~[OneShoot] High Tension~


High Tension

Title       :               High Tension

Author  :               PrincessClouds/@helloputri228 (Putri Andina)

Genre   :               Romance, Comedy, Teeen

Rated    :               PG-15

Lenght  :               Oneshot

Main      :               Cho Kyu Hyun & Kim So Eun

Minor    :               Lee Dong Hae, Amber Liu, Henry Lau,

Warning:              Typo(s) – No Edit, Adult Content Implied! OOC, Alur ngebut, deelel.

*

“Aku hamil.”

Humk, kopi yang baru akan menyentuh tenggorokan itu dengan cepat keluar kembali. Hampir muncrat kalau saja Kyu Hyun tak menahannya dengan telapak tangan. Kini ia berganti menoleh menuju seseorang yang barusan ‘menjatuhkan bom’ itu. Meliriknya dengan tatapan tak percaya.

“Apa?” Tanyanya tak yakin. Pura-pura tak mendengarnya dengan jelas walau tadi ucapan yang sedikit berbisik itu terdengar telak ke gendang pendengarannya.

Gadis itu, Kim So Eun, terlihat memiliki ekspresi kesal di wajahnya saat ini. Kembali ditatapnya Kyu Hyun dengan tatapan datar yang sama. “Aku bilang aku hamil. Menstruasiku tidak datang selama dua minggu ini.”

Kyu Hyun kini tak mungkin salah mendengar lagi. Memang itulah yang didengarnya. Memang itulah yang diucapkan oleh gadis di depannya ini yang merupakan kekasihnya. Gadis yang disukainya.

Namun walau begitu tetap saja…

Tetap saja…

“Kenapa kau diam saja?” Gadis itu kembali mengagetkannya. Berhasil membuat Kyu Hyun kembali tersadar dan menoleh padanya.

“H-Huh, b-bukan. T-Tidak ada apa-apa. Hanya saja…”

“Kenapa? Kau tak mau bertanggung jawab dan melarikan diri?”

Kyu Hyun menatap So Eun dengan cepat, berusaha menyampaikan sesuatu walau ia tak tahu apa itu. Terlebih lagi ketika kini melihat sinaran mata So Eun yang terus saja terlihat tajam membuat ia semakin tak tahu harus mengatakan apa pada gadis itu.

“B-Bukannya aku tak ingin bertanggung jawab tapi…”

“Tapi apa?”

“Tesisku. Kau tahukan kalau aku—“

“Jadi kau memang tidak mau bertanggung jawab.”

“Bukan itu maksudku—“

“Tak usah berputar-putar. Kita sama-sama tahu apa maksud ucapanmu.”

Beberapa orang yang kebetulan berada di café itu menoleh ke arah kami ketika perdebatan kami mungkin terdengar cukup keras. Hal itu membuat Kyu Hyun mendesah, menundukkan wajahnya canggung sambil kembali pada So Eun. Namun gadis itu tak terlihat merasa canggung atau malu sama sekali seperti dirinya saat ini.

“Kita bicarakan nanti. Sepulang kuliah kita—“

“Kenapa tidak sekarang saja? Kau itu selalu sulit ditemui kalau sudah pulang kuliah. Kau juga akan sulit untuk dihubungi. Bagaimana mungkin aku percaya padamu.” Kim So Eun tampak meninggikan suaranya, terlihat tidak peduli sama sekali pada sekitarnya. Bahkan pada taraf ini, Kyu Hyun yakin kalau So Eun berani meneriakkan kalau Kyu Hyun telah menghamilinya kepada seisi café. Karena begitulah sifat gadis ini. Dia angkuh dan tempramen.

“Tak bisakah kau tenang? Semua orang melihat kesini.” Seru Kyu Hyun sedikit hilang kesabaran pada gadis itu. Namun sepertinya ia malah menambahkan minyak tanah ke dalam api ketika ekspresi gadis itu semakin terlihat mengeras.

“Tenang? Kau memintaku untuk tenang? Bagaimana mungkin aku tenang dalam keadaan seperti ini!” So Eun mulai merendahkan nada bicaranya. Ia kini lebih mencondongkan tubuhnya kepada Kyu Hyun. “Ketika di dalam perutku sesuatu tumbuh seperti ini dan aku harus menyembunyikannya pada orang lain terutama orang tuaku yang tinggal serumah denganku.” Bisiknya kemudian. Ekspresi kesal dan tegang tergambar di wajahnya secara bersamaan.

“Aku mengerti. Tapi kita tak harus membicarakannya sekarang bukan? Kita cari tempat—“

“Apa memangnya yang kau mengerti. Kau sama sekali tak mengerti.” So Eun kembali memotong ucapan Kyuhyun. Menarik wajahnya kembali dari Kyuhyun ketika nadanya kembali terdengar tinggi. Kembali menarik perhatian orang-orang di sekitar kita.

Kyu Hyun benar-benar muak dengan ini.

“Kau ini tak pernah berubah, bukan? Kau terus bersikap kekanakkan dan semaumu begini.”

“Sekarang kau bilang aku kekanakan.”

“Bagaimana tidak kekanakan kalau kau terus tak bisa tenang begini. Kau terus mengikuti emosimu saja!”

Sebuah bisik-bisik kembali terdengar dari segala sudut membicarakan mereka berdua. Hal itu membuat Kyu Hyun tersadar, ia mendengus pelan sambil menundukkan wajahnya menahan malu karena baru saja ikut terbawa emosi dan membuat semuanya semakin buruk.

“Sudah kusangka kau akan bereaksi begini.” So Eun kembali bersuara, terdengar lebih datar. Sementara itu sebuah ekspresi ambigu terlihat di wajahnya saat ini. “Kau pasti tidak akan mengakuinya dan lari dari tanggung jawab.”

“A-Apa? So Eun—“

“Bukankah satu-satunya target yang kau kejar saat ini adalah gelar dokter mu? Lalu setelahnya kau akan langsung terbang ke luar negeri untuk melanjutkan S2 dan S3 untuk menjadi dokter spesialis. Pada akhirnya aku harusnya tahu bagaimana endingnya, bukan?”

Kyu Hyun mendesah menahan kesal, dia tak tahu apa harus berteriak pada gadis di depannya ini atau malah tertawa dengan wajah paling miris yang ia punya. Yang jelas gadis ini benar-benar membuatnya kesal. Kyu Hyun bahkan tak ingat lagi kenapa ia sampai jatuh cinta padanya dari awal.

“Kau pada akhirnya hanya akan mempercayai apa yang kau yakini, bukan?”

“Apa aku salah? Memangnya, kini kau berani untuk meninggalkan mimpimu dan menikahiku?”

Kyu Hyun tercekat, tak berani mengatakan apapun. Sementara So Eun tampak memberikan senyuman sarkatis yang seakan mengejeknya.

“Dasar pecundang.” So Eun menggumam sambil menggeser tempat duduknya. Tak lama ia mulai bangkit sambil meraih tas tangan yang sebelumnya ia letakkan di atas meja.

“Kau mau kemana? Kita belum selesai bicara.” Ujar Kyu Hyun sedikit frustasi. Ia benar-benar sangat kesal dengan sikap gadis ini.

“Huh, apa lagi yang mau dibicarakan? Jangan membuatku sampai meludahimu.”

“M-Meludahi?” Kyu Hyun baru akan mengangkat wajahnya untuk protes. Namun gadis itu sudah terlebih dahulu meninggalkan tempat itu tanpa mengatakan apapun. “Hey, aku belum selesai bicara. Hey, kembali kesini! Hey, Kim So Eun!!” Kyu Hyun berteriak sangat kesal. Namun tetap saja gadis itu melenggang begitu saja dan seperti tak mendengarkan ucapannya. Hal itu tentu saja membuat Kyu Hyun semakin meradang kesal.

“Ah, sialan.” Kyu Hyun menyerapah sambil menendang salah satu kaki bangku di dekatnya. Kali ini sama sekali tidak memperdulikan orang-orang di sekitarnya yang kembali seperti menghakiminya.

*High_Tension*

Dengan tubuh yang terasa lelah Kyu Hyun kembali ke apartemennya tepat tengah malam. Pemuda itu kini tampak sempoyongan, menghempaskan tubuhnya yang lelah ke atas tempat tidur. Perlahan ketika ia menengadah menatap loteng di atasnya, semuanya terlihat bergerak-gerak dan berkunang.

“Asssh, aku tak seharusnya minum terlalu banyak.” Keluhnya sambil membuka jaket yang dikenakannya. Dengan seenaknya ia melemparnya ke sembarang arah sebelum lebih meringkuk naik ke tempat tidur. “Semua ini karena gadis menyebalkan itu. Ada apa dengannya? Dia selalu menilai orang seenaknya. Luar biasa sombongnya padahal sudah jelas dia membutuhkan pertanggungjawabanku.” Kyu Hyun terkekeh bak orang gila sambil masih memejamkan matanya.

“Biar saja. Apapun yang terjadi aku tidak akan membujuknya duluan. Aku ingin melihat dia bersikap lebih baik dan datang padaku dengan lebih benar. Kalau tidak biar saja perutnya membesar dan dia menahan malu sendiri.”

Kyu Hyun terkekeh sendiri cukup lama, terlihat sudah benar-benar terpengaruh alkohol. Namun tak lama ia terdiam, terlihat sudah berusaha untuk memejamkan matanya dan melupakan semua.

“Eungh.. Kyu..”

Dahi Kyu Hyun berkerut, terlihat seperti melihat sesuatu di dalam mimpinya.

“Eumh.. K-Kyu..”

Kamar yang sama namun lebih temaram. Sebuah lilin yang tertancap di atas sebuah kue ulang tahun terlihat di sudut ruangan. Menjadi penerang satu-satunya di ruangan tersebut.

“So Eun..”

Sementara itu dua tubuh terlihat berbagi kehangatan di atas tempat tidur. Terlihat sama-sama menyalurkan satu sama lain tanpa mengacuhkan suara hujan ataupun petir yang terdengar bersahutan di luar sana.

“Eum.. Kyu Hyun, a-aku..” Dan Kyu Hyun merasakan ketika kuku yang sedikit panjang itu menancapi punggungnya yang telanjang.

“Haaaah..” Mata Kyu Hyun terbuka kembali. Tak seperti tadi dimana mata itu terlihat kosong karena minim kesadaran, kali ini mata itu terlihat lebih tegas ketika kembali menatap langit-langit. Terlihat menatap panjang langit-langit itu dengan ekspresi yang masih kosong. “Kenapa malam itu harus hujan segala sehingga membuatnya tertahan disini? Tidak, kenapa aku sampai kehilangan akal sehat seperti itu. Kini lihat apa yang terjadi.” Gumamnya terdengar seperti barisan penyesalan.

“Haaah, ini benar-benar gawat. Aku bisa terancam gagal meraih karier yang selama ini aku idamkan.” Pemuda itu kembali mengeluh sambil memejamkan matanya lagi. Kali ini lengannya ia letakkan di atas wajahnya, berusaha mengacuhkan setiap bayangan yang kembali menari dalam ingatannya.

So Eun kembali merasa mual, menghentikan jalannya sejenak ketika rasa pusing yang sama terasa membebani kepalanya. Perlahan ia berjalan lebih ke pinggir, meraih dinding koridor kampus untuk berpegangan dan jaga-jaga kalau ia pingsan tiba-tiba.

Tch, sudah beberapa hari ini dia begini. Awalnya ia hanya menganggap kalau ini hanya rasa pusing biasa namun siapa sangka kalau ternyata alasannya berbeda. Pada awalnya ia hanya iseng memastikan dengan membeli alat tes kehamilan dua hari yang lalu ketika ia melihatnya di apotik tempatnya membeli obat. Siapa sangka kalau ia malah mendapatkan dua tanda garis yang berhasil membuatnya membelalakkan mata.

Kini ia tak tahu harus bagaimana. Bahkan harapan terakhir, si pelaku kejahatan yang membuatnya begini juga tak bisa diharapkan dalam hal ini. Lihat saja bagaimana acuhnya dia ketika So Eun mendatanginya kemaren.

Kini So Eun benar-benar tak tahu apa yang harus dia lakukan dengan sesuatu yang tumbuh di dalam tubuhnya ini. Tapi dari semuanya, So Eun tahu satu hal pasti bahwa ia tidak akan terlihat lemah atau bahkan mengemis pada laki-laki itu. Sampai kapanpun, apapun yang terjadi dia tidak akan pernah menundukkan wajahnya kepada laki-laki brengsek yang hanya terobsesi dengan mimpinya menjadi Dokter spesialis bedah itu.

Haaah, hal ini benar-benar membuatnya berjuta kali harus menyesali kejadian tak terencana malam itu ketika ia merayakan ulang tahun laki-laki yang baru menjadi kekasihnya selama tiga bulan itu. Kalau saja malam itu tidak hujan, ia yakin ia tak harus berakhir menyedihkan seperti ini.

“So Eun!” Teriakan itu berhasil membuatnya tersentak kaget. Apalagi menemukan sebuah tangan yang menepuk ringan bahunya.

“Jangan mengagetkanku!” ujar So Eun mendesis kesal. Sementara itu lawan bicaranya tampak hanya terkekeh tanpa merasa bersalah sedikitpun.

“Habisnya kau daritadi kupanggil tapi tidak menyahut. Sebenarnya kau itu sedang memikirkan apa?” ujar teman baiknya yang bernama Amber tersebut. Namun So Eun menggelengkan kepalanya dengan cepat.

“Tidak ada apa-apa.”

“Benarkah? Kelihatannya tak begitu. Hey, apa kau bertengkar dengan Cho Kyu Hyun.”

Entah mengapa mendengar nama itu kini membuat sesuatu mendidih dalam diri So Eun. Hal itulah yang mungkin membuatnya saat ini langsung melirik Amber dengan cepat, dengan tajam. “Jangan sebuat nama si brengsek itu.”

“Woah.” Amber tampak sedikit syok dengan reaksi So Eun. Ia bahkan reflek menarik tangannya dari bahu So Eun seakan ia baru saja terkena sengatan listrik karena tatapan So Eun barusan. “Jadi memang tentang dia? Ada apa? Kenapa kalian bertengkar lagi? Apa dia menolak ajakan kencanmu karena harus berkutat dengan thesisnya lagi?”

“Aku bilang jangan sebut lagi nama orang itu.”

“Aku tidak menyebut namanya lagi.”

“Kalau begitu jangan membicarakan tentang dia.”

“Wah, kau ini kenapa..” Amber benar-benar terkekeh dengan reaksi So Eun yang menurutnya sangat menarik itu. Walau tak tahu masalahnya tapi dia menduga kalau dua pasangan ini terlibat perang yang cukup besar lagi.

So Eun tampak tak ingin terlibat pembicaraan ini lebih jauh, sehingga itu sebabnya ia kembali melanjutkan jalannya. Namun lagi-lagi ia tak merasa enak badan, kepalanya terasa berputar-putar dan memusingkan.

“Hey, hati-hati So Eun!” Suara yang cukup lembut tiba-tiba menegurnya bersamaan dengan lengannya yang diraih oleh seseorang. Ketika So Eun mendongak ia menemukan seorang pemuda lainnya yang tersenyum lembut padanya.

“Lee Dong Hae?”

Pemuda bernama Lee Dong Hae itu tampak tersenyum. Ia menatap So Eun dengan cukup lembut. “Hey So Eun..” sapanya ramah.

“Sebenarnya ada apa denganmu? Seharian ini kau terus menunjukkan wajah menyebalkan dan mengatakan ucapan yang pedas.” Gerutu seorang pemuda berambut kemerahan dengan sebuah topi berwarna kuning yang menutupinya. Sementara itu orang berambut brunette di sampingnya tampak hanya mendengar dengan ekspresi kurang bersahabat di wajahnya.

“Tak ada apa-apa.”

“Tak ada apa-apa bagaimana? Kau jelas sedang memikirkan sesuatu. Kau biasanya tak begini.”

Kyu Hyun berdecak, mulai merasa benar-benar terganggu karena teman baiknya yang terdengar sangat berisik ini. Sejujurnya setiap celotehannya membuat Kyu Hyun merasa lebih kesal lagi.

“Apa kau bertengkar dengan So Eun?” Henry kali ini mencoba untuk menebak. Dimana melihat helaan nafas lebih berat di wajah Kyu Hyun ia seperti mendapat jawabannya secara langsung. “Jadi kalian sedang bertengkar lagi? Ada apa? Apa gadis itu mengomel lagi ketika kau sedang berusaha keras untuk menyelesaikan thesismu? Atau, apa dia mengomelimu lagi di depan umum?” Tanya Henry bertubi-tubi tanpa jeda. Hal itu membuat Kyu Hyun semakin mendengus dibuatnya,

“Diamlah. Aku sedang tak ingin membicarakan apapun tentang dia.”

“Kalau melihat kau bersikap begini berarti memang kalian berseteru cukup parah lagi. Haaah, kalian berdua ini sebenarnya niat pacaran tidak sih? Kenapa sebentar-sebentar mesra dan sebentar-sebentar bertengkar dengan ekstrim sampai membalikkan meja. Tch, tch, aku tak mengerti.”

Sementara Kyu Hyun terdiam karena celotehan Henry barusan ketika ia mengingat bagaimana sekitar sebulan yang lalu mereka juga pernah bertengkar parah begini. Saat itu Kyu Hyun sampai membalikkan meja kantin setelah gadis itu menyiramnya dengan air soda.

Haaah, kalau diingat lagi mereka berdua ini benar-benar tidak cocok. Mereka sama-sama keras kepala dan tak mau mengalah.

“Tunggu!” Lamunan dan langkahnya terhenti ketika Henry tiba-tiba mengangkat tangannya menyentuh dada Kyu Hyun. Sementara itu pandangannya ia tujukan kepada suatu arah di ujung koridor. “Bukankah itu So Eun? Dan dia, bersama Lee Dong Hae!” ujar Henry tak lama. Mendengar itu Kyu Hyun reflek menoleh ke arah yang ditunjuk oleh teman baiknya itu.

Benar saja. Ternyata disana memang ada tiga orang yang berjalan bersamaan di bagian koridor yang berseberangan dengan yang Kyu Hyun tempati saat ini. Namun lebih dari itu yang menarik perhatiannya adalah bagaimana So Eun berjalan sambil digandeng oleh Dong Hae. Tangan pemuda itu melingkari pinggang kekasihnya – setidaknya masih kekasihnya.

“Wow, laki-laki itu memegang pinggang kekasihmu. Bukankah dia itu Lee Dong Hae? Dia dari jurusan kedokteran juga, bukan?” Ujar Henry melirik Kyu Hyun cepat. Namun Kyu Hyun tak terlihat menunjukkan reaksi yang jelas.

“Ayo pergi darisini.”

“Apa?” Henry menatap Kyu Hyun tak percaya ketika pemuda itu dengan acuh melanjutkan perjalanannya menuju kelas mereka. “Hey, apa kau tak ingin melihat keadaan So Eun dulu?” Tanya Henry. Namun Kyu Hyun terus melanjutkan jalannya tanpa menyahut atau menoleh. “Hey, apa kalian bertengkar separah itu? Kenapa kau membiarkan hal ini begitu saja!”

Dalam beberapa hari keduanya sibuk dengan keseharian mereka masing-masing. Bahkan walaupun mereka berada di kampus yang sama namun mereka tak pernah bertemu satu sama lain. Mengenai komunikasi jangan ditanya, tidak ada sama sekali. Keduanya sama-sama enggan untuk menghubungi terlebih dahulu walau sampai sekarang mereka masih sepasang kekasih yang bahkan… sudah hampir menjadi orang tua.

Entah apa yang kedua orang keras kepala itu pikirkan. Yang jelas keduanya sama-sama tak teredam. Ini seakan menjadi begitu megkhawatirkan mengingat keduanya memang belum siap untuk serius dengan hubungan yang telah mereka lewati batas keamanannya. Mereka belum siap secara mental dengan semua hal yang kini berada kian dekat di depan mata.

Namun hari ini, secara tak sengaja mereka bertemu. Baik Kyu Hyun maupun So Eun tampaknya tak menyangka kalau hal ini akan terjadi sehingga mereka terlihat membeku satu sama lain. Saling tak mengatakan apapun dan buang muka.

“Kalian ini sebenarnya ada apa? Kenapa terlihat bermusuhan begitu?” Tanya Amber yang menyadari suasana yang tidak menyenangkan antara keduanya. Sementara Henry tampak mengangguk setuju.

“Kalau dipikir-pikir ini sudah berapa hari ya kalian tidak bertemu. Rasanya ini pertama kalinya, bukan begitu?” Tanya Henry ikut merasa penasaran, sekilas terdengar begitu berpura-pura.

Aaaah, Kyu Hyun tiba-tiba mendapatkan sesuatu di dalam otaknya. Ditatapnya berganti Henry dan Amber yang juga menatapnya dengan senyuman aneh di wajah mereka. Sepertinya tidak salah lagi firasatnya, bahwa mereka sengaja mempertemukan dirinya dan So Eun begini. Dasar kampungan.

Tapi sebenarnya Amber dan Henry bukan orang baru dalam hubungan So Eun dan Kyu Hyun. Karena keduanya lah dulu mereka saling berkenalan dan akhirnya menjadi dekat begini. Kyu Hyun ingat ketika dulu pertama kali melihat So Eun saat ia menemani Henry yang hendak bertemu dengan teman akrabnya yaitu Amber. So Eun adalah teman Amber yang kebetulan juga menemaninya hari itu.

“Jadi ini alasanmu membawaku kesini, Amber. Kau merencanakan hal kotor ini?” So Eun tiba-tiba bergumam dengan dinginnya. Berhasil membuat ketiganya menoleh kepada gadis cantik itu. “Apa orang ini yang menyuruhmu melakukannya agar aku mau menemuinya?”

Kyu Hyun berdecih, tertawa muak sambil balas menatap So Eun yang tak kalah memberikan tatapan tak menyenangkan padanya. “Jangan percaya diri dulu. Aku juga tak tahu apa-apa. Siapa juga yang mau menemuimu.”

Keduanya kembali saling buang wajah satu sama lain, terlihat sama-sama muak dan kesal. Sementara itu Amber dan Henry tampak saling berpandangan dengan ekspresi bingung.

“Hey, sebenarnya kalian berdua ini kenapa? Sebenarnya masalah apa yang membuat kalian begitu marah begini?” Tanya Henry mencoba menengahi keduanya.

“Tanyakan saja pada temanmu yang tidak bertanggung jawab itu.” So Eun menyahut cepat. Dimana langsung mendapatkan jawaban sewot dari Kyu Hyun.

“Tidak bertanggung jawab? Huh, bukankah kau saja yang merasa paling benar sendiri disini.”

“Terus saja, bersikap sok munafik saja terus.”

“Hey, kalian belum menjawab apa masalahnya? Kami belum mengerti kenapa kalian tiba-tiba bertengka begini dan tidak berbicara selama lebih seminggu. Juga, bertanggung jawab apa? Paling benar sendiri apa?” Tanya Amber terlihat benar-benar bingung dan tak sabar.

“Kau benar-benar ingin tahu?” So Eun menyahut cepat, kembali melirik Kyu Hyun lagi dengan pandangan yang seperti menantang. Hal yang tak lama membuat sesuatu terlintas di fikiran Kyu Hyun dan membuatnya tiba-tiba merasa cemas.

Jangan bilang kalau So Eun…

“Lihat wajahmu panikmu itu. Sekarang kau mau terus menyangkal tentang betapa pengecutnya dirimu itu?” So Eun terkekeh, tampak meledek dan menyindir Kyu Hyun dengan cukup tajam. Sementara itu Kyu Hyun menghela nafas, diliriknya So Eun tak kalah tajam.

“Yang aku tidak suka dari awal tentang dirimu itu adalah keputusan yang terus kau ambil sendiri. Kau tidak bisa memaksa semua orang untuk mengikuti caramu. Kenapa kau terus mendesakku? Kau bahkan tak mau kuajak berbicara baik-baik.”

“Berbicara dalam hal baik seperti apa? Aku yakin, hal yang akan kau katakan kalau kita bicara baik-baik hanyalah ‘hal itu’ bukan? Kau pasti hanya akan membujukku agar aku menyingkirkannya saja seakan tidak terjadi apa-apa dan kau bisa terus hidup tenang.”

“Lihat, kau kembali mengambil kesimpulanmu sendiri dalam menilaiku.”

Guys… kalian ini sebenarnya membicarakan apa?” Tanya Henry mewakili Amber dan semua yang ada di sekitar mereka yang sama-sama tidak mengerti. Keduanya tahu kalau kedua orang ini sedang ribut, namun tak ada yang mengerti duduk permasalahnnya disini.

“Okey, karena sepertinya kau sudah benar-benar yakin dengan dirimu sendiri sekarang giliranku yang bertanya. Memangnya kau siap? Seberapa besar kau siap untuk mengakui hal itu kepada semua orang.” Kyu Hyun kembali bersuara sambil kini seperti balas menantang So Eun. “Kalau aku memberanikan diri mengatakan semuanya disini, bagaimana menurutmu?”

Kyu Hyun melihat gurat kegelisahan dari wajah So Eun, sesuatu yang langsung membuatnya tersenyum puas. Sementara matanya terus menatap So Eun yang seakan tengah larut memikirkan sesuatu.

“Teman-teman, apa kalian tahu apa yang terjadi?!” Kyu Hyun tiba-tiba berseru seakan membuat pengumuman, dimana So Eun reflek mengangkat wajah menatapnya kaget. Sementara itu semua orang yang ada di sekitar mereka tampak terfokus pada pemuda itu. “Apa kalian tahu, kalau gadis ini, Kim So Eun, saat ini dia sedang—“ Ucapan Kyuhyun terhenti ketika sebuah benda yang keras mendarat di wajahnya.

“Bodoh!!!” Teriak So Eun benar-benar kesal. Tanpa mengatakan apapun gadis itu segera berlari meninggalkan tempat itu dan meninggalkan tas yang tadi dilemparkannya ke wajah Kyu Hyun begitu saja.

“H-Hey S-So Eun!!” Amber berteriak hendak menyusulnya, namun disaat bersamaan dia juga bingung dengan tas milik temannya itu yang masih tergeletak di lantai dengan semua barang yang telah berhamburan di lantai. Sementara itu Kyu Hyun masih meringis memegangi ujung hidungnya yang mengeluarkan darah. “Demi tuhan, ada apa antara kalian berdua? Kalian benar-benar pasangan teraneh yang aku temui!” Sungut Amber kesal sambil isi memunguti tas So Eun tadi kembali. Sementara Henry tampak sibuk mencemaskan keadaan wajah Kyu Hyun yang juga memar dimana-mana.

“Hey, kau tak apa-apa?”

“Tidak apa-apa.” Dan anehnya Kyu Hyun malah terkekeh menahan geli. Hal itu tentu saja membuat semua orang disana malah menatapnya sedikit aneh seakan Kyu Hyun adalah orang yang sinting.

Lihat gadis itu. Bahkan dia sendiri tak tahu apa yang akan dia lakukan namun terus sesumbar seakan mengetahui segala hal.

“Brengsek, brengsek, Cho Kyu Hyun brengsek..” So Eun masih mengumpat dengan kesal walau kantin sudah jauh tingggal di belakangnya. Langkahnya terus ia bawa dengan cukup cepat, bahkan mendorong orang yang menghalangi jalannya ketika ia membawa langkahnya semakin cepat tanpa tujuan. Terlihat tak terlalu peduli ketika ia terus mengumpat dan mengumpat.

“Aaaarhh..” Mungkin karena saking kesalnya, So Eun sampai benar-benar tidak memperhatikan langkahnya sendiri. Alhasil gadis itu hampir terjatuh ketika ia salah menginjak, membuat salah kakinya yang masih dibalut highheel agak tertekuk dan terkilir. “Awww…” So Eun mengeluh sambil meraih dinding terdekat untuk menahan tubuhnya agar tidak jatuh. “Arrrh, sakit..”

“So Eun, kau tak apa-apa?” Seseorang tiba-tiba menghampirinya. Seseorang yang terasa begitu tak asing karena rasanya sebelumnya juga pernah menghampirinya ketika ia kesakitan begini. Seseorang bernama Lee Dong Hae, tetangga sekaligus seseorang yang pernah ditaksirnya.

“E-Eung D-Dong Hae, k-kakiku.. kurasa kakiku terkilir.”

“Benarkah?” Dong Hae terlihat melepas rangselnya, dan tanpa sungkan ia berjongkok untuk memeriksa keadaan So Eun. Untuk sejenak So Eun memerah menyadari kalau sekarang ia menggunakan rok mini jadi Dong Hae bisa saja melihatnya. “Ya, sepertinya terkilir..” Dong Hae bergumam sambil menyentuh pergelangan kaki So Eun, dimana langsung membuat gadis itu lebih meringis. “Sebaiknya dibawa ke ruang kesehatan. Aku akan membantumu disana.” Kata Dong Hae sambil kembali berdiri. “Kau bisa berjalan atau mau kugendong?”

“H-Huh, digendong? T-Tidak usah. Aku kuat berjalan.”

“Benarkah?”

“Y-Ya. Lihat in—aw..” Mencoba tetap bersikap cool, So Eun mencoba untuk berjalan. Namun kakinya seperti tak mengijinkannya hingga ia menghentikan langkahnya lagi sambil meringis. Sementara itu Dong Hae menahan tubuhnya agar tidak jatuh.

“Kau tidak bisa. Jadi, ijinkan aku mengendongmu.” Tanpa menunggu persetujuan So Eun, pemuda itu mengangkat tubuh So Eun. Jadilah kini ia berada di lengan pemuda yang sempat sangat disukainya itu yang tentu saja membuat wajahnya memerah.

“T-Tapi bagaimana tasmu?” Tanya So Eun random. Dirinya merasa begitu gugup menyadari betapa dekatnya wajah itu dengannya. Pipinya memanas.

“Tenang saja.” Dong Hae mendongak melirik salah satu dari mahasiswa yang saat ini menonton keduanya. “Maaf, apa kau bisa mengantarkan tasku ke ruang kesehatan? Aku harus menolong gadis ini.” Ucapnya padanya. Mahasiswa itu tampak langsung mengangguk menyetujuinya. “Tasmu bagaimana So Eun?”

So Eun tercekat, tiba-tiba mulai kembali mengingat apa yang tadi membuatnya lengah dan terluka begini. Hal itu juga yang membuatnya baru mengingat kalau tadi di meninggalkan tasnya begitu saja setelah melemparkannya telak ke wajah Kyu Hyun.

“H-Huh, kebetulan tadi kutinggal pada temanku.”

“Begitu? Baiklah.” Dong Hae tampak kembali berbicara dengan mahasiswa tadi sebelum akhirnya berjalan membawa So Eun menuju ruang kesehatan.

Sementara itu So Eun tak tahu apa yang saat ini dirasakannya dengan berada dalam dekapan Dong Hae begini. Tubuh Dong Hae terasa hangat, ia juga memiliki aroma yang wangi dan menenangkan. Hal itulah yang membuatnya merasa begitu nyaman ketika ia melingkarkan lengannya pada di leher Dong Hae. Menyandarkan kepalanya di permukaan bahu itu sambil terus mencium aroma tubuh Dong Hae.

Andai saja aku pacaran denganmu, pasti aku tidak akan mengalami hal seperti ini. Apa yang sebenarnya selama ini aku lakukan dengan terlibat dengan laki-laki menyebalkan bernama Cho Kyu Hyun itu.

“Ah, sakit. Sebenarnya wanita seperti apa dia?” keluh Kyu Hyun untuk kesekian kalinya sambil memegangi wajahnya. Saat ini ia tengah menyusuri lorong koridor menuju ruang kesehatan untuk meminta perawatan atas lukanya karena kulit berhiaskan bandul yang tadi dilemparkan So Eun ke wajahnya. Hidungnya saat ini masih cukup basah, dan terdapat beberapa gores di wajah tampannya itu.

Di salah satu bagian dari lorong yang ia lalui tiba-tiba ia menangkap gerombolan yang tak biasa. Namun ia hanya melewati mereka dengan tak peduli ketika samar-samar dia dapat mendengarkan apa yang mereka bicarakan.

“Apa mereka tadi pacaran? Keduanya kelihatan serasi dan mesra sekali.”

“Laki-laki itu bahkan menggendongnya, dan wanita terlihat begitu menikmati dengan memeluk dan mencium leher pemuda itu.”

“Mereka pasti pacaran.”

“Tapi apa kau tahu siapa nama pemuda tadi? Dia benar-benar tampan.”

“Setahuku dia mahasiswa dari jurusan kedokteran yang bernama Lee Dong Hae. Kalau perempuannya aku tidak tahu.”

“Sepertinya aku pernah melihatnya di kelas teater dan film.”

Kyu Hyun terus berjalan tanpa memperdulikan orang-orang kurang kerjaan itu.

Sesampainya di ruang kesehatan Kyu Hyun langsung memasuki salah satu kamar. Ia tak melihat satu petugaspun di depan meja, namun dia terlihat tak terlalu peduli karena sebagai mahasiswa kedokteran ia tentu tahu apa yang harus ia lakukan. Kyu Hyun pun segera memeriksa sebuah lemari yang berada di di ruangan itu untuk mencari First Aid Kat.

“Ini dia.” Kyu Hyun bergumam puas setelah menemukan kapas dan obat luka di dalam kotak tadi. Ia pun segera naik ke atas tempat tidur setelah membuka sepatunya. Di saat itu ia baru menyadari kalau di kamar sebelah yang hanya dibatasi kain ini ada orang lain yang sepertinya juga tengah dirawat.

“Pelan-pelan..” suara seorang wanita yang berbisik pelan terdengar di telinganya, walau ia tak terlalu menyimaknya karena sibuk mengobati luka di wajahnya.

“Ya, aku akan pelan-pelan. Aku janji.”

Kali ini Kyu Hyun cukup menyimaknya, dimana ia langsung dahi heran. Diliriknya kain putih yang membatasinya dengan kamar sebelah.

Apa-apaan, bermesraan di ruang kesehatan. Dasar.

Kyu Hyun mengangkat bahu tak peduli. Pemuda itu melanjutkan kegiatannya membersihkan luka di wajahnya sebelum sebuah teriakan mengagetkannya.

“Aah, sakit.. Dong Hae. Pelan-pelan.”

Kyu Hyun melirik tirai tadi lagi, kali ini terlihat seperti memikirkan sesuatu seperti ia berusaha mengingat sesuatu.

“Aku sedang berusaha So Eun. Tapi kalau tidak ditahan maka tidak akan selesai.”

Kyu Hyun kali ini benar-benar tersentak setelah pada akhirnya mengingat suara siapa yang sempat dipikirkannya tadi. Kali ini ditatapnya lagi tirai itu, sesuatu yang berbeda mulai berkumpul membentuk ekspresi yang sulit dijelaskan di wajahnya.

“Tapi sakit sekali Dong Hae. Aku tak tahan.”

Tak bisa dibiarkan.

Kyu Hyun melempar obat-obatan di tangannya dan lebih bergeser ke atas tempat tidur berniat untuk meraih tirai putih itu dan menyingkirkannya. Dia akan menangkap basah apa yang telah dilakukan So Eun di belakangnya.

“Tapi kalau tidak dipijat, kakimu bisa membengkak dan malah tambah sakit.”

Huh?

Kyu Hyun mengulurkan niatnya hendak membuka gorden, menarik tangannya kembali begitu mendengar ucapan Dong Hae barusan.

“Yang namanya terkilir harus diobati begini. Memang sakit di awal tapi akan membaik seiring berjalan waktu.”

Terkilir?

Kyu Hyun mundur menjauh gorden, beringsut pelan agar tidak menimbulkan suara. Telinganya saat ini ia pasang lebih tajam untuk mendengarkan pembicaraan kedua orang itu.

“Sebagai gantinya kau boleh mencakar atau menarik rambutku.” Dong Hae terkekeh, disambut suara tawa So Eun. Sementara Kyu Hyun hanya terdiam di tempatnya, tiba-tiba saja ia malah mengingat hal yang lain.

“Kyu, sakit.” So Eun meringis di bawahnya sambil menggigit pelan bibirnya. Jemari lentik dan kurusnya kini mencakar kulit punggung Kyu Hyun dan sesekali mencengkeram rambut brunette-nya kuat.

Kyu Hyun terdiam sambil melirik tirai pembatas itu kembali.

“Kalau begini tidak apa-apa?”

“H-Hum.. kalau begini tidak terlalu sakit. Awww…”

“Syukurlah..”

Suasana berjalan tak biasa bagi Kyu Hyun dalam beberapa saat. Selama itu, pemuda tampan itu tampak hanya terdiam sambil mendengarkan apa yang terjadi di beberapa meter darinya itu. Terlihat tak mengatakan apapun ataupun melakukan apapun selain menguping pembicaraan.

“So Eun, apa aku boleh menanyakan sesuatu?” Suara Dong Hae kembali terdengar setelah keduanya hening beberapa saat karena sibuk mengobati kaki So Eun. Hal itu membuat kuping Kyu Hyun lebih berdiri seperti mengantisipasi sesuatu.

“A-Apa?”

“Kenapa tadi kau memeluk leherku?”

“H-Huh?” Suara So Eun terdengar begitu kaget, bercampur panik. Terasa bersamaan dengan Kyu Hyun yang tiba-tiba saja membesarkan matanya mengingat pembicaraan mahasiswa yang tadi berpapasan dengannya ketika hendak kemari.

“Kenapa aku merasa seperti kau memberikan sebuah tanda tertentu padaku? Seperti, kau sengaja menyentuhku atau sebagainya.”

“D-Dong Hae…”

Keheningan yang sama lagi. Kyu Hyun sangat membencinya.

“T-Tidak. Aku tidak bermaksud marah atau sebagainya. Tapi, bukankah kau pacaran dengan Kyu Hyun? Tapi kenapa aku merasa bahwa kau seperti memberikan tanda tertentu padaku? Aku tak mengerti.”

“Dong Hae…”

“Selama ini aku selalu merasakan bahwa kau memendam sesuatu padaku, sejak lama mungkin sejak kita masih di SMA. Selama itu aku begitu penasaran, aku ingin tahu pemikiran dan perasaan seperti apa itu. Namun suatu hari aku mendengar kalau kau sudah bersama laki-laki lain. Sejak saat itu aku mulai meragukan firasatku itu. Bersamaan dengan penyesalan lain yang kurasakan..”

Suara langkah yang terdengar bersama suara pergerakan kecil di tempat tidur. Kyu Hyun tanpa sadar menoleh ke arah tirai putih itu kembali. Terlihat penasaran dan cemas tiba-tiba.

“So Eun, aku menyukaimu. Aku terlalu bodoh karena terlambat menyadarinya ketika kau sudah bersama orang lain.”

“D-Dong Hae?”

Kyu Hyun menggigit bibir bawahnya, terlihat semakin cemas untuk mengetahui kelanjutannya. Atau bahkan mungkin, ia cemas karena ia tak ingin mengetahui kelanjutannya.

“Tapi kau tidak perlu bingung. Aku tak punya maksud lain selain menyatakannya karena aku tahu kau masih dengan Kyu Hyun. Aku hanya merasa kalau sudah saatnya aku mengatakan hal ini padamu. Ini adalah waktu yang tepat.”

Suara hening yang sama, suara hening yang bagi Kyu Hyun terasa sangat menganggu karena membuatnya tak tahu apa yang tengah terjadi dan membuatnya harus menerka-nerka.

“Ya sudah, kakimu sudah kuobati. Sekarang sebaiknya kau beristirahat dulu, sementara aku harus masuk kelas. Nanti siang aku akan kesini lagi melihat keadaanmu.”

“Ya. Terima kasih atas bantuanmu, Dong Hae.”

“Kau tak perlu berterima kasih, So Eun.”

Lagi-lagi terdengar suara kekehan, suara langkah, dan suara deritan ranjang tempat tidur. Tak lama kemudian Dong Hae pergi, meninggalkan kembali keheningan di ruangan yang kini hanya dihuni dua orang itu.

“Itulah mengapa aku selalu menyukainya. Dia benar-benar laki-laki yang sempurna.”

Gumaman So Eun itu singgah ke telinganya, membuat sesuatu yang sejak tadi terasa tertahan di dadanya mulai seperti terbuka sumbatnya. Mungkin hal itulah yang membuat Kyu Hyun beringsut, menarik tirai yang membatasi dirinya dan gadis yang masih menjadi kekasihnya itu.

“K-Kau…” So Eun tampak menatapnya kaget dan setengah tak percaya.

So Eun meremas tangannya cukup erat, merasakan bagaimana kini tangannya itu telah basah oleh keringat. Matanya terus menatap Dong Hae yang saat ini telah memakai ranselnya lagi dan berniat pergi, setelah beberapa menit yang lalu sukses membuat So Eun hampir pingsan karena pengakuannya.

“Ya sudah, kakimu sudah kuobati. Sekarang sebaiknya kau beristirahat dulu, sementara aku harus masuk kelas. Nanti siang aku akan kesini lagi melihat keadaanmu.” Ucapnya sambil tersenyum dengan sangat tulus. Ekspresi pemuda itu terlihat santai, padahal dia baru saja membuat pengakuan pada So Eun beberapa menit yang lalu.

“Ya. Terima kasih atas bantuanmu, Dong Hae.” Sahutnya pelan yang saat ini hanya bisa tersenyum canggung padanya. Dong Hae lagi-lagi tersenyum.

“Kau tak perlu berterima kasih, So Eun.” Pemuda itu terkekeh sambil bergerak menuju So Eun lagi, mengacak rambut So Eun pelan sebelum akhirnya bergerak meninggalkan tempat itu. Lagi-lagi pemuda itu tersenyum dan melambaikan tangan sebelum ia benar-benar pergi.

Suara langkah menjauh Dong Hae terdengar memelan, sama dengan detak jantungnya yang juga terasa lebih pelan dan bisa dikendalikan. So Eun mendesah panjang, mengelus dadanya sendiri yang masih berdebar.

“Itulah mengapa aku selalu menyukainya. Dia benar-benar laki-laki yang sempurna.” Gumam gadis itu pelan sambil tersenyum kecil. Tapi tak lama senyumannya itu memudar ketika ia mengingat sesuatu. Perlahan dielusnya perut datar miliknya.

Tapi dengan keadaanku sekarang, tidak mungkin. Lagipula aku dan Kyu Hyun masih—

Lamunan So Eun terhenti ketika mendengar suara tirai pembatas ruangan yang ditarik dengan cukup kasar. Ketika ia menoleh, So Eun terkejut. Mata gadis itu langsung membesar menyadari siapa yang saat ini tengah balas menatapnya.

“K-Kau…”

Kyu Hyun melompat dari ranjang pasien yang didudukinya. Pemuda itu lalu beranjak ke arah So Eun dengan ekspresi dingin di wajahnya. Hal yang membuat So Eun menelan ludahnya tanpa sadar.

Jangan bilang kalau dia mendengarnya…

“Tempat ini panas dan bau sekali, benar-benar tidak nyaman. Namun sepertinya hal itu tidak berlaku padamu.” Kata Kyu Hyun datar dan terdengar menyindir.

Dia mendengarnya….

“Kau dengar semuanya? Kalau iya seharusnya kau tak perlu salah faham atau sebagainya karena seharusnya kau tahu kalau aku tidak melakukan apa-apa.”

“Mendengar apa? Mendengar tentang kau yang ternyata juga menyukainya dan dia laki-laki yang sempurna…”

Tatapan keduanya kembali bertemu. Terasa tajam dan dingin. Keheningan juga mendominasi sesaat, memasuki ruangan yang hari ini terasa begitu kering itu.

“Nyatanya itu memang faktanya, bukan? Kalian sama-sama calon dokter, tapi bukannya dirimu kenapa pada akhirnya dialah yang mengobati kakiku. Kemana kau saat kubutuhkan?” jawab So Eun dingin. Mengalihkan matanya tak mau menatap Kyu Hyun. Dia tak melihat ketika Kyu Hyun memiliki senyuman sinis di wajahnya saat ini.

“Dimana aku? Aku berada di kantin, menahan sakit ketika kau melempar dan melukai wajahku seperti ini.”

“Aku melemparnya juga karena kesalahanmu sendiri—“

“Bukan hanya salahku. Kita berdua yang salah. Semuanya tidak akan terjadi kalau tidak karena kita berdua!” Kyu Hyun memotong cepat, nadanya terdengar tinggi. Wajah pemuda itu terlihat serius ketika ia bergeser mendekati So Eun. Duduk di pinggiran tempat tidur. “Masalahnya datang darisini, ketika aku ingin kita membicarakan masalah kita hanya berdua begini namun kau malah berfikir aku tak punya nyali untuk bertanggung jawab. Sekarang bagaimana kalau kita menyingkirkan segala jenis ego itu dan memikirkan semuanya kembali.”

“Memikirkan apalagi? Membicarakan apa lagi?”

“Kita sudah benar-benar tidak cocok, tak peduli alasan apa yang membuat kita saling menyukai dulu namun semuanya saat ini terlupakan begitu saja karena masalah ini datang dan kita mulai menunjukkan diri kita masing-masing di tengah kepanikan. Kita sudah tidak cocok lagi. Kita harus mengakiri ini semua, kita harus putus. Tapi masalahnya sekarang, kita tak bisa melakukannya begitu saja setelah apa yang kita lakukan pada waktu itu dan berakibat…” Kyu Hyun menggantung ucapannya panjang lebarnya di suatu titik penting. Diliriknya sekilas perut So Eun yang tertutupi selimut, dimana tak lama ia kembali menatap So Eun. “Kita harus melakukan sesuatu dengan itu. Kita harus bertanggung jawab setidaknya padanya.”

“Memangnya kau mau menikahiku? Kau mau menghentikan mimpi dan cita-citamu itu? Huh, aku tahu kau tak menginginkannya. Akupun juga tak ingin menjalani hubungan seperti ini lebih lama.”

“Lalu apa yang kauinginkan? Atau… jangan bilang kalau kau…”

“Aku tak punya pilihan lain lagi. Kita sama-sama tahu kalau kita tidak menginginkannya.”

Kyu Hyun terdiam dalam beberapa saat, tidak dapat mengatakan apapun. Terus ditatapnya So Eun yang terlihat tak betah menatap matanya. So Eun sepertinya tak ingin membahas lebih lama mengenai hal ini.

“Baiklah. Sepertinya itulah yang terbaik.” Kyu Hyun bergumam. “Kapan kau akan melakukannya. Aku akan menemanimu setidaknya—“

“Aku tak mau ditemani.”

Kyu Hyun terdiam lagi, menganggukkan kepalanya. Walau baru berhubungan tiga bulan namun ia cukup tahu sikap So Eun. Termasuk saat dia bersikeras dan tak mau dibantah seperti ini.

“Baiklah. Jadi kita putus disini? Begini?”

So Eun tak menyahut. Masih betah berpaling menatap gorden polos berwarna putih lainnya yang terbentang membatasinya dengan ruangan lain di sebelahnya.

“Sepertinya begitu. Baiklah, berarti mulai sekarang kita sudah tak punya hubungan lagi.” Kyu Hyun bergeser meraih ranselnya yang tertinggal di atas tempat tidur yang tadi. Kembali melirik So Eun lagi sebelum benar-benar meninggalkan tempat itu. “Aku pergi. Jaga dirimu.” Ucapnya benar-benar untuk terakhir kalinya. Kyu Hyun benar-benar meninggalkan tempat itu.

Sementara itu So Eun juga tak mengatakan apapun atau bereaksi apapun. Gadis itu bahkan tak mengalihkan pandangannya dari tirai putih tadi ketika mendengar suara langkah Kyu Hyun yang kian menjauh.

THE END

 

 

 

 

 

 

 

BECANDA😄

*

Setelah kejadian itu So Eun dan Kyu Hyun kembali tidak lagi bertemu selama lebih dari satu minggu. Kyu Hyun tak tahu bagaimana dengan So Eun, namun kalau dirinya sendiri telah mengakui dengan jujur tentang status hubungannya yang telah berakhir pada Henry. Kyu Hyun yakin Henry juga telah menyampaikannya pada Amber.

Sekarang yang Kyu Hyun lakukan adalah kembali sibuk mempersiapkan thesisnya. Walau tak ingin ia mengakuinya, namun sebenarnya setelah putus dari So Eun ia bisa lebih fokus mengerjakan thesisnya tersebut. Walau tentu saja beberapa kali ia sempat terfikirkan tentang hubungannya dengan So Eun yang membuat sesuatu tak nyaman menggantung di dadanya.

So Eun juga tidak tahu bagaimana khabar So Eun. Dia tak tahu apa So Eun sudah melakukan aborsi atau belum. Sejujurnya pernah beberapa kali Kyu Hyun ingin menanyakannya dengan menghubungi So Eun, namun ia akhirnya tidak jadi melakukannya setelah mengingat kalau So Eun tidak suka diusik. Apalagi ketika mengingat bagaimana waktu itu So Eun terlihat sama sekali tak mau meladeninya di pembicaraan terakhir mereka.

Kini Kyu Hyun hanya akan hidup dengan cara begini saja. Ia tak mau menatap ke belakang lagi ataupun menerka masa depan. Ia akan melakukan apa yang bisa ia lakukan.

Kyu Hyun menghentikan lamunannya di suatu titik, terdiam begitu menangkap sosok Dong Hae yang berjalan ke arahnya. Kyu Hyun merasakan gejolak tak tentu di dalam dirinya namun ia mengacuhkannya ketika ia tetap melanjutkan jalannya mendekati Dong Hae yang juga berjalan ke arahnya. Tatapan keduanya sempat bertemu bersama suara yang terasa berjalan terlalu lambat dari sebelumnya. Hingga akhirnya mereka berselisih jalan.

“Cho Kyu Hyun!” Dong Hae memanggilnya ketika mereka baru saja saling melewati. Hal itu membuat Kyu Hyun menghentikan langkahnya dan melirik pemuda itu. “Bagaimana khabar So Eun? Apa kakinya sudah sembuh?” Tanya Dong Hae.

Kyu Hyun tak menyahut, hanya memperhatikan Dong Hae sejenak dengan cukup lama. Sebenarnya kalau dilihat-lihat dia tak kalah tampan dari Dong Hae ini. Tapi memang pemuda perhatian ini menang banyak dari pemuda cuek sepertinya sehingga mungkin itu sebabnya So Eun lebih menyukainya. Semua perempuan suka yang begitu, bukan? Laki-laki yang penyayang dan perhatian.

Tapi walau aku bukan orang yang perhatian tapi bukan berarti aku tidak penyayang. Kim So Eun melupakan itu.

“Kenapa kau menanyakan padaku? Kudengar kau tetangganya.”

“Tidak lagi. Sekarang aku sudah tinggal di apartemen sendiri. Lagipula selama beberapa hari ini aku tak bisa kuliah karena mengikuti kegiatan sosial.”

Kegiatan sosial, huh? Benar, itulah beda dirinya dan Dong Hae yang kali ini terlihat terlalu jauh. Hal ini membuatnya mengingat saat So Eun mengatakan walau mereka sama-sama calon dokter tapi Dong Hae lah yang menolongnya yang terluka pada waktu itu. Bukan dirinya.

Aku memang kalah jauh. Selain terlambat bertemu dengannya sehingga bukanlah orang yang menjadi cinta pertamanya, aku juga tak bisa menyelamatkannya. Aku tak cukup mampu membuktikan diriku padanya walau juga terlihat kalau dia juga tak pernah memberikan waktu untukku membuktikan hal ini padanya. Kenapa dia begitu pemilih? Karena dia menyukai Dong Hae kenapa dia selalu bersikap lembut pada Dong Hae dan temperamental terhadapku.

Haaaah, kami benar-benar tidak pernah cocok.

“Aku tak tahu. Aku dan Kim So Eun sudah tak memiliki hubungan lagi.”

Dong Hae tampak terkejut, hal yang membuat Kyu Hyun meringis dalam hati. Ekspresi terkejut Dong Hae terlihat benar-benar tulus walaupun Kyu Hyun tahu dia mengharapkan So Eun. Padahal kalau hal itu terjadi pada Kyu Hyun dia tak akan bisa menyembunyikan ekspresi senangnya kalau gadis yang selama ini disukainya ternyata telah kembali sendiri. Atau apakah Dong Hae hanya berpura-pura? Tidak, dari awal Dong Hae memang orang baik dan itu terlihat dari caranya mengungkapkan perasaan pada So Eun waktu itu.

Sempurna, huh? Jadi itu mengapa So Eun menganggap Dong Hae sempurna dan berbalik menatapku penuh cela. Huh, dilihat darimana pun mereka lebih cocok satu sama lain.

“Ya sudah, aku pergi. Kalau kau penasaran tentangnya kenapa tak menanyakan langsung padanya.” Kyu Hyun mengucapkan salam selamat tinggal sambil melanjutkan jalannya tadi. Kini segalanya kembali berkecamuk di dalam fikirannya dan ia tak menyukainya.

“Sebenarnya akhir-akhir ini kau kenapa? Kenapa wajahmu terus terlihat pucat?” Tanya Amber sambil menatap So Eun khawatir. Keduanya hari ini baru saja sampai di kampus dan berjalan menuju ruangan tempat mereka akan belajar. “Aku juga tak mengerti kenapa kau dan Kyu Hyun putus begitu saja. Aku tak mengerti apa masalahnya.”

“Kami sudah tak cocok.”

“Tapi pasti ada penyebabnya mengapa kalian berfikir begitu. Aku tak mengerti.”

So Eun tak menyahut, ia malah menyentuh pelan perutnya. Sebenarnya beberapa hari yang lalu So Eun pernah mengunjungi klinik aborsi untuk melanjutkan niatnya. Namun ia membatalkan niatnya itu karena menyadari ia tak terlalu siap dan takut. Rasanya pasti akan menyeramkan kalau kesana sendiri sementara selain Kyu Hyun tidak ada lagi yang tahu. Sementara ia waktu itu telah menolak mentah tawaran Kyu Hyun.

Aku seharusnya tidak menolaknya. Waktu itu aku terlalu sesumbar dan emosi.

So Eun mendesah begitu harus kembali mengingat Kyu Hyun. Sebenarnya ia tak menyesali keputusan mereka untuk berpisah. Ia setuju memang begitulah yang terbaik bagi keduanya. Hanya saja, dalam beberapa hal yang ia tahu mengingat Kyu Hyun tetap saja membutnya merasa tak nyaman. Mungkin hal itu berkaitan dengan cara berakhir hubungan mereka yang sangat tragis.

“Tapi, apa setelah putus kau pernah bertemu Kyu Hyun lagi?”

“Tidak. Lagipula untuk apa lagi aku bertemu dengannya.”

“Huh, aku tak mengerti dengan kalian berdua. Dulu, aku sengaja mengenalkanmu dengannya karena menurutku kau harus berhenti memiliki perasaan pada Dong Hae yang tak pernah menyadari kehadiranmu. Aku berhasil, sejak awal aku tak mengerti apa alasanmu menyukainya namun aku senang ketika akhirnya kau berpcaran dengannya. Walaupun kalian sering bertengkar dan berdebat tapi kalian memiliki hubungan yang terlihat sangat menjanjikan. Tapi entah kenapa beberapa minggu ini entah karena alasan apa kalian bertengkar hebat seperti ini dan akhirnya memutuskan untuk putus. Padahal baru beberapa hari sebelum itu kau terlihat lebih mesra dari biasanya. Kau ingat? Kau bahkan pernah berniat untuk memasakannya makanan untuk mendukung thesisnya.”

So Eun tampak menghentikan langkahnya dan tertunduk. Sekarang disebutkan, ia baru kembali mengingat bahwa memang dulu ia sempat belajar memasak makanan untuk membantu Kyu Hyun yang sibuk dengan tugas akhirnya. Pada saat itu ia berniat memberi kejutan pada Kyu Hyun dan memberikan dukungan secara lebih nyata. Hanya saja, ditengah jalan, ketika ia mengetahui kenyataan bahwa ia hamil ia jadi melupakan semua itu. Setelah itu hanya sibuk menyesali dirinya sendiri ataupun menerawang masa depannya selanjutnya.

“Kita sudah benar-benar tidak cocok, tak peduli alasan apa yang membuat kita saling menyukai dulu namun semuanya saat ini terlupakan begitu saja karena masalah ini datang dan kita mulai menunjukkan diri kita masing-masing di tengah kepanikan”

Ucapan Kyu Hyun terngiang di telinganya, membuat ia tersenyum miris karena harus mengakui kalau semua itu benar adanya.

“Tidak ada alasan khusus. Waktu itu kami memutuskan untuk saling bersama karena kami merasa cocok lalu sekarang semuanya berakhir ketika kami sudah merasa tidak cocok.”

“Ayolah, jangan berlelucon. Kau tahu bukan kalau aku bukan tipe orang yang akan mempercayai hal-hal seperti itu. Aku dan Henry juga cocok, tapi kami tak pernah berfikir untuk berpacaran seperti kalian. Huh, membayangkan saja aku jijik.”

So Eun terdiam, merenungi ucapan Amber itu lagi dan menanyakannya pada hati kecilnya. Sebenarnya apa yang membuatnya dan Kyu Hyun akhirnya memutuskan bersama waktu itu? Hal apa yang membuat mereka saat itu berfikir kalau mereka cocok dan selayaknya bersama.

“Aaah, sial. Aku lupa mencabut kunci mobil.” Amber tiba-tiba berdecak. Keduanya menghentikan langkah di tengah koridor. “So Eun, kau duluan saja ke kelas nanti kususul. Aku harus ke pakiran lagi dan mencabut kunci mobil.” Tanpa menunggu sahutan Amber langsung berlari ke arah tadi lagi. Sementara So Eun hanya geleng-geleng kepala sambil melanjutkan jalannya. Namun baru beberapa langkah ia menghentikan langkahnya kembali, gadis itu tertegun menatap sebuah bangku yang terletak di sudut koridor. Sesuatu tiba-tiba terlintas di fikirannya.

“Hey, kau disini juga?” Suara yang lembut itu menyapanya. Membuat So Eun menoleh ke belakang dan menemukan Kyu Hyun berdiri tak jauh darinya.

“Di dalam membosankan. Amber keterlaluan, dia mengajakku kesini lalu setelah itu mengacuhkanku begitu saja.”

“Henry juga sama.” Kyu Hyun terkekeh sambil mendudukkan diri di samping So Eun. Keduanya lalu kini memandang lurus ke hadapan mereka dimana dari sini pemandangan kota Seoul terlihat cukup indah. Apalagi mengingat saat ini mereka tengah berada di atap bangunan café mewah yang berada di pusat kota. “Pemandangan disini cukup bagus.”

“Benarkan? Setidaknya disini lebih tenang daripada pertemuan para palajar asing yang dihadiri oleh teman-teman kita di bawah.”

“Benar. Aku kadang tak mengerti apa yang mereka katakan.”

“Sama.”

Keduanya tertawa bersama. Sebelum akhirnya kembali terdiam dan kini keduanya tampak saling tersenyum.

“Kudengar kau dari jurusan film.”

“Ya, dan kau jurusan kedokteran?”

“Benar.”

“Huh, kedokteran ya? Seperti seseorang…”

“Seseorang? Seseorang siapa?”

“Bukan apa-apa. Lupakan.”

Keduanya tampak kembali tertawa.

So Eun terdiam, masih terpaku menatap bangku tadi ketika tiba-tiba ia mengingat satu bagian kenangannya dengan Kyu Hyun. Ia tersenyum miris sambil melanjutkan jalannya.

“HEY AWAS!!”

So Eun belum terlalu mengerti. Namun beberapa orang tiba-tiba seperti meneriakinya ketika di saat bersamaan sesuatu jatuh ke arahnya.

“Kyu! Kyu Hyun!!” Amber berlari dengan cukup panik ke arahnya. Membuat Kyu Hyun yang awalnya sedang berbicara dengan Henry menghentikan pembicaraan mereka. Keduanya kini beralih pada Amber. “Kyu, kau harus melihat So Eun, Kyu. Barusan kudengar kalau dia tertimpa pot bunga yang tersenggol tak sengaja dari lantai dua.”

“Apa?” Kyu Hyun tampak kaget. Berdiri dari tempat duduknya. “Tertimpa bagaimana?”

“Aku juga tak tahu pastinya. Tadi aku meninggalkannya karena harus mengambil kunci mobilku. Tapi ketika aku kembali semua orang sudah heboh. So Eun juga sudah dibawa ke rumah sakit.“ jelas Amber ragu dan panik, namun menyadari Kyu Hyun tak terlalu bereaksi dan malah menunduk ia tiba-tiba ingat sesuatu. “A-Aku tahu kalau kalian sudah putus, tapi—“

“Kalau tertimpa dari atas maka kemungkinan terbesar yang mengenainya adalah kepalanya. Itu sangat fatal.” Gumam Kyu Hyun memotong ucapannya. Namun tak lama ia mengingat sesuatu yang lainnya. “Kandungannya juga bisa dalam bahaya.”

“A-Apa? Apa maksud—“

Henry dan Amber sama-sama tak mendapatkan penjelasan apapun ketika Kyu Hyun segera meninggalkan tempat itu dengan tergesa-gesa. Keduanya saling memandang satu sama lain, ekspresi yang sama terlihat di wajah keduanya.

“K-Kau tadi juga mendengar yang dia katakan bukan?”

Kyu Hyun tampak tergesa-gesa menyusuri koridor rumah sakit tempat dimana So Eun dilarikan. Barusan saja ia mendapatkan alamat kamar So Eun dari bagian informasi dan kini ia mulai sibuk untuk mencarinya. Wajah pemuda itu terlihat begitu penuh dengan kecemasan.

Banyak hal yang memenuhi fikirannya saat ini, namun ia berusaha tidak terlarut dulu saat ini dan berniat menemukan So Eun dahulu. Hingga akhirnya setelah melihat salah satu ruangan dimana ada beberapa orang yang berkumpul di depannya, ia segera mendekat kesana.

“Dia bagaimana?” Tanya Kyu Hyun tak sabar. Namun saking tak sabarnya ia, Kyu Hyun bahkan tak menunggu jawaban akan pertanyaannya ketika ia membuka pintu inap So Eun begitu saja. Beberapa mahasiswa yang satu kampusnya itu meneriakkannya.

Kyu Hyun berusaha mengendalikan nafasnya yang tersengal, menatap ruangan tersebut dan menemukan ternyata dokter dan dua suster di dalam masih memeriksa So Eun. Sementara itu So Eun tampak ikut menoleh ke arah pintu yang terbuka tiba-tiba.

“Cho Kyu Hyun?”

Kyu Hyun merasa salah tngkah. Menyadari kalau dia terlalu panik hingga dengan tak sopan memasuki ruangan begitu saja ketika dokter masih bekerja di dalam. “M-Maaf, saya akan menunggu di luar.”

“Tidak apa-apa. Pemeriksaannya juga baru selesai. Silahkan masuk.”

Kyu Hyun menatap So Eun, dimana So Eun juga menatap bingung padanya. Namun akhirnya Kyu Hyun memutuskan untuk memasuki ruangan itu dan menutup kembali pintunya. Sekali lagi ditatapnya So Eun, sebelum beralih kembali pada dokter wanita tadi.

“Bagaimana keadaannya?”

“Dia hanya shock. Beruntung pot bunga itu jatuh di sampingnya. Jadi dia tidak terkena apapun selain beberapa serpihan pot bunga yang menggores kakinya.”

“Haaah, syukurlah.” Kyu Hyun mengangguk, tampak mulai tersenyum lega. Diliriknya So Eun yang tampak masih seperti heran dan bingung dengan kehadiran laki-laki itu. “Lalu… bayinya… bagaimana?” Kyu Hyun bertanya dengan sangat ragu dan nyaris tak terdengar.

“Bayi? Bayi apa, tuan?”

Kyu Hyun menoleh pada So Eun, dimana So Eun tampak juga sedikit kaget. Sedikit berusaha untuk bangun dari posisinya. “Bayi di dalam tubuhku. Aku sedang mengandung sekitar empat minggu.”

“Kami tidak menemukan adanya bayi, tuan nyonya. Anda tidak tengah mengandung sama sekali.”

Kyu Hyun dan So Eun kembali saling bertatapan, keduanya tampak kehabisan kata-kata.

“T-Tapi, ketika kuperiksa dengan alat tes kehamilan. Disana tertulis positif..”

“Begini saja, kami akan memeriksanya kembali untuk anda. Tapi sejauh yang saya lihat anda sama sekali tidak tengah hamil. Adapun mengenai alat tes kehamilan tersebut, itu tidak mutlak. Kami juga beberapa kali menemukan kasus yang sama dimana sepertinya ada yang salah dengan alatnya yang mungkin terjadi kesalahan memproduksi atau sebagainya. Tapi kami akan memeriksa USG agar anda yakin.”

“Jadi kemungkinan besar memang tidak hamil?” Tanya Kyu Hyun masih bingung dengan yang saat ini terjadi.

“Tapi aku sering merasa mual dan pusing. Bukankah itu pertanda kehamilan? Aku juga belum datang bulan selama bulan ini.”

“Benar, tapi bukan berarti semua pusing dan mual itu karena tengah hamil, nyonya. Dari saya lihat, anda sepertinya sempat melakukan metode diet yang tidak sehat sehingga membuat ketahanan tubuh anda begitu terganggu. Anda mungkin berpikir kalau anda sedang hamil, dan ketika memeriksanya hasil ternyata positif sehingga hal itu sepertinya membuat anda stress dan akhirnya membuat kondisi tubuh anda memburuk. Hal itulah yang membuat anda begitu lemah dan sering mual. Mengenai datang bulan, memang beberapa kali juga ada kasus pengaduan yang serupa. Kemungkinan itu berhubungan dengan metode diet tak sehat yang pernah anda lakukan.”

“Apa?” So Eun benar-benar tak percaya dan tak habis fikir. Jadi selama ini dia sama sekali tak hamil? Semuanya bermula karena alas tes kehamilan yang dibelinya mungkin sudah bermasalah sejak awal. Gadis itu benar-benar tak habis pikir.

“Kalau anda masih tidak yakin kita bisa melakukan tes USG, nyonya.”

“Dia masih seorang ‘nona’, dokter..” Kyu Hyun terkekeh menyahuti ucapan dokter muda itu. Wanita itu langsung sedikit panik.

“Maksud kami, nona-Kim. Menurut kami anda tidak hamil. Tapi kalau anda tidak percaya kita bisa memeriksanya kembali tapi sekarang anda lebih baik beristirahat dulu. Tenangkan pikiran anda.”

“Terima kasih, dokter.”

Dokter dan kedua perawat itu akhirnya meninggalkan tempat itu setelah memberi hormat. Jadilah kini tinggal So Eun dan Kyu Hyun di dalamnya. Terdiam canggung sambil menatap satu sama lain.

“Kau sudah tak apa-apa?” Tanya Kyu Hyun dengan canggungnya. So Eun tampak menganggukkan kepalanya.

“Seperti yang kau lihat. Aku tadi hanya sedikit shock.”

Kyu Hyun mengangguk lebih mendekati So Eun. Ditariknya salah satu bangku disana dan duduk di samping So Eun. So Eun tampak menatapnya heran dan sedikit canggung.

“Apa kau butuh sesuatu? Mungkin makanan?” tawar Kyu Hyun berusaha meredakan kecanggungan. Namun So Eun menggelengkan kepalanya cepat.

“Tidak terima kasih. Sebelum kuliah tadi aku sudah sarapan.”

“Hum..” Kyu Hyun bergumam, mengalihkan pandangannya menuju perut So Eun yang tertutup di balik kain. Suasana kembali terasa canggung ketika ia tak tahu harus mengatakan apa selanjutnya, begitupun So Eun. “Jadi… dari awal semua ini hanya kebodohan yang ceroboh. Benar-benar miris sekali karena kita jatuh di dalamnya dan membuat kita menunjukkan betapa tidak dewasanya kita dalam hal itu. Mungkin itu diumpamakan sebagai alat ukur tentang kecocokan kita menjalani hubungan kita dulu.”

So Eun terdiam, tak mengatakan apapun. Matanya dari tadi berfokus pada pola yang terbentuk menghiasi selimutnya. Ia agak sungkan untuk menatap Kyu Hyun. “Walaupun begitu… aku merindukanmu. Apa kau tak merindukanku?” Tanya So Eun. Pelan. Ambigu.

Kyu Hyun melirik So Eun, tersenyum kecil menyikapi ucapan So Eun. “Aku berlari kesini seperti orang gila karena aku berpikir bahwa kau terluka parah. Anehnya, di saat bersamaan aku juga merisaukan ‘bayi’ yang ada di perutmu. Padahal aku sendiri telah setuju untuk menyingkirkannya.”

“Jadi, apa artinya kau juga merindukanku selama kita putus?” Tanya So Eun masih dengan nada datar dan ambigu yang sama.

“Apa kau sekarang sedang mengajakku untuk balikan?” Tanya Kyu Hyun balik. Menantang. Pertanyaannya itu membuat So Eun mendengus pelan dan membuang wajah. “Aku bukan laki-laki sempurna seperti yang kau lihat pada cinta pertamamu. Dan lagi, walaupun aku calon dokter jenius, aku tak bisa menjamin kalau aku bisa berada di sekitarmu ketika kau membutuhkanku. Aku—“

“Kau keluar dari konten. Aku bertanya apa kau merindukanku setelah semua yang terjadi atau tidak.”

“Kau masih sama, nona-Kim So Eun. Kau selalu hanya meminta orang lain untuk menjawab kepuasanmu tanpa mendengarkan sudut pandang mereka. Dari awal, kita selalu meributkan hal ini dan ini.”

“Jadi intinya kau tak merindukanku.”

“Aku merindukanmu, tentu saja. Tapi kalau kita terus seperti ini maka pada akhirnya hubungan kita akan terus berjalan seperti ini. Kita tidak cocok, kau tak mengerti perasaanku, ayo putus. Apa memangnya yang bisa diharapkan dengan hubungan seperti itu.”

So Eun tak mengatakan apapun lagi, memilih terus membuang wajah dari Kyu Hyun yang masih tinggal di sisinya. Banyak hal yang mengitari fikiran dan perasaannya saat ini. Ia yakin Kyu Hyun juga sama.

“Aku sangat menyukaimu. Apa kau pernah menyukaiku?” Kyu Hyun tiba-tiba memecah keheningan. So Eun menoleh lagi padanya. Terlihat sengit.

“Apa ucapan seperti ‘Aku merindukanmu’ tidak menjelaskan apapun padamu.”

“Mereka berbeda. Kau bisa saja merindukanku karena kau ingin mengajakku berdebat atau bertengkar.”

“Jangan membuatku tertawa..” So Eun berdecak sarkatis pada Kyu Hyun.

“Lee Dong Hae bagaimana? Bagaimana kalau dia datang dan memintamu untuk menjadi kekasihnya.”

“Dari awal aku tak berselingkuh, kau pun dengar sendiri. Aku mengakui kalau aku menyukainya, namun segala hal berbeda seiring berjalannya waktu. Aku punya kau, kalau kau masih bersamaku maka aku juga akan selalu bersamamu.”

“Tapi hal itu tidak menjelaskan bagaimana perasaanmu pada kami berdua sebenarnya.”

“Oleh sebab itu aku bertanya padamu saat ini. Apa kau merindukanku? Apa kau menyesal putus denganku? Apa kau mau balikan? Kalau semua jawaban itu adalah IYA, maka kau tak perlu merisaukan perasaanku padanya. Kalau tidak, aku tak bisa menjamin, jangan datang padaku dan menyesal di kemudian hari ketika akhirnya aku memilih untuk memupuk kembali perasaanku padanya.”

“Huh, jawabanmu benar-benar arogan.”

“Kau juga tak kalah arogan. Menolak ajakanku dengan mentah.”

Kedua orang itu tertawa kecil, tampak seperti menertawai diri mereka sendiri dan hubungan mereka saat ini. Di saat itu Kyu Hyun mengulurkan salah satu tangannya, meraih jemari So Eun dan menggenggamnya. Dia menatap mata So Eun.

“Aku sudah jawab pertanyaanku dengan benar bahwa aku merindukanmu. Sekarang giliranmu menjawab pertanyaanku. Sebenarnya, seperti apa perasaanmu padaku? Apa kau menyukaiku?”

“Aku menyukaimu sejak pertemuan pertama kita di café waktu itu. Aku suka wajah tampanmu, aku suka caramu berbicara, aku suka matamu ketika menatapku, aku saat kau menciumku, aku suka—“

“Jangan teruskan dengan hal yang sensual. Kita hampir saja melakukan kesalahan terbesar karena hal itu.”

“Siapa bilang kalau aku akan mengatakan hal yang tidak tidak.”

“Entahlah, entah mengapa aku melihat nafsu di matamu.”

“Kalau begitu. Aku juga harus mengatakan kalau aku juga melihatnya di matamu saat ini.”

Keduanya terkekeh lagi. Kyu Hyun kini bangkit dari tempat duduknya, bergeser lalu mendekat pada So Eun. Didekapnya kepala So Eun di dadanya.

“Kau benar, sepertinya kita harus balikan. Karena walau kita tidak cocok, namun tetap saja kita tak bisa berjauhan. Walau bagaimanapun kita juga masih muda, hubungan kita juga masih baru. Untuk sekarang mari kita lakukan apa yang bisa kita lakukan. Menjadi suami ataupun ayah, menjadi istri ataupun ibu, hal seperti itu kita pikirkan nanti ketika sudah saatnya.”

“Setidaknya sampai thesismu dan S2-mu selesai bukan begitu?”

“Atau setelah kau berhasil menjadi artis terkenal.”

Keduanya saling tersenyum kembali. Kyu Hyun memperat dekapannya dan mencium lembut rambut So Eun. “I love you..” bisiknya pelan namun penuh perasaan. Ia lalu melepaskan So Eun ketika So Eun mendorongnya pelan. Dimana kini giliran So Eun yang menarik kerah kemejanya mendekat. Gadis itu tersenyum padanya sebelum menempelkan bibirnya ke bibir Kyu Hyun.

Ciuman yang lembut namun penuh perasaan dan gairah. Kyu Hyun tersenyum dalam hati sambil balas mencium So Eun dan meraih kedua pipi gadis itu. Ciuman itu perlahan menjadi lebih dalam sebelum akhirnya terhenti ketika So Eun mendorong dadanya.

“Jangan lanjutkan..” kekehnya. Kyu Hyun mengangguk kecil, namun berniat mempertemukan lagi bibir keduanya.

“SO EUN!!”

Keduanya tersentak, reflek menghentikan niat mereka tadi ketika suara teriakan Henry terengar bersama pintu yang dibuka. Keduanya melirik tamu mereka dengan wajah terganggu, dimana kedua teman orang itu tampak melongo melihat posisi mereka berdua.

“Kalian…” gumam Amber yang masih tak percaya. Perlahan keduanya mendekati ranjang yang ditempati So Eun. Gadis tomboy itu terlihat kehabisan kata-kata.

“Bagaimana keadaanmu, So Eun?” Tanya Henry dengan wajahnya yang masih bingung.

“Aku sudah baik-baik saja. Untungnya potnya tidak mengenaiku.”

“Syukurlah kalau begitu.”

“Tunggu, kalian masih mempunyai banyak hal untuk dijelaskan pada kami.” Kata Amber masih sibuk dengan rasa penasaran. “Bukankah kalian bilang sudah putus? Lalu kenapa tadi kalian, menempelkan bibir kalian satu sama lain?”

“Jawabannya sederhana.” Kyu Hyun merangkul So Eun. “Kami sudah balikan sejak beberapa menit yang lalu.”

Kedua orang itu menganggukkan kepalanya faham. Walaupun terlihat masih ada yang mengganjal di wajah keduanya.

“Lalu… bagaimana dengan… bayinya?” Tanya Henry tak lama, berhati-hati. Kyu Hyun dan So Eun tampak saling bertatapan.

“Bayi? Bayi apa?” Tanya So Eun tak lama sambil memasang wajah polos. Sekilas Kyu Hyun tampak menahan tertawanya sebelum ikut memasang wajah yang sama.

“Eeey, jangan menyembunyikannya lagi. Kami dengar sendiri tadi ketika Kyu Hyun mengatakannya.” Kata Amber.

“Aku? Kapan?” Tanya Kyu Hyun kini.

“Tch, berhentilah berpura-pura kawan..”

“Kami tak berpura-pura. Kami memang tak mengerti apa yang kalian katakan.”

“Tch, kau tadi berkata bahwa kau mencemaskan So Eun… dan bayi dalam kandungannya. Hal itu masih segar di telingaku, tahu.” Kata Henry dengan wajah kesalnya.

So Eun dan Kyu Hyun kembali saling bertatapan, dimana tak lama keduanya serentak tertawa dengan cukup keras. Hal itu membuat Henry dan Amber kebingungan.

“Tch, tch, kau dengar darimana? Mana mungkin semuda ini aku hamil, huh? Masa muda itu hanya sekali. Jadi kami tak cukup bodoh untuk melakukan hal ceroboh itu..” kata So Eun. Henry dan Amber benar-benar terlihat bingung.

“Tapi, tadi—“

“Hamil diluar pernikahan itu adalah hal yang tidak terpuji. Sebagai generasi muda yang bermartabat, kami tidak akan melakukannya. Berhentilah mengatakan hal yang tidak perlu teman-teman.” Ucap Kyu Hyun menambahkan sambil memasang wajah sok bijaknya. Hal itu membuat Henry dan Amber semakin bertatapan bingung.

“Tapi kau tadi mendengarnya sendiri, bukan?” Tanya Amber pada Henry. Henry menganggukkan kepalanya cepat.

“Benar. Rasanya kita tak mungkin salah..” balas Henry bingung. Keduanya tampak sibuk dengan hal itu.

Sementara itu Kyu Hyun dan So Eun tampak saling senyum-senyum sendiri. Tak lama mereka kembali saling bergenggaman tangan sambil melirik kedua teman mereka tersebut. Sebuah senyuman cerah penuh kebahagiaan terlihat di wajah keduanya.

❤ THE END❤

43 Comments Add yours

  1. miani caledupha mengatakan:

    Sama2 keras kepala dan mempertahankan ego tak ada yg mau mengalah. Tpi benar kta kyuhyun itu pembelajaran dlm hubungan merek.
    Akhirnya sma2 menunjukkan sisi bruk msing2. Dan ya mereka tdak cocok tpi tetap akan memulai kembali. Merajut ksih yg sempat putus.

    Dan end ngakak.

  2. Puspa Kyukyu mengatakan:

    Gubraaaaakkkkkk bangetttt….

    Hahhahahhaha…

    Slalu ye Donghae ada di antara hubungan Kyu ma Soeun ….

    Bagus deh smuanya udh baikkan…
    Ok banget ada FF OS yg muncul…

    Ditunggu lanjutan FF yg lain Uni~

  3. muntaryati mengatakan:

    waaaaah udh penasarn gmn jdi Ortu rh tau-tau ternyata ngga hamil

  4. meon96 mengatakan:

    Hahahaha.😀
    Yeeeeeeeeeee ada ff baru.. Pairingnya Kyusso.
    Tertawa terpingkal pingkal aku baca ff mu eon. Lucu nya..😀.. Kyuhyun dan so eun konyol🙂
    Awalnya pas baca shock juga waduh sso hamil dan aku berfikir kyu gak mau tanggung jawab, eh tapi ternyata setelah dicek itu hanya kesalahan teknis. Ff nya menurut ku banyak lucu nya daripada tegang nya. Mereka berdua sungguh Pasangan yang unik😀
    Semangat buat kak putri karena udh buat ff yang bagus. Oh iya kak kapan nih ff yg lain dilanjut. Ditunggu ya kak..🙂

  5. nita mengatakan:

    yah, mskipun mrka srng brtngkr dn merasa gk cocok, tpi mreka sling membutuhkan, dlm sbuah hbngn, kita gk perlu mrsa cocok sm psngn kita kan. yg pnting prsaan kita. hemm pda akhir ny kyusso blikan, cie cie,, & sso gk hmil haha. ok sprti biasa ff mu slalu krn. d tnggu lnjutan after long sleep ny. keep writing.🙂

  6. wahyuSsoAngells mengatakan:

    Sama2 egois dan keras kepala klo ngmongpun sama2 pke urat hhihi 😁😁
    Yaampunn itu td lg tegang2nya tiba-tiba dibuat syokk dgn tulisan THE END tapi ternyata kita dikerjai 😑👏👏
    Kerenlah kyusso msh mau mlnjutkn hubungan walaupun mreka sama2 ga ccok dlm sifat,,tp kan msh ada cinta yg mlekat 😄😄 KyuSso jjangg ✊✊

  7. mama nikita widiyati mengatakan:

    Astaga os nya bener2 panjang….puas bacanya.pasangan ini benar2 keras kepala aku bahkan sempet ilfeel dan pengin endingnya mereka benar2 putus.tapi saat udah masuk akhir part jadi sadar kalau tidak selamanya sifat keras mereka menjadi hal yang penting.mereka hanya sama2 saling belum mengerti jika cinta yang dimiliki terlalu besar hingga membuat selalu emosi.sso juga terlalu tempramen…dan kyu juga sangat cuek.untung balikan…..poor donghae!!!

  8. erniutami mengatakan:

    Wkwkwkwk … keren thor padahlll berharap seoun hamil beneran …. kan seru

  9. Angel mengatakan:

    Mrk brdua ni pasangan yg sma” egois
    Gk mw ngalah ma pndpat msing”

    Kasian sso ud stress gra” ngira klo dy hamil tp syukur dech klo trxta sso gk hamil bneran
    😆

  10. Annisa Rahmadiah mengatakan:

    Ya ampun kyu sama sso itu bener bener keras kepala banget..
    Disaat mereka tertimpa masalah seperti itu mereka benar benar menunjukan sifat asli mereka yang malah membuat mereka ingin berpisah..
    Memang benar ya berarti dimana masa muda itu memang kita masih memiliki sikap yang labil..
    Pasti amber dan henry jadi kaya orang bodoh dengan perkataan sso dan kyu..
    Dan sso juga kyu cara mereka berbicara benar benar terlihat seperti merek itu dewasa ya..
    Padahal mah mereka juga udah melakukan itu..

  11. Ladie_cho mengatakan:

    kyusso sma2 krs kpla & egois,,smpet ksel jg ma kyu yg ga tnggung jwb,,pa gi kyusso spkat wat mnyingkirkn bayi ea…
    tp makasi dech wat pot bnga yg jtuh se’ga ea kyusso sdr akn prsaan masing2 & knytaan tntng khmilan sso…
    Aigooo,,kyusso klop bgt wat ngerjain amber ma henry,,gg sbr ya pnya tmn yg couple aneh…

  12. sukhwi mengatakan:

    yang baca juga dengan aura high tension..pengen jambak2 rambut mereka berdua..hadeuh..kekanakan sekali..tapi manusiawi sih..kepanikan yang terjadi membuat mereka tersadar mereka belum dewasa..yah semoga hubungan mereka akan lebih dewasa meski tidak ada bayi diantara mereka..

  13. aisyah kyubum elfangelssoeun mengatakan:

    Awalnya gereget bnget sma sifat nya sso yg selalu egois dan merasa paling bner sendiri ,, di tambah sikap kyu yg sma kerasnya dan rada cuek ,, dan yg paling bikin gemes parah waktu ada tulisannya the end ,, pengen protes rencananya sma putri hehehe Ʈªþ¡ sumpah ne ff keren bnget ,, ego dan kesalah pahaman sma hubungan mereka karna sikap mereka yg selalu merasa paling bnar satu sma lain ,, Ʈªþ¡ seneng bnget endingnya mereka balikan ,, meski ∂ķΰ berharap sso hamil bneran heheheh ,, di tunggu ff putri yg lain2 nya dan yg selalu keren ,,,

  14. devi mengatakan:

    Y ampun ni psangan kyusso bener egois yg satu pengen menang sndri yg satu’a gy gk mau ngalah,,,ckckckckckck
    Tpi akhir’a mereka bersatu karena kesalah pahaman mereka dh terselesaikn,,,gara2 insiden pot jatuh,,,hehehehehehe

  15. Vhi mengatakan:

    Blng gak cocok tpi balikan juga,,, donghae ku galau,,, gak kepikir sso mau gugurin bayi eh nyatanya gak hamil

  16. anna mengatakan:

    Kompak ngeleezsss aja nie kyusso,,sempat ga sk skp kyu yg krg brtgg jwb awlny,,untg aja smua yg tdk dihrpkn tdk trjd,,balikan lgi deh dan siap2 debat pndpt lgi deh

  17. Aisparkyu mengatakan:

    Hahaha seruuuuuh..sma sana kras kpla ,,egois emosian tapii sling sayang…part mrka putus iktan sediiih sma” mmperthankn ego msing” tapii seneng mrka blikan trus happy ending…

  18. nazaki mengatakan:

    kirain beneran endingnya gantung gitu,g ssuai sama genre yg disebutin : komedi. ternyata iseng aja,ckup bikin was2 nih. emang sama2 keras kepala,angkuh & egois . untung g jadi hamil,lo beneran g tau gimana jadinya. ngurus diri sendiri aja masih belum bisa,apalagi lo mesti berumah tangga & ngurus anak. hancur…. tapi ceritanya keren…

  19. minmin mengatakan:

    hadeeeeeeeeh ada ya pasangan kaya gitu? tengkar mulu…
    putri nulisnya lagi ga konsen ya ada beberapa typo…
    untung sso ga jadi nggugurin kandungan, apa coba yg mau digugurin hahaha
    kirain tadi end beneran…
    oya put aku dibeberapa ff mu jadi silent reader gara2 emailnya ga bisa kepake, maaf ya baru bisa komen🙂

  20. Ayu Chokyulate mengatakan:

    kyusso… dua-dua nya sama sama keras kepala, tempramental, dan semau nya sendiri.. apalagi sso yg ga mau diajak bicara baik baik tapi lucuuu nya sso udah stress mikirin kaya gitu ehh ternyata ga hamil :v
    walaupun mereka bilang saling ga cocok tapi kalo yg nama nya masih ada cinta di hati mereka mah tetep ga bisa dibohongin, akhhhh kyusso jjang^^
    aduhhh si hae selalu jadi orang ketiga, kenapa karakter mu selalu jadi cowo sempurna sih oppa.. kalo aku yg jadi sso pasti udah tergoda hahaha
    kereen ka putri, di tunggu ff mu yg lain nya (y)

  21. yuliaseptiani mengatakan:

    ni couple emang sama2 keras kepala bikin greget ,, gk suka jg ama sikap kyusso yg malah mau nggugurn kndungn sso tp dg insiden sso kclakaan semua ny jd jelas kalo sso gk hamil n cm salah paham aja ..
    donghae selalu ada antara kyusso tp kasian gk bisa dpetn sso ~kkkkk
    aq kira ni bkaln sad end cz mau demo td ny 😄

  22. nanana mengatakan:

    penuh emosi bacanya. ua-duanya sama-sama kekeuh sama pendiriannya. tapi suka sama kyuhyun yg menunjukkan kepeduliannya pas denger so eun masuk rs dan nanya ke dokter kondisi bayinya, padahalkan awalnya dia keliatan masa bodo. syukur deh akhirnya mereka bicara dengan kepala dingin.

  23. yehaesso mengatakan:

    kyusso jjang !
    mereka pasangan yg lucu, sama sama keras kepala juga gensinya terlalu tinggi hehe
    sequel dong author pengen tau kelanjutan cinta mereka setelah balikan juga donghae apa masih sama atau malah lebih baik dri sebelumnya 😊
    sukses terus author ~~

  24. vidiadwi8607 mengatakan:

    Sempet ngakak waktu ada tulisan Tamat dn brcanda .. yey 😣
    Ini memang psangan favorite ane ..
    Thor sering2 bikin fanfict dg cast mereka dong .. #ngarep😄😄
    Ceritanya ga ketebak, awalnya gue pikir akhirnya kyu bakal ninggalin seluruh cita2nya kl ga gtu donghae yang bakal tanggung jawab ats semuanya ..
    Dan trnyata gue salah . Mreka malah kga hamil dn satu lgi yg bikin terpanah penjelasan tntg diet tdk sehat dn telat mens itu emang bener bgt .. gue pernah soalnya .. hiahaha 😅😅
    Sukses trus thor ..

  25. Irnawatyalwi mengatakan:

    Bnr2 pasagan aneh n sma2 keras kpla palg si eneng kimso woaw em0sian bngt tpi lcu jg si sma2 keras tpi ujung2x sma2 saling membtuhkn krn cinta n krn cinta akhrx ke egoisan mrka yg sangat kuat sdikt dmi sdikt runtuh krn CINTA, so sweet bngt perckapan kyusso yg d akhr2 os ini.

  26. Luthfiangelsso mengatakan:

    ya ampun kyusso kalo ketemu ribut kalo ketemu ribut giliran pisah aja kangen kekekeke^^
    di kirain bakalan sad ending eh ternyata semuanya kesalahpahaman kasian amber-henry di bodohi nih ma couple ini wkwkwk…
    ya ampun….sempet gereget liat bacaan the end di atas untung cuma becanda kalo beneran aku teror putri minta ending hahaha😀 V
    kerreennn suka ending yg sweet jg^^

  27. So_chie mengatakan:

    Annyeong chingu aqu leader baru nech
    Salam kenal
    Cerita xa sama kayak teman aqu sama2 keras kepala dan saling mencintai
    Walaupun menurut qu mereka tidak cocok

  28. hestiani mengatakan:

    Aigo sifat mereka bikin jengkel aja gua rasanya prngen jambak mereka kak putri hebat dah kalau buat cerita

  29. fina mengatakan:

    Ending Lucu binggow,😀

  30. tri mengatakan:

    dua orang yang sama2 keras kepala, lucu juga lihat pasangan ini, seru dan bikin emosi bacanya kwkwkw

  31. Fee mengatakan:

    Hebat si author,,

    Pokoknya ditunggu ff yg lain.y

  32. chosoohyunstory mengatakan:

    wow bner2 tensi tinggi ya. kirain beneran tuh hamil dua-duanya sama sama egois sih hehe.. btw kapan be my girl nya dilanjut ?

  33. shaneyida mengatakan:

    Aaaaaaaaaaaaaa gemees cubitin pipi pupuuuuut hhhi ..mata kakk udeh berkaca2 ..mana kk lgi pilekan jd tambah banyak ingusnya … pas nemu end mendadak rupanya pupuuuuuuut yang jahiiiiiil yakkk …hemmmmm , jahil amat ni anak .. Kena virus cast nya yg evil kali yak jdinya puput ikut2an uuuu *lol hhhha ,, terjebak beneran tdii .. Udeh sesak napas cos kyusso beneran putus seketika di buat happy mendadak cos hanya bercanda aje .. Hhhi langsung sumringah deh stelahnya cos ada harapan kyusso nya happy ending ¨Ħiii¨¨Ħiii¨¨Ħiii ƪ(˘⌣˘)ʃ•´¯`• ♥ !! Pas sso minta pertanggung jawaban kyu dg kelewat tegas .. Aye ngeri di buatnya …memng perempuan klo dh d ujung tanduk kek gitu butuh ketegasan cuma salahnya sso lebh mementingkan egonya ber monolog sendiri tanpa memberi jedah untuk kyu menjelaskan jdinya kyu ikut terpancing ma umpan yg terus sso keluarkan ntu jdilah hub mreka jd tak harmonis karna panik yak ada bayi ddakan .. Kyu juga kurang sabr ngadepin sso *eoh hhhi ,, kyu yg ngeliat sso kek gt mulai tak meyakinkan … Dia malah membiarkan alur cerita soeun mengalir ..jdinya gitu deh bertolak belakang hhi

    Kelakuan kyusso bikin high tension …. Yg bc pun terbawa suasana ¨Ħiii¨¨Ħiii¨¨Ħiii ƪ(˘⌣˘)ʃ•´¯`• ♥ td sempet berpikir sso beneran hamil dg fakta yg ada eee rupanya kejutan terbongkar … Lgi lgi sii puput usil n jahil nii hhhe ga thu jd gemes kakk ngeliat puput pengen tak cubit2 ĦΔĦΔ:D ĦΔĦΔ=D ĦΔĦΔΔ=)) *plakkk* tp suka sii yak .. Meledak2 jdinya senyum aye •̃͡-̮•̃͡Ħaǻ •̃͡-̮•̃͡Ħaǻ •̃͡-̮•̃͡Ħaǻ •̃͡-̮•̃͡Ħa btw walopun sikap kyusso saling cuek setelah kejadian putus n hamil ntuuu cinta mereka ntu besar yak cm memng ada sifat2 yg instan mencuat karna kejadin itu

    Hae ga jodoh ma sso pdhll banyak arah kek nya yg menyatukan mereka .. Nah karna terlambat bergerak makanya hilang dah dri gapaian hihiiii sempet gimna gtu sso berbalik arah tp syukurlah hae cm jdi malaikat tampan hhhhe😉

    Kek nya kudu terima kasih ma pot yg jatuh itu dah ..hhhha .. Btw yg ngejatuhin tu pot siapa put ? Hhhe *lol* dg kejadian ntu ..amber panik neriakin kyu trus kyu membayangkan sso terluka terlbh sso hamil ..jdinya kluar dah sperasaaan yg sesungguhnya .. Klo dia sangat menyukai sso begitupun sbaliknya ketika sso dh ketemu ma kyu n dah lurus klo sso tak hamil trus mereka iso bicara berdua lebh intens nah ini yg diinginkan kyu waktu itu bicara berdua mencri solusi bukan dg tegas sso blg kyu g mau tanggung jawab ¨Ħiii¨¨Ħiii¨¨Ħiii ƪ(˘⌣˘)ʃ•´¯`• ♥

    Jadilah perasaan dr hati ke hati berbicara setelah tenang kali yak seminggu putus g ketemua rs rindu melanda .. Kyu sempet ngeh jg ketika dia ngersa hae lebh baik dr dia .. Tp smuanya dh lurus dg hati dingin tp penuh ketegasan ..saling menyalurkan energy positif akhirnya kyusso balikan lgi ayeeahh bru dah aye iso bernapas ¨Ħiii¨¨Ħiii¨¨Ħiii ƪ(˘⌣˘)ʃ•´¯`• ♥ su wit nya klo dh d kissuue manis kek gitu ..energi reader pun kembali terisi ƗƗɐƗƗɐƗƗɐƗƗɐƗƗɐƗƗɐ”̮‎​​ , ngakak bgt ngeliat amber ma henry yg kebingungan ttg kehmiln ntu ĦΔĦΔ:D ĦΔĦΔ=D ĦΔĦΔΔ=))

    endingnya perfectooo aaaaa I love it :* … Ni oneshot enak bgt d baca..ngalir kek sungai panjang ..enak di minum dah😉 !! Banyak jempol gajah buat puput (y) ,, keep writing walopun lama updateee na tp ttp berkarya amiiin slalu menanti dah yak hhhe ,cmingith n slalu sukses buat puput :*

  34. shaneyida mengatakan:

    Kelupaan td mau ngoceh ..ttg pict ni story ..dah semakin pandai yai bikin pict nya ;* … mkin bagus makin sukaaa (y)

    Thumbs up(y)
    Udeh sekian n trims hhhe

  35. mothisan mengatakan:

    pasangan yg bikin gregetan,,,,
    ceritanya menarik,,

  36. Rani Annisa mengatakan:

    ceritanya bener-bener lucu banget😀

    kyusso itu bener-bener cocok banget,, walaupun sama-sama keras kepala tapi mereka akhirnya bisa ngalah satu sama lain,, dan mereka juga selalu aja bertengkar karena hal-hal kecil,, tapi akhirnya mereka bisa bersama kembali🙂

  37. Kim Ra rA mengatakan:

    lagi. ff yang unik dan Asik bin Keren aku tumin di blog ini. karna jujur ff nya tuh lain dari pada yang llain seru banget suka banget banget banget sama ceritanya.
    Sso yang biasanya lemah lembut jadi beneran asik banget di ff ini walaupun merek kalau ketumu terus terusan perang Argument tapi sekalinya jauhan kalah deh sama yang namanya Kangen
    dan ternyata Bayi yang keberadaan nya mereka ributkan itu gak ada haha bikin ngakak.
    Putri asli ceritanya KEREN abizzzz mmereka berdua cek cok mulu kerjaannya tapi gak tahu kenapa Romance nya juga kena banget pokok nya TOP dech

  38. Soeun ah mengatakan:

    Aigoo nyata nya Sso gak hamil,, kok bisa ???
    Kyu-soeun benar2 lucu yah bentar2 putus eeehhhhh gak lama minta balikan lagi hmmm dasar……! Pasangan aneh
    hahahhahah #lucu

  39. sungyong mengatakan:

    mereka benar – benar keras kepala sekali pada hal mereka saling mencintai tapi tetep aja tidak ada yang mau ngalah sama sekali.
    nyaris aja aku kesel dg kyu, masa dia tidak mau bertanggung jawab dan lebih menyetujui utuk menggugurkanya. untung aja pada kenyataanya tidak hamil, jadi mereka busa memutuskan untuk balikan lagi kan.

  40. srd kim mengatakan:

    Kkk, endingnya bikin ak ktwa…

    Lucu bgt…

    Crtany jg seru. ^^

  41. dara mengatakan:

    Astaga, kyu n sso bener y…bener-bener keras kepala keduanya, padahal saling syang dan mencintai. Tapi akhirnya mereka kembali lagi, dan baby cho…belum saatnya ia hadir diantara mereka, nanti aj, klu udh dewasa dan mampu menjaga baby cho. Hahahaha…

  42. tyand mengatakan:

    Hihihi bnr” couple teraneh
    Aq kira beneran hamil ternyata tidak y

  43. pipip mengatakan:

    Waaaah ceritanya lucu tpi bkin tegang wkwk
    Ceritanya gak mudh dtebak apalgi wktu mreka ptus dikiraiin bneran ptus dan ending trnyta enggk haha
    Kyu akirnya sok bijak bnget pdhal mah dia yg udh kyk gtu sok polos wkwk
    Suka dgn critanya kak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s