwon mampir k toko soeun .. Soeun mengalami kerugian hihiiii Xd ruginya suasana hati soeun jd redup tak secerah bunga2nya perkataan siwon sungguh menyayat hatinya .. Apalgi soeun sngt mencintai siwon ..kebayang rsnya d sindir ma orng yg d cintai .
    Ee yg soeun beranggapan dimasa lalu mungkin dia telah membunuh siwon makanya siwon membencinya ¨Ħiii¨¨Ħiii¨¨Ħiii ƪ(˘⌣˘)ʃ•´¯`• ♥ aye angguk3 kek nya bener hhhha setuju ma pemikiran soeun ttg prihal siwon itu hhha😄
    Wajr juga siwon ngatain soeun memikat laki3 lain cos dia melihat dr covernya ..hhhe tanpa thu hal sbenrnya .. Intinya siwon belom menyadari keistimewaan istrinya nah stelah dia sdr pasti dia menyesalinya , pas di akhir ..dia meyakinkan soeun dg berlutut d hadpan soeun mengungkapan kejujurannya .akhirnya iso melulukan hati soeun yg sbenrnya mmng udeh luluh ya ayeahhh moment pelukan dlm kebahagiiannya ikut menjalar kemana3😉

    Pas ibu siwon tiba2 hdr kek jelangkung .. Menasehati siwon dr situ ada pencerahan d hati siwon dia akhirnya sadr dan memikirkan soeun terus menerus tp Ttp tak menghilangkan sikap arogansinya hhh ketika dia berniat menemui soeun d apartemen .. Saking lm nunggu dia tak ingat tujuan utamanya mau mencba berbalikan ma soeun eeee tiba3 jd orng kesetanan hhhha … Di line lucu aye ngakak … Hhhha suka bgt pas ngeliat siwon teriak3 ngadep ngelirik pintu soeun d atas ..dia bilng apa peduliku ..mau nikah ma lee dong hae or mavia skalipun dia tak peduli ¨Ħiii¨¨Ħiii¨¨Ħiii ƪ(˘⌣˘)ʃ•´¯`• ♥ ..lucu bgt ngeliat siwon hhh semakin ga peduli smakin ada sesuatu lo yak bener t yg d ucapakan siwon ..nah klo soeun balikan ma dia pasti dah dia jd peduli ma soeun ¨Ħiii¨¨Ħiii¨¨Ħiii ƪ(˘⌣˘)ʃ•´¯`• ♥ …😄

    Hae yg awalnya mmng berniat memanfaatkan soeun tp stelah terperangkap d toko soeun apalgi terhipnotis ma bunga3 soeun trus berakhir memandang soeun membuat dia serius dan brubah haluan dia bener3 mau memiliki soeun (y)
    Dia mau menunggu janda soeun hhhe ,soeun sempet membri kesempatan juga … Dan hal inilah juga alasan siwon menyeruakkan ekspresi hatinya pd akhirnya ayeeeah

    Dan suasana tegang kembali pas d pesta ntu hhha perang dunia bener3 terjadi ¨Ħiii¨¨Ħiii¨¨Ħiii ƪ(˘⌣˘)ʃ•´¯`• ♥ siwon ma hae bergulat yaak .. Tontonan yg seru ini hhhhhe *plakk* siwon bener3 merasakan …hatinya saat itu ..perasaan cintanya terlihat sehingga dia brani menghampiri kduanya dan brani mengklaim soeun itu istrinya yg slama ini d sembunyikan tp dia juga yg mengungkapkannya .. (Y) hasil dr kejadian itu .. Rpnya keduanya gagal memenangkan tender ĦΔĦΔ:D ĦΔĦΔ=D ĦΔĦΔΔ=)) ngakak aye hhhhha pas siwon blg ma soeun klo keduanya gagal tender .. Mereka cekikikan aye pun ikut cekikikan ¨Ħiii¨¨Ħiii¨¨Ħiii ƪ(˘⌣˘)ʃ•´¯`• ♥

    Endingnya sempurna put (y) kk suka bgt menurut kk klimaks banged jd enak d makan :*
    Walopun aye sering berkelana ngebaca ff kesana kemari tp punya puput itu fav 1 (y)

    Lanjuuut ~ *eoh* hhhhhe
    10000 jempol gajah buat puput (y)

    Lempar kringat bang jong buat puput (✽^⌣^✽)
    Keep writing n slalu sukses mengiringi langkah pu3t ayeeah amiiiin (˘ʃƪ˘)
    Slalu d tunggu kehadiran ff na :*

    Cmunguuuuth Kissue (♥͡з♥͡)muach*~♡

  21. kristienuuna mengatakan:

    Walah akhir na Siwon oppa sadar juga..
    The stupid boy akhir na mengakui kan klo dia cinta ama Soeun..
    Huaaa.. Lega..
    Seneng ngeliat perasaan cinta Soeun yg sekarang berbalas..

  22. aina freedom mengatakan:

    klo aku simple aja put comen soal ff kamu ,klo bagus ”jelas ”,keren juga ”jelas ,seru dan menarik ”sdh pasti ,konflik dan alur ceritanya sangat ngena sekali ,intinya top bnget .yg jd q penasaran ngetik cerita segitu pnjang gimana rasanya jari2 tangan kamu ,apa gk kesemutan ya ?trs idenya itu lo koq slalu mengalir spt air (itu yg bikin q salut sm putri )benar2 seorg penulis yg berbakat .keren put

  23. HaeNy Choi93 mengatakan:

    Bener2 setiap baca ffmu tuh harus butuh waktu luang. Gak bisa klo ga sepi dan tenang suasananya. Wkwkw klo gak bakal gak bisa konsen pokoknya. Heheh

    endingnya bener2 muasin bgt. Seneng juga akhirnya WonSso bersatu. Ciyee ciyee yg cemburu sama ikan. Heheh setiap scenen bikin deg2an. Apalagi pas ertarungan antara WonHae di pesta sepertinya mereka jadi tontonan para tamu undangan yah. Ckck benar2 seperti arena tinju. Kkk

    endingnya bagus tp aku rasa kurang Klimaks aja. Gak tau kenapa.

    Ditungg karya selanjutnya ya put. Semangat!

  24. Rani Annisa mengatakan:

    terima kasih kak udah dibuatin ff-nya🙂
    Sangat memuaskan banget ff-nya,, keren banget,, dan suka banget sama ff-nya🙂

    Wah walaupun hampir berpisah wonsso akhirnya bisa bersama kembali dan hidup bahagia🙂

    Ditunggu ff yang lainnya lagi😉

  25. vaaani mengatakan:

    huaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa,, gumawo puuut,,,
    stidaknya,,, smga niat kmsbg snantiasa trjaga dan berpahala dlm menghibur smua

    iya super lamaaaa bgt,,,, ini yg cm 2chap dan biasanya perbulan menghasilkan
    kereeeeeeeeeeeeeeeen wonsso
    krna wonsso dsini langka,,,, aish haeppa bener2 lain bs sg2nya tp lucu c ma wonppa

    akhirnya mereka sadar,, masing2 posisi,,,,

    keren deh emaknya wonppa,,, hahahhahhaha
    keren jg pertahanan sso dlm rumah tangganya
    keren bgt deh wonppa bs ngatur arogansinya
    keren bgt lg haeppa brlapang dada dg kondisi

    keren keren lg putri yg dh brusaha mnulis d sela2 ksibukannya,,, dtunggu lainnya yak

  26. wahyuSsoAngells mengatakan:

    yeaayyyyy akhirnya happy ending😀
    Udah nebak dr awal sih klo hae tau sso itu istrinya siwon..hmm tpii ksian jga dia udh bner2 cinta sma sso pukpukpuk sini bang aku peluk bang wakakakakak 😂😂
    pkoknya top lh buat putri mkasih udh mw share ff buat kita 😍😍

  27. Cici Kim mengatakan:

    Ahir ya siwon sadar jga
    senemg ahir ya mreka brsama
    ending ya gutang puas gitu aja nga ngapa” hehehe

  28. angelf mengatakan:

    akhirnya dilanjut jugaa udah nunggu lamaaaaaa banget…
    jadi taktiknnya donghae itu ngedeketin soeun tpi malah terlanjur cinta…
    suka… banget samaa ff yg ini selain ceritanya castnya wonsso makin suka…
    dpet banget feelnya jadi ikutan berasa klo jadi soeun yg awalnya gak dianggap sama sekali…
    awalnya kesel bNget sama sifat aroganya siwon gak bertanggung jawab banget jadi suami. kesel baney sama karaktetnya disini.
    tpi secara gak langsung ya sebenrnya siwon itu udah bisa nerima soeun cuman karena gengsinya tinggi aja ..
    paling suka waktu baca yang bagian soeun dibawa donghae ke pesta itu beneran klimaksnya menurutku pergulatan batinya siwon. perasaan cemburunya. smpek bikin dia mau nangis terus waktu dia nunggu soeun berhari hari, aplgi wktu ug minta maaf smpek berlutut aduh….itu bacanya smpek aku pgen nagis banget…
    ceritanya bagus banget. gaya penulisanya author juga makin bagus aplgi konflik ceritanya yg bikin pembaca jdi deg degan bacnya.gak gampang ditebak alur ceritanya terus gak bosen juga eaktu bacnya malah dibuat penasaran terus sama cerifanya …
    sumpah sukaaaaaa banget sama ff yg ini.
    100 jempol buat authornya. klo aku ksih rate aku kasih nilai 10
    sebelumnya aku makasih banget buat author putri yg mau bikin ff meskipun authornya sibuk banget
    ditunggu karya lainya
    fighting…..

  29. Fee mengatakan:

    Akhir.y publish jg dan happy ending,,

    Kirain donghae tulus, ternyata mlh cm manfaatin so eun. Oke,, ditunggu karya slnjt.y

  30. Mama Nikita widiyati mengatakan:

    Alhamdulillah akhirnya ff ini ada endingnya….terima kasih ya thorrrr….maju terus!!!!aku seneng juga sama pairing siwon ma so eun…untung ga diproteksi jadi bs langsung baca!!semangat!!!

  31. MiaNuneo mengatakan:

    yahhhh akhirnyaaa begitulah siwon lol. labil banget sih bang kekeke~ next ff kak! ditunggu^^

  32. Esaa mengatakan:

    Aku masih rada bingung, sebenernya bener ga sih yang diomongin Dong Hae kalo ia sekarang mencintai So Eun? Dan lagi masalah mata-mata yang membuat Si Won selalu naik pitam itu, benarkah Dong Hae menyusupkannya ke perusahaan Si Won? Atau hanya sekedar pengalihan fokus untuk Si Won?

    Sebenarnya aku sedikit rada ga rela So Eun balikan sama Si Won, haha pengen rasanya Si Won itu menyesali perbuatannya seumur hidup //set dah gue jahat amat yak .@@
    Tapi berhubung Si Won memposting proyek luar biasa ELF waktu konser kemaren, aku maafin kau bang // Lol kaga nyambung ._.

    Suka dengan kegigihan Dong Hae yang terus mendekati So Eun, sampai ingat sekali tu jumlah bunga yang ditanyakan, haha
    tapi gapapa bang, usahamu patut diacungin jempol walaupun tu jempol pada akhirnya digigit juga karena So Eun luluh sama simpuhannya Si Won, wkwk

    Oke put, makasih karena meluangkan waktu melanjutkan ff mu lagi, aku juga ngerasain gimana bejibunnya tu tugas kuliah ._.

  33. RhynAngelf mengatakan:

    aduh akhir y dipublsh jga,,,

    Sperti biasa ff mu kece badai,alur crita’y ndak bisa ditebak..

    Uyee.! Mr.siwon akhir’y engkau menyadari jg perasaanmu yeah walaupun terlalu lama jg sh tuk bsa mnyadari itu

    aaah si donghae kirain dia suka bneran sma sso eonni,ternyta yeah itu hnya akal2an’y sja

    oh ya.! Aku pling suka adegan,*ceile adegan* pas donghae sma siwon berantem😀😀 nd pas terakhir ntu2,si siwon mau nyium sso eonni tpi Gatot alias Gagal total😀😀

    Hehe udah sgitu aja ditunggu lanjutan ffmu yg laen😄,terutama HaeSso’y😀😀
    PUTRI SEMANGAT..!!!

  34. Moli mengatakan:

    Akhirnya dipublish juga part endingnya. Ceritanya sukaaaa! Siwon akhirnya balik sama soeun. Walaupun sbnrnya donghae sama soeun cocok 😂
    Ditunggu karya selanjutnya author! ☺️

  35. mira mengatakan:

    ending nya romantis banget, walaupun telat menyadari perasaan nya tapi siwon tetap berani mengungkapkan isi hatinya sama sso. semangat kak awan

  36. Ranynatasha mengatakan:

    Omo…
    Akhirnya end juga…
    Keren author…
    Alangkah kerennya lagi klok ada SP nya :v
    aku tunggu karya mu yang lain author…
    Fighting

  37. yolanloen mengatakan:

    endingnya so sweet,,syukur deh mereka gak jadi cerai
    aku kira siwon nolak perjodohan itu karna udah punya wanita yg di cintai ternyata karna kedudukan dan harta, pas ditinggalin soeun berasa ada yg hilang juga deh

    untung soeun blm di ambil sama donghae, klo iya sedih bgt deh siwon oppa

    ditunggu ff2 lainnya ^^

  38. pipit mengatakan:

    Sequel donk…. Keren thor

  39. ajhanaira mengatakan:

    setelah nunggunya lamaaa bgt akhirnya publish jg🙂 seneng dah ma ff ni😉 apa lg kalo cast nya WonSso Couple :*
    hanya sj msh betah lihat part Siwon oppa dikerjain habis2an biar sadar akan kebodohannya. Pengennya part nyeseknya itu di pangjangiiin😦 hehee cuma saran sj😉
    tapi tetep jempol dah buat author😉 keep writing😉

  40. Aisparkyu mengatakan:

    .ach aku bru tau klau ff nie dah di publis ktnggalan bnget hhe,,ach akhirnya happy ending,,kren thour crtanya

  41. nur chofidah mengatakan:

    Aq baru sempet bc yg ini dl, yg lain kpn2 deh kl sempet, untung siwon cepet sadar dgn perasaannya, aq pikir soeun milih hae, semangat nulis y

  42. hesti mengatakan:

    Keren dan bikin yang baca juga ikut masuk dalam cerita

  43. yuliaseptiani mengatakan:

    Hwaaaaaaa ending ny bkin nyeeeesss ☺ akhir ny siwon sadar juga , mskipun aq setuju c kalau sso sama donghae 😄
    Keeerrreeenn 👍👍👏

  44. meon96 mengatakan:

    Akhirnya siwon sadar jugaa…. yee berakhir happy ending🙂
    yukk kak dibnyakin lg ff nya🙂

  45. Annisa Rahmadiah mengatakan:

    hmmm..
    akhirnya siwon sadar ya akan segala kelebihan yang so eun punya..

    fightin thor..

  46. rizki mengatakan:

    baca ceritanya agak sedih, knapa siwon tega banget, tapi untunglah dia cepet sadar dan bisa balikan lagi,,, keren deh…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s