~ THE KIMS Part 2 (Mr & Mrs. Kim) ~


kims2

Tittle     :               THE KIMS Part 2 (Mr & Mrs. Kim)

Author  :               PrincessClouds

Genre   :               Romance, life, Married life

Rate       :               PG-15

Length  :               Chapters

Main      :               Kim So Eun & Kim Jong Woon (Ye Sung)

Minor    :               Lee Dong Hae, Kang Min Kyung, Shin Dong Hee, Tiffany Hwang.

Warning:             Typo(s)

~

Hubby & Wifey..

*The_KIMS_Part2*

~

“Naaah, ini kamar kalian!” Ibu Hwang Nam Jo, ibu Ye Sung, berseru antusias begitu ia membuka pintu yang menjadi kamar sang pengantin baru itu. Pintu itupun dibuka selebar-lebarnya untuk membuat kedua orang yang baru menikah dalam beberapa jam itu melihat kamar yang telah dihias sedemikian rupa itu. “Cantik bukan? Ini kami berdua yang telah mendekorasinya..” ujarnya bangga. Sementara itu dua orang yang ditanyainya pendapat tampak hanya menatap datar ruangan yang dimaksud.

“Lihat, bukankah ini romantis? Juga cobalah menghirup, hummm…. Aroma mawarnya wangi bukan? Nuansanya jadi begitu indah..” kali ini giliran ibu So Eun yang bersuara. Perempuan bernama Hwang Ryu Mi itu terlihat tak mau kalah dengan besannya tanpa mengacuhkan helaan nafas berat dari anak dan menantunya. Keduanya berganti tatapan, sebelum melirik tak berminat sama sekali ruangan yang dibanggakan kedua orang tua mereka itu.

“Walaupun ini bukan hotel kelas bintang lima, karena kalian sendiri yang menolaknya tapi kami sudah berusaha menata semuanya sebaik mungkin. Kami juga telah mendatangkan penata kamar terbaik untuk membuat semuanya istimewa sehingga kalian hum… bisa menikmati malam pertama kalian disini.” Kedua wanita itu saling tersenyum.

“Tch, kalian tahu hal seperti itu tidak akan terjadi, bukan?” sela Ye Sung datar. Keduanya melirik Ye Sung dengan tatapan sok polos.

“Apa memangnya yang akan terjadi, putra kesayanganku?” laden ibunya. Ye Sung menghela nafas pelan.

“Terserahlah. Biarkan kami masuk dan beristirahat..”

“Setuju. Badanku ini sudah sangat lelah dan pakaian ini sangat panas. Berhentilah membuang waktu dengan hal seperti ini…” timpal So Eun yang juga datar. Rasanya tak betah mendengar setiap ucapan berlebihan oleh ibu dan ibu mertuanya itu lebih lama.

“Aw, iya. Aku tahu sayang..” ibu So Eun tersenyum dan mengelus lembut pipi mulus So Eun. “Kami tahu bahwa kalian tak mau menyiapkan semuanya sehingga itu sebabnya kami berusaha semaksimal mungkin membuat semua ini .”

“Betul, kami yang meminta perjodohan itu sehingga kami juga yang akan mengurusnya sampai akhir. Setidaknya sampai kalian saling menyukai. “ celetuk ibunya Ye Sung. Giliran Ye Sung yang menyela kali ini.

“Ibu, kita sudah membicarakan sebelumnya ini jadi berhentilah berlebihan..” serunya terganggu. Kedua wanita itu malah semakin terkekeh melihat ekspresi di wajah keduanya.

“Kenapa kalian ini begitu mirip? Lucu sekali. Pantas kalian berjodoh..” ujar ibunya So Eun lagi yang membuat keduanya semakin menghela nafas berat. “Baik-baik, kami mengerti. Kalian boleh masuk sekarang dan beritirahat sebelum hari yang baru besok datang..”

“Benar. Kalian kan bilang belum saling menyukai, itu sebabnya kami berusaha keras menata kamar ini sehingga perasaan kalian setidaknya berdamai..” sela Nyonya-Hwang Nam Jo. Ia meraih lengan Ye Sung dan melilitkannya dengan tangan So Eun. “Jaga istrimu, Jong Woon. Ia begitu kelelahan dan ditambah gaunnya yang cukup berat. Tuntun ia ke dalam okay, putra ibu yang gentleman?” ucapnya sambil mengedipkan satu matanya pada Ye Sung. Ye Sung tampak menghela nafas pelan sambil mengangguk berharap agar semua ini cepat selesai.

“Kau juga sayang. Baik-baik pada suamimu ya? ” giliran Nyonya-Hwang Ryu Mi yang mengusap lembut kepala putrinya. Seperti Ye Sung, So Eun tampak menganggukkan kepalanya tak bergairah. “Baiklah, kami tinggal. Kalian silahkan masuk ke dalam dan beristirahat. Ingat, jangan malu-malu karena kalian sudah resmi sekarang..” ucapnya bersemangat sambil merapatkan kedua tangannya. Mata keduanya menatap takjub kepada dua pasang anak muda yang terlihat serasi di depan mereka.

“Segera beri kami cucu, okay…”

“Ibu..”

Kedua wanita itu kembali tertawa bak ibu-ibu gossip yang kesenangan sebelum bergandengan tangan menjauh. Keduanya masih sempat memberikan tatapan nakal sebelum sepanjang koridor villa sebelum keduanya menghilang.

“Ayo masuk.” Ucap So Eun dingin sambil melepas tangannya dari genggaman Ye Sung. Gadis itu lalu melengos masuk sambil menyeret gaun beratnya. Meninggalkan Ye Sung yang menatap punggung istrinya sebal.

“Aku yang mandi duluan!” teriaknya menyusul masuk. Keduanya membagi tatapan tajam dan tak bersahabat sebelum terpisah oleh Ye Sung yang meraih handuk. Sang suami lalu berjalan menuju kamar mandi masih dengan tuxedo mahal yang dikenakannya.

“Haaah..” So Eun menghempaskan tubuhnya yang lelah ke atas tempat tidur di ruangan itu. Ia lalu menatap datar beberapa kuntum mawar yang tampak bertebaran di atas sana. “Hidupku selesai..” keluhnya tak lama. Ia lalu mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Menatap bulan purnama yang menerangi langit malam pulau indah Jeju.

Setelah hampir satu jam membersihkan diri dan merenungi nasibnya yang tak lagi seorang pria single, Ye Sung segera keluar dari shower room. Selesai melilitkan salah satu handuk di pinggangnya pemuda itu segera melenggang hendak keluar kamar. Namun ia tiba-tiba berhenti ketika ia ingat sesuatu..

Ye Sung tersenyum sinis pada dirinya sendiri yang sempat lupa kalau kamar itu tak dihuninya sendiri lagi. Ia pun mengalihkan pandangannya menuju sudut ruangan dimana tuxedo mahalnya tadi telah teronggok begitu saja di dalam sebuah keranjang. Sementara ia tak menemukan ada lemari ataupun kain lainnya yang bisa digunakannya untuk menutupi tubuhnya. Ye Sung mengangkat bahu.

Mau apalagi..

Ye Sung bergumam cuek, sebelum akhirnya kembali meraih gagang pintu dan keluar dari ruangan itu. Disana dilihatnya sang istri yang sepertinya juga sedang meratapi statusnya yang tak lagi single.

Sementara So Eun yang menyadari pintu kamar mandi telah terbuka segera menoleh ke arah sana. Hanya untuk kaget dengan apa yang menyambutnya. “K-Kau..”

“Jangan percaya diri dulu, aku hanya lupa membawa piyama ke dalam. Aku tak bermaksud lain..” Ye Sung melenggang cuek menuju lemari besar di ruangan itu. Sementara So Eun tampak hanya memperhatikan orang itu dengan wajah kesalnya.

“Walau bagaimanapun kau tak bisa seenaknya, kau tahu? Kita akan menjalani hal gila ini dalam waktu yang cukup lama. Kau harus tahu batasannya..”

“Aku tahu. Cuma yang satu ini benar-benar diluar kehendakku..”

So Eun mendengus, menatap punggung laki-laki di depannya itu dengan sedikit sewot. Seperti dugaannya, dia akan sering makan hati hidup dengan laki-laki menyebalkan ini. Ia harus jaga-jaga mulai sekarang, bisa saja kalau dia lengah pemuda ini berbuat macam-macam padanya kan? Mereka memang sudah mengikat kontrak namun tetap saja baginya Ye Sung ini orang asing. So Eun belum percaya padanya sepenuhnya.

“Apa-apaan ini..” pemuda itu mengomel ketika ia masih sibuk mengubek lemari. So Eun keluar dari lamunannya, melirik laki-laki itu penasaran.

“Kenapa?”

“Tak ada piyama ataupun handuk kimono. Isi lemari ini hanya…” Dia menggantung ucapannya. Hal yang tentu saja hal itu membuat So Eun kian penasaran.

“Hanya apa?”

Ye Sung tak lantas menyahut, ia masih melirik isi lemari yang seperti hiburan sendiri baginya kini. Sebuah senyuman yang sejujurnya baru kali ini So Eun lihat hari ini tampak di wajah itu. Walaupun senyuman itu terkesan lucu atau entahlah.. mungkin seperti melecehkan, “Wah, wanita benar-benar sangat memikirkan hal ini.. tak kusangka..” gumamnya kemudian.

“Apa sebenarnya maksudmu?” So Eun mulai habis kesabaran karena ia was-was kalau hal yang dimaksud berkaitan dengan dirinya. Sehingga itu sebabnya ia mendekat. Melihat sendiri dimana Ye Sung juga menyingkir untuk membiarkannya melihat sendiri. Senyuman yang mulai terlihat menyebalkan itu tetap terlihat di wajah itu.

Kini giliran So Eun yang memeriksa sendiri apa yang dimaksud. Namun bukannya mendapat humor yang sama, ia malah menatap horror apa yang dilihatnya. Karena bagaimana tidak, beberapa potong lingerie dan pakaian seksi lainnya berada di dalam. Sementara di sampingnya terlihat beberapa kotak alat kontrasepsi. Wajah So Eun memerah bahkan tanpa ia sadari.

Wanita-wanita tua ini…

“Yang beraroma stroberi boleh juga..” komentar Ye Sung tiba-tiba yang masih berada di sampingnya., Senyuman melecehkan kembali terlihat di wajahnya yang membuat So Eun ingin sekali memukulkan penutup lemari ini ke wajah menyebalkan itu.

“Apa yang kau katakan?!” seru So Eun sebal sambil membanting lemari itu agar tertutup kembali. Gadis itu mendorong pemuda itu minggir dari hadapannya sebelum meraih telefon yang berada disana. Menekan setiap tombol dengan sangat kesal.

“IBUUUU!!!”

“Aku akan tidur di tempat tidur apapun yang terjadi. Kau boleh tidur di tempat tidur juga karena kita bisa berbagi..” Ye Sung mengumumkan hal itu ketika So Eun selesai membersihkan dirinya. Pemuda itu terlihat sudah duduk dengan nyaman di salah satu sisi tempat tidur. “Itupun kalau kau mau..”

Sementara So Eun hanya melirik pemuda itu dengan tatapan datar walau hatinya memendam rasa kesal. Tentu saja berbeda dengan Ye Sung yang seorang pria hal ini tak semudah itu bagi seorang gadis sepertinya. Tidak mungkin So Eun akan berbagi tempat tidur dengan laki-laki yang masih asing baginya ini – walau dia kini telah menjadi suaminya pun.

“Tidak usah. Aku lebih memilih tidur di sofa daripada satu tempat tidur denganmu..” sahut So Eun sinis. Ye Sung mengangkat alis tak peduli.

“Bagus. Sebenarnya aku juga tak suka berbagi tempat tidur dengan siapapun…”

So Eun hanya bisa menghela nafas, mengemasi perlengkapan tidurnya dengan hati yang sangat dongkol. Sejak awal ia selalu mempertanyakan kepintaran ibunya untuk memilihkan sembarangan orang itu menjadi pendamping hidupnya. Karena lihat saja, pemuda ini bahkan sudah membuatnya menjadi seperti gelandangan di malam pertama pernikahan mereka.

“Tapi kuperingatkan agar kau tak macam-macam ketika aku lengah. Kau benar-benar tak akan selamat kalau kau berani..” ancam So Eun melirik pemuda itu lagi sebelum berjalan menuju sofa. Giliran Ye Sung yang menatap sewot padanya dari atas tempat tidur.

“Itu tak akan pernah terjadi. Kau tenang saja..”

“Huh, siapa tahu saja..”

So Eun lagi-lagi berdecak kesal sambil kini menghampiri sofa dimana malam ini ia akan tidur. Ia berusaha membuat tempat itu senyaman mungkin untuk ditiduri walau ia tahu besok pagi tubuhnya akan tetap sakit-sakit karenanya. Aaargh, So Eun frustasi, untuk kesekian kalinya ia menyalahkan ibunya lagi karena telah membuat hidupnya berantakan seperti ini.

“Sial..” Dia tak bisa menahan dirinya untuk tidak mengumpat dan menendang sofa itu dengan sangat kesal.

“Kau mengumpat?” Ye Sung menoleh padanya, tampak cukup terkejut.

So Eun mendesah kesal, ia merasakan kesal yang berlipat pada pemuda menyebalkan itu. “Bukan urusanmu.”

“Menjadi masalahku kalau yang kau umpati itu adalah aku. Hey, aku juga tak menyukai keadaan ini jadi jangan membuat presepsi sembarangan. Toh, aku juga benar-benar tak akan melakukan apapun padamu.”

“Tch, tenanglah. Ini tak ada urusannya denganmu, okay? Aku memang meratapi nasibku tapi bukan kau yang kuumpati!”

“Kau mengumpati ibumu kalau begitu.” Ye Sung kembali menunjukkan senyuman tadi, senyuman smirk. Hal yang membuat So Eun sangat kesal dan ingin sekali melempar wajah itu dengan guling di tangannya. Tapi tentu saja ia masih menahannya.

“Apapun itu bukanlah urusanmu jadi tidurlah dengan nyaman disana dan jangan mengangguku..” geram So Eun tertahan, membalikkan punggungnya pada pemuda itu karena tak ingin berdebat lebih lama.

Selesai menata tempatnya untuk tidur So Eun tak menunda waktu ingin segera memejamkan matanya. Cukup sudah ia menderita secara fisik dan hati seharian ini jadi satu-satunya yang ia inginkan adalah segera tidur. Singkatnya ia ingin melupakan lembaran paling menyebalkan dalam hidupnya ini.

Ia baru hendak memejamkan matanya ketika tiba-tiba saja seluruh lampu padam. Hal itu tentu saja mengagetkan kedua orang itu, terlebih So Eun.

“Apa yang terjadi?” Tanya Ye Sung. So Eun mendengar suara deritan tempat tidur yang mengertikan bahwa pemuda itu beranjak dari tempat tidur. Hal itu juga membuat So Eun segera bangun dan berniat menyusulnya karena ditinggal sendirian di dalam sebuah kamar yang gelap adalah hal yang tidak ingin dilakukannya.

“T-Tungg—“

Ucapan So Eun belum selesai ketika kejutan lainnya terjadi ketika cahaya kembali menerangi kamar itu tepat ketika So Eun berhasil lengan pemuda itu. Namun, bukannya cahaya putih dari lampu biasa yang bersinar melainkan sebuah cahaya biru yang menjalari hampir setiap sudut ruangan yang entah sejak kapan berada disana. Bahkan cahaya biru yang berbentuk garis itu membentuk sebuah hati yang sempurna pada salah satu sudut dinding tak lupa dengan inisial J&S di tengah-tengahnya.

Indahnya…

Baik So Eun ataupun Ye Sung sama-sama sempat terkesima oleh tampilan kamar mereka saat ini. Namun tak lama keduanya tersadar, ketika tanpa sadar mereka saling melirik satu sama lain dan membuat kontak mata. Ye Sung lalu beralih pada tangan So Eun yang masih memegangan salah satu lengannya.

“O-Oh, M-Maaf. A-Aku hanya takut gelap..” So Eun menarik tangannya canggung. Keduanya lalu sama-sama membuang wajah setelah itu, mulai mengacuhkan ketika cahaya shappire blue itu seperti pijar yang menerangi kamar mereka yang temaram. Pemandangan yang sangat sayang untuk dihabiskan dengan saling canggung begitu, sebenarnya.

“Selamat pagi pengantin baru!!” sapaan heboh itu langsung menyambut keduanya ketika bergabung di meja makan pagi ini. Dilihat disana kedua orang tua bagi keduanya tampak sudah duduk di depan meja makan dengan eskpresi senang di wajah mereka, walau tentu wajah kedua ibu mereka adalah ekspresi senang yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Sementara itu dua orang yang disambut tampak menunjukkan wajah yang sangat datar. Mereka menyeret bangku dan mendudukinya dengan wajah tak bersemangat.

“Bagaimana malam pertama kalian, hum? Apakah menyenangkan?” ibunya So Eun bertanya, senyuman penasaran itu tetap terlihat di wajahnya. Hal yang membuat So Eun malah kian kesal ketika ia ingat bagaimana semalam ia berakhir tidur di atas sofa dengan was-was karena suasana kamar mereka yang sedikit gelap.

“Aku ketakutan. Ibu, bukankah ibu tahu kalau aku takut gelap? Kenapa ibu buat kamar kami seperti itu?” tanyanya pada ibunya dengan wajah sangat terganggu. Namun bukannya merasa bersalah, wanita itu malah kian tersenyum.

“Kenapa masih takut padahal ada suami yang menjagamu. Dia bisa melindungimu kalau kau mau, bukan begitu Ye Sung?” Giliran ibunya Ye Sung yang menimpali. Melirik putranya dengan tatapan menggoda. Namun, malah So Eun yang keberatan dengan ucapan itu.

Menjaga apanya? Anakmu menyuruhku tidur di atas sofa..

So Eun menggerutu, yang tentu saja dalam hatinya. Namun ia berusaha mengacuhkannya sesaat kemudian karena dia sadar sejak awal karena memang begitulah perjanjian keduanya. Ia tentu tak bisa berharap pada Ye Sung seperti ia yang juga tak mengharapkan apapun pada laki-laki itu.

“Kalian berdua berhentilah menggoda keduanya. Biarkan mereka sarapan dulu..” Ayah Ye Sung yang awalnya tampak diam ikut bersuara. Dimana ayah So Eun mengangguk setuju.

“Benar, mereka pasti sangat lelah..”

Lelah?!

Keduanya serentak melirik ayah So Eun dengan tatapan terganggu. Mereka lalu saling bertatapan sebelum menghela nafas pasrah.

“Semuanya tak seperti itu, ayah..” protes So Eun. Ia menyerah pada akhirnya berharap ayahnya akan membantunya dalam hal ini, seperti dulu ia pernah berharap pada ayahnya untuk menghentikan pernikahan ini. Namun tidak, nyatanya ayahnya itu menurut saja dengan rencana gila ibunya. Hal yang sepertinya juga berlaku pada ayah Ye Sung. Heran, kenapa mereka bisa sama semua disini?

“Oiya Jong Woon, CEO-Lee Soo Man tadi sempat menelfon. Dia mengatakan kalau dia sudah menemukan rumah yang tepat untuk kalian..” Nyonya-Hwang Nam Jo, wanita yang melahirkan Ye Sung kembali bersuara. Mengalihkan pembicaraan pada topik yang lebih layak dibahas.

“Jadi perusahaan Ye Sung juga ikut membantu, besan?” Ayah So Eun bertanya penasaran. Ibunya mengangguk.

“Benar, besan. Seperti yang kita ketahui pernikahan ini masih dirahasiakan jadi perusahaan ikut berkontribusi untuk membantu semuanya. Itu sebabnya mereka mengusulkan untuk mencari rumah dimana kemungkinan tereskpos ke media sangat kecil.”

“Dimana memangnya?” Ye Sung menyela, sedikit mengacuhkan rasa sebalnya mendengar panggilan sayang kedua orang tua mereka yang baru itu.

“Perumahan Maxim. Kau tahu bukan?”

Ye Sung hanya mengangguk pelan. Ya, tentu dia tahu karena perumahan itu memang terkenal dengan fasilitas keamanannya yang terjaga. Ia mendengar banyak selebriti yang tinggal disana untuk menghindari paparazzi ataupun fans usil yang ingin mengetahui kehidupan pribadi mereka.

“Apakah disana aman?” Tanya So Eun ikut penasaran karena dia belum tahu apapun tentang tempat yang dimaksud.

“Sangat aman, sayang. Karena kompleks perumahan itu divasilitasi sebuah lingkungan yang benar-benar terjaga dari lingkungan luar. Pagar pembatasnya dibuat dengan sangat tinggi, sehingga akan sulit dipanjat sembarangan. Selain itu mereka juga memiliki banyak kamera CCTV dan penjaga yang menjaga 24 jam. Siapapun tidak bisa masuk tanpa ID pengenal yang dideteksi melalui key card rumah kalian..” ibu Ye Sung menjawab pertanyaan itu dengan panjang lebar. So Eun tampak menganggukkan kepalanya, cukup yakin dengan penjelasan yang didengarnya itu.

“Kedengarannya bagus. Aku jadi ingin melihatnya juga..” sahut ibu So Eun ikut semangat mendengarnya.

“Benarkan? Besok setelah kembali darisini kita langsung kesana saja sambil membantu mereka pindah kesana.”

“Kita pulang besok? Kenapa tak hari ini saja?” Ye Sung menyahut tiba-tiba. Mengalihkan pembicaraan.

“Tch, kenapa harus terburu-buru sayang bukankah kau juga akan memulai jadwalmu sabtu depan? Lagipula bulan madu itu paling lambat dua minggu tapi kita tak bisa melakukannya karena kalian tidak mau.” Sahut ibunya sedikit cemberut, ia mungkin mengingat bagaimana ia menyayangkan waktu pernikahan mereka yang sangat cepat itu. Ia bahkan sempat menawarkan agar keduanya menikah diluar negeri saja yang langsung ditolak mentah oleh keduanya.

“Benar, lagipula ada baiknya kalian menikmati tempat ini dulu dan beristirahat setelah hari melelahkan kemarin. Udara disini sangat segar, sayang bukan kalau pergi tanpa menikmatinya?”

Keduanya lagi-lagi tak mampu berkata-kata lagi oleh setiap ucapan orang tuanya. Lagi-lagi keduanya hanya mampu membagi tatapan dan menghela nafas dengan sedikit berat.

“Waah, disini cukup menyenangkan..” So Eun berseru senang sambil menyentuh hamparan pasir di bawah kakinya, senyuman senang terlihat di wajah cantik itu. Sementara Ye Sung yang mengiringinya di belakang tampak hanya menonton setiap yang dia lakukan.

“Kau belum pernah ke Jeju?” tanyanya datar. So Eun menoleh padanya, melirik suaminya yang tampak berpakaian sedikit tertutup karena dipaksa oleh kedua orang tuanya untuk menemani So Eun berjalan-jalan di sekitar villa pribadi keluarga Ye Sung itu. Pemuda itu tampak hanya bisa menurutinya walau dengan sedikit terpaksa.

“Bukannya belum tapi sudah lama tidak. Terakhir mungkin sekitar lima atau enam tahun yang lalu setelah aku lulus sekolah menengah. Setelah itu aku keluar negeri dan kuliah sehingga aku tak pernah punya waktu yang cocok lagi…” So Eun menyahut sambil memungut sebuah kulit kerang yang berada di dekatnya, tersenyum cukup senang. “Lagipula biasanya kalau di Jeju aku tak pernah ke tempat yang sesepi ini. Di lokasi yang terletak di pusat wisata kan selalu ramai..”

“Tapi tetap saja disini tidak sepi..” Ye Sung menggerutu sambil mengeratkan topi di kepalanya, terus menunduk dan menyembunyikan dirinya dari sekelompok orang yang berada beberapa meter dari keduanya. “Aku sungguh tak bisa berlama-lama disini.”

So Eun hanya melirik Ye Sung panjang tanpa mengatakan apapun. Sesuatu tiba-tiba terfikirkan olehnya begitu saja. “Kalau begini apa artinya kau tak pernah berekreasi. Maksudku tentu saja kau takut dikenali..”

“Tentu saja aku beberapa kali harus melakukannya. Tapi biasanya aku pergi keluar negeri karena aku tak perlu harus bersembunyi disana. Tapi kalau di Jeju, aku sama sekali tak pernah melakukannya lagi apalagi dengan membawa wanita bersamaku begini.”

So Eun mengangguk faham, untuk pertama kalinya ia bisa lebih mengerti tentang status pekerjaan pemuda itu. Tak heran dia, keluarga, dan perusahaannya hati-hati sekali berusaha menutupi pernikahan ini. Tapi, tentu saja So Eun bisa katakan itu resiko yang harus dihadapi Ye Sung dengan pekerjaannya itu.

“Aku tak ingin segera pulang. Aku bosan selalu berada di dalam villa dan mendengarkan ocehan tidak jelas ibuku dan ibumu. Kau bisa kembali kalau kau mau..”

“Tch, tentu saja aku akan dibunuh kalau pulang sendiri. Lihat sendiri bagaimana mereka tadi menyuruhku menemanimu, bukan? Lagipula, ya.. aku setuju. Aku menjadi bosan hanya tinggal disana..”

So Eun mengangkat bahu, tak mau ikut ambil pusing memikirkan dilemma pemuda yang sudah menjadi suaminya itu. Ia kembali mengalihkan pandangannya menuju lautan di depannya. Melihat hamparan laut yang berkilatan di hadapannya itu dimana dapat terlihat beberapa kapal berlayar di tengahnya. Hal yang tiba-tiba saja membuat So Eun teringat sesuatu.

“Bagaimana kalau kita pergi memancing saja?”

“Apa?” Ye Sung tampak tak terlalu yakin dengan apa yang didengarnya.

“Kubilang, bagaimana kalau kita pergi memancing ke laut saja? Dengan begitu tentu saja kau tidak perlu takut dikenali karena tidak akan ada yang kau temui disana selain para paman-paman nelayan yang menjadi pemandunya. Aku ragu mereka tahu kau..”

Ye Sung masih menatap So Eun aneh, seakan berharap So Eun hanya bercanda dengan ucapannya itu. Namun gadis itu tak tertawa sama sekali. “Kau serius? Maksudku, kau mau ke laut sana dan memancing? Kau? Seorang wanita begini?”

“Kalau seorang wanita lalu bagaimana? Aku sering diajak oleh ayahku waktu aku kecil melakukannya. Di luar negeripun aku sering melakukannya dengan teman-temanku. Aku pemancing jago, jangan sembarang meremehkanku..” sahutnya merasa kesal merasa diremehkan. Namun melihat ekspresi Ye Sung yang masih ragu ia malah berbalik mendelik padanya. “Kau sebenarnya takut, kan?”

Ye Sung tak menyahut, malah berdecak sambil mengalihkan pandangannya dari So Eun. Giliran So Eun yang tersenyum meremehkan padanya.

“Sudah kuduga, laki-laki sepertimu bukan tipeku sama sekali..” ujarnya menggeleng dengan nada prihatin. Ye Sung menatapnya kembali dengan sengit.

“Kau fikir kau tipeku, begitu?”

“Tch tch, ya.. kita sama-sama tak saling menyukai namun sialnya terpaksa harus menikah seperti ini. Sudahlah, yang penting apapun yang terjadi aku akan pergi memancing ke lautan sana. Kau mau ikut atau tidak aku tak peduli..” ujar gadis itu sambil berjalan dengan cuek melewati Ye Sung menuju kumpulan kapal yang ditambatkan tak jauh darisana. Sementara Ye Sung masih ragu di tempatnya, melirik punggung istrinya itu masih sambil menimang.

Tapi ini panas sekali. Kulitku bisa terbakar.

Ye Sung mendesah sambil melirik sekitarnya yang benar-benar sangat terik itu. Masih menimang sambil melirik punggung So Eun yang menjauh darinya. Namun, pada akhirnya ia memutuskan untuk mengekori gadis itu. “Hey, tunggu aku!” serunya malas.

Ye Sung menggerutu pelan, masih berdiam diri di bagian kapal yang melindunginya dari terik matahari. Desahan juga terus terdengar darinya dimana sesekali ia mengalihkan perhatian menuju lautan di sekitarnya, lalu beralih melirik istrinya yang tampak senang berbaur diluar sana dengan para nelayan sambil memegang pancingan. Istrinya terlihat sangat bahagia.

Ye Sung tak tahu alasan apa yang akhirnya membuatnya memutuskan untuk mengikuti So Eun tadi. Yang jelas, kini ketika mereka sudah sampai di lautan begini ia hanya bisa menyesali keputusannya tadi. Dimana hal itu semakin memburuk dengan bagaimana So Eun seperti mengacuhkannya sama sekali.

“Aku seharusnya tak datang.” Ucapnya mulai tak tahan dengan pakaiannya yang mulai membuatnya panas. Akhirnya ia membuka topi di kepalanya untuk mengipasi dirinya sendiri. Keringat tampak menuruni pelipis dan wajahnya.

“Sebagai seorang suami kau itu lembek sekali, anak muda..” salah satu nelayan tiba-tiba duduk disampingnya. Berdecak prihatin sambil melirik pemuda itu. “Bahkan istrimu terlihat lebih kuat darimu. Dia tak takut pada matahari seperti dirimu.”

Ye Sung mendengus pelan, diam-diam menggerutu karena So Eun yang untuk pertama kalinya mengakuinya sebagai suami pada orang-orang ini. Kenapa So Eun melakukannya? Tentu saja karena istrinya itu ingin mendapat harga yang cukup rendah untuk bergabung dengan nelayan-nelayan ini yang terlihat senang melihat dua anak muda meminta bergabung pada mereka beberapa saat yang tadi. Mereka menggoda bahwa kalau mereka adalah pasangan yang sedang berbulan madu maka mereka akan berbaik hati memberi setengah harga. Gadis itu langsung tergoda begitu saja tadi yang membuat Ye Sung hanya bisa geleng-geleng kepala.

“Setiap orang punya pribadi yang berbeda, paman..” Ye Sung menyahut, agak malas meladeni sebenarnya namun ia tak punya pilihan karena ini cukup berkaitan dengan harga dirinya. Begitulah fikirnya.

“Tapi sebagai seseorang yang sudah menjadi satu baginya kau seharusnya mulai menyukai apa yang disukainya. Laki-laki dan suami yang keren itu adalah seseorang yang sangat mengerti istrinya..” laki-laki tua itu tersenyum kecil, mengalihkan pandangannya kembali menuju So Eun sehingga membuat Ye Sung ikut melirik kesana. “Tidakkah kau lihat senyuman bahagia di wajahnya itu? Sebagai suami, tidakkah kau ingin ikut tertawa atau bahkan menjadi ia bisa tertawa senang seperti itu?”

Ye Sung terpana tanpa sadar, ikut memperhatikan So Eun dengan panjang sambil merenungi ucapan itu. Kalau difikirkan lagi ini adalah pertama kalinya ia melihat So Eun tertawa lepas begitu selama ia mengenal So Eun sebulan yang lalu. Apalagi sejak kemaren ketika mereka resmi menikah.

Kalau dilihat dia memang terlihat seperti orang lain sekarang..

Tanpa sadar memang Ye Sung menatap So Eun agak lama, hingga ia tersadar ketika So Eun tiba-tiba menoleh padanya. Hal itu membuat Ye Sung agak kaget sehingga mengalihkan wajahnya dari So Eun. Menyadari itu malah giliran So Eun yang mendengus sambil sibuk dengan kegiatannya lagi.

“Seperti aku peduli saja..” gerutu So Eun pelan, nelayan yang berada di sampingnya menoleh karenanya.

“Anda mengatakan sesuatu, nyonya?” tanyanya, membuat So Eun sedikit kaget dan menoleh padanya dengan kaget.

“E-Eung… bukan apa-apa, paman.”

Laki-laki itu tersenyum, melayangkan pandangannya menuju Ye Sung yang masih berteduh di bagian dalam kapal yang mereka naiki ini. “Suamimu terlihat tak terlalu nyaman disini. Dia pasti tak terbiasa dengan keadaan seperti ini.”

So Eun tersenyum kecil mendengarnya. “Benar. Dia tidak suka dengan hal seperti ini. Dia memang sedikit payah..” sahut So Eun pada laki-laki itu. Pria setengah baya itu ikut tersenyum.

“Tapi untuk tetap menemanimu kesini dia pasti sangat sayang padamu, nyonya. Aku yakin itu karena dia takut anda kenapa-napa sehingga itu sebabnya dia ikut kemari walau tak melakukan apapun..”

So Eun mengangkat alisnya, lagi-lagi hanya tersenyum kecil sedikit lucu. ‘Sayangnya dia datang bukan karena itu..’ So Eun hanya mampu menggumamkan itu dalam hatinya saja.

“Kenapa? Apa anda tak mempercayai apa yang saya katakan?” laki-laki itu tampaknya menyadari perubahan wajah So Eun sehingga itu sebabnya ia bertanya. Dimana lagi-lagi itu kembali mengagetkan So Eun.

“H-Huh, bukan itu maksudnya paman…”

“Tak ada yang perlu disesali, karena anda masih bisa memperbaiki semuanya. Nanti kalau anda berhasil mendapatkan tangkapan maka masakkanlah sesuatu yang istimewa untuknya. Walau hanya hidangan yang sederhana tapi aku yakin itu akan membuat suamimu senang dan terhibur..” ujar laki-laki itu dengan bijak dimana So Eun hanya dapat memberikan senyuman palsu yang terkesan miris di bibirnya. So Eun tahu memang sebaiknya ia tak mengatakan apapun untuk menyahutinya.

Tak lama, tiba-tiba So Eun merasakan tarikan dari gagang pancing yang dipegangnya. Hal itu tentu saja membuatnya kaget dan antusias di saat bersamaan. “Sesuatu menarik pancingku!” So Eun berseru antusias sambil mulai berusaha menarik ikan ke permukaan. Dilihat dari sedikit susahnya ia menariknya So Eun dapat menyimpulkan kalau tangkapannya ini lumayan besar. “Dia kuat sekali!” serunya antusias, namun terlihat tak menyerah untuk menarik tangkapannya. Beberapa nelayan disana tampak ikut menyemangatinya.

Sementara itu Ye Sung yang juga mendengar teriakan So Eun tampak ikut menoleh ke arah istrinya itu. Ia sepertinya ikut merasa penasaran dibuatnya. “Dia dapat ikan?” gumamnya penasaran sambil terus mendongak untuk melihat So Eun yang dikelilingi oleh beberapa nelayan. Hingga ketika suara teriakan yang lebih kuat terdengar barulah ia berhasil melihat So Eun, menemukan gadis itu mengangkat sebuah ikan laut dengan ukuran cukup besar yang masih terhubung dengan mata pancingnya. Ekspresi gadis itu terlihat senang ketika mendapat selamat dari para nelayan di sekitarnya. “Huh, dia hebat juga..” Ye Sung bergumam sambil ikut tersenyum sambil memperhatikan So Eun.

Sesuai rencana, dua keluarga besar yang baru disatukan itu kembali ke ibukota keesokan harinya. Setibanya di Seoul mereka tampak mulai disibukkan dengan rencana pindah rumah kedua pasangan baru itu yang tentu saja dipelopori oleh kedua ibu mereka. Hanya butuh satu hari bagi kedua wanita itu untuk memastikan tempat yang tepat lalu keesokan harinya proses pemindahanpun dilakukan.

Di hari perpindahannya baik Ye Sung ataupun So Eun sengaja untuk membiarkan kedua orang tuanya yang mempersiapkan semuanya. Karena selain tidak mau ikut menghabiskan tenaga, mereka nantinya berencana mengatur kembali tatanan rumah itu terlebih untuk kamar tidur mereka yang akan dibuat terpisah.

“Sepertinya ini tempatnya.” Ujar Ye Sung sebelum menghentikan laju mobilnya di depan salah satu rumah di komplek perumahan yang terkenal itu. So Eun tampak mendongak, melirik rumah dengan nomor unit 27 itu.

“Tidak buruk..”

“Tentu saja, ini bukan tempat sembarangan yang juga tak murah..” sahut Ye Sung sambil tersenyum remeh. So Eun hanya meliriknya datar sebelum turun dari mobil itu terlebih dahulu. Ye Sung ikut melirik gadis itu dengan tatapan yang sama dari dalam mobilnya. “Bukan tipeku sama sekali..” desahnya sebelum ikut turun.

Sementara itu So Eun terlihat sibuk mengamati rumah baru tersebut. Jiwanya yang mengandung darah seorang arsitek muda tentu saja sangat penasaran dengan bentuk rumah yang akan ditinggalinya untuk waktu yang belum ditentukan itu. Ia berusaha mempelajari tampilan rumah yang sejujurnya juga membuatnya penasaran dengan kepopulerannya itu.

“Wah.. tak heran mereka menjualnya semahal itu. Rumah itu benar-benar masterpiece.” Gumamnya kagum, terus memperhatikan seisi rumah itu seperti menyisiri setiap sudutnya. Rumah itu tak terlihat besar namun ia terlihat megah dan berkelas. Design rumah itu terlihat trendi dan sangat modern yang sebenarnya sesuai dengan seleranya. “Haah, tentu akan lebih bagus kalau aku tinggal disini dengan orang yang kucintai. Sayang sekali..”

Sementara Ye Sung hanya meliriknya datar dari samping mobilnya. Ia juga tak dapat mendengar setiap yang dikatakan oleh gadis itu sehingga yang bisa ia lihat hanya seorang gadis muda yang sibuk mengagumi rumah itu bak anak kecil melihat mainan baru. “Kau masih lama disana? Aku mau masuk!” Ye Sung berseru bosan melihat gadis itu tak berniat berhenti.

“Ya, aku akan menyusul.”

Ye Sung berdecak tak peduli, berniat untuk masuk sendiri ke rumah itu dan membiarkan So Eun. Ia segera meletakkan keycard di tangannya untuk mulai menekan beberapa digit. 270915, hari pernikahan mereka yang telah diatur oleh kedua ibu mereka.

Password yang kampungan sekali..” gumaman So Eun yang tiba-tiba sudah berada di sampingnya dan mengagetkannya. Ye Sung meliriknya datar.

“Jangan diganti, biarkan saja. Itu adalah kode yang paling aman sejauh ini..”

“Baiklah..” So Eun menyahut tak berminat, mengekori Ye Sung memasuki rumah baru keduanya tersebut. “Waaah… kerennya. Ini benar-benar seleraku!!” Seru So Eun antusias. Ia mendahului Ye Sung memasuki rumah itu dan kembali mengagumi seisi ruangan yang telah ditata sedemikian rupa itu.

“Dasar arsitek gila..” Decak Ye Sung sambil geleng-geleng kepala sambil memperhatikannya. Ia pun ikut mengalihkan pandangannya untuk memperhatikan sekitarnya.

Sama dengan So Eun sebenarnya ia cukup menyukai tempat tinggal baru mereka itu. Dia mungkin tak tahu banyak seperti So Eun tentang semua ini namun ia cukup terkesan. Sebuah rumah yang tak terlalu besar namun terlihat nyaman, berbagai furniture dan alat elektronik terbaru, hiasan dan lukisan yang keren, belum lagi dengan adanya sebuah taman dan kolam berenang mini yang terletak di salah satu sisi rumah. Semuanya cukup membuatnya menganggukkan kepala sejauh ini.

Hingga di suatu titik Ye Sung tiba-tiba menghentikan pandangannya. Kali ini ia melirik sebuah pigura yang berukuran paling besar di dalam ruangan itu yang tergantung apik dibagin sentral dinding ruang tamu. Foto pre-wedding keduanya.

“Issh, mereka tak seharusnya menggantungnya juga disini..” omel So Eun yang kembali sudah berusaha di sampingnya. Gadis itu berdecak pelan sambil geleng-geleng kepala memperhatikan pigura itu dengan wajah prihatin. Ye Sung ikut berdecak padanya, entah mengapa ia terganggu dengan tatapan gadis itu yang seakan-akan benar-benar tak menginginkan pernikahannya walau hanya sedikit. Maksudnya, ayolah.. Ye Sung ini tetap selebriti yang digilai banyak wanita. “Kita tak bisa memperkirakan apa yang mungkin saja terjadi di masa depan. Akan sangat bermasalah kalau foto ini digantung ditengah rumah seperti ini. Sebaiknya dilepas saja..” decaknya. Ye Sung mendengus pelan.

“Benar. Oleh sebab itu kau yang lepas?”

Giliran So Eun yang melirik padanya, tajam dan terlihat sewot. “Apa aku salah dengar? Kau baru saja memerintahku untuk melepas pigura yang hampir setinggi tubuhku ini sendiri? Yang laki-laki disini itu kau, kau yang harusnya melakukannya..”

“Tch, bukankah kau yang mengusulkan untuk membukanya? Aku juga tak mungkin melepasnya sendiri. Huh, enak saja. Tanganku ini terlalu berharga untuk hal seperti itu tahu..” Ye Sung menyahut tak mau kalah. “Lagipula kau sendiri yang terakhir kali menyebutkan aku tak boleh meremehkan gendermu. Huh, aku bahkan masih ingat ketika kau berbaur dengan para nelayan itu di tengah lautan.” Cibirnya. Dengan sadar So Eun memukul lengannya.

“Bukan berarti kau menyuruhku melakukan hal seperti itu, bodoh. Kau kira aku wondergirl bisa mengangkat benda ini sendirian..”

“Aku tak membayangkan tubuh tak seksi sepertimu berpakaian wondergiri..” gumam Ye Sung yang lagi-lagi berhasil mendapatkan pukulan lebih keras di lengannya. Ye Sung mendesah kesal padanya. “Aish, bukankah kau sendiri yang menulis di dalam kontrak kalau aku dilarang menyentuhmu. Kenapa sekarang kau memukulku seenaknya, huh?”

“Karena kau pantas mendapatkannya. Siapa suruh kau berbicara seenaknya tentangku.”

“Itu fakta mau apalagi..” sela Ye Sung yang lagi-lagi mendapatkan tatapan tajam dari So Eun. Ye Sung mengalihkan pandangannya dari undangan perang itu, memilih untuk tak memperpanjangnya. “Sudahlah, lupakan. Kita masih punya masalah disini. Jadi bagaimana menyingkirkan benda ini?” tanyanya meminta pendapat So Eun. So Eun melirik benda itu lagi.

“Tak ada cara lain, kita berdua harus menurunkannya bersama..”

“Yang benar saja..” Ye Sung mendesah tak setuju. “Bukankah nanti pelayan yang kau maksud juga akan datang? Suruh dia saja.”

“Tch, Tuan-Kim Ye Sung, dari awal aku tak tahu apa yang membuat pemuda menyebalkanmu bisa terkenal dan punya banyak fans. Aku tak peduli kau berbakat atau apapun itu tapi kau semakin mempertanyakan kewarasan para fansmu itu karena telah mengidolakan laki-laki payah sepertimu. Pertama bibiku itu juga adalah wanita sepertiku, kedua dia lebih tua dari ibumu, bagaimana mungkin kau membuat ide untuk menyuruhnya mengangkat benda besar dan berat ini!!”

“Arrrh, ini tak ada hubungannya dengan itu. Kenapa kau bisa seenaknya terus mengataiku, menyebalkan?!”

“Itu faktanya mau apalagi!!”

Dan bukannya bekerja sama, perang mulut antara keduanya pun kembali terjadi.

So Eun selesai mengatur kamar barunya setelah selesai menata perlengkapan make-upnya. Gadis itu kemudian tampak tersenyum kecil, melirik hasil pekerjaannya terhadap kamarnya yang berhasil ia selesaikan setelah lebih dua jam.

“Rumah ini bagus dan cantik..” Ia bergumam senang, bersenandung kecil sambil memastikan bahwa semua produk make-up di mejanya lengkap tanpa kurang satu apapun.

Di tengah keasyikannya itu tiba-tiba ia mendengar ketukan pintu pelan. Ye Sung mendongak ke dalam melalui pintu yang tak tertutup sama sekali. Sepertinya dia juga sudah selesai menata kamarnya sendiri.

“Aku lapar. Kapan pelayan yang kau maksud akan datang?” Tanya Ye Sung sambil bersandar di tepian pintu. Melirik seisi kamar yang telah ditata dengan apik oleh sang istri.

“Masih ada pekerjaan yang harus diurusnya di rumahku, jadi mungkin dia akan kemari besok pagi-pagi sekali..” jawab So Eun, langsung mendapatkan desahan dari Ye Sung.

“Besok terlalu lama. Aku sudah lapar, lalu malam ini kita akan makan apa?”

Sementara itu So Eun tampak juga ikut berfikir karena ia juga sudah mulai merasa lapar. Namun seingatnya belum ada makanan apapun di dalam kulkas. Walaupun ada juga tak akan ada gunanya mengingat So Eun sendiri tak bisa memasak sama sekali. Ia bahkan ragu kalau ia bisa memasak ramyun dengan benar karena ia tak pernah melakukannya sejak kecil. Lagipula enak saja, dia tak akan memasak untuk suaminya ini sampai kapanpun.

“Tak ada cara lain. Kita harus memesannya.” Usul So Eun setelah beberapa saat. Ye Sung tampak menganggukkan kepalanya.

“Sepertinya itu jalan satu-satunya..”

“Aku masih terkagum dengan sistem keamanan di tempat ini. Untuk memastikan pemesanan saja penjaga gerbang harus mengonfirmasikannya dulu padamu untuk memastikan bahwa kau memang memesan makanan atau tidak. Mereka mengelola tempat ini dengan sangat serius..” So Eun terus berujar sebelum menyeruput mie Jjajangmyeon hasil pesanan keduanya. Sementara itu kini Ye Sung juga memakan miliknya ketika keduanya duduk bersama di ruang tengah rumah baru mereka.

“Tentu saja, seperti yang pernah kukatakan sebelumnya tempat ini memang sangat terkenal dengan keamanannya yang ketat sehingga banyak selebriti dan pejabat yang tinggal disini…” sahut Ye Sung di tengah jeda makannya. So Eun menganggukkan kepalanya.

“Ya, tapi aku masih tak habis fikir saja.” Sahut So Eun, sebelum mengubah eskpresinya dan melirik Ye Sung dengan eskpresi sedikit serius. “Tapi kalau begitu bukankah berarti ada juga selebriti korea yang menyembunyikan rahasia mereka disini? Mereka mungkin menyembunyikan beberapa skandal seperti pernikahan juga ataupun perselingkuhan, bukan begitu?”

“Sepertinya begitu..”

“Hebat… kira-kira siapa saja ya? Aku jadi penasaran..”

“Entahlah, mana kutahu. Aku cuma mendengar tentang tempat ini dari mulut ke mulut. Jadi tak bisa dipastikan siapa saja yang mengotraknya ataupun menyembunyikan sesuatu disini..”

“Kalau nama besar pasti akan heboh kalau ketahuan..”

Ye Sung menghentikan makannya sejenak, melirik So Eun dan tersenyum remeh. “Asal kau tahu, aku ini adalah salah satu nama besar di Negara ini. Kalau pernikahan menyebalkan ini sampai ketahuan maka semuanya akan sangat heboh…” Namun So Eun berdecak mendengarnya.

“Kau selalu saja membanggakan dirimu..”

“Tentu saja. Harga diriku masih terlukai olehmu yang tidak mengetahuiku sama sekali di awal kita bertemu. Kau harus tahu betapa terkenalnya aku sebenarnya..”

“Terserahlah..” So Eun kembali mendecak dengan ekspresi meremehkan. “Yang penting apapun yang terjadi kita harus memastikan keamanan rahasia ini. Aku tak mau hidup tenangku lebih terganggu dengan profesimu itu..”

“Pastinya. Aku juga mau karierku hancur semudah itu…”

So Eun melanjutkan makannya tak peduli, sementara Ye Sung masih melirik wanita di depannya itu dan tersenyum kecil. Entah sejak kapan namun ia merasa bahwa ia dan So Eun semakin akrab dengan alaminya terhitung hampir seminggu mereka menikah. Tak ada inisiatif atau niat dari pihak manapun, namun karena mereka terlalu sering terlibat dalam situasi yang sama mau tak mau mereka saling membutuhkan untuk mencari jalan aman bersama. Walau tetap saja perdebatan dan perang mulut antara mereka tetap tak dapat terhindarkan.

Setelah dihari kelima pernikahan mereka keduanya sibuk dengan kehidupan masing-masing. Ye Sung tentu saja disibukkan dengan pekerjaan keartisannya yang membuatnya jarang pulang ke istana baru mereka itu. Sementara itu So Eun sendiri juga disibukkan dengan pekerjaannya.

So Eun berhasil mendapat pekerjaan di sebuah perusahaan Arsitekstur terbesar di kota itu. Ia mendapatkannya setelah mendapatkan rekomendasi dari salah satu temannya. Maka setelah memasukkan CV dan melakukan tes wawancara gadis itu akhirnya berhasil mendapatkan pekerjaan tersebut.

Hari ini adalah hari pertamanya bekerja. Gadis itu terlihat sudah bersiap pagi-pagi sekali dan mengendarai mobilnya menuju perusahaan yang terletak sekitar lima belas menit dari tempat tinggalnya. So Eun terlihat sangat siap, bahkan ia terlihat sangat semangat. Lihatlah bagaimana cerianya ia saat ini.

Seperti yang diintruksikan, hal pertama yang dilakukannya sesampainya ia di kantor barunya itu adalah menemui General Manager di perusahaan tersebut. Sekitar lima menit yang lalu gadis cantik itu telah menunggu di ruangan orang yang dimaksud, duduk tenang disana. Selama ini ia tak merasa bosan sama sekali karena perhatiannya sudah ditarik sepenuhnya oleh keindahan tatanan tempat itu. Ruangan yang minimalize namun terlihat trendi, dimana hal itu ditambah dengan berbagai hiasan di dalamnya. Yang paling menarik perhatiannya adalah bagaimana mereka menggunakan beberapa lapis kaca yang disusun vertikal sebagai pembatas ruangan ini dengan ruangan lainnya. Membuat ia dapat melihat setiap ruangan di sekitarnya dengan cukup bebas.

“Maaf karena telah membuat anda menunggu lama, nona..” seorang wanita seumurannya tiba-tiba memasuki ruangan itu sehingga menyadarkan So Eun. Gadis dengan rambut yang dibuat bergelombang dan pirang itu lalu duduk di depannya. Memberikan senyuman ramah pada So Eun. “Saya adalah Tiffany Hwang, General Manager di perusahaan ini..” ujarnya memperkenalkan diri sambil memberikan senyuman ramah. So Eun ikut tersenyum padanya.

“Saya adalah Kim So Eun. Karyawan yang baru diterima bekerja disini..”

“Tentu saya tahu hal itu nona-Kim. Saya sudah menunggu kedatangan anda sejak pagi ini..” Gadis bernama Tiffany itu terkekeh sambil memeriksa beberapa berkas. Hingga setelah menemukan map berwarna hijau yang seingat So Eun adalah CV-nya ia meluruskan duduknya kembali. Membacanya. “Jadi anda adalah seorang lulusan S2 dari salah satu universitas terkenal di Melbourne. Anda baru saja menamatkan kuliah anda sekitar tiga bulan yang lalu dan belum mempunyai pengalaman kerja selain praktek kerja lapangan di sebuah perusahaan arsitektur di kota yang sama. Anda juga mendapatkan beberapa piagam dan index prestasi yang bagus.”

So Eun tampak hanya menganggukkan kepalanya membenarkan setiap hal yang disampaikan oleh wanita di depannya itu. Tentu saja dengan rasa bangga tersendiri di dalam dirinya ketika mendengar hal itu dari orang lain. “Begitulah..”

“Seperti yang anda juga ketahui anda diterima di perusahaan ini untuk bergabung dengan tim perencanaan dan design. Anda ditempatkan sebagai salah satu anggota yang mana anda memiliki tugas untuk…”

So Eun tak berniat mengacuhkan, namun tiba-tiba saja ia tak terlalu mendengarkan penjelasan wanita itu ketika matanya malah menangkap sesuatu. Melalui pembatas kaca ruangan itu mata So Eun tiba-tiba saja menangkap seorang pemuda yang baru saja memasuki ruangan di sebelah mereka. Pemuda yang tampak menggunakan kemeja putih tanpa jas ala pekerja kantoran itu kini tampak mendudukkan dirinya di depan satu-satunya meja di ruangan itu. Dimana mata So Eun bak tertarik untuk terus mengikuti pergerakannya.

Auranya kuat sekali…

So Eun tak tahu, namun entah mengapa pemuda itu begitu menarik perhatiannya ketika tertangkap mata secara tak sengaja olehnya tadi. Seperti saat sekarang dimana So Eun masih memperhatikan ketika pemuda itu terlihat mulai sibuk memeriksa sesuatu dari tasnya. Wajah serius yang terus ditunjukkan oleh pemuda dengan rambut hitam kecokelatan itu entah mengapa membuat dirinya betah memperhatikannya.

“Nona-Kim?” samar-samar ia mulai mendengar seseorang memanggilnya. Walau So Eun masih mengacuhkannya karena ia seperti tersihir untuk melirik ke arah sebelahnya itu. “Nona-Kim?”

So Eun tersentak kaget, dengan cepat melirik wanita di depannya ini. Wanita bernama Tiffany itu tampak memberikan tatapan bertanya padanya, walau sekilas senyuman kecil yang terlihat menunjukkan kalau dia mungkin mengetahui sesuatu.

“H-Hum… M-Maafkan saya..” ujar So Eun kikuk. Kini ia berusaha menyibukkan diri dengan memainkan tali tasnya. Namun wanita malah tersenyum semakin lebar.

“Dia keren, bukan? Di tempat ini dia adalah idola?”

“H-Huh..”

Tiffany tersenyum, ia lalu melayangkan pandangannya ke arah So Eun menatap tadi. Hal itu membuat So Eun melirik ke arah tadi dimana pemuda itu terlihat tak menyadari bahwa ia semenjak tadi diperhatikan. So Eun terlihat kembali betah membiarkan matanya melirik kesana.

“Tuan-Lee Dong Hae…”

Jadi namanya Lee Dong Hae?

So Eun terdiam lagi tanpa sadar, namun ia kembali tersadar tak lama dan melirik Tiffany. Lagi-lagi hanya menemukan senyuman maklum dari perempuan itu. So Eun kembali merasa salah tingkah.

“Saya yakin pasti anda akan senang mendengar ini karena anda akan banyak bertemu dan menghabiskan waktu dengannya..” ujar Tiffany lagi, berhasil membuat So Eun penasaran dengan maksud sang general manager. “Dia adalah ketua tim dari bagian perencanaan dan design. Divisi tempat anda akan ditempatkan…”

So Eun tiba-tiba merasa gugup sendiri mendengarnya, namun disaat bersamaan dia merasakan ada sesuatu di dalam hatinya sana yang antusias mendengar pemberitahuan itu. Sesuatu yang ia sepertinya tahu apa jawabannya.

Setiap orang mempunyai beberapa kriteria bagi lawan jenis yang dipilihnya. Kriteria ini biasanya juga adalah sesuatu yang merupakan persyaratan untuk seseorang yang ingin memasuki hidup mereka lebih jauh. Sesuatu yang sering mereka sebut sebagai.. tipe ideal?

Ya, dan dalam hal ini pria seperti inilah tipe idealku.

So Eun lagi-lagi memandang pria itu tanpa sadar.

Ye Sung sedang asyik membuka SNS-nya ketika Shin Dong tiba-tiba memasuki ruangan itu. Pria gembul yang merupakan teman karibnya sejak kuliah itu kini duduk tepat di hadapannya. Ketika Ye Sung melirik padanya ia menemukan senyuman lebar yang entah apa maksudnya dari rekannya itu.

“Kau terima gaji lebih awal, huh? Kenapa senyum-senyum begitu..” ucap Ye Sung setengah tak peduli. Ia melirik temannya itu sekilas sambil kembali sibuk dengan benda di tangannya.

“Aku begini karena menerka bagaimana reaksimu setelah mendengar khabar yang kubawa ini, kawan.” Jawab Shin Dong masih dengan senyuman yang sama. Kali ini berhasil mendapatkan perhatian dari Ye Sung lebih jauh.

“Khabar apa? Dari perusahaan?”

“Ya, beberapa staff tadi memberitahukanku dan memintaku untuk menyampaikan padamu. Ini khabar besar..”

“Khabar besar apa?” Tanya Ye Sung penasaran. Shin Dong malah masih terkekeh, masih belum siap sepertinya menjelaskan apa maksudnya. “Hey, cepat katakan. Khabar apa yang kau maksud?” Ye Sung mulai tak sabar.

“Setelah empat tahun kariermu, setelah selama ini kau tidak dapat kesempatan, siapa sangka kau akhirnya mendapat kesempatanmu untuk membintangi salah satu acara yang sering kau sebut ingin kau coba. Ironisnya kau mendapatkannya hanya setelah belum genap dua minggu kau menikah..”

“Apa maksudmu?”

“Kau resmi dikontrak untuk tampil di acara virtual We Got Married.”

“Apa?” Ye Sung terlihat kaget, tak percaya dengan apa yang didengarnya.

“Setelah kecolongan oleh kemauan keras ibumu sepertinya CEO kita yang terhormat benar-benar terganggu. Dia tak mau tinggal diam untuk menutupi status barumu saat ini sehingga itu sebabnya ia memutuskan memasukkanmu ke acara yang paling mungkin untuk menguburnya dalam-dalam.” Jelas Shin Dong. Sementara Ye Sung tampak masih sedikit tak yakin dengan apa yang didengarnya.

“Ini serius?”

“Tch, kapan prince manager ini bohong padamu?”

Wow. Hanya itu yang berada dalam fikiran Ye Sung. Selama ini ia memang pernah bercanda di salah satu wawancara kalau dia ingin tampil di acara tersebut. Tapi karena selama itu dia tak pernah mendapat tawaran dan ia juga sibuk dengan jadwalnya yang lain nyatanya itu tak pernah terjadi. Ia tak percaya kalau orang tertinggi perusahaannya akan segila ini mencoba peruntungan padanya dengan mendorongnya tampil di acara itu. Kalau begini bukankah kalau ia dan So Eun sampai ketahuan bisa-bisa dampaknya akan lebih besar?

“Tapi… dengan siapa? Apa kau sudah mendapatkan khabarnya?” Tanya Ye Sung ketika ingat sesuatu. Ia melirik lagi pada temannya itu yang masih setia duduk di depannya. Senyuman itu kembali melebar.

“Kau pasti tak akan percaya dengan ini..”

“Apa maksudmu? Apa aku mengenalnya?

Shin Dong terkekeh kian mencurigakan, ia sepertinya juga sengaja menggantung ucapannya untuk membuat temannya itu penasaran. Hingga setelah puas menggoda temannya itu ia akhirnya menjawabnya pelan, “Wanita yang selalu kau sebut sebagai tipe idealmu selama ini. Nona-Kang Min Kyung dari grup Davichi..”

 

 

Apa?

❤ TBC❤

26 Comments Add yours

  1. muani caledupha mengatakan:

    Mereka mulai dekat secara alami dan bersamaan dengan itu keduanyapun menemukan orang lain yg sebelumny mereka harapkan #sesuai kriteria.

    Akan jadi seperti apa kisah yesso kedepNnya.? Ditunggu nex part-nya

  2. kristienuuna mengatakan:

    Hwaaa…
    Donghae jadi pria idaman Sso..
    Ini bener2 bikin dilema..
    Haesso aku merindukanmu..
    Tapi d sini Yesso pemeran utama na..
    Hahahahaa..

  3. yhuliisoeun mengatakan:

    wkw wk wktu baca bagian yesung yg mau ikut wgm dalam hati*astaga janagn smpai * hahahah…. gak rela aja realnya dia bnran ikut..haha.. gak nyangka yesso udh nikah aja.tpi bgus jga sih… dilihat lihat sprtinya yg bakal jatuh cinta duluan antara mreka kyknya sih yesung yah.. wohoho jadi gk sabar wktu itu tiba… aduh donghae pesona mu mmg kuay.. hahaaha… next.y sangat di tunggu nii…

  4. Mothisan mengatakan:

    Hubungan yg d jalankan tidak sesuai dengan yg d harapkan,,,,,.
    Tipe kriteria yg d idamkan muncul d kehidupan mereka,,,

  5. nita mengatakan:

    mereka sm2 nemu’n tipe ideal mrka, donghae & kang min kyung.
    gmna klnjutn prnkhn mrka stlng yeye ikutn wgm brng kang min kyung, trs sso yg kerja brng donghae.
    next part d tngggu🙂

  6. narulita rc mengatakan:

    Keknya gue lupa deh sm jln crita ini ff heheh tp critanya keren kok aduh gk kbyang gmna entar hub kduanya yg keknya bkal sma 2 ska sm orng lain 😆😆

  7. anna mengatakan:

    Wuaduuhh sm2 dipertemukn dgn type ideal mrk nieyyy gmn nasib rmh tgg yesso nntiny pst bkalan lbh srg perang dunia

  8. Mama nikita widiyati mengatakan:

    Woooww…….aku suka pairing so eun yesung…ehm keren chingu!!!!pokoknya semangat terus deh ngelanjutin ff yg tertunda….kita pasti komen!!!oke

  9. Angel mengatakan:

    Daebak 👍

    Seru jlan crita.y
    Dmna sso n yesung bertemu dg tipe ideal.y masing” d saat mreka sdah brstatus suami istri 👫

    Jdi penasran bgmna klnjutan hubungan sso n yesung 🙇

  10. safriyanti mengatakan:

    Dh nkah j ne,,,
    Tp psti seru to adu mlut sllu,,,,
    Nah mlai mnmkan tipe ideal msing2 ne,,,
    Tp dliat dr kdaan yesung dech yg bkal lbh mnjga diri,,,
    Nah sso mlah lgsung trpesona ne ma hae,,,
    Kyak,a yg bkal cinta dluan psti yeye ne,,,,
    Bkal gmna y nsib rmah tngga yesso,,,,

  11. wahyuSsoAngells mengatakan:

    Akhirnya tom&jerry sedikit2 mulai akrab😜walaupun msh sering berdebat😁😄
    Msalah bklan rumit nih apalg dtangnya tipe ideal mreka,,yg bklan sering mlakukan interaksi dlm pkerjaan😥😥
    Soeun-donghae trus yesung-minkyung hiks..hiks knp aku gak rela yaa😭😭

  12. Vhi mengatakan:

    Berantem terus ya ,,,, mkin sulit kayanya bwt nyatuin mereka,,, ditambah sso yng udh ketarik sma si ganteng donghae …..

  13. Tri Ariyani mengatakan:

    terima kasih infonya ….mungkin nanti malam or besok pagi baru bisa aq  baca, sekarang masih sibuk kuliah ampe malam

  14. Tri mengatakan:

    Bagaimana ini, setelah mereka bersatu…ternyata menemukan orang yang menjadi tipe idealnya….hik hik….aq penasaran

  15. pipip mengatakan:

    Waaaa akirnya part ini mncul jg kekeke
    Ibu2nya rempong bnget ya kyknya ngtot bnget mau nyatuiin soeun dgn yesung
    Pdhal jls2 kduanya gak trtarik satu smalain
    Truss ibu2nya (?) Niat bnget usahanya smpe gal kcil skalipun lucu
    Ciyeeee soeun akirnya mnemukan tipe idealnya jg
    Dan yesung kesampean jg ikt wgm trus gmna nasib mreka ber2 kdepannya pnsrn bngettt
    Dtnggu next partnya eon

  16. shaneyida mengatakan:

    hhhhii… Yesung akan bermain di wgm dg cewek yg jd tipe idealnya sedangkan soeun mengagumii sosok donghae yg menjdi tipe idealnya ..¨Ħiii¨¨Ħiii¨¨Ħiii ƪ(˘⌣˘)ʃ•´¯`• ♥ ,, tambah kompak ni yesso hhhhi ..baklan akur apa tambah runyam or kelelep air dah tu hub yesso *eoh* , ni tingkah dua orang bikin aye tambah stress ĦΔĦΔ:D ĦΔĦΔ=D ĦΔĦΔΔ=)) stress senang gituuu *eoh* stress yg bikin ketagihan pengen stress terus *eoh * hhhi ..<3<3<3<3

    Setelah yesung ma soeun menikah mereka d gotong ke tempat special..kamar manten baru yak hhh ,penuh bunga2 mawar yg wangi nuansa dah mendukung buat nyiptain hal romantis dan yesso melakukan hal yg jauh lebh dr kata romantis ¨Ħiii¨¨Ħiii¨¨Ħiii ƪ(˘⌣˘)ʃ•´¯`• ♥ adu perang mulut ..menjdikan malam pertama mereka sungguh berkesan *eoh* hhh

    Yg kawin siapa yg heboh siapa hhh..emak2 yesso bener3 special pake cinta ngebuat nuansa kmr indah ..ampe ada kejutan cahaya biru berbentuk hati untuk memperdalam keintiman mpnya yesso hhha yg ade mereka melongo terpesona ngeliat cahaya biru ntu karna dpt serangan menddak *eoh*…pagipun menjelang d goda3 imut ma ibu n mertua membuat mereka hanya iso nerima n ngeluh dikit kkke cos klo ngeluh banyak iso2 mereka d pecat jd anak n d kutuk jdi batu karna jd anak durhaka *eoh kkke aye ngomong apaan yak kga' nyambung bingit hhha di angguk2in aje ee put * hhhhi ;;) !! Ni kel rame yak ortunya heboh klo dh nyangkut anaknya ee anaknya heboh jg klo dh adu mantra hhhe

    Btw pesona soeun rpnya terlihat ketika dia sedang berbaur ma nelayan n memancing dg bumbu senyuman terukir d wajahnya mampu mengalihkan dunia yesung walopun sejenak kkke setidaknya soeun udeh dapt tangkapan double.. Yg pertama ikan yg ckp gede trus kedua ma yesung jg tertangkap CCTV mata soeun hhhi , eee aye ngakak pas ade nelayan blg yesung lebh lembek dr sso hha sso lebh kuat sdngkan yeye takut ma sinar matahari hhhi etts dia kan idol terkenal yak kkkw , aye rs klo yeye ikut mancing pasti tangkapan ikan nya lebh banyak cos tu ikan3 pd berlomba2 mau d tangkap ma idol ganteng kek yeye sekalian mereka minta tanda tangan juga *eoh kkkkkke plakkk*

    Setiap line nya aye sukaaa… Suka bgt pake selai hhhe , apalgi ketika soeun memukul mukul yesung dilengkapi dg gumaman gaje yeye hhhhiii ..iso2 lecet dh t lengan artis kkkkke !! Persaan pendek bgt part ini put udeh kelar aje ..*plakk* !!! Lanjuuuut ~ 10000000 jempol macan buat pupuuuuuuuuut (y) ..koleksi yee. ;;) !! Tetep cmingit puuuut .. Sukses buat urusan2 puput biar ga jd sibuuk n iso rilis nexpartnya ƗƗɐƗƗɐƗƗɐƗƗɐƗƗɐƗƗɐ"̮‎​​ !! Lempar senyum bang jong k jamban kkke ets ke puput🙂

  17. Devi mengatakan:

    Kyak’a susah bangeeet klo pasangan yesso bisa saling mencintai,,,
    Karena pasangan yesso dh ketemu ap yg selama ini mereka inginkan,,,,
    Eonnie so eun dh ketemu ma cwok type ideal’a mskipun blom mengenal sosok cwok ideal’a mskipun udh tau nama’a yaitu lee dong hae,,,
    Terusss yeppa yg slama ini d impikan kini terwujud yaitu mengikuti acara we got married dan yg memjadi istri virtual’a adalh cwek type ideal’a,,,,,

    Jd penasaran ma kehidupan pasangan yesso selanjut’a dan akankah akhir’a meteka bersatu,,
    D tunggu kelanjutan’a,,,,

  18. Ayu Chokyulate mengatakan:

    pasutri baru ini adu mulut mulu ya, ada aja yg di debatin, tapi salut sama eomma-eomma mereka yg gencar banget pengin buat mereka saling cinta wkwk apalagi isi lemari yesso aduh sumpah bikin ngakak :v jahil banget dah ahh
    wahh yesso menemukan pasangan ideal mereka masing-masing, berakhir gimana ya hubungan rumah tangga yesso?
    next eonni^^

  19. hesti mengatakan:

    Wah makin seru ,akhirnya keluar juga ni ff udah lumutan kak nunggunya 😀😀😀😀😀

  20. Fee mengatakan:

    Ehhh ada bang ikan. Pengin liat interaksi.y brg so eun.
    Wahh ye sung bklan ikut wgm, so eun marah ngga yah??

  21. Faizal indri mengatakan:

    Hubngan mrka blm dkt tp da hdr orng” dngan type mrka gk sbr nunggu mrka menyadri bahwa mrka slng membth kn

  22. elisa mengatakan:

    aaaaah ada bg ikan a…cieh…aaah pingin liat gmn crta selnjt ma bg ikan trus pingn liat cemburu a yesung oppa…d tunggu next part a author…

  23. elisa mengatakan:

    aaaaah ada bg ikan a…cieh…aaah pingin liat gmn crta selnjt ma bg ikan trus pingn liat cemburu a yesung oppa…d tunggu next part a author…
    chayo….
    author daebak…gk da rencn buat novel ya author….

  24. Irnawatyalwi mengatakan:

    Waow yesung oppa akn brgbung k wgm brsma tipe idealx, apa i2 akn membuat sso cmburu n bgmana kalo d tegah2 acra i2 brlngsng akn brdar kbr yesung uda bristri? Apa i2 g akn smakn runyam? Hem tpi d si2 lain sso jg uda brtmu dgn tipe idealx yaitu prince lee dong hae( i2 jg tipe idealKu hehehehe), kyakx akn ada salng cmburu ni n pastix akn seru mrka akn salng pnas memanasi, haoo knpa jd kgen dgn ff haesso stlah hae oppa muncul d part 2 ini

  25. 2425yy mengatakan:

    yesso ^^
    msih panjang perjalanan sprtnya

  26. Kim Ra rA mengatakan:

    hoho sudah kuduga kalau mereka akan semakin seru apalagi dengan perang adu mulut mereka. tapi dengan begitu keduanya jadi semakin akrab tanpa mereka sadari.
    WAAAAAAH .my prince nongol… pa lagi dia jadi laki laki yang pertama narik perhatian soeun. nah loh… soeun kaya nya falling in love di saat dia udah resmi berganti status. yesung juga dia malah harus punya istri virtual disaat dia sudah punya istri
    seru seru seru gak sabar dengan kekacauan yang akan terjadi hahaha yang pasti yang kacau itu hati mereka hihihi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s