~ [ThreeShot] The Chosen Mother 1/3~


PhotoGrid_1437362669621

Title       :               The Chosen Mother

Author  :               PrincessClouds/@helloputri228

Genre   :               Romance

Length :               Twoshoot

Rated    :               PG-15

Main     :               Lee Dong Hae – Kim So Eun – Song Dae Han/ Lee Dae Han

Minor   :               Hwang Mi Young/Tiffany – Park Sun Young – Choi Soo Young

Mention:             Jung Soo Yeon – Seo Joo Hyun – Victoria

Recommended Song:    Mother by. Super Junior D&E

Prompter :          Rahmi AngELFs

Note      :               Usia Dae Han (3yo) disesuaikan dengan kebutuhan cerita (6 yo)

Warning:             Typo(s), alur cepat.

*The_Chosen_Mother*

Lee Dong Hae, Direktur tampan yang masih muda itu tampak sedang sibuk bekerja ketika pintu ruangannya terbuka dengan cukup kasar. Ketika ia mengangkat wajahnya mulutnya tampak agak terbuka melihat seseorang yang baru saja masuk yang saat ini berkacak pinggang di hadapannya.

“Tiffany?” panggilnya terkesan ragu. Walau dengan yakin ia dapat mengenali kekasihnya itu namun seorang Hwang Tiffany dengan seluruh tubuh yang bawah kuyup adalah hal yang baru kali ini dilihatnya. “A-Apa yang terjadi?”

“Aku tak tahan lagi, Dong Hae. Aku tak bisa melakukan ini lagi.” Wanita itu berteriak dengan wajah kesal. Ia sama sekali tak peduli walau seluruh bawahan Dong Hae di luar sana mungkin mendengar pekikkannya.

“A-Apa yang terjadi?” Masih tak mengerti Dong Hae bertanya. Namun tak lama seperti ia mendapatkan jawaban itu sendiri. “A-Apa ini karena… Dae Han?” tanyanya kemudian. Tiffany tak menyahut dan hanya mendengus yang membuat Dong Hae menghela nafasnya lebih panjang. “Astaga, maafkan perbuatannya, Fany. Aku akan berbicara dengannya nanti.”

“Ini sudah sangat keterlaluan, Dong Hae. Sudah berapa sering ia melakukan ini. Bahkan sudah terhitung lagi berapa kali dia mengerjaiku dan membuatku malu di depan umum seperti ini?”

“Y-Ya, aku mengerti. Tapi seperti kataku bahwa Dae Han begitu karena—“

“—Karena dia adalah seorang anak yang tak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu sejak ia lahir. Aku mengerti itu Dong Hae, namun… aku juga punya batas kesabaran. Sudah berulang kali aku mencoba dan memakai cara yang kubisa untuk dekat dengannya agar dia mau menerima hubungan kita. Tapi lihat, dia malah seperti terus membenciku.” Tiffany masih berseru dengan emosi. Sementara Dong Hae hanya berdiri di depannya dan mendengarkan apa yang ingin disampaikan gadis itu padanya. Sepertinya itu adalah satu-satunya yang bisa ia lakukan saat ini. “Kurasa kita tak bisa melanjutkan ini, Dong Hae. Kau tahu, sepertinya hubungan kita tak akan berhasil.”

“Fany..” Dong Hae terlihat keberatan. Ia mulai tahu kemana arah pembicaraan ini.

“Dae Han sepertinya tidak akan pernah sampai kapanpun menerima wanita manapun untuk menggantikan ibunya. Selama itu maka tak akan pernah ada tempat untukku – sama seperti mantan kekasihmu yang juga meninggalkanmu untuk alasan yang sama..”

Dong Hae semakin membisu. Ucapan Tiffany membuatnya harus mengingat berulang kali saat dimana satu-persatu wanita yang dipilihnya meninggalkannya dengan cara dan alasan yang sama. Kini Tiffany sepertinya akan memperpanjang daftar tersebut. Hal itu sendiri membuat tubuhnya kaku tiba-tiba karena sepertinya efek itu memberikan rasa tak menyenangkan sendiri dalam dirinya. Sesuatu seperti trauma.

“Jadi kita akhiri saja, Dong Hae. Kurasa aku juga wanita yang ditakdirkan untukmu..” ucap Tiffany yang bahkan terdengar bak degungan di telinga Dong Hae. Sama dengan ketika Tiffany mulai berbalik dan mengatakan sesuatu untuk terakhir kalinya sebelumnya ia membuka pintu dan meninggalkan ruangan itu. “Selamat tinggal Dong Hae. Jaga dirimu..”

Cukup lama Dong Hae terdiam dan membisu sambil menatap pintu ruangannya tersebut sebelum beberapa menit kemudian ia tersadar. Dong Hae tampak menghela nafas sedikit frustasi sambil menyambar ponsel yang terletak di meja dan terlihat menghubungi seseorang.

“Halo pak-Cha, apakah Dae Han bersama anda? Tolong berikan ponsel ini padanya karena saya ingin berbicara dengannya.” Ucap Dong Hae melalui benda canggih itu. Suara dan ekspresinya terlihat marah saat ia bersuara. “Apa? Tidak bersama anda? Bukankah seharusnya anda menjemputnya di sekolah?” kini wajahnya berubah menjadi sedikit bingung. “Melarikan diri setelah mengerjai Tiffany dan anda kehilangan jejaknya..” kini Dong Hae terlihat kaget dan malah sedikit panik. “Ya sudah, tolong tetap mencarinya lalu kabarkan kepada saya bagaimana perkembangan. Terima kasih..”

Dong Hae menutup hubungan singkat itu. Wajahnya yang awalnya terlihat geram dan marah kini berganti menjadi gelisah dan cemas.

Sementara itu di sebuah kompleks taman terlihat seorang bocah berusia sekitar enam tahun berjalan sendirian. Tubuh kecilnya terlihat masih dibalut apik oleh seragam taman kanak-kanak yang dikenakannya sementara sebuah papan nama terlihat apik menggantung di salah bagian dadanya. LEE DAE HAN, nama itulah yang tertera disana.

“Tch, ayah pasti marah..” bocah kecil itu mengomel pelan dengan wajah cemberut. “Kalau aku pulang aku pasti diomeli..”

Bocah kecil itu menghentikan langkahnya tiba-tiba. Ia mengerang sambil cemberut dan menghentakkan kakinya pelan. “Semua ini gara-gara bibi pirang itu. Kenapa dia ingin sekali menjadi ibuku, huh? Akukan sudah punya ibuku sendiri. Walau ibuku sudah meninggal aku tak mau ada yang menggantikannya..” Dae Han merengut, kali ini menengadah menatap langit di atas sana yang terlihat mendung dan tampak bersiap meneteskan hujan. “Andai tuhan tidak mengambil ibuku pasti menyenangkan. Ayah juga pasti tidak akan terlalu sibuk sehingga membuatku kesepian. Dia juga tak perlu lagi pacaran dengan bibi-bibi centil..” Gumamnya pelan dengan wajah sedikit sendu. Bocah kecil itu lalu menurunkan wajahnya dan kembali melanjutkan perjalannya. Wajahnya terlihat cemberut sepanjang waktu.

Tanpa disadarinya sekitar beberapa meter sebuah sepeda tampak melaju kencang ke arahnya. Pengendara sepeda itu tampak seorang gadis yang tampak kesulitan mengendalikan kendaraan.

“Huh, ada apa ini? Kenapa remnya tiba-tiba tak berfungsi?” gadis itu terlihat panik. Berulang kali ia berusaha menekan pedal rem untuk menghentikan laju si roda dua itu. Namun ia malah terus melaju tak terkendali karena jalan ditempuhnya yang menurun. “W-Wah wah, apa yang harus kulakukan? Apa yang harus kulakukan?” tanyanya pada dirinya sendiri dengan sangat panik. Apalagi menyadari kendaraannya yang tetap melaju kencang melewati jalanan taman yang kebetulan menurun. “GAWAT DI DEPAN ADA KOLAM!!” kali ini ia berseru panik ketika ia matanya menangkap sebuah kolam besar yang membentangi taman. Namun ia lebih membesarkan matanya begitu menyadari ada sosok yang mungil yang terlihat berjalan di dekat sana kemana kendaraannya ini akan melaju tak terkendalikan. “YAH ANAK KECIL AWAS DARISANA!!!”

Dae Han yang berjalan menunduk itu tampak mengangkat wajahnya begitu mendengar keributan. Mata kecilnya membesar lucu begitu melihat sebuah kendaraan yang melaju kencang ke arahnya.

“JANGAN BERDIRI DISANA, MINGGIR!” Si gadis berteriak frustasi. Namun karena ia menyadari sudah tak ada waktu akhirnya ia nekat melepas pegangannya pada stir. Dengan cepat ia kemudian melompat menuju bocah tadi untuk menghindari sepedanya yang terus melaju kencang.

BYUR!! Bunyi sebuah benda masuk ke air terdengar. Sementara itu tak jauh darisana terlihat dua tubuh tergeletak di hamparan rumput-rumput taman. Sosok yang bertubuh kecil tampak berada di pelukan yang lebih besar.

Si gadis segera tersadar. Ia duduk dan memeriksa keadaan bocah kecil yang hampir celaka tadi. “Hey adik kecil, kau baik-baik saja?” tanyanya cemas. Matanya membesar begitu melihat salah satu betis si bocah yang mengeluarkan darah. “K-Kau terluka?”

“Huwaaaaa, bodoh. Bagaimana bisa kau bersepeda seenaknya. Sakit tahu… hiks..” bocah itu langsung menangis keras sambil memegangi kakinya. Gadis itu tentu saja kian panik.

“M-Maaf, aku tak sengaja. A-Aku obati..”

“Hiks cepat, bodoh. Bisa-bisa aku kehilangan darah dan mati, tahu!” umpat bocah kecil itu lagi. Si gadis tampak keberatan dengan cara bicaranya, namun ia mengabaikannya karena ia tahu menyelamatkan anak ini lebih penting.

“I-Iya. Naik ke bahuku, ya. Tokoku dekat sini. Aku akan membawamu kesana..” ujarnya. Ia lalu membantu si bocah yang langsung merayap naik ke punggungnya. Dia lalu mulai membawa tubuh yang terhitung ringan itu dengan tubuhnya yang juga masih terasa sedikit sakit dan pegal.

“Tak bisakah kau lebih cepat, bibi? Sakit sekali tahu…” bocah itu kembali mengomel sehingga membuatnya mempercepat langkahnya.

“Baik..”

Toko roti HAPPY YUMMY!! itu terlihat cukup sepi ketika gadis tadi menyerobot masuk ke dalam. Kedatangannya tentu saja mengagetkan si penjaga kasir yang berada di dalam.

“Luna, tolong ambilkan kotak obat!” seru gadis itu pada si kasir. Gadis yang dipanggil Luna itu tampak tersadar dan mengikutinya.

“Baik, unnie!”

Sementara itu kini si gadis tampak bersimpuh demi membantu bocah kecil yang sudah ia dudukkan di salah satu kursi di toko itu. “Tunggu sebentar ya, aku akan mengobatimu. Sini kulihat mana saja yang terluka..” ujar si gadis sambil memeriksa keadaan tubuh mungil itu. Tanpa sengaja ia menyentuh betis yang terluka tadi dengan lengan bajunya sehingga membuat Dae Han tersentak dan menarik kakinya dari pegangan si gadis.

“Pelan-pelan, bodoh. Sakit tahu!!” teriaknya sebal. Gadis itu menghentikan usahanya dan melirik anak kecil itu dengan sedikit kesal.

“Tuan kecil, aku tak tahu berapa usiamu dan seberapa pintarnya dirimu tapi kau tak bisa memanggil orang bodoh seenaknya. Apalagi kalau orang itu lebih tua daripada dirimu..” Decaknya mengomel. Namun bocah itu malah berpaling dengan cuek mendengarnya.

“Kalau itu kenyataannya mau apa lagi..”

Gadis berambut panjang itu mendengus, ia benar-benar merasa sebal dengan sikap seenaknya bocah di depannya ini. Namun ia berusaha mengacuhkannya karena sebaiknya ia mengurus luka yang ia sebabkan dulu ini.

“Terserahlah. Yang penting kita obati kau dulu. Sini aku periksa lagi kali ini aku akan berhati-hati..” ucapnya kemudian. Ia kembali memeriksa bagian tubuh mana saja yang terluka dari tubuh bocah yang ia ketahui bernama Lee Dae Han dari papan namanya itu. Si bocah kali ini tampak tenang dan tak berkomentar lagi sambil mengalihkan pandangannya ke seisi toko itu. “Oiya, namaku Kim So Eun. Aku adalah pemilik toko roti ini. Siapa namamu?”

“Lee Dae Han!”

“Nama yang bagus karena memiliki arti republik. Kalau kau nanti punya adik laki-laki lagi akan lebih bagus kalau namanya Min Guk sehingga arti nama kalian kalau digabung menjadi Republik Korea. Kalau ditambah Man Se juga akan semakin keren karena akhirnya menjadi Republik Korea Hore!!” gadis itu terkekeh dengan ucapannya sendiri. Sementara Dae Han tak menyahut dan hanya menatap ke arahnya datar.

“Bibi, kau terlalu cerewet. Cepat obati lukaku!” celotehnya kesal. So Eun, gadis itu berdecak lagi. Ia ikut melirik kesal bocah itu.

“Aku tak setua itu! Panggil saja aku noona!” protesnya sebal.

“Kau bukan kakak perempuanku.”

“Haissh, terserah kau saja. Kau bocah paling menyebalkan yang pernah kutemui..” So Eun lagi-lagi menyerah dan bangkit dari hadapan Dae Han untuk melihat Luna yang belum kembali. Tak lama memang gadis yang ditunggunya datang. “Terima kasih, Luna.” Katanya setelah menerima pesanannya. Luna tampak hanya tersenyum sambil kembali menuju post kerjanya. Sementara So Eun kembali bersimpuh di dekat kaki Dae Han. “Aku obati kau sekarang..”

“Pelan-pelan. Hati-hati..” peringat Dae Han.

“Iya…”

Cukup hening dalam beberapa saat. So Eun tampak berkonsentrasi untuk mengobati luka bocah kecil itu selembut mungkin sementara Dae Han tampak menahan ringisannya. Hingga,

“ADUH! HATI-HATI SO EUN! SAKIT TAHUUUUU!!!”

“Dae Han belum juga pulang?” Dong Hae tampak begitu kaget menatap dua pelayan rumahnya yang melapor padanya. Baru saja ia datang ke rumah hari ini namun hal ini langsung menyambutnya. “Pak-Cha bagaimana? Apa belum ada khabar darinya?”

“Belum tuan..”

Dong Hae menarik nafas pelan. Ia terlihat frustasi. “Kalau begitu aku akan ikut mencari. Tolong simpan tas kerjaku di kamar, bibi-Hyun..” kata laki-laki itu pada salah satu dari pelayan. Ia kemudian berbalik kembali memasuki mobilnya untuk pergi mencari putranya. Ekspresi khawatir terlihat di wajahnya.

“Tch, kasihan tuan. Di umur segitu dia sudah harus menjadi single parent untuk anaknya yang nakal..” salah satu pelayannya bergumam setelah mobil itu keluar dari perkarangan rumah tersebut. Bibi-Hyun, wanita yang dititipi tas tadi tampak mengangguk setuju.

“Benar, tapi tuan muda-Dae Han juga kasihan. Di umur itu dia hidup tanpa merasakan kasih sayang ibu sedikitpun. Ayahnya juga terlalu sibuk bekerja. Dengan keadaan begini bagaimana mungkin dia bisa berharap putranya mau menerima wanita lain untuk mendampinginya..”

“Benar. Tapi… ngomong-ngomong aku tak menyukai Nona-Tiffany. Menurutku dia terlalu cepat emosi dan tidak sabaran terhadap anak kecil. Aku tak heran kalau tuan muda tidak menyukainya dan terus mengerjainya..”

“Kau benar. Dia contoh yang sama dengan mantan-mantan kekasih tuan sebelumnya. Kukira dalam waktu dekat dia akan meninggalkan tuan karena tidak tahan menghadapi tuan muda.”

“Huh, kali ini yang kasihan adalah tuan. Tch, aku hanya bisa mendoakan semoga suatu saat nanti tuan bisa menemukan wanita yang tepat. Bukan hanya wanita menarik yang seksi, namun juga wanita yang penyabar dan menyayangi anak kecil. Aku berharap semoga ada yang bisa melunakkan hati tuan muda sehingga dia bisa menerima pendamping hidup ayahnya…”

“Aku juga…”

Dua pelayan setengah baya itu sama-sama menghela nafas prihatin, sebelum berbalik dan kembali ke pekerjaan mereka masing-masing.

Saat ini toko roti itu tampak masih sepi. Beberapa meja tampak kosong sehingga menyisakan sekitar sepasang anak muda yang duduk paling sudut dengan saling menyuapi satu sama lain. Sementara itu di sudut lainnya hanya terlihat seorang bocah berseragam TK yang duduk manis sambil menghabiskan beraneka kue yang terhidang di atas mejanya.

Tak lama dari arah dapur keluarlah gadis yang tadi membawa bocah kecil itu. Ia kemudian menghentikan langkahnya di belakang kasir yang tampak terus celingukan memperhatikan si bocah dengan penasaran.

“Apa yang kau lakukan, Luna?” tanyanya. Gadis yang dipanggil langsung tersentak dan melirik ke belakang.

“Tch, kau mengagetkanku unnie. Sejak kapan kau berada di belakangku?” Gadis yang dimaksud balas mengomel. So Eun mengangkat bahu cuek. “Anak itu sebenarnya siapa? Dia sudah berjam-jam disini dan belum juga pulang.”

So Eun menarik nafas. Dia ikut memandang monster kecil yang terus asyik memasukkan makanan manis itu sejak tadi. “Aku juga tak tahu. Tadi ketika kutanya kontak seseorang yang bisa kuhubungi untuk menjemputnya dia tak menjawab. Kutanya alamatnya dimana dia juga tak mau mengatakan apapun..”

“Huh, mungkinkah dia kabur dari rumah?” Luna membesarkan matanya antusias. “Dilihat dari seragamnya dia bersekolah di taman kanak-kanak termahal di Negara ini. Sikapnya juga menyebalkan seperti sikap anak dari keluarga kaya yang terlalu dimanjakan.”

“Kau benar. Dia menyebalkan dan kasar..” So Eun mengangguk setuju, sedikit mendesis sebal mengingat perlakuan si bocah padanya.

“Lalu sekarang kau mau bagaimana, unnie. Apa yang mau kau lakukan padanya?”

“Tak mungkin aku membawa anak yang tak kuketahui identitasnya pulang karena bisa-bisa aku malah dituduh menculik. Sementara meninggalkannya sembarangan juga tidak bagus…” So Eun bergumam sambil berfikir. “Mungkin aku akan mencoba berbicara dengannya untuk membujuknya pulang..” kata So Eun pada akhirnya. Gadis itu kemudian berjalan mendekati bocah kecil itu.

“Kau menyukai roti-rotinya?” Tanya So Eun sambil mengambil posisi duduk di depan Dae Han. Dae Han tak menyahut, dia hanya memberikan tatapan datarnya sambil asyik mengunyah roti. “Kau menyukainya.”

Keduanya terdiam beberapa menit. Hingga akhirnya So Eun kembali mengajaknya bicara. “Tapi Dae Han, kau tak pulang? Ini sudah malam. Orang tuamu pasti khawatir..” ujar So Eun berhati-hati.

“Tidak ada yang akan khawatir. Kalau aku pulang malah mungkin aku dihukum..”

“Kenapa kau dihukum?”

“Bukan urusanmu.”

So Eun langsung mendecak mendengar ucapan itu. Namun ia masih berusaha mengendalikan emosinya. “Apapun masalahmu kau tak seharusnya melakukan seperti ini. Aku berani bertaruh bahwa bahkan ayah dan ibumu tidak lagi memikirkan kesalahanmu itu karena kini mereka sangat khawatir padamu.”

Dae Han tiba-tiba berhenti makan. Bocah itu berdecak dengan wajah sangat sebal dan cemberut. “Kau bibi-bibi cerewet.” Omelnya kesal. “Sini mana ponselmu?”

“K-Kau mau pulang?” So Eun tampak senang. Melupakan ucapan menyebalkan anak itu padanya. “Ini.”

Bocah itu tampak sibuk mengotak-atik ponselnya sejenak lalu menyerahkan kembali pada So Eun. “Ini. Kau jelaskan padanya dan suruh dia menjemputku!” perintah Dae Han seenaknya. So Eun tampak hanya kembali menghela nafas panjang dengan sikap si anak namun ia lagi-lagi memilih mengabaikannya. Semua harus diselesaikan dulu, begitulah fikirnya.

So Eun menghubungi nomor yang diberikan padanya. Ia menunggu beberapa detik sebelum akhirnya panggilannya tersembung.

“Halo?” suara laki-laki yang terdengar lembut namun manly terdengar. So Eun menggigit bibir bawahnya dan bersuara,

“Hum.. halo. Aku…”

Dong Hae terlihat keluar dari mobilnya dengan tergesa-gesa. Ia lalu segera memasuki toko roti dimana ia dengar disanalah putranya saat ini.

“Dae Han!” ia langsung berseru begitu ia menemukan sosok yang dicarinya. Dengan tidak sabar ia mendekat, lalu memeriksa keadaan putranya tersebut. “Kau tak apa-apa?”

Sementara itu So Eun baru juga kembali dari dapur setelah membawakan beberapa kotak kue. Gadis itu tampak segera mendekat ke arah kedua ayah dan anak tersebut.

“Kau tak seharusnya begini, Dae Han. Apa kau tahu bahwa kau membuat semua orang khawatir?” terdengar suara laki-laki tersebut ketika So Eun mendekat. Hingga ketika So Eun menghentikan langkahnya, laki-laki itu menoleh padanya.

Oh tuhan…

So Eun langsung terpana seperti orang bodoh ketika akhirnya dapat melihat wajah ayah Dae Han. Astaga, laki-laki di depannya ini sangat tampan. Awalnya ia mengira bahwa ayah Dae Han mungkin adalah seorang laki-laki yang masih muda dan mungkin tampan. Namun ia sungguh tak menyangka bahwa laki-laki dengan anak umur segini akan jadi semuda ini.

Apa yang kufikirkan..

So Eun tersadar. Namun ia dapat merasakan jantungnya tak berdetak dengan normal seperti fikirannya.

“Itu. Si bodoh itu yang telah menabrakku!” seru Dae Han tak lama. Kedua orang itu langsung menoleh ke arahnya.

“Dae Han, berapa kali harus ayah katakan bahwa kau tak boleh berkata begitu pada orang yang lebih tua darimu.” Dong Hae meperingatkan putranya, lalu menoleh kembali pada So Eun. “Mohon maafkan putraku, nona..”

“U-Um, tidak apa-apa. Lagipula dia ada benarnya. Saya saja yang bodoh sehingga tidak mengemudikan sepeda dengan benar. Kalau saya lebih berhati-hati maka ini tak akan terjadi…” sahut So Eun tak lama. Sekuat hati ia berusaha bersikap normal walau kini suhu tubuhnya benar-benar naik tiba-tiba.

“Itu adalah kecelakaan. Jadi sebaiknya tidak diperpanjang..” Dong Hae tersenyum padanya. Yang mau tak mau tentu saja membuat So Eun semakin canggung tanpa alasan. “Oiya, perkenalkan saya adalah Lee Dong Hae. Ayahnya Dae Han..” ujar Dong Hae sambil mengulurkan tangannya pada So Eun. Beberapa saat So Eun menatap tangan itu, sebelum akhirnya menggerakkan tangannya yang bergetar untuk balas menjabatnya.

“Saya Kim So Eun.” Ujarnya canggung. “Sekali lagi saya ingin meminta maaf tentang apa yang terjadi pada putra anda, tuan. Seharusnya saya lebih berhati-hati sehingga tidak membuatnya terlambat pulang. Sekali lagi maafkan saya, Tuan-Lee Dong Hae.”

“Sudah kukatakan tak apa-apa. Lukanya juga tidak parah dan kulihat sudah diobati sehingga bisa sembuh dalam beberapa hari. Malah saya yang ingin mengucapkan terima kasih pada anda karena telah merawat dan menjaganya. Putraku sedikit nakal, saya tahu bahwa mungkin seharian ini anda telah banyak dibuat repot olehnya..”

“Tidak sama sekali..” ujar So Eun pelan dan terdengar malu-malu. Seharusnya memang, tentu saja seharian ini Dae Han telah banyak menguras emosi dan tenaganya. Namun So Eun tak ingin memperpanjangnya terlebih pada laki-laki ini.

Hey sadarlah! Dia ini suami orang.

So Eun tertegun tiba-tiba. Ia dengan cepat menggelengkan kepalanya setelahnya, mencoba untuk menyadarka dirinya sendiri agar tubuhnya berhenti berdampak berlebihan pada laki-laki ini. Ini benar-benar sudah keterlaluan. Dia bahkan bukan tipe yang seperti ini.

“Ayah, ayo kita pulang. Aku sudah mengantuk.” Rengek Dae Han tak lama. Dong Hae tampak menoleh lagi padanya.

“Tentu, sayang. Tunggu sebentar ya..” Dong Hae tampak mengambil sesuatu dari kantongnya. Dompet.

“T-Tidak perlu, tuan.” So Eun menolaknya cepat. “Semua yang saya berikan pada Dae Han adalah bentuk pertanggung jawaban saya atas apa yang terjadi padanya. Anda tidak perlu membayar..”

“Tapi dia makan terlalu banyak..”

“Tidak apa-apa. Lagipula ini adalahh toko milik saya sendiri jadi anda tidak perlu risau oleh apapun..”

“Begitukah?” Dong Hae terlihat ragu. Sementara So Eun tampak mengangguk dan tersenyum. “Baiklah kalau begitu. Sekali lagi terima kasih, nona..” Dong Hae kali ini tampak mulai membantu Dae Han untuk naik ke punggungnya. Bocah yang tampaknya sudah lelah itu tampak menurut saja karena ia juga sudah terlihat lelah.

“Kalau begitu kami pulang dulu, nona-So Eun. Sekali lagi terima kasih karena telah menjaga Dae Han hari ini..”

“Sama-sama, tuan. Kita masih belum tahu keadaannya karena Dae Han menolak di bawa ke rumah sakit. Tapi nanti kalau memang ada dampak lainnya akibat kejadian ini anda bisa menghubungi saya hum… kesini.” So Eun menyerahkan kartu namanya pada Dong Hae. Dong Hae tersenyum sambil menerimanya.

“Baiklah. Tapi saya yakin ini tidak terlalu fatal. Ya sudah, kalau begitu kami benar-benar pulang. Kami permisi. Selamat malam, nona..”

“Selamat malam. Selamat malam juga, Dae Han.”

“Selamat malam, So Eun.”

“Dae Han.” Dong Hae menoleh pada putranya lagi dengan terganggu. Ia lalu memberikan tatapan tak enak pada So Eun sebelum mulai bergerak meninggalkan tempat itu. Sementara So Eun tampak menatap mereka menjauh hingga sampai mobil mewah itu meninggalkan toko rotinya.

Sampai ia pergi bahkan detak jantungku tidak mereda. Aku tak boleh begini.

Dong Hae sampai di rumah sekitar pukul sepuluh malam dengan Dae Han yang tertidur di bahunya. Laki-laki itu segera menidurkan sang buah hati di kamarnya. Setelah memastikan buah hatinya tertidur dengan nyenyak ia kemudian melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu.

Diluar ruangan ia menangkap seseorang yang berdiri di depan pintu. Ibunya. Dong Hae dapat langsung mengenalinya.

“Ibu belum tidur?” sapa Dong Hae pada wanita yang melahirkannya itu.

“Bagaimana aku bisa tidur kalau kalian belum pulang. Bagaimana Dae Han? Dimana kau menemukannya?”

“Di suatu tempat tak jauh dari sekolahnya. Dia sedikit mengalami kecelakaan sehingga pemilik café itu yang menemaninya.”

“Kecelakaan seperti apa? Apa Dae Han baik-baik saja? Kau tak bawa dia ke dokter?” Nyonya-Lee bertanya sedikit panik. Namun Dong Hae tersenyum dan menggelengkan kepalanya.

“Ibu tak usah khawatir dia tak apa-apa. Hanya ada beberapa gores di tubuhnya dan itupun sudah diobati oleh orang yang menabraknya…”

“Benarkah? Syukurlah kalau begitu..” Nyonya-Lee menghembuskan nafas lega. Mereka hening sesaat sebelum Nyonya-Lee kembali mempunyai sesuatu yang ingin ditanyakannya. “Oiya, bagaimana dengan masalah Tiffany?”

Dong Hae tak lantas menyahut, dia hanya menghela nafas. “Begitulah..” itulah satu-satunya yang ia keluarkan tak lama setelahnya. Nyonya-Lee tampak ikut menghela nafas pelan.

“Aku sungguh tak tahu lagi harus bagaimana, bu. Rasa-rasanya aku sudah mencoba segala cara untuk bisa dekat dengan wanita yang kuperkenalkan padanya. Namun hal yang sama selalu saja terjadi..” Dong Hae bersuara lagi tak lama setelahnya.

“Mungin karena Dae Han belum menemukan yang cocok dengannya..”

“Dia mau yang seperti apa lagi? Bahkan kufikir dia sengaja melakukan semua ini untuk menunjukkan padaku bahwa dia tak akan pernah mengijinkanku menikah lagi dengan siapapun untuk selamanya. Dia tak ingin ada seorangpun yang menggantikan peran Soo Yeon…” Dong Hae menarik nafas panjang. “Sebetulnya, alasan utamaku ibu tahu bukan mengapa aku ingin sekali mencari pengganti Soo Yeon dalam beberapa tahun ini? Aku ingin Dae Han bisa hidup dengan lebih baik dan menerima figur ibu yang tak pernah ia rasakan bahkan sejak ia lahir. Kita tahu sendiri bagaimana Dae Han, dia begitu nakal. Aku yakin itu semua karena ia kekurangan kasih sayang dari seorang wanita. Akupun tak bisa memberikan banyak waktu untuknya karena pekerjaanku..”

Dong Hae menarik nafas panjang. Hampir setiap malam ia memikirkan hal ini, namun perasaan itu masih saja sama. Mungkin karena ia tak juga menemukan solusi setelah bertahun lamanya.

“Menurut ibu aku harus bagaimana?”

Sekitar beberapa hari kemudian langkah kaki itu terlihat kembali membuat jejaknya di toko roti sederhana itu. Bocah mungil itu dengan yakinnya berjalan menuju bagian pemesanan dan mendekati si kasir yang kebetulan tengah melayani seorang pelanggan.

“Beri aku strawberry cake..” suara halusnya terdengar begitu pelanggan tadi beranjak. Tubuh mungil itu tampak kini menempel di etalase yang memajang berbagai jenis roti di dalamnya. Ia menjinjit untuk menopang tinggi badannya yang masih sangat mungil.

Luna tampak sedikit mengintip ke bawah untuk melihat pelanggannya. Matanya sedikit membesar antusias ketika mengenali si bocah. “Huh, kau yang kemaren itu, bukan? Woah kakimu sudah sembuh ya?” Luna menyapanya riang.

“Kubilang berikan strawberry cake padaku..” Dae Han mengulang ucapannya tadi dengan wajah sedikit sebal. Luna terkekeh kecil mendengarnya.

“Baik, ada lagi?”

“Itu saja.”

“Tunggu sebentar. Aku ambilkan..” ujar gadis berusia 22 tahun itu sambil kini mulai sibuk menyiapkan pesananan si pelanggan kecil itu. Sementara Dae Han tampak memperhatikan sekitarnya seperti mencari-cari sesuatu.

“So Eun mana?” tanyanya tak lama. Luna berhenti bekerja dan mengintip lagi padanya.

“Maksudmu manager kami? Hey, mana boleh memanggil orang yang lebih tua darimu begitu saja? Itu tidak sopan tahu..” ucap Luna terkekeh. Namun Dae Han terlihat tak ambil pusing. “Ada. Dia sedang bekerja di belakang. Mau noona panggilkan untukmu?”

“Tidak perlu. Aku hanya bertanya..” Dae Han menjawab acuh. “Mana rotiku tadi?!”

“Iya. Ini aku sudah selesai..” seru Luna setelah ia selesai menyiapkan pesanan Dae Han. Dia lalu menyerahkannya pada bocah mungil itu. “Ini.”

“Woaaahhh…” Dae Han terlihat takjub melihat makanan manis yang sekarang berada di genggamannya. Roti itu memang cukup besar sehingga butuh kedua tangan baginya untuk memegangi makanan manis itu. Tentu saja hal itu membuatnya malah kesulitan mengambil uang yang terletak di dalam sakunya.

“Kenapa? Kau butuh bantuan, adik?” Tanya Luna mengintip lagi mahluk mungil itu dari balik meja kasir.

“Aku bisa sendiri..” Dae Han menyahut keras kepala walau nyatanya ia kesulitan.

“Tapi kau terlihat kesulitan.”

“Tidak sama sekali!”

Luna tampak menarik nafas dan geleng-geleng kepala memandangi bocah keras kepala itu. Hampir saja ia berniat mendekati si bocah untuk membantunya. Namun tiba-tiba ia mendengar suara pintu terbuka di belakangnya. Benar saja, tak lama manager sekaligus pemilik toko roti ini tampak keluar darisana.

“Lee Dae Han, kau disini!” So Eun berseru begitu menyadari kehadiran Dae Han. Ia lalu mendekati si bocah keras kepala yang tak mau dibantu itu.

Unnie, dia kesulitan mengambil uang daritadi. Namun ketika kutawari dia tak mau dibantu..” adu Luna padanya. Dae Han tampak mendengus padanya, masih menolak walau dia bahkan tak bisa menggerakkan satu dari dua tangannya yang menggenggam strawberry cake di kedua tangannya.

“Tak perlu dibayar. Kau bisa mengambilnya.” Ucap So Eun tersenyum lucu melihat tingkah si bocah. Dae Han malah melirik padanya sedikit tajam.

“Aku ini kaya, tahu. Aku bisa bayar!” protesnya.

“Aku tahu. Aku juga tak bermaksud mengatakan kau itu miskin..” So Eun mendengus sambil geleng-geleng kepala pada bocah yang ternyata lebih menyebalkan dari yang ia duga itu. “Tapi orang di belakangmu juga mau membeli roti. Kau tak bisa mengulur waktu lebih lama..”

Dae Han memutar kepalanya dan melirik belakangnya yang ternyata sudah ada tiga orang yang mau memesan. Tapi orang-orang itu terpaksa menunggu karena Dae Han yang betah berdiri di depan counter.

“Aku tak peduli.”

Baik So Eun maupun Luna sama-sama menarik nafas gemas. Mereka memberikan tatapan tak enak pada para pelanggan mereka itu.

“Hum… silahkan anda semua maju saja. Saya akan melayani darisini—“

“— Tidak boleh!” Dae Han memotong ucapan Luna yang berniat mengambil jalan tengah. Bocah itu lagi-lagi menatap Luna tajam dan berusaha mengitimidasi. “Aku duluan.”

“Tapi kau terlalu lama dan mengganggu yang lain.”

“Aku tak peduli.”

So Eun dan Luna lagi-lagi membagi tatapan, sementara ketiga pelanggan itu juga saling bertatapan sebelum sama-sama membalik badan dan meninggalkan tempat itu. Kedua gadis itu lagi-lagi menarik nafas menatap si demon kecil yang tak merasa bersalah sama sekali itu.

Dong Hae segera mengambil ponselnya setelah ia menyelesaikan sebuah rapat penting. Sejujurnya seharian ini ia masih cukup mengkhawatirkan Dae Han karena hari ini adalah hari pertama anaknya itu kembali ke sekolah setelah kecelakaan kecilnya beberapa hari yang lalu. Dong Hae rasa ia perlu menanyakan keselamatan putranya dulu saat ini.

‘Halo, tuan..’ suara Pak-Cha, sopir pribadi yang bertugas mengantar jemput Dae Han langsung terdengar tak lama setelah telefon tersambung.

“Pak, anda ada dimana? Apa Dae Han sudah pulang?”

‘Sudah tuan. Tapi tuan muda tidak langsung pulang ke rumah.’

“Benarkah? Sekarang dia ada dimana? Dia… tidak kabur lagi, bukan?” Tanya Dong Hae terlihat langsung berfirasat buruk mendengar jawaban itu.

‘Tidak sama sekali, tuan. Tuan muda ada bersama saya. Tapi sejak beberapa jam yang lalu beliau ada di toko roti Happy Yummy! yang terletak tak jauh dari sekolah..’

Toko roti yang kemaren?

Dong Hae langsung terdiam begitu mengingatnya. Ada apa dengan Dae Han? Kenapa ia sekarang suka berkunjung kesana? Apakah hanya memang karena ia menyukainya atau ada alasan lain? Dong Hae bukannya tidak suka namun ia cukup aneh karena ini pertama kalinya ia mendengar Dae Han betah di suatu tempat yang bukan rumah. Dae Han juga tak mudah akrab dengan seseorang yang baru dikenalnya sebelumnya. Dia itu tipe anak nakal yang punya hobi mengusili siapapun yang ditemuinya.

Atau… mungkinkah Dae Han…

‘Tapi tuan, hum… saya merasa sedikit tidak enak. Sepertinya di dalam tuan muda membuat masalah. Saya lihat banyak pelanggan yang pulang begitu saja karena ulah tuan muda. Karyawannya tampak kesulitan menghadapinya..’

“Apa?”

“Sekarang semua pelangganku pergi. Apa kau puas sekarang?” So Eun menyindir pelanggan kecilnya dengan sedikit sebal. Dia kali ini duduk di hadapan si bocah yang mulai sibuk melahap roti pesanannya. Seluruh wajah dan pakaiannya tampak ternodai oleh cream strawberry. “Lihat, bahkan kau makan masih berantakkan. Bagaimana bisa kau jadi begitu nakal..” celoteh So Eun sambil menarik sebuah kertas tisu berniat untuk menghapus noda di wajah mungil itu. Namun Dae Han menggeleng dan menghindari jangkauannya.

“Aku bukan anak kecil!” protesnya dengan wajahnya yang bulat. So Eun mendengus.

“Terserah kau, orang sok dewasa yang menyebalkan.”

Kembali hening karena So Eun kali ini tak bicara dan hanya menonton setiap gerakkan Dae Han. Suasana sejujurnya benar-benar sepi karena seakan karena ulah Dae Han tadi tak ada yang mau datang membeli roti lagi sejak 45 menit dia disini. Bahkan Luna kini sudah meninggalkan meja kasir dan mungkin berbincang-bincang dengan koki di belakang.

So Eun kembali menatap Dae Han. Kali ini bibirnya tertarik menjadi senyuman tanpa sadar. Dae Han ini sebenarnya lucu dan menggemaskan, walau kadang nakal namun sebenarnya tak ada alasan untuk kesal lama-lama padanya.

“Mau kuambilkan lagi?” tawar So Eun melihat cake yang membuat sedikit kehebohan di tokonya tadi itu mulai tak bersisa.

“Tidak. Aku kenyang..” Dae Han menghabiskan gigitan lainnya dan menjilati jari-jarinya.

“Kau tak terlihat seperti bocah yang bisa langsung kenyang…” So Eun mencibir. Ia terkekeh mengingat beberapa hari yang lalu Dae Han bahkan menghabiskan banyak kue seperti bocah kelaparan.

“Sudahlah. Aku kesini datang untuk berbicara hal serius denganmu.” Bocah kecil itu mengelap bibirnya dengan tisu. Ekspresinya dibuat serius seperti ekspresi orang dewasa yang ingin mengatakan hal yang penting. So Eun tersenyum lagi, ia malah menahan tawa melihat tingkah bocah itu.

“Bicara soal apa?” laden So Eun masih menahan tawa. Ia menatap Dae Han langsung ke matanya yang sedikit sipit dan mungil.

“Jangan centil sama ayahku.”

“Apa?” Senyuman di bibirnya langsung jatuh. Ia menatap bocah itu dengan wajah sedikit shock. Sementara Dae Han tampak masih memasang wajahnya yang serius. “A-Apa maksudnya?”

“Aku tahu kau naksir ayahku. Malam itu kau terus curi-curi pandang pada ayahku…”

“A-Aku tak curi-curi pandang padanya!” So Eun berusaha membela diri.

“Bohong. Kau terus menatap ayahku dan tersenyum padanya…”

So Eun tergagap, tak tahu harus mengatakan apa. Yang jelas So Eun shock, walau ia tak tahu apa itu karena ucapan terang-terangan Dae Han ataupun fakta bahwa Dae Han mengetahui gerak-geriknya kepada ayahnya. Bukankah itu memalukan? Apa sikapnya malam itu sejelas itu sampai bocah kecil saja menyadarinya?

“Ayah itu milik ibu. Tidak ada yang boleh menggantikannya…” Dae Han melanjutkan kata-katanya lagi. Kali ini So Eun melihat ada cahaya yang beda di matanya ketika mengatakan itu. Marah? Sedih? Entahlah. Yang jelas itu bukan sinar mata usil Dae Han yang dikenalnya.

“T-Tapi aku tak bermaksud begitu. Aku rasa kau salah faham padaku..” So Eun menyahut ragu-ragu. Entah mengapa ia kini takut kalau saja Dae Han salah faham terlalu jauh padanya. “Aku ini gadis yang baik, tahu…”

Dae Han lebih menundukkan kepalanya seperti memikirkan sesuatu. Sepertinya kali ini So Eun dapat merasakan emosi yang dirasakan bocah itu dalam hatinya. Bocah itu terlihat bersedih hati.

“Walaupun ibuku sudah pergi ke sorga, tapi ayah tetap milik ibu. Aku tak mau ada bibi-bibi lain yang merebut ayah dari ibu..”

Pupil mata So Eun kembali terlihat agak membesar, menunjukkan ia kaget untuk kesekian kalinya. Jadi ibu anak ini telah meninggal? So Eun sama sekali tak menyangka dilihat dari caranya overprotective pada ayahnya. Namun difikir-fikir lagi sepertinya sudut hatinya yang lain memahami segala pertanyaannya tentang sikap Dae Han yang selama ini ditunjukkan padanya.

Jadi itulah alasannya…

Hati So Eun tiba-tiba merasa tersentuh begitu menatap bocah kecil itu. Ia merasakan. Tanpa terlalu ia sadari jemarinya tampak gerak menyentuh pucuk kepala Dae Han. Namun tiba-tiba ia menariknya kembali begitu mendengar pintu terbuka dan seseorang datang.

Sosok yang dimaksud adalah orang yang menjadi bahan pembicaraan mereka, ayah Dae Han. Laki-laki itu tampak agak terhenti di ambang pintu karena sepertinya ia sempat menangkap jemari So Eun yang hendak membelai kepala anaknya. Sementara So Eun yang tak terlalu menyangka kedatangan laki-laki itu tentu saja sedikit canggung. Ia segera berdiri dari tempat duduknya.

“S-Selamat datang, tuan..” sapanya masih kikuk sambil membungkuk badan dan memberikan hormat.

“Ayah..” Dae Han tampak ikut menoleh. Sementara Dong Hae masih terdiam, melirik wajah putranya. Sepertinya ia menangkap ekspresi sedih dari putranya itu bersama dengan ekspresi di wajah gadis pemilik toko roti yang bahkan namanya tak terlalu diingatnya itu.

Dong Hae tersadar tak lama. Ia kemudian lebih memasuki ruangan toko yang hanya menyisakan mereka bertiga itu. “Ayah datang menjemputmu. Ayah dengar kau kembali membuat masalah..”

“Aku tidak membuat masalah!” Dae Han menolak cepat. Ia kembali menunjukkan ekspresi wajah yang biasa ditunjukkan lalu beralih pada So Eun. “Iyakan, So Eun?”

“H-Huh..” So Eun tersadar dari pemikirannya sendiri. Ia lalu kembali melirik Dong Hae dengan masih terlihat canggung. “H-Hum.. benar.”

“Tapi kenyataannya sepertinya tak begitu..” Dong Hae melirik toko yang sangat sepi itu. Ia lalu kembali melirik Dae Han. “Juga harus berapa kali ayah melarangmu memanggil orang yang lebih tua dengan panggilan tidak sopan seperti itu? Apa sulitnya memanggil seseorang dengan benar, huh?”

“Iya ayah..” Dae Han merengut. Walau ketika ia melirik So Eun ia diam-diam masih menjulurkan lidahnya kepada So Eun. Namun sepertinya itu tak terlalu memberikan dampak bagi So Eun yang terlihat masih seperti setengah sadar karena pemikiran yang terus mengganggunya saat ini. Dong Hae juga menyadarinya yang membuatnya berasumsi mungkin Dae Han mengatakan sesuatu atau melakukan sesuatu yang keterlaluan kali ini.

Cukup hening dalam beberapa detik. Namun tak lama So Eun terlihat kembali tersadar dan melirik keduanya. Ia kembali agak menyadari sepertinya keduanya menangkapnya melamun.

“Sepertinya Dae Han telah membuat cukup banyak masalah untuk anda. Saya menjadi tidak enak..” Dong Hae kembali membuka pembicaraan. So Eun menggeleng cepat.

“T-Tidak. T-Tidak sama sekali. Dia tak terlalu membuat masalah..”

“Sopir saya melaporkan semua yang terjadi karena ulahnya..” Dong Hae mengalihkan perhatiannya ke sekitar toko. “Saya akan ganti rugi kali ini.”

“U-um… sebenarnya saya tidak mempermasalahkannya sama sekali. Tapi kalau anda ingin seperti itu maka baiklah..” So Eun kali ini mengangguk. “Tunggu sebentar, saya akan panggilkan kasir dulu. Silahkan duduk dulu, tuan..” ujar So Eun mempersilakan laki-laki itu untuk duduk sebelum beranjak menuju pantry untuk memanggil Luna.

Dong Hae menghela nafas setelah kepergian So Eun. Ia melirik putranya itu. “Apa yang kau lakukan kepadanya? Kenapa wajahnya menjadi sedih begitu?” Tanya Dong Hae. Dae Han melirik cepat padanya lalu menggeleng kepalanya kuat.

“Aku tak melakukan apapun.” Tolaknya cepat.

“Dae Han, ayah masih bisa cukup mengerti kalau Dae Han tak menyukai teman-teman perempuan ayah. Tapi Dae Han tidak bisa berbuat usil pada semua orang yang kau temui..”

“Aku benar-benar tak melakukan apapun..” Dae Han tetap bersikeras.

“Kau keras kepala..” Dong Hae mendesis. “Lihat saja, kalau kau terus seperti ini maka setiba di rumah ayah akan menghukummu..”

Wajah Dae Han tampak berubah sedikit ngeri mendengarnya. Bayangan hukuman ayahnya yang tak mau bicara dan mengacuhkannya terbayang di kepalanya. “Aku benar-benar tidak melakukan apapun. Aku hanya ingin membayar roti yang kubeli dengan usahaku sendiri. Tapi orang-orang dewasa itu yang tidak sabar dan meninggalkan tokonya. Itu tidak salahku..” elak Dae Han sambil semakin cemberut.

“Semua orang tidak punya waktu sebanyak dirimu ketika bermain. Kalau tidak bisa, kau seharusnya minta bantuan..”

“Tapi ayah bilang kita harus selalu bekerja keras dan tidak menyerah…”

“Aish, itu urusan lain..” Dong Hae malah terkekeh sambil mengacak rambut Dae Han. “Tch, aku tahu kau mengerti maksudku, jangan berlagak tak tahu. Lain kali kalau ayah dengar kau berbuat begini lagi maka ayah akan menghukummu. Mengerti?”

“Iya, ayah..” Dae Han menyahut pelan dan tanpa bantahan kali ini. Ia tampak cemberut sambil menatap arah pergi So Eun tadi. Kenapa tiba-tiba ayahnya memihak So Eun seperti pacar-pacarnya sebelumnya? Apakah ayahnya juga menyukai So Eun?

“Ayah, apakah ayah juga akan meminta So Eun untuk menjadi ibuku?” Dae Han kali ini memberanikan bertanya. Melirik ayahnya dengan wajah cemberut dan sangat berharap akan sesuatu.

“Apa yang kau katakan?” Dong Hae bertanya bingung.

“Ayah baik kepada So Eun. Apa ayah suka padanya dan ingin menikah dengannya?”

“Apa yang kau katakan? Dasar bocah..” Dong Hae terkekeh lagi sambil mengacak rambut Dae Han. Namun melihat ekspresi wajah penuh harapan Dae Han ia tampak menarik senyumannya itu lagi dan menatapnya serius. “Atau jangan-jangan… apakah hal itu yang kau katakan sehingga wajahnya berubah seperti itu?” Tanya Dong Hae seperti menyadari sesuatu. Dae Han tampak sedikit menunduk mendengarnya, berusaha menyembunyikan. Namun jelas saja Dong Hae menyadarinya. “Astaga. Dae Han, kau tak boleh seperti itu. Itu sangat tidak sopan, kau tahu?”

“Aku hanya memastikan agar So Eun tidak dekat-dekat ayah juga seperti Tiffany, Seo Hyun, Victoria, atau pacar-pacar ayah sebelumnya. Aku tak ingin ada yang mengambil posisi ibu.”

Dong Hae menghela nafas, sedikit bingung akan mengatakan apa. Namun baru saja ia hendak membuka mulutnya lagi tiba-tiba ia mendengar suara pintu yang kembali terbuka. Tak lama So Eun tampak kembali datang bersama seorang karyawan di sampingnya.

“Ayah bicara denganmu lagi nanti..” Dong Hae berbisik sambil lagi-lagi mengacak rambut Dae Han sebelum beranjak ke arah meja kasir. Di depan meja kasir mau tak mau ia harus kembali bertemu pandang dengan So Eun yang berdiri disana. Gadis itu tampak berusaha tersenyum padanya walau terlihat sesuatu di matanya yang Dong Hae tak mengerti apa artinya.

Apa yang sesungguhnya dikatakan Dae Han padanya? Apa Dae Han berbuat kasar dan menyinggung perasaannya?

Wanita paruh baya itu tampak tengah membaca sesuatu ketika mendengar ketukan pintu kamarnya. Ketika pintu itu terbuka, perlahan sosok yang mungil tampak mengintip ragu-ragu ke dalam. Wajahnya terlihat cemberut sementara sebuah bantal terlihat berada di pelukannya.

“Nenek, apa Dae Han boleh tidur dengan nenek?” Tanya bocah itu padanya. Wajahnya terlihat berharapa ketika menanyakannya yang membuatnya terlihat kian menggemaskan. Nyonya besar-Lee tampak tersenyum memandang cucu satu-satunya.

“Tentu. Masuk sini..”

Dae Han tampak langsung memasuki kamar tersebut begitu mendengar persetujuan sang nenek. Dia segera naik ke tempat tidur dan berbaring di sisi neneknya itu. Sementara itu Nyonya-Lee tampak melepas kacamatanya dan bergeser untuk mengusap rambut sang cucu.

“Aku dimarahi lagi oleh ayah..” adunya manja.

“Itu karena kau nakal..” Nyonya-Lee terkekeh sambil mengusap rambut Dae Han. Dae Han tampak semakin cemberut dan semakin merapat pada neneknya.

“Habisnya ayah selalu cari orang untuk mengganti ibu. Aku sering bilang kalau aku tidak mau tapi ayah tak mengerti..”

Nyonya-Lee tersenyum mendengar ucapan polos Dae Han. Di umurnya yang tak lagi muda ia bersyukur bahwa tuhan memberinya umur cukup panjang untuk menemani Dong Hae dan Dae Han. Setelah ditinggal menantunya enam tahun lalu dan suaminya sekitar tiga tahun yang lalu bisa dikatakan hidup mereka tak terlalu baik. Tak terbayang kalau misalnya umurnya tak panjang juga maka apa yang akan terjadi pada keduanya saat ini.

“Tapi ayah melakukan itu semua untukmu, Dae Han. Agar Dae Han bisa punya ibu baru yang akan menjaga dan mencintaimu..”

“Aku sudah punya nenek.”

“Benar, tapi nenek berbeda dengan ibu..”

“Aku sudah punya ibu. Aku tak butuh ibu lagi.”

Nyonya-Lee tersenyum, ia mengecup lembut rambut cucunya yang terlihat mulai sangat berat matanya. “Nenek mengerti. Tapi kaukan tahu bahwa ibumu sudah berada bersama tuhan di surga. Ibumu tak ada disini untuk menemani Dae Han tidur, menemani Dae Han bersekolah, ataupun memasakkan masakan kesukaanmu. Itulah maksud ayah kenapa ayah terus mencarikanmu ibu baru untuk memeberikanmu kasih sayang yang hanya bisa diberikan oleh seorang ibu…”

Dae Han terdiam tak menyahut kali ini. Entah karena dia sudah sangat mengantuk sehingga tak mau lagi memperpanjang ucapan itu atau memang ia tak tahu harus menyahuti dengan apa ucapan neneknya itu. Yang jelas ia hanya semakin merapatkan dirinya kepada neneknya dan menutut kehangatan.

“Tapi kalau kau benar-benar tak mau, nenek mengerti. Selama nenek masih hidup nenek akan memberikan semua yang tak bisa dilakukan ibumu untukmu. Jangan khawatir. Ayahmu tidak akan pernah memaksakan kehendaknya padamu. Nenek akan pastikan agar kau mendapatkan yang terbaik dan yang kau mau..” Nyonya besar-Lee tersenyum sambil mengecup pucuk kepala Dae Han berulang kali. Sebelum akhirnya ia semakin merapatkan selimut untuk menutupi tubuh keduanya.

“Jadi anak-anak, hari ini kita akan menggambar tentang ibu. Kalian semua bisa menggambar wajah ibu di kertas gambarnya masing-masing..” wanita muda itu tampak berseru ceria kepada sekitar tiga puluh murid taman kanak-kanak yang diajarnya. Seruannya tampak seperti pemicu bagi bocah-bocah itu untuk mulai menggambari kertas putih polos milik mereka. Semua murid itu tampak mulai sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Semuanya, kecuali salah satu bocah yang duduk beberapa baris dari depan.

Bocah dengan name tag Lee Dae Han itu tampak bak kebingungan. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan melihat pekerjaan temannya yang tampak bersemangat untuk menggambar. Namun sepertinya hal itu tak cukup membantunya karena Dae Han terlihat kembali melirik kertas gambarnya dengan ekspresi muram.

Wajah ibu seperti apa?

Dae Han menutup matanya berusaha berkonsentrasi mengingat wajah ibunya dari pigura di sudut kamarnya. Namun tak lama dia menghela nafas lagi, tampak menggelengkan kepalanya.

Dae Han tidak ingat…

Bocah itu lagi-lagi terlihat memuram sedih.

“Terima kasih, So Eun. Karena kau telah repot menghantarkan kemari..” Gadis bertubuh tinggi itu tertawa senang pada gadis lainnya yang saat ini duduk di depannya. Di atas meja di antara mereka terlihat sebuah cake yang menggugah selera.

“Repot apanya. Tokoku dekat darisini. Lagipula kau bilang kau tak bisa menjemputnya bukan karena sibuk mengajar..”

“Begitulah..” gadis bernama Choi Soo Young itu tertawa kecil sambil melirik cake di depannya lagi. Sesekali ia bergumam kagum. “Waaah, semuanya menggugah selera. Sepertinya pilihanmu untuk tidak lanjut bekerja dan memutuskan membuka toko kue sendiri memang tepat. Kau berbakat sekali dalam hal ini..” puji Soo Young tak lama. “Kau tahu, kau sudah seharusnya mencari suami dan memiliki anak..”

“Tch, apa hubungannya..” So Eun menggelengkan kepalanya cepat. “Harusnya aku yang mengatakan begitu. Mengingat kau itu setiap hari bertemu dengan anak-anak rasa keibuanmu pasti semakin berkembang. Sejujurnya aku tak menyangka gadis tomboy sepertimu akan berakhir di tempat seperti ini..”

“Kau ada-ada saja…”

Kedua orang gadis itu lagi-lagi saling tertawa satu sama lain. Sebelum akhirnya sebuah bel menghentikannya.

“Maaf So Eun, sepertinya aku tak bisa menemanimu lebih lama. Aku harus segera mengajar..” ucap Soo Young. So Eun mengangguk mengerti.

“Ya. Lagipula aku harus kembali ke toko karena ada sebuah pesanan mendesak sore ini. Kasihan kalau dua orang koki saja yang menanganinya..” ucap So Eun sambil meraih tasnya. “Ya sudah, aku pergi dulu. Nanti malam aku akan menghubungimu lagi, okay…?”

“Sip. Hati-hati di jalan, So Eun…”

“Ya.”

Kedua gadis itu lantas berpisah. Soo Young tampak tinggal disana untuk menyiapkan keperluan mengajarnya sementara So Eun tampak segera melangkah keluar dari ruangan itu. So Eun kini terlihat menyusuri koridor taman kanak-kanak yang terkenal paling mahal se-seoul itu.

So Eun mengingat bahwa sekolah ini seharusnya sama dengan sekolah Dae Han dilihat dari seragam bocah itu tempo hari. So Eun penasaran apa ia bisa bertemu dengan bocah itu setelah pertemuan terakhir mereka seminggu yang lalu.

“Baiklah, sekarang saatnya pulang. Anak-anak silahkan bawa kertas gambarnya ke depan ya…” seru guru muda tadi setelah menunggu sekitar satu jam anak-anak muridnya selesai menggambar.

“Ya ibu guru…”

Keributan kecil kembali terlihat ketika semua murid tampak bangkit dari tempat duduknya untuk mengumpulkan kertas gambar milik mereka. Namun lagi-lagi terlihat salah satu dari mereka yang mencolok tetap duduk di tempat duduknya dan hanya memandang teman-temannya yang berlalu lalang.

“Dae Han, kamu tidak mengumpulkan gambar?” Tanya salah satu teman perempuannya heran. Gadis berkepang dua itu lalu memeriksa kertas gambar Dae Han. “Huh, Dae Han bahkan tidak menggambar apapun..” celotehnya bingung. Ucapannya mengundang perhatian beberapa temannya yang lain.

“Kenapa kamu tidak menggambar apapun? Kamu tidak tahu wajah ibumu seperti apa?” Tanya salah satu bocah laki-laki. Tak lama dia tersenyum usil pada Dae Han. “Atau jangan-jangan kamu tak punya ibu ya, Dae Han?”

“Apa yang kamu katakan Yoo Seok? Mana ada orang yang tidak punya ibu?” gadis berkepang dua tadi kembali menyahut membela Dae Han.

“Lalu kenapa Dae Han tidak bisa menggambar wajah ibunya.”

Ucapan itu tidak lebih panjang ketika Dae Han tiba-tiba menggebrak meja dan berdiri dari tempat duduknya. “Aku juga punya ibu, tahu!” teriaknya pada teman-temannya itu sebelum berlari keluar dari ruangan itu. Hal itu tentu saja membuat heran ibu gurunya yang sejak tadi terlalu sibuk dengan anak lainnya sehingga ia tak menyadari perdebatan kecil antara murid-muridnya yang lain.

“Dae Han!” panggilnya sambil bergerak ke arah pintu berniat mencegah Dae Han pergi. Namun terlambat, karena bocah itu telah melaju jauh hingga ke ujung koridor. Tak beberapa jauh darinya terlihat So Eun yang juga terkejut dengan apa yang baru saja dilihatnya dari balik kaca di luar ruang kelas itu.

Menyelesaikan pelarian kecilnya, kali ini kaki Dae Han tampak menapak kembali di taman yang terletak tak cukup jauh dari sekolahnya. Bocah kecil yang biasanya bersikap nakal dan semuanya itu tampak terlihat rapuh dan begitu sedih. Hingga sepanjang pelariannya tadi air mata terus tumpah di pipinya.

Kali ini disinilah ia, di bawah sebuah pohon yang terletak cukup tersembunyi di depan kolam yang terlatk di tengah-tengah taman. Bocah kecil itu terus terlihat menangis sesegukkan sekitar sepuluh menit sudah ia sampai di tempat itu.

“Ibu… hiks… ibu..” gumamnya lirih sambil terus menangis tak tertahan. Nafasnya terdengar sedikit sesak akibat segukkannya yang terlihat cukup keras dan kencang.

Kenapa tuhan mengambil ibu terlalu cepat? Mengapa ibu mengunjungi tuhan terlalu cepat.

Pemikiran seperti itu terus mengelilingi fikirannya sehingga membuatnya terus menangis dan menangis. Lagipula tak ada yang akan menemukannya disini. Taman ini sepi, adapun tidak ada yang akan menemukan tempat rahasia yang sering dikunjunginya kalau kabur itu.

“Ibu, Dae Han rindu ibu…” ucapnya serak.

Tak lama sebuah langkah dengan hati-hati mendekati si bocah. Kaki yang menggunakan sebuah sandal yang cukup feminim itu tampak kesulitan begitu menginjak rumput-rumput di tanah yang lembut di sekitar kolam. Namun tak lama ia tampak berhasil mencapai tempat di sisi Dae Han.

“Jadi disini kamu bersembunyi? Kakiku menjadi sakit karena mengejarmu..” celoteh So Eun dengan nada pura-pura mengeluh sambil berjongkok di samping Dae Han. Dae Han tampak menyadari kedatangannya. Ia menengadah menatap wanita itu.

“Kenapa kau disini?” tanyanya dengan nada tak suka.

“Untuk menyusulmu..”

“Aku tak mau disusul..” ucap Dae Han sambil membuang wajahnya. Kali ini berusaha menghapus air matanya. Sepertinya kecil-kecil begini Dae Han peduli dengan harga dirinya untuk tidak dilihat orang lain ketika menangis. “Pergi sana.”

“Aku tak mau.”

“Hey..” Dae Han menoleh pada So Eun, berusaha menunjukkan ekspresi marahnya. Namun yang ada So Eun malah semakin sedih melihatnya.

“Kudengar jagoan tidak pernah menangis. Kenapa kau menangis?”

“Aku tak menangis!”

So Eun tersenyum kecil, lalu menganggukkan kepalanya. “Baiklah. Berarti aku tadi salah lihat. Kau tidak menangis..” ujar So Eun tersenyum. “Dae Han, kau mau cake? Ayo ke tokoku dan makan cake sepuasnya seperti waktu itu..” ajak So Eun ceria. Namun Dae Han langsung menggelengkan kepalanya.

“Tak mau.”

“Kenapa? Kemaren kau suka roti-roti di tokoku..” So Eun protes. Kembali pura-pura cemberut. “Kalau begitu bagaimana kalau es krim? Kau suka es krim?”

Dae Han kali ini menoleh tampak sedikit antusias. Namun sepertinya ia masih jual mahal sehingga tak langsung menyahutinya.

“Panas-panas begini es krim enak, tahu? Apalagi kalau sedang sedih. Kau tahu? Ketika aku sangat sedih sehingga aku kadang-kadang menangis biasanya aku membeli es krim. Air mataku langsung berhenti setelah itu.”

“Benarkah? Kau menangis?”

“Tentu saja. Semua orang berhak menangis. Karena kudengar, kalau seseorang tak menangis maka matanya akan kering karena tidak pernah dibasahi. Kudengar dia bisa-bisa tidak bisa melihat lagi untuk selamanya..”

“Benarkah?”

“Benar.” So Eun mengangguk yakin. “Ibuku bilang begitu..”

Senyuman dan sinaran mata senang Dae Han tadi tiba-tiba menghilang dalam sekejap. So Eun sepertinya juga tampak tersadar. Ia menggigit bibir bawahnya gugup. “Uumm… maksudku—“

“—So Eun, apa punya ibu itu menyenangkan?” Dae Han memotong ucapannya tiba-tiba. So Eun terdiam, tak langsung menyahut. Namun hatinya bergetar melihat ekspresi Dae Han saat ini. Dia terlihat begitu menyedihkan dimata So Eun. Oh, betapa inginnya So Eun memeluk bocah ini.

“H-Hum… b-begitulah…” So Eun menggigit bibir bawahnya karena masih bingung akan menjelaskan bagaimana. Dae Han tampak menghembuskan nafas lesu dan menunduk. “T-Tapi punya ayah kan juga menyenangkan? K-Kau tak perlu berkecil hati..” ucap So Eun berusaha kembali menormalkan suasana. Namun Dae Han tampak malah kian murung. So Eun jadi salah tingkah.

“N-Ng, tidak usah difikirkan, Dae Han. Lebih baik sekarang kita keluar dan membeli es krim. Kita lalu menunggu sopirmu di tempatku saja, bagaimana? Ayo?” So Eun menepuk pundak Dae Han untuk bangun. Namun Dae Han tampak masih menantapnya tak bergairah. “Ayolah Dae Han..” ajak So Eun sedikit manja dan memohon. So Eun lalu beranjak bangun dulu untuk membantu Dae Han bergerak darisana. “Ayo, Dae Han..”

Namun tiba-tiba saja Dae Han meraih lengan So Eun ketika gadis itu akan menarik Dae Han untuk berdiri. Dae Han lalu kembali menengadah untuk menatap So Eun. Kali ini menatap langsung ke mata gadis itu.

“So Eun, apa kau mau menjadi ibuku?” Gumam Dae Han tak lama. Hal itu tentu saja membuat So Eun kaget hingga sedikit membesarkan matanya.

“H-Huh?”

❤ TBC❤

Chapter 1 selesai pas malam takbiran, hehe. Dan ini adalah FF request yang terakhir setelah empat bulan nunggak. wkwkw

Siapa yang udah nonton Mv DEVIL? Aku belum karena aku masih terjebak di kampong dengan koneksi internet yang terbatas, haha. Tapi aku sangat excited karena akhirnya bisa lihat Yesung sebagai member Suju lagi… Kudengar MV dan lagunya bagus jadi semoga responnya bisa baik juga. Amin.

Dan kembali aku minta maaf sama Kak Rahmi selaku prompter kalau saja ceritanya ga terlalu sesuai dengan prompt yang dikirimkan. Semoga cerita ini juga ga papa yaaa hehe…

Dan masalah memilih Dae Han sebagai anaknya Dong Hae karena aku paling suka Dae Han diantara para triplets. Walaupun diantara tiga si baby yang cocok dengan karakter ini adalah si Maknae Song Manse namun aku lebih memilih Dae Han karena selain dia faforitku inisial Dong Hae dan Dae Han itu sama jadi akan lebih fix aja kalau Dae Han lah yang jadi anak Dong Hae pada akhirnya.

Juga mengenai usia, walaupun usia aslinya Dae Han itu 3 tahun dan karakter yang diminta kak Rahmi itu usia 10 tahun namun pada akhirnya aku memilih kalau lebih baik Dae Han itu masih berusia di usia kanak-kanak untuk lebih menghidupkan karakternya. Jadi pada akhirnya beginilah ceritanya pada akhirnya. Semoga gak mengecewakan.

Pada akhirnya aku mau ngucapin minal Aidzin buat semuanya. Mohon maaf lahir bathin, dan semoga tahun ini kita semua menjadi orang yang lebih baik lagi. Amiiin ^^

 

48 Comments Add yours

  1. adelcho mengatakan:

    Itu daehan gak sopan amat -_- semoga bisa berubah setelah soeun jdi ibunya

  2. wahyuSsoAngells mengatakan:

    Sumpahh yaa itu Dae han kecil2nya mulut ama klakuan ganas bgt tp lucu sih ngebanyangin dia masang muka datar gtu hhaa 😂😂😂😂
    Bisa2 soeun cpet tua kali yaa klo punya anak kyk dae han gni …tp aku jg setuju klo dia jd ibunya dae han…
    Aku jg paling demen bgt ama dae han anaknya pinter dan ngemesin yaa walaupun adik2nya jg tp gk tau knp yg paling nyantol cuman Dae Han hhee..
    Minal aidzin wal faidzin jg putry maap2 yaa klo ada kata2 yg nyinggung dsengaja ataupun tidak😀
    Okee next partnya ditunggu bgt nih..pnasaran ama jawabannya sso …

  3. AiSparkyu mengatakan:

    Hha lcu thour ska ma krakter dae han dsni dia nkal dan suka usilin smua pcar bang ikan cma dia gk mau pnya bru,,gmes jdinya bncany so soan dewasa emp emp dsar bcah..pnsaran ma reksi sso wktu dia di mnta ma dae han buat jdi ibunya trus gmana jga ma bng dongek,,next thour next

  4. pipip mengatakan:

    Waaah ada ff baru
    castnya haesso
    daehan nakal bnget mngkin emg krna dia btuh kasih sayng seorg ibu ya
    daaan kyknya dia emg gmau ada org yg gntiin ibunya
    soeun krternya dsni ceria bnget jdi klop dgn daehan
    tpi knp tba2 daehan mau soeun jdi ibunya?
    Apa krna dia udh mrsa nyman dgn soeun ya?
    Pnsrn nih dgn next partnya dtnggu eon

  5. narulita rc mengatakan:

    Wah dae han pengen sso jadi ibunya gmna ya tnggapan sso sm donghae nextnya klo bisa cepet ya eon hehehe

  6. elisa mengatakan:

    wah crita unik ,lucu. bed dri.sblmnya karakter sso.unie….
    author thanks udh sllu bekrya ..krya author bgus….
    untuk devil bgus bnget, lucu, tpi vidio pertma d suju yg 17 + ….tpi tetp sukak….
    and minal aizin walfaizin jgk buat author…
    faighting untk next part a….

  7. ticha_ mengatakan:

    huaaaa…….udah lama ga baca ff,,baru buka fb langsung dikasih ff’a haesso,,wkwkwk🙂
    Kasian ama Dae han,yg harus ditinggal sm eomma’a,,,.
    Hm,,,haeppa galau,,anak’a ga mau puny eomma lg…tp tenang,daehan udah berubah pikiran tuh…wkwkwkwk🙂
    Sso liat haeppa ajda tersepona,,apalagi gw…wkwk :v
    Daehan,,pilihan yg tepat bgt klw calon umma itu sso #ciumdaehan :*
    Hm,,,sso bkln jawab apa ya??? Penasaran tingkat tinggi ini,,,
    Hua,,,,putri maav klw br bisa komen yg ini ya,soal’a udah mulai kerja,,jd sibuk’a pake bgt,,,#ceileh,,sokbgt :v
    Putri,,,ff’a selalu keren!!! Daebaaaaaaaak!!!!!
    Ditgg next chapter’a….😀

  8. Vhi mengatakan:

    Bner-bner deh dae han nak kkamu nakal bngett nyebelin kasian kan cabe-cabean nya donghae :p #peace😀 ……. Kira.n donghae blom prnah kawin eehh ternyata durenn coyy,, berpikir daehan adlh anak dri kakanya mngkinn.
    Mninggal nya knpa emng unni😐 kasiann sihh ,, berharap sso yang terbaik bwt donghae,, tpi bkan hanya jdi skedar ibu mngkin bisa donghae jtuh cinta sma sso :D#ngareppp :D:):|

  9. melli ichiro mengatakan:

    daehan sepertinya bikin orang orang sering darah tinggi nich,, penasaran ma kelanjutannykhirnyaa,, apalagi pada scene akhirnya daehan meminta soeun menjadi ibunya,,,, di tunggu ne next partnya

  10. vaaani mengatakan:

    mohon maaf lahir & batin jg put,,,
    huaaaaahahahahaaaa,,, kasian itu tipani,, jd hiburan dae han…. secara si anak tw nya kekasih babehnya hanya akan mggntikan posisi ibunya
    gimana cerita itu haeppa nikah muda ya put????
    wkwkwkwkwk kocak deh pertemuan daehan dan sso,,, hahaha kirain mereka nyemplung kolam,,,,
    wkwkwkwk gak sopan bgt itu manggil klo gak bodoh eh skali tw namanya panggil nya so eun… wkwkwkwk
    balik lg itu bocah dan bwt planggan kabur,, blum mulutnya pedeees,, ampuuuun

    eh kenapa sso jd sedih,, pnasaran ma kisah cintanya sso sendiri

    haha hae sungkan,,,,

    paling sedih ktika moment daehan ma nenek,, moment dy crita sso,, dan moment menggambar ibu,,, dan wowwwwwwwwwwwwwwwwww tbc nya moment daehan melamar langsung so eun jd emaknya,,,, hihihi
    penasaran reaksi haeppa

    aish,,,, kenapa suka bgt sama haessonya putri,,, smua karakter hae pas bgt,,, dewasa,, ceo,,, kebapak an,,,, hihihi
    semoga lekas update part2 nya yak put,,, smpai sso hamil min guk dan manse baby hae selanjutnyaaaaa😀

  11. Esaa mengatakan:

    Wkwk. . . Ngakak liat karakternya Dae Han…
    Usil, keras kepala, tak sopan, dan menyebalkan, haha
    Usia segitu emang lagi lucu-lucunya…

    Aku sih ga masalah pemilihan sosok Dae Han yang aslinya 3 yo jadi 6 yo. Jujur aku tak tau yang mana dia? Baru ketika di akhir sedikit ada pencerahan, hehe ? Triplet Song? Mungkinkah variety Superman Return? (maaf kalo salah :D)

    Dae Han oh Dae Han, tingkahnya sok dewasa sekali. Ketika dia memanggil So Eun tanpa embel-embel apapun, kok aku malah jadi gemes ya? Haha
    Duh jadi pengen nyubitin pipinya, keke
    Aku juga terkejet ketika esoknya Dae Han tiba-tiba dateng lagi ke Happy Yummy, kirain aku dia menyukai So Eun. Eh tak taunya, malah sebaliknya. . .
    Gila…bocah kecil itu ngancem(?) So Eun, wkwk
    Tapi apapun itu, yang penting akhirnya dong. Semoga bocah kecil itu tak berubah pikiran lagi. . .

    Oh ya, Minal Aidzin juga Putri. . .
    Ayo, jangan lama-lama publish chapter 2 nya😉😉😉

  12. Puspa Kyukyu mengatakan:

    Ya Allah..
    Klw Puspa jd Soeun ngadepi anak kya Daehan.. Ntahlah.. Pusapa rada gak sabaran jg sih liat anak kecil nakal banget begitu..
    Sama Soeun jg kurang ajar bangettt… :3 :3 -_- hebat deh jd Soeun anak nakal begini bisa diatasi… (y) (y)

    weeeehhh..
    Si Daehan udh minta Soeun jd Ibunya aja tuh.. O.o
    trusss ntar Soeun gimana ??
    Apa lagi ketahuan jg sma Daehan klw Soeun diawal curi pandang aja ke Donghae…
    Xixixixi

    ditunggu lanjutannya Uni….. ;))
    ASAP neeee…

  13. Luthfiangelsso mengatakan:

    Kalo liat sifat nya dae han malah jadi ke inget sih kyuhyun yaa jgn” nih anaknya kyu lagi #eehhh
    Wahhh hebat dae han malah minta sendiri ke sso untuk jadi ibunya, kira” apa jawaban sso ya ??
    Kalo sso sih dari awal emang udah love love ama sih duda ganteng #lirik donghae, tapi sih abang donghae nya gimana ya perasaan nya ke sso ?
    Gak sabar buat part 2 nya🙂

  14. tesya mengatakan:

    Soeun sabar amat sama daehan -_- tp gmn donghae suka sm soeun di awal aja dia blm ada feel sm sekali. Next nya kilat kakput mohon maaf lahir batin juga😉

  15. mryzulfah mengatakan:

    suka bgt sama cerita kek gini,, dan oh my…. dae han ngingetin bgt sama kiddos sditadza,, nakalnya samaaaa apa lagi lucunya

  16. YhuliiSoeun mengatakan:

    Ahh aku suka crita.y … Daehan usil bgt sih ,, tpi lucu😀
    Suka liat soeun-daehan kalau ktemu,apalg daehan yg manggil soeun cuman nama doang bukan nuuna hahaha.. Aduh sdih jga liat daehan wktu d.suruh gambar wjah ibunya T,T .. Itu daehan ksambet apa tiba2 minta sso jdi ibunya ><

  17. Rani Annisa mengatakan:

    Wah ff baru🙂

    Lucu banget kelakuannya dae han,, walaupun sedikit nggak sopan sama so eun tapi akhirnya dia meminta so eun untuk jadi ibunya,, apa reaksi donghae tau hal itu???

    Next part

  18. anna mengatakan:

    Wuaaa end partny bkin sng daehan bs trsntuh&trhanyut dgn pesona soeun tggl donghae nie,,hayooo lho soeun bkal respon apa nie dgn prmntaan daehan haahaa cute

  19. Miumi mengatakan:

    akhirnya kak putri update juga ☺
    bagus tuh si Daehan nggak ngebolehin Hae nikah sma cwek lain,selain Sso

  20. Azizah mengatakan:

    Nakal & usil banget daehan maklum kurang kasih sayang heheHe… berharap banget Soeun mau jd ibu daehan sekaligus istri jd istri donghae.

  21. hellolina97 mengatakan:

    oowwhh !!
    baru kali ini aku baca ff yg Donghaenya jd duda keren. bahkan sudah punya anak.
    kasian jg sih Donghae, wanita yg dekat dengan dia selalu saja menyerah untuk merebut hati anaknya. tp Donghae selalu mementingkan dae han walaupun pekerjaannya menumpuk.
    -_- ya ampun, dae han emng benar2 bocah kecil yg menjengkelkan sepertinya, untung soeun bisa tahan sama sikap dia yg sok dewasa itu =D
    nah looh, secara langsung dae han minta soeun untuk jd ibunyaaa !!

  22. Kim Ra rA mengatakan:

    Huaaaaaa udah di post yach…. ^_^ hmmmm seperti perkiraan ku ceritanya jadi jauh lebih bagus dan itu tidak lepas dari usaha dan kerja kerasnya putri karyamu memang TOP banget

    Haha karakter Dae han pasti bikin orang di sekitarnya darah tinggi. Sso yang lembut danpenyabar aja masih harus ngurut dada tuh xixi..
    Penasaran nunggu aksi usil lainnya dari Dae han dan gimana reaksi dari si Hot dady saat tahu putranya udah ngelamar anak orang buat di jadiin ema buat dae han…

    Terima kasih banyak putri karna udah membuatkan ff yang keren banget. Minal aidzin juga yach mohon ma’af lahir batin kalau kalau selama saya ngasih koment ada kata kata yang gak enak di baca sama putri

  23. safriyanti mengatakan:

    Ckckckckckc,,,,
    Daehan bnar2 bkin hae pning,,,
    Smua gdis yg dskai hae dtilak,a,,,
    Nah dae han mlah ktmu sso,,,
    Tgkah sso ma dae han sprti spasang tman,,,
    Sso sma skli tak nnggap skap dae han,,,
    Ska ma gaya sso yg gto ma dae han,,,
    Sma2 lucu klo lg bdbat,,
    Gmnana respon sso trhdp prmntaan daa han y tros skap hae gmna

  24. Irnawatyalwi mengatakan:

    Suka bngt dgn ffx, wlpn haesso kali in scanx g bgi2 bxk bhkn hmpir kbrsmaan mrka u br2 g ada tpi smw trobti dgn kbrsamaan sso- dae han n tntu dgn tngkah menyeblKn n kelucuan dae han, suka bngt dgn krktr dae han menjengkLkn tpi ngegemasin, hem sprtix in akn jd ff favorit haesso slnjtx, crtax bnr2 bgus, aigo dae han meminta sso u menjd ibux? Ha dpt d pastikn sso pasti tak dpt menjwbx, wlpn dia sprtix sudh trtarik pd pandgn prtma saat prtma kali brtmu hae oppa, tpi bgmnapun pasti dia kbigungan palg sprtix hae oppa blum trtarik pd sso n mgkn sso bukn tipe wanitax bkhn hae oppa aga lupa dgn nama sso, g sbar dgn klnjtnx sm0ga sgera d post n lbh pnjang lg n tntux sangt brharap haesso moment lbh bxk.

  25. Ayu Chokyulate mengatakan:

    Duh ilah si dae han nakal banget, pantes mantan2 nya donghae pada ga kuat.. sampe diputusin tiffany lagi :v
    Tuh kan akhir nya dae han luluh juga sama so eun, udah deh cocok banget jadi keluarga bahagia…
    Minal aidzin wal faidzin juga yg putri eonni^^

  26. Arita chan mengatakan:

    Daehan nya nakal kalo aku sih gak sabaran sama anak kecil ..😀
    Tapi lucu pas nangis, aku gak terlalu update tentang song triplets jadi gak terlalu tau daehan -_-
    Semangat terus kak!!

  27. Mothisan mengatakan:

    Merindukan kasih sayang seorang ibu dengan mencari perhatian berkelakuan nakal,,,
    Bersikap acuh dingin d luar, namun d dalam rapuh,,,

  28. shaneyida mengatakan:

    Amiiiin untuk doa tahun ini nya😉

    Lucu bingit sii daejun eoh ets sii daehan ..karakternya kuat bgt ..berhasil ngidupin orng2 yg tlah mati hhhhhhe *plakkk aye d gampar puput * ;;) berhasil ngidupin nuansa ni story (y) trus juga soeun cocok jd teman daehan hhhhii
    Sii daejun ini walopun terlihat kek bocah yg kasar tp pd dasrnya engga lo yak..dia cm meng ekspresikan apa yg dirasakannya …dae ini tipe anak yg pinter jd dia lebh suka bertindak drpd memendam .. Hhhhe
    Daehan slalu ngerjain pacar ayah nya ..krna dia kga’ mau punya ibu baruu.. Baginya ibunya yg terbaik walopun dah d sorga ..ga iso nyalahin daehan juga yg jahil.. Hati kecilnya tauu mana perempuan yg tulus ..siii fany kga’ punya magnet sii yak jd ga iso menculik hatinya daehan hhhhe …anak kecil itu perasa nya kuat bgt ..senakal apapun dia punya malakat kecil dihatinya ..nah ketika sang malaikat itu bicara ..maka akan ada sosok yg iso mencuri nya #aye ngomong apaan siii yak kaga’ nyambung banged hhhhha * mau tak hapus d ocehan tp syg jdi abaikan aje yak put ocehan kakk yg gaje hhhha
    Fany ga kuat iman jg jdinya nyerah hhhhi *eoh *
    Donghae ampew ga thu lg mau nyari sosok ibu buat daehan ..hhhii .. Hingga daehan ketmu ma soeun …aye ngakak klo sii daehan manggil soeun dg Nama bukan pake bibi ataw noona hhhhiii. Berasa kek temannya sii soeun hhha trus aye pikir3 mmng cocok sii yak ¨Ħiii¨¨Ħiii¨¨Ħiii ƪ(˘⌣˘)ʃ•´¯`• ♥ *plakk*

    Sikap daehan yg protektif n sok dewasa .. Tp jg sifat anaknya ada jd lengkap sudh kelakuan sii bocah ini
    Dia tahu laga’ soeun yg terpesona ma ayahnya sbelum berlanjut alhasil dia menasehati soeun hhhii ..soeun jd sedih mendengrnya *eoh* sedih krna daehan dia iso mersakan perasaan bocah ini😉

    Ketika dahan lg sedih krna d d bicrakan temannya krna daehan yg iso mengambarkan sosok ibunya ..saat itu kebenaran ada soeun dia tertarik untuk menyusul nya .. Soeun membujuk daehan dg niat yg tuluss ..walopun daehan jual mahal ma soeun tp mungkin dia iso merasakan niat tulus soeun pdnya … Hingga dia kalah bertarung ma soeun hhhii apalgi mungkin dr sekian banyak perempuan yg di lihatnya ..cuma soeun yg tulus n iso mencuri hatinya aye harap begitu yak hhhi …nah lo sii daehan minta soeun jd ibunya …soeun jd shock menddk …apakah soeun mau ?? Hmmm apakah daehan mmeng ingin mersakan kasih syng soeun ?? Hmmm atw msh raguuu , trus apkah hae akan melamr soeun ketika anaknya sudh berbicara ? Ini hal yg langkah ..Hmmm , penasran bingit ma nasib 3 manusia ini kedepan …apa iso saling mengisi ataew saling berkelahi *eoh hhhhe XD*

    Lanjuuut ~
    100 jempol kebo *jempol aye* buat puput (y)
    Ttp smngat ngetik ff nya trus smoga inspirasinya makin ngalir deras ….😉

  29. Devi mengatakan:

    Cerita’a seruuu bangeeeeet,,,,,

    Awal’a sebel bangeeet ma dae han cz gk sopan bangeeet ma eonnie so eun tapi knp sikap dae han bgitu karena kurang kasih sayang ibu yg sudah menunggalkan’a utk selama’a,,,,,,
    Tapi salut bangeeet ma eonnie ao eun yg bgitu sabar menghadapi dae han yg bgitu menyebalkan,,,,,,
    Kira2 eonnie so eun mau menerima tawaran dri dae han utuk menjdi ibu’a ????dan apkah haeppa ad rasa suka ma eonnie so eun dengan sering’a bertemu,,,,
    Jdi penasaran ma kelanjutan’a,d tunggu chingu kelanjutan’a,,,,

  30. Fee mengatakan:

    Pantesnya dae han jd anakny kyuhyun tuh yg punta mulut sama2 tajem.
    Kirain so eun dsinii bkln jd yeoja yg lemah lembut, eh ternyata hiper jg

    Next part ditunggu,,

  31. nurul alfie mengatakan:

    akhirnya nemuin ff kim so eun,ceritanya kereenn. .feelnya dapet bngett. .lanjutt. . .

  32. ninatul mengatakan:

    huwaaaah ffnya seru and fresh.
    kecil-kecil di dae han iseng banget, like this pokoknya.
    aku suka banget ama haesso, donghae disini ayah-able banget hehehe.
    di part akhir ga nyangka kalo dae han bakalan bilang “So Eun, apa kau mau menjadi ibuku?”, hehehe aku kira masuh butuh waktu lama buat dae han nerima so eun. great fff eon.
    eonni ditunggu next partnya yes,
    hwaiting🙂

  33. Mama nikita widiyati mengatakan:

    Wahhhh,author punya tampilan baru nih,keren.minal aidin walfaidin juga….mhn maaf lhr dan batin.ditunggu next partnya…..!!!!

  34. cucancie mengatakan:

    Udah lama banget ga baca ff2 disini lg,pas liat di fb ada notifikasi ada ff baru penasaran pengen tau jalan ceritanya dan ternyata seru,donghae jadi appa muda yg ganteng dan punya anak yg kesepian krn ga punya ibu,dae han nakal krn kesepian,ga nyangka dae han minta so eun jd ibunya,padahal dari yg udh2 dae han selalu nolak klo donghae deket2 sama cwe2,alhasil dae han suka ngerjain cwe2 yg deket sm donghae,penasaran sm next chapter nya kira2 so eun yg emg udh naksir donghae mau ga nerima tawaran dae han..

  35. nuri angelf mengatakan:

    owh.. tampilan wp baru!! hai eonni.. salam kenal.. kalo dilihat”” part selanjutnya giliran so eun sama donghae nih yang pdkt.. kk nungu bgt part itu.. sempet mikir bukannya dae han itu umurnya baru 3 thnnan yah? kok ngomongnya bisa lancar bgt ehh ternyata disini dibuat umur 6thn toh.. okeh nextnya jgn lama2 yah eon..🙂

  36. AngelFish mengatakan:

    haaaaaa omaigatttts … Jadi selama ini, daehan itu anaknya donghae ? -_-
    sumpah banget daehan bikin gemes plus nyebelin deh😀
    soeun sabar aja yah ngadepin anak satu ini, maklum lah bapaknya ganteng abbieeessss😀
    ditunggu sekali lanjutan haesso nya cungiiiee :*
    yang kemaren sempet di bohongin kalau nggak ada donghae soeun huuuuhhh :p

  37. andri susilowati mengatakan:

    maaf thor baru sempet baca. lama gak nongol di sini. kkk
    hahaha. sumpah koplak bgt ngbayangin tingkah anak kecil yg kayak gitu. sudah aku pites pites klo ada anak kayak gitu.
    kkk sabar ya so eun sabar. haha daehan manis kok kayak bapaknya.
    suka suka sekali thorr. itu daehan ngomong kayak gitu emang sengaja dr lubuk paling dalam apa emang mau ngejahilin so eun.? wkwkwk lucu aja nanti klo dia cuma mancing so eun biar so eun melayang kepedean. hahaha.
    bagus bagus bgt thor. semoga endingya bahagia. daehan bisa berubah mnjadi lbh baik. dan haesso bisa nikah. kkk amin.

  38. meon96 mengatakan:

    Annyeong eon,, sebelumnya minal aidzin wal faidzin ya🙂
    Ff nya keren eon, akhirnya ada ff baru yg cast nya haesso udh kgen bgt sma couple itu. Ihhh daehan kmu jdi anak kok lucu ngt sih😀 jdi pgen cubit pipimu😀
    Wahh so eun eunnie diminta jdi ibunya, kira2 mau gak ya? mau aja lah.😀
    Penasarn sma klnjutnnya.. ditunggu klnjutannya eon.. jgn lama2.. hehhehe🙂😀
    Fighting!!!!!!

  39. yehaesso mengatakan:

    rasanya pengen cubit itu anak, nakal banget, aah daehan

  40. luky mengatakan:

    ya ampuun dae han… kecil” sombongnya minta ampun.
    haeppa , luh dpt anak kya gitu drimna sih ? nakal, sombong , sok dewasa. ckckc… sabar yah oppa ngadepin anak kya gitu.
    waah dae han ngerasa nyaman nih sma sso, mna dia minta sso jdi ibunya lgi. daebak..
    ditunggu lnjtnya eon…

  41. Annisa Rahmadiah mengatakan:

    hhhmmm..
    ko daehan bisa sih minta so eun buat jadi eommanya?? padahal kana daehan kan ga suka sama pacar pacarnya donghae yang dulu..
    apa daehan ada alesannya ya minta so eun untuk jadi ibunya..

    dan kira kira gimana ya responnya donghae kalo nanti daehan minta donghae untuk membuat so eun menjadi eommanya..
    bakal disetujuin atau gimanakah??

    next ya thor, fighting..

  42. Miani Caledupha mengatakan:

    kekekekeke itu dae han lucu amat, nakal, cerewet jga sok dewasa ah pokoknya suka anak yang begini…
    dae han selalu menolak dgan mengerjai setiap wanita kandidiat yg akan menjadi ibunya begitupun dengan orang lain seperti so eun misalnya bahkan pada wanita yang satu itu _so eun_ dae han tak sungkan memanggilnya dgan sebutan nama #tidak sopan.
    eh tapi sekarang malah melamar so eun untuk jadi ibunya #dasar anak-anak.

    penasaran dengan jawaban so eun juga kira-kira seperti apa reaksi donghae jika mengetahui hal ini…
    next ditunggu

  43. lilare mengatakan:

    Aduhhh gemes deh liat tingkah dae han ternyata dy begitu karena ia membutuhkan sosok ibu jadi sedih…T_T, omo dae han mnta sso jadi ibunya???penasaran apa tanggapan sso ditunggu lanjutannya Thor..^^

  44. Deborah sally mengatakan:

    Keren! Daehan nya bikin gemes. Kelakuannya cocok dengan Kyuhyun :3

  45. yuliaseptiani mengatakan:

    chapter awal dh keren banget kayak gini ^^
    aigooooo tu daehan gak sopan banget kalau ktemu anak kecil kayak gtu pengn ta cubit wkwkwk entahah bisa sabar atau nggk😀
    kasian juga liat daehan yang dh d tinggaln sama ibu ny dari pas dia lahir😥
    ciiiieee yang tersepona sama duren ckckck sso liat hae ampe dag dig dug gitu ~kkkkk
    nah lho itu daehan seriuuss mau jadi’n sso ibu ny ???

  46. milamil mengatakan:

    wahh this is really nice story kak pokonya aku suka banget fanfic yg ada daehannya dan daehan disini lucu super duper nakal banget kak tapi sedih juga ibunya daehan udah meninggal😥 tapi tapi untungnya disini ada soeun, wah daehan juga pengen soeun jadi ibunya dan soeun kayanya udah mulai suka sama donghae yaaa alias love at first sight kkkk , btw i’m new reader kak🙂 ijinin ya buat baca chap chap selanjutnya thanks kakak

  47. ammy5217 mengatakan:

    Hea jd hot daddy pasti keren bgt hehe..
    Deahan ko tiba2 mau so eun jd mommy nya??jd penasaran cerita selanjutnya…izin next ya thor n slm kenal 😊

  48. ama_kyu's koswara mengatakan:

    Itu dae han nakal bgt ya….hehehe…
    Ceritanya lucu gmn kelanjutannya yaaa???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s