~ THE KIMS Part 3 (Live Your Life) ~


img_20160622_234951.jpg

Tittle      :               THE KIMS Part 3 (Live Your Life)

Author  :               PrincessClouds (@yourgongju_)

Genre   :               Romance, Life, Married life

Rate       :               PG-15

Length  :               Chapters

Main      :               Kim So Eun & Kim Jong Woon (Ye Sung)

Minor    :               Lee Dong Hae, Kang Min Kyung, Shin Dong Hee, Tiffany Hwang.

Warning:              Typo(s)

~

Married? Whatever.

~

Karismatik. Satu kata inilah yang terus berada di pikiran So Eun saat menatap pria di depannya ini. Wajah yang tampan, sikap yang tenang, dan aura kuat membuatnya tak mampu untuk mengalihkan perhatian.

Lee Dong Hae. Bahkan walau ia hanya mendengarnya sekali dari General Manager yang bernama Tiffany Hwang tadi, nama itu seakan telah terukir apik di otaknya. Sama dengan sosoknya, So Eun bertaruh bahwa otaknya mengingat dengan jelas wajah yang baru dilihat sejak 30 menit yang lalu itu.

Apa dia mendengar ucapan kampungan So Eun ini? Karena tak lama setelahnya pria di depannya mengangkat kepalanya dan melirik pada So Eun,menyebabkan mereka bertemu mata yang sukses membuat So Eun reflek membuang wajah menahan rasa malu. “Jadi Anda akan dimasukkan ke dalam tim kami?” astaga, suaranya lembut sekali. So Eun dapat merasakan pipinya memanas tiba-tiba karena ucapan pendek tersebut.

“Y-Ya. B-Begitulah, ketua tim.” So Eun menjawab cepat, berusaha menguatkan diri menatap kembali padanya.

Dong Hae berdehem, menutup dokumen miliknya sambil terlihat memikirkan sesuatu. Ia kini menyatukan kedua tangannya, meletakkan dagunya ketika ia kembali menatap So Eun. “Aku mengucapkan selamat atas keberhasilanmu diterima di perusahaan ini, namun untuk bergabung ke dalam timku adalah sesuatu hal yang berbeda. Sejujurnya aku tak bisa menerima seseorang sembarangan masuk ke dalam tim yang sudah kubangun begitu saja, aku memiliki kriteria sendiri untuk anggotaku.”

“H-Huh?” apa maksudnya? Apa dia baru saja menolak So Eun.

“Kau harus melewati sebuah tes dariku.”

“Tes? Tes apa?” So Eun tak pernah merasa tertantang seperti ini sebelumnya. Bahkan ketika wawancara kerja dulu, ataupun ketika wawancara beasiswa kuliah, rasanya sensasinya tak begini.

“Ada sebuah keluarga—“

“H-Huh?” Jujur, So Eun benar-benar merasa malu. Seumur hidupnya ia belum pernah merasa secanggung ini.

Sementara itu Lee Dong Hae masih menatapnya dengan serius. “Bukankah aku sudah bilang kalau aku akan melakukan sebuah tes? Ini tes tertulis berkaitan dengan design, jadi mungkin kau memerlukan kertas dan pulpen.”

“H-Huh? Y-Ya..” Dengan gerakan cukup panik kini So Eun berusaha untuk menemukan kertas di antara barang bawaannya. Dia menemukannya, namun ia tiba-tiba teringat kalau ia tak memiliki pulpen. So Eun mengeluh dalam hati, kini dengan reflek melirik salah satu pulpen yang terletak di antara kumpulan milik sang ketua tim. Dong Hae menyadari ini, ia geleng-geleng kepala sambil menyerahkannya pada So Eun. “T-Terima kasih. Nanti akan saya kembalikan.”

Dong Hae memberikan beberapa detik untuk So Eun bersiap sebelum kembali bersuara, “Ada sebuah keluarga yang berencana membangun sebuah rumah di kawasan perbukitan A. Mereka memiliki tanah dengan luas sekitar satu hektar dengan latar belakang sebuah danau buatan di belakangnya. Kepala keluarganya adalah seorang dokter yang memiliki ruang medis pribadi di rumahnya serta memiliki hobi bermain golf untuk mengisi waktu senggang. Sementara istrinya adalah seorang pengacara yang memiliki hobi menanam dan merawat segala jenis bunga. Anak laki-laki yang masih berusia sembilan tahun memiliki hobi bersepeda sementara anak perempuan yang masih berusia lima tahun senang menggambar dengan cat minyak. Selain itu keluarga ini juga ingin diberikan ruang untuk sebuah kolam berenang, sebuah ruang belajar untuk anak mereka, sebuah ruang main anak-anak, dan ruangan-ruangan lainnya yang dirasa perlu. Kira-kira design rumah seperti apa yang cocok untuk permintaan keluarga ini?”

So Eun tampak cukup kesulitan menyalin semua yang diucapkan Dong Hae karena pemuda itu berbicara tanpa jeda, namun untunglah ia mampu melakukannya tanpa cela. Semua yang dikatakan Dong Hae kini telah dituangkan ke dalam selembar kertas yang di depannya ini walaupun tulisan itu sedikit jauh dari kata rapi.

“Apa itu saja, Ketua tim?” Tanya So Eun setelah selesai menyalin semuanya. Dong Hae menganggukkan kepalanya.

“Itu saja. Aku memberikan waktu 24 jam untuk menyelesaikan design­-nya.”

“H-Huh?” So Eun tampak tak yakin mendengarnya, sementara Dong Hae kembali memberikan tatapan datar.

“Kenapa? Tak bisa?”

“H-Huh, b-bisa, Ketua Tim. Saya akan menyelesaikannya malam ini dan menyerahkannya besok kepada anda.”

Dong Hae tampak menganggukkan kepala puas, sementara So Eun mengigit bibir bawahnya gugup.

*THE_KIMS_PART_3_(LIFE_YOUR_LIVE) *

Senyuman yang lebar terlihat di wajah Ye Sung ketika ia keluar dari ruangan Direktur agency-nya. Teringat olehnya pembicaraan singkatnya dengan sang Direktur mengenai kontrak barunya di sebuah acara variety yang sangat terkenal. Ia telah membayangkan betapa menyenangkannya membintangi acara tersebut bersama dengan wanita yang selama ini membuatnya tertarik.

Ketika berniat kembali menuju ruang latihan tiba-tiba ia dicegat oleh beberapa orang seumurannya. Kedua orang tersebut tidak lain adalah teman semasa trinee dengannya dulu yang juga tengah merintis karier di dunia entertainment.

“Sepertinya kau senang sekali. Sudah lama rasanya aku tidak melihat seseorang keluar dari ruangan Direktur-Lee dengan senyuman selebar itu.” Salah satu rekannya yang bernama Siwon merangkul lehernya. Ketiganya berjalan beriringan menempuh lorong.

“Ini adalah sesuatu yang tidak seharusnya diketahui oleh sembarangan orang.”

“Huh, mengenai WGM-mu dengan Kang Min Kyung, huh? Kau pikir kami tidak tahu.” Temannya yang satunya ikut menyela sambil terkekeh. Ye Sung tampak kaget juga karenanya, namun pemuda bernama Eun Hyuk itu langsung menimpali. “Aku tadi sedikit berbincang dengan Shin Dong.”

Ye Sung hanya mengangkat bahu tak peduli. Lagipula khabar itu cepat atau lambat juga akan ditayangkan di televisi. “Jadi mengapa kalian menyanderaku begini? Apa kalian iri, huh?”

“Tidak juga. Aku hanya akan iri kalau pasanganmu adalah Moon Chae Won. Sebaliknya, kami meminta traktiran atas khabar baik ini. Bagaimana kalau kita minum bersama?”

“Minum? Kapan? Malam ini? Tch, aku tak bisa.”

“Hah, ayolah. Sudah lama kita tidak bersenang-senang bersama. Kau harusnya meluangkan waktu.”

“Tapi—“

“Atau…” Si Won memotong ucapannya, tiba-tiba menyeringai. Ia kemudian membisikkan sesuatu kepada Ye Sung yang berhasil membuat pemuda itu melebarkan matanya.

Ye Sung kembali lebih awal ke rumah yang baru ditempatinya bersama sang istri. Sesampainya di rumah dilihatnya asisten rumah tangga tengah mencuci piring yang berarti bahwa So Eun baru saja menyelesaikan makan malamnya.

Ye Sung membersihkan dirinya dalam waktu kurang dari tiga puluh menit. Pemuda itu kini tampak keluar, beranjak menuju kamar yang berada di samping kamar miliknya. Pintunya yang dalam keadaan terbuka membuatnya bisa leluasa melihat ke dalam dimana sang istri terlihat tengah fokus dengan sesuatu yang tak terlalu dia pahami. Sepertinya berhubungan dengan design, entahlah dia juga tak yakin.

“Apa yang kau lakukan?” ia bertanya sambil menahan langkahnya masuk ke dalam. Ia memilih bersandar di salah satu sudut pintu.

So Eun menghentikan pekerjaannya sejenak. Gadis itu melepas pensil yang sejak tadi digigitnya dan menatap Ye Sung dengan pandangan terganggu. “Bukan urusanmu. Jangan menganggu.”

“Huh, siapa juga yang menganggu.” Ye Sung balas meremehkan. Namun walau begitu ia tetap saja berdiri di sana dan memperhatikan So Eun yang terlihat sangat bekerja keras dengan apa yang dilakukannya. “Kau sudah makan?”

“Aish..” So Eun nyaris mengumpat, kembali memberikan tatapan tajam pada sang suami. “Apa pedulimu? Kalau kau mau makan, minta saja pada bibi untuk menyiapkan. Jangan mengangguku disini. Pergi.”

Ye Sung terkekeh kecil, dengan wajahnya yang sarkatis. Sekali lagi ia memperhatikan sekitar kamar itu sejenak sebelum beranjak menuju sebuah tempat. Tak beberapa lama kemudian ia kembali masuk dengan satu teko penuh air mineral dan dua bungkus biskuit ukuran besar. Ia kemudian membawanya ke dekat So Eun yang sukses membuat gadis itu menghentikan kegiatannya lagi dan menatap heran.

“Apa ini?”

“Apalagi? Suamimu ini hanya berusaha berbaik hati agar kau bisa menyelesaikan pekerjaanmu.”

So Eun tak tersentuh sama sekali. Ia masih terus berganti menatap Ye Sung dan makanan itu dengan tatapan curiga. “Apa kau berniat meracuniku?”

Ye Sung kembali tertawa, kali ini tertawa dengan kerasnya dengan nada yang begitu melecehkan. Tak lama ia kembali tenang dan memasang wajah datar. “Apa untungnya meracunimu? Apa kau punya warisan yang bisa kau berikan padaku?”

So Eun kali ini tak menyahut dan hanya terus menggerutu, “Lalu apalagi? Sikapmu mencurigakan.”

“Terserah. Aku hanya mencoba memberikan perhatian.” Ye Sung mengangkat bahu, kali ini kembali beranjak menuju pintu kamar So Eun. Ketika sampai disana Ye Sung berbalik untuk melirik So Eun yang mulai kembali akan bekerja, disaat itu dengan secepat kilat ia mengambil kunci kamar yang menggantung di belakang pintu So Eun lalu dengan cepat menutup pintu dengan keras. Dia mengunci So Eun di dalam.

“YAH APA YANG KAU LAKUKAN?!” So Eun berteriak tak lama kemudian, ia juga langsung berlari menuju pintu dan memukul pintu yang telah tertutup rapat. “INI TAK LUCU, BODOH. BUKA!!”

Sementara Ye Sung hanya menulikan telinganya ketika bersandar di sisi sebaliknya. Seringaian di wajahnya terlihat begitu ia mengingat kembali pembicaraannya dengan temannya di Agency sore tadi.

 

“A-Apa? K-Kau dengar khabar darimana? Sembarangan!” Ye Sung tampak terbata, bahkan wajahnya terlihat sedikit pucat mendengar apa yang disampaikan Si Won. Sementara itu kedua temannya malah menyeringai.

“Tak perlu membantah. Aku melihatmu sendiri pagi ini keluar dari Perumahan Maxim dengan ID keanggotaan khusus. Hanya penyewa lahan yang memiliki kartu seperti itu, seperti punyaku misalnya.” Si Won tampak begitu yakin mengatakannya, sementara Ye Sung kian gugup. Apakah itu artinya Si Won mengetahui bahwa ia hidup bersama dengan So Eun yang kini adalah istrinya?

Eun Hyuk kini terkekeh. Ia merangkul Ye Sung yang kini kalang kabut. “Jadi kenapa kau tinggal disana? Biasanya selebriti yang hidup disana selalu memiliki alasan khusus untuk menetap disana. Misalnya, menyembunyikan seseorang.”

“Menyembunyikan seseorang apanya? A-Aku tinggal disana karena hanya ingin hidup tenang saja dari kejaran media dan sasaeng fans.”

“Benarkah? Sepertinya sedikit diragukan.”

“Benar. Untuk apa aku berdusta. Kalian kan tahu sendiri kalau beberapa waktu yang lalu ada sasaeng yang masuk ke apartemenku dan mencuri pakaian dalamku. Karena enggan mengalami hal seperti itu lagi sehingga itu sebabnya aku menyewa tempat di Maxim.” Itu benar, nyatanya ia memang cukup sering mengalami hal gila terkait dengan penggemar. Ia bahkan pernah diancam akan dibunuh oleh seorang laki-laki yang merasa cemburu karena kekasihnya memutuskannya karena tergila-gila pada Ye Sung. Hidup ini sudah segila itu, sesungguhnya.

“Benarkah?” Si Won masih meragukan.

“Benar. Memangnya kau sendiri apa alasanmu menyewa tempat di Maxim? Apa kau menyembunyikan kekasih, istri, selingkuhan, atau bahkan anak di dalamnya?”

“Apa yang kau katakan! Tentu saja tidak!” Si Won membantah ucapannya dengan cepat, sekilas menandakan bahwa ia memang menyembunyikan sesuatu disana. Namun Ye Sung sendiri tidak mempedulikannya karena ia juga tengah berusaha menutupi rahasianya.

“Oleh sebab itu. Kau juga jangan sembarangan mencurigaiku.”

“Ya sudah. Kalau begitu tentu kau tidak keberatan mengundang kami minum di tempatmu. Aku penasaran seperti apa unit di Maxim yang terkenal itu.” Eun Hyuk kali ini memotong. Senyuman licik terlihat di wajahnya, begitupun Si Won.

“Kau bisa ke tempatnya Si Won. Kenapa kalian tidak minum bersama saja dan saling berkencan?” Ucap Ye Sung ketus karena merasa dijebak.

“Aku tidak benar-benar tinggal disana.” Si Won tertawa, disambut tawa Eun Hyuk. Keduanya kini berhigh-five ria.

“Apa? Lalu bagaimana kalian bisa tahu kalau aku tinggal di Maxim?”

“Shin Dong yang mengatakannya padaku.”

Kali ini sang manager tidak bisa dibiarkan. Ditingkat ini ia bisa saja membeberkan rahasia pernikahan Ye Sung pada kedua orang ini.

 

“YAH BUKAA! KAU BENAR-BENAR CARI MATI, HUH??!” So Eun semakin berteriak keras dan memukul pintu lebih keras. Sementara itu diluar Ye Sung mengambil ponselnya, mengetikkan sebuah pesan dan mengirimnya pada orang dibalik pintu.

“Ada masalah mendadak. Kau harus berdiam dulu di dalam kalau tidak ingin ketahuan. Peace.”

BRAK. Pintu ditendang So Eun dengan kuat. “KAU PIKIR KAU SIAPA MENGATURKU BEGINI? AKU TAK PEDULI SAMA SEKALI KAU MAU KETAHUAN ATAU TIDAK. BUKA PINTU INI!”

“Tch, sudahlah. Sebaiknya kau melanjutkan pekerjaanmu. Pekerjaan itu sepertinya penting bagimu.”

Hening sesaat, lalu tak lama langkah kaki yang menjauh. So Eun terdengar mengerang di dalam tentang bagaimana ia sempat melupakan pekerjaannya padahal deadline-nya sedikit. Ye Sung tersenyum puas.

“Ya sudah. Selamat bekerja, istriku. Semoga berhasil.”

“AWAS KAU. BESOK KAU AKAN MATI DI TANGANKU!”

“Sama-sama, sayang.” Ye Sung mengantongi kunci kamar So Eun dan bersiul meninggalkan tempat itu. Kini ia harus menyiapkan segala sesuatunya sebelum teman-temannya datang.

Ye Sung sibuk mempersiapkan apartemennya sebelum kedatangan teman-temannya. Ia telah menyuruh asisten rumah tangga mereka untuk pulang lebih awal, serta memastikan untuk menyingkirkan setiap jejak bukti pernikahannya dengan So Eun agar tidak ketahuan. Dan mengenai So Eun sendiri ia telah mengurungnya dengan aman di kamarnya agar tidak menampakkan diri.

Sekitar jam sepuluh malam bunyi kendaraan mulai terdengar berhenti di depan rumahnya. Ye Sung tampak sedikit gugup, namun ia akhirnya membukakan pintu untuk tamunya.

“Hai kawan, terima kasih atas kesediaanmu menjamu kami.” Eun Hyuk langsung memeluknya begitu pintu di buka. Di belakangnya terlihat Si Won dengan beberapa tamu lainnya, beberapa dari mereka adalah wanita.

“Kami membawa serta beberapa teman, tidak apa-apa bukan?” Si Won tersenyum lebar padanya. Ye Sung menghela nafas pelan.

“Kau tak takut ketahuan wartawan, huh?”

“Tch, ayolah. Tempatmu tinggal ini adalah tempat yang paling aman untuk hal seperti itu.”

Ye Sung menyerah. Pada akhirnya ia membiarkan rombongan tamunya itu memasuki rumah yang baru sekitar 30 jam ia tempati itu.

“Jadi ini perumahan yang terkenal itu. Di dalam terlihat tidak terlalu istimewa.” Salah satu wanita yang dibawa Si Won dan Eun Hyuk bergumam sambil memperhatikan seisi ruang tengah. Semua dari mereka tampak tengah melakukan hal yang sama.

“Yang istimewa memang bukan unitnya, namun keamanannya. Kalian tadi melihatnya, bukan? Pengamanannya ketat sekali, aku seperti merasa memasuki istana kepresidenan.”

“Benar. Aku juga melihat CCTV dimana-mana dan begitu banyak penjaga.”

“Aku jadi ingin tahu siapa saja selebriti yang tinggal disini dan rahasia seperti apa yang mereka sembunyikan.”

Mendengar percakapan itu malah membuat Ye Sung jadi gugup. Walau bagaimanapun orang-orang ini hanya berada beberapa meter dari rahasia terbesar dalam hidupnya. Kalau sampai ia ketahuan maka tamatlah sudah.

“Aku tak tahu kalau yang datang akan sebanyak ini. Aku takut tak menyediakan cukup minuman dan makanan untuk kita.” Ye Sung kini berusaha bersikap wajar, mendekati para tamunya yang telah lebih dulu memenuhi ruang tengahnya tanpa dipersilahkan.

“Tch, jangan khawatir. Sebenarnya minuman tidaklah terlalu penting kalau bersama seperti ini. Banyak hal yang bisa dilakukan selain hanya minum, bukan?” salah seorang wanita dengan pakaian super mininya menjawab pertanyaan Ye Sung. Ia menatap Ye Sung dengan intens yang membuat Ye Sung cukup tertarik.

“Misalnya?”

Sementara itu So Eun tak bisa berkonsentrasi sepenuhnya setelah mendengar keributan di luar sana. Hatinya kini terasa dongkol dan ia terus mengomeli sang suami. Namun saat ini ia tak bisa berbuat banyak karena ia harus menyelesaikan pekerjaannya dan menahan diri karena ia sendiri tidak ingin ketahuan.

Pekerjaannya bahkan belum jadi setengahnya, daritadi ia terus kebingungan menemukan design yang cocok untuk tugas pertamanya ini. Sebenarnya ini sangat sulit dan ia bahkan nyaris meledak, namun tetap saja ia tak mau menyerah. Ia harus masuk tim Lee Dong Hae walau bagaimanapun.

“Tch, lupakan semuanya dan hanya fokus.” So Eun menggelengkan kepalanya, berusaha mengabaikan suara tawa yang menganggu di luar sana. Kini ia kembali sibuk dengan kertas gambar serta laptop yang menyala di depannya. Ia yakin kalau ia bersungguh-sungguh maka pekerjaannya ini bisa selesai sebelum menghadap Lee Dong Hae besok.

Dalam beberapa lama ia telah kembali fokus. So Eun berhasil menyatukan seluruh pikirannya pada kertas gambar di tangannya dan mengabaikan kehebohan di luar sana, pada awalnya. Ya, pada awalnya. Karena beberapa menit kemudian ia tersentak begitu musik yang cukup kencang terdengar dari luar.

“Apa-apaan mereka? Apa mereka berpikir ini adalah diskotik, huh?” So Eun mengeram kesal, menutup telinganya ketika suara music kian menganggunya. Dan itu tidak berhasil. “Aaargh, apa yang ada di otak si bodoh ini?!” So Eun mengeluh frustasi sambil meremas rambutnya yang kecokelatan.

Musik semakin kencang. Bahkan dinding rumah terasa bergerak akibat hentakan bass yang memekakan. So Eun terlihat kian meradang, ia lagi-lagi meremas tangannya kuat menahan kemarahan. “Awas kau Kim Jong Woon. Besok aku akan membunuhmu.” Teriaknya yang teredam dengan jelas oleh musik. So Eun kini hanya bisa pasrah sambil melanjutkan pekerjaannya.

“Dasar menyebalkan. Aku akan benar-benar membunuhmu kalau hari ini aku gagal.”

Menggerutu. Ya, itulah hal yang paling sering So Eun lakukan seharian ini setelah bernapas. Ia dapat merasakan bagaimana kini matanya membengkak akibat menahan kantuk semalaman serta kepala yang sakit karena terus berpikir. Tapi sekarang disinilah ia, duduk menunggu beberapa menit lagi sebelum menunjukan hasil kerjaannya pada seniornya.

Sebenarnya ia tahu bahwa malam tadi ia tidak akan tidur dengan cukup akibat tugas yang diberikan, namun dengan kekacauan yang dilakukan oleh sang suami semuanya jadi lebih mengulur waktu serta membuyarkan konsentrasinya. Ia tadi bahkan sempat memuji dirinya sendiri karena pada akhirnya tetap menyelesaikan tugas yang diberikan walaupun dengan resiko ia hanya tidur tidak lebih dari satu setengah jam.

Kini ia kelelahan. Matanya terasa berat di tingkat ia bisa tidur dimana saja, namun tidak bisa. Ia tidak bisa tidur sekarang. Setidaknya ia harus memberikan tugasnya ini dulu pada Lee Dong Hae sebelum benar-benar menyerah dengan rasa kantuknya yang dideritanya. Ia pasti bisa bertahan sedikit lagi.

Di tengah menunggu, dirasakannya seseorang menepuk pundaknya pelan. Ia tersentak, menyadari bahwa barusan ia kembali nyaris tertidur. Tiffany Hwang, orang yang tadi membangunkannya tampak sedikit terkekeh. “Hey, kau bisa gagal kalau menghadap Ketua tim-Lee dengan wajah mengantuk seperti itu.”

“Huh? M-Maaf. Aku terus berusaha untuk terjaga.” So Eun menjawab dengan lelah.

Tiffany tersenyum, ia kemudian duduk di samping So Eun. “Ambilah. Mungkin ini bisa sedikit membantu.” Ujarnya sambil menawarkan permen mint pada So Eun. So Eun tersenyum dan menerimanya.

“Terima kasih, tapi bukannya apa-apa, aku tak yakin ini akan cukup membantu. Pagi ini aku hanya dapat tidur sekitar satu jam.”

“Benar. Tapi setidaknya ini bisa membantu sebelum kau masuk ke dalam, karena nanti melihat wajah Ketua Tim kau pasti akan terjaga dengan sendirinya.” Tiffany kembali terkekeh, yang mana berhasil membuat So Eun sedikit tersipu. Apa dia sejelas itu?

Setelah menunggu beberapa menit akhirnya So Eun dipanggil untuk menghadap Lee Dong Hae. So Eun tampak gugup, namun akhirnya ia melangkahkan kakinya masuk.

“Jadi bagaimana, nona-Kim? Apa Anda membawa apa yang saya minta kemarin?” Tanya Dong Hae ketika ia baru saja duduk.

“Ya, Ketua Tim.” So Eun menyerahkan laporan yang dipegangnya sejak tadi. Dong Hae tampak langsung menerimanya dan memeriksanya. “Jadi menurut saya—“

“Tidak perlu.” Dong Hae memotong ucapannya, lalu mengangkat wajahnya menatap So Eun. “Saya akan mempelajari laporan ini dan memberitahukan bagaimana hasilnya besok. Sekarang kau pasti lelah jadi kau bisa pulang lebih awal dan beristirahat.”

Apa dia tak salah lihat? Pria ini tersenyum, tersenyum padanya. Juga dengarlah bagaimana tadi ia berbicara. So Eun tak pernah merasa tersentuh dengan perhatian seseorang sebelumnya, apalagi dalam bentuk sesederhana ucapannya barusan.

“Tunggu apa lagi? Apa kau akan menunggu keputusannya hari ini?”

“T-Tidak, Ketua Tim. Saya akan menunggu keputusan Anda besok dan akan beristirahat untuk hari ini.”

“Ah, ibu! Ini sakit. Lepaskan.” Ye Sung merengek bak anak kecil ketika telinganya dijewer cukup keras oleh sang ibu. Ia dapat merasakan cuping telinganya memanas dan memerah. “Ah, ibu. Lepaskan!”

“Rasakan ini, dasar anak nakal. Bagaimana bisa kau berani-beraninya datang menemuiku untuk meminta ijin hal seperti itu? Acara pernikahan pura-pura? Yang benar saja, kau lupa, kau itu bukan pria single lagi sekarang.” Ibunya mengomel panjang sambil tidak melepaskan jewerannya pada sang putra, membuat ia semakin meringis kesakitan.

“Aku tahu, tapi aku hanya mengikuti perintah Direktur. Arh, ibu. Lepaskan. Ini sangat sakit.”

Nyonya besar itu mendesah, tapi akhirnya melepaskan jepitannya di salah satu telinga putranya itu. Tinggalah kini Ye Sung masih meringis sambil memegangi bekas kekerasan ibunya.

“Ibu, aku ini sudah dewasa. Berhentilah melakukan itu.”

“Kalau kau sudah dewasa maka berlakulah seperti itu, bukannya terus bertingkah dan membuatku pusing seperti ini. Jangan bicara tentang kedewasaan padaku!”

Ye Sung mendengus, menyerah. Karena sejak lahir ke dunia ini ia tahu bahwa ia tidak akan menang berdebat dari wanita yang telah melahirkannya itu.

“Sekarang jelaskan padaku kenapa kau menerima pekerjaan bodoh itu. Kau itu sudah menikah, putraku. Bagaimana mungkin aku membiarkanmu bermanjaan dengan wanita lain di TV dan ditonton oleh semua orang. Apa yang akan kukatakan pada menantu dan besanku.”

“Aku sudah bilang kalau ini bukan keinginanku, tapi Direktur-Lee. Dan ibu juga jangan tanya mengapa karena ini semua gara-gara ide gila ibu tentang pernikahan ini. Direktur-Lee melakukan ini untuk menyembunyikan pernikahanku.”

“Kau itu manusia, kau itu berhak menikah. Aku tak mengerti apa yang salah.”

“Tapi pekerjaanku ini punya beberapa batasan dan kontrak, dimana salah satunya adalah batasan untuk menikah. Ibu tidak sadar kalau aku bisa saja dijebloskan ke penjara karena semua ini.”

“Yang benar saja.” Wanita itu menyerah, ia tampak kesal dan menggerutu tak senang. “Jadi sekarang apa yang harus kukatakan pada So Eun dan keluarganya? Cepat atau lambat mereka akan mengetahuinya.”

Ye Sung berdehem, pindah dari tempat duduknya mendekati ibunya. Duduk merapat. “Oleh sebab itu aku menemui ibu, agar ibu bisa membantuku mengatakannya pada mereka.” Ia merayu. Menggenggam tangan ibunya. “Untuk hal ini tolong ibu jelaskan pada mereka, ya? Please.” Kini ia bersikap sok manja dan itu tidak terlihat imut.

“Kau datang padaku hanya untuk meminta hal seperti ini, bukan?”

“Aku juga tak punya pilihan. Dari awal ibu yang menyuruhku menikah dan terjebak dengan semua ini.”

“Tch, berhenti mengatakan itu.” Wanita itu protes. Kini ia berpikir sejenak, lalu kembali mengeluarkan suaranya. “Baiklah, aku akan menyampaikan hal ini pada orang tua So Eun namun kepada So Eun kau harus mengatakannya secara langsung. Kau harus belajar menjalin komunikasi yang baik dengan istrimu.”

Ibunya ini benar-benar. Tapi baiklah, toh tak perlu dikatakanpun semuanya tidak akan masalah. Walau bagaimanapun dia dan So Eun telah sepakat untuk tidak saling mencampuri urusan masing-masing.

“Baiklah. Sekarang kita sudah sepakat ya, ibu.” Ye Sung kini menyeringai licik sambil menjabat tangan ibunya.

Ye Sung pulang ketika waktu tengah malam hampir datang. Pemuda itu tampak sudah lelah dan setengah mengantuk ketika ia turun dari mobil dan berniat masuk ke dalam.

Ye Sung dengan cepat menggapai pintu, tangannya berniat memasukkan kode yang sudah sangat dihapalnya, memasukkan kode demi kode dengan jarinya. TIT!! Bunyi nyaring itu sedikit mengejutkannya keluar dari mesin tersebut. Ia tampak keheranan, mencoba sekali lagi. TIT!! Lagi-lagi gagal.

“Apa yang terjadi? Apa dia mengganti kodenya?” baru saja ia bermonolog tiba-tiba ponsel di dalam sakunya bergetar. Nomor sang istri terlihat terpampang disana. Ye Sung melirik pintu, mulai berfirasat buruk namun ia mengangkatnya. “Halo?”

Sayang, kau dimana? Ada orang aneh yang sekarang sedang mencoba masuk ke rumah kita. Daritadi alarmnya terus berbunyi” Suara rengekan yang terdengar familiar di telinganya. Ini adalah caranya mengerjai wanita ini kemarin dan dilihat dari situasinya jelas ia tahu apa yang terjadi. Sang Istri membalas perbuatannya.

Ye Sung menghela nafas, berusaha untuk tetap tenang meladeni permainan So Eun. “Hei, kau sedang membalasku?” tanyanya terkekeh hambar, menahan kekesalannya.

“Apa yang kau katakan, sayang?

“Buka pintunya. Aku sangat lelah dan harus berangkat pagi-pagi sekali besok. Ini bukan saat yang tepat bercanda, sayang.” Ujung ucapannya terdengar sarkatis.

“Begitu? Tapi aku harus bagaimana? Tubuhku sangat lelah karena ulahmu kemarin sehingga sekarang aku tak punya tenaga walau hanya bergerak membuka pintu. Sepertinya kau harus tidur di luar malam ini, sayang—“

“Hei!” Ye Sung sedikit bosan berbasa-basi. “Buka ini. Aku benar-benar tak bercanda.” Ucapnya kesal.

“Tidak mau.” So Eun juga menjawab cepat. “Karena perbuatan bodohmu kemarin aku harus menderita dan bahkan hampir kehilangan pekerjaanku, tahu. Sekarang kau harus ikut merasakan bagaimana rasanya.”

“Hei!”

“Jangan berteriak, aku tetap tidak akan membukanya. Sekarang silahkan menikmati malam yang indah bersama bintang-bintang di luar sana, sayang.”

Ye Sung memejamkan matanya, meremas rambutnya karena kepalanya terasa pusing mendadak. Dia tahu bahwa percuma berbicara dengan wanita karena ia tak akan goyah, dia sama keras kepalanya dengan dirinya sendiri. Pada akhirnya ia yang harus menyerah karena memang ini salahnya cari gara-gara dengan sang istri sejak awal.

“Kenapa kau diam? Kau sudah tidur?” So Eun kembali menggodanya, membuatnya kini mendesah menahan sebal.

“Sudahlah, tidur sana. Kau berisik.”

“Aww, itu ucapan selamat malam yang manis. Yoo too sayang, good night dan tidurlah dengan nyenyak—“

Ye Sung memutus sambungan di ponselnya sebelum So Eun menyelesaikan ucapannya. Pemuda itu mendesah, melirik pintu yang tertutup rapat itu sekali lagi sebelum kembali ke mobil. Sepertinya ia harus mencari hotel terdekat untuk melepas lelahnya malam ini.

Pagi-pagi sekali Ye Sung sudah terlihat sibuk dengan kegiatannya untuk hari ini. Ditemani oleh sang manager ini ia sudah sampai di lokasi syuting WGM pertamanya.

Orang yang tak terlalu kenal padanya tidak akan menyadari, namun hari ini Ye Sung terlihat sangat berbeda dari dirinya yang biasanya. Pria itu terlihat sangat semangat menjalani kegiatan yang menunggunya, bahkan mood-nya juga terlihat sangat baik dari bagaimana seringnya ia mengumbar senyuman. Tingkahnya itu hanya diberi gelengan kepala oleh sang manager.

“Kau tak seharusnya menunjukkan rasa senangmu sejelas itu. Kau terlihat seperti idiot.” Ejek Shin Dong yang berjalan di sampingnya. Ye Sung hanya berdecak sambil melirik teman sekaligus managernya tersebut.

“Kau hanya tidak mengerti saja bagaimana rasanya.”

“Huh, kau akhirnya benar-benar tidak ambil pusing dengan pernikahanmu, bukan? Apa kau tak sadar bahwa kau baru saja memasuki sebuah kubangan? Kau akan terkena masalah besar kalau sampai ketahuan.”

“Tch, jangan mengingatkanku masalah ini.” Wajah Ye Sung berubah tak suka, ia berdecak sambil memutar bola matanya. “Bagiku sekarang hanya menjalani apa yang ingin kulakukan setelah apa yang terjadi terhadapku belakangan ini. Aku memutuskan untuk tidak terlalu memikirkan apapun dan hanya membuat diriku sendiri merasa senang.”

“Sungguh? Kau tak memikirkan resiko yang bisa saja terjadi nantinya?”

“Resiko apa? Kehilangan fans? Berhenti jadi selebriti? Tch, kaukan tahu aku ini anak konglomerat. Kalau semua itu terjadi maka aku akan menjadi seorang pengusaha dengan tenangnya.” Ye Sung menyeringai sambil mendahului sang manager mendekati produser acara yang telah menantinya. Sementara itu Shin Dong lagi-lagi hanya menggelengkan kepala sambil menyusulnya.

Ye Sung terlibat pembicaraan singkat dengan produser dan sutradara acara selama beberapa menit sebelum sebuah van memasuki kawasan tersebut. Semua orang menghentikan pembicaraan dan menoleh ke arah mobil yang diyakini membawa bintang acara yang lainnya. Benar saja, tak lama seorang wanita cantik keluar dari dalam.

“Bukankah dia enak di pandang.” Ye Sung berbisik pada Shin Dong yang duduk di sampingnya. “Tidak seperti seseorang di rumah yang hanya bisa mengomel.”

Shin Dong hanya mendesah tak berminat dengan ucapan temannya itu. Apalagi ketika kini Ye Sung tampak mengumbar senyuman menunggu Kang Min Kyung mendekat ke arahnya. “Berhentilah memasang wajah seperti itu. Kau terlihat seperti pria mesum.”

“Kenapa? Semua orang sudah tahu kalau dia adalah wanita idealku. Lagipula aku ingin memakai image pria yang playful dan romantis untuk acara ini, kira-kira seperti aktor Song Jae Rim ketika berpasangan dengan aktris Chu Ga Eul beberapa waktu yang lalu.”

“Terserah kau. Kau benar-benar gila.”

Kang Min Kyung akhirnya sampai di tempat mereka sambil menyampaikan penyelesalan karena terlambat datang. Ye Sung tampak ikut berdiri untuk menyambutnya dan berjabat tangan, keduanya berbagi sapaan formal sesaat sebelum kembali duduk.

Jadi selamat datang untuk Anda berdua di acara kami. Kami harap Anda berdua mau bekerja sama dalam beberapa bulan ini dengan menyebarkan cinta kepada seluruh penggemar acara ini.” Sapa sang produser membuka briefing singkat mereka sebelum rekaman. “Ohya, apa kalian belum pernah mengenal sebelumnya?”

Keduanya saling bertatapan, saling tersenyum sebelum Kang Min Kyung membuka suara. “Sebenarnya kami pernah bertemu beberapa kali, namun kami tidak terlalu mengenal.” Ucapnya. Ye Sung mengangguk setuju.

“Benarkah? Sayang sekali. Kudengar Ye Sung memilih Kang Min Kyung sebagai wanita idealnya.” Kali ini sang sutradara yang menggoda keduanya. Lihat? Hampir semua orang di dunia ini mengetahui hal ini karena memang bukan hanya sekali Ye Sung menyebutnya di TV. Kang Min Kyung juga terlihat mengetahuinya dilihat dari senyuman kecil di wajahnya.

“Begitulah.” Ye Sung tersenyum kecil begitu menjawabnya. “Oleh sebab itu saya sangat bersemangat ketika diajak bergabung dalam acara ini. Mohon kerjasamanya.” Ye Sung menjawab tanpa melepaskan senyuman di wajahnya. Senyuman puas terlihat di wajah Produser dan Sutradara, sementara Kang Min Kyung tampak ikut tersenyum pada Ye Sung.

“Baiklah, jadi kita akan mulai acaranya. Jadi begini, kalian sudah menerima skrip untuk hari ini, bukan? Kita akan memulai rekamannya di café ini dimana untuk pertama kali kalian bertemu siapa pasangan kalian. Bersikaplah senatural mungkin seolah-olah itu adalah kalian sebelumnya tidak tahu bahwa kalian telah dipasangkan untuk acara ini.”

Bola mata So Eun mengikuti setiap pergerakan Dong Hae yang kini tengah mengambil sesuatu dari rak di belakang mejanya. Tak lama setelah mendapatkan sesuatu pria itu kembali ke tempatnya, duduk di hadapan So Eun. Dong Hae memeriksa lembaran kertas di tangannya sesaat lalu melirik So Eun yang hanya diam menunggunya.

“Terima kasih karena telah mau menunggu, Kim So Eun. Ini saya kembalikan hasil silahkan ambil kembali laporan yang sebelumnya.”

So Eun menerima kembali laporan miliknya itu, lantas bertanya ragu, “B-Bagaimana hasilnya, Ketua Tim?”

“Cukup memuaskan.” Dong Hae memberikan senyuman tipisnya. “Anda memperhatikan setiap detail yang saya berikan dan menerapkannya dalam pekerjaan. Aliran Design yang Anda usung juga sangat fresh, sentuhan lembut seorang designer pemula yang memang dibutuhkan dalam tim ini. Memang diakui bahwa masih ada beberapa hal yang perlu diperbaiki namun saya yakin hal tersebut akan membaik setelah anda berbaur dengan tim.”

So Eun tak lantas bereaksi, namun ia merasakan pipinya memerah karena ucapan Dong Hae. Hatinya terasa senang mendengar pujian dari Dong Hae. “J-Jadi, apakah artinya saya diterima di tim anda?” tanyanya ragu.

“Bukankah harusnya sudah jelas.” Dong Hae kembali tersenyum yang kembali berhasil membuat jantung So Eun lebih berdebar. “Ya, Anda memenuhi standar untuk bergabung dalam tim kami. Jadi mulai dari besok Anda bisa secara resmi bekerja, nona-Kim So Eun.” Dong Hae mengambil benda lain yang diambilnya dari rak tadi, lalu menyerahkannya pada So Eun. “Jadi selamat bergabung dengan kami.”

So Eun tersenyum menatap ID Card yang diterimanya tersebut, hatinya senang melihat foto dan namanya tercantum disana. Ia senang karena kerja kerasnya malam itu tidaklah sia-sia. “Terima kasih, Ketua Tim.” Keduanya berjabat tangan untuk pertama kali.

Setelah mengucapkan selamat tinggal, So Eun kelaur dari ruangan Dong Hae. Saat ini hati So Eun terasa sangat senang. Setiap pujian Dong Hae tadi terus terngiang di telinganya dan itu membuatnya tersipu.

“Aku seharusnya bertemu lebih awal dengannya sehingga dulu aku punya alasan untuk menolak rencana gila ibu. Pria seperti itu yang cocok untukku sebenarnya, tidak seperti seseorang menyebalkan yang kukenal.” So Eun berdecak sambil geleng-geleng kepala. Ia menepis pemikirannya itu dan meninggalkan tempat itu sebelum Dong Hae memergokinya berbuat bodoh seperti berbicara sendiri begini.

Tempat yang dituju So Eun saat ini adalah ruang kerja tim dimana ia akan bergabung mulai besok. So Eun akan mencoba menyapa rekan kerjanya walau kata Dong Hae hampir semua tim saat ini tengah memantau project ke Paju.

“Kita beralih ke berita variety show. Hari ini secara resmi pihak We Got Married telah mengumumkan pasangan baru yang akan menggantikan pasangan Song Jae Rim dan Chu Ga Eul yang telah mengucapkan selamat tinggal minggu lalu. Pasangan baru yang baru bergabung adalah Kim Ye Sung dan Kang Min Kyung dari grup Davichi.” Suara nyaring TV menyambut kedatangannya begitu ia sampai di tempat itu. Awalnya So Eun tidak peduli, hingga ketika ia melihat wajah yang tak asing terpampang di layar. “Pengumuman ini mendapat banyak respon dari netizen. Banyak orang yang tertarik dengan chemistry antara keduanya karena Kim Ye Sung sendiri beberapa kali sering menyebut bahwa Kang Min Kyung adalah tipe idealnya. Sementara itu pasangan ini telah bertemu untuk pertama kalinya dan memulai syuting pertama mereka.”

So Eun tak bisa memberikan reaksi lain mengenai berita itu selain dengusan sebal. Bukannya cemburu, jangan salah, hanya saja ia berpikir bahwa perbuatan ini malah akan beresiko bagi keduanya kalau ketahuan. So Eun tak dapat membayangkan kehebohan yang akan terjadi kalau sampai semua rahasia ini terbongkar.

“Pasangan ini pasti akan heboh. Aku berani taruhan kalau acara ini nantinya akan membuat mereka benar-benar berkencan.” Salah satu dari karyawati yang ada di ruangan itu bersuara pada kedua temannya yang lain. Ketiganya belum menyadari kedatangan So Eun yang kini mendengar pembicaraan mereka.

“Tentu saja, setelah sebelumnya seringkali menyatakan kekaguman terhadap Kang Min Kyung tentu dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk mendapatkan gadis pujaannya. Aku sudah mencium kesuksesan pasangan ini dan tak lama lagi akan mulai muncul kubu yang mendukung ataupun yang menentang keduanya. Kudengar Kang Min Kyung mempunyai cukup banyak haters hanya karena Ye Sung menyebut namanya, aku yakin jumlah anti-cafénya juga akan melonjak.”

So Eun memutar bola matanya mendengar isi percakapan calon rekan satu timnya tersebut. Sepertinya pekerjaan menjadi designer yang terkenal cukup padat memberi mereka cukup banyak waktu untuk menggosip mengenai selebritis. So Eun juga mendengus tentang bagaimana mereka menggambarkan Ye Sung seperti seorang superstar ketika ia tahu sendiri kalau aslinya pria itu hanyalah anak manja yang masih sering mengapit di ketiak ibunya.

“Tapi apakah kalian pernah mendengar gossip kalau Ye Sung sebenarnya baru saja menikah beberapa minggu yang lalu?” salah satu dari ketiganya yang hanya sejak tadi hanya diam tiba-tiba bersuara yang nyaris membuat So Eun kena serangan jantung. Sementara itu kedua temannya tadi melirik teman mereka itu dengan tatapan aneh.

“Omong kosong macam apa itu, Ha Young?”

“Aku membaca di sebuah postingan di internet. Kata si OP, Sekitar dua minggu yang lalu Ye Sung dan seluruh anggota keluarganya terbang ke Jeju untuk melakukan pernikahan yang diselenggarakan tertutup di mansion milik keluarganya disana.” Jelas gadis berkacamata yang dipanggil Ha Young tersebut. Kedua temannya tampak hanya melecehkan mendengar ucapannya, namun So Eun malah dibuat gugup.

“Ha Young, sudah berapa kali aku melarangmu untuk percaya dengan mudahnya terhadap apa yang temukan di Internet? Seperti waktu itu, kau juga dengan percayanya ketika seseorang yang tidak diketahui asalnya mengklaim bahwa ia telah memasuki apartemen Ye Sung tanpa izin dan mengambil celana dalam miliknya. Sekarang kau percaya khabar kalau Kim Ye Sung sudah menikah? Sungguh?”

Gadis yang dipanggil Ha Young itu tampak sedikit cemberut mendengar kritikan temannya. Mereka bahkan masih belum menyadari kehadiran So Eun yang kini mulai merasakan bulu kuduknya merinding mendengar ucapan Ha Young. Apa benar Ye Sung punya fans segila itu? Sampai mencuri celana dalamnya dan menyebarkannya online? Wah, kalau begini bisa-bisa rahasianya bersama Ye Sung bisa tercium dan setelah itu tamatlah riwayatnya.

Entah berapa lama So Eun larut dalam pemikirannya sehingga ia tak menyadari kalau ketiga orang itu telah melihat kehadirannya. So Eun tampak mendekat, membungkukan badan sambil menyapa mereka yang menatapnya penasaran.

“Selamat sore semuanya. Perkenalkan, saya adalah Kim So Eun. Mulai besok saya akan bergabung dengan tim ini.”

Apapun yang akan terjadi sebaiknya ia pikirkan nanti. Sekarang dia harus fokus pada hidupnya sendiri, terutama pekerjaannya ini.

Tak seperti kemarin, hari ini Ye Sung dapat memasuki rumah dengan leluasa menggunakan kode keamanan yang mereka sepakati. Memang pagi ini sebelum ia pergi bekerja So Eun telah menggantinya kembali setelah merasa puas karena telah membalaskan dendamnya.

Sekarang baru pukul Sembilan malam, namun suasana rumah sudah sangat sepi. Asisten rumah tangga yang mereka pekerjakannya memang hanya disana hingga jam delapan malam setelah mencuci piring makan malam, sementara itu So Eun akan menghabiskan banyak waktunya di kamar. Kedua orang itu memang hidup seperti itu sehingga tak jarang mereka tak melihat satu sama lain walau mereka tinggal satu atap.

Hari ini juga, Ye Sung berencana untuk segera bersantai di kamarnya sambil menikmati sisa malam. Seharian ini hatinya sangat senang karena menghabiskan banyak waktu bersama Kang Min Kyung, esokpun dia harus berangkat pagi untuk melanjutkan syuting acara yang sama.

Ye Sung melepas sepatunya dan meraih sandal rumahan. Ia kemudian segera beranjak menuju kamarnya sambil melepas jaket yang dipakainya. Ketika hampir sampai tiba-tiba saja pintu di samping kamarnya terbuka, menunjukan So Eun dengan pakaian piyama lengkapnya.

“Kita harus bicara.”

Ye Sung mendesah, terlihat sedikit keberatan. “Harus sekarang? Tak bisakah menungguku mandi dulu?”

“Tidak. Sekarang saja. Ini tidak akan lama.”

Ye Sung kini mengangkat alisnya, menganggukan kepalanya pasrah sambil mengulurkan niatnya untuk masuk ke kamar. Kini ia berdiri di depan pintu sementara So Eun masih bersandar di salah satu sisi ambang pintu kamarnya.

“Aku melihatmu di TV hari ini.”

“Sebenarnya setiap harinya aku akan muncul di TV.”

So Eun mendengus mendengar jawaban tak berminat Ye Sung. Namun bukan itu maksud ucapannya saat ini, ia harus mengatakan tanpa berbelit sehingga tidak akan membuang waktu.

“Kau yakin mau bergabung dengan acara itu? Kau tak takut ketahuan?”

Ye Sung mendesah, ia menunduk sambil tersenyum tipis mendengar ucapan itu. Ia sudah mendengar ucapan yang sama sejak beberapa hari ini. Kini So Eun juga menanyakannya. “Kenapa? Kau mengkhawatirkanku?”

“Jangan mengada. Tentu saja aku mengkhawatirkan diriku sendiri. Mengapa juga aku mengkhawatirkan dirimu?” So Eun menjawab cepat, langsung disambung dengan gerutuan.

“Siapa tahu saja.” Ye Sung mengangkat bahu tak peduli. Ia kemudian melirik ruang lurus di depan mereka, sebuah jendela kaca berada disana menunjukkan dunia luar yang telah gelap. “Tentu saja aku takut ini ketahuan, karena karierku bisa tamat seketika semuanya terbongkar. Tapi mau apalagi, inilah yang kuinginkan.”

“Hei, kuperingatkan padamu untuk berhati-hati. Karena kalau ini nantinya terbongkar bukan hanya kau yang menerima dampaknya, tapi aku juga.” So Eun melirik cepat setelah mendengar jawaban ambigu itu, protes.

“Lalu?” Ye Sung balas menyahut, dengan tatapan datar. “Itu juga resikomu.”

“Hey—“

“Bukankah isi kontrak kita sudah sangat jelas? Kita bisa melakukan apapun setelah pernikahan ini, termasuk berkencan. Mengenai apapun resiko yang akan terjadi maka kita juga harus menjalaninya apapun yang terjadi. Kita tidak punya hubungan tanggung jawab satu sama lain selain tetap bertahan dengan ikatan ini hingga sampai masanya kita dapat melepaskan diri.”

“Aku tahu. Tapi bukankah itu tak adil? Karena dengan apapun aku berkencan, apapun yang aku lakukan, semua itu tidak akan memberi dampak padamu. Tapi bagaimana denganku? Kau ketahuan aku juga ketahuan, kau mati aku juga mati!”

“Bukankah itu terdengar romantis? Setidaknya ada hal yang bisa kita samakan dengan pasangan lainnya, sayang?

“Hey, berhenti bercanda. Enak saja, aku tak mau berurusan dengan duniamu yang gila itu. Juga, berhentilah memanggilku seperti itu karena aku sungguh mual setiap kali mendengarnya!” So Eun kini sedikit terpancing emosi, ia berseru dengan sangat kesal.

“Mau apalagi? Dari awal itulah resiko menikah denganku, kau sudah seharusnya tahu itu. Kalau itu terjadi maka mau tak mau kau harus menerimanya juga namun sebelum itu kau tenang saja karena aku juga tidak akan membiarkan hal seperti itu terjadi. Walau bagaimanapun aku tak mau karierku hancur begitu saja jadi jangan khawatir.” Ye Sung kembali tersenyum tipis, lalu melirik So Eun lagi. “Dan mengenai panggilan itu, aku tak mau. Aku suka mengusilimu dengan itu. Kalau kau tak suka, maka itu urusanmu.”

“Hah, kau ini bener-benar. Dari awal memang tak seharusnya aku terlibat denganmu, bukan?” So Eun kini sangat kesal karena merasa posisinya sama sekali tak menguntungkan. “Pokoknya kau harus hati-hati. Aku akan membunuhmu kalau sampai ini ketahuan dan aku harus berurusan dengan fans gilamu.” So Eun memutar tubuhnya, berniat kembali ke kamarnya. Sementara Ye Sung masih setia memandanginya sambil tersenyum.

“Selamat malam, sayang.”

“Aish, kubilang berhenti memanggilku begitu!” Teriak So Eun kesal yang lagi-lagi hanya dibalas senyuman oleh Ye Sung. Ia hendak masuk, namun mendadak ia ingat sesuatu sehingga ia melirik Ye Sung lagi. “Oh ya, ada satu hal lagi yang ingin kutanyakan.”

“Apa lagi?”

So Eun tak langsung menyahut, wajahnya terlihat canggung. Ia sepertinya ragu mengutarakan maksudnya. Ye Sung menatapnya heran.

“Apa? Kenapa malah diam?”

“Dengar, aku tak berniat apa-apa dengan menanyakan ini tapi aku hanya penasaran begitu tadi mendengarnya. Jadi—“

“Aish, jangan bertele-tele. Langsung tanyakan saja.”

So Eun menghela nafasnya, tapi tak lama kemudian bersuara. “Apa benar fansmu pernah memasuki apartemenmu tanpa ijin dan mencuri barang pribadimu?”

Ye Sung tersenyum mendengarnya. “Barang pribadi maksudmu celana dalamku?”

So Eun mendengus mendengar ucapan itu, merasa muak dan jijik seketika. Namun kemudian ia jadi berpikir maksud sahutan Ye Sung itu. “Jadi benar?” tanyanya. Anggukan Ye Sung sukses membuatnya merasa sangat risih. “Apa mereka gila?”

“Mungkin. Aku memang terkenal membuat banyak orang tergila-gila karena pesonaku.” Lagi-lagi So Eun merasa mual mendengar sahutan dari pria itu. Selamanya ia sepertinya akan menentang siapapun yang mengidolakan pria menyebalkan yang kini menjadi suaminya tersebut.

“Lihat, kau punya fans yang gila. Bagaimana kalau mereka mengetahui rahasia ini? Atau yang lebih gila bagaimana kalau mereka juga memasuki rumah ini dan melakukan yang tidak-tidak.”

Sayang, sudah berapa kali kukatakan bahwa kesempatan seperti itu sangat kecil. Perumahan ini tidak akan bisa dimasuki sembarangan, juga kita tidak pernah berjalan bersama. Maka dari itu aku yakin kita tidak akan ketahuan.”

Benar juga. Walaupun mereka sudah menikah tapi mereka tidak pernah berada di tempat yang sama selain di rumah ini. Oleh sebab itu sangat kecil celah bagi para fans menemukan fakta hubungan mereka. Rahasia pernikahan merekapun juga sudah disimpan sangat apik dan hanya orang-orang tertentu saja yang mengetahuinya.

“Baiklah, setidaknya aku tenang. Aku sungguh tak ingin terlibat masalah karenamu, ingat itu.”

“Ya ya.”

“Camkan ini, kau harus menjalani hidupmu dengan hati-hati karena aku juga ingin menjalani hidupku dengan damai. Kita boleh saja telah menikah, tapi kita punya kehidupan sendiri. Jangan sampai karena dirimu duniaku menjadi ikut hancur.”

“Ya ya ya. Sekarang bolehkah aku masuk dan mandi?”

Kedua orang itu kembali saling bertatapan tak berminat, terlihat sangat tak bersahabat dan dingin. Keduanya membagi pandangan itu sejenak sebelum akhirnya mulai membalik badan dan memasuki kamar masing-masing. Kedua pintu kamar itu kemudian saling ditutup kasar dan rapat.

Setelah malam itu selama beberapa hari keduanya jadi jarang bertemu. Di acara WGM, Ye Sung diceritakan sudah memiliki rumah tinggalnya bersama pasangannya sehingga ia kini tak pulang selama dua malam ketika syuting. Di beberapa kesempatan Ye Sung juga harus mengisi acara dan mengadakan konser keluar negeri sehingga intensitasnya berada di rumah kian berkurang. So Eun juga sama sibuknya dengan pekerjaannya. Wanita itu seringkali harus berangkat kerja pagi-pagi dan pulang hingga tengah malam. Bahkan ia juga pernah pergi keluar kota selama dua malam untuk memantau lokasi projek tim barunya.

Hari ini adalah hari yang cukup santai bagi Ye Sung. Sore ini ia baru saja sampai setelah menyelesaikan konsernya di Osaka. Kedatangannya langsung disambut dengan cuaca yang tidak bersahabat dengan hujan lebat beserta badai serta petir yang menyambar.

Ye Sung hampir mati kedinginan ketika akhirnya ia sampai di rumah yang sudah beberapa hari ditinggalkannya. Saat ini yang ingin ia lakukan adalah berendam dengan air panas dan tidur dengan nyenyaknya tanpa harus khawatir dengan jadwal yang padat. Besok adalah hari yang santai sehingga ia akan menghabiskan waktu dengan tiduran di kamarnya, begitulah rencananya.

Pintu rumahnya terbuka bersamaan dengan suara petir yang menggelegar. Ye Sung mendesis kedinginan, menjinjit masuk ke dalam untuk menghindari percikan hujan. Secepat kilat ia kini melepaskan sepatunya dan menggantinya dengan sandal sebelum akhirnya melesat menuju kamarnya, namun tiba di ruang tamu ia menghentikan langkahnya begitu melihat So Eun berada disana. Duduk di sudut dengan tatapan yang terlihat kosong.

“Apa yang kau lakukan disana?” Ia bertanya heran. Hampir saja ia terbahak melihat bagaimana So Eun tersentak karena seruannya namun karena kedinginan ia tak punya tenaga untuk melakukan semua itu. Jadilah kini ia hanya menatap heran sang istri yang terkejut melihatnya.

“K-Kau pulang?” Tanya gadis itu masih seperti tak yakin dengan kehadirannya. Ye Sung hanya mengerutkan dahi heran.

“Kutanya, apa yang kau lakukan disana? Kau tak kedinginan?” Ye Sung mengangkat bahu tak peduli setelah menanyakannya, bergerak menuju kamarnya. Basahnya saat ini sangat basah sehingga ia harus segera mandi dan mengeringkannya. Ketika ia melirik ke belakang dilihatnya So Eun sudah bangkit dari tempat duduknya dan bergerak dari tempatnya, mungkin kini bergerak menuju kamarnya.

Ye Sung memutuskan untuk mempercepat acara berendamnya karena ingin tidur lebih cepat. Di luar hujan turun kian lebat bersama badai yang terus datang dan petir yang bersangkutan. Semua itu membuat Ye Sung ingin segera bertukar pakaian dan bergelung dalam selimut.

Petir yang kuat kembali terdengar hingga menggetarkan genteng, membuat Ye Sung yang baru saja selesai berpakaian sedikit tersentak. Tak lama kemudian beberapa sambaran kembali terdengar bersahutan, membuatnya memutuskan untuk menyeret langkahnya menuju tempat tidur. Namun disaat itu ia menyadari ada suara dan pergerakan lain yang terjadi di depan kamarnya, seseorang seperti mondar-mandir disana.

Ye Sung membuka pintu dan hal itu berhasil membuat tersentak So Eun yang memang seperti dugaannya berada di depan pintu kamarnya. Ye Sung mengerutkan dahi, terlihat keheranan dengan tingkah yang tak biasa itu. “Sebenarnya apa yang kau lakukan malam-malam begini dan dalam keadaan seperti ini?”

So Eun tampak gugup, bola matanya terlihat gelisah tak mau menatap Ye Sung. “T-Tidak ada apa-apa. A-Aku hanya tidak bisa tidur sehingga itu sebabnya aku sedikit berolahraga.” Ia menjawab dengan gugup.

“Olahraga?” Ye Sung tersenyum tipis. Sementara So Eun kian tak mau melirik padanya dan hanya menggerakkan bola matanya menatapi dinding-dinding yang memisahkan pintu kamar mereka. “Hey, apa selain takut gelap kau juga takut petir? Kau terlihat aneh sekarang.”

“A-Apa? T-Tidak sama sekali. Enak saja.”

“Lalu apa yang kau lakukan di depan kamarku?”

“K-Kamarmu bagaimana? A-Aku hanya mondar-mandir di depan kamarku namun karena kamar kita bersebelahan sehingga itu sebabnya aku terlihat seperti mondar-mandir di depan kamarmu.”

“Benarkah?” Ye Sung terlihat masih meragukan. Tak lama setelahnya tiba-tiba sebuah petir kembali datang yang berhasil membuat tersentak keduanya. So Eun bahkan menutup erat telinganya, terlihat sedikit bergetar. “Cuacanya tidak bagus. Sebaiknya kau langsung tidur daripada melakukan hal yang aneh—“

“Y-Ye Sung!” Ia berniat masuk namun So Eun tiba-tiba meraih salah satu lengannya dengan kedua tangan. Mengamitnya, atau bahkan nyaris memeluknya dengan tangan bergetar.

“Jadi ternyata kau memang takut?” Ye Sung tersenyum lebar, merasa puas karena tebakannya benar. Sementara itu So Eun tampak tak bisa mengatakan apapun, ia hanya menunduk menahan malu.

“T-Tak bisakah kita tidur setelah menunggu petirnya reda? K-Kita bisa duduk dan bercerita di ruang tamu atau sebagainya.”

Ye Sung mengerjap menatap So Eun, sementara gadis itu menunduk canggung. “Bukannya apa-apa, So Eun. Tapi menurutku petir seperti ini tidak akan berhenti sebentar. Menurutku lebih baik kau menahannya dan mencoba memejamkan mata. Lagipula tubuhku sekarang sangat lelah, aku ingin beristirahat.”

Pegangan So Eun di tangannya perlahan melonggar, lalu kemudian terlepas dengan sedikit ragu. “Begitu. B-Baiklah.” So Eun menatapnya sekilas dan memaksakan sebuah senyuman. Untuk pertama kalinya Ye Sung merasa tak enak menolak permintaan So Eun tadi, sepertinya sang istri benar-benar ketakutan. Tapi kalau dipikir lagi memang sebaiknya membiarkan So Eun melawan rasa takutnya dan pergi tidur daripada menahannya sepanjang malam.

“Selamat tidur, sayang.” Godanya, namun So Eun tak menyahut, tanpa berbalik ia berjalan menuju pintu kamarnya.

DUAR. Sebuah petir yang kuat kembali terdengar yang kali ini berhasil membuat lampu berkedip. So Eun menghentikan langkahnya, berbalik dan kembali mengapit pada Ye Sung. “Kalau begitu biarkan aku tidur di sisimu. Aku benar-benar takut sendirian.” Suara So Eun terdengar agak serak ketika ia semakin merapat.

Ye Sung kembali dari kamar So Eun sambil membawakan selimut gadis itu. Sesampainya di kamar dilihatnya So Eun masih duduk bersandar di kepala ranjang seperti ia tinggalkan tadi. Wajahnya terlihat pucat dan tatapannya kosong.

“Sebenarnya apa yang terjadi? Mengapa kau begitu takut pada kegelapan dan petir?” Tanya Ye Sung mendekat, menyerahkan selimut pada pemiliknya. So Eun menerimanya dan mengucapkan terima kasih.

“Tidak ada apa-apa. Pokoknya aku takut.”

Ye Sung menangkap sesuatu yang disembunyikan. Namun ia juga tak mau bertanya lebih jauh karena itu bukan merupakan urusannya. So Eun juga pastilah tak suka dipaksa.

Ye Sung bergeser ke sisi tempat tidur yang satunya. Semakin dimantapkannya posisi sebuah guling yang membatasi ruang gerak keduanya. “Tapi kau yakin akan tidur disini? Kau percaya padaku?” tanyanya sambil menyunggingkan senyuman. Mencoba menggoda untuk meringankan suasana.

“Aku tidak percaya.” So Eun menjawab tanpa nada, atau bahkan tanpa emosi karena ia masih menundukkan kepalanya. “Tapi aku tak yakin kau akan tega melakukan sesuatu pada gadis yang hampir sepucat mayat karena ketakutan.”

Ye Sung memiringkan kepalanya, merasa semakin penasaran terhadap So Eun. Sebenarnya apa alasannya sehingga ia bisa setakut ini pada petir dan kegelapan? Ini bukan seperti Kim So Eun si cerewet yang telah ia nikahi. Tapi pada akhirnya kembali ia memilih untuk tidak terlalu banyak bertanya dan mengikuti kemauan gadis yang untuk malam ini berdamai dengannya ini.

“Aku tidak akan melakukan apapun. Kita punya kontrak ingat? Aku tak akan melakukan apapun yang bisa mengantarku ke penjara.” Ye Sung kini mulai menaiki tempat tidur. Diliriknya So Eun yang masih berada di posisi tadi dengan ekspresi wajah yang sama. “Aku akan langsung tidur. Kau sebaiknya juga.”

Ye Sung kini berbaring, bergeser membelakangi So Eun. Di luar hujan dan badai masih terdengar kencang, begitupun petir yang masih datang beberapa kali. Ye Sung memejamkan matanya sejenak, mencoba tidur, namun tak lama membukanya kembali begitu merasakan sesuatu menganggunya. Ye Sung berbalik ke arah So Eun.

“Berbaringlah. Sekarang kau seharusnya bisa mencoba untuk tidur karena sekarang ada aku disini.” Ucapnya sambil kembali berbalik membelakangi So Eun. “Sebenarnya aku masih penasaran mengapa kau bisa takut dengan hal-hal seperti ini ketika kau adalah gadis yang sama dengan seseorang yang mengajakku mengarungi lautan untuk memancing di Jeju. Ini sedikit Out of Character, kau tahu?” Gumamnya sambil kembali mencoba memejamkan matanya.

“Setiap orang punya sesuatu yang mereka takuti.” So Eun menjawab dengan gumaman. Yesung menyetujui jawaban ini, ia juga takut akan ketinggian, walaupun mungkin tidak hingga taraf separah ketakutan So Eun.

Pada akhirnya rasa kantuk mulai menguasai diri Ye Sung sepenuhnya. Itu sebabnya kini ia mengeratkan selimut di tubuhnya. “Selamat malam, sayang. Tidurlah dengan nyenyak.” Ia berbisik menggoda terakhir kali sebelum menyerah pada rasa kantuk yang dirasakannya.

Suasana hening, namun setelah beberapa saat ketika rasa kantuk benar-benar memutuskannya dengan keadaan sekitar ia dapat merasakan So Eun bergerak untuk berbaring di sisinya. “Selamat malam, Ye Sung.” Bisikan itu masih mampu didengarnya antara sadar tidak sadar. Ye Sung sedikit tersenyum sambil memejamkan matanya sepenuhnya.

❤ To Be Continued❤

 

19 Comments Add yours

  1. Puspa Kyukyu mengatakan:

    Updateeee…..

    Yaahhh
    wlupun belum masuk ke konflik puncak.. Dan adegan romantis lainnya..
    Adegan mo ke TB udh cukup so sweeeettt..
    Hehehhehe😀😀

    next…next..next…
    Ditunggu karya lainnya juga..

  2. fishydhi mengatakan:

    Perjanjian pernikahan yg cukup rumit,,,
    Tidak habis pikir apa yg d pikirkan oleh yeppa,,,

  3. Angel mengatakan:

    Akhir.y d lnjut jga

    Penasaran ma lnjutan.y
    Ap seiring wktu yesso bsa sling cinta gk y ??
    Cz mrk sering brntem n jga sering tdk brtemu krn kesibukan msing”

  4. minmin mizana mengatakan:

    yeeee~ akhirnya update ff, kangenku bisa terobati 😄
    ah ada donghae yang bisa menggoyahkan hati…
    aku suka karakter yesung disini, apalagi klo lagi godain sso sambil bilang sayang…
    ditunggu next partnya ^^

  5. Shane mengatakan:

    Akhirnya menetas ff nya dr telurnya #eeeh ..XD
    Ni story udeh aye tunggu tunggu ampe ngebayangin sendiri kkkkkke
    Sso yg mencba bergabung d tem hae tp kudu menyelesaikan pr nya dl …sebenrnya ada keraguan apa sso baklan d terima apa kga d situ .. mengingat sso bekerja keras pikiran nya ditambah dg ulah yesong tp rpnya walopun dia kesel tp ttp terselesaikan dg hasil ckp memuaskan .. sdgkan bang jong aye jg curga kek sso ketika dia sok perhatian ampe ngebwain air ma roti eee rpnya dia mau ngunci sso cos mengingat dia punya janji ma siwon ,hyuk cs yg mau berpesta d rumah nya jd krna takut ketauan dia merencanakan nya dg rapi walo d campur bumbu gugup jg tp yesung meracik nya dg pas dan matang , matang nya pas g overcook #ehh mazak kali ye kkkkke .
    Btw aye ngekek ets ngakak ngeliat perdebatan yesso ketika yesing mengurng sso d ruangan ntu trus ketika sso jg membalas perlakuan yesung .. yesung kek maling yak cos g iso msuk d tambah alrm nya bunyi kek orng orng maling yg g iso msuk kkkkke .. memang yesung orang maling siii buktinya hatinya author d curi olehnya n hati2 smua prempuan banyak yg d curi olehnya … memng dasar pencuri ulung t yesong uuu kkkkkkke

    Bang jong antusias mengikuti acara wgm bahkan dia terinspirasi mau kek psangan songjaerimbma chu ga eul kkke ,
    Apalgi min kyung ntu tipe wanita ideal nya .. jdilah smangat nya yg td 20 naik 45 hhhhii ..seperti apakah nanti acara nya ye … apakah mulus .. or ketakutan sso n emaknya yesong terbukti hmmmm #lets see

    Hhhha cute bgt ngeliat moment yesung d jewer ma emaknya kkkkkkkkkkkkkaaaaa aye ngekek ..iso d bayangin cut3nya yesung ……. emaknya yeye jg prihatin akan reaksi kel besan terlbh takut rahasia terongkar iso2 merugikan kedua belah kel ini tp yeye jitu meyankinkan dg tingkah konyol nya kkkke , misi nya berjalan mulus … ,

    Stelah acara wgm berlangsung yeye makin sibuk … mereka sibuk ma dunia sendiri ketika ada wktu kosong yeye tak lp pulang k kandang kkke maana d sambut ma hujan n petir .. menandakan tu petir ma hujan kangen ma yesung cos ru plg dr osaka #ehhh hhi
    Pas plg d lihatnya sso takut ma petir … sama si kek aye klo ada petir besr ..langsung pindah kamar numpang tidr ma orng lain kkk #nape aye jd ikut curcol uuu ,abaikan
    Tp d sini sso kek menyembunyikan sesuatu yg yeye rasakan ..mungkin trauma gr2 apa gt yak . Cm yeye ttp pd area nya ga mau ikut campur kecuali sso yg bercerita , hingga gar2 pettir mereka jd tidur bersama .. walopun ada onew d tengah nya #ehh d kt t guling pembts onew kķkk

    Dg panggilan usilan kt SAYANG merka apalgi yesong bikin gemes kkkkke biasanya orng blg syg biar keliatan romantis klo yg ini blg syang cos mau ngusilin n bikin lawan nya kesel kkkkke ,

    Pernikahan yg d jalani yesso .. warna nya lucu ..n bikin gemes hhhe , like this ya ♡♡♡♡♡♡

    Lanjuuuyt ~~~~~
    Banyak jempol gajah buat puput (y) , ttp berkarya ,slalu ceria yeah {}
    Smoga kesuksesan slalu mengiringi langkah puput dimanapun puput berada amiiiiiiin

    Lempar sendl yesung k muka puput etssss lempar senyum nya biar puput sumringah hhhhii

  6. narulita rc mengatakan:

    Akhirnya setelah sekian lama di post jg ya mdhan aja mreka saling jatuh cinta nah orng ketiganya donghae sm minkyung huwaaaa nextnya jan lama2 ya

  7. Luthfiangelsso mengatakan:

    Benci benci nanti cinta aja hehehee mereka bener2 gak akur bgt ya bakal susah buat nyatuinnya tapi gara petir jadi bobo bareng hahaa..next part yaaa put ditunggu semangat^^

  8. anna mengatakan:

    Ya ampuun soeun bnr2 ktakutan tp skp yesung cool bgt n gak nyuri2 ksmptn jg,,mkin lm mkin dkt kann mrk,,hal aplg yg akn mmpu mnytukn mrk seutuhny

  9. yehaesso mengatakan:

    wah udah lama banget ga baca karyanya author putri😀
    moment yesso memang langka, sekalinya ada sampe bikin senyum gaje gini .
    Jiahh panggilan “sayang” dari bang yesung kayaknya ga sembarangan candaan nih. suka suka.
    ayo author putri lanjut lagi hee

  10. Tri mengatakan:

    Senengnya akhirnya ada kelanjutannya dari ff ini, apa yg akan terjadi selanjutnya pd kedua pasangan ini

  11. Mama nikita widiyati mengatakan:

    Sepertinya akan ada kesempatan pasangan keras kepala ini untuk mulai membuka diri…semoga seperti itu next partnya.aku akan setia menunggu.

  12. Diraeun mengatakan:

    Putri itu author terkeren deh soal urusan fanfic kim so eun daebak deh, dari segi cerita trus penulisan. Ditunggu drabble yg lainnya ya, kangen neh

  13. Deasy Eunhyukee mengatakan:

    ah akhirnya update ff.. aku selalu suka ff buatan cloudyelfputriandina.. dan the kims keren seperti biasa… >< konflik makin naik dan bikin betah baca lama lama ^^
    oh ya ff lama kayak bonamana ama how about my love apa kabarnya nih author ?? masa iya berhenti mendadak.. itu ff keren dan alurnya menarik. fighting buat author !!!!!

  14. devi mengatakan:

    Makin seruu zh cerita’a,,,

    Pernikahan yeppa ma eonnie so eun makin rumit azach ap gy d tambah yeppa ikutan acara WGM yg jd pasangan’a wanita ideal’a,,,,,

    Emhhhh apakah dengan seiring’a waktu yeppa ma eonnie so eun akan jatuh cinta,,,,
    Jd penasaran ma kelanjutan’a,,,,

  15. Kim Ra rA mengatakan:

    huuuf ikutan tegang juga nunggu keputusan ketua tim si cakep donghae karba yaaaah ngerjain tugas nya sambil di temenin yesung Cs yang lagi party. dan balasan nya yesung nginep di luar deh karna kode pintunya dah di ganti ma soeun. untung keterima kalau gagal mungkin pembalasan dendam nya akan lebih parah…
    kasak kusuk tentangpernikahan yeung ternyata udah bocor tapi untungnya belum jadi Hot News.
    saya jadi sama penasarannya kaya yesung. sebenarnya ada apa antara Soeun. gelap. dan petir hmmmm yakin pasti ada sesuatu sampai membuat Sso pucat pasi dan mau berada satu ranjang dengan suami nya sendiri…

    Ceritanya makin seru dan pasti bikin penasaran tentang yang akan terjadi. Abang ikan juga baru nongol bentaran di tunggu part selanjutnya

  16. Hesti mengatakan:

    Mereka ada2 aja kontrak nikah serumit itu keren2

  17. Angelsso mengatakan:

    hahh aku trlambat :3….kyaaa seru seru makin seru cerita.y kkk~~ yesung demen bgt ngegoda soeun dgn panggilan “sayang”ny wkwkwk tanpa peduli dgn orang yg dipanggil sayang it merasa jijik mendengar.y hahaha…sungguh pernikahan traneh :v
    huuh yesung seneng bgt ngikut wgm dgn tipe ideal.y…soeun jg seneng bgt satu tim dgn tipe ideal.kyk.y akan ad cinta segi empat nih😀 buat lee donghae jatuh cinta kesoeun jg dong putri😀
    Tetep semangat buat nulis ff.y kami para readers sangat sangat menanti karya karya terbaru mu….next part.y sangat sangat ditungguuuuuuu

  18. Kaika Kim mengatakan:

    Wah, daebak!! lanjut thor^^ .. suka bgt pas momentny yesso^^

  19. yuliaseptiani mengatakan:

    aigooo ni kims couple bener2 pnya keegoisn akut ~kkkk gk bisa buat gk berantem 😄
    so eun tersepona ma hae ,apa hae juga akan trtarik ma so eun ?? yesung pun malah menyukai wanita lain -_-
    d balik sikap ny yg cuek trnyta yesung perhatian juga .. next ny d tunggu😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s