~ After A Long Sleep Part 3 ~


After A Long Sleep 3

Title       :               After A Long Sleep Part 3

Author  :               PrincessClouds/@helloputri228 (Putri Andina)

Genre   :               Fantasy, Romance, Comedy,

Rated    :               PG-15

Lenght  :               Chaptered

Main      :               Kim So Eun & Kim Jong Woon (Ye Sung)

Minor    :               Kim Ki Bum, Jessica Jung, Lee Sun Kyu, Kim Hyo Yeon, Amber Liu, Lee Eun Hyuk, Lee Dong Hae, Cho Kyu Hyun, Choi Si Won, Park Jung Soo, Kim Kangin, .

Warning:              Typo(s) – No Edit, OOC, Alur ngebut, deelel.

*

Kuda hitam itu berlari dengan cukup kencang, berjalan membelah hutan berantara di sekitarnya. Suara kikikan kuda itu terdengar, bersahutan dengan suara seruan sang penunggang yang memacu kuda itu untuk berlari makin kencang. Melesat, tak terhentikan.

Sementara itu dua orang yang menungganginya tampak menikmati ini semua. Ketika bagaimana tubuh keduanya belari bersama angin yang berhembus di sekitar mereka, atau bagaimana tubuh keduanya tergelonjak mengikuti hentakan kaki sang kuda. Senyuman terlihat di wajah keduanya. Senyuman kebahagiaan, senyuman kebebasan.

“Apa ini terlalu kencang?” Tanya Ye Sung, berbisik pada sang putri yang duduk di depannya ketika ia terus mengendalikan laju kuda yang mereka tunggangi. Ga Eul tampak tersenyum, menggeser wajahnya ke arah Ye Sung hingga sesaatia dapat menatap iris kelam milik Ye Sung lagi.

“Tidak, tuan. Aku menyukainya. Sangat menyukainya.”

“Benarkah? Baguslah kalau begitu.”

Kedua orang itu kembali melaju, menyongsong kebebasan yang selama mereka dapatkan dengan sembunyi-sembunyi seperti ini.

“Bahkan walau sekarang ia sudah resmi menjadi seorang Ace, Ye Sung tetap saja lebih senang menghabiskan waktunya di luar sana. Huh, apa yang memangnya diharapkan ayah dari pemberontak sepertinya?” Si Won bersuara, terlihat begitu dingin ketika ia menggumamkannya tanpa memberikan satu pandangan pun kepada lawan bicaranya. Tapi hal itu tidak terlihat janggal sama sekali, melihat bagaimana tak kalah dinginnya reaksi yang diberikan saudara-saudaranya.

“Benar, bukan? Dia selalu memberikan amanat kepada Lee Teuk lalu kemudian menghilang begitu saja. Dia benar-benar tak cocok dengan pekerjaan ini..” Ki Bum menyahut dari salah satu sudut. Terlihat sama tak acuhnya ketika ia malah menfokuskan dirinya melatih kemampuan telekinesisnya – menerbangkan vas bunga dengan ujung telunjuknya.

“Dong Hae, bukankah semalam kau menemuinya? Apa yang kalian bicarakan?” Eun Hyuk ikut bersuara, menoleh melirik saudaranya yang tampak tak melakukan apa-apa di sebuah bangku yang didudukinya.

“Apa memangnya yang kalian harapkan? Aku hanya mencoba berbasa-basi padanya namun sepertinya ia telah menganggap derajatnya lebih tinggi dari kita. Dia bahkan tak menoleh padaku.”

“Aku sama sekali tak kaget.”

“Aaah, aku sungguh tak tahan. Kita harus secepatnya menemukan cara untuk merebut mutiara Ace itu darinya.” Pangeran-Kyu Hyun tampak mengerang pelan dari tempatnya berdiri.

 

“Tapi aku baru menyadari bahwa ada Pangeran yang tidak ada. Bukankah sebelumnya Anda bilang bahwa ada tujuh Pangeran? Tapi sejauh ini hanya terlihat 6 Pangeran – termasuk Ye Sung.” So Eun memotong keseriusan ketiganya dalam menonton adegan tersebut, ketika sesuatu terlintas di fikirannya. Diliriknya Lee Teuk.

“Ryeo Wook tak ada..” namun bukannya yang ditanya, kini malah Ye Sung yang tiba-tiba bergumam. Hal itu membuat So Eun dan Lee Teuk menoleh sedikit heran padanya.

“Apa Anda sekarang sudah bisa mengingat semuanya, Pangeran?”

“Belum semua. Tapi sepertinya beberapa hal sudah mulai terlihat di fikiranku. Aku bisa mengingat saudara dan masa kecilku tapi aku belum mengingat kelanjutan cerita Putri-Lee Ga Eul walau sedikit.”

“Huh, sepertinya apa yang terjadi pada Anda sesuai dengan perkiraan saya. Anda bukannya melupakan ingatan itu hanya saja terlalu lama di peti membuat ingatan itu memudar. Anda hanya perlu sesuatu untuk memancing ingatan itu kembali.” Ujar Lee Teuk sambil menganggukkan kepalanya dengan yakin. Tak lama wajahnya kembali terlihat serius. “Ya, bisa dikatakan bahwa Pangeran-Ryeo Wook tidak ambil bagian dalam perperangan ini. Hal itu karena dibanding saudara Anda yang lain beliaulah yang paling dekat dengan Anda. Beliau berada di pihak Anda.”

“Benarkah? Lalu dimana dia kini? Apa dia ikut menungguku di sekitar So Eun?” Ye Sung terlihat cukup senang dengan khabar itu. Ia terlihat antusias.

“Sayangnya, beliau tewas tak lama setelah Anda menghilang.”

“A-Apa?” Senyuman Ye Sung itu langsung jatuh begitu saja, terlihat benar-benar terkejut. “Kenapa?”

“Sulit menjelaskannya. Lebih baik kita melihat lanjutan cerita dulu dan di saat yang tepat saya akan menjelaskannya.”

So Eun tampak melirik Ye Sung prihatin, ikut sedih ketika melihat ekspresi kecewa di wajah mahluk itu.

 

“Kufikir, aku memiliki sebuah rencana.” Ki Bum bergumam pelan dari tempatnya, kali ini berhasil membuat saudara-saudaranya itu melirik penasaran ke arahnya.

“Benarkah? Rencana apa?”

Ki Bum tak lantas menyahuti pertanyaan dari Dong Hae tersebut, ia tampak hanya menatap lurus ke depannya dengan senyuman licik di wajahnya.

“Sebuah rencana yang sangat hebat.”

Ketika sore mulai menjelang, Ye Sung mengantar Ga Eul kembali ke kamarnya di istana. Dan seperti biasanya, melarikan diri dengan Ye Sung adalah yang terbaik yang pernah dilakukan oleh sang putri mengingat ia tak perlu harus takut ketahuan seperti ini. Karena hanya dengan sebuah keajaiban, mereka dapat berpindah tempat dalam sekejap mata.

“Tadi benar-benar sangat menyenangkan. Sayang sekali hari ini kita harus kembali lebih cepat.” Ujar Ga Eul dengan ekspresi sedikit kecewa. Ye Sung tampak tersenyum mendengarnya.

“Tidak apa-apa, kita bisa kesana lagi besok ketika pagi menjelang. Lagipula kalau sampai tuan putri tidak menghadiri acara penting kerajaan itu semuanya malah lebih gawat. Nanti tuan putri malah dihukum lagi.”

“Benar.” Ga Eul tersenyum, lalu kembali melirik Ye Sung yang setia tersenyum padanya. “Tapi besok tuan akan menepati janji anda, bukan? Kau mengajarkanku menunggangi kuda.”

“Ya. Apapun yang membuat tuan putri senang.”

Keduanya kembali saling tersenyum, seakan waktu yang mereka habiskan tak pernah cukup untuk saling bersama. Seperti saat ini dimana saat untuk berpisah pun terasa terlalu sulit untuk dilakukan. Kata-kata seperti ‘Selamat tinggal’ ataupun ‘Sampai jumpa’ terasa sangat tabu diucapkan.

“Nanti malam, apakah tuan mau datang kembali?” Ga Eul membuka kebisuan, terlihat sedikit malu-malu mengatakannya. “Kita mungkin bisa melihat di tebing itu untuk beberapa saat.”

“Ya. Aku akan datang.”

Hening kembali, keduanya lagi-lagi hanya memberikan tatapan mendalam satu sama lain. Bagi Ga Eul hal ini mendebarkan dan sedikit memalukan, sementara bagi Ye Sung semua ini hanya sebatas menyenangkan dan membuatnya nyaman. Hingga ketika sang putri tiba-tiba mendekat, mengecup pipinya pelan, disanalah Ye Sung tak tahu bagaimana menamai perasaannya lagi. Ia hanya memberikan tatapan bingung pada sang putri yang mulai tak berani melihat wajahnya.

 

“Aish, itu memalukan..” So Eun merutuk kecil sambil menutupi matanya. Mungkin karena memang wajah mereka mirip atau memang karena alasan lainnya, setiap perbuatan sang putri memberi cukup banyak dampak pada dirinya. Sehingga itu sebabnya sekarang ia ikut merasakan panas di pipinya. “Apa-apaan dia, bagaimana mungkin seorang putri melakukannya tanpa basa-basi sama sekali. Dia harusnya melakukan tarik-ulur dulu..” bisiknya pada dirinya sendiri.

Sementara itu Ye Sung tidak terlalu mendengarkan So Eun karena ia sendiri seperti terbawa dengan apa yang ditampilkan di depannya ini – merasakan kembali sensasi yang pernah dirasakannya dulu. Lain lagi Lee Teuk yang senyum-senyum sendiri melihat bagaimana So Eun seperti mengomeli dirinya sendiri.

 

Mata keduanya bertemu kembali, dimana kali ini terasa sangat canggung. Sang putri yang kehabisan kata-kata, tak tahu harus berbuat apa, tampak langsung membalik badannya. Membelakangi sang Pangeran vampire yang masih menatapnya bingung sambil menyentuh pipinya.

“J-Jadi, s-sampai nanti malam, tuanku. A-Aku akan menunggu.” Ujar So Eun sambil masih membelakangi Ye Sung.

“O-Oh, ya. Sampai jumpa nanti malam.” Ye Sung menyahut cepat, masih ditengah kebingungannya ia akhirnya hanya memilih untuk menuruti setiap ucapan So Eun. Mahluk itu segera menghilang setelah mengucapkan salam.

Entah apa nama perasaan ini, Ye Sung bahkan belum tahu secara pasti. Yang pasti sesampainya ia di kamarnya sendiri vampire muda tersebut langsung menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur. Merasakan lemas di kakinya.

“Tuanku? Kalau tidak salah tadi dia memanggilku begitu bukan?” bisiknya pada dirinya sendiri sambil terkekeh.

Tadinya ia ingin merasakan sensasi itu lebih lama, rasanya ia bisa hidup lebih lama hanya dengan membayangkan kembali ketika sang putri mendekat padanya. Namun, ia tahu hal itu hanya sebatas rencana ketika matanya menangkap seseorang yang tadi berdiri di dekat pintu. Menatapnya dengan pandangan yang dingin.

“Akhirnya kau kembali juga. Aku hampir menjadi batu menunggumu di sini.”

“R-Ryeo Wook.”

Ye Sung duduk kembali, bergeser mendekati Ryeo Wook yang juga bergeser ke arahnya. Keduanya lalu bergabung di tempat duduk bertahta emas di ruangan tersebut.

“Sebagai seorang Ace, bukankah kau harusnya menghentikan kebiasaanmu meninggalkan istana begitu? Semua orang membicarakan tentang hal ini, kau seharusnya mulai bertindak seperti seorang Ace.”

“Huh, aku mau bilang apa. Bahkan walau kuceritakan padamu kau juga tidak akan mengerti bagaimana semuanya tak mudah bagiku.” Ye Sung menghela nafas berat, dihempaskannya tubuhnya di salah satu permukaan lembut di sana.

“Lalu apa semua orang harus menunggu untukmu? Kau tahu bukan alasan mengapa mereka tak mempercayai kedudukan ini untukmu? Karena mereka berfikir kalau kau tak lebih kuat dari mereka. Ketika kau mengeluhkan hal ini, bukankah itu seperti kau membenarkan anggapan itu?”

“Jadi apa maumu mendatangiku? Apa kau akan ikut meragukanku seperti mereka?” Ye Sung melirik pada Ryeo Wook, terlihat sedikit jengkel. Namun lagi-lagi Ryeo Wook masih bersikap dingin tanpa emosi padanya.

“Aku hanya memperingatkanmu. Karena walau kau tak menyukainya kau tak bisa berbuat semaumu begini.”

“Apakah seorang Ace harus selalu kaku seperti itu? Kufikir aku masih bisa menjaga keseimbangan klan kita dengan cara hidupku ini.”

“Apa kau tahu bahwa ada beberapa vampire yang ditemukan tewas pagi ini? Kuat dugaan, mereka dibunuh oleh vampire lainnya yang kemudian memakan organ tubuh korbannya.”

“Apa?” Ye Sung terlihat terkejut, terlihat agak tersedak mual.

“Kau tak tahu apapun, bukan? Bukankah sebagai seorang Ace itu adalah tugasmu untuk mengurus hal seperti itu?”

Ye Sung tampak kehabisan kata-kata, tak mengatakan apapun. Dititik ini ia tahu bahwa ia sepertinya telah melalaikan tugasnya akibat ingin menghabiskan waktu bersama Ga Eul. Tapi juga, ia tak tahu harus bagaimana sejak awal. Sejujurnya dalam hatinya pun ia masih berperang dengan dirinya sendiri antara ingin menjadi dirinya sendiri yang menyukai kebebasan atau sang Ace yang tinggal di istana mengawasi kehidupan kaumnya. Kedua hal itu bertolak belakang dan sesungguhnya ia kebingungan harus bagaimana – terlebih dengan adanya kehadiran Ga Eul yang ingin ditemuinya hampir setiap saat.

“Oleh sebab itu, aku ingin kau mulai mengambil sikap.” Ryeo Wook kembali bersuara, kali ini tampak bangkit kembali dan berniat meninggalkan tempat itu. Kembali ditatapnya Ye Sung dengan dingin dan tajam. “Kau tahu bukan, aku selalu berada di pihakmu. Karena itu jangan buat aku menyesalinya.”

Setelah ucapannya itu Ryeo Wook menghilang dari hadapannya, meninggalkan Ye Sung yang mendesah panjang dan kebingungan.

Setelah meninggalkan pesta kerajaan tadi, Ga Eul menolak menanggalkan dandanannya seperti yang biasa ia lakukan. Sang putri teringat kalau malam ini ia memiliki janji lain dengan sahabat terdekatnya sehingga ia berfikir untuk tampil sebaik-baiknya pada hari ini. Entah mengapa, hari ini ia ingin terlihat lebih cantik dari sebelum-sebelumnya di depan sang vampire.

Sang putri tampak terlihat bahagia walau hanya memikirkan hal ini ketika ia teringat kejadian tadi sebelum mereka berpisah. Dilarikannya jemari lentiknya, menyentuh dadanya ketika ia merasakan kembali debaran yang sama di sana. Sesuatu yang membuatnya tak sabar untuk menunggu sang vampire lebih lama lagi.

“Hari ini aku akan mengatakan bagaimana perasaanku padanya..” tekadnya pelan, terlihat kembali tersenyum sambil menengadahkan pandangannya ke langit. Melihat bagaimana bintang bertaburan dengan indahnya disana.

Tak lama, kegiatannya itu terhenti begitu mendengar samar sebuah suara kedatangan seseorang di belakangnya. Sang putri tersenyum, tampak begitu meyakinkan dirinya ketika ia berbalik – bersiap menyambut orang yang ditunggunya.

“Tuanku—“ ucapannya menggantung, gadis itu kali ini tampak terdiam menatap bingung seseorang yang ternyata bukanlah orang yang berada dalam fikirannya. Orang itu memberikan seringaian licik padanya.

Ye Sung memberikan tatapan dingin, tatapan tidak suka ketika untuk kesekian kalinya saudara-saudaranya itu kembali menemuinya. Saat ini mereka sedang berada di sebuah taman yang luas di belakang istana ketika sebelumnya mereka setuju untuk bertemu di sini. Mereka sepakat akan menyelesaikan perdebatan melelahkan itu di sini.

“Jadi kalian bilang, apa yang harus kulakukan untuk membuktikan diriku?” Ye Sung bertanya, melirik saudaranya itu satu persatu.

“Kami bilang ayo bertarung, kita buktikan lagi siapa yang terkuat di sini yang berhak mendapatkan mutiara itu.” Kyu Hyun menyahut.

“Kalian masih belum mengerti keadaannya, bukan? Dari awal mutiara ini diberikan oleh ayahanda kepadaku, aku tidak merebutnya dari sebuah pertarungan. Darimana kalian berfikir kalau kalian dapat memilikinya kalau kita bertarung?”

“Karena itulah yang terasa janggal dari awal. Kami tetap tak mengerti kenapa kau mendapatkannya begitu saja. Oleh sebab itu, bagaimana kalau kita bertarung saja agar semuanya lebih mudah? Kami rasa hanya beginilah caranya agar perdebatan ini berakhir,”

Ye Sung menatap Eun Hyuk karena baginya saran tersebut juga tidak terlalu buruk untuk dilakukan. Mungkin memang satu-satunya cara agar saudara-saudaranya berhenti menentangnya hanyalah dengan membuktikan kekuatannya. Dengan begitu setidaknya suara yang sumbang itu bisa dapat dihentikan.

“Baiklah, tapi aku menantang kalian semua untuk maju bersamaan.”

“Huh, kau yakin?” Dong Hae tersenyum sinis meragukan. “Walau kau adalah seorang Ace tapi kami tak yakin kekuatanmu bisa menandingi kami semua. Apalagi bagi Ace pemula sepertimu.”

“Jangan bilang kalau sekarang kalian malah takut?”

“Tentu saja tidak.Ini bahkan akan lebih menarik.”

Dan perang saudara yang terkenal itu dimulai. Saat ini Ye Sung tampak berusaha mengimbangi saudara-saudaranya yang menyerangnya di saat bersamaan. Ini tak mudah, namun juga tak sesulit yang difikirkannya. Hal itu sepertinya karena mutiara yang saat ini serasa hidup di dalam dirinya.

Tubuhnya terasa sangat ringan, ia sendiri bahkan tidak terlalu mempercayainya. Sehingga dengan gesit ia dapat mengelak dari serangan saudara-saudaranya yang biasanya sebagian dari mereka lebih hebat bertarung daripada dirinya.Sejujurnya ia menikmati ini, apalagi melihat betapa kesalnya ekspresi saudara-saudaranya itu saat ini. Namun…

‘T-Ttuan-kku… T-Ttolongg…’

Suara yang tak asing itu tiba-tiba saja terngiang di telinganya, terdengar cukup jelas bersama suara di sekitarnya. Hal itu benar-benar membuat Ye Sung kaget, reflek ia menghimpun tenaganya lebih sehingga membuat saudara-saudaranya terdorong cukup keras darinya.

“T-Ttuan-kku..”

Suara itu terdengar kembali, dimana kali ini membuat Ye Sung melayangkan pandangannya kembali pada saudara-saudaranya. Ia baru menyadari bahwa ada yang tidak di sini.

“Dimana Ki Bum?” tanyanya entah pada siapa. Karena entah kenapa hal itu langsung terlintas begitu di fikirannya ketika sebuah firasat menghinggapi dirinya – berharap bahwa hal itu tidaklah benar.

Seringaian yang sama lagi-lagi terlihat dari setiap wajah saudaranya. Hal yang membuat firasat itu memburuk. “Sebaiknya kau cepat, mungkin Ki Bum belum menghisap seluruh darahnya.” Ucapan Eun Hyuk membuatnya melebarkan matanya kaget. Sistem tubuhnya tiba-tiba memanas, menjalari seluruh tubuhnya ketika ia merasakan amarah besar melingkupi semuanya. Bahkan kini ia dapat merasakan bagaimana sebuah cahaya putih yang terkenal itu bersinar dari dalam dirinya – menembus dada bahkan jubah yang ia kenakan.

“Kalian…” bahkan walaupun ia sangat geram, ia tak tahu apa yang harus ia katakan. Namun ia tahu apa yang harus ia lakukan. “AARGGHHH!!”

Sebuah angin yang sangat kencang tiba-tiba datang bersama erangan marah sang Ace – berhasil membuat tubuh saudaranya terdorong cukup kuat hingga terhempas ke tanah. Semua orang terbatuk, berusaha menahan sakit dari kuatnya imbas kekuatan dahsyat barusan. Namun ketika angin dan debu itu mereda,Ye Sung sudah tidak lagi berada di sana.Hilang tanpa jejak.

“Aaa…”

Ga Eul membuka mulutnya selebar-lebarnya, berusaha mengeluarkan suara namun ia sama sekali tidak merasakan kekuatannya lagi. Tubuhnya, kakinya, bahkan semuanya terasa sangat lemas, nyaris seperti mati rasa seakan semuanya ikut terhisap bersama seluruh darah di dalam tubuhnya. Ikut serta bersama nyawanya.

Ga Eul pun tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Seingatnya tadi ia memiliki janji untuk bertemu dengan Ye Sung, namun yang datang adalah sesosok mahluk asing yang sekilas mirip dengan vampire kenalannya itu. Sosok asing ini lalu membawanya kemari, bukan ke sebuah tempat yang indah seperti yang sering Ye Sung lakukan namun di sebuah hutan yang sangat lebat. Sangat menyeramkan.

Lalu seakan merasa tak cukup, mahluk ini lalu mendorongnya kasar ke arah sebuah pohon dan tanpa kata ia tiba-tiba menggigit leher Ga Eul. Mengonyak tanpa perasaan lalu kemudian mulai menghisap darahnya tanpa rasa kasihan. Ga Eul pun juga tak mampu melakukan apapun selain berharap aka nada yang menyelamatkannya.

“T-Tuanku, t-ttolong aku..” kembali ia meneriakkannya dalam hatinya walau rasanya hal itu sedikit mustahil. Namun Ga Eul juga tidak mengerti kenapa Ye Sung-lah yang pertama kali terlintas di fikirannya saat ini. Mahluk itulah yang paling ia harapkan untuk menyelamatkannya dari mimpi terburuk dalam hidupnya ini.

Tapi mungkinkah ia akan datang? Ini sudah beberapa saat setelah sang putri digigit dan memanggil nama Ye Sung, namun mahluk tak terlihat akan datang sama sekali. Bahkan ketika ia mulai tak kuat seperti ini, saat ia mulai merasa kesadarannya semakin menghilang begini, saat ia merasa ajalnya sudah dekat begini mahluk itu tak kunjung datang. Hal itu sendiri membuatnya semakin ketakutan dan kehilangan harapan yang mungkin adalah permintaan terakhir dalam hidupnya ini.

 

“Hhhh…” So Eun menutup mulutnya, terlihat benar-benar tak kuasa melihat apa yang ada di depan matanya saat ini. Namun tiba-tiba sebuah tangan menghinggapi bahunya, meremasnya dengan cukup kuat. Ketika dilihatnya disadarinya Ye Sung tampak lebih shock daripada dirinya. Nafasnya tersengal cukup kencang dan ia menutup rapat matanya.

“Aku ingat ini. Aku..” Ye Sung bahkan tak mampu melanjutkan ucapannya ketika ia memejamkan matanya semakin erat. Sementara itu Lee Teuk tampak beralih ke sisinya yang lain, berusaha menenangkannya.

 

“T-Ttuanku..”

Namun tiba-tiba, ketika ia mulai benar-benar tak kuasa walau hanya berfikir lagi, sesuatu yang dahsyat menghampirinya. Hal yang Ga Eul ingat setelahnya adalah bagaimana kerasnya tubuhnya terhempas ke tanah ketika mahluk yang mengungkungnya tadi ditarik dengan paksa darinya. Diseret kasar menuju sebuah pohon besar beberapa meter dari tubuhnya.

“Ahhh..” Ki Bum mengerang, merasakan kuatnya cengkraman tangan Ye Sung di lehernya. Membuat tegukan terakhir dari darah Ga Eul keluar kembali dari mulutnya, melumeri hingga lengan jubah milik Ye Sung.

“Kau…”

Ye Sung terlihat benar-benar marah, ekspresinya menunjukkan bahwa ia mungkin bisa membunuh Ki Bum saat itu juga. Namun seketika juga, ia teringat sesuatu. Ia melirik Ga Eul yang merintih lemah di tanah beberapa meter dari mereka.Darah segar terlihat mengucuri hanbok sutera yang dikenakannya.

“Kau sedikit terlambat.” Perhatiannya kembali pada Ki Bum ketika saudaranya itu terkekeh tanpa rasa bersalah. Hal itu tentu saja membuat Ye Sung semakin marah sehingga memperkuat cengkramannya.Ki Bum mengerang lagi, walau tetap saja seringaian menyebalkan itu masih tetap berada di bibir merah miliknya.

“Kau… tunggu saja. Kau pasti akan kubunuh.” Gumam Ye Sung dengan sangat tajam, terlihat tak bermain-main. Namun tak lama lebih cepat dari angin ia melepaskan belitannya di leher Ki Bum. Dengan kecepatan yang sama ia kemudian memungut Ga Eul di tanah dan menghilang tak berjejak dari sana.

Sementara itu dengan sedikit susah Ki Bum tampak mengumpulkan kekuatannya untuk bangkit. Ia mendudukkan tubuhnya yang cukup lelah dan bersandar pada pohon yang tadi ketika seringaian kejam itu kembali terlihat di bibirnya. Mahluk itu lalu bergumam,

“Untuk menghancurkan sebuah bangunan maka mulailah dengan pilarnya. Seperti ayahanda dulu.”

Mereka kembali ke atas bukit yang biasa mereka kunjungi. Terlihat kacau, melihat bagaimana Ga Eul terbaring sangat lemah di dalam dekapan Ye Sung. Sementara itu Ye Sung seperti tidak tahu harus berbuat apa, dia terlalu panik.

“T-Tunggu. A-Aku akan mengobatimu. A-Aku pasti bisa. A-Aku..” Tangan Ye Sung gemetaran, dimana terlihat semakin kencang begitu menyadari bagaimana telapak tangannya itu kini telah bersimbah darah. Hal itu diperparah dengan rintihan kesakitan yang terus Ga Eul keluarkan sehingga membuat ia semakin sulit mengendalikan dirinya. Ia panik, kebingungan, dan ketakutan. “T-Tuan putri, a-aku..”

Apa yang harus ia lakukan? Menghentikan darahnya? Ya, benar. Tapi darah Ga Eul terkuras sangat banyak. Dia harus melakukan sesuatu untuk mengisinya kembali. Tapi bagaimana caranya? Dan… kenapa darah Ga Eul tercium wangi sekali? Sangat wangi sehingga membuatnya ingin… membuatnya ingin…

“Aaargh..” Ye Sung kesal, merasa sangat bodoh dan tak berguna sehingga ia melepaskan sebuah bola api dari tangannya sehingga menyebabkan sebuah pohon yang berada beberapa meter dari mereka roboh karena luapan amarah yang dikeluarkannya. Tapi Ye Sung masih ingin mencoba, ia harus melakukan sesuatu, ia tak bisa membiarkan ini begitu saja karena bisa-bisa… bisa-bisa.. tidak.

“A-aku bisa. Aku bisa.” Ye Sung terus menggumamkan ucapan itu sambil kini memberanikan diri menyentuh lembut luka di leher Ga Eul. Sebuah cahaya putih keluar dari sana, berwarna senada dengan cahaya putih yang dari tadi selalu bersinar dari dadanya. Namun tak lama cahaya itu menghilang kembali ketika sentuhannya malah seperti membuat Ga Eul merintih lebih kuat, membuat ia kian kesakitan. Ye Sung benar-benar seperti buntu. “M-Maaf.. a-akan kucoba lagi. A-Aku..”

Di tengah gejolak di dalam dirinya tiba-tiba Ga Eul meraih tangannya yang terus bergerak tak tentu karena panik. Tangannya itu lalu digenggam sangat erat. “A-Aku.. j-juga tak i-ingin.. hidup lebih lama, tuanku..” ucap Ga Eul dengan payah. Gadis itu tampak berusaha tersenyum, walau air matanya juga mengaliri pipinya di saat bersamaan.

“Jangan berbohong. Aku tahu apa yang tuan putri fikirkan. Tuan putri tenang saja karena aku akan—“

“Aku menyukaimu, t-ttuanku..”

Segala gerakan penuh kegelisahan Ye Sung terhenti, ia menatap Ga Eul seperti kehabisan kata-kata. Air mata kembali menuruni pipinya – meretasi jejak basah yang sebelumnya.

“S-Sebenarnya tadi a-aku ingin mengatakannya padamu. T-Tapi…”

“M-Maafkan keterlambatanku. Kalau saja tadi aku aku lebih cepat maka pasti… pasti..” Ye Sung tak sanggup melanjutkan ucapannya. Ia menangis lebih kencang, terlihat sangat menyesali semuanya. “Sungguh, maafkan aku…”

So Eun menggelengkan kepalanya, masih dengan senyuman yang sangat “Ini bukan salahmu, tuanku. Justru, t-terima kasih karena telah datang—“ Ga Eul memejamkan matanya, meremas tangan Ye Sung lebih kuat ketika rasa sakit itu kembali menyerangnya. Helaan nafasnya terdengar lebih kasar- terdengar kian tersendat.”T-Terima kasih.. karena telah m-menyela-matkan-ku..”

Ye Sung menggelengkan kepalanya, kembali berusaha memutar otak untuk melakukan sesuatu. Namun masih saja, ia tak tahu harus bagaimana. Dia begitu putus asa. “T-Tuan putri, a-aku tak tahu. A-Aku harus bagaimana? A-Apa yang harus kulakukan?..” tanyanya menangis menyedihkan.

Ga Eul kali ini tak menyahutinya, matanya tampak masih tertutup dengan rapatnya. Ye Sung terlihat lebih resah, digoyangkannya pelan tubuh itu. “T-Tuan putri?” panggilnya begitu gelisah. Namun lagi-lagi Ga Eul tak memberi reaksi. “Tuan putri??!”

Hening yang bagi Ye Sung terasa mencekam. Sang vampire lebih merengkuh tubuh itu, memeluknya erat sambil memberikan kehangatan. Sepanjang itu ia juga terus memanggil nama sang putri, walaupun tetap ia tak mendapatkan reaksi.

“S-Selamat.. t-tinggal..t-tuan-ku..” tanpa membuka mata, Ga Eul tiba-tiba menggumamkan kalimat itu. Membuat Ye Sung membeku,melebarkan matanya panik. Apalagi ketika merasakan jemari yang berada di dalam genggamannya perlahan mengendur, sebelum akhirnya terlepas begitu saja. Terhempas begitu saja seperti tanpa kehidupan.

“T-Tidak. T-Tuan putri?” Ye Sung kalang kabut, diguncangnya pelan bahu Ga Eul untuk mendapatkan reaksi. Namun tidak, tetap saja ia hanya mendapatkan kebisuan dari sosok di dalam pelukannya itu. Tangis kepiluan itu menghiasi malam yang nestapa.

 

Ye Sung menggeleng kuat, memejamkan mata sambil menutup kedua telinganya. Sementara itu So Eun yang sejak tadi tak sanggup menahan air matanya tampak tak juga dapat melakukan apapun. Ia hanya bisa membekap erat mulutnya.

 

Entah bagaimana hujan tiba-tiba saja ikut berjatuhan dari langit malam yang awalnya cerah. Air-air itu tampak menyirami seluruh hal di bawahnya, termasuk dua tubuh yang malam ini terlihat lebih berduka dari langit yang menangis. Suara hujan terdengar begitu bersahaja dengan keheningan, begitu bersahaja dengan tangisan Ye Sung yang teredam pelan. Tapi hujan masih ingin memeluk keduanya, ketika bagaimana ia membasuh darah ataupun tanah yang mengotori keduanya.

Setelah sedikit menguatkan diri, Ye Sung mengangkat wajahnya dari bahu Ga Eul dimana tadi ia membenamkannya. Ditatapnya wajah Ga Eul yang terlihat lelap dengan begitu damai, menyentuh wajah pucat bersih itu dengan jemarinya. Lagi-lagi rasa lelah menyinggahi seluruh jiwa dan raganya, membuatnya sekilas teringat kembali kata-kata ayahandanya dulu.

“Jadi ayahanda, inikah yang ayahanda rasakan dulu? Semenderita ini jugakah ayahanda dulu..” bisiknya pelan, mengusap pelan pipi Ga Eul dengan ujung jempolnya. Ye Sung merunduk, kembali menangis ketika ia mencium pelan kening Ga Eul. Mengecupnya pelan dan penuh perasaan. “Ayahanda benar, ini menyakitkan sekali..”

Kecupan Ye Sung secara perlahan bergerak menuruni wajah Ga Eul – menyentuh kedua matanya, hidungnya, dan berakhir di bibirnya. Ye Sung menghela nafas panjang, memejamkan matanya erat ketika bibirnya terus menyentuh bibir Ye Sung lembut. Untuk sesaat kembali membiarkan hujan mengambil keheningan.

Setelah beberapa saat, mata sang Ace terbuka. Dimana pandangan penuh duka tadi tiba-tiba berubah. Terlihat dingin, terlihat penuh kemarahan dan dendam. “Dasar serakah.” Ucapnya pelan, terdengar datar namun tajam. Ditatapnya kembali wajah Ga Eul, menatapnya dengan dalam. “Tuan putri, di depanmu aku bersumpah bahwa mereka akan membayar semua ini. Aku bersumpah bahwa kematianmu tidak akan menjadi sia-sia seperti harapan mereka. Aku bersumpah bahwa mereka tidak akan bisa mendapatkan keinginan mereka tanpa dirimu.”

Ye Sung memejamkan matanya, terlihat berkonsentrasi sambil menggerakkan bibirnya menggumamkan sesuatu. Tubuh Ye Sung berguncang sangat hebat, dimana tak lama cahaya putih yang tadi kembali muncul dari balik jubah dan dadanya. Membuat sebuah cahaya yang begitu terang benderang menerangi tempat yang sunyi itu.

Tak lama Ye Sung mengerang, seperti menahan kesakitan ketika salah satu tangannya bergerak menyentuh dadanya tadi. Menggenggam jubahnya erat ketika guncangan tubuhnya semakin kuat dan cahaya itu juga semakin terang. Perlahan-lahan rambut hitamnya juga memudar , berubah warna menjadi warna perak bersamaan dengan munculnya sesuatu yang tiba-tiba sudah berada di genggamannya tadi. Menunjukkan setengah bagian dari mutiara Ace yang mana bagian lainnya masih berada di dalam tubuhnya.

“Setengah bagian dari mutiara ini… aku titipkan padamu, tuan putri. Aku akan mengambilnya kembali di kehidupanmu yang selanjutnya..” ujar Ye Sung pelan. Vampire itu kemudian mendekatkan mutiara itu ke dekat dada Ga Eul, memasukkan mutiara itu ke dalam tubuh sang putri. Sinar putih ditangannya itupun perlahan sirna bersama mutiara di tangannya. Menghilang bersamaan cahaya putih di dadanya.

Ye Sung merengkuh Ga Eul kembali lebih dekat padanya, memeluknya erat. Ye Sung mengecup pelan rambut Ga Eul ketika ia kembali berbisik, “Tidak peduli apakah untuk ratusan ataupun ribuan tahun lagi, tapi aku akan menunggumu di kehidupanmu yang selanjutnya. Hingga saat itu tiba maka tidak ada dari vampire manapun yang bisa memiliki mutiara ini, tidak bahkan bagi saudara-saudaraku yang telah membuatmu begini. Mereka akan menunggu bersamaku, dan hingga saat itu datang aku juga akan kembali berada di sisimu. Pada saat itu aku akan melindungimu lagi, di saat itu aku tidak akan terlambat lagi, di saat itu akan kupastikan bahwa mereka akan membayar perbuatan mereka ini. Jadi untuk sekarang tidurlah dengan tenang, tuan putriku..”

Air mata kembali meleleh di pipi sang vampire, dimana tak lama air mata itu menetes ke wajah halus Ga Eul. Tepat ketika air matanya itu menyentuh wajah Ga Eul, di saat bersamaan juga tubuh sang putri berubah warna menjadi kelabu seperti warna patung. Tak lama tubuh itupun mengurai secara perlahan, berterbangan seperti pasir yang kemudian hilang di udara. Hilang di antara tetesan hujan.

Ye Sung menghela nafas berat, menengadahkan wajahnya ketika petir mulai bersambaran di angkasa. Ye Sung tersenyum kecil, sebelum akhirnya menghilang dari tempat itu. Menghilang dari pandangan seluruh dunia.

 

“Anda menghilang tanpa jejak. Tapi malam itu, anda tiba-tiba datang menyampaikan amanat kepada setiap vampire melalui naluri dan intuisi. Di sana anda menyampaikan semuanya; tentang mutiara Ace, tentang sang putri dan reinkarnasinya, serta tentang tidur panjang anda. Sejak itulah semua vampire menunggu hari bangkitnya anda kembali.” Ujar Lee Teuk menengahi suasana haru di antara mereka. Ye Sung tampak tak mengatakan reaksi apapun, terlihat masih terlarut dalam emosi dan kenangannya. Sementara itu So Eun tampak masih terbawa oleh cerita yang baru saja dilihatnya – gadis itu menangis dan membekap mulutnya.

“Setelah kepergian pemimpin mereka kehidupan para vampire menjadi kacau. Keributan terjadi dimana-mana, para vampire saling membunuh dan menjadi tak terkendali. Kekacauan juga terjadi istana ketika para pangeran mengusir semua pendukung anda untuk keluar dari istana, termasuk saya. Sementara itu Pangeran Ryeo Wook yang juga masih berpihak pada anda menolak untuk pergi, yang pada akhirnya beliau tewas karena pertarungan dengan para Pangeran lainnya.” Tambah Lee Teuk menerangkan. Ia kemudian melirik sang Pangeran, dimana Ye Sung tampak masih tertunduk dan memikirkan sesuatu.

“Aku sudah ingat semuanya. ” gumam Ye Sung pelan. Ia tampak mendesah sambil tertawa miris. “Aku sangat ingat isi sumpahku tentang bagaimana aku akan mendatangi kembali reinkarnasi sang putri tepat ketika ia berumur sama dengan kematiannya waktu itu. Aku juga ingat bagaimana aku mengurung diriku sendiri di sebuah peti, di sebuah kastil kasat mata di sebuah negeri yang kini disebut sebagai Negara Slovenia.”

“Jadi mungkin ketika nona-So Eun bermimpi mendatangi anda maka itu saatnya beliau berumur sama secara tahun, hari, jam, bahkan menit dan detik dengan mendiang sang putri. Setidaknya itulah yang anda sampaikan di dalam pesan terakhir yang anda tinggalkan.”

“Ya, memang itulah yang terjadi. “ gumam Ye Sung pelan. Vampire itu kemudian mengangkat kepalanya, menengadah menatap langit malam di kehidupan masa lampaunya itu untuk terakhir kalinya. “Haaah, ternyata ini sudah selama itu? Tapi kenapa semuanya terekam dalam fikiranku seperti semua itu baru terjadi kemaren.” Gumamnya pelan, memejamkan matanya pelan seperti meresapi sesuatu.

Sementara itu So Eun yang berada di sampingnya tampak tak dapat melakukan apapun. Ia hanya terdiam sambil melirik Ye Sung.

*After_A_Long_Sleep_Part_3*

So Eun menggigit bibir bawahnya, menghentikan kegiatannya ketika sesuatu terlintas di dalam fikirannya. Gadis itu mendesah, memutuskan menutup laptopnya dan tugas kuliahnya tersebut. Ia kemudian berjalan pelan ke arah pintu dan diam-diam mengintip ke ruang tengah.

Benar, masih di sana, masih seperti tadi. So Eun mencatat bahwa vampire menyebalkan itu jadi berubah setelah perjalanan singkat mereka ke masa lalu tadi. Mahluk itu sepertinya sangat sedih dan terpukul dengan masa lalunya sehingga itu sebabnya ia terus terlihat muram. Lihat saja bagaimana ia bertahan di posisinya itu dalam beberapa jam ini. Ia terus di sana dengan ekspresi murung itu di wajahnya yang sejujurnya mulai membuat So Eun khawatir.

“Tunggu, kenapa aku harus khawatir?” bisiknya pada dirinya sendiri, namun tak lama ia memukul pelan bibirnya, baru ingat kalau mungkin saja mahluk itu mendengar gumamannya. So Eun melayangkan pandangannya kembali pada Ye Sung untuk memastikan, namun mahluk itu tetap saja tak bereaksi seperti ia tak mendengar So Eun sama sekali. Mungkin juga ia tak peduli. “Huuuh, sepertinya dia memang sedih sekali.” So Eun bergumam menyerah. Perlahan, dengan sedikit memberanikan diri, gadis itu beranjak mendekati sang vampire.

So Eun berdehem, bergeser mendekati Ye Sung di sofa. Namun lagi-lagi mahluk itu tak bergeming dari posisinya sama sekali. “H-Hey, kau baik-baik saja?” So Eun akhirnya bertanya pelan, terdengar sangat canggung.

Tak seperti dugaannya, ternyata mahluk itu bisa dapat mendengarnya. Ia menoleh pada So Eun, tersenyum kecil. “Akhirnya kau bertanya juga. Daritadi kau terus bisik-bisik di sana dan bertanya sendiri. Kufikir kau tak peduli..” sindirnya. So Eun mendengus kesal.

“Issh, ternyata sedang sedih atau tidak kau itu tetap saja menyebalkan. Aku menyesal bertanya lebih baik aku tidur-“

“Tentu saja aku tak baik-baik saja. Kaukan juga punya perasaan, seharusnya kau lebih tahu.” So Eun menahan niatnya untuk kembali ke kamarnya ketika mendengar pengakuan itu. Ia kembali duduk di tempatnya, melirik Ye Sung prihatin. “Kau tahu apa yang paling kufikirkan sejak tadi?” Ye Sung kembali bersuara, membuat So Eun semakin penasaran.

“Apa?”

“Setelah kulihat tadi aku baru menyadari bahwa hari itu aku tak sempat membalas ucapan cintanya. Saat dia kesakitan begitu, dengan susah payah dia mengatakannya padaku. Tapi karena aku terlalu panik pada saat itu aku tak sempat membalasnya. Mengatakan kalau aku juga mencintainya..”

So Eun menggenggam erat salah satu jemarinya, merasakan sensasi aneh yang tiba-tiba saja menjalari perasaannya. So Eun tak tahu mengapa namun ucapan itu membuat darahnya mendesir – seakan Ye Sung mengatakan hal itu padanya.

Kenapa begini?

“Ye Sung, bolehkah aku menanyakan sesuatu?” So Eun melirik Ye Sung lagi, dimana mahluk itu juga mengangkat wajahnya lagi menatap gadis itu. “Apakah yang kalian maksud dengan kehidupan kedua? Apakah aku hanya mirip dengan kekasihmu atau… aku memang dirinya yang terlahir kembali di jaman yang berbeda?”

“Menurutmu?”

So Eun tak lantas menjawab, tampak kebingungan dengan jawabannya. Sekarang kalau difikir kembali ketika tadi mereka melihat masa lalu Ye Sung sesungguhnya ia seperti mengalami dejavu. Setiap kenangan itu tak teringat namun ia seperti pernah mengalaminya. Ia pun merasa seperti ia terhubung dengan semua itu. Dan lagi, mengenai mutiara itu yang tahu-tahu sudah di dalam tubuhnya sekarang. Bukankah itu seperti memastikan bahwa ia dan sang putri memang merupakan satu orang yang sama.

“Mungkinkah…” So Eun menggantung ucapannya, terlihat tak yakin mengutarakannya. Lebih diliriknya lagi Ye Sung untuk memastikan sesuatu yang terlintas di fikirannya saat ini. Ye Sung tampak tersenyum kecil padanya.

“Mau kutunjukkan sesuatu?”

Bukan Ye Sung namanya kalau mahluk ini tidak seenaknya. Sehingga itu sebabnya So Eun bahkan tak sempat protes ketika Ye Sung tiba-tiba mendekat, sedikit mengagetkannya yang bahkan belum sempat bereaksi ketika vampire itu menyingkap roknya begini.

“Kau memiliki tanda lahir yang sama dengannya.”

So Eun terdiam, bukan hanya karena ucapan Ye Sung namun ketika tiba-tiba sebuah dejavu kembali ke dalam fikirannya. Ingatan yang dilihatnya tadi, saat yang di atas bukit ketika Ye Sung menyingkap rok sang putri seperti ini, ingatan itu tiba-tiba terlintas difikirannya dari sudut pandang sang putri beberapa menit yang lalu. Hal ini benar-benar membuatnya terpana.

“Y-Yah, kau tak sopan.” So Eun menyingkirkan tangan Ye Sung dan membuang wajahnya. Bukannya karena saat ini ia merasa kesal pada Ye Sung namun lebih karena ia bingung dengan apa yang melintasi fikirannya saat ini. So Eun merasa belum meyakini apa yang saat ini difikirkannya. “Ini tak mungkin. A-Aku tak mengerti.

“Dari awal semuanya memang sulit dimengerti.”

So Eun kembali tak menyahut, kembali diliriknya wajah Ye Sung secara lebih lekat. Seperti mengerti, Ye Sung pun juga tak mengatakan apapun. Ia hanya diam sambil balas menatap So Eun yang seperti mengamati wajahnya. Keheningan yang tak biasa tercipta disana.

Entahlah, bagaimana mejelaskannya namun So Eun menyadari ada sesuatu yang aneh dalam dirinya ketika menatap Ye Sung. Kemaren rasanya tak begini, tapi tiba-tiba hari ini sesuatu itu muncul dan menjalari seluruh sudut relung jiwanya. Yang So Eun tak fahami apakah ini adalah bentuk simpati pribadinya pada mahluk itu atau memang… itu perasaan yang dimiliki oleh orang lain yang tumbuh di hatinya untuk mahluk itu.

Gerakan pelan Ye Sung yang semakin mendekatinya sedikit mangagetkannya, namun So Eun tak mengatakan apapun. Begitupun ketika salah satu tangan Ye Sung meraih pergelangan tangannya, membawanya untuk menyentuh kulit wajah mahluk itu yang terasa dingin. “Mungkin dengan menyentuh wajahku kau bisa mendapatkan jawabannya..” Ye Sung berbisik dengan sangat rendah.

Mengikuti nalurinya, So Eun melakukan saran Ye Sung. Ia membiarkan jemarinya menyetuh perlahan kulit wajah Ye Sung ketika matanya juga terus menyelami mata Ye Sung – berusaha mencari jawaban di sana.

Sesuatu mulai menggebu di dalam fikirannya. Sesuatu yang… tidak asing. Ia menyadari bagaimana suasana menjadi kian janggal karenanya. Begitupun Ye Sung, ia juga menyadari bahwa tatapan mahluk itu juga sedikit berubah terhadapnya. MungkinYe Sung juga mulai terbawa suasana seperti dirinya.

“Aku tak mengerti. Aku benar-benar tak mengerti. Padahal sebelumnya biasa-biasa saja tapi kenapa sekarang rasanya sangat aneh? Kenapa kini melihatmu begini… dadaku menjadi sakit? Rasanya aku ingin menangis.” So Eun bergumam, terus menyentuh wajah Ye Sung seakan mencoba mengamatinya lebih dalam.

“Kau ingin aku yang menjawabnya atau kau ingin mengatakannya sendiri?”

“J-Jadi, itu memang benar? A-Aku ini adalah Putri-Lee Ga Eul?”

Ye Sung tersenyum halus, menangkap jemari So Eun yang menyentuh wajahnya. Digenggamnya erat tangan itu ketika iris kelamnya lebih mendalami cokelat karamel milik So Eun. “Aku tak ingin membuatmu kecewa, tapi aku juga tak ingin membuatmu terus bertanya-tanya maka aku akan menjawabnya.” Genggaman tangan Ye Sung di tangannya semakin erat lalu Ye Sung mengecup pelan jemarinya itu. “Jawabannya adalah iya. Kau adalah dia.”

So Eun terdiam, ia juga langsung menarik tangannya dari genggaman Ye Sung. Sebuah raut tidak yakin terlihat di wajahnya seakan ia terganggu dengan hal tersebut. Ye Sung tersenyum maklum, kembali beringsut ke belakang dari So Eun.

“Kalau kau tidak menyukainya juga kau tak harus melakukannya. Karena tak peduli kau itu Lee Ga Eul ataupun Kim So Eun kau tetaplah dirimu. Aku akan melindungimu.”

“Bukan, sejujurnya walau aku tak ingat apapun tapi naluriku juga meyakini kalau aku adalah dirinya hanya saja aku tak mengerti kenapa aku tak ingat apapun.” So Eun menggumam, kembali melirik Ye Sung yang menatapnya dengan ekspresi bertanya. “Seharusnya kalau memang aku adalah Sang Putri, maka saat ini aku juga seharusnya mengingat semuanya kembali. Setidaknya selain rasa yakin dalam diriku ini aku juga harus memiliki hal lainnya seperti kenangan ataupun perasaannya terhadpmu. Tapi nyatanya aku hanya merasakan getaran yang membingungkan tanpa tahu penyebabnya.”

Ye Sung tersenyum kecil lagi, terlihat miris. Balas ditatapnya So Eun. “Apa itu penting?”

“T-Tentu saja, tidakkah kau ingin bertemu dengan dirinya lagi dan mengobati luka di hatimu saat ini? Aku tahu kau merindukannya dan walaupun aku adalah dirinya namun nyatanya aku yang sekarang bukanlah dia.”

Ye Sung kembali mengagetkannya ketika kini jemarinya tampak bergerak menuju wajah So Eun, beralih menuju salah satu sisi leher gadis itu. Ia menyingkirkan helaian rambut yang menutupi bagian itu ketika jemarinya mengusap lembut disana. Hal yang membuat syaraf tubuh So Eun seperti tersengat tiba-tiba. “Bagiku itu tak terlalu penting. Yang penting bagiku sekarang kau sudah baik-baik saja. Kau tahu, waktu itu rasanya aku ingin mati melihat bagaimana bagian ini terluka. Kau tak tahu bagaimana itu juga menyakitiku hingga aku tak mampu berkata-kata.”

Ekspresi Ye Sung kembali terlihat muram, ia terlihat kembali bersedih seperti tadi. Ketika So Eun menatap kembali matanya ia menemukan bagaimana mata itu sedikit basah, menatap telak menuju iris So Eun dengan keyakinan yang lebih besar dari sebelumnya. “Oleh sebab itu lain kali, aku tak akan membiarkan hal itu terjadi lagi. Bagian ini ataupun bagian lain di tubuhmu, aku berjanji bahwa aku tak akan membiarkan ada yang terluka lagi. Bagiku hanya hal itulah yang paling penting saat ini.”

Kembali So Eun terpana dan merasakan gejolak asing itu dalam dirinya.Dimana perasaan itu terasa lebih menggebu dalam dirinya seakan ia akan meledak. Sebuah perasaan yang panas tiba-tiba menjalari hatinya sebelum kemudian merasakan seperti ada sesuatu disana. Sesuatu yang hangat dan bersinar seperti yang saat ini tiba-tiba saja muncul dari balik pakaian Ye Sung. “Y-Ye Sung… m-mutiaranya..” So Eun sedikit panik sambil memeriksa dirinya sendiri. Matanya melebar melihat bagaimana sesuatu yang sulit dipercaya terjadi pada dirinya.

“Mulai sekarang ketika jantungmu berdetak untukku dia akan terus selalu bersinar. Baik itu perasaan khawatir, marah, takut kehilangan, atau bahkan kagum maka dia akan bersinar. Hal yang sama juga terjadi padaku.”

So Eun terdiam, merasakan bagaimana wajahnya memanas tiba-tiba karenanya. Ia baru akan memberanikan diri untuk bertanya mengapa jantung Ye Sung berdetak untuknya, namun hal itu terhenti ketika suara yang dahsyat mengagetkannya. Membuat dia ataupun Ye Sung sama-sama tersentak kaget.

Untuk kesekian kalinya So Eun harus melihat hal yang menakutkan ini ketika tiba-tiba belasan atau mungkin puluhan tamu tak diundang itu memaksa masuk ke apartemennya. Ia juga kembali merasakan ketakutan yang sama ketika harus melihat bagaimana mahluk-mahluk menyeramkan itu kembali berkumpul di hadapannya. Mereka masuk setelah merusak seluruh jendela, pintu apartemennya dan bahkan seluruh dinding di sekitar mereka. Dan melihat bagaimana senyapnya saat ini ia yakin bahwa mereka telah membuat waktu kembali berhenti.

“Maaf, untuk masuk begitu saja So Eun. Ini karena kami tak yakin kau akan membukakan pintu ketika kami datang dengan baik-baik.” Salah satu dari mereka tiba-tiba bersuara sambil bergeser menuju barisan paling depan di hadapan Ye Sung dan So Eun. Dimana bersamanya terlihat beberapa mahluk yang tak kalah menawan lainnya. Sementara vampire lainnya tampak seperti sukarela memberikan jalan untuk kelimanya, mereka minggir dengan begitu saja seakan sangat patuh pada kelima vampire menawan yang tak lain adalah saudara-saudara Ye Sung tersebut. “Apalagi setelah kini kau kembali bertemu dengan cinta pertamamu.” sambung Pangeran-Kyu Hyun menyelesaikan ucapannya tadi. Senyuman tipis terlihat di wajahnya.

“Kalian..” desis Ye Sung dingin. So Eun dapat merasakan bagaimana kini Ye Sung menggenggam tangannya lebih erat, berusaha menenangkannya dari kenyataan bahwa untuk kesekian kalinya mereka dikepung oleh puluhan bangsa vampire. “Sepertinya kalian kembali buang-buang waktu datang kesini. Aku sedang tak ingin meladeni kalian.”

“Tentu saja seorang Ace bisa melarikan diri dengan mudah. Tapi apa kau akan terus seperti ini? Kau telah lari selama ratusan tahun dan sekarang kau ingin lari lagi?” Tanya Kyu Hyun lagi terlihat mengejek. Para Pangeran lainnya tampak memberikan senyuman sinis yang sama. “Itulah mengapa dari awal kau tak pantas memiliki mutiara itu, saudaraku.” Sambung Kyu Hyun.

Ye Sung mendengus, terlihat cukup terpancing dengan ejekan itu. Namun vampire terpilih itu tetap berusaha terlihat tenang dan tidak gentar. “Jangan khawatir, cepat atau lambat aku pasti akan meladeni kalian. Kalian hutang banyak hal padaku maka mana mungkin aku juga melepaskan kalian begitu saja.” Ye Sung menggenggam jemari So Eun lebih erat, membawa gadis itu lebih rapat padanya. “Tapi sayang sekali bukan hari ini. Jadi silahkan persiapkan diri kalian saja karena aku akan menghubungi kalian begitu aku siap nanti.”Ucapnya masih dengan santainya. Setelah mengucapkan salam perpisahan mahluk itu membawa So Eun menghilang darisana dalam sekejap mata, lagi-lagi meyebabkan kehebohan dari para vampire yang telah berkumpul disana.

“Mulai sekarang perang benar-benar akan dimulai.” Eun Hyuk bergumam pelan dari posisinya, menoleh saudaranya satu persatu. Tak lama kelima Pangeran itu mulai menenangkan pasukannya dan menjelaskan rencana perang selanjutnya.

Sedetik kemudian So Eun membuka matanya kembali. Kali ini lagi-lagi ia menemukan dirinya di tempat yang sangat asing. Ia tak tahu berada dimana karena suasana di sekitarnya yaris seperti tanpa kehidupan. Sejauh ia memandang ia juga hanya melihat lautan dan pantai.

“Dimana kita?” Tanya So Eun sambil melirik Ye Sung. Ye Sung mengangkat bahunya.

“Entahlah, aku juga tak tahu. Aku hanya memikirkan sebuah tempat yang aman lalu kita sampai di sini.”

“Mungkinkah kalau ini pulau yang tidak berpenghuni?” Tanya So Eun benar-benar penasaran. Lagi-lagi ia memperhatikan sekitarnya namun tetap saja ia tak memiliki petunjuk apapun. “Tidak salah lagi sepertinya begitu.”

“Kenapa? Kau tak suka? Kita bisa pergi ke tempat lain.”

“Tidak, tidak. Aku tidak apa-apa.” So Eun menggeleng cepat, mencegah Ye Sung untuk kembali memperlihatkan kekesaktiannya. Gadis itu kemudian kembali mendudukkan dirinya di samping Ye Sung, memperhatikan secara lebih seksama sekitarnya. “Kalau difikir-fikir sepertinya di sini memang yang paling aman saat ini. Setidaknya tidak ada yang akan datang tiba-tiba dan mengajak bertengkar.”

“Kalau yang kau takutkan adalah saudara-saudaraku maka kau tidak perlu cemas. Mereka tak akan mampu menyusul kita karena aku sudah pastikan kalau tempat ini sangat jauh dari jangkauan mereka. Tapi walau begitu vampire biasa yang berada di sekitar kita tetap bisa saja merasakan kehadiran kita kalau mutiaranya menyala kembali. Jadi kalau memang di sini tak berpenghuni, sepertinya memang di sinilah tempat paling aman untuk saat ini”

“Apakah semua vampire benar-benar memburumu untuk mendapatkan mutiara ini?”

“Tentu saja tidak semuanya. Hanya mereka yang tidak patuh pada pemimpin mereka.”

“Bagaimana dengan vampire dari Negara lain?”

“Sebenarnya vampire bukan seperti manusia yang memiliki kebangsaan atau Negara. Sejak awal mereka dibangkitkan dari tempat yang sama di mana salah satu yang terpilih akan diberikan sebuah mutiara yang berguna untuk menjaga keseimbangan kehidupan golongan. Kukira aku hanya beruntung karena sejak awal nenek moyangku lah yang mendapatkannya sehingga akhirnya sampai ke tanganku begini.”

“Aku juga selalu penasaran mengenai kehidupan para vampire. Kudengar mereka abadi, tapi kalau mutiara itu terus berpindah tangan bukankah itu artinya Ace yang sebelumnya juga tewas? Seperti ayahmu.”

“Benar, karena sebenarnya perebutan mutiara ini bukan hanya terjadi ketika giliranku. Sejak awal selalu saja terjadi perperangan yang diawali oleh para pemberontak yang ingin menjadi Ace. Hal itulah yang membuat banyak vampire saling membunuh sehingga itu sebabnya kami juga mengalami regenerasi seperti manusia. Juga, kecuali seorang Ace ketika sepasang vampire memutuskan untuk kawin dan memiliki keturunan maka sebenarnya keabadian mulai hilang dari kamus hidup mereka. Pada saatnya, para vampire itu mulai terserang penyakit tertentu seperti yang dialami ibuku.”

“Kawin..” So Eun berdehem, ia memalingkan wajahnya yang memerah dari Ye Sung. Ye Sung yang menyadarinya tampak menoleh heran.

“Kenapa? Apa yang salah?”

T-Tidak, hanya saja pilihan katamu itu sedikit…”

“Kenapa? Memang manusia menyebut hal itu seperti apa? Kau tahu, ketika kelami—hmmfhd”

“Ya, ya aku mengerti jangan lanjutkan.” So Eun berteriak cepat sambil membekap mulut Ye Sung melarangnya bicara lebih jauh. Ia kemudian melepaskannya setelah yakin Ye Sung tidak melanjutkan ucapannya. “Bagi manusia kata itu sedikit tidak sopan karena biasanya ditujukan pada binatang. Kau jangan tersinggung, aku tak bermaksud menjelekkan bangsa vampire tapi tetap saja itu terdengar sedikit memalukan.” Jelas So Eun berusaha menahan rasa malu yang dirasakannya.

“Begitu? Lalu bagaimana manusia menyebutnya?” Tanya Ye Sung menganggukkan kepalanya faham.

“Kami menyebutnya dengan kata menikah. Karena tidak hanya melakukan hubungan badan, namun mereka hidup bersama atas dasar janji suci dan kepercayaan. Setelah itu barulah mereka bisa membina rumah tangga dan memiliki sebuah keluarga dengan beberapa buah hati.”

“Oh, menikah. Kalau menikah aku pernah dengar. Di jaman Joseon pernikahan para Pangeran ataupun Putri selalu diadakan dengan upacara besar dan dihadiri hampir seluruh rakyat. Aku baru tahu kalau mereka melakukan itu agar bisa kawin.”

“Menikah bukan hanya untuk itu, tahu.” So Eun berdecak sangat sebal. Tapi tak lama sesuatu melintas di dalam fikirannya. “Tapi berbicara soal ini… apa yang terjadi antara dirimu dan Jessica?”

“Siapa Jessica?” Ye Sung menoleh padanya heran, namun tak lama ia menganggukkan kepalanya faham ketika ia ingat sesuatu. “Oh, sebenarnya dulu dia bernama Soo Yeon. Dia adalah salah satu putri dari salah satu dayang yang tumbuh bersama kami di istana. Lalu setelah tumbuh dewasa dia kemudian menjadi dayang yang melayaniku.”

“Melayanimu dalam hal apa?” Tanya So Eun dengan raut wajah curiga. Sementara Ye Sung yang tak mengerti apa maksud tatapan itu melanjutkan penjelasannya.

“Apa saja. Membangunkanku, menyiapkan pakaian, menyiapkan segala kebutuhanku, mendampingiku dan masih banyak hal lagi yang tidak jauh berbeda dengan dayang yang selalu mendampingimu kemana-mana dulu.”

“Lalu?” Tanya So Eun masih seperti mengintogerasi. Ye Sung lagi-lagi menatapnya heran.

“Lalu?”

“Kau tidak… kawin dengannya, bukan?” So Eun memukul kepalanya sendiri karena akhirnya tak punya pilihan selain juga mengucapkan kata itu. Mau bagaimana lagi, ia benar-benar penasaran dengan hal ini.

“Oh, ya… pernah suatu hari hal itu hampir terjadi. Soo Yeon sangat cantik, aku dulu menyukainya dan bahkan mungkin aku akan menjadikannya sebagai istriku. Malam itu aku mengundangnya untuk mandi denganku lalu—“

“Cukup. Tak usah kau lanjutkan.” So Eun memotong dengan sangat ketus. Dengusan pelan terdengar di wajahnya ketika ia memalingkan wajahnya dari Ye Sung. Terlihat sangat kesal.

“Apa kau cemburu?” Tanya Ye Sung terdengar sangat polos dan tanpa rasa bersalah sedikitpun. So Eun menoleh cepat padanya, dengan tatapan sengit.

“Aku? Cemburu? Huh, yang benar saja—“

“Lalu kenapa kau marah?”

“Aku tak marah!!”

“Oh ya?”

So Eun tak menyahuti apapun lagi, hanya menatap tajam Ye Sung yang tersenyum usil padanya. So Eun menghela nafas, berdecak pelan karena ia sepertinya mulai menyadari kalau ucapan Ye Sung ada benarnya.

“Benar, tapi bukan aku yang merasakannya tapi Putri Lee Ga Eul.”

“Ayolah, sampai kapan kau akan membantah kalau kau dan dia adalah dua orang yang sama.”

“Tapi aku masih tak mengingat apapun tentang itu jadi kau tidak bisa menyimpulkan kalau perasaanku bisa sama dengannya!”

“Lalu kau mau bilang kalau Kim So Eun lah yang saat ini sedang cemburu padaku?” Senyuman Ye Sung terlihat semakin lebar dan usil.

So Eun kehabisan kata-kata lagi, merasa sebal pada Ye Sung ataupun keadaan yang sungguh sulit diterima oleh akal sehat mahasiswa dengan otak yang tak jenius seperti dirinya. Ini benar-benar membingungkan. Terlalu rumit untuk difikirkan.

“Hal yang terjadi antara diriku dan Soo Yeon itu terjadi sebelum aku bertemu denganmu – lebih tepatnya Putri Lee Ga Eul. Setelah itu aku hanya sibuk memikirkan dan menemuimu sehingga aku tak punya waktu untuk bertemu atau bahkan kawin dengan Jessica.”

Sesuatu kembali terasa tergerak dalam hati So Eun mendengar ucapan Ye Sung itu. Kali ini diliriknya kembali Ye Sung, membuat iris cokelatnya bertubrukan kembali dengan iris kelama milik Ye Sung. Perasaan hangat itu rasanya kembali muncul di dalam dirinya.

“Tidak, tidak. Nanti mutiaranya menyala lagi.” So Eun mengalihkan wajahnya kembali dan menggelengkan kepalanya kuat sambil mengelus-elus dadanya. Terdengar kekehan Ye Sung di sampingnya.

“Kau lapar? Seharian bukankah kau sibuk menemaniku kesana kemari sehingga belum makan apapun?”

“Ah benar, aku lupa kalau seharian ini aku belum makan apapun. Bahkan aku juga tak merasa lapar sama sekali.”

Ye Sung kembali tersenyum sambil menggerakkan tangannya secara perlahan. Tak butuh waktu lama tiba-tiba saja beberapa makanan yang lezat sudah berada di hadapan So Eun. Semuanya tersusun apik di atas sebuah meja dengan sepasang bangku yang tiba-tiba saja sudah didudukinya. So Eun lagi-lagi merasa takjub.

“Waaah, ini benar-benar luar biasa..” ujarnya riang. Diliriknya ke bawah dimana kakinya yang telanjang masih menapak di pasir putih di bawahnya. Sesekali air laut tampak datang dan menggoda kulitnya di bawah sana. So Eun lantas tersenyum sambil melirik Ye Sung yang duduk setia di sampingnya. “Ye Sung, ini benar-benar keren. Indah dan menyenangkan sekali.” Ujarnya senang.

“Baguslah kalau kau menyukainya.”

So Eun terlihat asyik menikmati makan malam istimewanya sambil sesekali terus memuji apa yang ada di sekitarnya. Sementara itu Ye Sung tampak masih setia di sampingnya dan memperhatikan setiap gerakan gadis yang dicintainya itu. Dalam hati kini Ye Sung mulai memikirkan berbagai cara untuk menyelesaikan perang ini agar So Eun bisa terus bahagia dan tersenyum seperti ini. Ia akan melakukan apapun agar So Eun tidak akan lagi merasa ketakutan atau bahkan terluka seperti yang terjadi padanya di kehidupan sebelumnya.

❤ To Be Continued❤

18 Comments Add yours

  1. Mama nikita widiyati mengatakan:

    Akhirnya yesung ingat siapa dirinya…tapi kok so eun ga ingat ya….
    Suka waktu putri lee ga eul meninggal,rasanya sedihhh banget//@)penggambarannya bikin terharu
    untung ga eul bereinkarnasi dan ye sung bisa menemuinya lagi.
    Heeeiiii rival yesung para vampire ganteng…jangan ganggu yesso dooonk!!!kha…pergi….pergi

  2. Mama nikita widiyati mengatakan:

    Ya ampuuunnn ceritanya sungguh mengharukan….Akhirnya yesung ingat siapa dirinya…tapi kok so eun ga ingat ya….
    Suka waktu putri lee ga eul meninggal,rasanya sedihhh banget//@)penggambarannya bikin terharu
    untung ga eul bereinkarnasi dan ye sung bisa menemuinya lagi.
    Heeeiiii rival yesung para vampire ganteng…jangan ganggu yesso dooonk!!!kha…pergi….pergi

  3. nita mengatakan:

    part ini bnr2 full dengan moment yesso, jdi crita awal nya seperti itu. hemm perjalanan msh pnjngn, skrng ingatan yeye udah kembali semua. d tnggu next part nya🙂

  4. miani caledupha mengatakan:

    Ini semakin seru.
    So eun adalah reingkarnasi dari putri gaul. Dan itu pasti berkat mutiara yg di bagi yesung.

    Maka tdak heran selma ini pra saudara yesung menempele so eun. Dan sekrg mereka akan memulai peperangan.
    Untuk merebut mutiara dari yesung dan so eun.

  5. fina mengatakan:

    cerita menarik unni… Next yah…

  6. Angel mengatakan:

    Akhir.y yesung bsa inget semua .y

    Yesung pasti bsa melindung reinkarnasi ga eul

  7. yhuliisoeun mengatakan:

    ahhh akuu suka bnget… akhirnya trjawab jga semuanya… tragis bnget kisah yesung dan gaeul … itu jga sbabnya yahh soeun ada di dkat yesung krna sbagian mutiaranya ada sama soeun… senang jga trnyata soeun itu trnyata gaeul .. yahh wlau dlm bntuk yg beda.. 😂😂gaeul kan lemah lmbut.. soeun crewet… 😂 tapii apa ryeowook gk punya reinkarnasi? stidKnya buat ngebantu yesung di khidupan skarNg…
    aku jadi suka kisah yesung dan soeun yang skarang.. wkwwk… apalgi klau soeun sdh bingung dan brtnya tnya tntang prasaannya.. masa sso gak ingat sihh… smoga cpat ingat yyahh… 😂😂 bicara soal jessica. apa jessica bkal ngebantu yesung yahh.. mnginagat dia suka sama yesung… tpi pasti bkal cmburu spertinya.. krn yesung sdh ktemu cinta pertamanya… ahhh next partnya sangat di tunggu ni.. ><….

  8. rizki mengatakan:

    Bagus ceritanya, smoga mereka bisa bersatu

  9. Azizah mengatakan:

    Lagi asyik asyiknya baca eehh nongol yg namanya TBC.. seneng banget Dengan part ini. Tambah seru ceritanya. Eunni ditunggu new part nya..

  10. anna mengatakan:

    Syukurlh ingtn&prsaan yesung tlah kmbli sng bcny gaya&tgkh yesso sprt dunia milik brdua ciecie,,yaaa smg ada jln agr kbhgian yesso bs abadi,,heeem syg jg klo pngran2 vampire yg lain hrs musnah cb sj mrk tdk dibutakn kekuasaan mgkn lbh indh,tntrm&damai

  11. yuliaseptiani mengatakan:

    Huaaahh cerita ny makin makin kerrreenn 👍👍👍
    Trnyta khidupan sso sblum nu tragis banget n itu semua gara2 kserakahn dari saudara2 ny yesung -_- gk nyangka pangeran2 tampan bisa brbuat hal yg sangat jahat .
    Eeiiiyy trnyta sso udah tersepona ma yesung n d karenakn sso adalah ga eul jadi rasa cinta itu tumbuh kembali ^^ sso cemburu ama yesung gegara jessica tapi malah d jaili ama yesung ~kkkkk
    Semoga yesung n sso tetap terus brsama ^^

  12. Fee mengatakan:

    Makin kesini makin seru nih ff,,
    Complicated bgt nih ff, ada sedih tegang komedi jg. Sekarang yesung dah inget. Dan bentar lg kayak.y bkln ada perang nih.

    Next part ditunggu,,

  13. hesti mengatakan:

    Makin seru dan menegangkan next kak

  14. Ayu chokyulate mengatakan:

    woahh semua nya udah terbongkar, gimana masa lalu yesung dan sso eonni sampe perebutan mutiara yg ada di dalam diri mereka… semoga aja yesung cepet dapet cara buat menyelesaikan ini semua, dan bisa ngelindungin sso dari para pangeran yg ingin memburu mereka….. yuhuuu sso eonni mulai ngerasain lagi getaran getaran nih sama yesung, moga aja mereka cepet ngungkapin perasaan masing masing^^
    ditunggu next part nya putri eonni😀

  15. Devi mengatakan:

    Makin seruuu zh cerita’a,,,,,,

    Akhir’a yeppa ingat dengan masa lalu’a,,,
    Gk nyangka yh saudara2’a yeppa jhat bangeeeet dan ternyata saudara2’a yeppa mendekati eonnie so eun karena eonnie so eun mempunyai separuh mutiara,,,
    Jd penasaran ma kelanjutan’a d tunggu kelanjutan’a,,,

  16. shaneyida mengatakan:

    karna dah gatel pengen bc +pikiran lg plong jd jam segini langsung meluncur hhhhi *curcol,abaikan * hhhi ,,
    Yeye da ingat ms lalunya dg siaran ulang kejdian maslal nya hhhi ,sso juga mrsakan sesuatu walopun lom ingat kejadian dirinya kala itu ..agak lola nyampainya k sso kkkkke * plaakk* hhhhi, manis n sedih ketika masa yeye-gaeul n yeye So eun makin sweet euy hhhi d bumbuhi ma tingkah lucu n manis mereka😉

    Riview stry ~ wah asyik ni gaeul ma yesung main kuda2an hhhi di jaman sebelumnya yesung begitu nyaman bersama gaeul tp ketahuan ma saudaranya jdlah saudar2nya membuat strategi ee … Yesung sibuk meladeni hae cs ..sdgkan kibum dtg memnghampiri gaeul n merenggut nyawa gaeul ..jdinya yesung dtg terlambat tp setidaknya yesung th perasaan gaeul pdnya begitupun gaeul pasti mersakannya jg walopun yesung lom sempat membls ungkapan cintanya .. ,entr kebales deh .. Yesung mengungkapkan cinta ma kim soeun d ms skg ¨Ħiii¨¨Ħiii¨¨Ħiii ƪ(˘⌣˘)ʃ•´¯`• ♥

    Ouuu rpnya yesung sendiri yg mengurung dirinya d dlm peti sampai waktunya gaeul reinkarnasi jd soeun tak kira yesung d kurung d peti krna pasungan or kelakuan dr saudara2nya ntu hhhe , mutiara nya d titipkan k Sso separuh jd angguk3 paham mengapa saudra2 yesung berkeliaran d sekitar soeun sambil menunggu kdtangan yesung kembali , leeteuk membri thu klo satu2nya saudra baik yesung tlah meninggal .. Kira2 ryewook d ajak main kga’ ya ma puput di ff ini mengingat ryewook mau ngluarin mini album ee jdinya dia sibuk syooting kali yak ƗƗɐƗƗɐƗƗɐƗƗɐƗƗɐƗƗɐ”̮‎​​ #Eohhh*hhhhi ;;)

    Soeun msh berlayar ma hatinya ,, dia merasa klo dia itu gaeul tp dia tak ingat apapun .. Dia ngerasa jiwa gaul bersemyam d dirinya hhhi tp yesung tak memaksanya yg terpenting keselamat sso bg yeye .perlahan2nanti soeun menyadri klo dia 100 persen gaeul proses ee apalgi hatinya slalu berdetak ketika yesung bicara muanis pdnya cieee so sweetnya ,nah mereka ada pulau yg berduaan aja t kek brsa lgi honeymoon or liburan gitu yak yessonya ¨Ħiii¨¨Ħiii¨¨Ħiii ƪ(˘⌣˘)ʃ•´¯`• ♥

    Lucu n ketiwi ketiwi aye pas yesung bilng tentang kawin hhha..dia hampir kawin pula ma sica kkkke gr2 kawin kakk jd ngakak kkkkke sso yg mendengarnya jd ga malu gaje kkkke ..ayo bang jong ajak sso kawin dah kekeEkkkke , ngeliat dialog yesung ma soeun ntu ada so sweetnya ada lucunya juga hihiii ,, nah saudara2 yesung udeh mau ngatur strategi ni hmmm apakah yesung jg punya hmmmm ,bisakah yesung menggunakan mutiara ace or jabaatannya nya itu tuk menstabilkan perang hmmmm

    LanjuUut ~jd pengen bc lagi lagi lagiii niii hhhe , banyak jempol klinci dah buat puput (y) … Suka smua d stiap line nya (y) ,, ad typo dikit krna g d edit ya ..tp tak masalah cos tak mengurangi isi maupun feel nya <3<3 malah ketagihan yak .. <3<3 ,, tetap smangat n slalu sukses tuk puput ({}). Chu ~ :*❤

  17. tyand mengatakan:

    Oh jadi itu alasan kenapa disekitar so eun byk vampire to.. emm akhirnya yesung ingat jg semuanya
    Pokokny ff ini keren, makin seru makin menarik makin bikin pemasaran pokoknyalah eonn
    D tunggu kelanjutannya ya eonn
    FIGHTING

  18. kimjongeun24 mengatakan:

    Akhirnya terjawab sudah semua prtanyaan yesung..

    Ceritanya benar2 keren chingu. Ak suka dgn smua alur ceritanya…

    Pokoknya keren bgt!. ^^

    Klanjutannya dtunggu y chingu,🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s