~ [Music and Love 9] I Don’t Wanna Live Forever ~


picsart_01-31-09.55.55.jpg

Title                       :               I Don’t Live Forever [Sequel of: After A Long Sleep]

Author                  :               PrincessClouds/ @PutriAndina228

Length                  :               One Shot

Genre                   :               Romance, Fantasy,

Rated                    :               PG-15

Main                     :               Kim So Eun – Kim Ye Sung

Minor                   :               Amber Liu, Sasaki Nozomi, Lee Sun Kyu, Kim Hyo Yeon, Shin Dong,

Warning              :               Typo(s)

Recommended Song:    I Don’t Wanna Live Forever by. Zayn ft. Taylor Swift

*

*I_Don’t_Wanna_Live_Forever*

*

So Eun menarik napas lega begitu berhasil menyelesaikan pekerjaannya. Gadis itu tampak merenggangkan tubuhnya sambil memandangi seisi ruangan yang sudah sepi dan hanya menyisakan dirinya.

Hari ini dia terpaksa harus lembur karena saat ini mendekati awal tahun sehingga aktifitas perusahaan meningkat. Dan dari semua rekan kerjanya dirinya menjadi yang terakhir dapat menyelesaikan pekerjaannya, karena memang dia sengaja bekerja dengan santai daripada harus stres untuk cepat pulang seperti teman-temannya.

So Eun mendesah. Diraihnya ponsel miliknya yang sejak tadi terletak tanpa dipedulikan di atas meja. Dia memeriksanya sejenak, sebelum kemudian dia kembali mendesah dengan kecewa.

“Dia belum menghubungiku…”

Jemarinya berniat hendak menghubungi salah satu nomor yang berada di speed dial pertama ponselnya, namun tiba-tiba dia mengurungkan niat itu.

“Tidak. Dia pasti sibuk. Aku tak mau menganggunya.”

Hal selanjutnya yang gadis itu lakukan adalah membereskan semua pekerjaannya. Setelah mematikan komputer di depannya, dia tampak mulai membenahi barang-barang pribadi miliknya dan memasukinya ke dalam tas. Setelah yakin semuanya beres gadis itu segera berdiri dan berniat meninggalkan tempat itu.

“Kau mau pulang sendiri jam segini?”

Gadis itu tersentak begitu sebuah suara tiba-tiba saja terdengar di belakangnya. Membuatnya nyaris melepaskan tas di tangannya.

“Ye Sung…” dia menggerutu dengan wajah yang masih kaget, menatap seorang pria yang secara ajaib kini telah duduk di kursi yang ditinggalkannya tadi. “Sampai kapan kau akan berhenti mengagetkanku?”

Pria itu hanya tersenyum tipis sambil mengangkat tangannya. Secara ajaib sebuah ponsel sudah berada di tangannya. Gadis itu terpana, secara naluri memeriksa tasnya sendiri karena merasa yakin bahwa benda itu seharusnya tadi telah berada di dalam sana.

“Sudah berapa kali kukatakan kalau aku bisa mendengar pikiranmu bahkan dari jarak ribuan mil? Mengapa juga kau masih mengharapkan sejenis telepon atau pesan dariku.”

“Setidaknya berusahalah bersikap layaknya manusia. Kau kini seorang manusia, tahu…” So Eun mengomel sambil merebut kembali ponsel miliknya itu dari tangan pria bernama Ye Sung itu. Mendesah kesal karena lagi-lagi dia tak bisa nyaman walau hanya dengan pikirannya sendiri, pria – mahluk – di depannya ini bisa membaca pikirannya dengan mudahnya.

“Aku masih harus berada di kediaman Tuan Takeda. Dia masih melakukan pesta peresmian perusahaan barunya hingga tengah malam nanti.” Ye Sung tampak kini sedikit mendesah pelan, bangkit dari tempat duduknya untuk mendekati gadis di depannya yang tak lain adalah kekasihnya.

“Kapan kau akan kembali ke Korea?”

“Besok sore?” pria itu merangkul bahunya, dan sedetik kemudian keajaiban langsung terjadi ketika ruangan kerjanya berubah dengan sebuah sapuan menjadi ruangan yang sangat dikenalnya – kamar apartemennya.

“Kau harus mulai membiasakan diri hidup secara normal, Yesung. Orang-orang bisa saja melihat apa yang kaulakukan…” omel gadis itu masih terpana dengan keajaiban yang disaksikannya. Bahkan walau sudah hampir dua tahun dia mengenal mahluk ini namun tetap saja dia tak berhenti merasa takjub dengan semua yang disaksikannya seperti pertama kali mengetahuinya.

“Aku hanya tak ingin kaupulang sendiri naik taksi…” Yesung merengut, sedikit memajukan bibirnya dengan ekspresi pura-pura merasa bersalah. “Lagipula aku selalu menghentikan waktu ketika hendak berteleportasi…”

“Bagaimana dengan CCTV?”

“Ah, ya, aku lupa yang satu itu. Aku akan mengurusnya nanti…”

So Eun menyunggingkan senyuman kecil. Sebenarnya dia tak pernah bisa lama-lama mengomeli mahluk di depannya ini. Hal itu juga yang mungkin membuat mereka bisa mengabaikan perbedaan besar yang mereka miliki agar dapat bersama seperti ini.

“Ya sudah, kau harus segera kembali kesana sebelum orang-orang mencarimu.”

“Ya, kau bisa tidur duluan. Pestanya akan berjalan dua jam lagi dan setelah itu akan pulang dan menemanimu.”

“Terserah kau saja. Pastikan saja bahwa tidak ada yang menyadari kalau kaubisa menghilang dan muncul tiba-tiba. Hindari kekacauan, ingat…”

“Siap, bos,” ucap Yesung sambil tersenyum. Dia kemudian mengecup dahi So Eun pelan sebelum mundur dan melambaikan tangan. “Sampai jumpa nanti, So Eun…”

So Eun tersenyum sambil ikut melambaikan tangan. Tak lama kekasihnya itu hilang begitu saja dari pandangan.

“Jaga dirimu…”

“Been sitting eyes wide open behind these four walls, hoping you’ll call
It’s just a cruel existence like it’s no point hoping at all.”

“Dia itu pria brengsek. Aku menyesal mengenalnya. Untung saja aku tidak cukup bodoh untuk memberikan uangku padanya, untung saja karena kalau tidak aku akan melaporkannya ke polisi biar dia membusuk di penjara,” Sun Kyu terus mengomel tanpa henti sejak tadi. Bahkan walau mereka semua sudah selesai makan siang bersama dan kini berjalan kembali ke kantor namun gadis itu tak pernah berhenti berceloteh mengenai pengalaman buruknya dengan seorang pria yang nyaris dikencaninya – tipikal pria lebih muda yang senang berganti wanita untuk meraup keuntungan materi.

“Itu sebabnya aku memperingatkanmu waktu itu, tapi kau tidak mendengarkannya,” Amber teman yang berada di sisinya yang lain menyela dengan wajah begitu datar, sementara temannya yang lain – Kim Hyo Yeon – langsung mengangguk dengan wajah mengapresiasi.

“Aku juga sudah memperingatkanmu, Sun Kyu, jadi sekarang berhentilah merengek.”

Sementara So Eun hanya tersenyum memperhatikan percakapan antara teman-temannya. Sejujurnya setiap mereka seperti ini mengingatnya dengan masa kuliah mereka dulu dimana mereka memang selalu bersama-sama. Sebenarnya dulu mereka berlima, namun tentu saja semua berubah setelah menemukan fakta bahwa teman mereka yang satu itu bukan manusia. Amber juga bukan manusia, namun bedanya dia bukan mahluk yang jahat seperti Jessica – mantan temannya itu, bahkan dulu ketika perperangan bangsa vampire terjadi Amberlah yang mnyelamatkannya dari amukan Jessica yang membencinya karena hubungannya dengan Ye Sung. Kini setelah perang itu berakhir Amber juga kembali berada di sekitarnya dengan identitasnya yang baru. Amber juga harus kembali berkenalan dengan Sun Kyu dan Hyo Yeon karena kedua sahabatnya itu sama sekali tak mengingat hal yang telah dihapus permanen dari pikiran mereka itu.

“Huh… kenapa aku tak pernah bisa menemukan pria yang tepat untukku? Kenapa aku ini selalu ditipu?” Sun Kyu kembali uring-uringan dengan masalahnya tersebut. Hal itu membuat ketiga temannya serentak memutar bola matanya.

“Karena kau selalu jatuh cinta pada pria yang salah.”

“Selalu? Amber, berapa kali aku harus mengingatkanmu kalau kita ini baru saja mengenal? Kenapa sejak pertama kau selalu berbicara informal pada kami dan seakan tahu segalanya tentang kami? Kau ini peramal atau apa?”

Amber tampak hanya memutar bola matanya dengan wajah datar tak peduli. Sementara itu So Eun hanya bisa senyum-senyum sendiri melihat Sun Kyu dan Hyo Yeon saling membisikkan sesuatu sambil menatap Amber dengan curiga.

Langkah keempat gadis itu berhenti ketika melihat dua mobil sedan berhenti di depan gedung. Tak lama dari salah satu sedan yang berada paling depan, seorang sopir tampak turun membukakan pintu untuk pria yang duduk di bangku belakang. Orang yang tak asing tampak keluar dari sana dengan gaya yang elegan.

“Huh, kalau saja Presdir Kim Ye Sung mau jadi pacarku mungkin hidupku bisa makmur sentosa…” Sun Kyu tiba-tiba bergumam pada dirinya sendiri yang berhasil membuat So Eun menoleh cepat padanya. Lain lagi dengan Amber yang tersenyum tipis sambil menatap penuh arti padanya.

Ya, salah satu rahasia lainnya yang harus disimpannya sendiri adalah hubungannya dengan Ye Sung. Hingga saat ini nyatanya tidak ada siapapun – selain vampire  yang terlibat – yang mengetahui hal ini. Alasannya adalah karena dirinya dan Ye Sung ingin hidup lebih tenang dengan posisi mereka yang merupakan bawahan dan atasan. Lagipula So Eun juga tak ingin dia menjadi bahan gunjingan satu perusahaan kalau mereka tahu seorang karyawan baru sepertinya ternyata adalah kekasih dari bos yang sangat terkenal itu. Berbicara tentang kehidupan baru Ye Sung, semuanya dilakukan oleh mahluk itu dalam semalam, hanya beberapa jam sejak dia mengatakan akan menjadi manusia di depan So Eun tiba-tiba keesokan harinya pria itu langsung menjadi atasannya dan terkenal di seluruh penjuru kota. So Eun sendiri sampai bertanya-tanya tentang keberadaan dari Presdir asli perusahaannya yang kini bagai ditelan bumi – entah karena Ye Sung telah menghisap energinya.

Lamunannya terhenti begitu melihat seorang wanita turun bersama Ye Sung dari mobil yang sama. Kedua orang itu tampak jalan bersamaan ke dalam gedung.

“Siapa wanita itu? Kekasihnya kah?” Hyo Yeon tiba-tiba berbisik curiga.

Tentu saja bukan. Tapi sebenarnya dia juga penasaran? Ini adalah pertama kalinya dia melihat wanita itu sebelumnya. Ye Sung juga tidak pernah membahasnya sebelumnya.

Ketika ia mengangkat wajahnya dia sadar bahwa Amber menatapnya dengan serius. Gadis tomboy itu membiarkan Sun Kyu dan Hyo Yeon berjalan duluan dengan saling bergosip ketika dia berjalan mendekat pada So Eun.

“Wanita itu… dia bukan manusia…” Amber berbisik padanya, membuatnya cukup kaget walau bukan pertama kalinya dia menemukan fakta orang yang dikenalnya bukanlah manusia.

“Kau mengenalnya?”

“Tidak. Ini pertama kalinya aku melihatnya. Mungkin dia selama ini tidak menetap di Korea.”

Sepertinya Ye Sung harus menjelaskan sesuatu padanya. Mahluk itu seharusnya saat ini mendengar bisikan hatinya, bukan? Jadi nanti ketika mereka bertemu dia harus menjelaskan semuanya.

“Dia bukanlah siapa-siapa…” suara Ye Sung mengagetkannya, membuatnya hampir menjatuhkan remote TV di tangannya karena mahluk itu kembali muncul tiba-tiba di sampingnya. Pria yang juga merupakan atasannya itu bahkan sempat menyeringai kecil melihat ekspresi wajahnya saat ini. “Dia hanya anak dari salah satu vampire kenalanku sejak ratusan tahun yang lalu. Kebetulan dia ingin mencoba hidup di Korea, sehingga itu sebabnya dia ikut bersamaku…”

“Vampire kenalanmu?”

“Salah satu orang kepercayaan ayahku dulu. Orang yang dulu mengajariku dan para saudaraku cara bela diri ketika kami kecil…” Ye Sung meluruskan duduknya, melonggarkan dasi di leher kemejanya. “Dia adalah salah satu pengawal setia yang berhasil melarikan diri dari pemberontakan saudara-saudaraku setelah aku menghilang dulu. Selama itu ternyata dia menetap di Jepang. Dia mendatangiku ketika mengetahui aku berada di Jepang sebagai manusia…”

“Baru bertemu dia langsung menitipkan putrinya padamu?”

“Sudah kubilang kalau dia bukan orang asing, bagiku dia sama dengan penasehat Jung Soo yang merawatku sejak kecil. Lagipula sebagai Ace dari kerajaan vampire tentu saja aku harus mengawasi semua mahluk yang kini berbaur dengan manusia, apalagi mereka yang jelas-jelas berada di sekitarku…”

So Eun menganggukkan kepalanya pelan. Kalau diingat-ingat memang walau Ye Sung terlihat santai dengan identitas manusianya sebenarnya ia juga sibuk mengurusi kerajaan vampire yang dipimpinnya. Contohnya ketika beberapa bulan yang lalu beberapa vampire sisa pemberontakan saudaranya mencoba kembali melawan, pada saat itu selama beberapa jam waktu harus dimatikan akibat pertempuran – dia sendiri baru mengetahuinya setelah Amber menceritakan padanya sesaat setelah semuanya dapat dikendalikan. Di saat yang lain Ye Sung juga beberapa kali meninggalkan tempatnya diam-diam demi menyelesaikan masalah yang diperbuat oleh beberapa vampire pemberontak, adalah karena kekasihnya itu mengapa kehidupan pembauran manusia dan vampire bisa damai-damai saja seperti yang terjadi sekarang.

“Kau melamun lagi?” tegur Ye Sung sambil menjentikkan jarinya di depan wajah So Eun, berhasil mengagetkannya. “Maa mengatakan ini, nona Kim, tapi tak bisakah ketika kau memujiku sekali-kali mengatakan langsung saja? Kurasa akan berbeda rasanya kalau aku mendengar langsung dari bibirmu daripada menguping perasaanmu seperti ini…”

Wajah So Eun memanas, ia memalingkan wajahnya, “Pergilah bersihkan dirimu. Kau tak gerah?”

“Maksudmu aku—“

“Tidak. Jangan berubah. Lakukan dengan cara manusia!” So Eun langsung memotong ucapannya, sementara Ye Sung hanya langsung terkekeh. “Berapa kali kubilang agar kau belajar untuk beradaptasi dengan dirimu saat ini. Apa sulitnya melakukan sesuatu dengan cara lebih wajar, huh?”

“Tak perlu mengomel begitu, nona Kim, aku akan melakukannya…” ucap Ye Sung walau dengan terpaksa bangkit dari sofa. Pria itu kemudian dengan sedikit malas berjalan menuju kamar mereka untuk membersihkan diri ala manusia.

Sementara itu So Eun hanya bisa tersenyum kecil melihat ulah kekasihnya. Gadis itu kini bangkit dari tempat duduknya menuju dapur, berniat untuk menyiapkan makan malam untuk mereka berdua – walau tidak akan mengenyangkan bagi pasangannya.

So Eun membuka pintu kulkas, tampak tersenyum senang karena bahan yang diperlukan untuk membuat spagetti tersedia di tempat itu. Ia kini tampak bersenandung kecil sambil bersiap memasak.

Namun begitu dirinya bersiap untuk menghidupkan kompor tiba-tiba saja dirinya merasakan ada yang tak beres pada tubuhnya. Tangannya dengan cepat meraih pinggiran meja ketika rasa pusing mendadak menyerangnya, pandangannya juga kabur dan berkunang dalam beberapa saat. Gadis itu dengan cepat menghidupkan keran westafel di sampingnya – menurut Amber itulah satu-satunya cara membatasi kemampuan vampire membaca pikirannya, dia kini terdiam menunggu rasa pusing kepalanya reda sambil bertanya di dalam hati tentang apa yang terjadi pada tubuhnya.

“Jadi bagaimana? Apa kau sudah tanya pada sang raja tentang wanita itu?” tanya Amber yang tiba-tiba saja muncul di depannya. So Eun yang awalnya tengah bekerja menghentikan kegiatannya, melirik sahabatnya tersebut.

“Sudah. Dia bilang wanita itu adalah putri dari kenalannya ratusan tahun yang lalu. Kalau tak salah guru bela dirinya sewaktu dirinya masih kecil.”

“Kalau guru bela diri para pangeran berarti… Prajurit Kang In? Maksudnya sekarang beliau masih hidup dan berada di Jepang dengan identitas baru?”

“Aku mana mengerti masalah seperti itu…” So Eun tersenyum sambil mengangkat bahunya, namun tak lama dirinya teringat sesuatu. “Tapi kalau kau mengenalnya berarti bukankah seharusnya kaumengenal wanita itu? Kau bilang kau teman berburu Pangeran Ryeo Wook sejak kalian kecil?”

“Dia belum ada waktu itu karena Prajurit Kang In saat itu belum memiliki pasangan. Dilihat dari wujudnya yang merupakan vampire asli kupikir sewaktu di Jepang prajurit Kang bertemu seorang vampire dan akhirnya kawin dengannya…”

“Auh, tak bisakah kalian menyebutnya menikah saja?” So Eun tampak geleng-geleng kepala sambil menatapi temannya itu yang terlihat tak ambil pusing. Pandangannya kemudian beralih menuju pintu sang Presdir yang tiba-tiba terbuka dari dalam, menampilkan wanita yang tengah mereka bicarakan tadi. Sejak kedatangannya memang wanita yang bernama Nozomi Sasaki itu menjadi sekretaris pribadi Ye Sung menggantikan sekretaris manusia sebelumnya yang lagi-lagi hilang tanpa jejak. So Eun memperhatikan wanita itu kembali ke tempat duduknya, namun terlihat sempat menatap dingin ke arah So Eun.

“Tapi Amber, apa kaupikir dia mendengar pembicaraan kita ini?” tanya Amber yang ternyata ikut memperhatikan wanita itu.

“Tentu saja. Bahkan seluruh vampire di gedung ini bisa mendengarnya,” ucap Amber tersenyum tipis.

So Eun merasa kaget dan tiba-tiba menjadi tak enak. Sekali lagi dia melirik pada objek pembicaraan mereka itu, dimana lagi-lagi wanita itu menatap padanya dengan tatapan dan senyuman yang dingin – sekilas mengingatkannya pada cara Jessica menatapnya dulu.

So Eun kembali harus lembur hari ini. Sore ini mengambil waktu jeda, gadis itu tampak berjalan menuju pantry untuk membuat segelas kopi untuk membantunya terjaga. Sejujurnya tubuhnya hari ini kembali terasa lebih cepat lelah.

Ia tampak sedikit menguap ketika menunggu dua orang karyawan lain yang sampai di tempat itu terlebih dahulu. Hingga setelah keduanya pergi, gadis itu mulai berjalan menuju counter top guna mengambil bungkus kopi instan yang menjadi rasa favoritnya. Dia mendengar ada yang memasuki tempat itu, berjalan ke sampingnya, lalu tak lama menyalakan keran westafel yang terletak tak jauh darisana.

“Jadi kau orangnya?” dia hampir menjatuhkan cangkir di tangannya begitu mendengar sebuah suara menegurnya. Ketika dirinya menoleh, dia menemukan sekretaris Ye Sung berdiri dengan angkuh di sampingnya. “Kudengar kau adalah kekasih dari sang Ace…”

So Eun tampak berusaha tenang dan tak terpengaruh – walau jelas dirinya tak nyaman dengan keadaan ini, matanya melirik air yang terus keluar dengan percuma di westafel. Jelas kalau wanita ini tidak datang untuk sekedar menyapa.

“Tenang saja. Aku tidak akan berbuat macam-macam…”

“Apa ada yang ingin anda katakan padaku, Nona Sasaki?” tanya So Eun tetap tenang sambil melanjutkan menyeduh kopi di tangannya.

“Aku hanya penasaran saja bagaimana caranya hubungan antara kalian terbina. Semuanya terasa tak mungkin, seakan melanggar hukum alam…” wanita itu berjalan angkuh sambil memainkan jarinya untuk membuat beberapa cangkir di samping So Eun berterbangan, jelas bermain-main dengannya.

“Lalu apa masalahnya? Kami saling mencintai dan menerima satu sama lain. Sudah dua tahun kami bersama dan kami baik-baik saja…”

“Nyatanya berpura baik-baik saja…” Dua cangkir tadi jatuh dengan mulus di atas counter, lalu tak lama sendok yang ingin disentuh So Eun melayang memasuki cangkirnya dan mengocok kopinya dengan sendirinya. “Aku tak yakin keadaan sesungguhnya begitu…”

So Eun mulai terganggu, melirik vampire wanita itu dengan sedikit kesal, “Apa yang Anda tahu tentang hubungan kami?”

“Ayolah, semuanya tahu. Bahkan kalau manusia sejenismu yang lainnya tahu mereka juga akan setuju bahwa kalian berdua tidak seharusnya bersama. Ada perbedaan besar yang tak bisa dihindari dari segi apapun…” Gerakan berputar sendok di cangkir kopinya berhenti. Kali ini sang sekretaris berjalan mendekat padanya. “Apa kau pura-pura tak sadar kalau seorang vampire memiliki nafsu lainnya selain untuk berburu makanan? Kau pikir bagaimana caranya manusia lemah sepertimu memenuhinya…” wanita itu berbisik di telinganya, mengejeknya. “Oh, bagaimana dengan penerusnya? Dia mungkin bisa menjadi raja selamanya tapi bagaimana dengan keturunan? Dia vampire yang memiliki perasaan walau bagaimanapun… hatinya lebih halus bahkan dari manusia kebanyakan. Lalu bagaimana dengan dirimu? Kau ingin tumbuh tua sendiri? Kau tak ingin hidup seperti wanita manusia lainnya?”

So Eun terdiam di tempatnya mendengar setiap ucapan yang tak bisa dibantah hatinya tersebut. Dia bahkan tak mengatakan apapun ketika sekretaris baru Ye Sung itu berjalan meninggalkan tempat itu. Membiarkan keran westafel tetap menyala ketika gadis itu larut dalam pemikirannya.

“Apa yang terjadi padamu? Apa kau baik-baik saja?” Tanya Ye Sung yang tiba-tiba sudah duduk di sisi tempat tidurnya dan menyentuh kepalanya. Hal itu membuat So Eun yang baru hendak berusaha tertidur membuka kedua matanya kembali, melirik mahluk itu yang tersenyum padanya.

“Tidak apa-apa. Hanya sedikit lelah karena pekerjaan yang menumpuk akhir-akhir ini…”

“Tch, aku akan mengurangi pekerjaanmu mulai besok…”

So Eun  bergeser dan duduk bersandar di kepala tempat tidur. Ia memejamkan matanya begitu Ye Sung menyentuh dahinya, mengirimkan rasa dingin di sana dan menyebar ke seluruh tubuhnya. Demamnya tiba-tiba saja terasa mulai menghilang.

“Kau ingin pergi jalan-jalan untuk merasa lebih baik? Kau mau kemana? Bagaimana kalau Kanada?”

“Tidak…” So Eun menarik Ye Sung agar duduk di sampingnya, menenggelamkan tubuhnya dalam pelukan pria itu. “Aku sedang tak ingin kemana-mana. Aku hanya sedang ingin bersamamu…”

“Ada apa denganmu? Sudah lama rasanya kau tidak bermanja-manjaan seperti ini…” goda Ye Sung, namun membiarkan So Eun semakin menyamankan diri bersandar padanya. Tangannya mengusap lembut kepala So Eun.

“Ye Sung, kau pernah sebelumnya kalau bukan mustahil bagi seorang manusia untuk berubah menjadi vampire asal mengikuti ritual yang tepat…”

“Hmm…”

“Apa kau tak ingin mencobanya padaku?”

Usapan Ye Sung di kepalanya terhenti. Ye Sung bergerak melepas pelukan mereka, memandang So Eun. “So Eun, kita sudah pernah membahas ini sebelumnya kalau kita akan menjalaninya dengan perlahan…”

“Aku tahu. Tapi tetap saja… apa kau tak ingin hubungan kita berlanjut ke tahap yang lebih serius?”

Ye Sung tampak mendesah, mengalihkan pandangannya dari So Eun. Jelas mahluk itu juga sempat memikirkan hal yang sama. So Eun tak perlu kemampuan untuk membaca pikiran untuk mengetahuinya. “Tentu aku mau, tapi bukan berarti aku tak senang dengan apa yang telah kita miliki saat ini. Kita baik-baik saja, kita tetap bahagia walau hanya saling berpelukan dan berpegangan seperti ini…”

“Bayangkan bila kita dapat berbuat lebih…”

“So Eun, apa kau segitu tidak tahannya?” goda Ye Sung. So Eun langsung mendesah kesal begitu mahluk ini kembali berusaha mengalihkan pembicaraan.

“Bukan itu maksudku. Lagipula apa kau yakin menjalani hubungan yang begini-begini saja? Walau vampire kau itu tetap seorang pria…”

“Tch, kau berpikir terlalu jauh…” Ye Sung terkekeh sambil kembali menyentuh dahi So Eun, kali ini sambil menuntunnya untuk kembali berbaring yang tentu saja berusaha ditolak oleh wanita itu. “Sekarang kau lebih baik tidur, kau bilang kau sakit…”

“Tapi…”

“Tch, kubilang tidur…” ucap Ye Sung menahan gadis itu untuk berusaha bangun. Hanya dalam menit gadis itu mulai berhenti memberontak, mulai tertidur dengan nyenyaknya. Ye Sung tampak tersenyum lembut, mengeratkan selimut untuk menutupi tubuh itu. “Berada di sekitarku dan vampire lainnya secara tidak langsung membuat energi dan darahmu terus terkuras seperti ini. Kalau terus begini kau bisa meninggal, tapi mengubahmu menjadi vampire juga akan beresiko. So Eun, kita dalam masalah besar. Kita harus bagaimana?” tanya Ye Sung dengan raut wajah yang mendadak serius. Jemarinya mulai kembali membelai rambut hitam kecokelatan So Eun, menatap manusia itu dengan ekspresi sedih.

“I’m sitting eyes wide open and I got one thing stuck in my mind
Wondering if I dodged a bullet or just lost the love of my life”

“Aku akan pergi ke Busan untuk beberapa hari…”

“Busan? Untuk apa?”

“Biasa. Pekerjaan.”

So Eun tampak hanya sedikit cemberut memperhatikan pria di depannya yang kini tampak sibuk mengunyah sarapan buatannya. Sebenarnya sarapan itu tidak bermanfaat sedikitpun bagi tubuh sang vampire, ia hanya berusaha menyenangkan hati kekasih manusianya yang selalu bangun pagi untuk menyiapkan semuanya.

“Tapi kau bisa pulang setiap malamnya, bukan?”

“Untuk kali ini sepertinya tidak bisa…”

“Kenapa?”

“Selama tujuh hari ke depan aku harus menjalankan tugasku untuk mengajarkan beberapa pengetahuan dasar kepada para vampire muda yang baru lahir. Karena dari pagi hingga malam aku mungkin disibukkan dengan pekerjaanku, jadi aku harus menemui mereka lepas tengah malam hingga pagi menjelang.”

“Tapi bukan berarti kau benar-benar tidak akan pulang selama seminggu, bukan?”

“Tentu aku akan curi-curi waktu…” Ye Sung tersenyum keci sambil menatap So Eun. Sebenarnya dia sedikit berbohong pada gadis itu, tujuan kepergiannya selain pekerjaan bukanlah seperti yang tadi dijelaskannya melainkan dirinya berniat untuk mencari seorang dukun sakti dari bangsa vampire yang hidup sejak jaman Joseon dulu. Ia berniat untuk mempelajari lebih jauh tentang kemungkinan mengubah seorang manusia menjadi vampire, yang sayangnya ia sendiri tidak yakin ada dimana dukun tua itu setelah kejadian besar ratusan tahun yang lalu.

“Kau akan pergi dengan siapa?”

“Sekretarisku.”

So Eun berhenti makan, melirik pria itu datar, “Maksudnya vampire wanita itu…”

“Begitulah. Hey, kau masih cemburu padanya? Sudah kubilang kalau kau tak perlu mengkhawatirkan hal yang tidak perlu.”

So Eun pura-pura minum agar menahan Ye Sung membaca pikirannya. Dia menumpahkan kekesalannya tentang vampire wanita itu yang mengejeknya beberapa hari yang lalu. Walau begitu tetap saja dia tak ingin Ye Sung mengetahuinya.

“Apa yang kaupikirkan? Apa kau sengaja melakukan itu agar aku tidak membaca pikiranmu?” Ye Sung bertanya sambil berusaha meraih gelas itu dari So Eun.

“Ya, bagaimana menurutmu? Aku akhirnya tahu kalau suara tumpahan air dapat menghambat indera pendengaran para vampire untuk membaca pikiran seseorang. Sekarang kau tak bisa terus seenaknya padaku…”

“Tch, inilah mengapa aku tak begitu senang kau memiliki teman vampire yang lain…” Ye Sung pura-pyra cemberut, namun tak lama dia kembali serius. “Tapi, berbicara soal itu kau harus sedikit mengurangi untuk terlalu dekat dengan vampire, So Eun. Beberapa hari ini kau mudah sakit, bukan? Hal itu karena energimu yang menipis karena terlalu banyak terlibat dengan vampire…”

“Benarkah? Tapi bagaimana kau tahu? Aku selalu menyembunyikannya…”

“Kau lupa kalau aku bisa melihat semunya…” ucapan itu disambung kekehan oleh Ye Sung begitu melihat So Eun menutupi tubuhnya dengan lengan. Mahluk itu hanya bisa geleng-geleng kepala. “Pokoknya mulailah untuk menguranginya. Akan sangat bahaya bila kau terus berdekatan dengan mereka. Kehadiranku saja sudah cukup menyiksa tubuhmu, belum lagi teman vampire tomboy-mu itu ataupun beberapa rekan kerja lainnya di sekitarmu…”

“Tapi Amber adalah temanku satu-satunya dimana aku dapat berkeluh kesah tentang dirimu. Aku tak mungkin menjauhinya…” So Eun merengek tak setuju. “Kalau begini bukankah memang seharusnya kau segera merubahku menjadi seorang vampire? Itu hanya satu-satunya—“

“Jangan mulai lagi, So Eun. Kita sudah membicarakan hal ini berulang kali.”

So Eun tidak mengatakan apapun karena kini Ye Sung mengatakannya dengan wajah sangat serius. Ini adalah kali pertama ia melihat Ye Sung seperti itu.

“Beliau tak menghubungimu lagi?”

“Hm…”

So Eun mendesah sambil menatap ponselnya. Berulang kali ia menunggu panggilan ataupun telepon sejak empat hari yang lalu Ye Sung berangkat ke Busan. Sejak saat itu ia tak pernah melihat sang raja vampire lagi, bahkan dia juga tak dihubungi. Keadaan ini mulai membuatnya tidak tahan.

“Amber, apa menurutmu seorang vampire dapat melakukan perselingkuhan?” tanya So Eun tak lama, melirik Amber yang sibuk mengamati kepadatan jalan raya di bawah gedung sana.

“Tentu saja tidak. Setiap vampire hanya memiliki satu pasangan. Bahkan walau pasangannya telah meninggal dia akan tetap hidup sendiri tanpa merasakan cinta lagi…” Amber menjawabnya sambil tercenung – mungkin mengingat kembali mendiang pangeran Ryeo Wook yang menjadi pasangannya.

“Sungguh? Tapi setahuku vampire memiliki napsu yang besar. Mereka juga dengan mudah beradaptasi dengan kehidupan manusia. Karena ini zaman modern bukankah menurutmu mereka juga bisa terpengaruh, apalagi seorang vampire yang tidak bisa mendapatkan kepuasan seksual dari pasangannya.”

“Hm… mungkin hal itu bisa saja terjadi. Walaupun mungkin dia tidak akan mendapatkan kebahagiaan yang diinginkannya ketika hal itu terjadi.”

“Jadi bukan tidak mungkin, bukan?” So Eun cemberut, kini beberapa pemikiran yang sesungguhnya tak ingin dibayangkannya beradu di otaknya.

“Tapi aku yakin beliau tidak akan melakukan hal itu…”

“Bagaimana kau bisa yakin?”

“Karena dia adalah vampire yang memiliki perasaan. Sang Ace. Seperti yang kukatakan tadi, jenis biasa sepertiku saja akan sangat kecil kemungkinannya melakukan itu, menurutmu dia akan melakukannya?”

Benar juga. Ugh, apa yang dia pikirkan. Bagaimana mungkin dia tidak mempercayai Ye Sung seperti in hanya karena pria itu sibuk dengan tugasnya di luar sana? Bagaimana mungkin ia lupa bahwa pria itu telah beberapa kali mengorbankan nyawa agar dapat hidup bersamanya? Astaga, keresahannya ingin hidup secara normal dan tenang bersama Ye Sung sepertinya membuatnya menjadi berpikiran yang tidak-tidak.

Huh… kira-kira dimana Ye Sung berada saat ini. Masihkah ia dapat membaca suara hati So Eun yang kini begitu merindukannya?

“Huh, tentu aku dapat mendengarmu, bodoh. Aku juga merindukanmu…” Ye Sung tersenyum sambil berhenti sejenak dari perjalanan panjangnya. Mahluk itu kini tampak berada di sebuah perbukitan yang ditutupi oleh salju yang tebal. Dia duduk di sebuah dahan pohon yang menjulang tinggi untuk beristrahat.

Sejak beberapa hari ini di sela pekerjannya ia memang sibuk mencari keberadaan dukun sakti yang dimaksudnya. Pada malam hari setelah selesai bekerja ia akan berjalan ke masa lalu untuk menemukan tempat yang pernah dikunjungi sang dukun setelah perang pemberontakan. Sayangnya pria tua itu terus berpindah, dan karena ia sangat sakti sulit bagi Ye Sung untuk melacak keberadaannya walau telah menggunakan kekuatannya yang mampu kembali ke masa lalu.

Di hari pertama ia berada di sekitar China, namun di hari kedua ia menemukan bahwa sang dukun berpindah menuju kawasan Jepang, selanjutnya jejaknya terus mengarah menuju kawasan Thailand dan Indonesia namun kemudian muncul kembali di kawasan pegunungan Alpen Australia dan sepertinya sang dukun juga sudah tak berada di sana. Hari ini saja ia sepertinya harus menghentikan pencariannya sementara untuk melanjutkan penyamarannya sebagai manusia, lalu nanti tengah malam dia akan kembali berusaha menemukannya.

Sebenarnya dirinya juga sudah begitu merindukan So Eun. Namun ia tahu bahwa yang terpenting saat ini adalah mencari jalan keluar masalah mereka sebelum keadaannya memburuk.

“Uh, aku sedang tak ingin melakukan apapun…” rengek So Eun sambil mengikuti Sun Kyu dan Hyo Yeon yang menariknya memasuki sebuah bar. Sementara itu Amber tampak berjalan santai di sampingnya.

“Oh ayolah, So Eun, sudah lama kita tak melakukan hal ini. Apalagi karena tak terus sok sibuk dengan pulang cepat setiap harinya…”

“Yup. Lagipula beberapa hari ini kau terlihat galau seperti seseorang yang tidak dapat kabar dari kekasihnya. Padahal bukankah kau bilang tak punya pacar? Atau jangan-jangan kau mulai merahasiakan hal-hal seperti ini dari kami?”

So Eun melirik Amber mendengar pertanyaan itu. Teman vampirenya itu tampak hanya memandangnya dengan wajah datar sambil mengangkat bahu.

Suara musik jazz menyambut mereka begitu memasuki tempat itu. So Eun lagi-lagi hanya menuruti keduanya menuju sebuah meja kosong yang terletak di sudut ruangan.

“Pokoknya malam ini kita harus minum sampai mabuk. Tak perlu memikirkan masalah pulang karena negara ini punya ribuan taksi yang aman. Lagipula ada Amber di sini, si gadis aneh yang walau minum satu sumur bir pun tidak akan pernah mabuk,” celoteh Sun Kyu sangat bersemangat. Sementara So Eun menahan tawanya, melirik Amber yang lagi-lagi hanya menatap datar gadis berambut pirang sebahu itu.

“Aku setuju. Kita sudah lama tak begini. Tunggu, biar aku yang akan mengurus masalah pesanan.”

“Aku ikut denganmu, Hyo!”

So Eun dan Amber sama-sama hanya memandangi kedua teman mereka itu yang terlihat sangat bersemangat menuju bar. Tak lama kemudian So Eun menghela napas sambil melirik ke sekitar bar yang malam ini terlihat cukup ramai mengingat besok adalah akhir pekan. Mungkin ada baiknya dia menghabiskan waktu di sini, setidaknya bisa sedikit melupakan masalahnya dengan Ye Sung yang tak kunjung ada kabar.

“Hey, kau tidak apa-apa, bukan?” tanya Amber menepuk bahunya. So Eun mengangguk dan memaksakan senyuman. “Huh, aku jadi ikut penasaran sebenarnya ada apa dengan sang raja. Beliau bilang hanya mengajari para vampire muda, tapi aku tak yakin akan sesibuk ini sehingga tak punya waktu menghubungimu.”

So Eun lagi-lagi angkat bahu. Tak mau kembali kepikiran.

“Ya sudah, lupakan dulu hal itu. Kita bersenang-senang saja di sini. Maaf, aku tak seharusnya membicarakan hal itu…”

So Eun tersenyum kecil dan menganggukkan kepalanya.

Suasana bar yang cukup damai tiba-tiba sedikit berisik begitu segerombolan pria memasuki tempat itu dengan suara sedikit gaduh. Mereka tampak tertawa satu sama lain, lalu berjalan menuju meja yang terletak di belakang meja yang mereka tempati.

So Eun melirik Amber, menyadari kalau ekpsresi gadis itu sedikit berubah begitu melihat mereka semua. “Ada apa?”

“Mereka semua itu… mereka bukan manusia.”

So Eun melirik kembali rombongan yang tidak dipedulikannya lagi, menyadari bahwa mereka saling berbisik sambil menoleh ke kami. Sepertinya mereka juga menyadari siapa Amber.

“Mereka mungkin hanya ingin bersenang-senang juga tanpa berniat menganggu.”

Selang tak lama setelah So Eun berkata begitu, tiba-tiba ia mendengar langkah mendekat. Ia agak kaget ketika salah satu dari rombongan pria tadi berdiri di sampingnya.

“Wah, lihat ternyata di sini ada vampire lain. Kau malah berbicara senyaman ini tentang identitasmu pada seorang manusia. Wah, aku tak menyangka…” ucap pria itu sedikit mencondongkan wajahnya kepada mereka, sedikit berbisik agar orang-orang di meja lain tidak mendengar pembicaraan mereka tersebut.

“Jangan menganggu. Pergi sana.” Amber tampak menyela dengan wajah datar.

“Tch, kenapa harus marah? Aku tidak menganggu, hanya benar-benar kaget dengan penemuan ini. Baru kali ini aku melihat ada vampire berteman dengan manusia, aku kira hal seperti itu hanya ada dalam film saja haha…”

Enam vampire tadi tiba-tiba ikut berjalan mendekati temannya itu. Senyuman lebar menyebalkan terlihat di wajah mereka. “Mungkin mereka memang terinspirasi dengan film twilight. Hey, jangan bilang kalian pasangan sesama jenis yang mencoba untuk bersikap romantis…”

So Eun menghela napas, sebenarnya ia tiba-tiba merasa sesak dengan kehadiran semua vampire ini bersamaan di dekatnya. Namun begitu melihat Amber dia takut kalau hal ini akan menjadi sangat panjang, dia tak mau kalau mereka bertengkar di sini. “Sebaiknya kalian pergi. Jangan urusi kami…”

“Woah, kalian tidak membantahnya? Jadi hal itu benar?”

Amber yang terganggu tampak baru hendak bangkit dari tempat duduknya ketika Hyo Yeon dan Sun Kyu mendekat. Amber tampak menurunkan tangannya kembali, sepertinya menghentikan niatnya yang hendak menghentikan waktu guna meladeni vampire-vampire menyebalkan itu.

“Wah, jadi begini? Kami tinggal sebentar kalian sudah bersenang-senang saja…” celoteh Sun Kyu yang seperti biasanya memasang mode centil setiap melihat pria yang dianggapnya tajam. Hyo Yeon juga terlihat tak jauh berbeda.

“Kalian seharusnya mengajak kami…”

Para vampire pria itu tampak saling berpandangan, senyuman sinis terlihat di wajah mereka. “Kami hanya ingin bergabung dengan kalian. Sepertinya menyenangkan.”

Ini gawat.

“Maaf sekali, kami tak ingin bergabung—“

“Kenapa tidak?!” Sun Kyu memotong ucapan Amber, masih memasang senyuman lebarnya. “Kami sama sekali tidak keberatan, iya kan, Hyo?” tanyanya pada Hyo Yeon yang jelas saja akan mengangguk setuju.

“Lagipula apa salahnya berteman? Mereka sepertinya bukan orang yang jahat.”

“Tentu saja tidak…” salah satunya menyela dengan senyuman masih memuakkan itu di wajahnya.

“Tidak. Aku bilang tidak. Sebaiknya kalian kembali ke tempat kalian.” Amber lagi-lagi berbicara dengan sangat kesal. Sementara dua gadis di depannya tampak merengut mendengarnya.

“Yah, Amber , kenapa kau begitu? Apa salahnya untuk berteman?”

So Eun meraih minumnya ketika keadaan tubuhnya terasa makin buruk. Dia bahkan mulai kesulitan mendengar apa yang ada di sekitarnya. Kepalanya terasa sangat pusing.

“Kalian diam saja. Ikuti kata-kataku. Jangan ajak mereka!”

“Amber, kenapa kau malah marah? Bukankah sekarang kau terlalu berlebihan?”

So Eun benar-benar mulai tak tahan lagi.

Sesuatu yang ajaib tiba-tiba terjadi ketika waktu kembali berhenti. Beberapa sosok di café tersebut membeku layaknya patung, bahkan kendaraan di luar juga berhenti bersama jarum jam di sudut ruangan. Di meja  bar, salah satu bartender tampak menghentikan kegiatannya sebelumnya meracik minuman sambil melirik rekannya yang ikut menjadi patung dengan posisi menuangkan sampanye ke dalam sebuah gelas Kristal – butiran cairan ke emasan itu tampak menggantung di udara di antara gelas dan mulut botol. Sementara itu Amber dan vampire tadi tampak juga keheranan, Amber melirik ketiga sahabatnya yang ikut menjadi diam.

“Apa yang kalian lakukan dengan berbuat keributan di sini?” Seseorang tiba-tiba muncul begitu saja di belakang gerombolan pria yang tadi, mengagetkan semua vampire yang ada di sana.

“Yang mulia…”

“Bukankah kalian seharusnya tahu bahwa berkumpul terlalu banyak bisa mendatangkan bahaya bagi manusia di sekitar kalian? Apa niat kalian dengan berusaha mendekati wanita-wanita manusia ini? Kalian ingin menghisap energi mereka di tengah keramaian?” Ye Sung menyingkirkan butiran salju yang hinggap di bahunya, berjalan dengan santai melewati para vampire yang tunduk hormat padanya, berjalan mendekati meja yang dirumuni itu.

“B-Bukan seperti itu, yang mulia…”

“Apa kalian lupa peraturan yang kubuat baru-baru ini? Bahwa kalian hanya bisa menghisap energi dari seorang manusia pendosa? Setidaknya juga harus berada di atas umur 50 tahun?” Ye Sung berhenti di samping So Eun, melirik anak manusia itu yang walau dalam keadaan tidak bergerak namun wajahnya terlihat pucat dan menahan sakit. “Kalian bisa membunuh orang-orang di sekitar kalian, apa kalian berpura-pura tidak memahaminya?”

“S-Sekali lagi maafkan kami, Yang mulia. K-Kami berjanji tidak akan mengulanginya.”

“Kupegang ucapan kalian. Kalau sekali lagi aku melihat kalian melakukannya lagi maka aku akan memusnahkan kalian menjadi abu, terutama kau…” Ye Sung melayangkan pandangannya menuju pria pertama yang mendekati mereka tadi. “Byul, atau dengan nama samaran saat ini Jang Hyun Seung, berhentilah menghisap energi dari wanita bayaran seperti yang saat ini sering kaulakukan. Mereka memang pendosa, tapi kupikir mereka masih berhak untuk diberikan kesempatan hidup lebih lama untuk memperbaiki hal itu. Lagipula bukankah terlalu sadis membunuh mereka hanya untuk memuaskan nafsu sesaatmu?”

Pria yang disebut tampak tergagap. Wajahnya juga tampak memucat dan tertunduk.

“Aku akan lebih mengawasimu mulai dari sekarang, begitu juga kalian semua. Jangan pikir aku bermain-main dengan hal ini. Aku pasti akan melakukannya kalau menemukan kalian melakukan hal yang serupa.”

“Kami mengerti, Yang mulia…”

“Sekarang pergilah sebelum aku berubah pikiran…” hanya dengan ucapan singkat itu gerombolan itu langsung keluar melarikan diri dari café itu. Mereka semua tampak langsung menyebar – sebagian menghilang sementara yang lainnya terbang dan merubah diri menjadi kelelawar. “Kalian semua lanjutkan saja apa yang sedang kalian lakukan…” perintah Ye Sung lagi pada beberapa vampire lainnya di ruangan itu.

“Sekali lagi saya minta maaf atas segala hal ini, Yang mulia. Saya sudah berusaha menyelamatkan So Eun…” ucap Amber dengan gurat menyesal pada pria itu.

“Tidak perlu minta maaf, kau sudah melakukan hal yang tepat…” ucap Ye Sung sambil melirik So Eun. “Tapi, kukira kau tidak menyadari bahwa seorang manusia akan menjadi lemah ketika terlalu banyak berinteraksi dengan vampire. So Eun, dia sudah mencapai batas itu…”

Mata Amber membesar, melirik So Eun terkejut. “Maafkan saya, Yang mulia, saya tidak mengetahui hal itu. Saya akan menjauhinya mulai dari besok…”

“Bukan begitu maksudku. Kalau seperti itu keadaannya harusnya aku yang lebih dahulu pergi menjauhinya karena akulah yang paling sering berdekatan dengannya.” Ye Sung tersenyum miris, menatap So Eun yang kini sudah berada di dalam gendongannya. Sementara Amber tampak mengangkat alis bingung, menyadari arti tatapan sedih yang diberikan sang raja kepada temannya itu. “Aku akan membawanya bersamaku. Sisanya aku mempercayainya padamu, Amber…” Ye Sung tersadar tak lama, melirik kembali gadis itu.

“Baik, Yang mulia.”

Keadaan ajaib kembali terjadi ketika hanya dengan tatapan mata Ye Sung membuat semua keadaan sekitarnya berjalan mundur seperti adegan rewind di kaset. Jam dinding bergerak mundur, begitupun segala hal di dalam café itu ataupun di luar sana. Sun Kyu dan Hyo Yeon juga terlihat digiring kembali menuju meja bar, tepatnya kembali ke bagian sebelum para pengacau tadi memasuki tempat itu. Hingga tepat dengan saat Ye Sung dan So Eun menghilang dari tempat itu, semuanya kembali berjalan normal.

Amber terdiam di tempatnya mengacuhkan kehebohan manusia di sekitarnya yang lagi-lagi tak menyadari apa yang baru saja terjadi. Di pikiran gadis itu kini terbayang ekspresi yang tadi ditunjukkan Ye Sung, ia tampak berpikir keras berusaha memahaminya.

“Huh, So Eun kemana?” lamunannya terhenti begitu menyadari kedua temannya yang lain sudah kembali ke meja itu. Amber melirik kedua orang yang sudah membawa beraneka makanan dan minuman itu.

“Uh, dia sakit, jadi dia pulang lebih awal…”

“Yah, kenapa dia bisa pulang tanpa mengatakan apapun pada kami?”

Amber kembali mengacuhkan hal itu. Pikirannya kembali memikirkan sepasang kekasih tadi.

Rasa dingin terasa menyentuh pipinya. Lambat laun sentuhannya kian terasa, begitu pula suara di sekitarnya. Suara seseorang yang dikenalnya.

“So Eun? Kau dengar aku? So Eun, bangun…”

Kelopak matanya terasa berat, sama halnya dengan kepalanya yang terasa pusing, tapi dirinya tetap berusaha untuk membuka matanya.

“So Eun…”

Ketika ia membuka mata semuanya terlihat kabur dan mengkristal, butuh sedikit waktu baginya untuk dapat beradaptasi dengan cahaya lampu yang berada tepat di atas kepalanya, begitu juga seseorang yang saat ini terus memeganginya.

“Ye Sung…”

“Astaga, kau akhirnya sadar…” helaan napas lega terdengar dari wajah yang kian jelas itu. Wajah itu terlihat sangat khawatir menatapnya.

“Apa yang terjadi?”

“Jangan bangun dulu…” bahunya ditahan dan didorong pelan kembali untuk berbaring. “Kau pingsan akibat terlalu kelelahan. Bukankah sudah kuperingatkan untuk tidak kontak dengan terlalu banyak vampire? Hal itu tidak baik untuk kondisi kesehatanmu saat ini…”

Oh ya, So Eun baru ingat kalau tadi bersama ketiga sahabatnya dirinya berada di sebuah bar untuk bersenang-senang sebelum datang beberapa orang vampire yang menganggu. Tunggu, kalau sekarang dirinya sudah berada di kamarnya berarti teman-temannya….

“Kau tak perlu mencemaskan hal itu, aku sudah mengurusnya…” Ye Sung kembali berbisik sambil mendorong tubuhya kembali ke tempat tidur. Oh ya, Ye Sung, dia saat ini ada di sini setelah tidak memberinya kabar selama beberapa hari ini.

“Ye Sung, kau kemana saja?” tanyanya dengan sisa tenaga yang dimilikinya, menatap pasangannya itu yang terlihat gugup mendengar pertanyaannya. “Kau bisa datang semudah itu seperti biasanya, tapi kenapa beberapa hari ini kau tak pernah sekalipun mengunjungiku? Kenapa kau baru muncul sekarang?”

“Maaf, So Eun…”

Ada yang salah dengan reaksi ini. Ada apa dengan Ye Sung? Apa yang disembunyikannya?

“Ye Sung, kau tidak benar-benar selingkuh, bukan?”

“Apa? Tentu saja tidak!” kali ini ia menjawab cepat.

“Lalu kenapa kau bertindak aneh begini?”

Ye Sung kembali tak lantas menyahut seakan ia berpikir keras untuk memberi jawaban. Di saat ini kadang So Eun merasa tak adil karena tidak bisa membaca pikiran mahluk itu seperti yang sering ia lakukan padanya. Hal ini mulai menyebalkan.

“Apa ini karena permintaanku agar kau mengubahku menjadi vampire waktu itu?”

Ye Sung diam. Berarti memang ada kaitannya.

“Kenapa? Apa kau segitu tidak maunya sampai menghindariku?”

“Tch, bukan begitu…” Ye Sung menyahut lesu, jelas sangat ingin menghindari topik pembicaraan ini.

“Kenapa? Apa kau takut aku akan menjadi beban bagimu kalau aku berubah? Atau, kau pernah bilang kalau sampai sepasang vampire memutuskan untuk bersama maka keabadian mulai hilang dari kamus hidupnya? Apa kau tak ingin posisimu sebagai raja hilang darimu suatu saat nanti?”

“Bukan begitu, So Eun…” Ye Sung tampak mengeluh sambil mendekat, menghapus air mata yang entah sejak kapan meleleh di wajah gadis itu. “Bukan begitu maksudku… Kau tahu bukan, bahkan dari awal aku tak terlalu menginginkan kedudukanku saat ini. Aku tak mengorbankanmu untuk hal itu, atau bahkan kebadianku…”

“Lalu kenapa kau seperti ini?”

Ye Sung kembali tak lantas menyahut. Dia menunduk, menatap kedua tangan So Eun yang berada di dalam genggamannya. “Kita dalam masalah besar, So Eun. Selama ini kita berpikir bahwa perbedaan hubungan ini bukan masalah besar tapi nyatanya semuanya tak semudah itu…”

“Apa maksudmu?”

“Menurut hitunganku usiamu sebagai manusia hanya sekitar empat belas hari lagi?”

“A-Apa?”

“Aku lengah, maafkan aku karena terlambat menyadarinya, tapi karena selama ini aku selalu berada di sekitarmu bahkan bersentuhan denganmu tanpa kusadari bahwa keberadaanku menghisap energi yang kaumiliki. Hal itu belum dihitung dengan keberadaan teman vampiremu, atau vampire lainnya yang kautemui di tempat kerja atau tempat lainnya. Kau berbeda dengan manusia lainnya So Eun, daya tahan tubuhmu paling lemah terhadap keberadaan kami karena sejak hari kelahiranmu banyak vampire yang mengikutimu demi menunggu kebangkitanku, hal itulah membuat keberadaan kami saja dapat menghisap energimu walau kami tidak berniat menghisapnya…”

So Eun tak tahu harus bereaksi seperti apa. Ia hanya menatap pria itu dengan ekspresi tak percaya.

“Kini satu-satunya cara adalah segera mengubahmu menjadi vampire, tapi…” Ye Sung menahan ucapannya, kembali menunduk.

“Tapi apa?”

“Sejujurnya aku tak tahu bagaimana caranya. Aku memang seorang raja, tapi bukan berarti aku benar-benar bisa melakukan segalanya, lagipula seperti yang pernah kukatakan bahwa kita adalah pasangan pertama yang seperti ini sehingga tidak ada sejarah yang bisa kutelisik mengenai hal ini di kehidupan sebelumnya. Oleh sebab itu aku pergi untuk menemukan seorang tabib sakti di masa Joseon dulu yang mengabdi pada ayahku, kukira mungkin dia dapat membantu masalah kita, namun sejujurnya aku tak tahu dimana keberadaannya. Selama beberapa hari ini aku sudah berpindah dari satu tempat dimana jejaknya pernah terlihat, namun nyatanya aku tetap tak mampu melacaknya…”

“Tapi kenapa kau tidak pernah mengatakannya padaku?”

“Karena aku takut kau menyalahkanku…” Ye Sung kembali menunduk. “Walau bagaimanapun ini tetap karena kesalahanku. Aku juga takut kau mengusirku pergi, karena sejujurnya aku memang hanya membuatmu semakin menderita bila tetap berada di sekitarmu…”

“Ye Sung…” So Eun kembali menangis sedih bergerak mendekap tubuh itu. “Aku tidak akan pernah melakukan hal itu. Kau pikir aku mau hidup lama namun dipisahkan darimu? Seperti dirimu aku juga tak ingin mengorbankanmu hanya untuk menunggu ajal tanpa kebahagiaan yang saat ini kauberikan…”

Ye Sung mengusap kepala So Eun sesaat, lalu melepasnya kembali untuk berbaring ke tempat tidur. “Dan ada kabar buruk lainnya, So Eun. Bahkan walau aku berhasil menemukan tabib ini namun bukan berarti bahwa kita bisa berhasil mengubahmu. Seperti yang kukatakan bahwa kondisimu saat ini semakin memprihatinkan, kau bisa saja malah tewas nantinya…”

“Kalau hal itu terjadi kau tinggal menungguku berinkarnasi beberapa ratus tahun lagi. Lalu nanti di pertemuan kita selanjutnya kita bisa mencobanya lagi, karena kuyakin bahwa jawabanku tidak akan berubah nantinya…”

Senyuman akhirnya bisa kembali di wajah Ye Sung, kembali menatap gadis itu dengan tatapan hangat. “Apa kauyakin? Bagaimana kalau saat itu kau bahkan bisa menjadi lebih galak dari Kim So Eun dulu yang selalu hobi mengomel?”

“Kau hanya tinggal membawaku tepat pada hari ini. Ajak dia berdiri di sana dan…” So Eun mendekat, mengecup pelan bibir Ye Sung, “Melihat hal ini sebagai bukti…”

“Kita harus berhenti membuat kontak yang berlebihan untuk menghemat energimu, So Eun…” Ye Sung kembali mendorong tubuh So Eun untuk kembali berbaring, namun senyuman lembut kembali terlihat di wajahnya. “Jadi kita benar-benar sepakat untuk melakukannya apapun hasilnya nanti? Tapi bagaimana dengan kehidupanmu sekarang? Teman-temanmu? Keluargamu?”

“Tidak apa-apa, aku sudah cukup dewasa untuk menentukan jalan hidupku sendiri. Lagipula seperti yang kautahu aku sudah tak miliki keluarga lainnya lagi selain ayahku yang sudah menikah lagi di luar negeri dan hanya mengirimiku uang bulanan. Dari awal memang kau adalah satu-satunya yang benar-benar kumiliki…”

“Baiklah. Kalau begitu beri aku waktu beberapa hari lagi untuk menemukan tabib itu. Setelah itu ayo kita lakukan hal itu…”

“Ya, tentu…”

“Baby, baby, I feel crazy
Up all night, all night and every day
Give me something, oh, but you say nothing
What is happening to me?”

Langit-langit yang mengabur adalah hal pertama yang ditangkapnya. Suara kendaraan yang berlalu lalang juga terdengar, bersahutan bersama theme song sebuah minimarket di seberang apartemen yang biasanya selalu diperdengarkan setiap satu jam. Panasnya sinar matahari yang bersinar langsung melalui celah jendela yang terbuka juga disadarinya, membuatnya berasumsi bahwa sekarang mungkin sudah lewat pertengahan hari.

Ia beralih melirik sisi tempat tidur sebelah kirinya begitu matanya sudah terasa lebih jelas. Kosong, tepat seperti dugaannya. Kedua bola matanya kemudian menangkap beberapa nampan kosong yang diletakkan di atas meja di sudut kamar, membuatnya mengingat kembali sarapan menggugah selera yang dibawakan sang kekasih langsung ke kamar untuknya pagi ini.

Memang beginilah keadaannya saat ini, dia tak bisa pergi jauh dari tempat tidur dan kamarnya. Sejak kejadian malam itu dirinya memang merasakan betul bahwa energinya kian menyusut seperti balon yang dilepaskan sumbatnya. Dia tak bisa kemana-mana, membuatnya harus mengajukan cuti bekerja, dan bahkan pekerjaan kecil seperti memasak saja kini mulai membuatnya kelelahan.

Setelah semua ini terjadi dan melihat ke belakang sebenarnya dia bukannya tidak menyangka hal ini terjadi. Walau bagaimanapun selama setahun ini dia telah melihat banyak hal yang manusia biasa tidak akan pernah sadari, dia juga mengetahui begitu banyak hal yang mungkin membuat manusia lain ketakutan bila mengetahuinya, dia juga sudah melihat begitu banyak kematian baik itu dari kalangan manusia atau vampire. Kadang, begitu menyaksikan hal tidak dipercaya itu terjadi di depan matanya dirinya sempat berpikir bahwa bukan tak mungkin suatu saat dia akan mengalami hal yang sama, dan tampaknya kini hal itu dekat untuk menjadi nyata.

Dia tidak menyesalinya. Bahkan walau dia diberi kesempatan lagi ke masa lalu untuk memilih maka keputusannya tidak akan berubah; dia tetap akan memilih menjadi pasangan Ye Sung dan teman bagi Amber. Dia tidak akan berubah pikiran bahwa walau kini dia merasa cukup menderita dengan penyakit aneh yang mulai menguras habis energi di tubuhnya. Lagipula masih mungkin baginya untuk bertahan.

Ya, kalau kau lihat Ye Sung tidak ada di sekitar sini. Pria itu saat ini bukannya sedang berada di perusahaannya melakukan penyamarannya sebagai manusia melainkan tengah berpergian jauh guna menemukan sebuah harapan untuk mereka. Setiap hari mahluk itu akan berangkat kala pagi menjelang hingga malam datang – tentu saja pulang sesekali untuk melihat keadaan pasangannya. So Eun tak yakin kini ia sedang berada di mana namun ia yakin bahwa sang raja vampire itu terus melintasi benua dan samudera guna mendapatkan tujuannya.

So Eun mendesah sambil bergeser menuju meja nakas untuk mengambil minum. Namun dahinya mengerut kecewa karena menemukan gelas itu sudah kosong hingga ke dasarnya. Akhirnya dirinya mulai menghimpun tenaga yang dimilikinya dan bergerak ke arah dapur yang letaknya tak jauh sehingga tentu saja tidak akan membuatnya sekarat jika berjalan ke sana.

Tapi mungkin dia tak sepenuhnya benar. Karena tak lama dirinya berjalan melewati pintu kamar rasa tak menyenangkan kembali menghinggapi tubuhnya yang terasa limbung akibat rasa lelah yang dirasakannya. Dirinya bahkan harus memegangi dinding karena pandangannya kembali terasa berkunang.

“Kau hanya perlu memanggilku…” sebuah suara terdengar di belakang telinganya, bersama sentuhan ringan di bahunya. So Eun melirik ke sana, tersenyum mendapati wajah itu yang terlihat sedikit serius menahan khawatir. Butiran salju lagi-lagi menghinggapi surai keemasan miliknya – kali ini dia datang darimana? Antartika?

“Aku hanya ingin terus melatih tubuhku untuk bergerak.”

Ye Sung tak menyahut. Dia hanya menyentuh sekilas gelas itu dan langsung terisi penuh. “Ayo kembali ke kamar…” hanya sekilas mereka kembali berada di atas tempat tidur.

Unbelievable…” So Eun bergumam pelan walau bukan pertama kalinya dia melihat hal ini. Dia hanya menurut saja begitu Ye Sung  membantunya untuk meminum air putih tadi. “Jadi bagaimana hasil pencariannya…”

Senyuman tipis terlihat di wajah itu. Sebuah senyuman dikenal yang sudah lama tak dilihatnya beberapa hari ini. “Bukan aku namanya kalau tidak bisa menemukannya…”

“Kau menemukannya? Sungguh?”

“Tentu saja. Siapa menyangka kalau ada mahluk di dunia ini yang berpikir untuk hidup menyendiri di antartika. Selama ini kukira dia akan hidup bergabung dengan manusia dan menjadi dokter specialist terkenal di dunia, tapi ternyata dia lebih memilih berteman dengan beruang kutub dan penguin.”

Jadi dia benar-benar dari Antartika?

“Kenapa sulit sekali menemukannya? Apa dia sesakti itu sehingga bahkan kau kesulitan menemukan keberadaannya?”

“Ya. Dia punya kemampuan menghapus jejaknya sendiri di suatu tempat sehingga sulit untuk dilacak. Selama ini mencium bekas jejak yang ditinggalkan oleh seseorang cara termudah bagiku untuk menemukannya sehingga untuk yang satu ini aku harus bekerja lebih keras. Jadi aku harus berulang kali kembali ke masa lalu ketika berhasil menemukan satu petunjuk tentangnya untuk melihat ke arah mana dia pergi setelah itu.”

“Jadi kau sudah membicarakan masalah kita? Apa dia mau membantu?”

“Tentu saja. Kalau aku yang mengatakannya jatuhnya bukan permintaan tapi perintah. Tentu saja dia tidak akan menolaknya…” Raut wajah Ye Sung kembali terlihat serius. Dia menunduk – raut yang sering diperlihatkannya ketika berpikir keras. “Tapi So Eun, dia berkata bahwa hal ini bukanlah hal yang mudah…”

“Apa katanya…”

Ye Sung meliriknya lagi dan merangkul bahu gadis itu pelan. Dia kemudian mengusap rambut So Eun secara perlahan. “So Eun, apapun yang terjadi nantinya kau akan mempercayaiku, bukan?”

So Eun melirik Ye Sung ragu karena mulai heran dengan arah permbicaraan ini. Namun ia tahu apa yang harus ia lakukan. “Tentu saja. Aku tidak akan sampai sejauh ini kalau aku tidak mempercayaimu…”

“Walau nanti keadaannya mulai menakutkan dan aku sempat kehilangan akal sehatku? Walau tampaknya aku akan membahayakanmu?”

“Tapi kau tidak akan membahayakanku, kan?”

“Tentu saja tidak.” Ye Sung menyahut lebih cepat, namun tak lama kembali menundukkan kepalanya. “Tapi bagaimana kalau sisi hitam dalam diriku yang melakukannya. Saat aku tak terlalu bisa mengendalikannya. Saat aku tidak benar-benar menjadi diriku. Saat—“

“Aku akan menyadarkanmu kembali. Aku akan terus memanggil namamu hingga kau sadar kembali. Aku yakin kau akan cepat kembali.”

Garis tipis perlahan kembali terlihat di wajah Ye Sung. “Baiklah, ayo lakukan hal itu…” Ye Sung bangun dari tempat tidur dan kembali mendorong So Eun untuk berbaring. “Baiklah. Sebaiknya sekarang kita menghemat energimu sampai saatnya tiba. Aku juga harus kembali menemui tabib itu karena tadi aku meninggalkannya begitu saja untuk menemuimu.”

“Kau akan pergi lagi? Sejak semua ini aku jadi sangat jarang melihatmu karena kau terus menghindariku…”

“Kita hanya perlu bersabar sedikit lagi…” Ye Sung menyentuh pelan pipinya sebelum kembali menghilang dari pandangannya. Namun tak lama mahluk itu muncul lagi, mengagetkan So Eun yang sempat tertunduk kecewa. “Baiklah, sepertinya kita bisa sedikit merayakan keberhasilanku menemukan tabib ini…” Dalam hitungan detik bibir dingin itu menyentuh miliknya yang terasa hangat. Mereka sama-sama memiringkan kepala untuk memperdalam kontak fisik yang hampir beberapa hari tak mereka lakukan ini. Selama itu jemari Ye Sung berada di belakang kepalanya, mengusap lembut rambutnya untuk menenangkannya.

Malam yang ditunggu-tunggu akhirnya telah datang. Penantian yang selama ini mereka tunggu-tunggu entah mengapa mulai tergantikan dengan rasa gugup yang dapat dirasakan oleh So Eun begitu kakinya menapak tempat dimana hidupnya akan berubah.

Ye Sung selalu mendampinginya. Genggaman tangan pria itu terasa semakin erat ketika jemari So Eun terasa bergetar begitu mereka mendekati kerumunan para vampire dengan semua pasang mata yang ke arah mereka. Dari tempatnya berdiri, So Eun dapat menemukan Amber yang ikut berada di barisan depan melambaikan tangan dengan wajah datar ke arahnya.

Ya, inilah harinya. Inilah waktunya. Dan inilah tempatnya.

Saat ini dilihatnya ada sebuah lahan yang cukup luas dengan hamparan persilangan garis-garis yang membentuk pola bintang yang dikelilingi oleh dua lingkaran di hadapan mereka. So Eun berpikir bahwa disanalah ritual itu akan dilakukan, apalagi karena melihat seorang pria bertubuh tambun yang telah berdiri di seberang sana – tabib Shin Dong, itulah nama yang disebutkan Ye Sung. Satu hal lagi yang disadari So Eun adalah bagaimana semua orang memakai baju serba hitam – bahkan Ye Sung untuk pertama kalinya mengenakan jubah kebesaran miliknya, hanya dirinya seorang yang menggunakan gaun berwarna putih. Keadaan ini saja seperti memperjelas wujud dan kedudukan mereka.

“Tak usah gugup…” Ye Sung berbisik padanya sambil terus membawa So Eun melewati dua garis lingkaran, lalu kemudian berhenti tepat di bagian segi lima ukiran bintang tadi. So Eun lagi-lagi bertanya dalam hati apa yang akan terjadi nantinya di sini – apakah akan baik-baik saja?

“Kau berubah pikiran?”

“Tidak!” So Eun menyahut cepat dengan sedikit panik. “B-Bukan begitu… A-Aku hanya sedikit gugup…”

Senyuman tipis kembali terlihat di wajah Ye Sung. Ia kembali menggenggam erat jemari So Eun. “Kau tenang saja. Semua akan baik-baik saja karena aku sendiri yang akan memastikan hal itu…”

So Eun ingin menanyakan maksud ucapan Ye Sung tersebut, namun niatnya terhalang begitu Shin Dong berjalan ke arah keduanya. So Eun baru hendak memberi hormat namun pria itu juga terlebih dahulu membungkukkan badan. “Selamat datang, Permaisuri. Saya harap Anda tidak terlalu gugup dengan keadaan ini…”

“P-Permaisuri?” So Eun dapat merasakan bibinya memanas, sementara Ye Sung tersenyum sambil melirik sang tabib.

“Apa semuanya sudah siap?”

“Ya, Yang mulia… Semuanya sudah siap. Apalagi karena kini bulan purnama memang telah berada di puncaknya…”

Baik Ye Sung maupun sang tabib menengadah menatap rembulan yang bersinar penuh, hal itu membuat So Eun juga mengikuti arah pandangan mereka. Malam ini terlihat lebih indah dari malam-malam sebelumnya. Sinar bulan juga terlihat berkilau bersama dengan butiran salju yang berguguran dari atas langit.

“Kalau begitu sebaiknya kita mulai sekarang sebelum rembulan tertutup awan…”

“Baiklah, Yang mulia…”

Kedua orang itu kembali ditinggal di dalam lingkupan garis yang membentuk segi lima di perut bintang. So Eun menatap Ye Sung, berharap untuk menghilangkan rasa gugup yang kembali merongrong perasaannya, namun kemudian dia menangkap raut tegang yang sama di wajah Ye Sung. Sadar hal itu Ye Sung meliriknya, mengganti kembali ekspresinya menjadi lebih tenang.

“Apa kau ingat tempat ini?”

So Eun mengalihkan pandangannya menuju sekitar mereka. Tak butuh waktu lama baginya mendapatkan jawaban dari pertanyaan Ye Sung. “Ini adalah padang tempat kau sering membawa putri Ga Eul. Tempat dulu kita terpisahkan oleh maut pertama kalinya…”

Ye Sung mengangguk dengan senyuman tipis di wajahnya. “Ada alasan mengapa aku ingin ritual ini dilakukan di tempat ini…”

Helaan napas So Eun tiba-tiba terasa tercekat, namun Ye Sung kembali menggenggam tangannya. “Aku bukan bermaksud untuk mengulang hal itu, aku hanya berusaha membuktikan pada diriku sendiri agar kali ini masa lalu buruk itu tak akan terulang.”

“Ye Sung…”

Raut ketenangan mulai goyah dari wajah Ye Sung, dia kembali menundukkan kepalanya. “Aku akan jujur… Sebenarnya keberhasilan hari ini ditentukan oleh diriku, sementara kautahu sendiri bahwa kelalaianku dululah yang membuatku tak bisa menyelamatkan Putri Lee Ga Eul, aku hanya terlalu lemah dengan perasaanku sehingga kadang aku selalu terlarut di dalamnya dan membahayakan orang yang paling kupedulikan…”

Sepertinya inilah yang dimaksud dengan pasangan yang saling melengkapi satu sama lain. Karena tadi ketika rasa gugup menyerangnya Ye Sung adalah orang yang terus menenangkannya, sepertinya ini adalah kesempatannya untuk melakukan hal yang sama untuk melepaskan beban kegundahan di bahu pria itu.

“Kau pasti bisa melakukannya…” Bisik So Eun sambil membelai pipi Ye Sung untuk menatap ke arahnya. Dia kemudian tersenyum halus pada pria itu. “Sejarah tidak akan terulang. Kita akan membuat sejarah yang baru tentang kisah cinta kita…”

Senyuman lembut kembali di wajah Ye Sung, membuat perasaan kembali menghangat. Perlahan ketika Ye Sung meraih pinggangnya mendekat ia terlarut ke dalamnya. Matanya terpejam merasakan sentuhan bibir Ye Sung di atas bibirnya.

“Baiklah, ayo kita lakukan ini…” Ye Sung berbisik setelah melepas kecupannya, namun So Eun tak dapat melihat apapun begitu salah satu telapak tangan Ye Sung menutup kedua matanya. So Eun menelan ludah gugup menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Tangan Ye Sung terasa lebih dingin dari biasanya, seakan ada ratusan es yang menguar dari dalam tubuhnya. Tak lama ia mendengar pria di depannya melolong bak serigala, bersahutan dengan ratusan lolongan lainnya yang sepertinya berasal dari ratusan serigala yang ikut menyaksikan ritual ini.

Mungkin Ye Sung kembali menjadi sosok aslinya. Kalau diingat-ingat sepertinya dia tak pernah melihatnya lagi setelah bertahun-tahun setelah perperangan besar dulu. Dia tiba-tiba ingin melihatnya lagi. Dia ingin menyaksikan keajaiban dunia yang diluar nalar ini sehingga itu sebabnya ia menyingkirkan tangan Ye Sung di matanya.

Matanya melebar, begitu juga dengan mata merah ruby Ye Sung yang saat ini terlihat tengah menggigit pergelangan tangannya sendiri dan menghisap cairan berwarna biru pekat yang keluar dari kulitnya yang terbuka. Kedua mata cokelat gadis itu terasa sedikit berkabut menyaksikan beberapa tetes cairan biru itu yang menetes lolos dari bibir Ye Sung, membasahi jubah gelap miliknya.

“Ye Su—“

Ucapannya terpotong begitu Ye Sung kembali menyatukan bibir mereka yang sama-sama terbuka. So Eun merasa mual merasakan cairan berbau harum yang terasa sedikit panas itu memasuki bibirnya, namun ia menurut dengan berusaha menelannya dengan berhati-hati agar taring tajam Ye Sung tidak melukai bibirnya. Kepalanya kembali terasa berat dan matanya berkunang.

“Maaf…” ia mendengar bisikan Ye Sung sebelum sesuatu yang tak disangkanya datang tak lama kemudian. Dia terkejut merasakan sesuatu yang tajam merobek kulit lehernya, setelah sebelumnya Ye Sung mengendusnya pelan.

So Eun berusaha berteriak menahan rasa sakit, namun walau ia membuka mulutnya lebar tak ada suara yang lolos darisana karena sepertinya Ye Sung sengaja meredamnya. Hingga kemudian satu-satunya hal yang bisa dilakukannya adalah meremas kuat rambut keemasan milik Ye Sung merasakan darahnya dihisap kuat oleh mahluk itu. Tak cukup satu menit Ye Sung berhenti, mengalihkan pandangannya dari So Eun walau gadis itu sempat melihat mata Ye Sung berubah menjadi sewarna darah.

“Belum cukup, Tuan muda. Anda harus menghisap lebih banyak lagi untuk menyeimbangkan penyatuan dari kedua darah itu.”

Ye Sung menutupi kedua matanya lagi ketika lagi-lagi kekasihnya itu mendekati lehernya. Rasa sakit yang sama kembali dirasakannya sehingga membuatnya meremas kuat tangan Ye Sung tadi. Suaranya masih tertahan keluar.

“Belum cukup, Yang mulia…” seruan sang tabib kembali terdengar begitu Ye Sung berhenti menghisap darahnya tak lama. Kali ini ia dapat mendengarkan erangan dari sang raja vampire, sebelum tak lama sesuatu yang tajam kembali menyentuh bekas luka yang masih mengangga. Tak lama kemudian lengan yang tadi menutupi matanya kembali disingkirkan oleh Ye Sung, kedua lengan itu beralih meraih pinggang So Eun untuk lebih mendekat. “Lagi, Yang Mulia. Sedikit lagi.”

So Eun sudah kesusahan merasakan situasi di sekitarnya ketika pandangannya yang berkunang kini mulai terasa hitam. Dilarikannya kembali jemarinya menyentuh helaian rambut keemasan Ye Sung, meremasnya erat ketika rasa sakitnya menjadi sangat tak bias ditahan walau ditengah kesadarannya yang menipis. Dia juga dapat merasakan Ye Sung mulai lebih kuat menghisap sisa darahnya di dalam sana, bersama dengan cengkaraman tangan sang raja vampire yang kini lebih menguat dari sebelumnya.

“Cukup! Cukup, Yang mulia!” Dia kembali mendengar teriakan sang tabib yang kini terdengar panik. Namun yang ada kini Ye Sung tidak mau melepasnya, mahluk itu malah semakin lahap berusaha menghisap sisa darahnya di dalam sana. “Cukup, Yang mulia, kalau dilanjutkan beliau bias terbunuh…”

Ye Sung mengerang di lehernya, begitu mahluk itu  terus mengabaikan panggilan sang tabib begitu ia malah terus berusaha menyedot habis darah manusia di dalam pelukannya. Adalah rahasia umum bagi kaum vampire bahwa sebenarnya nikmatnya darah manusia tak pernah bisa terganti oleh apapun di dunia ini, bias dikatakan kalau sebenarnya mereka hanya berusaha menahan diri ketika kini terbiasa menghisap energi manusia untuk menggantikannya. Tidak heran kalau sang raja yang sering menggalakkan peraturan baru ini bisa hilang kendali seperti ini.

“YANG MULIA!!!” Suara tabib yang kini bersahutan dengan lolongan keras ratusan vampire di belakangnya tiba-tiba membuat So Eun tersadar dan membuka mata. Sekuat tenaga ia berusaha membuka mulutnya memanggil nama Ye Sung namun nyatanya kembali sia-sia.

‘Ye… Sung….’ Ia memanggil di dalam hati, berharap mahluk itu bias mendengarnya. Jemarinya kembali meremas kuat rambut keemasan pria itu. ‘Ye… Sung…’

Ini terasa begitu mencekam seakan kini dirinya bisa melihat kematian. Tubuhnya juga mulai benar-benar kehabisan tenaga, sehingga mulai sulit baginya mempertahankan pegangannya pada mahluk itu. Dia hanya cukup bersyukur karena lolongan para vampire masih mampu membuatnya mempertahankan sisa kesadarannya.

‘Tuanku…’

Itu adalah hal terakhir yang bisa dipikirkannya, namun berhasil membuat Ye Sung tiba-tiba berhenti. Dia bahkan hamper tersungkur ke tanah begitu Ye Sung nyaris melepasnya akibat tersentak.

“So Eun?” dia benar-benar tak bisa melihat apapun lagi selain kegelapan yang kian menelannya. Hal yang terakhir yang bisa dicernanya adalah dekapan Ye Sung yang kembali memanggil namanya. “So Eun?”

“Mohon keluar dari sana, Yang mulia, kita tidak punya cukup waktu…”sang raja hanya mampu terpaku ketika beberapa orang menariknya keluar dari lingkaran bintang. Matanya sedikit berkabut menatap tubuh dengan gaun putih diselimuti darah segara itu terbaring seakan tanpa nyawa di tanah yang lembab.

Sang tabib tampak meraih sebuah obor yang terletak tak jauh dari tempatnya berdiri, lalu kemudian mendekati salah satu ujung lingkaran luar dan menyulut api pada garis-garis putih tadi, tak lama api itu menjalar memenuhi setiap garis lingkaran bintang mengurung So Eun di dalamnya.

Sementara Ye Sung tampak berlutut di tanah sambil terus menatap So Eun yang dikelilingi oleh api. Tangannya tampak bergetar begitu menghapus sisa darah yang lengket di bibirnya ataupun menodai pakaiannya.

I’ve been looking sad in all the nicest places
I see you around in all these empty faces.”

Di pertengahan musim semi di sebuah tahun…

Pria berkacamata itu tampak berjalan menaiki sebuah bukit dimana bunga lavender memenuhi sejauh mata memandang. Di tangannya tampak beberapa tangkai bunga berwarna ungu itu yang terlihat masih segar. Senyuman kecil terlihat di wajah itu, ketika ia terus membawa langkahnya semakin menaiki bukit.

Hingga langkahnya kemudian  terbawa menuju dua buah pohon pinus yang berdiri seakan membentuk gerbang. Sekali dirinya melewatinya, tubuhnya secara ajaib menghilang dan tak terlihat di sisi pohon lainnya. Angin-angin sekilas bertiup lebih kuat, seakan ikut terpesona dengan hal yang baru saja terjadi.

Di sebuah tempat yang memiliki latar yang sama namun malah dihantui oleh malam yang gelap kini menyambut pria misterius tadi. Pria itu kini tampak berjalan mendekati sebuah lapangan yang diukir membentuk sebuah bintang dilingkupi oleh dua lingkaran besar yang diukir oleh api berwarna biru. Sekilas, kalau pandanganmu masih jernih dari jarak sejauh ini, di tengah bintang itu terlihat seorang gadis bergaun putih yang terbaring di tanah. Gaun itu tak sepenuhnya putih, karena terlihat ada bercak-bercak noda merah yang menodainya bersama dengan cairan lainnya yang berwarna biru pekat. Dilihat dari bentuknya gaun itu terlihat telah usang.

Pria tadi tampak tersenyum kecil, berlutut untuk meletakkan bunga di tangannya di atas kumpulan bunga lavender yang terletak di sebuah batu. Pria itu kemudian sedikit mundur dan duduk bersimpuh menghadap lingkaran tadi.

“So Eun, aku datang lagi… Apa masih kau belum mau bangun?” Hal ajaib tiba-tiba kembali ketika pakaian casual di tubuhnya berganti dengan sebuah jubah berwarna hitam kelam. Rambutnya yang awalnya berwarna hitam pekat kini berganti menjadi keemasan, terlihat tertiup oleh angin yang tadi melewati dirinya ketika pakaiannya berganti dalam sekejap mata. Pria itu kini duduk dalam posisi bertapa, memejamkan matanya dengan bibir yang bergerak samar seperti membaca mantera.

‘So Eun?’

Hati berbisik dalam keheningan. Sementara matanya terus terpejam menghadap lingkaran bintang yang apinya tampak lebih berwarna terang menyilaukan mata.

‘So Eun, apa kau dapat mendengarku?’

‘So Eun?’

‘So Eun?’

‘Putri Lee Ga Eul?’

Menyerah. Mata segelap malam itu kembali terbuka dan api di depannya kembali terlihat tenang dan bercahaya biru. Tatapan mata itu sejenak berubah menjadi sendu. “Semua salahku. Seharusnya dulu aku bisa lebih kuat menahan diriku sendiri. Kalau saja aku lebih pintar maka kejadiannya tidak akan seperti ini,” pria itu berbisik dengan raut penyesalan. Air matanya jatuh berlinang memasahi tanah yang lembab.

 

‘Lavender?’

Ia mengangkat wajah begitu telinganya menangkap gumaman pelan dari suara yang sangat dikenalnya. Matanya membesar menatap tubuh itu yang masih bergeming terbaring di tanah.

‘Aku dimana? Apa yang terjadi?”

‘So Eun?’ dia bergumam tanpa sadar, reflek bangkit dari tempatnya duduk.

‘Huh… ada suara yang memanggilku? Suaranya seperti suara… Ye Sung?’

‘So Eun, buka matamu!’

Tepat ketika kedua mata itu terbuka, api yang mengikuti garis lingkaran bintang itu padam seluruhnya. Sementara itu Ye Sung tampak bergerak dari tempatnya, berlari melewati garis-garis itu menuju bagian segi lima di tengah perut pola yang berbentuk bintang. Tangannya langsung meraih tubuh bergaun putih yang enggan bergeming itu.

“So Eun, apa kau bisa mendengarku…” Ye Sung berbisik sambil menatap kedua mata So Eun yang terbuka dengan sangat sayu. Disentuhnya pipi, berusaha mendapatkan lebih banyak reaksi darinya yang pasif. “So Eun, lihat aku…”

Ujung jempol Ye Sung menyentuh sesuatu yang tajam, membuatnya terdiam sambil melirik dua benda keras yang terselip di antara dua bibir tipis itu. Irisnya kemudian beralih menatap mata yang masih setengah tertutup tadi, menemukan bola mata berwarna merah pekat disembunyikan oleh kelopak dan bulu mata nan lentik itu.

‘Jadi cara ini benar-benar berhasil?’

“Apa maksudmu?” bibir tipis itu bergerak, dan mata itu lebih terbuka menatap Ye Sung. Sementara Ye Sung tak mampu menyembunyikan senyum bahagianya sambil menarik gadis itu ke dalam pelukannya.

“Terima kasih karena mau bertahan sampai akhir, So Eun…”

“Apa? Aku sudah tertidur 200 lamanya? Bagaimana mungkin!!” suara teriakan itu terdengar menembus dinding kaca sebuah benda berbentuk oval yang perlahan terbang meninggalkan bukit lavender tadi. Di dalamnya terlihat sepasang kekasih tadi telah duduk bersama di ruangan yang dipenuhi oleh tatanan furniture yang mahal dan canggih, keduanya memandang keluar dimana langit terlihat lebih cerah dari biasanya.

“Tapi nyatanya memang itulah yang terjadi. Seperti yang kaulihat, semuanya telah berubah…”

So Eun kali ini tak menyahut ketika matanya sibuk memandang beberapa benda aneh berbentuk sama yang juga melintas di langit dan mereka lalui. Memang benar semuanya terlihat berbeda, bahkan tatanan kota yang terlihat jelas pemandangannya dari sini juga terlihat berubah dari segi struktur bangunannya. Semua ini terasa aneh namun juga menakjubkan di saat bersamaan, seakan kini dirinya sedang berada di negeri…

Doraemon…” Ye Sung bergumam seperti mampu membaca pikirannya. “Ya, memang itulah yang menjadi inspirasinya. Kau ingat ketika kita pertama kali bertemu kau pernah membandingkan kekuatanku dengan Doraemon? Oleh sebab itu, sambil menunggu kauterbangun aku membangun kota ini menjadi seperti khayalan di cerita animasi itu. Bahkan kini hampir seluruh dunia juga menerapkannya. Aku ingin ketika kauterbangun kau merasa takjub dan bahagia, dan melihat reaksimu sepertinya aku berhasil…”

So Eun kembali tak mampu mengatakan apapun akibat kebingungan yang dirasakannya namun ujung bibirnya tertarik membentuk senyuman. Hatinya terasa menghangat karena ucapan itu. Huh, tunggu, hati? Bukankah dia sudah berubah menjadi vampire apa sekarang dirinya masih mempunyai hati?

“Untungnya, ya, kau masih memilikinya dan itu berfungsi dengan baik…” Ye Sung kembali tersenyum setelah membaca pikirannya. Jemari pria itu lalu meraih tangannya. “Kau tahu? Hal itu adalah hal kedua yang kucemaskan selain rasa takut kau tidak akan pernah kembali bangun. Aku takut bahwa nanti kau akan ikut berubah seperti wujudmu. Tapi aku bersyukur karena hal itu tidak terjadi, karena sepertinya walau jantung hatimu sudah tak lagi berdetak seperti manusia normal namun kau masih memiliki kasih sayang seorang manusia di dalam dirimu. Sesuatu yang tidak dimiliki oleh vampire kebanyakan.”

So Eun ikut tersenyum bahagia atas fakta itu. Sepertinya ucapan Ye Sung itu benar, karena walau dia tetap merasa masih aneh dengan kondisi tubuhnya yang sekarang namun dia tetap bisa mengingat segala hal terkait perasaannya pada Ye Sung. Dia bahkan mengingat setiap kenangannya dengan Ye Sung dua ratus tahun yang lalu atau bahkan di kehidupan sebelumnya yaitu enam ratus tahun yang lalu. Rasa bahagianya begitu melihat Ye Sung tadi juga masih sama dengan saat dulu Ye Sung kembali padanya setelah tidak ada khabar selama beberapa bulan akibat pertempuran besarnya dulu. Mungkin benar yang berubah hanyalah fisiknya saja, dan sejujurnya dia sangat berterima kasih akan hal itu.

Ini adalah saat yang ditunggunya. Walau lagi-lagi mereka harus mendapatkannya setelah menunggu ratusan tahun lamanya maka kini akhirnya mereka dapat hidup bersama tanpa harus memikirkan tentang perbedaan lagi. Pada suatu hari nanti pasti akan ada dampak buruk yang mengejar mereka akibat keputusan ini, namun sejujurnya dia sudah tidak mempedulikan hal itu asalkan dirinya diijinkan untuk mendapatkan kebahagiaannya yang sekarang.

Lamunannya terhenti ketika Ye Sung kembali merangkul bahunya. Pria itu tersenyum padanya sambil melayangkan pandangannya menuju kota yang kian dekat jaraknya dengan mereka berdua. So Eun tampak ikut tersenyum, mengusap pelan jemari Ye Sung di bahunya.

Ye Sung mungkin telah kehilangan kata keabadian dalam hidupnya dan dirinya juga telah kehilangan kehidupannya di masa lalu agar mereka bersama. Namun walau begitu dirinya yakin mereka berdua diciptakan untuk menikmati saat sekarang. Nantinya, walaupun semuanya tidak akan mudah dengan segala rintangan yang siap menghadang, namun dirinya yakin keduanya tidak akan pernah menyesal. Karena dia percaya bahwa memang itulah alasan mengapa dulu mereka diciptakan lalu dipertemukan.

“I don’t wanna live forever
Cause I know I’ll be living in vain
And I don’t wanna fit wherever I just wanna keep calling your name.”

❤ THE END ❤

FF ini adalah bentuk repost dari grup FF karena sekitar dua bulan lalu pas mau diposting blog ini tiba-tiba bermasalah. Akhirnya setelah otak-atik sana-sini blog ini kembali ‘pulih’ jadi FFnya dimuat ulang disini ^^

Sebenarnya FF ini rencananya diposting buat anniv blog ke-6 di tanggal 3 Februari lalu dan sebenarnya FF ini ada 4 rangkaian dengan 3 pairing lainnya, tapi pada akhirnya semua itu gak kesampaian karena aku sibuk dengan kehidupanku dan gak bisa nyelesain niat itu – FF ini aja baru jadi kemarin padahal udah dibikin sejak pertengahan januari.

Yup, itu dulu, yang penting aku bersyukur karena masih bisa aktif di blog ini hingga usia ke-6 tahun walaupun daya tulis ataupun minat pembaca udah mulai berkurang dari tahun-tahun sebelumnya. Aku berterima kasih pada setiap pembaca yang udah move on dengan hidupnya yang sekarang ataupun mereka yang masih setia bolak-balik membaca karyaku dikala waktu senggang kesibukannya. Semoga semuanya menjadi orang sukses di masa depan hohoho…

Sekali lagi, Terima kasih karena telah membaca ^^

Iklan

3 Comments Add yours

  1. renitacindy berkata:

    yeayyy akhirnyaa web kakak kembalii😁 , tiap hari nih buka blog kakak buat baca ff yesso couple yang nggak buat bosen 😂

    di tunggu ya kak update ff nyaa

    semangat kak💪

  2. Anna berkata:

    Akhrny bs dipost diwp jg,,suka dgn tema,alur&story yesso diff ini,,akhrny yesso mnjln khdpn mrk sbgi vampire yg takkn trpisahkan,,sk stiap adgny smpai mmbygkn sprt mlht film,,good job putri gomawo

  3. Hesti berkata:

    Kak gimana caranya dapat pasword untuk ff yang di kasih pasword

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s