~ The Chosen Mother Part 4 [ENDING] ~


Chosen Mother 4

Title       :               The Chosen Mother Part 4

Author  :               PrincessClouds/@hi_putriys (Putri Andina)

Genre   :               Family, Romance,

Rated    :               PG-15

Lenght  :               Oneshot

Main      :               Kim So Eun, Lee Dong Hae, & Song(Lee) Dae Han.

Minor    :               Tifanny Hwang, Luna fx, Cho Kyu Hyun, other.

Mentin:                Soo Yeon Jung (Jessica)

Warning:              Typo(s) – No Edit, OOC, Alur ngebut, deelel.

Note      :               Usia cast disesuaikan. Terutama Dae Han yang aslinya hampir 4 tahun disini dia 6 tahun.

*

“Ayah, tak bisakah kita membawa So Eun juga?”

“Dae Han ingin memiliki keduanya, ayah dan So Eun. Seperti anak-anak di taman dan teman-teman Dae Han. Dae Han ingin ada ayah dan juga ibu.”

Ucapan itu terngiang terus di telinganya, urung hilang walau terhitung sudah beberapa hari sejak pertama kali keluar dari mulut mungil buah hatinya, Lee Dae Han. Tatapan mata Dae Han juga sama, semua terlukis apik dalam fikirannya secara detail tentang bagaimana sepasang almond hitam itu menatapnya dengan sedikit memelas. Terasa sedikit memohon.

Dong Hae bukannya tidak professional, hanya saja belakangan ini hal itu terus menganggu hidup bahkan menjalar ke pekerjaannya. Membuatnya tak bisa berkonsentrasi, membuatnya tak bisa berfikir, ketika secara acak ucapan dan ingatan itu terus kembali padanya. Menganggunya.

“Ada apa, Lee Dong Hae? Apa ada yang menganggumu?” seruan Cho Kyu Hyun, teman baik yang juga merangkap sebagai mitra kerjanya yang baru tampak sedikit mengagetkannya. Hal itu membuatnya langsung menoleh pada teman baiknya sejak kuliah itu.

“H-Hum, tidak. Tidak ada apa-apa.” Dong Hae berdehem, tampak kembali berusaha memahami sejenis dokumen yang diberikan Kyu Hyun tadi padanya. Walaupun rasanya masih sama karena ia tak bisa berkonsentrasi pada apa yang tertera di sana.

“Kenapa? Apa Dae Han membuat masalah lagi?” Kyu Hyun terkekeh. Tampaknya ia memahami masalah yang dihadapi teman baiknya itu. Kyu Hyun mengerti banyak hal tentang Dong Hae, ia bahkan kenal cukup baik dengan Dae Han walaupun ia hanya bertemu beberapa kali dengan bocah itu. “Atau, apa kau punya masalah dengan Tiffany?”

“Aku sudah tidak memiliki hubungan lagi dengan Tiffany.”

“Huh, benarkah? Sejak kapan?” Kyu Hyun tampak membesarkan matanya sedikit kaget. Sementara Dong Hae tampak mendesah sambil menutup sepenuhnya dokumen itu. Ia kemudian mulai meraih cangkir kopi yang ia acuhkan sejak tadi.

“Kurang lebih sebulan ini.”

“Apa karena Dae Han tak setuju lagi?”

“Begitulah.”

Kyu Hyun tampak mengangguk maklum. Seperti yang dikatakan tadi, Kyu Hyun mengenal Dong Hae dan keluarganya dengan baik. Ia juga merupakan teman baik mantan istri Dong Hae. Ia ada di sana ketika kericuhan pernikahan keduanya yang mendadak, kelahiran menggemberikan Lee Dae Han, atau bahkan ikut menjadi saksi tentang bagaimana tumbuhnya bocah itu. Di sana dia juga tahu tentang bagaimana sejarah percintaan Dong Hae yang selalu patah di tangan bocah kecil itu.

“Kira-kira sampai kapan Dae Han akan terus bersikap seperti ini? Sampai kapan dia akan menerima seorang wanita baru dalam hidup kalian.” Gumam Kyu Hyun lirih sambil meraih cangkir kopinya sendiri dan berniat meminumnya.

“Sebenarnya, ada seorang wanita yang telah berhasil.” Kali ini Dong Hae yang bergumam lirih. Berhasil membuat Kyu Hyun menghentikan niat untuk minum dan melirik padanya dengan tatapan sedikit tak yakin. Namun Dong Hae belum membalas tatapannya, pria itu tampak masih menunduk ketika ia kembali bergumam, “Tapi ini begitu rumit dan membingungkan. Aku tak tahu harus bagaimana..”

Dong Hae mendesah sambil mengusap tengkuk belakangnya.

*The_Chosen_Mother_Part_4*

“Jadi bagaimana reaksi Tuan-Lee Dong Hae? Apa yang dia katakan mendengar ucapan Dae Han itu? Apa yang kau katakan?” Luna tampak bertanya dengan menggebu-gebu dan tanpa jeda. Ia tampak tak peduli sedikitpun bagaimana So Eun semakin tak nyaman dengan pertanyaan demi pertanyaan itu.

“Aku tak begitu yakin, tapi suasana menjadi begitu aneh.”

“Aneh seperti apa?”

So Eun mendesah pelan, diusapnya pelan wajahnya yang benar-benar terasa panas. Ini hanya membayangkan tapi rasanya sudah semalu ini. Ia cukup kaget karena kemaren ia tak sampai pingsan akibat salah tingkah karena ucapan polos Dae Han. Dia bahkan tak tahu ia mendapatkan kekuatan darimana ketika ia masih bisa bertahan di tengah kecanggungan antara dirinya dengan Dong Hae waktu itu.

“Tch sudahlah, kita sudahi sambil di sini saja.” Keluhnya menyerah sambil berdiri dari tempat duduknya. Ia bahkan belum sempat menyelesaikan pekerjaannya tadi, bagaimana caranya ia berakhir menceritakan hal ini pada Luna? Tch, dia pasti sudah benar-benar kebingungan tadi.

“Tapi mendengar ucapanmu, Tuan-Lee Dong Hae juga pasti langsung merasakan sesuatu karena ucapan Dae Han itu. Itu sebabnya dia jadi ikut diam dan canggung begitu.” Ujar Luna yang berhasil membuatnya melirik gadis itu dengan gugup. So Eun menggigit bibir bawahnya.

“Menurutmu begitu?”

“Tentu saja, aku bisa melihat bagaimana sayangnya dia pada Dae Han. Aku yakin hal ini juga menganggunya terlepas dia suka padamu atau tidak, kakak.”

“Itu artinya baik atau buruk?” So Eun bergumam sambil menunduk memikirkan. Sebenarnya ini bukan pertanyaan baru, dia juga sering menanyakan hal ini pada dirinya selama dua malam ini. Tapi dia tak tahu, dia tak memiliki petunjuk tentang jawabannya sehingga itu sebabnya ia bertanya pada Luna. Mungkin itulah alasannya dari awal menceritakan semua ini pada bawahannya itu.

“Tergantung. Itu kembali pada bagaimana dia menyikapinya.”

“Maksudnya?”

“Dia sangat sayang pada putranya itu. Aku yakin, dia banyak berfikir tentang bagaimana caranya memenuhi keinginan putranya itu. Tapi tetap saja itu kembali pada perasaannya sendiri. Kalau dia memang suka padamu, tentu semuanya jadi mudah untuknya. Tapi kalau tidak, hal itu mungkin menjadi beban baginya.”

Benar, tentu saja. Walau bagaimanapun sejak awal dirinya dan Dong Hae tetap saja dua orang yang merasa asing. Keduanya bahkan berbicara terlalu formal satu sama lain dan masih begitu canggung. Terlepas dari fakta itu tetap saja ini pasti mengagetkan untuknya ketika Dae Han tiba-tiba membicarakan hal ini pada keduanya. Dibanding gadis lajang dan tak memiliki beban sepertinya tentu saja Dong Hae memiliki lebih banyak beban. Hal ini juga hal yang sangat serius.

“Tapi, bagaimana dengan dirimu sendiri, kakak? Apa ucapan Dae Han itu membebanimu?” Luna kembali bertanya, yang lagi-lagi membuat ia tersentak. Membuatnya menjadi gugup.

Apakah ia merasa terbebani? Dia tak tahu. Yang jelas ada sebuah perasaan yang sulit dijelaskan yang dirasakannya saat ini. Tapi apakah nama perasaan ini? So Eun sendiri bahkan tidak tahu cara menjelaskannya dalam bentuk kata.

“Aku—“

Ucapan So Eun terhenti ketika mendengar suara bel pertanda ada pelanggan yang datang. Hal itu membuat kedua orang itu serentak bangkit dan hendak menyambut tamu mereka. Namun mereka tak jadi melakukannya menyadari Dae Han lah yang datang.

“Selamat siang, nona-nona..” Bocah kecil itu tampak berjalan dengan santai menuju dua gadis di ruangan itu. Seperti biasa, wajah anak itu terlihat datar dan terkesan sok cool yang terang saja membuat dua gadis di depannya tersenyum geli.

“Kau sudah pulang sekolah, huh? Bagaimana sekolahmu hari ini?” Tanya Luna ramah sambil berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan sang bocah. Dae Han tampak lagi-lagi hanya menunjukkan wajah yang datar.

“Membosankan seperti dirimu.”

“Tch, kau ini selalu saja.” Luna tampak langsung cemberut kesal lagi mendengar reaksi si bocah. Sementara So Eun tampak dengan susah menahan tawanya.

“Kau sudah makan siang, huh?” giliran So Eun bertanya sambil mengacak rambut Dae Han. Dae Han tampak menggelengkan kepalanya pelan sambil beranjak menududuki sebuah bangku. “Mau kumasakkan sesuatu?”

“Tidak. Kita makan bersama di rumah saja. So Eun, kau akan mengantarkanku pulang lagi, kan?” Tanya bocah itu dengan wajahnya yang kembali dibuat memelas. So Eun tampak lagi-lagi terkekeh sambil mengacak rambut kecokelatan milik Dae Han.

“Baiklah. Tapi ada yang harus kukerjakan dulu. Kau bisa menunggu sebentar kan? Kau bisa menunggu sambil memakan roti untuk mengganjal perutmu dulu.”

“Biar dia mengambilnya sendiri. Aku tak mau melayaninya.” Sela Luna yang masih berada di samping So Eun. Gadis itu tampak cemberut, terlihat masih sangat kesal dengan sikap Dae Han padanya sebelumnya.

“Aku juga tak mau dilayani bibi pendek sepertimu.” Dae Han tampak menyahut, menjulurkan lidahnya pada Luna. Tentu saja gadis itu malah semakin kesal padanya.

“Kau ini—“

“Tch, sudahlah. Sampai kapan kau meladeni anak kecil huh?” So Eun terkekeh sambil menepuk pundak Luna untuk menenangkannya. Luna tampak meringis kesal pada atasannya tersebut. “Ya sudah. Dae Han, kau mau makan apa? Aku yang akan mengambilkannya untukmu.” Ujar So Eun tak lama sambil membelai lembut kepala bocah itu. Untuk pertamanya sejak masuk tadi Dae Han menunjukkan senyuman riang padanya.

“Nah, kita sampai. Dari sini Dae Han bisa pulang sendiri, bukan?” Tanya So Eun seketika setelah taksi yang membawanya dan Dae Han berhenti. Saat ini keduanya sudah berada tepat di depan rumah milik keluarga Dae Han dimana beberapa penjaga rumah tampak juga sudah menyadari kehadiran mereka.

“Kenapa So Eun tak mengantar Dae Han masuk? Katanya tadi kita akan makan siang bersama.” Tanya Dae Han sedikit cemberut. Tampak kecewa menyadari bahwa ia akan berpisah cukup cepat dengan wanita pilihannya tersebut.

“Aku harus kembali karena aku banyak pekerjaan. Dae Han lihat tadi, bukan? Toko lebih ramai dari biasanya karena ini mendekati natal dan tahun baru. Aku harus membantu bibi-bibi koki di dapur.” Sedikit melebih-lebihkan sebenarnya. So Eun sebenarnya hanya tak ingin masuk ke dalam dulu untuk saat ini. Entahlah, ia masih merasa kurang nyaman saja untuk saat ini. Walaupun ia tahu bahwa kesempatannya untuk bertemu Dong Hae di dalam sangat kecil namun tetap saja ia tak mau mengambil resiko. So Eun masih belum berani bertemu pria itu.

“Hanya sebentar. Lagipula hari ini So Eun banyak diamnya, kita tidak sedekat biasanya. Besok juga hari rabu, So Eun kan selalu sibuk dan tak bisa mengantarku hari rabu..” bocah itu lagi-lagi cemberut sedih dan menunjukkan sinar mata memelasnya itu lagi. Hal yang terang saja, selalu, membuat So Eun tak bisa mengacuhkan apalagi menolaknya. “Sebentar saja, ya? Setelah makan siang bersama So Eun boleh pergi. Ayolah. Please..”

So Eun akhirnya tahu ia tak akan bisa mengatakan tidak kalau sudah begini. Hal itulah membuatnya tersenyum kembali dan lagi-lagi mengacak rambut Dae Han. “Kau juga tak perlu segitunya. Baiklah, tapi hanya sampai makan siang, okey? Aku benar-benar harus pergi setelahnya.”

“Hum. Aku janji.”

So Eun lagi-lagi terkekeh melihat reaksi riang Dae Han. Lagi-lagi diacaknya rambut Dae Han sebelum membawa bocah itu untuk turun.

“Nenek pasti sedang merawat bunga di belakang. So Eun tunggu sebentar, ya? Dae Han akan panggilkan nenek untuk makan bersama.” Seru Dae Han riang sesampainya mereka di rumah besar milik keluarganya itu. So Eun tampak lagi-lagi tersenyum dan mengangguk. “Tunggu sebentar ya, So Eun. Dae Han akan kembali!!” teriak bocah itu sebelum berlari-lari kecil menuju arah belakang. So Eun kembali tersenyum gemas melihat sikap bocah itu.

“Hati-hati jangan lari-larian!” Teriak So Eun sambil geleng-geleng kepala. Sebenarnya dia selalu senang berada di rumah ini bersama Dae Han. Hal itu karena Dae Han memang berubah menjadi anak yang manis kalau sudah sampai di rumahnya. Hal yang sangat berbeda dengan sikap bocah itu kalau berada di luar.

Sambil menunggu Dae Han kembali, So Eun memutuskan untuk berkeliling di ruang tengah rumah mewah tersebut. Sebenarnya sudah sejak lama ia cukup penasaran dengan beberapa isi rumah tersebut. Hanya saja karena biasanya ia selalu bermain dengan Dae Han ia tak pernah punya kesempatan untuk mengamatinya lebih dekat.

Seperti yang pernah dikatakannya, rumah milik Dae Han tersebut bukan hanya besar dan mewah namun memiliki cukup banyak barang menarik di dalamnya. Hampir seluruh bagian di sana dipenuhi oleh barang-barang antik yang tentu saja mahal. So Eun benar-benar tak berhenti merasa kagum ketika matanya menangkap satu objek ke objek lainnya.

“Ya, aku sudah menemukannya. Aku akan datang ke kantormu nanti—“

Di tengah kegiatannya tiba-tiba ia mendengar suara seseorang bersama suara langkah yang agak terburu-buru menuruni tangga. Ketika ia menoleh, So Eun tampak cukup kaget ketika matanya menangkap sosok Dong Hae yang terlihat rapi dengan pakaian kantornya. Dimana laki-laki itu juga tampak cukup kaget bertemu gadis itu di ruang tengahnya.

Kedua orang itu tampak sama-sama canggung sebelum memberikan sapaan formal.

Hening. Terus saja terasa begini ketika dirinya duduk hanya bersama Dong Hae di dalam mobil. Saat ini dimana ia bahkan tak berani walau hanya melirik laki-laki itu yang tampak tenang mengemudikan mobilnya. Membawa mereka melaju dengan kecepatan normal.

Huh, So Eun benar-benar gugup. Bahkan tadi seluruh tubuhnya nyaris membeku ketika menyadari bahwa ia harus bertemu lagi dengan pria itu. Demi tuhan, kalau dia tahu bahwa hari ini sang single parent akan pulang sebentar untuk mengambil dokumennya yang tertinggal ia tidak akan mau menerima bujukan Dae Han untuk masuk. Dia benar-benar bodoh, padahal sebelumnya ia sudah mempunyai firasat namun karena tatapan memelas Dae Han dia mengacuhkannya.

Tadi pun juga dia benar-benar berharap untuk ditelan oleh tanah di bawahnya ketika keduanya diarak oleh Dae Han dan neneknya untuk makan siang bersama. Dia benar-benar tak berdaya dan mati kutu bahkan hanya untuk curi-curi pandang sesekali pada Dong Hae. Walau bagaimanapun dia juga ingin tahu bagaimana sikap dan reaksi pria itu saat ini. Walau, tentu saja, dia tak akan bisa membacanya dari sikap tenang yang selalu ditunjukkan Dong Hae.

Ini membuatnya benar-benar tak nyaman. Apalagi untuk menerka-nerka bagaimana reaksi laki-laki itu padanya kini setelah bom yang dijatuhkan Dae Han tiga hari yang lalu di taman.

“Selalu diminta untuk mengantarnya pulang setiap hari, Anda pasti merasa sangat direpotkan. Saya minta maaf untuk hal itu, nona.” Ucapan Dong Hae memecahkan keheningan yang berlangsung antara mereka. Ketika So Eun melirik padanya, Dong Hae juga tampak tersenyum kecil padanya. So Eun membalas tersenyum.

“Tidak juga. Saya tak merasa direpotkan sama sekali. Waktu yang saya habiskan bersama Dae Han selalu menyenangkan.” Jawab So Eun. Keduanya lagi-lagi saling menoleh dan tersenyum.

“Baguslah. Saya selalu merasa khawatir karena Dae Han kadang terlalu berlebihan dan itu mungkin merepotkan. Tapi baguslah kalau Anda masih bisa menerimanya.”

“Tidak sama sekali. Anda tidak perlu merasa tak enak, tuan.”

Hanya itu. Karena setelahnya keheningan kembali melanda dalam beberapa menit setelahnya. So Eun lagi-lagi mendesah tak nyaman. Seharusnya, bukankah dia yang memulai pembicaraan sekarang? Rasanya tak sopan kalau terus bersikap pasif begini. Tapi apa yang bisa dikatakannya?

“W-Woah, apa restoran yang didesign berbentuk cake itu akhirnya dibuka?” Pada akhirnya ucapan itu keluar secara random darinya ketika matanya tak sengaja menangkapnya di sudut jalan yang mereka lalui. Dong Hae tampak ikut menoleh kesana. “Bangunannya terlihat keren.”

“Sepertinya anda benar-benar mencintai pekerjaan Anda. Hal kecil begitu saja bisa sangat menarik perhatian Anda.”

“Tentu saja.” So Eun tersenyum kecil sambil menunduk. “Membuat kue itu benar-benar sesuatu yang membahagiakan. Karena selain rasa menyenangkan yang didapat ketika membuatnya, kita juga mendapatkan kepuasan lainnya begitu melihat wajah bahagia orang-orang ketika memakannya. Rasanya tak bisa diungkapkan dalam kata-kata.” Ucapnya bersungguh-sungguh. So Eun melewatkan bagaimana sekilas Dong Hae melirik padanya dan tersenyum halus mendengar ucapan dalam gadis itu.

“Mau pergi ke sana?”

“Huh?” So Eun dengan cepat melirik Dong Hae karena tak yakin dengan apa yang didengarnya. Lagi-lagi senyuman halus Dong Hae menyambutnya.

“Saya bilang, apa anda mau ke sana? Ke restoran baru itu? Kebetulan malam ini saya juga tak mempunyai banyak pekerjaan. Saya dapat menemani anda.”

“H-Huh..” So Eun hanya mampu bergumam ketika merasakan jantungnya yang sudah agak tenang kembali berdetak lebih kencang. Wajahnya juga terasa memanas ketika ia menjawab dengan sedikit gugup, “Y-Ya, dengan senang hati.”

So Eun tak ingin berlebihan dalam menyikapi ini, dia tak ingin terlalu berharap. Namun, tetap saja, So Eun penasaran. Apakah barusan Dong Hae baru saja memberikan ajakan kencan?

“Tentu saja ini bukan kencan. Apa yang aku fikirkan.” So Eun mengeluh frustasi di depan cermin. Diketuknya pelan kepalanya ketika otaknya di dalam sana terus saja memikirkan hal yang tidak-tidak. “Ini hanya ajakan makan malam biasa. Karena tadi tanpa sengaja aku menyebutkan restoran itu di depannya. Tentu saja, ini hanya bentuk basa-basi.”

“Huh.. kalau begini bukankah kesannya aku seperti melakukan pancingan untuk mengajaknya pergi. Pasti dia berfikir begitu tentangku. Tch, payah, aku benar-benar payah. Dari awal aku benar-benar terlihat begitu semangat dengan rencana Dae Han ini, dia pasti menyadarinya. Aku selalu mengantar anaknya pulang, lalu kini… aku melakukan pancingan bodoh ini. Dia pasti berfikir kalau aku sengaja melakukannya. Bagaimana kalau dia berfikir aku telah mencuci otak anaknya, atau berfikir aku adalah wanita yang hanya menginginkan hertanya. Bagaimana kalau..” So Eun menghentikan kegiatannya bermonolog pada dirinya ketika ia lagi-lagi memukul kepalanya. Ia kemudian mengipasi dirinya berusaha menenangkan perasaannya yang sepertinya hanya menggila akibat gugup karena ajakan Dong Hae. Ia lalu mengelus dadanya. “Tenang, tenang, tenang Kim So Eun. Kau hanya berlebihan dalam hal ini. Kau bisa melewati hari ini dengan aman. Kau tak kan membuat malu dirimu sendiri.” Katanya akhirnya. So Eun kemudian meraih jepit rambut yang digunakannya untuk menunjang penampilannya malam ini. Lagi-lagi menatap gugup bayangan di cermin.

“Semangat, Kim So Eun.”

Setelah menunggu dengan sedikit harap-harap cemas selama beberapa jam, akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu dating. Hari ini seperti janjinya, Dong Hae menjemput So Eun ke apartemennya tepat jam delapan. Untuk selanjutnya keduanya langsung berangkat menuju restoran yang mereka lihat siang tadi.

Saat ini keduanya telah menduduki salah satu bangku di tempat tersebut. Dan seperti dugaannya, So Eun bahkan tak mampu menahan debaran di dadanya ketika ia harus duduk berhadapan lagi dengan pria itu. Belum lagi nuansa dan musik yang ditawarkan tempat ini yang seakan bersekongkol untuk membuatnya semakin mati kutu.

“Anda mau memesan apa, nona-Kim?” Ucapan Dong Hae menyadarkan lamunannya. So Eun tampak kembali menoleh kepada pria itu dimana lagi-lagi, untuk kesekian kali, ia tak dapat menahan dirinya untuk tidak terpesona lagi pada pria itu. Dia benar-benar terlihat tampan dengan pakaian formal yang dikenakannya malam ini. Yang sejujurnya sempat membuatnya tadi sempat merasa khawatir kalau dandanannya tak bisa mengimbangi laki-laki itu.

Tch, apa yang aku fikirkan? Sampai kapan aku bersikap berlebihan begini. Ini bukan kencan. Ini bukan kencan. Sadarlah Kim So Eun.

“Nona-Kim So Eun?”

“H-Huh?” So Eun lagi-lagi tersentak kaget akibat panggilan Dong Hae. Mukanya langsung memerah menahan rasa malu akibat sikapnya sendiri. “Aku memesan makanan utama di sini saja. Karena tempat ini baru dibuka jadi aku ingin tahu apa ciri khas yang mereka punya.”

Dong Hae tampak mengangguk dan kembali berbicara dengan seorang pelayan yang setia mencatat pesanan mereka. Sementara itu So Eun memilih untuk mengedarkan pandangannya menuju seisi tempat yang sebelumnya membuatnya sangat penasaran itu. Sekarang kalau dilihat-lihat ternyata tempat ini tidak seistimewa itu. Terlihat sangat menarik dari luar tapi kemasan dalamnya tak sebagus yang pernah ia bayangkan.

“Jadi bagaimana, apa Anda menyukai tempat ini?” Tanya Dong Hae setelah memesan makanan untuk mereka. Hal itu membuat So Eun kembali menoleh padanya.

Harus aku jawab bagaimana? Kalau jujur mengatakan aku tak terlalu terkesan, bisa-bisa dia berfikir kalau aku tak menghargai waktu yang dikorbankannya untukku. Tapi kalau aku berbohong, bukankah kedengaran munafik? Aku bukan orang yang seperti itu.

“Y-Ya, begitulah. Hanya saja, ternyata saya terlalu membayangkan lebih. Ini tak seperti yang saya fikir sebelumnya.” Ujar So Eun, mencoba berhati-hati.

“Benarkah? Apa yang tidak sesuai?”

“H-Hum, saya fikir karena design tempat ini terlihat seperti cake maka dekorasi di dalamnya juga bertema tentang bakery. Saya sempat berfikir kalau tempatnya akan diatur serba cake baik itu dekorasinya, warna dindingnya, kursi, atau makanan yang mereka hidangkan. Tapi ternyata hanya seperti restoran pada umumnya.”

“Jadi Anda suka hal yang terkesan cute seperti itu? Ini sedikit diluar dugaan.”

Wajah So Eun memerah tiba-tiba, yang sejujurnya ia juga tak tahu mengapa, yang jelas ucapan barusan entah kenapa terdengar berbeda saja. Ditambah dengan nada bicara dan ekspresi Dong Hae ketika mengatakannya.

“Hum, terkesan kekanakkan ya, tuan? Mau bagaimana lagi. Tapi sebenarnya, saya hanya bersemangat seperti ini kalau hal itu berhubungan dengan cake dan bakery. Untuk hal lain mungkin berbeda.”

Dong Hae tampak menganggukkan kepalanya. Namun tak lama, ia kembali menoleh pada So Eun. Menatap langsung ke dalamnya. “Hal lain seperti apa?”

So Eun menggigit bibir bawahnya, menatap Dong Hae sedikit ragu-ragu ketika ia merasa lebih gugup. Dia benar, sepertinya ada yang berbeda pada pria di depannya itu saat ini dilihat dari cara bersikapnya dan pembawaan. Hal ini entah mengapa membuatnya harus kembali ke pertanyaan awal tadi; apa niat Dong Hae mengajaknya keluar tiba-tiba seperti ini?

Dia ingin tahu. Dia penasaran setengah mati. Namun sungguh, Dong Hae sangat sulit dibaca. Karena tatapan itu terlalu tenang, pembawaannya begitu karismatik, yang membuatnya takut untuk menerka. Kalau sempat jatuh pasti sakit sekali. Kalau kecewa sekali pasti malu sekali.

Makanan mereka sampai yang mau tak mau menghentikan pembicaraan mereka sejenak. So Eun tanpa sadar tampak menghela nafas lega, walau di saat bersamaan ia juga merasa kecewa karena pembicaraan itu harus berhenti di tengah jalan.

“Wah, apa cake ini dibuat berdasarkan miniatur tempat ini.” So Eun tampak berseru begitu melihat appetizer yang diletakkan oleh pelayan itu di atas meja. Diraihnya makanan itu dan diperhatikannya dengan kagum. “Wah, ini benar-benar terlihat mirip. Bahkan ada jendelanya. Lucunya, aku jadi tak tega memakannya.” Ujar So Eun begitu antusias. Ia lagi-lagi melewatkan Dong Hae yang tersenyum kecil melihat tingkahnya.

“Kalau boleh tahu, apa saja bahan untuk membuatnya?” Tanya So Eun pada pelayan yang masih setia berdiri di samping mereka. Pelayan yang sejak tadi juga tersenyum melihat keantusiasannya tampak dengan baik hati menjelaskannya.

“Sebenarnya sama dengan cake lainnya, nona. Tapi kami membubuhkan beberapa resep special Alfagell dan Liem strawberry pasta.”

“Pantas saja, ini benar-benar terlihat menggugah selera.” Komentar So Eun sambil mulai meraih sendok dan mencicipi suapan pertama. “Rasanya juga luar biasa. Woah, ini enak sekali..”

“Kami senang kalau anda menyukainya.”

Setelah menyicipi suapan kedua gadis itu baru kembali teringat dengan laki-laki di depannya. Hal itu membuatnya kikuk dan melirik tak enak pada Dong Hae yang tampak hanya menatapnya dengan senyuman kecil di wajahnya. “A-Aaah, maafkan saya Tuan. Saya menjadi terlalu bersemangat.” Ucapnya tak enak.

“Anda sepertinya benar-benar menyukai cake, nona-Kim.”

Wajah So Eun kembali memanas sehingga ia menyentuh tengkuk belakangnya canggung. “A-Anda juga sebaiknya mencoba, Tuan. Cake-nya benar-benar enak.”

“Hum, sayang sekali karena saya tidak bisa memakannya. Saya tidak menyukai makanan yang manis.”

“O-Oh, begitu.” So Eun kembali menundukkan wajahnya kikuk.

Jadi dia tak suka manis? Tch, kenapa didengarnya tidak nyaman sekali? So Eun sendiri adalah seorang pembuat makanan manis tapi ternyata laki-laki ini tak menyukainya. Huh, benar-benar terdengar seperti mereka tidak jodoh—

Tunggu, apa lagi yang kau fikirkan sekarang Kim So Eun. Bodoh.

“Tapi Dae Han sangat menyukai makanan manis, tuan. Bahkan buah cherry ini, Dae Han sangat sangat menyukainya. Ketika dia datang ke toko milik saya, Dae Han paling senang memilih cake dengan cherry-nya. Bahkan sesekali saya sengaja menyiapkan cake khusus dengan memberikan sekitar lima buah cherry di atasnya. Dia pasti akan sangat senang.” Jelas So Eun lagi berusaha untuk tidak kembali larut dalam kegugupannya, sehingga itu sebabnya ia terus mencoba untuk menjaga komunikasi mereka agar tidak menjadi canggung. Tentu saja Dae Han hanyalah satu-satunya alasan yang bisa membuat mereka saling terhubung sejauh ini. Lihat saja bagaimana Dong Hae menganggukkan kepala dan mendengarkan setiap ucapannya.

“Selain itu, Dae Han juga punya kebiasaan unik yaitu membersihkan dirinya setelah makan cake. Dia pasti selalu membawa tissue di dalam tasnya untuk membersihkan tangannya, mulutnya, bahkan meja tempatnya makan. Dae Han juga begitu menjaga kebersihan dengan membuangnya langsung ke tempat sampah. Dia benar-benar anak yang hebat.”

“Selain itu saya juga menyadari kalau Dae Han ternyata tak menyukai kismis. Dia selalu menghindari makanan yang ada kismisnya dan walaupun ada, dia akan menyingkirkan kismis itu dari makanannya.”

“Oiya, saya fikir Dae Han menyukai warna biru. Dia sering meminta wadah berwarna biru ketika makan di toko. Saya bahkan membelikan perangkat makan dan minum berwarna biru khusus untuknya—“

“Kalau anda sendiri bagaimana?” Dong Hae tiba-tiba menyela di tengah setiap ucapan So Eun tentang Dae Han. Hal itu membuat So Eun menghentikan ocehannya dan melirik pria itu bingung.

“Huh?”

Dong Hae kembali menunjukkan senyuman halusnya, matanya kembali ia arahkan untuk menatap So Eun. Menatap tepat ke matanya. “Nona-Kim sendiri bagaimana? Apakah warna faforit anda? Apakah makanan kesukaan anda? Apakah yang anda sukai dan tidak anda sukai?”

Dan sekali lagi Dong Hae membuatnya bertanya-tanya. Dan sekali lagi, Dong Hae mengambil alih seluruh kerja organ tubuhnya hanya dengan beberapa kalimat dan tatapan mata.

Sekitar jam sebelas malam lebih, mobil Dong Hae kembali sampai di depan apartemen So Eun. Keduanya tampak sama-sama tersenyum lega begitu melirik gedung tersebut. Sepertinya mereka sama-sama menyadari kalau waktu yang mereka lalui telah hampir berakhir.

“Saya benar-benar berterima kasih untuk hari ini, Tuan. Rasanya benar-benar menyenangkan.” Ucap So Eun setelahnya. Dong Hae tampak balas tersenyum padanya.

“Ya, benar-benar menyenangkan. Saya menikmatinya.”

So Eun mengacuhkan detak jantungnya yang mulai menggebu dengan meraih sabuk pengaman yang melingkari tubuhnya. Ia tampak untuk turun.

“Ya sudah, tuan. Sepertinya saya harus masuk. Sekali lagi terima kasih untuk waktu yang telah anda berikan hari ini. Berhati-hatilah di jalan. Selamat beristirahat.”

“Nona-Kim.” So Eun berniat langsung keluar ketika Dong Hae seperti mencegahnya. Hal itu membuatnya mengundurkan niatnya untuk membuka pintu dan kembali menoleh pada Dong Hae. Dong Hae tampak lagi-lagi menatap padanya. Dengan senyuman itu, dengan tatapan mata itu. “Apa yang terjadi pada hari ini, apa yang saya lakukan, saya harap anda memahami apa maksudnya.”

So Eun tampak terdiam, terlarut menatap kedua iris kecokelatan itu. Hari ini Dong Hae sudah terlalu sering membuatnya kaget sehingga membuat jantungnya berdetak cepat, ia tak menyangka ternyata laki-laki ini masih bisa melakukannya untuk kesekian kalinya untuk hari ini. Dengan perlakuannya yang sebenarnya So Eun butuhkan jawaban pasti apa maksudnya.

“Ini semua karena ucapan Dae Han ketika kita piknik waktu itu. Saya saat ini hanya sedang mencoba untuk memenuhinya. T-Tentu saja, tentu saja, kalau anda tidak merasa keberatan.”

Lebih dalam ditatapnya mata itu, dimana mata itu juga terlihat menatapnya lebih dalam. So Eun dapat melihat kesungguhan disana, juga ketulusan. Tapi tatapan itu 5ampak sedikit risau, So Eun merasakannya. Ah, mungkin karena dia sedang menunggu jawaban So Eun akan pertanyaannya barusan. Oh ya, So Eun harus menjawab apa.

“Hari ini sangat menyenangkan, tuan. Mana mungkin saya keberatan.”

Sebuah senyuman lega terlihat di wajah itu, yang sejujurnya juga membuat hati So Eun lega dan meringan. Dia pasti sudah gila. Dia ternyata benar-benar jatuh hati pada laki-laki ini.

“Baguslah. Lain kali, saya akan terus mencoba untuk membuat waktu yang lebih menyenangkan dengan Anda. Saya harap Anda menyukainya.”

“Ya, saya harap juga begitu.”

Tidak, aku pasti akan menyukainya. Sangat menyukainya. Ayo, buat lagi seperti ini. Ayo, kita berkencan lagi.

“H-Hum, k-kalau memang tidak ada yang ingin disampaikan lagi saya masuk dulu, tuan. Anda juga beristirahatlah. S-Selamat malam, Tuan..”

“Selamat malam, Nona-Kim.”

So Eun menatap wajah itu lagi, berusaha untuk mengumpulkan gambaran secukupnya sebelum berpisah. Ia tahu mungkin akan cukup lama sampai ia melihat wajah itu lagi. So Eun penasaran apakah ia dapat tidur malam ini atau tidak.

“So Eun, apakah kau menemukan harta karun?” Tanya Dae Han polos sambil menatap So Eun penasaran. Hal itu tentu saja membuat gadis yang menggandeng tangannya melirik bocah kecil itu bingung.

“Kenapa kau bertanya begitu?”

“Daritadi kau terus senyum-senyum sendiri. Kau juga terlihat sangat senang seperti mendapat harta karun. Tidak seperti biasanya.”

“Huh, benarkah? Rasanya biasa saja.” Bingung So Eun sambil menyentuh wajahnya sendiri. Namun bocah lucu itu menggelengkan kepalanya mantap.

“Kau juga tidak menolak ketika kuajak masuk ke rumah. Padahal beberapa hari yang lalu, kalau aku tak meminta kau bahkan tidak mau turun dari taksi dan mengantarku masuk begini.”

“B-Benarkah?” So Eun jadi malu sendiri. Apakah dirinya terlihat sejelas itu? Dia menyadari kalau seharian ini perasaannya sangat baik namun ia tak tahu kalau ia menunjukkannya terlalu jelas sehingga bocah ini menyadarinya. Atau, apakah tanpa sadar daritadi dia senyum-senyum sendiri? Memalukan sekali.

“Haaah, orang dewasa memang aneh.” Dae Han menggurut sambil memajukan bibirnya. Hal itu membuat So Eun melirik lagi padanya. “Ayah juga aneh. So Eun, kurasa ayah punya bibi baru lagi.” Anak itu melirik So Eun cepat, mengguncang tangannya.

“H-Huh, kenapa kau berfikir begitu.”

“Kemaren malam, ayah pulang terlambat. Pakaian ayah juga bukan pakaian kerja, ayah juga sangat wangi. Rasanya ayah sudah lama tidak begitu kecuali ketika ia pergi kencan dengan bibi-bibi berambut pirang itu.”

Wajah So Eun memerah tiba-tiba mendengar ucapan bocah itu, sehingga ia menyembunyikannya. Ia berdehem, berusaha berfikir harus bagaimana. Semalam kan Dong Hae pergi bersamanya, tapi haruskah ia memberitahukan hal itu pada anak kecil ini? Lagipula, bukankah semalam mereka sudah pulang hampir tengah malam? Apa bocah ini masih terjaga jam segitu. Aaarh, kenapa fikirannya kemana-mana begini?

“Ini gawat, So Eun. Bagaimana kalau ayah jatuh cinta pada bibi-bibi lain lagi? Kalau begitukan kau tak bisa menjadi ibuku.”

Wah, bocah ini benar-benar sesuatu. Ia bahkan hampir sama dengan ayahnya yang selalu berhasil membuat wajah So Eun memerah. Apa tadi dia juga mengatakan kata jatuh cinta? Wah, darimana anak kecil ini tahu kata itu? Juga, bagaimana So Eun bisa menyahuti ucapannya sekarang?

“Lakukan sesuatu, So Eun. Lakukan sesuatu.” Dae Han tiba-tiba mulai menarik-narik rok yang dikenakannya. Hal itu membuat So Eun melirik padanya lagi. “Ayo buat ayahku jatuh cinta padamu. Pakailah bedak tebal seperti badut jepang. Buat rambutmu pirang. Pakailah rok yang lebih pendek dari ini. WARNAILAH KUKUMU SEPERTI KUKUNYA TIFFANY!!”

“H-Hey, Dae Han.. aku akan terlihat aneh bila berubah seperti itu.” Potong gadis itu sambil berlutut di depan Dae Han untuk melarangnya berteriak. Bocah itu tampak menatap polos padanya.

“Tapi ayah sukanya bibi-bibi seperti itu.”

Benar juga. Tapi, aku bukan orang yang seperti itu.

“Hal seperti itu adalah urusan orang dewasa yang tak akan Dae Han fahami. Jadi biarkan orang dewasa yang menyelesaikannya, ya.” Disentuhnya lembut kedua pipi bocah itu. Mengusapnya sayang.

“Tapi kau akan berusaha, kan? Kau akan membuat ayah jatuh cinta padamu.”

So Eun terdiam memikirkan, sungguh ia benar-benar aneh untuk membicarakan hal seperti ini apalagi terhadap bocah 6 tahun seperti Dae Han. Tapi dalam hatinya, ia tahu, pembicaraan ini bukanlah omong kosong belaka. Karena nyatanya ia juga sering memikirkannya.

“Ya, aku akan berusaha..” ucap So Eun setelah beberapa saat. Diatatpnya lebih lembut bocah tadi, salah satu tangannya tadi kini juga beralih mengusap lembut kepala Dae Han. “Apapun yang terjadi, saat ini aku akan berusaha membuat ayahmu jatuh cinta padaku. Jadilah percayalah padaku.”

Mungkin ia terlihat bodoh, tidak, ia pasti terlihat sangat bodoh karena membicarakan hal ini pada bocah polos seperti Dae Han. Tapi lihatlah senyuman senang di wajah Dae Han saat ini. Nyatanya jika bersama Dae Han, pembicaraan ini bukan hanya ucapan omong kosong belaka. Ucapan ini sangat penting artinya.

So Eun selama ini hidup sebagai gadis yang normal. Ia berasal dari keluarga sederhana, memiliki mimpi yang sederhana, dan untuk mencapainya bisa dikatakan bahwa ia juga hanya harus melakukan langkah-langkah sederhana karena sejak kecil ia sudah yakin bahwa suatu hari nanti ia akan berada di posisinya sekarang – hidup biasa-biasa saja sebagai pengusaha toko bakery yang sederhana.

Untuk sejarah kekehidupannya juga bisa dikatakan semua begitu datar dan biasa-biasa saja; sejarah pendidikannya, pergaulannya, hingga.. kisah percintaannya. Kalau diingat mungkin So Eun hanya pernah berpacaran sebanyak empat kali dalam hidupnya dan terakhir kali ia memiliki kekasih adalah sekitar dua tahun yang lalu. Setelah itu sudah, hanya disana, karena kalau diingat-ingat lagi ia tak pernah memikirkan masalah asmara lagi setelahnya. So Eun juga tak yakin apakah karena memang ia terlalu sibuk dengan pekerjaannya atau memang tak ada laki-laki yang menarik perhatiannya. Yang jelas begitulah, hanya baru-baru ini lagi ketika kata itu muncul kembali dalam sejarah kehidupannya.

Dia merasakannya lagi baru-baru ini; tentang jantungnya terasa begitu hidup karena selalu sering berdetak, tentang bagaimana ia kesulitan menutup mata karena memikirkan sesuatu – atau mungkin seseorang, tentang bagaimana ia merasakan setiap harinya terasa lebih bermakna, tentang semuanya yang tak mungkin ia sebutkan satu persatu. Sudah lama rasanya ia tak merasakan hal seperti ini yang bahkan rasanya lebih hebat dari sebelum-sebelumnya. Terasa lebih kuat.

Semua itu dirasakannya dalam beberapa minggu ini, tapi kenapa ia tak pernah terbiasa? Kenapa rasanya jantungnya terasa ingin meledak dan rasanya ia tak kuat duduk di tempatnya lebih lama ketika hal ini terjadi. Ketika Dong Hae, berada di hadapannya.

“K-Kalau anda kesini menjemput Dae Han, maka Anda terlambat. Saya baru saja kembali dari rumah anda..” ucapnya terbata. Ditatapnya bingung laki-laki di depannya.

“Saya tahu. Tapi saya kesini bukan untuk menjemput Dae Han. Saya ingin menemui Anda.”

A-Apa? Lee Dong Hae, apa kau akan benar-benar serius kali ini? Kau akan nyata-nyataan? Lakukan saja, dengan begitu aku tak perlu harus sembunyi-sembunyi lagi.

“Ada yang ingin saya bicarakan dengan anda.”

“S-Soal apa?” Apa So Eun terlihat terlalu jelas? Dia bertanya sedikit tak sabar.

“H-Hum, begini.” Dong Hae tampak ragu dan terlihat berfikir bagaimana untuk memulai ucapannya. “Ada sebuah acara tahun baru yang akan diselenggarakan oleh perusahaan saya. Dan, ketika tadi kami mengadakan rapat saya mengusulkan anda untuk mengurus Appetizer-nya. Saya kesini untuk bertanya apa Anda bersedia melakukannya?”

“H-Huh?” So Eun tampak mengerjap dua kali, terlihat masih tak yakin dengan apa yang didengarnya. Namun ketika tersadar, ia berdehem, mengalihkan wajahnya yang memerah akibat rasa malu karena telah berfikir yang macam-macam.

“Saya hanya berfikir kalau daripada bekerja dengan orang lain yang saya juga tak tahu kualitas makanannya, bukankah lebih baik mengajak Anda untuk bekerja sama? Apalagi makanan yang Anda buat terkenal enak.” Jelas Dong Hae terlihat serius. Sementara So Eun masih sedikit alpa, ia bahkan hanya dapat memahami sedikit dari apa yang dijelaskan pria di depannya ini. “Tapi kalau Anda tidak bersedia melakukannya saya bisa membatal—“

“T-Tidak. Biar saya saja.” So Eun bahkan tak sadar ketika ia memotong ucapan Dong Hae. Ia berdehem, berusaha memasang ekspresi normal dan seriusnya ketika membalas tatapan laki-laki itu. “Kira-kira untuk berapa tamu? Berapa jenis peganan?”

“Sekitar lima ratus tamu.”

So Eun reflek membuka mulutnya kaget ketika ia juga reflek menutupnya. Dong Hae tampak ikut penasaran menyadari ekspresi terkejut So Eun.

“Kenapa? Apakah terlalu banyak? Saya fikir malah biasanya sampai ribuan.”

“B-Bukan, sebenarnya untuk ukuran pesta besar itu tak terlalu banyak. Hanya saja, selama ini kami hanya memasak untuk persedian toko. Kami belum pernah menerima pesanan untuk pesta. Lagipula, kami hanya punya tiga koki.”

“Oh, begitu..” Dong Hae menganggukkan kepalanya.

“Tapi itu adalah kesempatan besar untuk memperluas usaha. Kalau dilepas juga sayang.” Gumam So Eun tak lama, tampak berfikir sedikit keras.

“Bagaimana kalau saya mendatangkan orang untuk membantu? Mungkin beberapa pelayan di rumah bisa berguna.”

“Tidak, tidak bisa begitu. Walau bagaimanapun juga roti-roti kami memiliki ciri khas sendiri. Kalau ada orang lain yang membuat takutnya rasanya berbeda.”

“Begitukah?” Dong Hae tampak menganggukkan kepalnya faham. Sepertinya baru tahu juga kalau ada hal yang seperti itu dalam membuat kue. Dia fikir semua sama saja.

“Tapi aku tak bisa menyerah. Aku tak bisa kehilangan kesempatan ini.” So Eun bergumam pada dirinya sendiri, sekilas seperti lupa kalau Dong Hae ada di hadapannya. Sementara itu Dong Hae tampak menunggu keputusan gadis itu. “Akan saya lakukan!” Seru So Eun tiba-tiba. Dong Hae menaikkan alisnya.

“Anda yakin? Katanya akan repot.”

“Yang namanya kerja tentu saja harus repot. Lagipula, bagi saya sendiri ini merupakan tantangan. Saya harus melakukannya. Saya pasti bisa melakukannya.”

So Eun lagi-lagi melewatkan saat dimana Dong Hae tersenyum halus karena ucapannya. Ada ekspresi yang sulit dijelaskannya disana. Hal yang mungkin juga tidak akan difahami dengan mudah oleh gadis yang tampak masih berusaha meyakinkan dirinya terhadap keputusannya barusan.

“Baiklah, kalau begitu saya juga akan berusaha membantu. Saya akan melakukan apa yang bisa saya lakukan.”

So Eun baru melirik Dong Hae lagi karena ucapan itu, merasakan hatinya menghangat lagi karena ucapan dan senyuman Dong Hae. Sekarang kalau difikirkan, kenapa Dong Hae seperti sangat berusaha untuk terlibat begini? Untuk seorang Direktur, bukankah pekerjaan menentukan penyedia hidangan untuk pesta juga bukan pekerjaannya? Tapi kenapa hari ini laki-laki ini tiba-tiba datang kepadanya dan seperti menawarkan bantuan?

Sehari sebelum acara perusahaan, toko roti Happy Yummy! ditutup untuk pelanggan. Namun di dalam toko sendiri kesibukan lebih terasa bagi seluruh pekerjannya dari biasanya. Lihat saja bagaimana semua orang mulai bekerja sejak pagi.

Dan seperti biasa, tentu saja sang pemilik adalah orang yang paling sibuk. Bersama dengan dua koki yang selama ini setia membantunya gadis itu tampak sudah berkutat dengan tepung dan bahan-bahan pembuatan bakery lainnya. Sementara itu Luna yang memang tidak tahu apa-apa tentang cara membuat kue tampak hanya membantu-bantu rekan kerjanya dalam bekerja sebelum tiga puluh menit kemudian ditugaskan oleh So Eun untuk menjaga Dae Han saja. So Eun khawatir kalau Dae Han melakukan hal yang membahayakan kalau tidak diawasi.

“So Eun, kurasa ada beberapa bahan yang kurang.” Ditengah pekerjaan salah satu kokinya tampak berseru padanya. So Eun yang sebelumnya tampak sedang sibuk membuat adonan tampak menoleh padanya.

“Benarkah, bibi? Bahan apa saja?”

“Ada beberapa. Kurasa kita sedikit salah melakukan perhitungan.”

Setelah mengelap tangannya yang dipenuhi oleh adonan whipping cream gadis itu tampak mendekati kokinya tadi. Diraihnya catatan belanjaan sebelumnya dimana beberapa bagian telah ditandai oleh sang koki. Benar, ia menyadari kalau ada beberapa yang kurang.

“Kita suruh Luna saja membelinya. Dimana Luna?” gadis itu berniat keluar dari dapur dan memanggil sang kasir. Namun tiba-tiba kokinya yang lain menyela.

“Bukankah tadi Luna minta ijin untuk membawa Dae Han membeli Ice Cream di toko depan? Mereka belum kembali.”

“Huh, benarkah? Kalau begitu siapa yang akan membeli?” bingung gadis itu. Ia memperhatikan dandanannya sendiri yang cukup acak-acakan ditempeli bahan dasar membuat kue. Apa harus ia yang turun tangan?

“Selamat siang, semuanya. Saya membawakan makanan.” Ketika ia sedang berfikir memutuskan seseorang tampak memasuki dapur. Tak lama seorang laki-laki dengan pakaian semi-formal tampak muncul dari balik pintu dengan beberapa bungkusan di tangannya. “Halo semuanya, maaf karena saya masuk begitu saja. Tadi saya sudah mengucapkan salam tapi tidak ada orang di luar.”

“Tidak apa-apa. Terima kasih atas makanannya, tuan.”

“Sama-sama.” Senyuman Dong Hae jatuh begitu ia melirik So Eun. Tampak bingung ketika gadis itu tampak seperti merisaukan sesuatu. “Apa ada masalah, nona-Kim?” tanyanya.

“Ah, kenapa tidak minta tolong pada Tuan ini saja.” Ucapan So Eun dipotong oleh salah satu kokinya. Dong Hae tampak berganti menoleh tak mengerti.

“Ah, tidak mungkin bibi. Apa yang bibi katakan.” So Eun menolak cepat dengan ekspresi tak enak pada kedua koki pendampingnya. Yang benar saja, bagaimana mungkin chaebol seperti Dong Hae disuruh membeli bahan makanan ke supermarket. Dia mau merepotkan diri saja dalam hal ini sudah luar biasa.

“Minta tolong apa?” Dong Hae yang masih tak mengerti bertanya kembali. Terlihat penasaran.

“A-ah, tidak. Hanya saja—“

“Ada beberapa bahan makanan yang kurang. Sebenarnya kami ingin menyuruh Luna membelinya tapi sekarang dia sedang menemani Dae Han bermain. Sekarang kami kebingungan siapa yang akan membeli.”

So Eun mendesis, memberikan peringatan pada kedua kokinya yang sekilas seperti sengaja melakukan ini. Lihat saja bagaimana keduanya tersenyum geli.

“Saya bisa saja membantu tapi saya sama sekali tidak mengerti mengenai hal itu.”

“A-Ah, T-Tidak perlu tuan. Sayalah yang akan pergi.” So Eun menyela cepat pada Dong Hae. Dia benar-benar merasa tak enak.

“Kenapa tak pergi berdua saja?” benarkan, kedua bibinya ini sama saja dengan Luna. Mereka pasti punya niat terselubung ketika tadi memancing Dong Hae.

“Boleh. Dengan begitu lebih cepat.”

“T-Tapi tuan” So Eun benar-benar speechless tak enak. Namun ia sendiri tak tahu mengatakan apa hingga ketika salah satu bibi mendorong pelan bahunya.

“Ya sudah, jangan membuang waktu. Segera ganti bajumu dulu, bos.”

So Eun mau tak mau hanya menurut ketika ia melepas apron dan bergerak menuju kamar mandi.

So Eun benar-benar merasa tak percaya diri saat ini. Karena, dengan wajah tanpa polesan lain selain BB Cream dan tubuh yang terasa masih lengket dan berbau bahan dapur ia harus keluar bersama Dong Hae. Dan haruskah ia jabarkan bagaimana Dong Hae berpakaian saat ini? Walau untuk pertama kali ia melihat laki-laki itu tidak mengenakan jas mahal miliknya namun tetap saja ia merasa tak percaya diri karena laki-laki terlihat keren dengan setelan kemeja berwarna broken white yang dikenakannya. Sekarang bagaimana mungkin So Eun bisa berjalan beriringan dengannya?

“Silahkan masuk, nona.” Ujar Dong Hae sesampainya mereka di depan toko. Ia tampak mengeluarkan kunci mobil dari saku celananya.

“A-Ah, sebaiknya kita tidak naik mobil tuan. Dari sini kita harus berputar dulu karena ini seperti yang anda tahu di depan adalah jalur One way. Lagipula, kalau membawa mobil kita harus mencari tempat parkir juga sementara tempatnya tak jauh darisini.”

“Begitu?” Dong Hae memasukkan kuncinya kembali ke dalam kantongnya. “Itu artinya kita akan berjalan kaki, begitu?”

“Itu juga kalau anda tak keberatan—“

“Keberatan apanya? Kalau begitu ayo kita pergi. Bibi-bibi koki itu pasti menunggu.” Ujar Dong Hae berjalan mendahului. So Eun tampak mempercepat langkanya demi menyusul.

“Y-Ya.”

Supermarket yang dimaksud memang hanya berjarak beberapa ratus meter dari toko roti. Pusat perbelanjaan itu terletak bersebelahan dengan sekolah Dae Han. Untuk melewatinya sebenarnya mereka hanya perlu melewati beberapa bangunan dan sebuah taman.

“Bukankah ini taman dimana Anda pertama kali bertemu Dae Han?” Tanya Dong Hae ketika memasuki taman. Memang pusat perbelanjaan itu kalau secara denah letaknya berada di belakang toko roti So Eun. Dengan melewati taman memang lebih efektif daripada harus mengitari luarnya.

“Ya, saya menabraknya dengan sepeda kira-kira di sana.” So Eun menunjukkan jarinya menuju arah yang dimaksud. Dong Hae menganggukkan kepala. Matanya tampak menjelajahi seisi taman.

“Saya belum pernah benar-benar memasukinya. Dari luar terlihat kecil tapi ternyata tempat ini cukup luas. Bahkan ditengah-tengahnya ada danau buatan.”

“Benar. Tempatnya juga bersih dari sampah yang berserakan.”

Keduanya melewati sebuah jembatan, terlihat masih sama-sama larut dalam suasana taman yang tak begitu ramai. Namun terasa cukup nyaman di sini, karena cuaca juga sedang cerah.

“Ah, pohon itu.” So Eun menghentikan langkahnya tiba-tiba dan menunjuk ke sebuah arah di pinggir danau. Dong Hae ikut menoleh kesana. “Di bawahnya adalah tempat rahasia Dae Han. Dia sering main dan bersembunyi di sana.”

“Apa yang anak itu lakukan di sana? Bukankah itu bahaya? Bagaimana kalau dia tergelincir ke dalam danau?” Dong Hae bergumam penasaran sambil mendongakkan wajahnya melihat bagian bawah pohon yang memang terletak tersembunyi. “Bahkan jalan menuju ke sana sepertinya sedikit lembek.”

“Memang lembek. Waktu itu saya mengenakan high-heels ketika menyusulnya. Saya hampir tergelincir.” So Eun terkekeh ketika mengingat kembali kejadian yang sangat diingatnya itu. Tentu saja dia sangat itu adalah hari dimana pertama kali Dae Han meminta So Eun untuk menjadi ibunya.

“Apa yang dia lakukan di sana?”

So Eun tersenyum kecil, ia sedikit tak yakin akan menyampaikan hal ini pada Dong Hae atau tidak. Tapi Dong Hae adalah ayahnya Dae Han, dia berhak mengetahuinya. “Hari itu dia menangis di sana.”

“Huh? Kenapa?” Dong Hae tampak cukup kaget. Kembali menoleh pada So Eun.

“Dia merindukan ibunya.” Gumam So Eun pelan, tampak terdiam ketika ia kembali mengingat kejadian waktu itu. Sementara itu Dong Hae tampak juga memikirkan sesuatu, ia melirik So Eun. Ketika So Eun tersadar dan melirik Dong Hae untuk mengajaknya pergi, ia terdiam ketika baru menyadari bahwa Dong Hae memperhatikannya.

“Anda bahkan lebih mengetahui beberapa hal tentang Dae Han daripada saya. Kalian berdua benar-benar dekat..”

Apa maksud gumaman ini? Apa ucapannya membuat Dong Hae merasa cemburu atau sejenisnya? Aah, apa So Eun telah salah bicara?

“M-Mungkin Dae Han bukannya ingin merahasiakannya dari Anda. Dia mungkin hanya belum sempat menceritakannya.” Ucap So Eun berusaha menjelaskan. Namun Dong Hae malah tersenyum dan menggeleng.

“Mungkin begitu. Tapi syukurlah, karena Anda dia jadi punya tempat untuk bercerita ketika saya tidak bisa mendengarnya.” Gumam Dong Hae lagi dengan ekspresi ringan itu di wajahnya. Ia kemudian berjalan mendahului So Eun yang terdiam merenungi maksud ucapan Dong Hae. “Jadi dia benar-benar sudah memilih..” perlahan ia masih dapat mendengar gumaman Dong Hae ketika laki-laki itu melewatinya. So Eun menatap punggung Dong Hae.

Seorang wanita cantik dengan dandanan glamour tampak mengemudikan pelan mobil sedan mewah miliknya. Gadis berambut pirang itu tampak bersenandung mengikuti suata audio yang menyala ketika jemari lentiknya ia ketuk-ketukkan pada kemudi. Seorang wanita lainnya tampak ikut bernyanyi dari kursi samping kemudi.

“Apa kau yakin kalau salon itu ada di dekat sini, Tiffany?” Tanya wanita di sampingnya sambil mendongak menatap jalanan di depan mereka. Pengemudi yang bernama Tiffany tampak mengangguk yakin.

“Tentu saja. Aku melihatnya ketika dulu aku sering mengantar jemput Dae Han.”

“Dae Han?”

“Anaknya Dong Hae.”

“Oh..” wanita di sampingnya mengangguk pelan, senyuman geli terlihat di wajahnya. “Apa kau benar-benar sudah menyerah padanya? Padahal kalian terlihat cukup serius.”

“Huh, entahlah, sejujurnya aku masih ragu. Aku masih sangat menyukainya namun untuk bersamanya sangat sulit. Aku tak yakin bisa mendekati anaknya. Aku sudah jera dengan ulah anak itu.”

“Apa setelah itu dia tak pernah menghubungimu?”

“Dia selalu menghubungiku setelah kami putus namun aku yang sengaja tidak mengangkatnya. Aku ingin dia juga ikut memikirkan sudut pandangku juga. Walau bagaimanapun, aku bukan calon babysitter yang hanya akan menjadi teman main anaknya. Dia juga perlu sedikit tegas.” Jelas Tiffany sambil terus focus mengemudi. “Tapi dia berhenti menghubungiku kurang lebih dua minggu ini.”

“Kenapa?”

“Entahlah, mungkin dia sudah lelah atau sibuk..”

“Atau menemukan penggantimu.” Teman baiknya itu tiba-tiba berseru ketika matanya menangkap sesuatu. Ia menepuk pundak Tiffany dan menunjuk ke arah yang dimaksud. “Hey, bukankah itu Lee Dong Hae? Dia bersama siapa?”

Tiffany menghentikan mobilnya karena kebetulan mereka memang melewati lampu merah. Diliriknya menuju arah yang dimaksud temannya, dimana ia tampak tak terlalu yakin dengan apa yang ada di sana. Namun tak lama ia juga langsung dapat mengenali laki-laki yang membawa beberapa bungkusan di tangannya.

“Wah, wanita itu siapa? Apa kekasih barunya? Tapi melihat dandanannya aku tak yakin Dong Hae akan berpaling darimu secepat itu dengan wanita seperti itu. Lalu siapa dia?”

Tiffany tak menyahut, ia hanya terus menatap panjang kedua orang yang tampak akrab membicarakan sesuatu itu. Rasa tak senang tiba-tiba memenuhi dadanya.

Pekerjaan itu selesai ketika tengah malam telah menjelang. Kini di dapur juga hanya terlihat So Eun sendiri yang menyelesaikan sisa-sisa pekerjaan setelah ditinggal pulang tiga karyawannya yang lain sekitar sepuluh menit yang lalu. Beruntung, Dong Hae dan Dae Han masih berada di sana untuk menemaninya dan nantinya akan mengantar So Eun pulang.

So Eun kini tampak merapikan dan membersihkan kembali pantry yang terlihat berantakan oleh sisa-sisa bahan pembuatan kue. Tak lama Dong Hae tampak datang setelah berhasil menidurkan Dae Han di ruang peristirahatan yang tersedia di toko tersebut.

“Apa harus dilakukan sekarang? Sebaiknya besok pagi saja.” Usul Dong Hae sambil berdiri beberapa meter dari tempat So Eun. So Eun yang baru menyadari kehadiran Direktur muda itu tampak menoleh padanya dan tersenyum.

“Ya, pembersihan menyeluruh memang besok pagi. Tapi saya harus membersihkan bahan-bahan yang bertebaran di counter agar tidak mengundang semut. Bahan-bahan yang memang masih bisa digunakan juga harus dipisahkan agar tidak ikut terbuang besok pagi.” Kata So Eun kembali memberikan senyuman pada Dong Hae. Ia lalu kembali melanjutkan apa yang dikerjakannya saat ini. “Apa Anda sudah lelah?”

“Lelah apanya? Saya bahkan tak melakukan apapun. Justru Andalah yang seharusnya merasa lelah karena bekerja seharian.”

“Tidak juga.” So Eun bergumam sambil tersenyum diam-diam. Ia cukup senang dengan ucapan Dong Hae yang terdengar mengkhawatirkan keadaannya. “Apa Dae Han sudah tidur?” tanyanya mengalihkan pembicaraan.

“Ya, sepertinya dia kebanyakan makan cake. Dia sempat mengeluh sakit perut ketika tadi ditidurkan.” Sahut Dong Hae yang kini bergeser beberapa langkah ke dekat So Eun. Tampak memperhatikan dengan sedikit ingin tahu beberapa bahan makanan yang terletak di sana.

“Benarkah? Apa besok perlu dibawa ke rumah sakit?” Tanya So Eun kembali menoleh pada pria itu. Ia tampak cukup kaget karena baru menyadari bahwa laki-laki itu kini sudah beberapa langkah di sampingnya.

“Tidak perlu. Besok dia sudah akan baik-baik saja.”

Dong Hae menoleh padanya, membuat sepasang mata mereka kembali bertemu dalam beberapa saat. Dong Hae adalah yang pertama mengalihkan perhatiannya setelah tersenyum singkat pada So Eun.

“Apa ada yang bisa saya bantu? Saya benar-benar tak enak karena daritadi tak melakukan apapun padahal sebelumnya saya telah berjanji akan menyumbangkan tenaga.” Gumam Dong Hae sambil mulai menyentuh beberapa bahan di depannya. Tampak masih sedikit penasaran ketika ia terlihat seperti mengamati beberapa bahan yang dipegangnya.

“Anda sudah sangat membantu. Lagipula apalagi yang bisa Anda lakukan, Andakan tidak mengerti sama sekali dengan semua ini. Anda bahkan tak menyukai makanan manis.” So Eun tersenyum sambil melanjutkan pekerjaannya membersihkan Counter di depannya. Dong Hae tampak ikut tersenyum.

“Benar juga.” Tangannya yang penasaran kini menemukan sebuah bungkusan butter cream rasa strawberry yang isinya hanya tinggal setengah. Lagi-lagi diamatinya sedikit penasaran benda di tangannya itu ketika ia mulai mendekatkannya ke hidungnya. Mencium aromanya. “Ini digunakan untuk apa?”

“Oh, itu digunakan untuk menghias cake. Selain itu juga digunakan untuk memperkaya rasa.” Jelas So Eun dengan senang hati. “Sini. Saya tunjukkan cara pemakaiannya.” So Eun mengambil alih benda itu dari tangan Dong Hae. Gadis itu kemudian bercerita cukup panjang lebar mengenai bahan makanan di tangannya. Sementara Dong Hae lagi-lagi hanya diam dan seperti menyimak setiap yang So Eun jelaskan. Senyuman halus kembali terlukis di wajahnya.

“Kalau diperhatikan anda selalu berubah seperti orang lain ketika bercerita tentang bakery. Lebih semangat dan tidak terlihat canggung seperti biasanya.”

Ucapan Dong Hae itu membuat ia menghentikan penjelasan panjang lebarnya mengenai bahan makanan di tangannya. Balas ditatapnya Dong Hae yang masih tersenyum menatapnya. Rasa canggung dan rasa gugup yang tak asing kembali memanipulasi seluruh dirinya. Jantungnya bahkan kembali berdetak lebih kencang ketika lagi-lagi tatapan mata itu seperti melumpuhkannya.

Laki-laki ini, apa yang sebenarnya berada di fikirannya? Aku tak mengerti. Apa maksud tatapannya? Apa maksud senyumannya? Apa maksud setiap ucapannya?

Sekilas, So Eun merasa tak bisa mengenali suasana di sekitarnya ketika kedua mata itu seperti menghisapnya memasuki dimensi yang baru. Satu hal yang disadari kalau sikap laki-laki ini terhadapnya mulai berbeda. Apalagi ketika mata itu terus menyelaminya, seperti menghipnotisnya, ketika So Eun juga merasakan Dong Hae mendekat padanya. Padanya yang bahkan seperti membeku dan tak bisa melakukan apapun – walau hanya bernafas.

Apa dia akan…

Dia baru saja akan menutup matanya ketika nafas Dong Hae mulai terasa menyapu lembut wajahnya. Namun ketika itu keduanya sama-sama dikagetkan ketika tanpa sadar ia menggenggam terlalu erat butter cream di tangannya. Meledak hingga isinya melumeri pakaian dan wajah keduanya.

A-Aaa, aaaa, apa yang aku lakukan?

Dong Hae tampak juga sangat kaget. Ia menatap So Eun tak enak sambil menarik dirinya lagi menjauh dari So Eun. Pura-pura memeriksa dirinya sendiri yang berantakan oleh cream berwarna merah muda itu. “H-Huh, M-Maaf, nona-Kim.” Ucapnya canggung. Dia berniat untuk berbalik ketika So Eun meraih lengannya, membuat mereka berhadapan kembali.

“K-Kenapa berhenti?” So Eun bukannya sedang tidak sadar, ia sadar ketika ia melakukan ini. Walau tentu saja, rasanya hampir mau pingsan ketika Dong Hae memberikan tatapan bingung karena ucapannya barusan. “A-Anda bilang ingin mencobanya. Lalu kenapa berhenti? Anda harusnya terus maju dan bukannya melangkah ke belakang..” tambahnya. Benar-benar seperti melawan dirinya sendiri ketika ia mengatakannya,

Apa saat ini aku sedang menggodanya? Ini gila. Tapi, tapi, entah kenapa aku benar-benar ingin melakukannya.

“A-Aku, A-Aku sama sekali tidak merasa keberatan. Saya menyukainya. Karena sejak pertama bertemu, saya sudah menyukai Anda.” So Eun mengalihkan pandangannya ketika ia mengatakannya. Ia tak berani menatap mata itu, walau dalam hati ia malah merasa tak menyesali ucapannya. “J-Jadi—“

Ia baru hendak menatap mata Dong Hae lagi ketika gerakan cepat Dong Hae mendahuluinya. Dalam sekian detik, salah satu jari Dong Hae mengusap Cream yang melumeri wajah So Eun dan menyelipkannya di antara bibir So Eun. Bibirnya pun menyusul setelah itu, ketika cream strawberry tadi melumer di bibir keduanya.

Dalam hidupnya—

Masa bodoh dengan kehidupanku sebelumnya namun… ini benar-benar gila. Aku merasa seperti aku akan meledak.

Ciuman itu terasa dalam dan bergairah. Mungkin keduanya terlalu larut dalam keadaan sehingga logika sedikit sulit terhubung dengan perasaan. Yang jelas keduanya sama-sama tak memiliki apapun dalam fikiran keduanya selain orang asing di hadapan mereka. Itulah yang terasa ketika kedua jemari Dong Hae yang tadi berada di pipi So Eun beralih menuju pinggang ramping So Eun, menariknya makin dekat ketika So Eun juga memeluk leher Dong Hae lebih erat.

Hal itu terjadi dalam beberapa saat sebelum kebutuhan oksigen menghalangi momen itu lebih lama. Bibir keduanya kembali berpisah dengan nafas yang sedikit tersengal. Keduanya lagi-lagi berusaha menahan rasa canggung ketika keduanya kembali membagi pandangan.

“Ini gawat. Kalau kita tidak berhenti sekarang akan sangat bahaya..” Gumam Dong Hae sambil kembali tersenyum pada So Eun yang wajahnya benar-benar memerah. So Eun hanya mengangguk sambil menundukkan wajahnya yang terasa sangat panas. Namun tak lama salah satu tangan Dong Hae meraih salah satu sisi wajahnya, mengusapnya pelan sambil membawa mata kembali bertemu mata. Dong Hae tersenyum padanya yang membuat So Eun juga tersenyum padanya. Untuk sesaat, waktu terasa seperti berhenti.

“Ibu..” Gumaman tiba-tiba Dae Han itu sukses membuat So Eun tersedak. Membuat ia terbatuk ketika ia melayangkan pandangannya pada si bocah yang menatapnya tak bersalah. “Ibuku, Kim So Eun. Kim So Eun, ibuku..” tambahnya seperti tengah mengeja.

“Apa yang kau lakukan. Lee Dae Han?” Tanya So Eun setelahnya. Berusaha menahan tekanan suaranya agar pengunjun toko lainnya tidak terganggu.

“Aku hanya latihan. Kau kan akan menjadi ibuku.”

Wajah So Eun memerah begitu mendengar ucapan polos sang bocah. Di saat bersamaan juga entah mengapa ia malah mengingat pertemuannya terakhir dengan Dong Hae sekitar seminggu yang lalu. Tak berhubungan tapi entah mengapa melintasi fikirannya secara bersamaan.

“Atau bolehkah aku memanggilmu begitu mulai dari sekarang—“

“Jangan!” So Eun sedikit berteriak, dimana kali ini ia mendapat tolehan dari orang-orang di sekitar mereka. So Eun memberikan mereka senyuman tak enak sambil kembali berbicara pada Dae Han. Dengan berbisik. “Itu memalukan. Aku bukan ibumu. Kau tak bisa memanggilku begitu.”

Lagipula kalau terdengar oleh ayahmu pasti aku akan sangat malu. Walau kami bahkan sudah pernah kontak fisik tapi tetap saja.. Aish, kenapa aku harus memikirkan hal ini sekarang?

“Kau bilang kau tak suka kalau aku panggil kau So Eun.”

“Benar, tapi tetap saja lebih baik begitu daripada kau panggil aku seperti tadi.”

“Huh, kau tidak seru.” Dae Han memanjangkan bibirnya, tampak menggerutukan sesuatu yang tak bisa didengar So Eun. “So Eun, apa kau sebenarnya sama dengan ayah? Kalian tidak ingin menikah. Kau tak mau menjadi ibuku.”

So Eun mendesah panjang, menatap bocah itu sedikit kehabisan kata-kata. Kenapa anak ini bisa mempunyai mindset seperti ini? Dia bahkan sudah memikirkan hal yang tak seharusnya ia fikirkan di usianya yang sekarang.

“Sebenarnya bukan begitu, tapi—“

“Kalau kau tidak melakukan apa-apa nanti ayah pacaran sama bibi-bibi pirang lagi. Kau harusnya melakukan sesuatu.”

Dae Han tidak tahu saja apa yang sempat ia lakukan beberapa malam yang lalu. Tapi tak mungkin dia menceritakannya, huh. Lagipula dari awal kenapa ia harus terus terliat pembicaraan seperti ini dengan bocah ini. Benar-benar aneh.

“Kau tahu, dua hari lagi ulang tahun ayah. Kau harus menyiapkan hadiah untuknya.”

“Huh, ulang tahun?” So Eun tampak cukup kaget. Dia benar-benar baru tahu hal itu bahkan kalau difikir-fikir sampai saat ini ulang tahun Dae Han pun ia belum tahu.

“Ya, kau harus memberikannya banyak hadiah dan kue jadi ayah akan merasa sangat senang. Dengan begitu ayah akan jatuh cinta padamu.” Cerita Dae Han dengan sangat antusias dan semangat.

“Itu tak semudah itu!” Protes So Eun terkekeh dengan ucapan Dae Han – walaupun kini sesuatu mulai bermain dalam fikirannya.

Ulang tahun, huh?

Dua hari setelahnya, So Eun menemukan dirinya di depan gedung perkantoran mewah tempat Dong Hae bekerja. Ia benar-benar tak tahu apa-apa, ia bersumpah. Niatnya tadi hanya mengantar Dae Han pulang seperti biasanya namun Dae Han tiba-tiba malah mengajaknya ke tempat lain. Ia juga baru tahu gedung apa yang ada di depannya itu kini setelah membaca label nama gedung elit tersebut – selama ini dia hanya tahu nama perusahaan Dong Hae.

“D-Dae Han, kenapa kau membawaku kemari?” Tanya So Eun melirik sang bocah yang mulai berniat masuk. Ditahannya bahu sang bocah dengan satu tangannya dimana tangannya yang lain memegang tart yang awalnya berniat ia bawa ke rumah Dong Hae. Seperti yang dibilang tadi, dia benar-benar tak tahu kalau hari ini ia harus kembali masuk perangkap Dae Han untuk kesekian kalinya.

“Dae Han ingin bertemu ayah. Dae Han ingin mengucapkan selamat ulang tahun pada ayah.”

“Kau bisa mengucapkannya di rumah. Lagipula, ayahmu pasti sedang sibuk bekerja.” So Eun menyahut cepat sambil masih menahan bocah itu untuk melangkah ke dalam.

“Ayah selalu pulang sangat malam. Tadi pagi Dae Han sengaja tidak mengucapkan apapun sehingga bisa memberikan kejutan untuk ayah. Kalau ditunggu malam jadi tidak seru lagi. Dae Han juga pasti sudah tidur.”

“T-Tapi..”

Yang benar saja, kau harusnya mengatakan sejak tadi sehingga aku tak perlu harus ikut pergi denganmu. Walau bagaimanapun aku ini bukan siapa-siapanya, mana mungkin aku tiba-tiba datang bersama anaknya begini sambil membawa kue tart. Bagaimana kalau orang-orang berfikir yang macam-macam.

“Tch, ayo So Eun. Nanti ayah malah benar-benar sibuk.”

So Eun benar-benar hanya bisa pasrah begitu bocah itu menarik-narik roknya untuk masuk ke dalam.

“Tada!! Selamat ulang tahun!!”

Dong Hae tampak cukup kaget begitu Tiffany memasuki kantornya sambil membawa cake di tangannya. Ditatapnya sedikit heran mantan pacar yang sudah putus kontak dengannya dalam beberapa minggu itu. Terlihat masih cukup bingung.

“Tiffany? Kenapa kau disini?”

“Apa aku tak boleh kesini?” Tiffany memasang wajah pura-pura kesal. Lebih diulurkannya lagi tart di tangannya lebih dekat ke wajah Dong Hae. “Aku ingin merayakan ulang tahunmu. Sama seperti tahun lalu.” Dia memberi kode agar Dong Hae meniup lilin di atasnya. Dong Hae mau tak mau menurutinya. “Sekarang saatnya memotong kue—“

“Fanny.” Dong Hae menengahi ketika wanita itu hendak melanjutkan acara perayaan yang terlihat tak terlalu berkesan bagi Dong Hae. Ditatapnya wanita itu dengan lebih tegas. “Ada apa ini? Bukankah kau sendiri yang mengakhiri semuanya? Setelah kau tidak mengacuhkanku, kenapa kau tiba-tiba muncul dan bersikap layaknya tidak terjadi apa-apa begini?”

Tiffany tampak tak langsung menyahut, ia balas menatap Dong Hae sambil menggigit bibir bawahnya. Ekspresinya tampak lebih serius dari sebelumnya. “Dong Hae, setelah aku memikirkan semuanya dalam beberapa hari ini, kukira kita tak seharusnya mengakirinya dengan cara seperti ini. Mungkin waktu itu aku yang salah karena aku terlalu cepat menyerah. Aku seharusnya berusaha lebih keras untuk merebut hati Dae Han. Sehingga, kita tak harus berpisah semudah itu.”

Dong Hae tampak tak langsung menyahuti ucapan Tiffany. Sekilas mungkin ia cukup tak menyangka ucapan itu akan keluar dari Tiffany. “Fanny—“

“Aku mungkin bukan jenis wanita yang bisa dekat dengan anak kecil dengan cepat. Tapi akan kucoba, aku akan mengusahakannya lebih keras dari sebelumnya. Yang pasti bagiku, kita harus mempertahankan hubungan kita. Kita tak seharusnya berpisah begitu saja.” Wanita itu mengucapkannya dengan bersungguh-sungguh. Sementara Dong Hae tampak masih mendengarkan dan tak mengatakan apapun.

“Mohon maaf, tuan muda. Tapi saat ini Direktur sedang ada tamu.” Wanita muda itu yang menjabat sebagai sekretaris Dong Hae itu menyahuti ucapan Dae Han dengan lembut. Senyuman ramah dan gemas terlihat di wajahnya menatap wajah Dae Han yang terlihat kecewa.

“Tamu? Siapa?”

“Kekasih beliau. Nona-Tiffany.”

Baik So Eun ataupun Dae Han sama-sama cukup kaget mendengar jawaban itu. Ekspresi keduanya juga langsung berubah.

“Bukankah Tiffany bukan pacar ayah lagi?” Dae Han seperti menggumam dengan dirinya sendiri. Namun So Eun tampak mampu mendengarnya. “Pantas ayah waktu itu pulang malam dan tubuhnya terlhat wangi. Jadi ayah kembali pacaran dengan Tiffany.”

Sementara itu So Eun tampak juga memiliki sesuatu dalam fikirannya. Gadis itu melirik tart yang masih berbungkus rapi di tangannya. Perasaannya sedikit tak nyaman begitu saja.

“Tapi Dae Han tetap ingin melihat ayah—“

“Dae Han..” So Eun menyusul Dae Han cepat setelah meletakkan tart tadi di atas meja sang sekretris. Diraihnya lengan si bocah yang berjalan ke arah pintu di depannya. “Kau tak bisa begitu. Kita kembali lain waktu.”

“Tidak. Dae Han tak mau ayah pacaran lagi dengan Tiffany. Dae Han akan tetap masuk—“

“Kalau begitu aku pulang duluan.” Ucapan So Eun membuat Dae Han menghentikan langkahnya dan berbalik lagi menatap So Eun. Terlihat keberatan. “Aku kira aku tak bisa ikut masuk ke dalam dan bertemu ayahmu.”

“Kenapa? Apa So Eun cemburu?”

Demi tuhan, darimana juga anak ini tahu kata cemburu sekarang? Tapi itu bukan lagi yang menjadi hal yang perlu So Eun fikirkan sekarang karena nyatanya ia tak bisa menyembunyikannya kalau ucapan Dae Han ada benarnya. Tiffany, dia tak tahu seperti apa wanita itu. Namun entah kenapa mendengar kalau kedua orang itu hanya berdua berada di dalam hatinya merasa tak begitu senang. Secara logis saja, apa memangnya yang dilakukan oleh dua orang yang pernah atau mungkin masih saling mencintai di dalam sana saat ini?

Selain itu dari awal ia juga sudah berfikir bahwa tak seharusnya ia datang ke tempat ini. So Eun bukan siapa-siapanya. So Eun tak punya hak untuk menemuinya di sini. Tidak seperti wanita bernama Tiffany itu yang bahkan sudah dikenal sebagai kekasih bos oleh semua orang yang bekerja di sini.

“So Eun jangan sedih. Dae Han akan bilang pada ayah kalau So Eun juga datang untuk bertemu ayah.”

Ada apa dengan dirinya sebenarnya? Kenapa bahkan ucapan Dae Han yang terdengar lucu ini malah membuat hatinya merasa kian tak senang. Matanya perih, entah kenapa ia merasa seperti ia akan menangis.

Aku benar-benar payah.

“Aku pulang duluan ya.” Tanpa menunggu sahutan Dae Han ia segera berbalik dan meninggalkan tempat itu dengan langkah cepat. Ia juga berusaha mengacuhkan teriakan Dae Han yang memanggil namanya dan melarangnya pergi. Ketika ia melangkahkan kakinya memasuki lift ia merasakan ada air hangat yang menuruni pipinya.

Payah. Aku benar-benar payah.

“Maaf Tiffany, tapi saat ini semuanya tak lagi sama.” Dong Hae memecah keheningannya setelah beberapa saat. Di tatapnya wanita di depannya yang terlihat terkejut dengan ucapannya itu.

“Kenapa? Apa kau membenciku karena aku memutuskanmu waktu itu? Atau, apa kau telah menemukan wanita lain?”

“Aku tak membencimu, aku mengerti kalau kau tak bisa menghadapi Dae Han. Tapi kini, memang ada seorang wanita yang hadir dalam hidupku dan aku mencoba untuk serius dengannya.”

“Apa? Tidak mungkin. Kau pasti hanya sedang mencoba untuk membalasku, bukan? Aku tahu kau. Kau tidak mungkin berpaling semudah itu. Empat minggu? Kau tak mungkin melupakanku secepat itu dan menemukan wanita lain.”

“Memang bukan aku yang menemukannya. Dae Han lah yang menemukannya.” Tiffany tampak terlihat tak mengerti. Ia membutuhkan lebih banyak penjelasan. “Dae Han menyukai wanita ini, sehingga dia memintaku untuk mendekatinya. Awalnya aku tak yakin – kau benar kalau aku masih sangat menyukaimu. Tapi semua terjadi begitu saja. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk benar-benar membuka hatiku untuknya. Untuk belajar mencintainya.”

“Dong Hae…”

“Maafkan aku, Tiffany. Sepertinya memang kita tak bisa kembali seperti dulu lagi.”

Wanita cantik itu tampak tak mengatakan apapun setelahnya, ekspresi jelas terlihat seperti ia kecewa. Ditatapnya mata Dong Hae lagi dan berusaha membacanya. Namun semua itu tertulis sangat tegas, tak ada keraguan yang ditunjukkan Dong Hae dari sana.

“Ayah!!!” Pintu terbuka ketika tiba-tiba seorang bocah mungil langsung berlari dengan wajah berlinang air mata. Dong Hae yang kaget tampak langsung berlutut menyambut putranya yang menerjang pelukannya. Sementara Tiffanya tampak hanya menatap keduanya.

“Ada apa, huh? Kenapa kau menangis?”

“Ayah, So Eun sedih. Hiks, dia menangis.”

“Dia menangis? Kenapa?” Tanya Dong Hae bingung sambil mengusap rambut kecokelatan putranya. Dae Han tampak mengangkat wajahnya tak lama, terisak menatap sang ayah.

“Tadi So Eun datang untuk memberi ayah kue ulang tahun. Tapi karena Tiffany ada di sini So Eun jadi sedih. Dia lalu pulang dan menangis.”

Dong Hae tampak cukup kaget dengan apa yang didengarnya dari Dae Han. Ia tak terlalu mengerti apa yang benar-benar terjadi tapi mungkinkah So Eun telah salah faham? Dia pasti berfikir yang tidak-tidak mengenai pertemuannya dengan Tiffany di sini.

“Ayah, ayah harus kejar So Eun. Bagaimana kalau So Eun benar-benar sedih dan marah. Nanti So Eun tak mau menjadi ibu Dae Han.” Anaknya itu kembali merengek sambil menarik-narik jas ayahnya tidak sabar. Hal itu tentu saja membuat Dong Hae kian bingung dan tak tahu harus bagaimana. “Ayo ayah, nanti So Eun benar-benar pergi.”

Dong Hae menghela nafas, lalu akhirnya ia memutuskan untuk menurutinya. Dipegangnya pundak Dae Han, kembali menatap putranya. “Ya sudah, Dae Han tunggu di sini ya. Ayah segera kembali.” Setelah mengucapkan itu Dae Han dengan tergesa-gesa meninggalkan ruangan itu. Melewati Tiffany yang tampak hanya kebingungan.

So Eun tampak sampai kembali di lantai dasar. Gadis itu tampak sudah lebih tabah dari sebelumnya, walaupun ia terus menundukkan kepalanya. Setelah ia keluar dari lift ia tampak langsung melangkah keluar dari gedung itu. Berniat langsung mencari taksi dan pulang.

Sekarang dia baru sadar kalau ia memang lari begitu saja tadi. Bahkan tak hanya meninggalkan Dae Han yang menangis memanggil namanya, ia juga tanpa sadar telah meninggalkan tart yang dibawanya tadi. Fikirannya pastilah benar-benar tidak lurus sehingga ia sedikit tak peka dengan sekitarnya.

Ketika ia baru saja sampai di luar tiba-tiba saja ponselnya berdering. Ia tampak cukup kaget menemukan nama Dong Hae di sana. Terlihat ragu, namun akhirnya memutuskan menjawab panggilan itu.

“Halo?” Ia berusaha agar suaranya tetap terdengar normal.

‘Nona-Kim, jangan pergi dulu. Tunggu saya sebentar.’

So Eun tak menyahutinya, ia menggigit bibir bawahnya mencoba menimang. Sementara itu suara Dong Hae masih terdengar dari line seberang dimana laki-laki itu berusaha memanggil namanya.

Aku harus bagaimana? Seharusnya aku tak boleh semarah ini, bukan? Aku bahkan tak punya hak.

Tapi dia telah menciumku waktu itu. Aku seharusnya berhak marah.

Tapi tetap saja aku bukan siapa-siapanya.

So Eun tak tahu berapa lama ia larut dengan konflik di dalam dirinya sendiri ketika seseorang tiba-tiba memegang lengannya. Benar saja, Dong Hae ternyata menyusulnya. Laki-laki itu kini berdiri di depannya dengan wajah cukup tegang dan nafas sedikit tersengal.

Mereka bertatapan lagi. Mata itu menyelami matanya lagi. Kalau biasanya ia merasakan kehangatan entah kenapa kali ini So Eun merasa begitu risau. Ia takut kalau memang mata itu memang telah menghipnotisnya selama ini ketika sebenarnya semua itu tidaklah nyata. Ketika ia bangun ia hanya akan merasa kecewa.

“Nona-Kim, kenapa anda pergi saja tanpa menyapa? Anda datang untuk mengucapkan ulang tahun pada saya, bukan? Tapi kenapa anda malah pergi begitu saja?”

Lee Dong Hae, bagaimana caranya untuk menghadapimu? Aku tak tahu dirimu, aku tak bisa membacamu. Aku ingin menaruh banyak harapan padamumu seperti yang kulakukan sebelumnya, tapi bagaimana kalau aku salah? Bagaimana kalau nyatanya aku bukanlah wanita yang kau inginkan? Dari awal memang semua ini bukan keinginanmu untuk melangkah padaku, bukan?

“A-Aah, tidak ada apa-apa.” So Eun tersadar, terlihat berusaha memasang wajahnya senormal mungkin. “H-Hanya saja saya tak bisa lama-lama karena saya masih punya pekerjaan yang saya tinggalkan. Itu sebabnya saya harus pergi lebih awal.” Sambungnya sambil berusaha tersenyum. Walau tetap saja, senyuman itu terlihat sangat canggung dan dipaksakan.

Apakah Dong Hae mempercayai kata-katanya? So Eun cukup penasarannya. Apalagi ketika laki-laki itu hanya diam mendengar ucapannya barusan. Terus menatap So Eun yang So Eun sendiri tidak terlalu berani melirik padanya.

“Saya hanya berulang tahun untuk hari ini. Saya akan sangat senang kalau anda bisa meluangkan sedikit waktu hari ini. Mungkin untuk beberapa menit untuk meniup lilin ataupun memotong kue.”

Dia mulai lagi. Mengatakan sesuatu yang membuatku berfikir keras. Kenapa dia terus seperti ini?

“K-Kenapa?” So Eun memberanikan menyuarakan apa yang ingin diketahuinya. “Kenapa anda menginginkan saya untuk menemani anda di hari ulang tahun anda? Saya bahkan, bukan siapa-siapa bagi anda.”

“Bukankah saya sudah mengatakannya? Saya ingin mencoba untuk mengenal anda lebih jauh. Mencoba untuk lebih dekat. Mencoba untuk.. mencintai anda seperti keinginan Dae Han.”

“Lalu bagaimana hasilnya?” So Eun kali ini memberanikan diri menatap Dong Hae. Membiarkan Dong Hae melihat matanya yang sedikit basah – terlihat terluka. “Sejauh ini, bagaimana hasilnya?”

Dong Hae tak menyahutinya, hanya balas menatap kedua mata So Eun itu. Mata itu terus saja tak terbaca, terlihat datar namun mampu menenggelamkan So Eun ke dalamnya. “Saya tidak akan mencium anda kalau saya tidak memiliki perasaan pada anda.” Dong Hae mengucapkannya dengan sangat serius, terlihat sangat yakin. “Mungkin perasaan itu belum menjadi cinta, itu mungkin semaca rasa suka ataupun kagum. Tapi bukankah kita juga baru memulai? Untuk sebuah permulaan, bukankah itu awal yang bagus?”

Setetes air matanya lolos begitu saja, ini sedikit memalukan. Tapi tetap saja, ini terasa belum cukup. Ada satu lagi yang harus So Eun pastikan.

“Lalu wanita tadi? Dia siapa?”

“Bagian dari masa lalu. Hanya itu. Saya baru saja mengucapkan selamat tinggal padanya.”

So Eun harusnya merasa lega, namun saat ini ia malah semakin menangis begitu saja. Mungkin memang ia menangis begini karena merasa lega setelah mendengar jawaban Dong Hae.

Tak lama, tangan yang mulai tak terlalu asing kembali merengkuhnya. Menyentuh sisi wajahnya, menghpuas air matanya, menenangkannya. Ketika tangan itu membawanya lebih dekat So Eun berfikir ia akan diberi sebuah pelukan hangat, namun lagi-lagi sebuah bibir yang tak juga asing menyapa bibir miliknya. Menciumnya pelan, tanpa gairah seperti yang terakhir kali mereka lakukan.

Ini memalukan. Semua orang melihat kami tapi… aku tak peduli.

“Astaga..”

Setelah beberapa menit Dae Han akhirnya baru bisa menyusul keduanya. Bocah polos tu berniat untuk menghampiri keduanya namun langkahnya berhenti di depan pintu masuk gedung. Ia lalu reflek menutup matanya dengan kedua tangan, untuk kemudian diam-diam ia mengintip dari sela jarinya.

“Anda tidak boleh melihat itu, tuan muda.” Seruan sekretaris ayahnya yang mengiringinya mengagetkannya. Membuat bocah itu kembali menutup rapat mata dan tangannya.

“Bilang padaku kalau sudah selesai..” bisiknya polos. Sang sekretaris tersenyum geli. “Tapi bibi-sekretaris, bukankah kalau sudah ciuman artinya dua orang sudah saling menyukai?” tanyanya tak lama. Masih setia menutup rapat penglihatannya.

“Saya masih muda tuan muda, kenapa anda terus memanggil saya bibi?” Wanita muda itu sedikit pura-pura cemberut, namun tak lama ia kembali tersenyum geli melirik bocah itu. “Sepertinya begitu, tuan muda. Mereka mungkin sudah saling menyukai.”

“Kalau begitu apa artinya mereka akan menikah?”

“Besar kemungkinan begitu.”

“Asyik.” Dae Han berseru senang. “Bibi-sekretaris, apa kau tahu kalau akulah yang mengenalkan ayah pada So Eun. Aku ingin So Eun menjadi ibuku. Kalau begini, artinya aku sudah berhasil..”

Sekretaris muda itu lagi-lagi tak bisa menahan tawanya oleh ucapan polos sang tuan muda, dimana saat bersamaan ia juga merasa tersentuh dengan momen ketika atasannya tersenyum lembut pada wanita yang baru saja diciumnya – wanita itu terlihat malu-malu. Dia mungkin tidak mengetahui awal cerita ini tapi dia seperti sudah bisa melihat bagaimana akhirnya.

Orang-orang ini akan membentuk sebuah keluarga yang dipenuhi oleh kehangatan dan kebahagiaan.

❤ THE END❤

48 Comments Add yours

  1. Puspa Kyukyu mengatakan:

    Singkattt…
    Padat dan jelassss !!?😄 !!

    Gak nyangka aja klw bakal ada scen Kiss dari Donghae ma Soeun…

    Ahhhh….
    Lagi-lagi Uni berhasil buat Puspa makin jatuh cinta ma Donghae,setelah mendiskripsikan seorg Lee Donghae di cerita ini..

    Ceritanya benar-benar fresh !!

    Asiikkk.. Keinginan Daehan akhirnya terpenuhi !!
    Chukae ya Lee Daehan !! ;)))

    ditunggu sambungan FF lainnya~

  2. yhuliisoeun mengatakan:

    ahhh greget greget… kok brasa masih gantung yahh put.. satu part lagii dong…. buat mreka jatuh cinta khususnya donghae buat dia ngungkapin perasaannya ke sso.. 😆😆 trus nikah dahh.. sumpah suka bnget sama parti ini put.. jadi gak rela kalau udah end aja.. plis tambah satu part lagi yah.. ><*ayo reader yg lain bujuk putri 😁😂😂* ahh mna feel.y dpat bnget lagi.. HaeSso so sweet bgt dahh.. suka line waktu hae nyium sso di toko.y sso itu ..ekekekeke 😂😂 pokoknya suka dahh… ditunggu part spesialnya.. wkwkwk…. 😂😂

  3. Safitri mengatakan:

    finally ff ini selese jugak after a long time hhahaa btw tetep sukak sama cerita ini berasa kebayar penantian selama nunggu ff ini di post meskipun moment haessonya berasa minim sekali tapi tetep ada gregetnya dikitdikit cerita dan alurnya tetep bikin penasaran meskipun ff ini terkesan lama gegara baru di post😀 well endingnya bagus meskipun agak berharap lebih sih buat part akhirnyaaaa btw sukses authornyaaa🙂

  4. Luthfiangelsso mengatakan:

    Hwaaaa tamat…huhuuhu pen lagi lagi dan lagi..
    Sumpah ya put aku yg baca aku yg ikutan ngerasa gerogi dan deg”an. Aku bisa ikutan ngerasain perasaan nya haesso. Wow apa lagi pas bagian kisseu nya itu lhoo woww rasa strawberry bgt tuh i like it🙂 untung donghae berenti ciumnya kalo gak bisa” jafi tuh dede buat daehan hahaha😀
    Sumpah over all aku suka ama ceritanya semuanya, tapi berharap bgt ada special part nya gitu sampe mereka nikah hehhe ngarep^^

  5. gg mengatakan:

    hyhyhy, akhirnya update ff yg satu ini hihihi~ ehm, bagus kok putri. seperti biasany kmu salah satu author favorite ku yg nulis dg jelas. tapi…..

    akhirny agak gantung putri. hihihi care to make SPECIAL PART??? kehidupan mreka stlh nikah? hub soeun-daehan, cara soeun mendidik daehan dan hub donghae-soeun, dlm menyatukan pendapat. kn ga mungkin tanpa pertengkaran, apalgi mreka kenalny cm sebentar.

    klo bisa ada manse nya dong, kn sahabatnya daehan itu hihihihu

  6. anna mengatakan:

    Akhrny stlh lm mnggu ff ini,,hemmmm mskpun kbhgian haesso terasa blm sepenuhnya tp lega coz mrk sdh sm2 mncb&mmbuka dri utk bs brsm step by step hngga bs bnr2 mnjd klrg bhgia,,hussh prgilah mslh trutama pihak ke-3 smg mrk kebal dgn itu smua yg justru mnguatkan ikatan mrk,,

  7. mama nikita widiyati mengatakan:

    Rasanya melayang2 dengan ciuman haesso….sepertinya manisss banget,apalagi ciuman yang kedua….nahan diri….terlalu sweet bikin meleleh…..ini seperti cake manis yang dimakan terus lumer dimulut.luar biasa.
    Author juga bikin ending nya pas…..ga buru2 dan melebih2kan cinta haesso…mungkin karena mereka sama2 sudah dewasa jadi kesan lebih halus bisa tercipta.uhhh…..dae han….semoga kau bahagia….dan bisa memanggil so eun IBU

  8. Esaa mengatakan:

    Ga rela ini berakhir……
    Putri, seriusan…
    Readers lain mintanya special part atau nambah satu part lagi, tapi aku mintanya sequel, mueheheee…

    Seriusan, ff ini sangat natural sekali, gada cerita-cerita yang kesannya dipaksain..
    Bagaimana Donghae mulai mencoba untuk mengenali So Eun, ataupun So Eun yang gugup setengah mati dengan kode-kodean Donghae..

    Aku suka scene butter cream. Aaa… aku sampai malu-malu sendiri, pokoknya tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata…

    Mmm..tentunya di ff ini ga afdhal kalau ga ngomentarin si -bocah kecil nan nyebelin tapi ngangenin- Daehan.
    Lagi-lagi tingkah sok dewasanya itu bikin aku senyum-senyum sendiri, apalagi pas dia nutupin mata tuh pas bapaknya lagi ekhm, aku baru nyadar Daehan itu kalau ke wanita bilangnya bibi-bibi ya, mau muda ataupun tua, ahhh dasar Daehan…

    Bagaimana ini, aku sangat-sangat ga rela berpisah dengan ff ini Put, aku ingin melihat mereka -Donghae dan So Eun- melepaskan embel-embel ‘Tuan-Nona-Anda’nya, greget pisan aduhh..
    Semoga Putri mau mempertimbangkan para readers yang tak tahu malu ini ya, khususnya aku 😊😊😊😊

  9. rizki mengatakan:

    Bagus banget, tapi kok endingnya kyak nggantunh gitu, tapi nggak papa, ceritanya bagus babget kok, apalagi kalo ada saquelnya pasti lebih asik

  10. Niniet mengatakan:

    sebenernya aku ga berharap part ini end loh put..jujur aku sukaaaaaaa banget dengan ff ini..sederhana tapi menyentuh di part ini entah berapakali aku tersenyum, berdebar dan nyesek bersamaan feelnya keren dapet banget, bahkan ga sadar mataku berkaca2 saat Daehan berkata bahwa dia berhasil, aku suka dengan donghae yang mau berusaha unuk mencintai So Eun sesuai dengan keinginan putranya dan aku juga salut dengan keberanian so eun yang mengatakan kalo ia mnyukai Donghae. Jujur meski tanpa konflik yang berarti tapi ff ini ga ngebosenin justru malah ketagihan…sayangnya ini sudah End..apa ada niat buat sequelnya Pu? 1 oneshoot aja..#please🙂

  11. Deborah sally mengatakan:

    Kirain ceritanya bakal sampe nikah :3

  12. mothisan mengatakan:

    Kesalahpahaman yg berakhir dengan kebahagiaan,,,
    Akan menjadi keluarga kecil yg manis,,

  13. Vhi mengatakan:

    :*;) sweett bngett sih haee ,,,, pntes sso ngarep bnget pngenn lebihh panjanggg ceritanya ,,, klau perlu smpe nikahh hhahaha😀 goo job author suka bngett ….

  14. aikurasin mengatakan:

    bner2 m’muaskan . . . ditunggu Spnya sweet moment p’nikahanNya haeSso . . .

  15. yhuliisoeun mengatakan:

    wkwkwk.baca ulang lagi dan mau liat komen komen teman2 yg lain.. dan trnyata semua pada minta sequel .. wkwkwk.. ayoo put tanggung jawab yah.. reader2 ini mnta sequel.. moga di kabulin … 😂😂

  16. yhuliisoeun mengatakan:

    wkwkwk.baca ulang lagi dan mau liat komen komen teman2 yg lain.. dan trnyata semua pada minta sequel .. wkwkwk.. ayoo put tanggung jawab yah.. reader2 ini mnta sequel.. moga di kabulin … 😂😂😂

  17. muntaryatia mengatakan:

    kurang panjang bikin wktu merekan nikah trus daehan dapet adek… wahhh mak comblangnya daehan berhasil…

  18. narulita rc mengatakan:

    Yeayyyy akhirnya end jg happy ending after story dong yaya eon penasaran setelah hae sm sso nikah kekeke😊

  19. miani caledupha mengatakan:

    Berkat dae han akhirnya donghae mau membuka hati untuk so eun dan ya mereka memulainya perlahan.

    Tapu put aku punya harapan jika nanti akan ada seq tuk ff ini.

    Kweren tuk ff-mu. Ditunggu karya selanjutnya

  20. wahyuSsoAngells mengatakan:

    Wkwk akhirnya abang donghae stelah lama bimbang mau jg buka hatinya gk ppa skrang msh tahap suka tp mngkin nnti klo merit bsa jd cinta 😊😊
    Si Dae Han bangga bgt yaa dek jd mak comblang hhaahaa 😂😂
    Sbnernya msh pngen bgt minta sequelnya pngen liat haesso nikah trus lahirnya minguk&manse #readerkurangbersyukur# 😁😁

  21. aisyah kyubum elfangelssoeun mengatakan:

    Aaaaah akhirnya di lanjut juga dan ending yg manis ,, meski belum puas karna belum merried ,,,, saluuut sma kegigihan daehan buat bkin hae suka sma sso ,,, lucunya wktu luna yg berantem sma daehan hehehehehe tpi bener ga bisa marah krna daehan ngegemesin ,,, so sweet nya wktu tengah malam adegan ciuman tengah malam itu hehehe di tunggu ff sso selanjutnya ,,,

  22. dewitya mengatakan:

    baguss bageettt , sukaa sukaaaa

  23. yehaesso mengatakan:

    konfliknya baru terjadi diakhir, sequel dong author hihi haesso selalu ngena karakter mereka semua dapet banget. keseluruhan dari part 1 sama 4 keren. lebih banyakin ff haesso lg ya author hehe. dan semoga kedepan ada ff haesso terbaru. ditunggi selalu hee sukses terus.

  24. ayu chokyulate mengatakan:

    yeyy happy ending^^
    akhir nya berkat kerja keras dae han, donghae mulai suka sama sso n’ seneng liat hae yg gentleman banget negasin bahwa hubungan dia sama tiffany udah berakhir, bikin melted😀
    akhhhhh emang haesso mah selalu so sweet dan bikin envy…..

  25. Tri mengatakan:

    Setelah lama menunggu akhirnya donghae mulai suka juga….sweet banget haesso

  26. adelcho mengatakan:

    Senengnya donghae udah mulai suka dg soeun dn mulai belajar mencintainya..

  27. ridaeka mengatakan:

    yaampun kak put , puas bgt ngebaca cerita diwp kaka, asik bgt daehan jadi makcomblang bener2 andalan nih daehan , udah nungguin part end nya dari kemarin2….

    after ngebaca ff ini jadi pengen makan cake nih hihihi , 사랑해 kak putri😀

    aku tungguin sequel nya choosen mother

  28. shane mengatakan:

    endingnya bikin aye mimisan ¨Ħiii¨¨Ħiii¨¨Ħiii ƪ(˘⌣˘)ʃ•´¯`• ♥ …manis bingid haesso manis eee daehan juga manis ..jd bikin aye senyum gaje n meleleh ngeliatnya ;;) ..ff nya ngalir gitu aja yak ..ga d paksakan sesuai jalur jdnya Pas ga kurang and ga berlebihn ..natural jdinya enak bgt d baca di lihat n di nikmati <3<3

    Semnjak ucapan daehan d taman waktu itu jd ngebuat soeun canggung begitupun hae ..tak bisa d tampik itu jd buah pikiran mereka ,, sso yg curhat ma luna and hae mencba bercrita ma kyu dan hae berniat ingin lebh dektma sso dia ingin mengabulkan keinginan daehan dg juga memikirkan hatinya cos bener3 ingin membuka hati nya bersama soeun .. ,sso pun jg tambah berdebar ketika hae mulai membri sinyal jd ga d sia2kannya kesempatan ketika ada celah sso bicara hae tiba2 berbeda .. Sso yg ngira dia yg memancing hae pdhll hae memng mencari kesempatan tuk lebh mengenal sso .daehan pun menyemangati sso agar lebh iso menrik ayah nya cos dae ngeliat tanda2 klo ayahnya sdg tertarik perempuan , pdhll orng yg di maksud dae itu sbenrnya sso hhhii sso jd merekahhh kek bunga yg bru d siram air panas *eoh* ¨Ħiii¨¨Ħiii¨¨Ħiii ƪ(˘⌣˘)ʃ•´¯`• ♥😄

    Pas hae membantu sso , hae tulus hatii melangkah lebh dekat dan aura tatapan mereka mengunci intim pandangan mereka ..sso yg menyambut dan hae yg tertarik kek magnet kek ga sdr gt tp stelah cream itu menyerang bru mereka sdr hhhhe😄 hae sempat tak enak takut mungkin sso tak suka tanpa d duga sso mengatakan sesuatu nah yg ini bru pancingan dr sso hhhhii dia blg suka dr awal berdektan ma hae dan hae pun yg udeh tertarik ma sso jd lebh kuat magnetnya hhhi hingga terjdilah ciuman yg lebih manis dr ciuman biasa cos dia pakei cream manis siii ,kek nya stelah itu hae baklan suka yg manis2 ¨Ħiii¨¨Ħiii¨¨Ħiii ƪ(˘⌣˘)ʃ•´¯`• ♥ fany sempat melihat ketika haesso berjalan jd dia merasa sdr diri klo dia tak shrusnya melepas hae tp niatnya terlambat karna hae udeh memilih pilihan daehan n pilihan hatinya😉

    Lucu ketika dae berdebat ma luna kkkke luna kek brasa pantaran usianya ma daehan kkkkke😄 !! Puncaknya ketika fany mengunjungi hae n mengungkapkan keinginannya hae dg tegas membri penjelasan klo dia dah terpaut ma pilihan anaknya , dia ingin memulai lembr bru with sso ayeahh, sdgkan d luar sso ma dae d kejutkan ma ucpan sekrtris hae yg blg ada pacr hae ..sso jd sakit hatinya cos hae udeh mencium dia tp hae ada keksih makanya sso tak sanggup bertemu ma hae n ngucpin ultah n daehan cpt bertindak dg memanggil pawangnya nunjuk hae hhhhe untuk meyakinkan soeun .. Dg langkah kaki seribu hae menangkap n menjinakkan sso hhhi dia blg dia tak akan mencium nya klo tak ada perasaan ma sso hhhi ..sso jd terharu cos cintanya terbalaskan ..akhirnya daehan kegirangan cos dia akan mendptkan ibu😉 lucu n geli ngeliat tingkah dae yg nutup mata trus ngoceh gaje ma sekertris hhha tu bibi jg cute sii yak hhh akhirnya sekrtis n smua jg tahu klo pcr bosnya skg sso ..idihh manis bgt dah ;;) , ff puput slalu special cos feel nya slalu 100% ngena ..konsisten gt ga labl kdg3kan ada orng yg bikin ff bgs kdg jg engga nah ga konsisten gt menurut pdngan aye yak, klo puput itu pinter ngebuat readers terbawa arus feelnya sempurna😉
    thumbs up (y)

    banyak jempol buat puput (y) kEep writing tetap smngat d tunggu krya2 slanjutnya walopun ga tentu kpn puput rilis and yg paling penting sukses terus buat pekerjaan or kesibukan puput d dunia nyata (y)

  29. Lilare mengatakan:

    Akhirnya dipost juga…tee keinginan daehan terkabul…tpi pngen tau klnjutan nya saat donghae bner” suka sso…hehe smangat trus buat ff nya author ^^

  30. Aisparkyu mengatakan:

    Akhirnya yang di tunggu di post juga..happy ending yeee sbnarnya di part ini brhrap lbih dari ini tapi gk apa asl mrka happy ending itu cukup yee daehan pnya ibu baruuu

  31. Saisah mengatakan:

    Manis bagetttt…!
    Kak buat lagi fanfic HaeSso nya

  32. hesti mengatakan:

    Keren dah gak ada kata lagi selain keren

  33. Kim Ra rA mengatakan:

    Gak tahu dech put apa yang harus di tulis karna part ini BENER BENER KEREEEEEEN banget walaupun kata putri nie ngebut tapi fell nyaa tetep kerasa Natural
    HaeSso Dan putri dah komposis yang paling THE BEST deh.
    Gokil scean Romance mereka padahal dikit tapi beeeeer co cwet banget ampe di baca berulang ulang tuh strowberry kiss nya xixi~ padahal yah nie bukan sad story tapi asli ijut berkaca kaca waktu daehan nerobos masuk kantor Donghae dan nangis bener bener ikutan sedih. and di tutup dengan manis semanis kecupan donghae hihi

    Makasih banyak putri buat Cerita yang Super Duper keren bin Bagus ini. benar ben ar terhibur dan teruslah Berkarya

  34. yuliaseptiani mengatakan:

    daebaaaaakkk 👍👍👍👏 dr awal ampe end cerita ny ngena bmget k hati .
    aaaahhh apalagi ada scene kisseu haesso ny 😍
    stelah penuh dg prtimbngn akhirny haesso blajar saling mnyukai 😘 daehan emang yg paling top ^^
    d bikin epilog ampe nikah dong ^^

  35. Rani Annisa mengatakan:

    wah akhirnya donghae dan so eun saling mencintai🙂

    dan di part ini so sweet banget haesso,, dan mereka juga berciuman dan menunjukan kemesraan di depan umum juga…

    wah endingnya bener-bener keren dan bagus banget🙂

  36. abiza mengatakan:

    Yoi critnya nggantung bgt…bas baca nih ati udah d awang2 tiba2 sj jatuh gedubrak ke tanah gara2 di sengnggol sama the end…..ada spnya nggak ya ??????

  37. wie kinameiro mengatakan:

    wooaaaaaa seruuuuu ayo dong author bikin special part’x
    ff’x menarik sekaliiiii

    penasaran sama sikap dong hae setelah donghae dan so eun menikah
    apakah bnyk romance’x ?
    Dengan sikap dae han yg begitu menyukai so eun apakah dong hae juga bsa memperlakukan so eun seperti suami yg begitu mencintai istrinya
    pengen tau kisah married life donghae dan so eun
    author fightinggg

  38. elisa mengatakan:

    akhir a ff ni ending jgak…bca a senyum2 sndri….jd kebayang bayang gitu…..ff fun bnget …dan tetep ff putri number one….
    tetp semangat ya author nulis ff a…chayo

  39. nita mengatakan:

    akhirny ff ini d lnjut juga. dan pda akhir ny usha daehan membuahkan hasil.kkkk
    hemm seperti biasa ff mu selalu keren (y). fell ny jga dpt. good job deh pokok ny.
    d tnggu jga lnjutn ff lainnya y.🙂

  40. nita mengatakan:

    akhirny ff nie d lnjut jga. dan pda akhirny usha daehan membuahkn hsil jga. krn deh buat ending ny, feel ny jga dpt. akhirny haesso bisa slng mmbuka hati. d tnggu lnjutan ff lainnya. good job. (y)

  41. Pipip mengatakan:

    Waaaah puas bacanyaaa
    Wlwpn part ending critanya tdk trkesan terburu2 mau ending hihi
    Jalan crtanya kyk mengalir bgtu aja gak ada yg dipaksakan
    Suka dgn sifat donghae berkarisma tpi ttep bsa nunjukin sisi lainnya
    Pkoknya suka dgn critanya kak
    Dtnggu ff lainnya wkwk

  42. ammy5217 mengatakan:

    Happy ending…..suka bgt sm ceritanya tp menurut sy terlalu cepat habisnya hehe
    Sequel dong thor…pengan liat mereka menikah n jd keluarga hihi

  43. mryzulfah mengatakan:

    aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa seneng bgt sama endingnya,,

    moment sweet haesso nya dapet bgt,, bkin gereget,, blm lagi tingkah dae han,, suka bgt sama ff ini,, after story nya dong eonnir,, cerita pas mereka udah nikah gtu, seru bgy kayanya,,

    fighting for another story eonnie 😊

  44. safriyanti mengatakan:

    So sweet,,,,
    Ksah cnta yg ringan tp brkesan,,,
    Ska bnget ma ksah cnta haesso yg hngat gne,,,
    Slmat hae akhr,a mnmkn jg,,,

  45. AngelFish mengatakan:

    Kyaaaaaaaaaaa cerita kesayangankuu. Kakakku yang cantik pacar yesung kenapa dirimu begitu mengerti donghae dan soeun ini 😂😘😚 Dengan adanga daehan ditengah mereka membuat ini begitu berwarna yang akhirnya membuatku selalu terkejut dan tiba tiba ngakak nggak jelas gara gara celotehan si anak pintar direktur muda lee donghae . Dan pada part ini menurut ku thebest banget kata katanya daehan bikin ngakak semuaaa 😂🙌 apalagi yang bagian nyuruh soeun dandan mirip badut badut jepang haduuuuhhhh perfectlahh . Loveyouuukakakk ditunggu selallu yang berbau donghae nyaaaaahh 😘😘😘😘😪😆😚

  46. ama_kyu's koswara mengatakan:

    Ko cuma smpe di situ aja???
    gmn after marriednya ya thor???

    the best dh…..tp pnasaran

  47. Ayunie CLOUDsweetJEWEL mengatakan:

    Baru sempat baca sekarang, itu pun subuh-subuh. Kkk => Ending-nya bikin melting, ya ampun manis sekaliiii. Apalagi yang Cream Strawberry Kiss, oalaaaah… Yummy xD

  48. kimjongeun24 mengatakan:

    Hua… So sweet…

    Ak suka momen donghae sm so eun disini.

    Momen daehan & so eun jg…kkk

    Seru pokoknya… ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s