~ [TwoShot] The Chosen Mother 2/3~


PhotoGrid_1437362669621Title       :               The Chosen Mother

Author  :               PrincessClouds/@helloputri228

Genre   :               Romance

Length :               Threeshoot

Rated    :               PG-15

Main     :               Lee Dong Hae – Kim So Eun – Song Dae Han/ Lee Dae Han

Minor   :               Hwang Mi Young/Tiffany – Park Sun Young – Choi Soo Young

Mention:             Jung Soo Yeon – Seo Joo Hyun – Victoria

Recommended Song:    Mother by. Super Junior D&E

Prompter :          Rahmi AngELFs

Note      :               Usia Dae Han (3yo) disesuaikan dengan kebutuhan cerita (6 yo)

Warning:             Typo(s), alur cepat.

“N-Ng, tidak usah difikirkan, Dae Han. Lebih baik sekarang kita keluar dan membeli es krim. Kita lalu menunggu sopirmu di tempatku saja, bagaimana? Ayo?” So Eun menepuk pundak Dae Han untuk bangun. Namun Dae Han tampak masih menantapnya tak bergairah. “Ayolah Dae Han..” ajak So Eun sedikit manja dan memohon. So Eun lalu beranjak bangun dulu untuk membantu Dae Han bergerak darisana. “Ayo, Dae Han..”

Namun tiba-tiba saja Dae Han meraih lengan So Eun ketika gadis itu akan menarik Dae Han untuk berdiri. Dae Han lalu kembali menengadah untuk menatap So Eun. Kali ini menatap langsung ke mata gadis itu.

“So Eun, apa kau mau menjadi ibuku?” Gumam Dae Han tak lama. Hal itu tentu saja membuat So Eun kaget hingga sedikit membesarkan matanya.

“H-Huh?”

*The_Chosen_Mother*

Wanita setengah baya itu tampak tengah sibuk dengan bunga-bunga di tamannya ketika suara teriakan yang familiar terdengar. Hal itu membuat ia menghentikan pekerjaannya dan menoleh ke arah sosok mungil yang saat ini berlari ke arahnya.

“Nenek!!” teriak Dae Han menghentikan langkahnya begitu ia sudah berdiri di depan Nyonya besar-Lee. Pangeran kecil itu terlihat berusaha mengendalikan nafasnya yang tersengal akibat berlari kini.

“Ada apa Dae Han? Kenapa berlari?” Tanya sang nyonya sedikit khawatir. Ia tampak berjongkok untuk menyesuaikan tingginya dengan Dae Han dan mengusap lembut punggung sang cucu.

“Nenek, Dae Han sudah menemukannya…” Dae Han tampak masih berusaha mengendalikan nafasnya. Namun saat ini terlihat senyuman ceria di wajahnya.

“Apa yang Dae Han temukan?”

“Ibu..”

“Ibu?” Nyonya-Lee tampak heran. Ia mengangkat alisnya tak mengerti.

“Seseorang yang bisa menggantikan posisi ibu yang sudah tenang di surga. Seperti yang sering nenek bilang, ibu yang akan membuat masakan untuk Dae Han, memandikan, dan mengantarkan Dae Han ke sekolah. Ibu yang bisa.. wajahnya Dae Han gambar di kelas prakarya sekolah..”

Sang nenek tampak masih tak mengerti dan berusaha mencerna setiap ucapan Dae Han itu. Ia masih belum mengerti ditambah ucapan Dae Han yang tak terlalu jelas karena nafasnya yang masih tersengal ataupun karena dia berbicara terlalu semangat dan cepat.

“Ayo, ikut. Dae Han akan tunjukkan..” Dae Han meraih tangannya dan berusaha menariknya. Nyonya-Lee tampak masih ragu.

“Kita akan kemana?”

“Ayo bertemu So Eun. Aku ingin memperkenalkannya pada nenek..” ujarnya bersemangat. Pada akhirnya wanita itu tampak hanya menurut mengikuti rasa penasaran dan herannya akan maksud ucapan Dae Han yang tiba-tiba.

Di tempat kerjanya So Eun terlihat tak terlalu fokus bekerja. Bagaimana tidak, fikirannya kini sedang diambil alih oleh bocah yang bernama Dae Han yang baru beberapa hari dikenalnya. So Eun penasaran ada apa dengan anak itu ketika terakhir mereka bertemu tadi.

Semuanya berawal dari ketidaksengajaanya bertemu lagi dengan bocah itu ketika ia mengunjungi temannya. Saat itu So Eun melihat bagaimana bocah itu bersedih hati diejek teman-temannya karena ia tak bisa menggambar wajah ibunya sendiri. So Eun kasihan padanya, tentu saja, karena walau seberapa kasarnya anak itu padanya So Eun tetap tak pernah sekalipun membencinya. Tentu ia tak tega membiarkannya sendirian ketika bersedih seperti tadi.

Setelah pelarian yang lumayan singkat pada akhirnya ia berhasil menemukan bocah itu. Saat itu karena kasihan padanya seperti biasa So Eun berusaha menghibur anak itu sebisanya. Ia rasa ia cukup berhasil, karena bocah itu sempat berhenti menangis dan tertarik dengan tawarannya yang hendak membelikannya es krim. Namun tanpa sengaja So Eun malah mengatakan sesuatu yang tak seharusnya ia ucapkan. Hal yang tentu saja membuat bocah itu kembali sedih dan terdiam.

Maaf. So Eun sempat mengucapkan kata itu, lalu ia kembali berusaha ceria untuk menghibur anak itu dan membawanya darisana. Namun tiba-tiba saja bocah itu malah mengatakan sesuatu yang membuatnya kaget.

So Eun, apa kau mau menjadi ibuku?

Ah, sial. Bahkan ucapan it uterus terngiang di telinganya. Karena tentu saja itu adalah salah satu ucapan paling mengagetkan yang pernah ia dengar seumur hidup. Apalagi kalau kata-kata itu keluar dari bocah yang sama yang beberapa hari sebelumnya mengancamnya untuk tidak mendekati ayahnya. Apa maksud bocah itu sebenarnya?

Namun tentu saja, tentu saja anak itu bercanda. So Eun harusnya menebaknya. Karena tak lama setelah mengagetkan So Eun dengan ucapan itu bocah kecil itu langsung berdiri dan berlari meninggalkannya sendiri di taman. Alhasil, tinggalah ia kebingungan dan kefikiran terus dengan ucapan bocah nakal itu.

“Tch, apa yang kufikirkan..” So Eun tersadar dari lamunannya. Gadis yang saat ini tengah mengelap kaca tokonya itu tampak menggelengkan kepalanya kuat demi berusaha mengusir pemikiran yang seakan mulai bersarang diotaknya itu. “Anak itu pasti bercanda. Dia pasti hanya mempermainkanku seperti biasanya. Heh, memang apa yang aku harapkan..” ucapnya tertawa sinis menertawainya sendiri. Namun tak lama ia terdiam kembali ketika ucapan itu melintasi otaknya lagi.

“Tapi kenapa aku tak bisa melupakan kata-katanya? Apakah aku berharap khabar itu benar? Tch, aku pasti sudah benar-benar gila..” So Eun merengek lagi bak orang gila yang bicara sendiri. Kali ini ia menempelkan dahinya pada kaca yang tengah dibersihkannya dan mengantuk-antukannya pelan. “Benar. Aku akui kalau Tuan-Lee Dong Hae itu tampan. Aku bahkan terpesona ketika pertama melihatnya dan gugup ketika berdekatannya. Tapi apa yang bisa kuharapkan? Aku tak mungkin berharap untuk mendekatinya sampai bermimpi menjadi istrinya segala, bukan? Aku bukan orang seperti itu…” keluhnya pelan dan masih uring-uringan.

“Tapi kenapa ini tak bisa pergi dari fikiranku. Aaaargghh, bocah nakal itu diberi makan apa sih oleh orang tuanya? Kenapa dia seakan mengetahui setiap tindak tanduk dan kelemahanku begini. Tccch, aku menyesal mengenalnya…”

Dan Manager muda kita terus uring-uringan samba sekali mengantuk-antukkan kepalanya.

“Seperti kataku, dia bodohkan nenek..” kata seorang bocah yang tanpa ia sadari berada di dalam mobil yang berdiri di depan toko rotinya. Bersama dengan neneknya, bocah itu ternyata telah memperhatikannya sejak tadi.

Sang nenek yang ditanya tampak terkekeh. Sepertinya dia cukup terhibur dengan apa yang dilihatnya didepan sana dan celotehan cucunya. “Tidak. Menurut nenek dia lucu, juga cantik… Jadi dia adalah pemilik toko roti? Dia pasti sangat pintar membuat kue.”

“Nenek benar. Kuenya itu enak. Paling enak yang pernah Dae Han rasakan?”

“Benarkah? Pantas kau menyukainya…”.

“Nenek bagaimana? Apa nenek menyukai So Eun untuk menjadi ibuku?”

Nyonya besar-Lee tertawa kecil sambil memandang So Eun yang masih sibuk bicara sendiri ditengah kegiatannya membersihkan kaca. Ia memperhatikan dandanan gadis itu dari atas dan bawah. “Dilihat dari dandanannya dan fakta bahwa Dae Han menyukainya, sepertinya dia adalah wanita yang nenek kira paling cocok dengan ayahmu dan menjadi ibumu. Dia juga pintar membuat kue, Dae Han bilang dia tak pernah marah walaupun sering mengomel. Sempurna. Nenek rasa memang dia yang paling cocok..”

“Benarkan? Benarkan?” Dae Han terlihat ikut bersemangat dengan jawaban neneknya. Namun tak lama bocah itu kembali terlihat lesu. “Tapi.. bagaimana dengan ayah? Bagaimana kalau ayah tidak setuju dan menyukai So Eun? Ayahkan sukanya pada bibi-bibi cerewet dengan wajah putih seperti badut jepang. Bagaimana kalau ayah tidak mau menikah dengan So Eun?”

“Hum… benar juga.” Wanita tua itu tampak mengangguk dan berfikir sejenak. Namun sesaat dia tampak tersenyum. “Tenang saja. Kita bisa mengaturnya?”

“Kita bisa?” Dae Han tampak bersemangat lagi. “Iya! Kita pasti bisa!!” teriak Dae Han sangat bersemangat.

“Hum… tapi bagaimana caranya ya?” neneknya Dae Han terdiam, berusaha memikirkan sesuatu. Dae Han juga terlihat ikut berfikir.

“Dae Han punya ide!” Dae Han berseru bersemangat tak lama sehingga membuat neneknya itu menoleh padanya. Dae Han lalu segera meminta neneknya mendekat karena dia ingin membisikkan sesuatu. “Dae Han pernah lihat di TV kalau…”

Dae Han tampak serius menerangkan sesuatu pada neneknya yang mendengarkan secara seksama. Senyuman terlihat di wajah Nyonya besar-Lee tak lama. Sepertinya dia juga mendapatkan ide karena ide Dae Han.

“Bagaimana nenek?” Tanya Dae Han tak lama setelahnya.

“Sip bos. Nenek akan membantumu. Untuk kali ini serahkan pada nenek..”

Keduanya high five. Lalu setelah itu si nenek langsung turun dan membawa langkahnya ke arah toko kue bernama Happy Yummy! itu.

So Eun baru saja hendak kembali meluruskan fikirannya kembali ketika terdengar suara pintu terbuka. Hal itu tentu saja membuat So Eun segera menoleh ke arah pintu. Ada seorang wanita yang sudah dikatakan berumur memasuki toko.

“M-Mohon maaf nyonya, tapi hari ini kami tidak—“

Ucapannya terhenti ketika wanita itu terbatuk keras. Bahkan tubuhnya tampak hampir tumbang karena sempat hampir kehilangan keseimbangan. Hal itu membuat So Eun meletakkan semua barang ditangannya dan mendekatinya.

“Nenek, anda tidak apa-apa?” Tanya So Eun resah sambil membantu sang nenek. So Eun kemudian membawanya untuk duduk di salah satu bangku.

“Tidak….aku tak apa-apa.” Wanita itu berbicara kesusahan akibat batuknya. “Tapi benarkan kalian tidak buka hari ini?” wanita tua itu melihat kesekitar toko yang sangat sepi.

“Begitulah, nyonya. Ada sedikit masalah yang dialami salah satu karyawan kami sehingga kami memutuskan untuk tidak buka hari ini. T-Tapi kalau anda memang ingin sesuatu, saya akan buatkan..”

“Tidak.. tidak.. bahkan aku tak nafsu makan.” Wanita itu menyahut cepat. Kini nadanya tampak malah sedih sehingga membuat So Eun penasaran. “Bagaimana aku bisa makan dengan keadaan ini.” Sambungnya tampak murung.

“Anda sedang dalam masalah?” So Eun bertanya hati-hati.

Wanita itu tak menjawab. Dia hanya sedikit menggerakkan pandangannya kepada So Eun. Menatapnya dengan cukup serius. “Apa mungkin anda mau membantuku, nona?” Tanya wanita itu kemudian.

Dong Hae terlihat sedikit gelisah. Duda tampan itu terlihat menimang-nimang ponsel di tangannya, terlihat ragu untuk menghubungi seseorang. Setelah mendapat sedikit keyakinan akhirnya ia mencoba untuk menghubungi. Namun ia lagi-lagi menghela nafas karena tak mendapatkan jawaban yang diinginkan.

“Bahkan Tiffany sudah tidak mau menjawab panggilanku. Apa dia benar-benar marah?” laki-laki itu bergumam pelan. Akhirnya ia menyerah, menyandarkan tubuhnya sepenuhnya pada sandaran kursi. Helaan nafasnya terdengar berat.

Dong Hae membuka matanya, membiarkan matanya menjelajahi ukiran-ukiran yang menghiasi loteng ruangan kerjanya. Helaan nafas berat kembali terdengar bersamaan dengan decakan yang terdengar pelan.

“Aku harus tahu ini. Pada akhirnya akan terus seperti ini. Dae Han mungkin memang tidak akan pernah menerima satu wanitapun lagi dalam kehidupan kami. Aku mungkin harus berhenti.” ia bergumam pelan. Lagi-lagi dia menghela nafas berat sambil kali ini memejamkan kedua matanya. Namun tak lama kembali terbuka ketika benda di depannya berdering.

Dong Hae bergerak untuk menjangkau benda itu. Sedikit dalam hati ia berharap kalau orang itu adalah Tiffany, namun tak lama harapannya itu pupus begitu nama ibunya lah yang terdaftar di layar.

“Ya bu?” sahutnya bak tak bersemangat.

Dimana kau Dong Hae?’

“Tentu saja di kantor. Ada apa? Apa Dae Han… membuat masalah lagi?”

‘Tidak. Kaulah yang membuat masalah.’ Suara ibunya berubah bak mengomel. Nada yang sudah lama tak didengarnya karena memang ia sudah sangat dewasa untuk diomeli dengan nada seperti itu. ’Apa yang kau lakukan? Bagaimana kau melupakan hari apa ini?’

Dong Hae mengerutkan dahinya. Hari ini sepertinya bukan hari yang bagus untuknya bermain teka-teki dengan ibunya. Lagipula hari apa memangnya? Dia ingat betul ini bukan ulangtahun ibunya atau ayahnya atau Dae Han. Begitupun hari ulang tahun pernikahan keduanya ataupun hari pernikahannya dengan mantan istrinya. Lalu hari apa? Bukankah hanya hari itu yang besar di keluarga mereka kalau hari kematian ayahnya dan istrinya juga dihitung? Dan hari inipun juga bukan keduanya.

Kau tak ingatkan?’ ibunya menyerangnya lagi. ‘Kau keterlaluan..’

“Baik, bu. Aku minta maaf karena aku sungguh tidak tahu hari besar apa yang ibu maksud. Jadi tolong beritahu aku.” Dong Hae menyerah pada akhirnya.

Hari ini adalah hari pertama ibu dan ayahmu berkencan.’

Ekspresi wajah Dong Hae berubah seperti dia merasa terganggu. Ada apa dengan ibunya ini? Dia bukan tipe wanita yang seperti ini sebelumnya. Juga bagaimana mungkin dia bisa tahu itu. Mendengarnya saja baru kali ini selama 28 tahun dia lahir ke dunia.

Tapi satu hal yang dia tahu benar soal ibunya kalau dia sudah begini. Dia pasti menginginkan sesuatu dari Dong Hae saat ini juga. Huh, kadang ibunya bahkan sama saja dengan Dae Han.

“Baiklah. Lalu, apa yang ibu rencanakan di peringatan hari pertama kencan ibu dan ayah yang entah ke berapa tahun ini? Ibu ingin merayakannya begitu? Ibu ingin mengadakan pesta atau apa? Aku bingung karena ini pertama kalinya aku mendengar ibu berkata aneh begini selama aku hidup di dunia ini.”

Ya, ibu ingin makan malam untuk merayakannya. Kita semua datang. Kau, ibu, dan Dae Han..’

“Ibu aku–”

Ibu ingin jam sepuluh malam ini. Di Fancy Restauran langganan kita. Bagaimana?’

Dong Hae memegangi kepalanya yang pusing tiba-tiba. Lagi-lagi dia menarik nafas. “Haruskah?”

‘Tentu saja. Itulah keinginan terbesar ibu tahun ini. Kita tak tahu tahun depan ibu masih berumur panjang dan bisa merayakannya, bukan?’

“Ibu..” Dong Hae mendesah dengan nafas berat. Dia semakin tahu kalau ucapan ini tak bisa dibantah kalau ibunya sudah bicara begini. “Baik. Jam sepuluh di Fancy Restoran. Aku akan datang.” Putusnya kemudian. Memilih jalan tercepat dan teraman menurutnya.

Bagusss. Kau memang putra kesayangan ibu. Ibu akan membuat reservasi dan mempersiapkan semuanya. Jadi kau hanya perlu datang tepat waktu, oke?’

“Ya. Ibu.”

Jam sepuluh kurang sepuluh menit mobil Dong Hae sudah berhenti tepat di depan restoran kelas satu itu. Pemuda itu tampak segera turun. Agak aneh karena menemukan karpet merah berada di bawah kakinya.

“Apa mereka merubah service penyambutan tamu mereka?” Tanya Dong Hae bingung. Tapi dia memilih tak peduli dan semakin masuk ke dalam. Di depan pintu dilihatnya seorang laki-laki dengan jas rapi sudah berdiri sambil ditemani dua wanita berpakaian pelayan.

“Apa anda adalah tuan-Lee Dong Hae? Kami sudah menunggu anda, tuan? Silahkan masuk.”

Dong Hae memperhatikan sekitarnya dengan aneh. Perasaannya mulai campur aduk dan curiga. Apa yang direncanakan ibunya sebenarnya?

Namun dia tetap masuk ke dalam dan dia langsung kaget di depan pintu. Karena restoran yang setahunya memiliki cukup banyak meja itu kini hanya menyisakan satu meja di tengah-tengah. Lampu-lampu dimatikan, menyisakan ratusan lilin yang menuntun ke arah meja yang di bawahnya beralaskan lantai terbuat dari kaca itu. Terlihat beberapa ekor ikan berenang kian kemari di kolam renang yang berada di bawahnya. Yang lebih aneh adalah suara alunan biola yang terdengar di seisi ruangan yang bak menyambut kedatangannya.

Jangan bilang ibu menyewa seisi restoran? Tch, aku susah payah mencari uang dan beliau menghabiskannya dengan hal-hal seperti ini?

“Silahkan, tuan.” Kata laki-laki yang dia cukup hapal adalah manager restoran ini. Dong Hae melirik padanya.

“Keluargaku sudah datang?”

“Belum tuan. Mungkin sebentar lagi.”

Dong Hae menyerah. Apapun yang diinginkan ibunya maka dia akan melakukannya malam ini. Lagipula apa gunanya juga untuk menarik diri toh semuanya sudah terjadi. Nikmati sajalah. Begitulah fikirnya.

“Anda mau memesan tuan?” Tanya laki-laki tadi dengan nada ramahnya.

“Tidak. Aku menunggu keluargaku saja.”

Dengan itu laki-laki dan pelayannya tadi undur diri. Meninggalkan Dong Hae dengan beberapa pelayan lainnya yang setia berdiri di di belakangnya. Menyingkirkan rasa sedikit tidak nyamannya Dong Hae memilih mencari-cari ponselnya. Berniat untuk menghubungi keluarganya dan menanyakan sudah sampai dimana mereka saat ini.

Ketika ia baru hendak menghubungi keluarganya tiba-tiba dia mendengar suara ujung sepatu mendekat ke arahnya. Suara high heels, Dong Hae cukup hapal, menggema cukup cepat seperti pemiliknya tengah berlari dan tergesa-gesa. Bak slow-motion Dong Hae mengangkat wajahnya.

“Hhhhhh, maafkan saya, tuan. Saya terlambat.” Wanita yang mala mini mengenakan gaun merah sewarna darah itu bersuara. Suaranya tak asing bagi Dong Hae. Dan ketika dia melihat lebih jelas ketika cahaya lilin menerpanya, Dong Hae terlihat kaget…

“Nona-Kim?” panggil Dong Hae tak percaya.

Wanita yang bahkan belum selesai menormalkan deru nafasnya itu ikut melirik ketika nama depannya dipanggil. Wajahnya juga tak kalah kaget begitu melihat wajah orang yang duduk di hadapannya saat ini.

“T-Tuan.. Lee Dong Hae?”

Sementara di kamarnya si mungil Dae Han tampak tengah duduk di atas tempat tidur ditemani oleh beberapa album foto. Iris matanya yang hitam kecokelatan tampak menatap takjub lembaran demi lembaran yang menunjukkan potret wanita yang melahirkannya itu.

“Ibu, apakah ibu akan marah padaku kalau aku meminta So Eun untuk menjadi ibuku?” tanyanya polos. Jari-jari mungilnya tampak menyentuh wajah yang tersenyum disana. “Ibu tersenyum. Berarti ibu tidak marah..” putusnya polos.

“Apa ibu marah kalau So Eun menikah dengan ayah?” Dia membalikkan lembaran foto itu lagi. Lagi-lagi ia mendapatkan sebuah foto dengan wajah senyuman disana. “Ibu tidak marah.” Dae Han ikut tersenyum.

“Ibu, So Eun sangat baik. Walaupun dia sedikit bodoh tapi dia tidak pemarah seperti bibi-bibi pirang ayah. So Eun pintar memasak. Kuenya juga sangat enak. Dae Han yakin dia bisa menjaga Dae Han dengan baik..” Dae Han kembali bercerita dengan nada polos pada potret-potret bisu ibunya. “Hari ini Dae Han membuat ayah dan So Eun makan bersama. Kata tante-tante di TV, laki-laki dan perempuan akan saling menyukai bila mereka malam bersama. Ayah dan ibu dulu juga sering makan malam bersama, bukan? Sehingga itu sebabnya ayah dan ibu menikah.”

“Ibu, ibu tak marah pada Dae Han kan?” ulangnya lagi. Dia lagi-lagi membalik ke halaman yang berikutnya dan kembali menemukan senyuman ibunya.

“Benar… ibu tidak marah?” ulangnya masih ragu. Dibaliknya lagi ke halaman berikutnya, namun dia selalu mendapatkan sebuah senyuman walau dengan pose dan dandanan yang berbeda dari potret ibunya di masa lalu.

“Terima kasih, ibu..” Dae Han terlihat senang. Dia lalu mencium album foto itu dan memeluknya. “Apapun yang terjadi Dae Han akan selalu menyayangi ibu. Selamanya.”

“Apa yang anda lakukan disini?” Tanya Dong Hae bingung. Dia memperhatikan sekitarnya untuk mencari jawaban. Namun karena tak ia temukan dia kembali pada gadis yang malam ini terlihat cukup glamour dengan gaun merah menyalanya itu.

“Saya..” So Eun terlihat kebingungan sambil mengeluarkan sesuatu dari tas yang dibawanya. Dia lalu menunjukkannya pada Dong Hae. “Tadi siang ada seorang wanita yang datang ke tokoku dan meminta bantuan padaku. Dia menyuruhku datang kesini jam sepuluh malam sambil membawa kertas ini. Dia bilang ini adalah semacam surat warisan dan wasiat kepada anaknya. Tunggu, apa anak yang dimaksud adalah anda?”

Dong Hae menerima kertas yang diulurkan itu. Ia membuka amplop yang membungkusnya dan membukanya dengan tergesa. Tak lama ia langsung menghela nafas dan mengusap wajah.

“Ada apa? Apa ada yang salah dengan isinya?” Tanya So Eun kebingungan melihat ekspresi Dong Hae ketika membacanya. Dong Hae melirik So Eun lagi, dan lagi-lagi ia menghela nafas.

“Sebaiknya anda duduk dulu.”

“Tapi saya tak punya kepentingan disini. Saya tak mungkin ikut campur dengan urusan keluarga anda.”

Dong Hae tersenyum samar. Dia melirik lagi tulisan yang tercetak di dalam kertas yang masih di dalam genggamannya. “Ada. Duduklah, nona. Silahkan.” Ulangnya lagi yang mau tak mau membuat So Eun menurut dan duduk. “Saya tak tahu harus bagaimana menjelaskannya namun sepertinya ibuku seharian ini sudah merepotkan anda. Termasuk dengan mengirim anda kemari.” Kata Dong Hae kemudian. Dia menggeser surat tadi kembali pada So Eun dan menyuruhnya membacanya. So Eun terlihat ragu, namun ia akhirnya membacanya.

DAE HAN MENYURUHKU UNTUK MENGIRIMNYA MAKAN MALAM BERSAMAMU MALAM INI. NIKMATILAH SEMUA YANG KUPERSIAPKAN. SELAMAT BERSENANG-SENANG DONG HAE. IBU.

So Eun terlihat kaget, ia reflek melirik Dong Hae setelahnya. Dimana Dong Hae lagi-lagi terkekeh samar sambil menggelengkan kepala. “Saya sungguh merasa tak enak hati dengan apa yang mereka lakukan. Ini sudah keterlaluan.” Gumamnya sambil terus tertawa samar dan geleng-geleng kepala. Dia lalu mengalihkan perhatiannya kembali pada So Eun. “Sekali lagi saya minta maaf karena telah merepotkan anda.”

So Eun tak menyahut, ia masih bingung. Jadi semua ini hanya semacam jebakan begitu? Sungguh orang kaya sekarang aneh-aneh. Mereka bahkan membuat So Eun harus ke salon dan membelikan gaun hanya untuk melakukan hal yang gila ini. “K-KAlau begitu… sebaiknya saya pulang saja. Saya tak mau anda merasa tak nyaman.” Kata So Eun sambil menatap laki-laki itu lagi.

Dia sangat tampan. Lagi-lagi suara hatinya menyuarakan hal yang sama setiap kali ia melirik laki-laki di depannya itu. Bahkan ketika So Eun tak ingin memikirkan apapun tentang orang di depannya, hatinya langsung bersuara setiap kali So Eun melirik padanya. Apalagi ketika malam ini mereka hanya berhadapan berdua dengan suasana candle light dinner yang hanya dilihatnya dalam drama-drama. Wajah laki-laki bernama Lee Dong Hae ini bahkan terlihat begitu menawan ketika cahaya-cahaya lilin dan bulan menyinarinya. Tch, bahkan jantungnya berdetak lagi.

“Tidak. Apapun yang terjadi sebaiknya kita melalui saja tanpa harus merasa tak nyaman satu sama lain. Lagipula sebenarnya ada beberapa hal yang ingin saya bicarakan dengan anda mengenai Dae Han. Kalau anda tak keberatan, mungkin anda bersedia untuk duduk disini lebih lama?”

Lihat, bahkan cara bicaranya juga terdengar sangat berkelas. Mungkin itu adalah alasan lainnya mengapa jantung So Eun selalu berdetak di sekitar laki-laki ini selain wajahnya yang langsung meninggalkan kesan saat pertama So Eun melihatnya. Sama dengan rasa simpatinya terhadap laki-laki ini begitu merawat anak tunggalnya seorang diri tanpa seorang istri. Benar, karena menurut pengalamannya dia bukan gadis yang hanya jatuh cinta karena wajah tampan saja. Tunggu, apa barusan So Eun mengatakan kata ‘jatuh cinta’? Apa-apaan ini? Apa dia mengaku kalau dia jatuh cinta pada laki-laki ini sekarang? Begitu?

Mungkin karena cukup lama dia terlarut Dong Hae sampai menunggu. Namun So Eun segera tersadar ketika laki-laki itu menatapnya sedikit bingung. So Eun lalu tersenyum. Dia kemudian menganggukkan kepalanya. “Terima kasih, tuan.”

Dong Hae ikut tersenyum. Dia kemudian mulai memanggil pelayan untuk menerima pesanan mereka.

Lebih dari satu jam kemudian mobil mewah Dong Hae tampak berhenti di depan apartment milik So Eun tinggal. Dua orang terlihat duduk di dua bangku depan.

“Jadi anda tinggal disini?” Dong Hae mengalihkan pandangannya untuk mengintip sekitar apartment itu. Ia bahkan mengangguk-angguk kepalanya yang entah tengah memikirkan apa ketika ia mencoba melihat bangunan yang tingginya sepuluh lantai itu.

“Sekali lagi saya mengucapkan terima kasih atas malam ini, tuan. Terima kasih juga sudah mengantarku pulang.”

“Itu sudah kewajibanku. Ya sudah, sebaiknya anda masuk. Sudah saatnya beristirahat.”

So Eun menganggukkan kepalanya. Kedua orang itu membagi senyuman sebelum So Eun mulai bergerak membuka pintu dan keluar dari mobil. Lagi-lagi kedua orang itu saling tersenyum, sebelum Dong Hae mulai membawa mobilnya keluar darisana.

So Eun menatap hingga mobil itu menjauh dan menghilang. Hingga setelah benar-benar tak terlihat, ia melarikan jemarinya untuk menyentuh dadanya dimana jantungnya masih berdebar cukup kuat. Ia teringat apa yang terjadi tadi.

“Saya memikirkan ini sejak beberapa hari ini. Saya benar-benar tak enak setiap kali Dae Han membuat masalah di tempat anda. Anda terlalu baik, padahal saya tahu Dae Han membuat anda begitu kesulitan.” Dong Hae kembali membuka keheningan diantara mereka ketika sang pelayan selesai mencatat pesanan mereka. Dia melirik gadis di depannya lagi.

“Tidak. Itu sungguh tidak apa-apa, tuan. Dae Han memang cukup nakal dan suka membuat masalah. Tapi saya sungguh tidak kesulitan seperti yang anda kira.”

“Anda pasti sangat menyukai anak kecil. Padahal setiap wanita yang ingin kukenalkan padanya tak ada satupun yang tahan dengan tabiatnya. Mereka mundur satu persatu.” Dong Hae lagi-lagi terkekeh samar. Dia menunduk seperti tengah memikirkan sesuatu. “Dae Han memang nakal, tapi dia sungguh anak yang manis kalau saja kita mengenalnya dengan baik. Dia ceria, lincah, dan pintar. Hanya saja, dia hanya kekurangan kasih sayang dari ibunya yang meninggal ketika melahirkannya. Oleh sebab itulah, saya ingin sekali mengisi satu-satunya ruang kosong itu dalam hidupnya yaitu dengan mencarikan wanita yang bisa menjadi figure ibu untuk dirinya. Namun ternyata tak semudah itu. Dia selalu menolak setiap wanita yang telah saya pilih.” Dong Hae bergumam pelan. Lagi-lagi senyuman samar yang terkesan hambar terlihat di wajahnya.

“Berarti mereka bukan wanita yang tepat..” So Eun bergumam tanpa sadar karena sepertinya ia terlarut dengan ucapan Dong Hae. Hal itu membuat Dong Hae mengangkat wajah dan menatap wajah So Eun penasaran. “Mereka mundur karena tidak tahan dengan sikap Dae Han. Seperti seleksi alam, nyatanya itu menunjukkan kalau mereka bukanlah orang yang tepat untuk menjadi ibu baginya. Karena bayangkan saja kalau mereka menyerah tepat di tengah jalan ketika anda sudah menikah dengannya. Maka, semuanya akan lebih menyakiti Dae Han… dan juga anda. Karena wanita yang tepat seharusnya adalah wanita yang bisa bertahan bersama Dae Han walau apapun yang anak kecil itu lakukan padanya. Karena saya percaya, pada akhirnya Dae Han akan membuka pintu hatinya.”

Dong Hae terdiam. Ucapan itu seperti berdampak sesuatu pada dirinya sehingga itu sebabnya laki-laki itu terdiam dan hanya menatap So Eun. Hal itu membuat So Eun seperti tersadar, dia melirik pemuda itu lagi sedikit panik.

“M-Maaf… Maksud saya adalah…”

“Mereka mundur karena tidak tahan dengan sikap Dae Han. Seperti seleksi alam, nyatanya itu menunjukkan kalau mereka bukanlah orang yang tepat untuk menjadi ibu baginya. Karena bayangkan saja kalau mereka menyerah tepat di tengah jalan ketika anda sudah menikah dengannya. Maka, semuanya akan lebih menyakiti Dae Han… dan juga anda.”

Tanpa sadar Dong Hae tersenyum, pemuda itu baru saja mematikan mesin mobilnya ketika ucapan itu melintasi fikirannya lagi sehingga membuat ia terdiam di tempat duduknya dalam beberapa detik. Namun tak lama laki-laki itu tersadar. Ia segera turun dari mobilnya dan berjalan memasuki rumahnya.

Satu dari tiga pelayan di rumahnya itu tampak menyambutnya dan membawakan barang bawaannya ke kamar. Sementara Dong Hae tampak bergerak menuju kamar Dae Han. Ia membuka pintunya perlahan, terlihat olehnya putranya itu telah terlelap di dalam.

“Kau sudah pulang?” suara ibunya sedikit mengagetkannya. Ketika ia melirik seorang wanita berumur tampak berdiri di depan pintu kamar yang satunya sambil tersenyum kecil padanya. Dong Hae ikut tersenyum dan geleng-geleng kepala sambil mendekati ibunya.

“Ibu sudah terlalu tua untuk melakukan hal yang seperti tadi.”

“Tak ada kata tua untuk melakukan hal yang menyenangkan, nak.” Ibunya terkekeh sambil mengacak rambut putranya. Sama seperti Dae Han bagi Dong Hae, Dong Hae juga adalah buah hati satu-satunya dalam hidupnya. Sejak kecil wanita itu selalu memanjakan Dong Hae. Bahkan ketika suatu hari pemuda itu masih berumur 21 tahun anaknya itu datang membawa kekasihnya untuk diperkenalkan pada mereka. Dong Hae masih kuliah waktu itu, namun ia dan kekasihnya membuat kesalahan sehingga mereka segera meminta izin untuk menikah di usia yang baginya masih sangat muda. Dia dan suaminya dengan cepat merestuinya. Karena mereka selalu percaya pada Dong Hae dan apapun keputusannya karena begitulah mereka mendidik Dong Hae sejak kecil yaitu untuk menjadi laki-laki yang tangguh dan bertanggung jawab.

“Siapa yang merencakannya?”

“Dae Han yang mengusulkan agar kalian makan malam bersama. Sisanya ibu yang melakukan improvisasi dengan menggunakan uangmu.”

Dong Hae lagi-lagi hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala. “Untuk apa ibu melakukan ini? Aku jadi tidak enak karena ibu menipu gadis itu dengan cara itu. Bagaimana kalau dia kenapa-napa di tengah jalan karena surat jebakan ibu?”

“Nyatanya dia tidak apa-apa, bukan? Tch, kau bahkan memikirkannya kesana? Apa Dae Han berhasil membuatmu langsung menyukainya?” Giliran Nyonya besar-Lee itu yang antusias kini. Dia menatap Dong Hae dengan penasaran dengan semangat. Dong Hae lagi-lagi tersenyum kecil.

“Semuanya tak sesederhana itu, ibu? Lagipula aku sungguh penasaran sejak tadi tentang kenapa ibu melakukan ini semua? Juga, bukankah Dae Han juga tak menyukainya tetapi kenapa dia malah membuat hal yang seperti ini.”

“Siapa bilang Dae Han tak menyukainya? Dae Han sangat.. sangat menyukai gadis itu.” Ibunya menjawab dengan cukup semangat.

“Tapi Dae Han sering menciptakan masalah untuknya.”

“Benar. Tapi sepertinya Dae Han malah menjadi suka padanya karena itu. Dae Han terus memujinya di depan ibu. Mulai dari fisiknya, sikapnya, bahkan sampai kemampuan masaknya. Sepertinya gadis itu berhasil mencuri hati Dae Han sehingga itu sebabnya dia memilihnya sebagai calon ibunya.”

“H-Huh? Calon ibu?” Dong Hae tampak kaget.

“Ini baru permulaan. Karena sepertinya Dae Han benar-benar akan membuatmu dan gadis itu menjadi dekat. Dia sangat ingin menjadikan gadis itu sebagai sosok yang menggantikan Soo Yeon sebagai ibunya.”

Dong Hae terdiam, dia cukup kaget dengan ucapan itu. “B-Bagaimana mungkin?”

“Dalam beberapa tahun ini sudah beberapa kali kau memperkenalkan beberapa wanita agar Dae Han bisa menerimanya sebagai istrimu. Tapi kau lihat, sampai sekarang tak ada satupun dari mereka yang bertahan. Kali ini gilirannya, untuk selanjutnya adalah gilirannya untuk memilih dan kau yang harus menerimanya…”

“Semuanya tak semudah itu.”

“Benar. Tapi kau tahu Dong Hae, ini adalah sebuah harapan yang aku sendiri tak percaya akan datang pada akhirnya. Dae Han akhirnya mau menerima seorang wanita untuk masuk ke dalam hidup kalian untuk menggantikan Soo Yeon. Ibu tahu cinta adalah sesuatu yang tak tumbuh dengan cara mudah tapi… cobalah untuk menerima pilihannya. Cobalah untuk mengenal gadis itu dan melihat apakah ada cela bagimu untuk menyukainya atau bahkan mencintainya. Cobalah untuk membuat keluargamu ini kembali utuh pada akhirnya.”

“Walaupun begitu, gadis ini mempunya kehidupannya sendiri. Dia tak mungkin bisa menerima semua ini semudah itu..”

“Ibu percaya pada pesonamu..” Nyonya-Lee tersenyum penuh arti pada putranya. “Ibu percaya tak sulit bagimu untuk membuatnya menyukaimu seperti ibu percaya bahwa dia juga akan sangat mudah membuatmu menyukainya. Entah mengapa ibu berfikir bahwa wanita ini adalah yang paling tepat untuk berada ditengah-tengah kita..”

Dong Hae tak lagi menyahut dan terlihat hanya memikirkan ucapan ibunya itu. Sekilas bahkan lagi-lagi ucapan So Eun tadi kembali terngiang di telinganya.

“Karena wanita yang tepat seharusnya adalah wanita yang bisa bertahan bersama Dae Han walau apapun yang anak kecil itu lakukan padanya. Karena saya percaya, pada akhirnya Dae Han akan membuka pintu hatinya.”

So Eun datang pagi-pagi sekali keesokkan harinya. Gadis itu terlihat langsung mempersiapkan segala hal yang dibutuhkan sebelum toko roti itu buka. Hal itu jelas saja mengundang keheranan dari Luna maupun dua karyawannya yang lain mengingat biasanya So Eun tak pernah menjadi orang pertama yang datang ke toko. Terlebih dengan gelagat terlalu bahagia seperti hari ini.

Dan hingga siang menjelang bahkan taka da sedikit penurunan pun dari gelagat So Eun. Dia terlihat begitu menikmati hari ini seakan hari ini adalah hari dimana ia terlahir kembali. Bukannya So Eun bukan gadis yang ramah dan ceria seperti ini sebelum-sebelumnya. Hanya saja, hari ini benar-benar berbeda sehingga membuat ketiga karyawannya mulai keheranan.

Unnie, kau dilamar actor favoritmu ya?” Tanya Luna begitu So Eun pada akhirnya duduk di sampingnya. Gadis itu langsung menoleh padanya dengan ekspresi bingung.

“Apa yang kau katakan?”

“Kau terlihat sangat… sangat bahagia hari ini. Atau, apa unnie memenangkan undian atau lotre?”

“Tch, biasa saja. Tidak ada. Tidak ada lamaran ataupun lotre..” So Eun menjawab dengan ceria sambil bersenandung kecil. Luna terlihat semakin aneh melihatnya. “Lagipula kau lupa actor favoritku baru saja menikah beberapa bulan yang lalu? Khabarnya malah istrinya sudah hamil. Wiiih, cepat sekali…” So Eun mulai bercerita panjang lebar dengan gaya yang OOC. Luna semakin mengerutkan dahi melihatnya.

“Lalu?”

“Lalu? Lalu apa?” So Eun menoleh bingung. “Kalau sudah hamilkan berarti tak lama lagi dia jadi ayah dan—“

“—Bukan itu maksudku.” Luna memutar bola matanya bosan mendengar ocehan So Eun. “Kenapa kau hari ini terlihat sangat bahagia?”

“Aku? Bahagia? Tidak, biasa saja.”

“Tidak. Kau tidak biasa saja..” Luna menggeleng cepat.

“Benarkah?” So Eun terlihat penasaran. Memeriksa dirinya sendiri. “Tidak. Aku merasa biasa saja..”

Luna mulai menyerah bertanya.

Tak lama suara bel tanda ada tamu yang masuk berbunyi. Kedua orang itu tampak akan mempersiapkan diri menyambut. Namun tak lama malah merubahnya kembali begitu melihat siapa yang datang.

“Dae Han? Kau datang!!” So Eun tampak berseru senang. Dia langsung berjalan menghampiri bocah kecil dengan seragam TK itu. “Apa yang kau lakukan disini, huh?” tanyanya pada bocah yang sering berwajah datar itu.

“Tentu saja membeli roti.” Dae Han menjawab datar dan jutek. So Eun mendesis.

“Tch, kau tak pernah berubah ya…”

Dae Han tidak mengatakan apapun lagi lalu melenggang seenaknya melewati So Eun dan mendekat ke arah meja kasir. Luna tampak seperti mempersiapkan dirinya.

‘Sepertinya dia akan membuat masalah baru lagi hari ini. Huuuufttt.’

“Selamat siang Dae Han. Hari ini kau mau memesan apa?” Luna kini memasang wajah yang dibuat ramah. Namun Dae Han terus bersikap layaknya bos yang datang menilai pekerjaan si kasir.

“Tidak sopan. Seharusnya aku dipanggil pelanggan seperti yang lainnya. Karyawan mana boleh sok akrab pada pembeli.” Protes Dae Han datar. Luna dan So Eun tampak serentak menghela nafasnya.

“Iyaaaaa, PELANNGGAN. Ada yang bisa saya bantu? Anda ingin memesan sesuatu…. PELANGGAN.” Luna lagi-lagi tampak berusaha tetap bersabar walau wajahnya tampak begitu gemas. Di belakang So Eun terlihat sedikit menahan tawa.

“Aku ingin memesan… lima kotak donat dengan rasa stoberi, keju, cokelat, pisang, dan nanas. Lima pancake. Lima muffin. Lima waffle. Lima kotak Seos berbagai rasa. Lima mini-cake dengan rasa stroberi. Lima mini-pie rasa kejunya. Dan jangan lupa, lima bungkus cookies. Semuanya harus siap dalam sepuluh menit.” Bocah itu berbicara tanpa jeda. Sementara kedua gadis itu tampak seperti orang bodoh mendengar apa yang keluar dari mulut bocah itu.

“A-Apa?” Luna bersuara pada akhirnya, mendatangkan tatapan tajam dari Dae Han.

“Kau seharusnya mencatatnya agar aku tak sibuk mengulang.”

“Bagaimana mungkin aku bisa mencatat semuanya? Kau berbicara dengan kekuatan setara dengan kereta listrik..” Luna balas protes. Sepertinya dia mulai kehilangan kesabaran.

“Kau saja yang lelet!” Dae Han menyahut tak mau kalah.

“Apa katamu…”

“Juga menyebalkan..”

“Apa?”

“Bodoh.”

“….”

“Gendut.”

“…..”

“Pendek.”

“Hey!!!”

“Bibi-bibi.”

“OKEY! Cukup… cukup!” So Eun langsung berseru dan menengahi keduanya. Dia lalu mendekati keduanya. “Jangan bertengkar, okay? Itu tak akan menyelesaikan apapun.” So Eun melirik Luna untuk melarangnya meladeni Dae Han. Namun gadis yang terlihat sudah sangat sebal pada si bocah sehingga ia tampak mendengus. Apalagi karena Dae Han juga terus menatapnya tajam dan tak bersahabat.

“Kenapa kau terus melihat padaku!” Dae Han protes.

“Kau yang terus melihatku!” Luna sedikit berteriak habis kesabaran. So Eun lagi-lagi tampak menghela nafas.

“Biar aku yang melayaninya. Luna, lebih baik kau pergi ke dapur dan membantu para bibi..” kata So Eun pada Luna.

“T-Tapi…”

“Tch, dia hanya anak kecil. Kau tak seharusnya menganggap serius ucapan. Sudah sana, jangan sampai kau benar-benar jadi bibi-bibi karena mengomel.” So Eun berbisik pada Luna. Dimana akhirnya Luna tampak menghela nafas dan menyerah.

“Baik, bos.” Ujarnya lesu. Dia lalu segera berjalan meninggalkan meja itu setelah sebelumnya memberikan tatapan kesal pada bocah yang telah terlebih dahulu mengejeknya dengan menjulurkan lidah. Setelah kepergian Luna barulah suasana menjadi lebih damai.

“Ok, sekarang saya yang akan mencatat pesanan anda, pelanggan. Silahkan sebutkan kembali dan kalau bisa lebih pelan..” kata So Eun dengan nada ramah pada Dae Han. Di tangannya kini sudah tersedia kertas dan pulpen.

Dae Han tak langsung menyahuti ucapan So Eun. Dia tampak kembali dengan wajah datarnya dan menatap So Eun serius. “Satu es krim rasa stroberi saja.” Katanya sambil berlalu dan jalan menuju meja yang biasa ditempatinya. Kali ini giliran So Eun yang ternganga.

“Apa?”

“Ini. Bagaimana mungkin kau memesan es krim di toko roti? Aku harus menyebrang kesana dulu untuk membelikanmu ini.” Omel So Eun begitu ia kembali mencapai meja. Dia menyerahkan es krim berbentuk corong yang berwarna merah muda itu.

“Kaukan sudah janji akan membelikanku es krim kemaren. Itu sebabnya aku tagih..” jawab Dae Han sambil mulai membuka es krim pembelian So Eun itu. Dalam waktu beberapa detik ia langsung melahapnya. “Huuumm…”

So Eun awalnya masih ingin mengomel lagi pada anak itu. Namun melihat ekspresi lucunya yang menikmati rasa es krim pembeliannya wajahnya malah berubah menjadi kekehan. “Siapa suruh kau lari begitu saja kemaren? Kau bahkan tidak mengucapkan sepatah katapun padaku.” Ujar So Eun dengan nada pura-pura mengomel. Dae Han tampak masih setengah cuek karena dia sibuk menjilati es krim itu.

“Tapikan kau kuberi kesempatan untuk kencan dengan ayah.”

So Eun hampir tersedak ludahnya sendiri. Ia melirik anak itu dengan sedikit mendesis. “Anak sepertimu tak seharusnya tahu kata seperti kata kencan, tahu? Darimana kau mendengarnya?” omel So Eun.

“Dari bibi-bibi ayah. Mereka selalu memperkenalkan diri dengan bilang kalau mereka adalah teman berkencan ayah..”

So Eun geleng-geleng kepala. Kini dia tak tahu akan menyalahkan Dae Han atau para wanita-wanita itu karena telah membuat anak itu mengerti kata yang belum seharusnya ia ketahui itu. Bahkan rasanya So Eun juga ingin menyalahkan ayah si anak.

“Kenapa kau tidak pernah memanggil seseorang dengan sopan? Bibi-bibi, bodoh, So Eun.. So Eun. Apa kau tidak sadar kalau itu benar-benar tidak baik? Apa itu diajarkan oleh mereka juga?” Tanya So Eun kemudian.

“Rahasia.” Dae Han lagi-lagi menggumam ditengah kesibukannya melahap es krim. Bahkan kini wajah anak itu sudah dilumeri sana-sini oleh krim stroberi.

“Huh, bahkan makanmu saja masih berantakkan tapi kenapa kau sungguh menyebalkan..” So Eun mengejek. Dia lalu segera meraih sebuah tisu dan mengelapkannya ke wajah Dae Han. So Eun cukup kaget juga karena Dae Han tak menolaknya seperti yang cukup sering dia lakukan. Pada akhirnya tak menunggu lima menit es krim itu sudah habis. “Woaaah, kau benar-benar makan seperti monster.” So Eun menyela takjub.

Dae Han menyelesaikan bagian terakhir es krim di tangannya. Dia langsung berdiri membuangnya ke tempat sampah lalu mengelap wajah dan tangannya dengan tisu. So Eun terkekeh.

“Kau benar-benar anak teraneh yang kutemui. Tingkahmu sok dewasa tapi kau menyebalkan..”

Dae Han selesai membersihkan diri. Kini dia kembali duduk dengan ekspresi serius sok dewasanya menatap So Eun.

“Antar aku pulang.”

“Huh?” So Eun lagi-lagi terkejut dengan ucapan si anak yang tak pernah bisa ia perkirakan bunyinya. “Kenapa kau menyuruhku mengantarmu? Bukankah kau punya sopir pribadi?”

“Mulai hari ini sopirku hanya mengantarku sekolah. Kalau pulang, kau yang mengantar.”

“Kenapa harus aku?”

“Kaukan calon ibuku.”

Skak. So Eun lagi-lagi hampir kena serangan jantung karena ucapan si anak yang semaunya. “A-Apa katamu?”

“Selain bodoh kau ternyata sedikit sulit mendengar.”

“Bukan itu maksudku. Apa maksudmu mengatakan hal seperti itu?” So Eun mulai sedikit hilang kesabaran juga. Bukan, sepertinya bukan hilang kesabaran pada Dae Han tapi lebih kepada hilang kesabaran untuk menunggu apa maksud ucapan anak itu. “Kenapa aku ini calon ibumu?”

“Rahasia.” Dae Han buang muka. Sementara So Eun lagi-lagi harus menahan nafas untuk menahan kesabarannya.

“Kalau tidak kau kasih tahu. Aku tidak akan mengantarmu pulang.” Kata So Eun tak lama. Dia mencoba sedikit bermain dengan anak menyebalkan ini. Dae Han melirik lagi padanya, kali ini agak mendesis sebal.

“Ya sudah. Aku pulang sendiri.” Katanya sambil melompat turun dari kursi berniat pulang. So Eun mendesah frustasi karena sungguh dia merasa hampir gila, namun ia selalu tak mempunyai pilihan kalau menyangkut pada anak ini.

“Baiklah. Aku akan mengantarmu pulang.” Ujarnya tak lama. Dae Han tampak berbalik dan meliriknya, lagi-lagi menampakkan wajah datar. “Tunggu sebentar. Aku akan bersiap-siap…” kata So Eun masih dengan wajah datar. Dia lalu segera bangkit dan berjalan ke belakang mengganti pakaiannya.

Sementara tanpa ia sadari Dae Han tampak diam-diam mulai menunjukkan senyuman pertamanya. Ia tampak senang sambil bergumam pelan,

“Berhasil.”

“Ayo turun!” Dae Han berseru semangat sambil melambaikan tangannya pada So Eun. So Eun yang masih belum sempat turun dari taksi tampak sedikit ragu. Dia melirik sekitar rumah dimana saat ini dia berada. “Ayoo So Eun. Tunggu apalagi!” Dae Han lagi-lagi protes.

“E-Eum.. ya.” So Eun segera turun dari taksi sambil membawa beberapa kotak roti yang akan diberikannya pada keluarga Dae Han. Setelah membayar taksi ia langsung menurut saja ketika bocah kecil itu dengan semangat menuntunnya ke dalam.

“Ayo cepat!” kalau seperti ini bahkan Dae Han tak terlihat seperti biasanya. Kalau seperti ini bocah itu terlihat seperti orang lain baginya. Tentu saja, bagaimana mungkin anak yang tadi mengajak bertengkar karyawannya adalah anak yang sama dengan bocah yang hyper di depannya ini. So Eun jadi curiga kecil-kecil begini Dae Han sudah memiliki kepribadian ganda.

“Apalagi yang kau tunggu, So Eun. Ayo!!” Dae Han sedikit mendengus ketika So Eun malah semakin pelan berjalan. Dia lalu menarik tangan So Eun untuk ikut dengannya masuk.

“Tapi Dae Han. Aku merasa tak enak.” Kata So Eun. Namun ia masih menurut ketika Dae Han mulai menariknya menaiki tangga menuju pintu masuk.

“Kenapa harus tak enak? Neneklah yang memintamu datang.”

“Tapi tetap saja—“

“Kalau ayah, jangan khawatir. Ayah kalau siang-siang begini tidak pernah di rumah karena sibuk bekerja. Jadi tenang saja..” kata Dae Han sambil meraih pintu untuk membukanya. Sementara tangannya yang lain masih memegang salah satu tangan So Eun. “Selamat datang di rumahku, So Eun..”

So Eun mengalihkan pandangannya ke seisi rumah Dae Han yang terlihat luas dan mewah. Rumah itu memiliki design yang cukup menarik di matanya. Beberapa furniture juga terlihat memikat berdampingan dengan beberapa alat elektonik yang rata-rata adalah mode terbaru. Hal itu belum dihitung dengan hiasan-hiasan yang semakin memperindahnya.

“Tuan muda, anda sudah pulang.” Seorang wanita tiba-tiba saja mendekat. So Eun balas memberikan hormat ketika wanita itu tersenyum dan memberikan salah padanya. “Selamat datang di rumah ini, nona.”

“Bibi, dimana nenek?” Tanya Dae Han pada wanita berpakaian pelayan itu.

“Ada di taman belakang, tuan-muda.” Kata wanita itu sambil mengambil alih tas yang diserahkan Dae Han padanya. Kini dia tampak beralih kepada So Eun. “Biar saya bawakan barang-barang anda, nona..” ucapnya menawarkan.

“E-Eum… tidak usah. Aku bisa membawanya sendiri.” Tolak So Eun sambil tersenyum. Wanita itu tampak maklum dan menganggukkan kepalanya. Sementara Dae Han mendongak memperhatikan pembicaraan keduanya.

“Aku juga. Biar aku yang membawa tasku sendiri.” Pintanya pada pelayan itu tak lama. Wanita itu terlihat heran, namun dia menurut saja dengan memberikan tas yang hanya berisi buku gambar dan beberapa alat tulis itu kembali pada pemiliknya. “Aku juga bisa membawanya sendiri. Akukan kuat.” Ucapnya bangga.

“Itu baru pintar.” Puji So Eun. Dae Han tampak semakin tersenyum lebar mendengarnya. Sementara wanita di depannya tampak membagi pandangannya antara Dae Han dan So Eun. Dia mulai penasaran siapa So Eun sehingga Dae Han menjadi lebih manis begini sekarang. Hal itu sangat langka terjadi.

“Kalau begitu ayo kita ke tempat nenek.” Ajak Dae Han sambil lagi-lagi mengamit salah satu tangan So Eun. Dia lalu membawanya untuk lebih memasuki rumah tersebut menuju taman mini yang terletak di belakang rumah dekat kolam berenang.

“Nenek!” panggil Dae Han riang sambil terus menarik So Eun bersamanya. Wanita lainnya yang awalnya terlihat sedang sibuk merawat tanamannya tampak menoleh ke belakang. Tampak dia juga sedikit terkejut dengan kedatangan seseorang bersama cucunya.

“Dae Han..” panggil wanita itu sambil melepas sarung tangan yang digunakannya. Dia tampak tersenyum ketika So Eun memberi hormat padanya.

“Selamat siang, nyonya.”

“Selamat siang. Kita bertemu lagi, nona..” balas Nyonya besar-Lee itu sambil tersenyum. Dia menemukan rona merah di wajah So Eun seketika itu juga. Dia sepertinya mengingat pertemuan kita yang terakhir. “Dan mengenai kemarin saya ingin mengucapkan maaf. Aku hanya sedang memenuhi keinginan cucuku waktu itu..” katanya sambil tertawa gemas mengacak rambut Dae Han. Dae Han tampak tersenyum senang.

“Saya membawa beberapa kue untuk anda, nyonya. Mohon dinikmati..”

“Oh, tentu. Aku sudah sering mendengar cerita tentang makanan yang anda buat dari cucuku ini. Rasanya pasti sangat enak sehingga dia begitu menyukainya. Terima kasih..” Wanita itu lagi-lagi mengacak rambut Dae Han yang bermanja-manja di bawah kakinya. Lalu menoleh pada pelayan yang juga ikut bersama mereka tadi. “Bi, tolong buatkan minum untuk tamu kita ini ya. Sertakan kue ini nanti.” Pintanya pada si pelayan. Wanita itu tampak langsung menyanggupinya.

“Dae Han juga ikut.” Kata Dae Han tiba-tiba sambil melepas ranselnya tadi dan meletakkanya di atas sebuah bangku. “Dae Han juga ingin membuatkan minum untuk So Eun.” Rengeknya manja dan riang. Ketiga perempuan itu langsung tersenyum mendengarnya.

“Ya sudah, pergi sana. So Eun pasti akan senang dibuatkan minuman olehmu.” Kata neneknya pada cucunya itu. Kali ini giliran So Eun yang mengacak rambut kecokelatan miliknya.

“Terima kasih ya, Lee Dae Han..”

Dae Han tampak tersenyum malu sambil berlalu mengikuti pelayan yang mulai beranjak ke dapur. Punggungnya ditatap oleh dua wanita lainnya hingga hilang dari pandangan.

“Dia kenapa menjadi berbeda?” gumam So Eun seperti pada dirinya sendiri. Namun Nyonya-Lee sepertinya dapat mendengarnya dengan baik.

“Karena itulah dirinya yang sebenarnya.”

So Eun menoleh pada wanita di hadapannya, sepertinya ia sempat lupa dengan kehadiran wanita itu tadi. Dia jadi sedikit malu.

“Duduklah, nona-Kim. Ada banyak hal yang ingin saya ucapkan pada anda.” Kata Nyonya-Lee mempersilahkan. So Eun tampak mengangguk dan menarik sebuah kursi yang terletak di gazebo dekat taman dan kolam berenang keluarga-Lee itu.

“Dae Han itu sebenarnya anak yang manis. Sangat manis. Hanya saja dia tak bisa langsung dekat dengan orang yang baru dikenalnya sehingga itu sebabnya dia sering bertingkah kurang menyenangkan pada orang yang baru ditemuinya..” Nyonya-Lee melanjutkan ucapannya. Sementara So Eun tampak menganggukkan kepalanya mengerti. “Sejujurnya dengan tabiat seperti itu kami cukup khawatir kalau saja Dae Han tak akan pernah menjalin hubungan social yang baik dengan sekitarnya. Dia sangat sulit menerima orang baru dalam hidupnya. Contohnya mantan kekasih ayahnya saja, aku bahkan sudah tidak ingat sudah berapa orang dari mereka yang mundur karena tidak kuat dengan perlakuan Dae Han pada mereka..”

“Tapi sepertinya terhadap anda berbeda. Sejujurnya saya masih sedikit heran dengan kenapa ia tiba-tiba mulai menceritakan tentang anda setiap saat kepada saya. Anda pasti sangat hebat, nona-Kim. Anda bisa menembus hati yang bahkan bisa lebih kuat dari besi itu..”

“S-Sepertinya itu terlalu berlebihan, nyonya. Sebenarnya dari awal Dae Han memang tidak menyukai saya sama sekali. Dia selalu bersikap kasar, berkata semaunya, menyebut nama tanpa kesan hormat sedikitpun, bahkan mengancam. Saya sendiri juga tidak mengerti kenapa kemaren tiba-tiba saja dia… eum..” So Eun menutup mulutnya reflek begitu ia sadar bahwa ia tak seharusnya mengatakan lanjutannya. Namun Nyonya-Lee tampak malah tersenyum maklum seperti memahaminya.

“Tiba-tiba saja dia meminta anda untuk menjadi ibunya, begitu?”

“B-Begitulah..” So Eun tersenyum canggung. “Awalnya saya berfikir bahwa dia hanya bercanda dan hendak mengerjai saya seperti sebelum-sebelumnya. Tapi setelah apa yang terjadi semalam dan hari ini rasanya…”

“Dia tidak bercanda. Dia sangat bersungguh-sungguh. Bahkan dia telah mengatakan ini langsung pada ayahnya..”

“A-Apa?” So Eun tampak terkejut, wajah memanas tiba-tiba membayangkan apa yang mungkin anak itu katakan pada ayahnya tentang So Eun. Dia juga membayangkan bagaimana reaksi yang mungkin Dong Hae berikan setelahnya. Itu akan sangat memalukan.

“Saya tahu, ini sangat tidak mudah. Namun bagi wanita tua seperti saya yang menonton perkembangan anak dan cucunya sendirian hal seperti ini adalah bagaikan sebuah harapan. Sudah bertahun-tahun lamanya saya menunggu saat seperti ini. Itu sebabnya saya mengundang anda hari ini…” wanita itu semakin terlihat bersungguh-sungguh. Sejujurnya ini sedikit membuat So Eun tegang. “Nona-Kim, apakah diluar sana anda mempunyai kekasih atau tengah menjalin hubungan dengan seseorang?”

“H-Huh?” So Eun tampak sedikit kaget, dia juga mulai merasa gugup.

“Saya tahu ini terdengar tidak sopan. Namun, saya hanya mencoba sesuatu yang bisa saya lakukan dalam masalah yang cukup rumit ini.”

So Eun menggigit bibir bawahnya dan tampak masih gugup. Pembicaraan seperti ini tidak pernah terprediksi olehnya sejak ia bangun pagi ini. Ini tentu saja membuatnya sedikit kebingungan.

“T-Tidak, nona..”

“Benarkah?” wanita itu tampak tersenyum cukup senang. Dia lalu meraih salah satu tangan So Eun dan menggenggamnya. “Kalau begitu, maukah anda mencobanya bersama putraku? Maksudnya, saya juga sudah mengatakan hal yang sama pada Dong Hae. Tidak perlu saling memaksakan diri, tidak perlu terburu-buru. Tapi, bisakah kita mengikuti apapun yang ingin Dae Han lakukan dengan semua ini? Hanya mencoba, karena bila nanti ini semua tidak berhasil maka saya berjanji akan menyelesaikan semuanya tanpa merugikan anda sedikitpun.” Kata wanita itu lagi dengan nada yang penuh semangat. Wanita itu tampak menatap So Eun dengan bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Sementara So Eun hanya balas menatapnya dan tampak masih menimang sesuatu saat ini.

“Ayo naik, So Eun. Aku akan menunjukkan kamarku.” Dae Han berseru semangat sambil lagi-lagi menarik So Eun untuk ikut bersamanya. Sementara gadis itu tampak masih ragu-ragu menjelajahi rumah yang baru ditapakinya itu. Apalagi menyadari para pelayan yang mulai heran dengan kehadirannya yang akrab dengan Dae Han. So Eun penasaran apa anggapan mereka tentangnya saat ini. “Tch, ayooo…” rengek Dae Han lagi-lagi sambil berusaha menyeretnya menyelesaikan sisa anak tangga.

So Eun rasa kini ia benar-benar dalam permainan anak ini mulai dari hari ini. Bukannya ia tak menyukai, semua jelas tahu bahwa dia memiliki perasaan yang istimewa pada ayahnya si anak ini sejak pertama kali mereka bertemu. Walaupun seorang duda sejujurnya So Eun tak keberatan apalagi mengingat memiliki anak seperti Dae Han yang mulai disukainya. Namun masalahnya adalah caranya, So Eun merasa cara ini tidak benar dan sedikit memalukan. So Eun tetap saja tak merasakan nyaman. Apalagi kalau nanti ia harus berhadapan langsung dengan Dong Hae.

“Ayo!!” Kini mereka telah sampai di tingkat dua rumah itu. Kini So Eun berhadapan dengan ruangan keluarga lainnya dan beberapa pintu yang sepertinya adalah kamar dari penghuninya. “Coba tebak. Kamar Dae Han yang mana?” Tanya Dae Han tiba-tiba. Dia berkata dengan suara bangga.

“Eum…” So Eun tampak berfikir, matanya menjelajahi sekitar sana untuk menemukan jawabannya. “Yang itu?” tanyanya sambil menunjuk sebuah pintu. Dae Han menggeleng.

“Itu kamar ayah..”

“O-Oh…” So Eun tertawa kikuk. Entahlah, mendengar kalau itu adalah kamar Dong Hae entah mengapa ia seperti berkeringat dingin. Dia hanya membayangkan bagaimana kalau tiba-tiba si ayah keluar dari kamar itu dan melihatnya datang menjelajahi rumahnya seperti ini. Itu pasti akan sangat memalukan. Tapi tenang, Dae Han bilang ayahnya itu selalu bekerja siang-siang begini. Jadi hal seperti itu tak perlu ia takutkan saat ini.

“Tapi Dae Han, mengapa kau harus memperkenalkan seisi rumahmu padaku? Akukan tamu yang baru sekali kesini. Agak aneh, tahu..” kata So Eun mulai protes pada Dae Han. Dia sebenarnya hanya ingin cepat-cepat pergi darisini karena dia takut Dae Han menahannya lama. Bagaimana kalau dia menahannya hingga ayahnya pulang bekerja. So Eun tak tahu akan seperti apa wajahnya kalau itu terjadi.

“Bagaimana mungkin aneh. Akukan hanya membantumu sebelum kau pindah kesini..”

“Pindah kesini?”

“Iya. Kaukan akan menjadi ibuku.”

“Kau mengatakan itu lagi.” So Eun berseru cepat. “Kenapa kau yakin kalau aku akan menjadi ibumu? Juga, bukankah kemaren kau sendiri yang melarangku dekat-dekat dengan ayahmu? Kenapa sekarang berubah fikiran?”

“Itu adalah hal yang berbeda. Aku belum menyukaimu saat itu. Tidak seperti sekarang karena aku sangaaat menyukaimu..”

“Kenapa kau menyukaiku tiba-tiba kalau begitu?” Tanya So Eun lagi. Sejujurnya ia masih penasaran dengan pertanyaan ini.

“Hum..” Dae Han tampak menggantung ucapannya, tampak berfikir. “Kalau itu kau tak perlu tahu. Itu rahasia aku dengan ibuku dan nenek.”

“Mana boleh seperti itu!” So Eun mengeram kesal dengan sikap menyebalkan si anak. Apalagi ketika dia malah menyengir usil.

“Lagipula, kaukan menyukai ayahku. Aku tahu bahwa sebenarnya kau sangat senang dengan hal ini..”

“A-Apa?” So Eun sedikit kehabisan kata-kata. Ia sampai melirik sekitar memastikan bahwa tak ada yang mendengarnya. Namun melihat dua pelayan yang tampak tersenyum diam-diam beberapa meter disana sepertinya hal itu tinggal harapan. “Kalau kau berbicara seenaknya terus aku akan pulang..” kata So Eun sambil berniat berbalik.

“Tunggu, So Eun…” namun rengekan Dae Han menghentikannya. Membuat ia harus berbalik lagi dan menatap si anak yang cemberut dan menatapnya memohon. “Kumohon, aku hanya ingin dekat denganmu sebelum kau menjadi ibuku. Aku juga hanya ingin memperkenalkan rumah ini padamu..” rengeknya kemudian. So Eun lagi-lagi harus menghela nafas. Dia mendekati bocah itu lagi.

“Baiklah, tapi hanya satu jam lagi. Aku harus pulang setelah itu karena ada urusan. Sepakat?”

“Sepakat!” Dae Han langsung menyahut senang. Dia menautkan kelingkingnya dengan kelingking So Eun yang kembali digenggamnya.

“Jadi… yang mana kamarmu?” Tanya So Eun. Kali ini kembali menghadap beberapa daun pintu yang berada di sekitar sana.

“Yang itu!” kata Dae Han cepat. Dia menunjuk sebuah kamar yang letaknya bersebelahan dengan kamar yang ditunjuknya tadi. “Kau mau masuk ke dalam bersamaku?” Tanya anak itu menawarkan dengan nadanya yang manis. Hal itu lagi-lagi membuat So Eun tersenyum menatapnya.

“Baiklah. Ayo..”

Keduanya kini berjalan mendekat ke arah pintu kamar yang dimaksud. Dua pelayan yang sejak tadi menemani keduanya tampak juga mengiringi mereka di belakang. Tapi beberapa langkah hendak mencapai pintu tiba-tiba Dae Han menghentikan langkahnya dan menggenggam erat tangan So Eun. So Eun menatapnya heran.

“Tapi sebenarnya aku selalu takut sebelum masuk ke dalam..” adu Dae Han pada So Eun. Ia menengadah menatap So Eun sambil cemberut.

“Kenapa?”

“Kamarnya terlalu besar. Kadang-kadang aku merasa seperti ada yang menungguku di dalam dan akan membunuhku ketika aku sedang tidur. Seperti ada paman-paman yang memegang sebuah pedang yang panjang dan menakutiku..” adunya sedih.

“Itu hanya bayanganmu saja, Dae Han. Buktinya sampai sekarang kau baik-baik saja..” So Eun tersenyum sambil mengacak rambut Dae Han.

“Ayah dan nenek juga berkata begitu. Tapi tetap saja aku takut. Tapi kata ayah, anak laki-laki tidak boleh jadi penakut..” Dae Han cemberut lagi, dia lalu menatap pintu di depannya itu lagi. “Itu sebabnya ketika aku mau tidur ayah dan nenek harus masuk duluan ke dalam dan memeriksa seisi kamar kalau paman itu tak ada di dalam.”

“Begitu?”

“Hum. So Eun, kaukan akan menjadi ibuku. Maka aku juga ingin kau melakukannya..” Dae Han menatapnya lagi dengan kedua matanya yang hitam kecokelatan. Tatapan itu terlihat memohon kepadanya bahkan sedikit basah karena hampir menangis. “Kau mau kan?”

So Eun terlihat tersentuh dengan ucapan dan cara Dong Hae berbicara padanya. Rasanya ia kembali saat dimana kemaren dia menemukan Dae Han menangis ketakutan karena merindukan ibunya. Entah mengapa So Eun merasa mulai benar-benar menyukai gambaran kalau dia bisa menjadi ibu untuk Dae Han. Menemaninya ketika sedih seperti kemaren, bahkan melindunginya ketika ia ketakutan seperti ini.

“Baiklah. Aku akan masuk duluan dan memastikan bahwa tidak ada siapapun di dalam. Tunggu sebentar disini, okeeey?” So Eun mengacak rambut Dae Han lagi. Dae Han tampak mengangguk senang begitu mendengarnya.

“Hati-hati di dalam ya, So Eun..”

So Eun tersenyum pada Dae Han sebelum maju untuk membuka pintu. Ia menyentuh kenop pintu, sedikit ragu sambil menghela nafas sebelum mulai memutarnya untuk membuka kamar itu. Gadis itupun segera masuk ke dalam.

Sementara Dae Han tampak was-was di luar kamar. Namun beberapa detik setelah So Eun masuk ke dalam bocah itu tampak mengangkat wajahnya untuk menatap para pelayan di belakangnya.

“Bibi…”

Bum. Bunyi pintu yang ditutup tiba-tiba tentu saja mengagetkan So Eun. Gadis yang baru beberapa langkah memasuki kamar itu tampak memutar wajahnya dan kaget. Ia segera mendekat untuk mengetuk pintu yang tertutup rapat itu.

“Dae Han! Dae Han!” teriaknya sambil menggedor pintu dan berusaha membukanya. Namun pintu itu sepertinya sudah terkunci rapat dari luar. So Eun tampak sedikit frustasi. “Dae Han, buka pintunya!!!” teriaknya lebih kuat. Namun hening tak ada sahutan apapun, walaupun samar-samar dia seperti mendengar cekikikan bocah itu di balik pintu. “HEY LEE DAE HAN! INI SUDAH KETERLALUAN!!” So Eun berteriak semakin frustasi.

Tiba-tiba di tengah usahanya menggedor pintu ia mendengar suara pintu terbuka. Awalnya ia menyangka bahwa pintu di depannya yang terbuka. Namun tidak, sehingga ia harus berbalik untuk memeriksa pintu lainnya di ruangan itu.

Astaga…

So Eun reflek menutup mulutnya karena kaget. Dia menatap tak percaya ketika Dong Hae keluar darisana hanya dengan menggunakan handuk di bagian bawahnya. Laki-laki yang tampak tengah sibuk mengeringkan rambutnya itu tampak juga kaget menemukan So Eun tiba-tiba berada di kamarnya.

“N-Nona-Kim? K-Kenapa anda berada disini?”

LEE DAEHAAAAAAAAAAN!!!!!

❤ TBC❤

Rencananya hanya dua chapter, namun sejujurnya aku selalu saja gagal membuat ffku ringkas dan padat seperti ff kebanyakan. Aku suka sekali membuatnya putar-putar dulu sebelum menemukan ujung. Jadi, part tiga mungkin akan segera menyusul.

Sebenarnya aku juga membuat ini disela project-ku. Hahaha, pasti banyak yang gak percaya kalau sebenarnya aku dikejar deadline akhir bulan ini. Karena aku masih juga asyik main-main sosmed ataupun bikin ff.

Sebenarnya aku tipe lazy girl *ngaku*. Ketika aku bikin tugas aku gak pernah seperti orang lainnya yang bisa fokus ngerjain itu aja sampai selesai. Aku suka multitasking, karena sambil kerja aku bahkan nyempetin setiap beberapa menit buka twitter dll. Otak kananku benar-benar terlalu aktif daripada otak kiriku sehingga aku tak bisa fokus pada satu hal lebih dari beberapa menit saja. Namun sejauh ini, aku melaluinya dengan cukup lancar. Doain projectku berhasil ya… juga doain agar sikap malasku sedikit berkurang, lol.

Hanya itu, aku akan menyapa lagi ketika part 3 dari ff ini sudah selesai. Terima kasih karena telah membaca.

49 Comments Add yours

  1. dawu azhar mengatakan:

    Hahaa…dae han emank usil
    Dia sengaja jebak so eun agar berduaan dgn appa nya dong hae
    Semoga haeso segera menikah

  2. safitri mengatakan:

    seruuuu banget menghiburrrrr sukak banget cerita di akhir part benerbener kocak hhahaaaaa cumak disini karakter donghae berasa kurang kuat buat aku but over all good next part soon yaaas author

  3. Irnawatyalwi mengatakan:

    Dae han bnar2 nakal, pintar n sdikt licik, oh tdik yg trakhr i2 bnr2 buat sso seragan jntg jg donghae, bisa2x dae han menipu sso n menguncix d kmr ayah n sialx sso tertipu lg yg kskian kalix, trxta kmr i2 milik dong hae n hae oppa ada d dlm kmr yg bru sja mandi jd tau lah gmana pnampilan hae oppa, haa g bsa ngebayangin gmana wajah mrka yg panik dlm keadaan trkunci dlm 1 ruagan, hem kira hae oppa mrah bsar g ya sma dae han han? He mrka pasti sngt mlu, sm0ga kejdian in tdk membuat hub. Haesso canggung sm0ga kejdian in membuat hub. Mrka lbh baik.

  4. AngelFish mengatakan:

    Astaagaaaa ini si daehan bukan usilin soeun lagii, tapi udah bisa bikin soeun matii tiba tibaa 😂😁 bagaimana mungkin dia bisa berpikiran kayak gituu ya? Ngunciin soeun di kamar ayahnyaa, donghae cuman pakek handuk lagiii whahha . Sumpah ini bikin geger deehh 😝😜😄 . Tapi mungkin dibalik hati soeun yang paling dalam ini juga harapannya hahah .

    Selalu gak sabar nunggu lanjutan cerita iniii . Donghaee hwaiittiiingg(?) Daehann semangaatttt 😁👊👍💋💗

  5. tesya mengatakan:

    Usil ya daehan ngurung soeun dikamar ayahnya, mana ayahnya baru mandi lol ga kebayang malunya soeun

  6. Vhi mengatakan:

    Daehan daehan😀 !!!!! Cuma sma sso daehan nunjukin sifat aslinya sso daebakkk emng bner” calon ibu yng baikk ,,,,, kapan haesso nikahnya authorr ,,,, daehann sukses ngerjaiin sso …..:Dblang nya lgi di kantor eehh taunya orng lgi mndiiii :o:D;)

  7. Mothisan mengatakan:

    Gemes dengan sikap jailnya,,,
    Berbagai macam upaya untuk mendekatkan ayahnya dengan so eun,,,,
    Mudah2an terkabul segala harapan yg d inginkan dae han,,,

  8. Fee mengatakan:

    God job daehan,,
    Senyum2 gaje bc part ini. Tinggal nunggu donghae sm so eun nikah deh.

    Next part ditunggu pake bgt

    Btw mksih bgt buat author.y yg walaupun sibuk sm project.y tp msh nyempetin buat nulis ngehibur kita2 para readers setiamu.

  9. luky mengatakan:

    dae han sama nyonya besar lee sama aja, sama” pemaksa.
    suka bngt dae han yg ngerjain luna. hahaha…
    sso pikirkanlah untuk trma twran dae han jdi ibunya, toh seprtinya hae appa dah mulai suka kamu.
    wiiidddiiiihhh dae han emng bnr” evil. aku sdkt ragu klo itu anak haeppa, jgn” itu anak kyuppa lgi. sama” evil.
    sso lumyan lh dijebak dae han, jd kn bisa liat absnya haeppa. hehehe
    eonni klo bisa cpt” post lnjtnya yh…
    gak sbr nunggu haeppa nikah sama sso..
    fighting eonni.

  10. anna mengatakan:

    Omg daehan good job bnr2 cupid sejati i like your style hahaha berarti bkn kmr daehan ituuu dtggu rncn2 slnjtny dehan smpe donghae bt rncn sndri nntiny spy lbh dkt dgn soeun,,mkin g sbr nggu lnjutny nie,,

  11. YhuliiSoeun mengatakan:

    Bwahahahahaha :v astaga.. Daehan jahil banget >_<

  12. YhuliiSoeun mengatakan:

    Ahh komentku kepotong lagii :3 maaf yah put yg nongol cuman itu… Tpi inti.y tadi suka bgt ma ff ini feel.y dpat.. >< pnasaran liat kisah mreka…

  13. Hayaru mengatakan:

    Seru… Bikin senyum2 gaje.. Ampun dah kalo punya anak kyk gitu..
    Thumbs up, Putri…

  14. Ayu Chokyulate mengatakan:

    dae han emang bener2 yaaa, sso sampe ketipu kaya gitu dikunciin di kamar ayah nya.. diragukan nih kalo dae han tiba2 sikap nya jadi manis ckckck~
    tapi bagus lah nih anak emang bener2 pengin banget HaeSso bersatu, uhhhh tingkah nya itu loh bikin kesel dan gemesss dalam waktu yg bersamaan😀
    dibikin penasaran sama kelanjutan nya ..

  15. Azizah mengatakan:

    Pas lagi seru2nya eehh kenapa nongol TBC… thor cepet diposting ya kelanjutannya..

  16. wahyuSsoAngells mengatakan:

    Klo aku jd luna td yaa pasti si dae han udh aku gantung kali ahh dipohon toge,,smbrangn aja ngatain bibi2 hhaaa 😂😂
    Rencananya dae han sllu penuh kjutan,,gk tanggung2 lho ngunciin pintu trus ngebiarin soeun ama donghae berduaan wkwk kan klo mreka khilaf nnti jd pnya adek#yadongkumat hhhaaaa 😁😁
    Seru bgt,,dtunggu deh buat next partnya moga2 donghae ama sso bruan nikah#aminnn 😇

  17. Annisa Rahmadiah mengatakan:

    hhhahhahhhaa..😀😀
    kasihan banget so eun pasti dia shock plus malu banget pas dikamar donghae..
    terus gimana juga ya sama ekspresinya donghae?? pasti lucu banget deh..

    aku suka banget deh sama kata kata so eun yang ini “Mereka mundur karena tidak tahan dengan sikap Dae Han. Seperti seleksi alam, nyatanya itu menunjukkan kalau mereka bukanlah orang yang tepat untuk menjadi ibu baginya. Karena bayangkan saja kalau mereka menyerah tepat di tengah jalan ketika anda sudah menikah dengannya. Maka, semuanya akan lebih menyakiti Dae Han… dan juga anda.”

    so eun benar benar memikirkan perasaan daehan banget, padahal kan sikap daehan sama so eun itu kurang baik..

    hhmmm..
    dan kira kira gimana ya sama donghae apa dia bisa mencoba untuk menyukai so eun dan mewujudkan keinginan daehan???

    next ya thor..
    fighting..

  18. Esaa mengatakan:

    Curiga sama Dae Han atas kelakuannya itu. Dan ternyata kekeke…
    Duh usilnya anak itu, wkwk

  19. elisa mengatakan:

    wah crita ini ckup lucu bnget..daehan pingn cubit…di ksi gk ya ma donghae oppa…
    author a kren and mksih wlaupun sibuk tpi tetp smpetin tulis ff a….
    and sllu bekrya …..
    gk pingn nerbitn novel atau g mn…
    faighting d tunggu next a…

  20. Devi mengatakan:

    Makin seruu zh FF’a,,,,,

    Dae han bener2 serius menginginkan eonnie so eun menjadi ibu,,,,
    Gokil bangeeet nenek ma cucu untuk menyatukan eonnie so eun ma haeppa,,,,hihihihihi
    ap lagi yg part terakhir bener gokill menipu eonniebso eun biat meriksa kamar’a padhalkan kamar tu kamar’a haeppa bukan dae han,,,ckckckck

    Jdi penasran ma kelanjutan’a,,,

  21. Puspa Kyukyu mengatakan:

    Si Daehan niat banget buat Soeun jd Ibunyaaa…
    Ahhahahaha.. Ada aja akalnya…. Bijak banget sih…
    Suka banget pas Daehan bertengkar sma Luna..
    Hahahahahah :v :v

    ntah kenapa slalu suka klw bca FF Uni ttg si Donghae…. Penjabaran Uni itu ttg Donghae klop banget dihati… Buat MAKIN CINTA !!! *.*❤
    jujur aja Puspa jatuh cinta ke Donghae karna baca FF Uni…
    Mantaaabb dahhhh… (y) (y)

    dituunggu Lanjutaannyaaaaa…
    ASAP ne ??? ;)) ~~~

  22. adelcho mengatakan:

    Ternyata daehan lucu juga ya. gayanya sok dewasa,tapi memang pinter sih dia ni banyak ide ide cemerlang.. hahahaha. udah curiga kalo daehan mau jebak soeun

  23. puuuut kenapa pas lagi tegang2 nya malah tbc ?!

    aaaah putri berhasil bkin penasaran endingnya gimna ?!

    sumpah ya daehan menyebalkan tapi ngegemesin ,palagi wktu bertengkar sma luna ,lucu bnget plus jenius !

    di tunggu part 3nya

  24. AiSparkyu mengatakan:

    Hahaha lucuu banget Dae han awalnya gk suka tapi tiba”mnta sso jadii ibunya ,,hha lucu gimna reksi haesso klau tau mrka di kunci dari luar kmar ma dae han dan stu lagi suka ma krakternya nyonya Lee gk bnyak tuntut dlam mlih clan mntu,,kren dech next thour d tnggu

  25. pipip mengatakan:

    Waaaa akirnyapart 2 nya mncul jg
    ceritanya mkn lucu dgn seru
    apalgi si daehan udh mulai berubah ke soeunn
    tpi masi bngung nih daehan knp tba2 si daehan baik trus nyruh si soeun jdi ibunyaaa
    tpi kyknya luna gak mrskan prubhn daehan ya kekeke
    soeun sneng bnget tuh krna udh mulai dket dgn donghae
    pnsrn dgn next partnya drnggu eon

  26. mryzulfah mengatakan:

    Aaaaaaa sukaaaaa,,dae han pinter bangeeett beberapa kali ia berhasil ngejebak so eun,, di sini ga tau dae han nya yg pinter apa so eunnya yg kelewat polos,, hahaha pnasaran hae mwu ga ya nerima permintaan dae han,, bner katavibunya har,, slama ini di berharap dae ha yg nerima cwe yg dia bwa,, skrang glran dae han yg berharap hae nerima cwe yg dia bwa bwt jdi ibunya,, aaaaaaaaaaaaa ga sabar bwt next chappie nya

  27. marly mengatakan:

    Astagaaaaaaaaaaa

  28. shaneyida mengatakan:

    Asyiik baguslah klo puput hobby berkeliaran d dumai d tengah tugas yg numpuk ..selain buat ngilangin stress n iso membahagiakan readers dg krya2 nya yeahh ..ikut kecipratan sukanya gitu ¨Ħiii¨¨Ħiii¨¨Ħiii ƪ(˘⌣˘)♥ #pertahankan put ;;)
    Humm …t projek apaan yaa kga’ mati kreasi ni sii puput *pertahankan
    Makin sukses dh untuk pu2t . Amiiiiiiiiin .

    hhhhhh daehaaaaan ..ini bocah klo dh kluar sikap manisnya ma soeun aduhhh bikin meleleh tp klo dia nunjukin gaya ketus nya ma soeun bikin aye ngakak hhha aaaa double suenang nya ayeah <3<3 pas bgt aye lg mumet dg banyak kerjaan pengen bc ff yg happy ee stelah lihat grup ada lanjutan story ini ayeahhh jd suanang bingit …#curcol* !! Saat daehan tlah memilih soeun …soeun d buat jd lebih bodoh dr sbelumnya hihiiiii😄 sii daehan bangga keknya punya calon ibu bodoh kkkke terlihat ketika dia ngajak neneknya k toko kue sso n ngeliat moment unyu2 sso yg menjedotkan dahinya k kaca hihiii , sikap soeun mengalihkan dunia daehan ¨Ħiii¨¨Ħiii¨¨Ħiii ƪ(˘⌣˘)ʃ•´¯`• ♥ !! Akhirnya dae ma nenek merencnakan kencan untuk hae ma sso ,dae udeh terkontaminasi dg virus orng dewasa cos iso merencnakan na *eoh* !! Saat daehan membuka foto ibunya curhat ma ibunya dan dia terus berceloteh Ttg soeun ibunya menjwab dg senyuman wah hebat bgt t album foto yak iso tersenyum ..aye jd pengen beli album foto kek gitu ƗƗɐƗƗɐƗƗɐƗƗɐƗƗɐƗƗɐ"̮‎​​ *plakk*
    Kek nya hae kesemsem ma soeun ucapan soeun tergiang2 d telinganya … Apakah hae tersenyum ngebyangin sso lah yg jdi ssok ibu yg dmaksud hhhhiii ayeahh :*

    Moment itu bikin aye ngakak hhhha dg gaya daehan bicara trus dg ngeliat senyuman ibunya d foto jd terkesan merestui tujuan daehan ayeaaah untung t kga' ada muka manyun yak hhh tp tp aye rasa klo daehan ngomongin mantan2 donghae dulu pasti t muka ibu daehan d foto album akan cemberut or ngeluarin tanduk kekekkke *gubrak,ni aye ngomong apaan yak hiiiiihi…di iyain aja yak put ;;) * hhh ~!!! Betewe berdebatan sengit antra dae ma luna bener3 bikin aye sakit perut ĦΔĦΔ:D ĦΔĦΔ=D ĦΔĦΔΔ=)) aighooo lucu nya , klo daehan udeh bersikap ketus dingin tajam kek gitu bikin aye ngemes pengen nyium hhhha *eoh* klo dia dh manggil soeun dg nama tanpa embel2 bibi slalu bikin aye ngakak sso kek d anggap temannya hhh !! Akhirnya daehan mempertegas mau sso jd ibunya walopun sso ngerasa gimna tp efek nya luarbiasa soeun jd kerajinan stelah jatuh cinta hhha !! Lucu dah ketika daehan mengajak sso krumahnya trus pake mau nunjukin kamrnya sbg pengenalan soeun yg mana sso akan d rekrut kel lee menjdi Ny besr ¨Ħiii¨¨Ħiii¨¨Ħiii ƪ(˘⌣˘)ʃ•´¯`• ♥ !!!!
    Dibalik itu smua dae udeh merencnakan sesuatu agar donghae ma sso lebh dekat hihiii.. Soeun masuk perangkap ..nah lo apakah donghae akan memangsa soeun ¨Ħiii¨¨Ħiii¨¨Ħiii ƪ(˘⌣˘)ʃ•´¯`• ♥ apalgi hae sedng kaga' pake baju kkke , shock theraphy dh soeun iso3 terbakar dan mau numpang mandi d kmr hae ƗƗɐƗƗɐƗƗɐƗƗɐƗƗɐƗƗɐ"̮‎​​😄 , tu kamr iso terbuka apa kga' hhhi !!

    Lanjuuuut ~ 100 jempol semut buat puput (y) !!

    Next GPL Ħèëé=D!! Dpt hadiah kissuee dr anak2 mu put ¨Ħiii¨¨Ħiii¨¨Ħiii ƪ(˘⌣˘)♥

  29. miani caledupha mengatakan:

    Hahahahahaha ini bikin ngakak
    Dae han sungguh keterlaluan.

    Ternyata so eun benar. Kamar yang ditunjuknya adalah kamar dae han dan kamar yang dae han akui kamarnya sebenarnya kamar appanya ~lee donghae.
    Maka karena kepolosanya so eun kembali dibodohi dae han. Terjebak didalam kamar donghae

  30. nurul alfie mengatakan:

    akhirnyaa udh d lnjut. . .
    dae han msih kecil ada” aja deh kelakuannya. .smoga brkat kelakuan daehan haesso cpt bersatu. .
    next part di tunggu. . .

  31. anastasian erna mengatakan:

    astaga…nakalnya dae han….
    hahaha…kocak banget….
    next deh put…

  32. kriyan mengatakan:

    Hahaha dae han lucu juga
    Akhir y dia suka sama so eun
    Ada aja ide y
    So eun di kunci di kamar donghae
    Berarti dia bener pas nebak dasar daehan
    Oke di tunggu kelanjutan y semangat

  33. cucancie mengatakan:

    Haha daehan lucu banget gemesiin deh,rencana yg bagus buat deketin so eun dan donghae…ada2 aja ulah daehan jebak so eun sampe di kamar donghae,,haha ga sabar nunggu lanjutannya..

  34. Mama nikita widiyati mengatakan:

    Good job….keren bgt!!
    Benar2 bikin emosi….lee daehan…..teriakan di akhir part ini sptnya adalah awal yg baik utk part selanjutnya.ditungguuu

  35. melli ichiro mengatakan:

    kkkkkkk daehan benar benar jahil yach,, bikin soeun jadi melting,,, kkkkkk di tunggu next partnya,,,

  36. ireumiprincess mengatakan:

    aku suka ceritanyaa,sifat so eun,donghae,sama dae han menurut aku pas bgt.suka sama dae hannya yg usil gtu,love it bgt.next partnya yaaa ditungguuu,ga sabar jadinya~

  37. niniet mengatakan:

    Ini si daehan titisan evilcho ini mah, gokil hahaha yang lain di usilin buat bikin putus sama ayahnya lah kalo so eun di jailin supaya bisa jadian ma ayahnya, tp dia hebat tau aja cewe cantik yg cocok ma ayahny wkwkw.. Mian put aku langsung komen di part ini hehe ditunggu lanjutannya🙂

  38. vaaani mengatakan:

    semoga bs koment! berhasil!
    huaaaaaaaaaaaaaaaa ahahhahahahahahaha,,, baguuuuus Dae Han,,, kejahilanmu patut diacungi jempol kmungkinan dimarahi dan dipeyuuuuk stlah trtangkap,,, pasti akal2an Dae han pas k dapur.,,,, wkwkwkwkwkwk
    lunaaa,,, hihihi sudah Daehan tak usah dambil hati,,, wkwkwkwk

    KSE cantik, ramah, keibuan,,, apakah Dong Hae sulit mencari celah u/ suka… dr 2part ini Haeppa emang gk trlihat getar2 beda k SSo pdhl Sso aja udh suka dr awal,, bahkan daehan tw
    banyakin HAESSO duuuuuuuuuuuunk Put,,,,, dan sgra pnya baby Lee selanjutnya,,,
    nunggu sweet momentnya haesso,,, pdhl dh sekamar brdua,,, tp gk bs d bayangin manis,,, orang jebakan si daehan monster kecil,, wkwkwkwk,,, d tggu lanjutannya,,,, smga cepet ya pu

  39. lilare mengatakan:

    Manis seru aja..yeee dae han suka sma sso…
    Aduh gak sabar nunggu part 3 gmana reaksi donghae..haha
    Gemesin liat daehan…
    Omo..Daehan pande banget punya ide segila itu demi mendekatkan sso sma donghae…haha ditunggu part 3 nya Thor..

  40. Rani Annisa mengatakan:

    wah bener-bener pintar banget dae han untuk mendekatkan donghae dan so eun…

    wah apakah rencananya dae han untuk membuat donghae suka ke so eun berhasil???

    next part

  41. abiza mengatakan:

    aduh daehan usilnya nggak ketulungan…..sabar bu..

  42. Deborah sally mengatakan:

    Wah Daehan ngjebak Soeun haha

  43. aikurasin mengatakan:

    amazing . . . . kerenz abiz haesso n daehan the best . . . .
    bner2 ngak sabar nunggu next partnya . .

  44. satsuki mengatakan:

    dae han bener-bener usil diusianya yang segitu. wkwkwkwk
    ffnya makin seru, eon lanjut eon..
    ditunggu ya next partnya eon. hwaiting🙂

  45. Tri mengatakan:

    Spah lucu banget nich si daehan…..sso aja dikerjain abis, moga dong hae nya suka ma sso

  46. yuliaseptiani mengatakan:

    wkwkwkwk bikin ngakak baca part ini😀
    daehan daebak ^^ sso aja d bikin kelimpungan sama tu bocah ckckck greget banget sama tingkah daehan jadi cinta sama donghae *eh ;D

  47. erniutami mengatakan:

    Wkwkkwkwkwkwk ketwa sendiri …usilll banggetttt ya ampunnn

  48. ammy5217 mengatakan:

    Ya ampun daehan km bener2 usil deh haha….ada aj idenya buat satukan ayahnya n so eun

  49. ama_kyu's koswara mengatakan:

    Wkwkwkwkw…..ada2 aj tuh bocah…
    Thor nama2 nya suka ktuker2 yaa….tp keren heheheee…….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s