~ [Threeshot] Moonlight’s Secret 2/3 ~


moonlight

Title       :               Moonlight’s Secret

Author  :               PrincessClouds/@helloputri228

Length :                Threeshot

Genre   :               Romance

Rated    :               PG-15

Main     :               Kim So Eun – Cho Kyu Hyun

Minor   :               Lu Han – Park Bo Mi

Summary:          

Recommended Song:   

Prompter :          Puspa Rini

Warning:             Typo(s), alur cepat.

*Moonlight’s_Secret_2*

Keesokan harinya So Eun bolos masuk kelas. Hal itu dikarenakan tubuhnya terasa lelah pagi ini, ditambah matanya terasa sangat berat sehingga rasa-rasanya ia tak mungkin masuk kelas. So Eun akhirnya tinggal di tempat sepi di sekolah barunya dan menghabiskan waktu untuk sekedar memejamkan matanya disana.

Hingga sekitar jam istirahat, So Eun terbangun merasakan ada langkah yang mendekat. Sedikit malas gadis itu mengangkat wajahnya dan melirik sekitar pohon besar tempatnya mengasingkan diri itu. Tak lama baginya untuk menangkap sosok Lu Han berdiri tak jauh darinya.

“Kau lapar? Aku membawakan makanan.” Lu Han mengulurkan sebuah bungkusan berisi makanan padanya.

So Eun tak bereaksi. Ia hanya menatap datar bungkusan itu, lalu beralih menatap Lu Han. Ekspresi So Eun terlihat tak bersahabat, lebih buruk daripada dulu ketika mereka awal bertemu. “Aku tidak lapar.” So Eun menyahut singkat. Ia lalu mengalihkan pandangannya dari Lu Han. Berharap pemuda itu untuk pergi meninggalkannya.

So Eun masih menyalahkan Lu Han atas apa yang menimpa Kyu Hyun. So Eun menganggap Lu Han dan keluarganya adalah orang-orang yang kejam yang tega membuang anggota keluarga mereka yang tak sesempurna mereka.

Lu Han menghela nafas. Ia tak menyerah, ia lalu duduk di samping So Eun. “Kau masih marah padaku?” tanyanya pelan.

“Menurutmu?”

“Kau masih marah..” Lu Han menyahut pelan sambil menghela nafas. Ia menatap So Eun lagi, berharap gadis itu setidaknya mau menatapnya. Namun tidak, So Eun benar-benar mengacuhkannya. “So Eun, aku—“

“Aku sedang tak ingin berbicara, Lu Han. Saat ini aku sedang kelelahan. Pergilah, biarkan aku tidur..” So Eun bergumam pelan sambil membaringkan kepalanya pada meja di depannya. Namun Lu Han terlihat belum menyerah.

“So Eun, kumohon dengarkan aku sebentar.”

“Tidak. Pergilah..”

“So Eun, kumohon.”

So Eun tersentak duduk, menatap Lu Han tajam. Namun tak lama ia mulai mengemasi barang-brangnya dan berniat pergi darisana. Lu Han mengikutinya.

“So Eun, kumohon dengarkan penjelasanku!” serunya mengejar So Eun, berharap So Eun berhenti. Namun tidak, So Eun terus mempercepat langkahnya. “So Eun.” Serunya lagi sambil kali ini mempercepat langkahnya. Lu Han lalu meraih lengan So Eun untuk membuatnya berhenti. “Please So Eun. Dengarkan aku..” ucap Lu Han bersungguh-sungguh.

“Aku sudah bilang aku tak mau.” So Eun menatap mata Lu Han dengan tajam dan marah. “Aku tak mau berbicara pada orang yang tega membuang keluarganya sendiri karena alasan apapun itu. Aku benci orang seperti itu!” Seru So Eun dengan nada tinggi, dimana kali ini berhasil membuat Lu Han mundur dan terdiam. So Eun menarik lengannya dari Lu Han, lalu segera meninggalkan pemuda itu.

“Kau fikir aku punya pilihan? Melihat kakakku diperlakukan begitu, kau fikir aku bahagia?” Lu Han kembali bersuara dengan nada yang lebih rendah dan terkesan bergumam. Kali ini kembali berhasil membuat So Eun berhenti melangkah dan melirik padanya. Dilihatnya kini Lu Han berdiri di tempat yang sama dengan kepala tertunduk. “Aku juga tak mampu berbuat apa-apa, So Eun..” Lu Han mengangkat wajahnya menatap So Eun kini. Ada kesedihan di matanya yang terlihat sedikit memerah.

So Eun menapakkan kembali kakinya di depan graffiti yang semalam dikerjakan Kyu Hyun. Karya warna-warninya yang terlihat belum sepenuhnya itu terlihat sudah kering. Walaupun bau cat masih tercium dimana-mana.

So Eun mengangkat tangannya dan menyentuhkan jemarinya pada gambar tersebut. Perlahan-lahan ia ingat kembali pembicaraannya dengan Lu Han beberapa jam yang lalu.

“Sebenarnya ibuku bukan istri pertama ayahku. Pada awalnya ibuku hanya menjabat sebagai penasehat hukum pribadi ayahku. Hingga karena mereka terlalu sering bersama, mereka tiba-tiba mulai terjebak dalam hubungan yang terlarang tanpa diketahui oleh siapapun termasuk istri asli ayahku. Mereka melakukannya selama bertahun-tahun dan Kyu Hyun-hyung adalah hasil dari hubungan terlarang itu..”

“Selama itu hyungku disembunyikan dari dunia. Tidak ada yang mengetahui kehadirannya selain ayah dan keluarga ibuku. Lalu ketika Kyu Hyun-hyung berumur dua tahun, istri asli ayahku meninggal karena penyakit mematikan. Setahun kemudian ayah dan ibuku akhirnya menikah dengan resmi. Tentu saja, mereka masih menyembunyikan tentang Kyu Hyun-hyung. Kali ini bahkan karena suruhan dari keluarga ayahku. Mereka berfikir Kyu Hyun-hyung adalah sebuah aib, ditambah dengan fakta bahwa ia adalah seorang pengidap autis. Sehingga itulah awal mulanya mengapa aku adalah putra dan pewaris satu-satunya seluruh perusahaan milik Cho-Group..”

So Eun memejamkan matanya erat, merasa tak tahan untuk mengulang lagi setiap ucapan Lu Han itu ditelinganya. Rasanya bayangan kekejaman itu dan wajah tak berdosa Kyu Hyun memenuhi fikirannya bersamaan dengan ucapan-ucapan itu. Membuat ia memejamkan matanya erat begitu jemarinya terus menyentuh karya terbaru Kyu Hyun yang menghiasi dinding di tangannya.

“Kau fikir aku punya pilihan, So Eun. Aku juga tak bisa berbuat apa-apa. Sejak kecil aku sering menangis sedih melihat kakakku satu-satunya diperlakukan seperti itu. Aku ingin membebaskannya, tapi aku tak bisa melakukan apapun. Hingga akhirnya aku tak punya pilihan selain pura-pura buta dengan semuanya. Aku bahkan tak pernah melihat keadaannya karena aku takut melihat wajah menderita itu. Aku serasa diadili karena ketika aku hidup penuh kemewahan namun hyungku malah diperlakukan sebaliknya.”

So Eun membuka matanya kembali setelah ia lebih bisa menguatkan diri. Ia lalu menengadah menatap karya yang tertulis disana lalu menyentuhkan ujung jarinya pada salah satu objek yang tergambar disana. Gambar matahari.

Senyuman terlihat di wajah cantik itu ketika ia memutuskan sesuatu di fikirannya.

“So Eun, kau yakin dengan ini?” Lu Han terlihat ragu. Untuk kesekian kalinya pemuda itu bertanya, terus menahan tangannya untuk memasukkan kunci di tangannya ke lubang kunci. “So Eun, aku—“

“—Aku yakin, Lu Han..” So Eun menyahuti juga untuk kesekian kali. Tampaknya mulai tak sabar kini karena Lu Han terus mengulur waktu. “Aku mau masuk ke dalam dan mencoba untuk bermain dengan Kyu Hyun-oppa..”

“Tapi bagaimana dengan belajar kelompok kita?”

“Kita bisa melakukannya di dalam, dengan Kyu Hyun-oppa.

Lu Han menghela nafas, masih terlihat menimang-nimang logam itu di tangannya. “So Eun, bukankah sudah kukatakan bahwa aku tak bisa?”

“Aku yakin kau bisa, kau hanya belum mencoba. Kau ingat kemaren? Dia tak terlihat membencimu sama sekali. Aku yakin dia tidak menyalahkanm—“

“—Bukan itu masalahnya, So Eun.” Lu Han memotongnya. Lu Han menatapnya cukup lama, namun ia segera menghela nafas dan beralih untuk akhirnya memasukkan anak kunci tersebut dan membukanya. “Kalau memang hanya ini caramu untuk berbaikan denganku, baiklah. Tapi aku tak bisa bergabung denganmu..”

“Lu Han..” So Eun sedikit merengek padanya. Namun akhirnya gadis itu ikut menghela nafas dan mengangguk mengerti. Walau bagaimanapun dia tak bisa memaksa Lu Han. Ada banyak hal yang tak mungkin sekilas dapat ia fahami tentang hati seseorang jadi ia sebaiknya menghargai itu. “Baiklah, dan seperti janjiku aku tak akan melakukan hal yang aneh-aneh. Aku juga akan merahasiakan ini dari siapapun..”

Lu Han mengangguk faham, tangannya kini mulai menyentuh kenop pintu. Menahannya sebentar dan melirik kembali sahabatnya itu. “Baiklah, tapi berhati-hatilah. Walau hyung terlihat tak berbahaya atau bahkan terantai namun ini adalah pertama kalinya ada orang mendekatinya. Aku harap kau tetap waspada..” ucapnya khawatir. Setelah mendapat anggukan dari So Eun ia tampak mulai memutar kenop pintu tersebut. Membiarkan So Eun masuk, sebelum akhirnya meninggalkan tempat itu begitu saja.

So Eun menggigit bibir bawahnya sambil dengan hati-hati merapatkan pintu itu kembali. Setelah itu, perlahan ia membalikkan tubuhnya dan melirik ke arah satu-satunya tempat tidur di sana.

Di atas tempat tidur, masih sama, pada akhirnya ia bisa melihat lagi alasannya datang kemari. Sosok yang awalnya tampak sibuk dengan kertas gambarnya itu melirik padanya. Menatap sekilas padanya, sebelum dengan acuh tak acuh kembali sibuk dengan kertas gambarnya. Menulis dengan tangan kanan dimana tangan yang satunya terlihat masih terpancang kuat oleh rantai yang terpaku ke dinding.

So Eun menggigit bibirnya, ia mulai terasa gugup dan bingung. Ia menggaruk tengkuknya sebelum akhirnya mulai bersuara.

“H-Hai… K-Kyu Hyun-oppa, b-boleh aku main denganmu disini?” tanyanya hati-hati. Tak ada reaksi, Kyu Hyun bahkan tak beralih dari kertas gambar yang saat ini diwarnainya. So Eun lagi-lagi menghembuskan nafasnya pelan. “Aku anggap itu artinya oppa tak keberatan..” ujar So Eun pada akhirnya.

Gadis itu lalu membuang rasa ragunya untuk makin masuk ke kamar itu dan mendekati Kyu Hyun. Gadis itu meraih sebuah Koran dan menggelarnya di lantai kamar Kyu Hyun yang dipenuhi oleh kaleng-kaleng. So Eun lalu duduk disana dan mulai membuka tas yang dibawanya dan mengeluarkan buku tugas miliknya.

“Tenang saja, aku tak berniat menganggu. Aku hanya ingin menumpang belajar disini. Bolehkan?”

Beberapa menit So Eun terlihat larut dengan pekerjaan rumahnya. Pelajaran yang dibencinya, matematika. Mungkin karena ia terlalu berfikir keras untuk memecahkan soal-soal sulit itu ia sampai melupakan Kyu Hyun. Dimana pemuda itu tampak berhenti menggambar tiba-tiba, melirik So Eun penasaran, sebelum bergerak mendekati So Eun dan melihat apa yang dikerjakan gadis itu.

“Itu salah!” So Eun tersentak kaget ketika Kyu Hyun sudah berada di sampingnya dan berseru sambil menunjuk bukunya. Wajah gadis itu memerah ketika ia melirik ternyata wajah pemuda itu sangat dekat dengan wajahnya. Untunglah pemuda itu sedang fokus pada bukunya hingga tak menyadari itu. “Ini juga salah. Ini. Ini. Ini. Ini. Semuanya salah. Tch, dasar bodoh..”

So Eun sedikit kaget, ia kemudian langsung cemberut menatap Kyu Hyun. “Oppa, kau mengatai aku bodoh?” rengeknya cemberut. Pura-pura sedih.

“Ya, hanya orang bodoh yang tak bisa mengerjakan soal semudah ini. “ Kyu Hyun mengomel bak anak kecil. Tanpa izin dia lalu merebut buku dan pena di tangan So Eun dan mulai bekerja. So Eun mengintip pekerjaannya.

“Memangnya oppa mengerti pelajaran ini?”

“Tentu saja, siapa yang tidak mengerti soal mudah seperti logaritma..”

So Eun tak bertanya lagi dan hanya memperhatikan Kyu Hyun yang kini dengan cekatan menyelesaikan soal yang sering membuatnya sakit kepala itu. Gumaman kagum mengalir begitu saja dari mulutnya menyaksikan Kyu Hyun yang sepertinya tak kesulitan sama sekali menyelesaikan soal-soal itu. Seakan-akan semuanya sudah tersedia lengkap di otaknya dan ia hanya tinggal menyalinnya.

So Eun tersenyum lagi, kali ini pandangannya ia alihkan menatap wajah Kyu Hyun. Wajah Kyu Hyun terlihat serius seperti biasanya, seakan ia hanya sedang menggambar sketsa mudah dengan tangannya itu.

“Tapi oppa, kenapa kau memanggilku Moonlight? Kemaren bahkan melalui gambar di belakang rumahku? Oppa tahu namaku, bukan? Namaku—“

“—Kim So Eun.” Kyu Hyun memotong datar. Ia lagi-lagi tak menoleh dan hanya sibuk dengan pekerjaannya. “Tapi aku lebih suka memanggilmu Moonlight.” Sambungnya kemudian. Masih dengan sikap acuh tak acuhnya.

“Mengapa?”

“Karena malam itu ketika kau datang sedang bulan purnama. Lalu ketika aku melihatmu, ketika kau sedang tidur wajahmu yang cantik tengah disinari oleh bulan purnama melalui jendela. Itulah mengapa kau kupanggil Moonlight. Karena kau cantik seperti cahaya bulan purnama..”

So Eun terpana, wajahnya memerah tiba-tiba. Ia tak menyangka ucapan itu akan keluar dari mulut Kyu Hyun. Terlebih mengingat dia masih asyik dengan pekerjaannya tanpa menoleh pada So Eun sedetik pun.

“B-Begitu? Ahaha, jadi itu oppa yang mengintipku malam itu? Aku sampai takut tahu, oppa. Kukira kau hantu..” So Eun kembali bersuara dengan kaku. Berusaha menyembunyikan wajahnya yang memerah dan mengendalikan keadaan.

“Selesai.” Kyu Hyun kembali bersuara tak lama. Pemuda itu lalu mengulurkan buku dan bolpoint tadi kembali pada So Eun. Pemuda itu kembali bergerak ke atas tempat tidur dan melanjutkan lukisannya.

Sementara itu So Eun memeriksa bukunya. Ia tampak begitu kaget karena Kyu Hyun bisa menyelesaikan sepuluh soal kurang dari lima menit. Kyu Hyun bahkan menggunakan rumus yang rumit dan panjang, yang bahkan tak digunakan oleh gurunya di sekolah.

“Waaaah, oppa benar-benar pintar. Hebat!” So Eun berseru sedikit speechless. Melirik pemuda yang masih juga cuek dan kembali sibuk dengan kertas gambarnya.

Sesuai janjinya pada Lu Han, tepat pukul lima sore So Eun keluar dari ruang bawah tanah dimana Kyu Hyun berada. Senyuman ceria terlihat di wajah gadis itu, menandakan bahwa ia menikmati selama dua jam di dalam dan menghabiskan waktu dengan Lu Han.

Setelah mengunci pintu yang terletak di dekat garasi, So Eun berniat mengembalikan kunci pada Lu Han. Namun baru beberapa langkah ia menemukan Lu Han tengah memberi makan SangChu. Dengan senang So Eun menghampirinya.

“Sudah selesai?” Lu Han bertanya dengan nada datar sembari melirik So Eun sekilas. Ia lalu kembali sibuk mengusap bulu putih SangChu.

“Hum. Ini kuncinya.” So Eun mengulurkan kunci di tangannya pada Lu Han. Lu Han hanya meliriknya sejenak, tidak langsung menerimanya.

“Bagaimana di dalam?” tanyanya masih dengan nada datar.

“Menyenangkan. Kau tahu Lu Han, selain menggambar ternyata Kyu Hyun-oppa juga pintar matematika. Bayangkan saja, dia bisa menyelesaikan PR kita dalam waktu kurang dari lima menit. Dan lihat, dia bahkan menggunakan rumus yang panjang dan rumit yang bahkan tak digunakan oleh guru kita.” Cerita So Eun senang sambil membuka buku yang masih di tangannya. Ia lalu membuka halaman yang tadi dikerjakan Kyu Hyun dan menunjukkannya pada Lu Han.

Lu Han lagi-lagi tak memberikan reaksi yang berarti. Dia masih melirik datar halaman yang ditunjukkan So Eun. Pemuda itu menghela nafas, lalu menatap So Eun lagi dengan tatapan serius. “Lalu bagaimana dengan lesmu, So Eun? Pada akhirnya hal seperti ini tak ada gunanya untukmu. Kau tidak mengerti dengan apa yang dikerjakan hyung, bagaimana kalau guru-guru malah bertanya bagaimana kau tiba-tiba dapat mengerjakannya? Pada akhirnya semua percuma.”

So Eun kali ini terdiam, melirik buku di tangannya. Benar juga, walau bagaimanapun bukan dia yang mengerjakan semua ini. Diapun masih belum mengerti tentang semua pelajaran ini padahal niatnya dari awal adalah untuk meningkatkan prestasi belajarnya. Namun tak lama dia mengangkat wajahnya lagi menatap Lu Han.

“Nanti malam aku bisa mempelajarinya.” Ujar So Eun tak lama. “Nanti malam aku akan membaca semuanya kembali lalu mempelajari metode yang digunakan Kyu Hyun-oppa. Aku yakin kalau bersungguh-sungguh aku akan menguasainya.” Ujarnya penuh semangat.

Lu Han tampak menghela nafas lagi, tampak kehabisan kata-kata. “Terserah kau saja.” Ujarnya setelah itu. Pemuda itu lalu mengambil kunci di tangan So Eun lalu masuk ke rumahnya begitu saja. Meninggalkan So Eun yang menatap punggungnya dengan heran.

Setelah hari itu So Eun mengunjungi Kyu Hyun setiap hari. Setiap hari gadis itu akan membawa pekerjaan rumahnya dan mengerjakannya bersama Kyu Hyun. Hum tidak, lebih tepatnya Kyu Hyun selalu tiba-tiba saja datang dan merebut pekerjaan rumahnya. Pemuda itu lalu mengerjakan semuanya dalam waktu beberapa menit tanpa memberikan kesempatan So Eun untuk memahaminya walau ia berusaha mempelajarinya tanpa berkedip.

Pada akhirnya yang So Eun lakukan setiap malam adalah mengulang lagi semuanya berdasarkan apa yang dikerjakan Kyu Hyun. Walau menyedot cukup waktu namun So Eun mampu memahami semuanya tersebut labih baik daripada ketika diajarkan oleh gurunya di sekolah. Hal itu karena Kyu Hyun yang masih berfikir seperti anak kecil juga menggunakan cara yang rinci dan panjang namun ternyata bersifat cukup mudah dialami. Semuanya tentu meningkatkan pemberitahuan So Eun sejauh ini.

Empat hari setelah hari itu, hari jum’at, So Eun tak mengunjungi Kyu Hyun ataupun belajar hingga malam menjelang. Hal yang dilakukan gadis itu sejak pulang sekolah adalah tidur siang secukupnya. Besok adalah akhir pekan yang berarti liburan. Oleh sebab itu So Eun merencanakan hal lainnya.

Hampir tengah malam setelah kedua orang tuanya bangun So Eun terlihat mengendap-endap keluar dari rumah. Setelah itu seperti beberapa hari yang lalu dia berdiri di depan pagar rumah Lu Han untuk menunggu Kyu Hyun. Tak cukup lama ia melihat orang yang ditunggunya keluar dari ruangan tersembunyi di dekat garasi. Pemuda itu kemudian segera meninggalkan rumah tersebut setelah memberikan sapaan pada Sangchu yang juga menyambut kedatangannya.

Hanya beberapa menit Kyu Hyun terlihat berhenti di depan dinding yang masih polos belum digambari. Pemuda itu lalu terlihat membongkar ransel yang disandangnya untuk mengeluarkan semua peralatan yang digunakannya untuk menggambar.

Sementara itu So Eun masih bersembunyi beberapa meter dari tempat Kyu Hyun mulai merencanakan karyanya. Ini adalah kali pertama bagi So Eun mendatangi Kyu Hyun ketika pemuda itu menggambar. Bagaimana kalau Kyu Hyun tak menyukai kehadirannya? Mengingat selama ini dia selalu menggambar sendiri dan bersembunyi dari siapapun itu.

“Tidak. Tidak. Aku datang untuk ini. Setidaknya aku harus mencoba..” So Eun berbisik pada dirinya sendiri. Setelah gadis itu lebih meyakini dirinya dan menghirup nafasnya dengan panjang ia kemudian dengan perlahan keluar dari persembunyiannya. Berjalan pelan menuju dimana Kyu Hyun berada.

Tak lama, Kyu Hyun terlihat menyadari kedatangannya. Pemuda itu tampak menghentikan pekerjaannya dan berbalik ke arah So Eun. So Eun tampak menghentikan langkahnya sedikit kaget. Melambaikan tangannya pada Kyu Hyun dengan kaku.

“Sudah malam. Perempuan tidak boleh diluar.” Kyu Hyun bersuara bak mengeja. Dia lalu kembali memasang maskernya dan kembali sibuk bekerja.

So Eun terdiam. Tapi ia seperti berdejavu seperti beberapa hari yang lalu dimana Kyu Hyun bersikap dingin namun tak menolak kedatangannya sama sekali. Sepertinya keadaannya sama dengan itu. “Besok hari libur, oppa. Jadi aku tidak perlu sekolah. Itu sebabnya aku datang kemari ingin melihatmu menggambar..” jawab So Eun hati-hati sambil berjalan mendekati Kyu Hyun.

“Jangan mendekat!” walau kurang jelas So Eun dapat mendengarnya dari balik masker yang dipakai Kyu Hyun. Hal itu tentu saja membuat So Eun lagi-lagi menghentikan langkahnya takut-takut Kyu Hyun menolaknya. Kyu Hyun lagi-lagi tampak membuka masker di wajahnya. “Tanpa masker bahaya. Nanti masuk hidung.” Katanya tak lama.

“O-Oh..” So Eun lagi-lagi bersuara bak orang kikuk. Namun tak lama dia memeriksa sesuatu di dalam tasnya. “K-Kalau begitu aku melihatnya dari jauh..” kata gadis itu sambil mundur perlahan-lahan. Ia lalu mengetuk kepalanya disaat itu. Merasa menyesal karena dia tak sampai berfikir bahwa kalau ingin melihat Kyu Hyun maka dia harus membawa masker. “A-Aku melihat darisini saja.” Kata So Eun menemukan sebuah batu tempatnya duduk.

Kyu Hyun lagi-lagi tak menyahut. Dia hanya memasang maksernya kembali sambil lanjut menggambar. Sementara So Eun terdiam di tempatnya memperhatikan Kyu Hyun.

Sepanjang malam So Eun menahan dingin dan berusaha untuk tidak tertidur. Selama itu yang gadis itu lakukan adalah duduk di tempat yang sama dan memperhatikan Kyu Hyun melukisi dinding. Cukup betah dengan hal yang terkesan membosankan itu.

Selama ini walaupun yang menarik perhatiannya pertama kali adalah karya-karya indah yang dilukis di dinding-dinding sekitar kompleks namun untuk mala mini justru yang paling menarik perhatiannya adalah pelukisnya. Entah mengapa, di bawah bulan seperti ini ketika Kyu Hyun mempunyai cat semprot di tangannya pemuda itu benar-benar terlihat bersinar. Di bawah cahaya bulan Kyu Hyun seperti mendapatkan dunianya sendiri yang selama ini selalu dikekang di balik tebalnya dinding ruang bawah tanah keluarga-Cho. Seakan mempunyai sayap, Kyu Hyun bahkan terlihat dapat terbang menahtai malam.

Entah seberapa lama So Eun terlarut dalam semuanya hingga So Eun tak menyadari bahwa pagi mulai menjelang. So Eun baru tersadar ketika Kyu Hyun tiba-tiba berhenti bekerja. Ketika So Eun beralih pada dinding yang tadinya polos kini terlihat sebuah gambar yang terlihat familiar baginya.

“Tom and Jerry?” Gumam So Eun sambil berdiri dari tempat duduknya dan mendekati Kyu Hyun. “Woaah..” So Eun bergumam takjub sambil memperhatikan graffiti yang masih basah itu. Kakinya tanpa sadar lebih mendekat, hingga tak berapa lama ia merasakan Kyu Hyun memakaikan sesuatu ke kepalanya. Masker.

“Kubilang kalau tak punya masker tak boleh mendekat. Bandel.” Kyu Hyun mengomel dengan nada sedikit bosan setelah memakaikan masker yang menutupi hampir seluruh wajah itu pada So Eun.

“M-Maaf, oppa..” ucap So Eun samar dari balik masker. Ia cukup kaget dengan perlakuan tiba-tiba Kyu Hyun.

Kyu Hyun tak menyahutinya lagi. Pemuda itu kini tampak beranjak menjauh dari dinding dan berganti menempati posisi So Eun yang tadi. Di tangannya kini terlihat sebuah botol minum yang sepertinya sudah disediakannya. Ia menenggaknya hampir setengah habis. So Eun tampak mendekatinya lagi. Duduk di sampingnya.

“Tapi oppa kenapa hari ini tiba-tiba menggambar Tom and Jerry?”

“Hari ini mendapat buku gambar baru dari ibu. Gambarnya seperti itu.” Jawab Kyu Hyun polos.

“Begitu..” So Eun menganggukkan kepalanya. Kadang So Eun penasaran tentang bagaimana perasaan Lu Han dan Nyonya-Cho yang sebenarnya mengenai situasi yang mereka hadapi tentang Kyu Hyun. Mereka pasti tersiksa walau berusaha menyembunyikannya. So Eun juga penasaran bagaimana perasaan Tuan-Cho yang sebenarnya. Bagaimana mungkin dia tak merasa bersalah sedikitpun melakukan hal seperti ini pada anaknya sendiri.

Larut dalam pemikiran ini lagi membuat So Eun tanpa sadar kembali melamun. Ia baru sadar begitu merasakan sesuatu yang cukup dingin menyentuh dahinya. So Eun tersentak.

“Badanmu panas. Moonglight kau sakit.” Ujar Kyu Hyun yang ternnyata merasai dahi So Eun dengan punggung tangannya. So Eun tentu saja lagi-lagi kaget dengan perlakuan Kyu Hyun yang sering tiba-tiba.

“H-Hum? A-Aku tidak apa-apa..” jawab So Eun gugup.

“Bohong.”

“M-Mungkin sedikit tapi tidak apa-apa. Tidur sedikit akan lebih baik.”

Kyu Hyun tak menyahut lagi. Dia diam entah memikirkan apa sehingga meninggalkan So Eun yang terdiam menatapnya. Penasaran apa yang saat ini Kyu Hyun fikirkan.

Entah beberapa saat semua itu terjadi. Yang jelas, selang beberapa saat So Eun sedikit tersentak begitu mendengar bunyi bip yang pelan dari arah Kyu Hyun. Jam tangan digital miliknya.

“Aku harus pulang!” Kyu Hyun berdiri bak orang panik. Lalu dengan cepat segera kembali menuju ranselnya dan memasukkan semua barang-barang itu kembali ke dalam. Dia juga tak lupa membersihkan sisa-sisa yang ditinggalkannya.

Sementara So Eun juga ikut berdiri. Memperhatikan setiap yang dikerjakan Kyu Hyun dengan masih heran. Sebenarnya siapa yang mengatur jam pulang Kyu Hyun seperti ini? Lalu apa saja peraturan yang dibentuk orang itu untuk Kyu Hyun.

Moonlight ayo pulang!” ajak Kyu Hyun yang tiba-tiba sudah memakai kembali ranselnya. So Eun tersadar, menggangguk.

“Y-Ya..” ujar So Eun sambil mengikuti Kyu Hyun yang sudah berjalan meninggalkan tempat itu.

“Lebih cepat!” seru Kyu Hyun lagi padanya.

“I-Iya..” sahut So Eun sambil mempercepat langkahnya menyusul Kyu Hyun yang pulang dengan tergesa-gesa.

Tak terasa, sebulan sudah So Eun menjalani rutinitasnya untuk menemani Kyu Hyun setiap harinya. Setiap senin sampai kamis So Eun akan mendatangi kamar Kyu Hyun dan bermain bersamanya. Saat ini So Eun sudah memiliki cadangan kunci bawah tanah rumah keluarga-Cho yang diberikan Lu Han padanya sehingga So Eun bisa dengan mudah keluar masuk tanpa sepengetahuan siapapun kecuali Lu Han. Sementara itu setiap Jumat dan sabtu malam So Eun akan menyelinap keluar dari rumahnya untuk menemani Kyu Hyun menggambar. Semuanya lancar sejauh ini dan perlahan Kyu Hyun bisa lebih terbuka padanya.

Mengenai nilai akademikpun hal ini juga cukup membantunya. Setiap berkunjung, walaupun Kyu Hyun selalu merebut pekerjaan rumahnya dan menyelesaikannya sendiri dalam waktu kurang dari lima menit namun So Eun dapat mempelajari semua itu. Setiap malam setelah mengunjungi Kyu Hyun ia akan membuka pekerjaan Kyu Hyun itu kembali dan mempelajarinya sampai ia mengerti. So Eun beruntung karena memang Kyu Hyun memakai cara yang detail sehingga ia lebih mudah memahaminya daripada yang gurunya ajarkan di sekolah.

Ya, hanya dalam sebulan banyak hal yang berubah. Selain hal yang tadi hal yang juga berubah adalah hubungannya dengan Lu Han. Entahlah, So Eun juga tak mengerti apa alasannya namun Lu Han dan dirinya kini tak sedekat dulu. Mereka hanya sering bertatap muka di sekolah dan itupun mereka jarang berbicara atau bercanda seperti sebelum-sebelumnya. Sehingga itu sebabnya begitu sepulang sekolah hari ini Lu Han tiba-tiba menghampiri mejanya So Eun cukup heran juga.

“Apa kau punya waktu? Aku mau bicara.” Begitulah kata Lu Han yang saat itu So Eun angguki. Keduanya lalu berjalan bersama menyusuri koridor sekolah untuk pulang.

“Sepertinya hyung banyak membantumu. Kudengar skormu meningkat pesat.” Ujar Lu Han membuka pembicaraan. Hal itu sebenarnya juga memecah kecanggungan yang entah mengapa juga terjadi antara mereka.

“Begitulah. Kyu Hyun-oppa sangat pintar. Dia banyak membantuku.” Sahut So Eun sambil tersenyum pada sahabatnya. Lu Han tampak ikut tersenyum, walau senyumannya terkesan tipis.

“Baguslah.”

Hening kembali dalam beberapa saat. Hal itu membuat So Eun yang kali ini berinisiatif memulai pembicaraan.

“Jadi apa yang mau kau sampaikan padaku? Apa ini berhubungan dengan Kyu Hyun-oppa?”

“Apa sekarang kita harus berbicara kalau itu hanya berhubungan dengan Kyu Hyun-hyung?”

“Huh?” So Eun menyahut tak mengerti. Apalagi ketika sekilas kilatan mata Lu Han yang berbeda ketika ia mengatakan hal itu. Namun itu hanya sekilas, sebelum Lu Han mengalihkan pandangannya dari So Eun dan melirik ke arah lain. “Ada apa, Lu Han?” Tanya So Eun bingung. Rasanya ia tak cukup pintar untuk menebak teka-teki sikap Lu Han saat ini. Ia ingin tahu apa yang ingin dikatakan pemuda itu padanya.

“Kurasa aku..” Lu Han menyela rendah sambil masih menundukkan kepalanya. “Menyukaimu..” sambungnya tak lama sambil kali ini beralih menatap So Eun. Hal itu tentu saja membuat So Eun kaget, tak menyangka hal itu adalah yang selanjutnya keluar dari mulut Lu Han.

“A-Apa?”

“Dari awal aku tak ingin menjadi teman atau sahabatmu. Aku mau menjadi pacarmu..”

“L-Lu Han.. kenapa tiba-tiba?” So Eun menyahut agak kikuk. Masih sedikit kurang yakin dengan apa yang didengarnya saat ini. “K-Kau tidak sedang bercanda, bukan?” katanya tersenyum canggung.

“Ini tidak tiba-tiba. Sebenarnya sudah lama aku merasakannya, bahkan sebelum kau datang. Lebih tepatnya ketika aku melihat fotomu pertama kalinya ketika ayahmu datang ke rumahku. Sejujurnya aku hanya menunggu waktu mengatakannya namun.. semuanya berantakkan begitu saja karena belakangan ini kau lebih banyak dengan Kyu Hyun-hyung.” Lu Han berkata serius.

“Lu Han..”

Lu Han menghentikan langkahnya tiba-tiba, menghadap So Eun. Tindakannya membuat suasana jadi lebih aneh bagi So Eun. Terasa kurang nyaman entah mengapa. So Eun bahkan tidak berani menatap mata Lu Han yang menatapnya panjang entah berarti apa.

“Kenapa kau terlihat tidak terlalu menyukainya? Kau tahu, seluruh gadis di sekolah ini pasti akan sangat senang kalau aku mengungkapkan perasaan pada mereka. Bahkan mungkin, seluruh gadis di korea akan menyukainya karena mereka tahu aku adalah pewaris satu-satunya grup terbesar di Negara ini. Aku juga tampan, aku pintar dan berpendidikan, tapi kenapa kau tak bersikap seperti mereka ketika kubilang aku menyukaimu?” Nada bicara Lu Han entah mengapa berubah begitu saja. Ucapannya mengandung kemarahan, emosi, atau entahlah So Eun juga tak punya waktu untuk menalarkannya saat ini. Dia masih belum bisa mencerna semua yang Lu Han lakukan padanya hari ini secara tiba-tiba.

“Lu Han kenapa kau tiba-tiba seperti ini?” Tanya So Eun tiba-tiba. Namun bukannya sahutan, So Eun malah mendapatkan sentuhan kedua tangan Lu Han dibahunya. Dimana tak lama Lu Han mendorongnya untuk disudutkan pada dinding kelas di belakangnya. “Lu Han..” So Eun berseru kaget.

Awalnya ia berfikir bahwa Lu Han akan melakukan hal yang macam-macam padanya. Namun ternyata Lu Han hanya lagi-lagi menatapnya walaupun tatapannya terkesan lebih tajam dari sebelumnya. Ia terlihat serius dan bahkan terlihat marah.

“Apa itu karena kau menyukai orang lain. Tidak, apakah ini karena Kyu Hyun-hyung? So Eun, kau menyukai hyungku?” Tanya Lu Han serius. Terus menatap mata So Eun dalam dan tajam.

So Eun terdiam. Otaknya entah mengapa tak bisa mencerna jawaban itu. Dia bahkan tanpa sadar mengalihkan pandangannya dari Lu Han. Disaat itu, ia merasakan pegangan Lu Han dibahunya melonggar dan terlepas.

“Sudah kuduga.” Ujar pemuda itu singkat. Hanya itu, karena selanjutanya Lu Han segera meninggalkan tempat itu tanpa mengatakan apapun lagi. Meninggalkan So Eun yang menatap punggungnya dan larut dalam pemikirannya sendiri.

Setelah pembicaraan itu seharian ini So Eun terus larut memikirkan pembicaraannya dengan Lu Han. Banyak hal yang sungguh membuatnya bingung dalam beberapa saat mulai dari perasaan Lu Han padanya hingga perasaan dirinya sendiri. Mengenai pertanyaan Lu Han tadi, benarkah ia menyukai Kyu Hyun? Kenapa tadi dia tak mampu menyahuti pertanyaan Lu Han tentang perasaannya pada pemuda penderita autisme itu?

Sejak awal So Eun mengakui bahwa ia memang sangat ingin dekat dengan Kyu Hyun sampai tahap bersikeras pada Lu Han. Namun setahunya semua itu ia lakukan karena ia sangat penasaran dengan pemuda itu. Lagipula sejak awal yang menarik perhatiannya adalah karya-karya Kyu Hyun dimana seharusnya So Eun tidak menyukai pemuda itu dengan arti yang lain. Tapi mengapa semuanya tak diungkapkan semudah itu?

Siang ini So Eun lagi-lagi menyelinap ke kamar Kyu Hyun di bawah tanah dengan masih membawa semua fikiran ini. Namun begitu ia membuka pintu kamar Kyu Hyun, langkahnya terhenti begitu menemukan pemuda itu tengah tertidur.

So Eun menghela nafas pelan sambil lebih memasuki kamar. Ia meletakkan tas yang disandangnya di salah satu kursi yang terletak disana lalu berjalan mendekati pemuda itu.

Benarkah aku menyukainya?

Pertanyaan itu berputar kembali ketika ia menatap wajah Kyu Hyun ketika tertidur. Walaupun dengan kondisi tangan yang masih terbelenggu, ia tetap terlihat damai dalam tidurnya. Dengkuran halus terdengar, bersama dengan alur nafasnya yang juga teratur sehingga membuat dada pemuda itu naik dan turun.

Tampan. Dicoba dengan cara apapun tidak ada yang bisa menepis fakta tersebut. So Eun terus berfikir kalau saja Kyu Hyun bukanlah seorang penderita autis ia pasti adalah tipe laki-laki sempurna yang disukai oleh semua gadis. Karena tentu saja selain wajah tampan dan fakta bahwa ia kaya, Kyu Hyun memiliki banyak talenta dan jenius. Singkat kata dia adalah pemuda yang sempurna.

Apa yang kukatakan?

So Eun tersadar, menarik jemarinya yang entah sejak kapan menyentuh wajah Kyu Hyun. Gadis itu menelan ludahnya, merasakan ada yang aneh kembali menjalari tubuhnya. Rasa panas di wajahnya dan debaran jantungnya yang meningkat. Perasaan yang sama yang sering ia rasakan ketika bersama Kyu Hyun belakangan ini.

Apa?

So Eun reflek berdiri. Ia menyentuh dadanya dan lagi-lagi menatap Kyu Hyun. Entah apa yang selanjutnya ia fikirkan namun tak lama ia tampak menggelengkan kepalanya. Sebelum dengan tergesa mengambil barang-barangnya kembali dan meninggalkan tempat itu.

A-Apa ini? Apa aku benar-benar menyukainya?

So Eun berbaring gelisah. Ia terus berusaha memejamkan matanya dan tertidur namun semuanya menjadi sia-sia. Dia tak bisa tidur, bahkan memejamkan matapun ia merasa enggan. So Eun gelisah. Sesuatu difikirannya mendesak untuk dipecahkan malam ini dan tak mengijinkannya untuk bermimpi.

Apa aku menyukai Kyu Hyun-oppa?

Pertanyaan itu mengitari fikirannya lagi. Mulai terdengar membosankan, namun tetap saja tidak mengurangi rasa penasaran dalam dirinya. Ketika ia tadi mengunjungi Kyu Hyun dan mulai merasakan ada yang aneh pada dirinya ia sedikitnya mulai mendapatkan petunjuk. Namun masalahnya adalah..

Tidak mungkin. Dia bukan sama sekali kriteriaku selama ini.

Ya, sejak dulu ia selalu memilih Won Bin sebagai idola dan laki-laki idamannya. Lihat, bagaimana mungkin Won Bin bisa tiba-tiba menjadi Kyu Hyun. Mereka jelas berbeda, seperti langit dan bumi.

Namun kenapa aku berdebar berada di dekatnya?

Ya, yang disukainya sejak awal adalah karyanya dimana itu diikuti oleh rasa penasaran dengan sosoknya yang misterius. Apapun itu, sebesar apapun sensasinya, namun So Eun percaya itu tak seharusnya membuat tubuhnya berubah suhu begitu ketika bersama Kyu Hyun. Jadi hanya ada satu jawaban untuk itu semua. So Eun pasti benar-benar menyukainya.

Tapi… Tapi… dia adalah orang yang seperti itu. Sejujurnya, aku tak yakin..

Disini, disinilah semua seperti tersendat. Sepertinya inilah yang membuat So Eun gelisah setelah kembali dari tempat Kyu Hyun lagi. Semua itu bukan lagi mengenai bagaimana perasaannya lagi, namun lebih kepada siapa yang disukainya.

Ayo saling terbuka, walau seberapa So Eun selama ini mengagumi wajah, kepintaran, talenta, dan bahkan karya-karya Kyu Hyun. Walau seberapa sering dia mengatakan bahwa ia mendekati sempurna namun pada kenyataannya tetaplah sama. Laki-laki bernama Kyu Hyun adalah seorang penderita autis. Sejujurnya So Eun tak yakin apakah menyukai orang seperti Kyu Hyun adalah hal yang tepat atau tidak…

Sementara diluar rumahnya tanpa ia sadari Kyu Hyun berdiri melirik jendela kamarnya yang bercahaya temaram. Pemuda itu menatapnya bingung dan penasaran, sebelum pada akhirnya membawa langkahnya meninggalkan tempat itu menuju lokasi dimana malam ini dia bisa menggambar.

“Kau kenapa lagi, So Eun? Kenapa lagi-lagi kau terlihat lesu. Padahal selama sebulan ini ayah sudah lega karena kau tidak lagi protes..” ucap Tuan-Kim begitu ia membawa mobilnya keluar dari perkarangan rumah mereka. Hari ini seperti biasanya mantan direktur di daegu itu terlebih dahulu mengantarkan putrinya sekolah sebelum berangkat bekerja di kantornya sekarang ini, Cho-Corp.

“Aku tak apa-apa..” putrinya Kim So Eun menyahut tak bersemangat. Saat ini ia kembali pada hobinya yang terduduk lesu dengan pandangan yang terlihat tak ada gairah sama sekali. Ya, menurutnya mungkin hal seperti ini adalah salah satu hobi putrinya yang memang memiliki sikap cuek ini. Ia cukup bersyukur karena hampir sebulan ini dia terlihat lebih ‘hidup’ namun hari ini dia kembali ke hobi tak sehatnya ini dan sejujurnya ini membuatnya risau.

“Kau tak terlihat tidak apa-apa..” pancing ayahnya tak menyerah. Namun ia lagi-lagi hanya mendapatkan sahutan yang sama.

“Aku sungguh-sungguh tidak apa-apa..”

Tuan-Kim tersenyum, melirik sekilas putri tunggalnya itu. Walau sedikit tak sedap dipandang namun ia selalu berfikir bahwa So Eun terlihat lucu setiap kali terlihat malas tak bersemangat seperti ini. Itu sebabnya ia sering sekali merayu putri kesayangannya ini.

“Biasanya seorang gadis berubah moodnya begini karena masalah percintaan..” pancingnya lagi. Dimana kali ini berhasil membuat So Eun melirik padanya sedikit kaget. Ekspresi wajahnya berubah, Tuan-Kim menyadarinya.

“A-Apa yang ayah katakan? Ayah sok tahu.” So Eun menyahut gugup. Sementara senyuman Tuan-Kim malah semakin lebar mendengar reaksi itu.

“Oh, jadi memang benar-benar soal cinta.”

“Aku bilang tidak sama sekali!” So Eun berseru tak mau kalah, sedikit berteriak emosi kini. Namun tak lama So Eun mengalihkan wajahnya dan menghela nafasnya. Sepertinya ia mulai sadar kalau ayahnya ini tengah berusaha memancingnya. “Tch, sudahlah. Aku tidak akan mau membicarakan ini lagi..” ujarnya datar sambil semakin cemberut. Tuan-Kim kali ini terkekeh.

“Semoga kalian bisa menyelesaikan secepatnya. Kuharap Lu Han tidak membuatmu kesal lama-lama..”

So Eun tiba-tiba melirik ayahnya itu lagi kini. “L-Lu Han?” tanyanya kaget. Gilirannya yang melirik putrinya itu bingung kini.

“Ya, Lu Han. Memang siapa lagi? Kudengar dari ibumu kau hampir setiap hari bermain ke rumahnya..”

So Eun terdiam, tak menyahuti lagi. Benar, walau selama ini yang ditemuinya Kyu Hyun tetap saja orang tua atau siapapun itu menganggap ia tengah bertemu dengan Lu Han. Semua itu tentu saja karena hanya Lu Han yang mereka tahu sebagai anak di rumah keluarga-Cho itu, hanya Lu Han pewaris tunggal perusahaan itu, hanya Lu Han yang mereka sadari ada. Mereka sama sekali tak tahu kalau sebenarnya ada yang lainnya, ada anak dan pewaris lainnya disana, ada Kyu Hyun.

Dan… huufft, ini tiba-tiba seperti menambahkan satu beban lainnya di bahunya kini tentang kemungkinannya menyukai Kyu Hyun. Walau bagaimanapun, kalau ia benar-benar sampai menyukai Kyu Hyun semua ini pasti akan sangat sulit mengingat tidak ada yang tahu kehadiran pemuda itu di dunia ini. Bagaimana mungkin kisah cintanya ini bisa berhasil, begitulah yang So Eun fikirkan.

“Apapun itu, ayah harap kalian segera menyelesaikan masalah kalian dan kembali berbaikkan. Itulah yang terbaik.” Ayahnya kembali bersuara. So Eun melirik pada ayahnya sedikit kesal kini.

“Aku bilang aku dan Lu Han hanya berteman..” ucap gadis itu. “Tapi ngomong-ngomong, bukankah ayah bilang kalau aku dilarang pacaran sebelum kuliah. Tapi kenapa tiba-tiba ayah bersikap seperti ini?”

“Karena ayah menyukai Lu Han..” ujar ayahnya sambil tersenyum senang. Sementara So Eun tak mengatakan apapun lagi selain menatap ayahnya dengan tatapan aneh. Hal itu membuat So Eun tidak menyadari ketika mobil itu melewati sebuah karya Kyu Hyun terbaru yang tercipta tadi malam.

Siang ini So Eun lagi-lagi tak menemui Kyu Hyun. Pada awalnya ia sempat bersiap-siap, namun langkahnya berbalik begitu baru saja ia keluar dari rumahnya. Entahlah, dia masih belum siap dengan semua kemungkinan yang selama ini dirisaukannya. Dia takut, mungkin.

Sementara itu Kyu Hyun tampak risau disela kegiatan menggambarnya. Berulang kali ia mengalihkan pandangannya menuju pintu kamarnya namun sama sekali tidak terjadi apapun yang diharapkannya.

So Eun tidak datang lagi.

“So Eun, kemarilah. Ibu membutuhkan bantuanmu!” Seruan Nyonya-Kim memecah keheningan kamarnya sore itu. So Eun yang awalnya tampak bermalas-malasan di kamarnya tampak beranjak menemui wanita yang melahirkannya itu.

“Ada apa?” Tanya So Eun ketika ia sampai di dapur. Dilihatnya ibunya itu tengah sibuk menyiapkan makan malam.

“Tolong belikan ibu beberapa bumbu masakan kesukaan ayahmu, So Eun. Ibu baru menyadari kalau kita kehabisan stok di kulkas.” Jawab ibunya itu sambil tersenyum senang. So Eun tampak menghela nafasnya, namun menganggukkan kepalanya.

“Tunggu sebentar, aku tukar baju dulu.”

Dengan menggunakan sepeda yang sudah cukup lama tak ia gunakan So Eun pergi keluar kompleks perumahan untuk membelikan pesanan ibunya. Minimarket yang dituju memang terletak tak jauh dari pagar komplek sehingga hanya dengan sepeda ia akan sampai salam sepuluh menit.

Ketika So Eun hampir mencapai pagar tiba-tiba saja ia menghentikan kayuhannya. Matanya terpaku menatap tiga karya graffiti baru yang tertulis berjejer di dekat gerbang.

How are you doing, Moonlight?

Are You Okay, Moonlight?

Moonlight, where are you?

Mulutnya bergerak pelan mengeja tulisan-tulisan itu namun sesuatu seperti bergetar di dadanya. So Eun tiba-tiba saja merasa sedih hingga ia nyaris menangis.

“Ini sudah tiga hari..” gumamnya pelan. “Aku merindukankan Kyu Hyun-oppa..”

❤ TBC❤

23 Comments Add yours

  1. Fee mengatakan:

    Akhir.y yg ditunggu muncul jg..
    Karyamu emang selalu keren thor n bs muasin reader,,

    Tmbh rumit aja nih kisah so eun kyuhyun luhan. Blm bs nebak end.y bkln kyk gmna.

    Oke lanjut part slnjt.y

  2. hellolina97 mengatakan:

    sudah kuduga Luhan suka sama Soeun😀 whahahaa, tp kasian ya Luhan krna alasan Soeun datang kerumahnya hanya untuk melihat Kyuhyun ajaa.
    benar2 miris, andai keadaan Kyu tidak seperti itu, dia pasti jadi laki-laki yang hampir mendekati sempurna😦

  3. adelcho mengatakan:

    Keluarga cho kejam juga,kasian kyuhyun.. autis juga manusia. Soeun jangan hanya memandang kepada kekurangan,lihatlah kelebihan pada kyuhyun

  4. HaeNy Choi93 mengatakan:

    Makin seru..
    Entah kenapa kalau kemarin kasihan sama Kyu. Sekarang gantian kasian sama Soeun. Dia juga udah mulai menyukai soeun dari pas pertama dia melihat foto soeun. Bukan saat bertemu pertamakali. Tp ya gak tau juga sama sifat asli Luhan. Tp semoga dia tidak jahat dan membenci kakanya hanya karna gadis yg disukainya menyukai kakaknya..

    Next dulu ah. Hihih

  5. Kim Ra rA mengatakan:

    hmmmm Cinta segitiga antara dua saudara! benar juga akan sulit untuk Sso sama Kyu. karna kyu yang memang tak diketahui orang.

    ayahnya Sso keren anaknya di dukung buat pacaran di Godain malah xixixi~. tapi sayang ayahnya salah alamat.
    kyu juga sepertinya merasa kehilangan karna Sso yang gak datang selama beberapa hari.

  6. meon96 mengatakan:

    So eun emg udh suka sama kyuhyun.. kyaknya kyuhyun jg gt. Seorang kim so eun nolak luhan.. wahhh daebak🙂
    mkin penasaran sma klnjutannya. Gimana kisah so eun and kyuhyun. semoga gak sad ending🙂

  7. YhuliSoeun mengatakan:

    Yahh muncul juga….
    Kshan kyu yah… Trnyata dia anak dri hasil hub. Gelap … :3
    Luhan cemburu ma kyu,, plis smoga luhan gak benci sama kyu gara2 sso suka.y sama kyu… Next …

  8. mayindrianingsih mengatakan:

    huaa benih2 cintaaaa mulai muncull *ciee uyunn eunna
    masi ngarep kalo tau2nya kyuhyun cuma pura2 autis🙂

  9. shafa nazila mengatakan:

    Kasihan kyuhyun, gak bisa dapet kebahagiaan yang seharusnya di beri sama orangtuanya.. Tapi setidaknya ada so eun yang bisa ngehibur dia. Ya udah deh lanjut baca aja ke part end ^^

  10. anna mengatakan:

    Wuaaa soeun jgn mnghindar hny kau yg bs mmbri cahaya&kbhgiaan utk kyu udh sdih aja nie mmbygkn nsib cnt kyusso,,kyu makang bgt hdpny smg aj sso bs nrima kkurangnny dgn tulus shg mrk bs slg mlngkapi

  11. Puspa Kyukyu mengatakan:

    Alhamdullilah udh ada lanjutannyaaa….

    Aigoo senyum gaje gitu liat mereka…
    Syukurnya Puspa bisa banget bayangi Kyuhyun rada autis gitu.. Hehehehe v.v

    Kyuhyun yg autis begitu aja bisa merasakan kerinduan sama Soeun…

    Hmmm..
    Baca lanjutannya… Ahhh

  12. sumpah ending part nya aq juga merasa sedikit nyesek !

    kasihan kyuhyun harus hidup seperti itu ,
    aq pikir Luhan ga sesayang itu sma kyu !

    sso udah mulai beneran cinta sma kyu ,tapi ya wjar sich secara penyandang autis tapi keren bnget ,b

    di tunggu lanjutannya

  13. Rani Annisa mengatakan:

    wah luhan ngungkapin perasaannya ke so eun,, dan kayaknya sih emang so eun suka sama kyuhyun begitupun sebaliknya,, apalagi kyuhyun & so eun saling merindukan…

  14. shaneyida mengatakan:

    Pas tbc nya aye terharu mewek ngeliat grafitti kyu yg inii yg nanyain kebrddaan soeun …, dah 3 hr ntu.. Apkah kali ini soeun akan yakin ma perasaannya k kyu or malah yakin klo persaannya hanya kagum ??? Hmmm mudah3an gejala2 sakit yg d alami soeun bener3 tanda nya klo soeun terserang penyakit berad hhhhe *eoh* penyakit menyukai kyuu maksudnya ¨Ħiii¨¨Ħiii¨¨Ħiii ƪ(˘⌣˘)ʃ•´¯`• ♥ amiiiiiin

    Wah .. Kyu anak yg jenius .. Ni ni kelebihan yg d miliki kyu kdg aye berpikir klo kyu itu kga’ autis cm keadaan yg membuat dia kek gitu *eoh* .. Soeun makin terpana d buatnya ..awalnya krna penasaran ee skg naik level dia terpana ma kepintran kyu ..kyu juga dah terbiasa bermain ma soeun .. Kira3 kyu punya rs cinta ga ya hhhhe … Stelah luhan menyatakan cinta k soeun ..tp soeun ga iso menjawb apa2… Luhan malah iso membaca nya dr mata soeun ..apakah benar klo sso jatuh cinta ma kyu hmmm dan soeun jdi ga yakin mencoba menepis ..dan ga terima jikalu hatinya terpaut ma kyu dg keadaan kyu yg autis terlebih kyu ga d akuin keberadaannya soeun berpikir akan sulit nantinya ..dan agak shock jg mungkin jikalo dia iso menyukai pria autis kek kyu hmmm ..jdi sso mencoba untuk berpikir dg tak mengunjungi kyu tp stelah ngeliat grafity yg kyu buat ntu..apkah soeun akan yakin ma hatinya hmmm …kyu juga mengharap soeun hadir melihatnya apakah itu membuktikan klo kyu juga suka ma soeun hmmmm , meleleh aye klo kyu dh manggil soeun dg sebutan moonlight hhhhii ..berasa manggil aye gitu lo hhhhe * gubrak*😄
    Soeun kek punya jdwal rutin ee ngunjungi kyu ¨Ħiii¨¨Ħiii¨¨Ħiii ƪ(˘⌣˘)ʃ•´¯`• ♥ senin kamis bljr bersma jum at sabtu mereka kencan keluar dg melihat hasil krya kyu cieeeeee … Ni kisah unik bgt tauu :* …mudah2an ada jalan buat kyu di akui d sluruh dunia klo dia bagian kel cho .. , ayah sso kudu thu calon mantunya bukan luhan tp kyu hhhhhe ;;).. Aye tkut lo ngeliat endingnya ..deg3an bingit niii kisah mereka mau d bawa kemana … Kedunia nyata apa kdunia lain *eoh plakk aye d gebuk puput pake wajan gosong* hhhe
    Aye kebanyakan terharu nya melihat kisah mereka .. Apalgi kyu yg kek gitu ..

    Lanjuuuuut ~
    Two thumbs up (y)
    Keep writing ee put :* … Dpat salam put dr miss jingwiin alias miss yesing *eoh* hhhhe nona jongwoon hhhe ;;)

  15. sungyong mengatakan:

    aah sso lagi galau tuh dan itu jga ngefek sama kyu yg kehilangan monlight’y selama beberapa hari. Kapan kyu bisa diterima oleh keluarganya sendiri kasihan banget dia selalu diabaikan.
    Lu han suka sama sso? Waah kayanya bakalan ada cinta segitiga nih.

  16. vaaani mengatakan:

    apa benar kyuppa autis,, autis yg dipaksakankah?
    jenius g2,, kekanakan bukankah krna di buat sdmkian rupa oleh kluarganya dipasung dll

    sso tentukan hatimu
    lama,,, bgt,,, kangen wp putri

  17. park angel mengatakan:

    Wuaaah sso mulai bimbang dgn perasaan nya gegara kyuhyun autis
    Kalau cinta kan seharusnya menerima kekurangan pasangan nya
    Oke, mau lanjut ke part selanjutnya nie
    Keren ceritanya saeng

  18. haekyusso mengatakan:

    Wahhh…makiinnn seruuu!!!!!!
    kyu wlpn pny kekurangan yaitu auitis,tp dia juga pny kelebihan yg luar biasa…
    Wahh…kyu jatuh cinta pada pandangan pertama kyk y sm sso..
    dan hmmm…sso bimbang akan cinta y sm kyu
    sso bnr” suka atau cmn gembar akan lukisan y kyu

  19. AiSparkyu mengatakan:

    Aku ketinggalan,,yng di tnggu akhirnya mncul,,ksian kyu kluarganya kejam..ach pasti luhan suka ma sso ,,andai kyu normal pasti nsibnya gk mnyedihkan

  20. Luthfiangelsso mengatakan:

    Ya ampun aku kyudet bgt masa baru baca nih ff sih serius aku kyudet kyu kyu det bgt deh…

    Masalah perasaan sso aku hisa paham deh dia pasti dilema aku ngerti sso

  21. andri susilowati mengatakan:

    tiap kekurangan pasti ada kelebihan. dan yahh kyuhyun meskipun autis tp dia diberi kelebihan.
    telat baca. huahh.
    berharap perasaan so eun emang perasaab suka ke kyuhyun. krn orang kyk kyuhyun juga wajib dapat cinta dr org lain.
    suka.bgt sm ceritanya thor. kkk

  22. Miani Caledupha mengatakan:

    kyak kelupaan… tengah malam seperti ini baru lanjut baca
    sedih dgan karakter kyuppa. dia anak autis yang diasingkan oleh keluarganya sendiri… untung ada sso tapi belakangan so eunpun menjauhi kyuppa ~dilema berat akan perasaanya
    Cintakah…? atau hanya menyukai lukisan kyuppa aja…?

  23. lilare mengatakan:

    Sedih liat keadaan kyuhyun…smoga sso jadi suka sama kyu dan hubungan mereka berjalan dengan baik…semoga yang terbaik untuk kyuhyun…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s