~ [Series] PLAY Part 1; The Lucky Ones ~


Play Part 1

Title       :               PLAY Part 1 – The Lucky Ones

Author  :               PrincessClouds/ @toyoumymuse

Length  :               Short Chaptered

Genre   :               Romance, Fantasy, Friendship

Rated    :               PG-15

Main     :               Kim So Eun – Ye Sung – Lee Dong Hae – Cho Kyu Hyun – Eun Hyuk

Minor   :               Lee Sun Kyu

Summary:           “What I want in the end becomes really simple. Wealth and honor and movies are fine. Nice clothes and a fancy car too.”

Warning:             Typo(s)

*Play*

“Ada empat orang pria?”

“Huh?” So Eun mengangkat wajahnya, melirik tak yakin pada wanita paruh baya yang saat ini sedang duduk di hadapannya. Kaki beliau terluka, dan sejak beberapa menit yang lalu So Eun berusaha membantu mengobatinya, namun si nenek tiba-tiba malah menggumamkan kalimat random yang tidak terlalu jelas di telinganya.

“Mereka akan memberikan perhatian padamu, serta memberi warna pada hidupmu yang suram,” wanita itu terlihat sama sekali tak peduli. Beliau malah terus melanjutkan ucapan yang sama sekali tak dipahami So Eun. “Ini adalah imbalan yang pantas bagi seorang gadis yatim piatu namun berhati baik seperti dirimu.”

So Eun mengernyitkan dahi, sedikit cemberut berusaha menangkap maksudnya. Di dalam hati dirinya mulai khawatir kalau kecelakaan yang tadi menimpa si nenek tidak hanya melukai kakinya tapi berdampak kepada kepalanya, karena dirinya sama sekali tidak paham ucapan random si nenek.

“Yang pertama – Ye Sung. Sahabatmu yang mengerti segala hal mengenai dirimu. Kehadirannya berguna untuk menyentuh sisi teraman di dalam dirimu. Dia adalah imbalan atas segala kebaikanmu selama ini serta akan melindungi dan memahamimu…”

So Eun garuk-garuk kepala, mulai cemas kalau si nenek benar-benar mengalami dampak cukup parah akibat benturan tadi.

“Yang kedua – Lee Dong Hae. Cinta pertama serta dambaan di dalam hidupmu. Dia akan mengajari banyak hal terhadapmu. Dia akan menyentuh sisi sensitif di dalam dirimu, memberikan berbagai macam emosi di dalam kehidupanmu.”

“Ng, nek, nenek yakin kepalanya tidak tidak apa-apa? Bagaimana kalau kita pergi ke rumah sakit?” So Eun bertanya dengan hati-hati.

“Yang ketiga – Cho Kyu Hyun. Seseorang yang akan menguji sisi nuranimu. Dia akan membuktikan sejauh mana kau tetap mempertahankan karakter baik hati yang selama ini kau sandang. Dia akan bermain-main dengan kesabaran serta karaktermu.”

So Eun mulai kehabisan cara untuk mencoba. Kini hanya memandang si nenek berharap beliau segera berhenti bicara yang tidak-tidak, karena kalau tidak dalam beberapa menit lagi So Eun mungkin akan segera menelpon ambulan.

“Yang terakhir, keempat – Eun Hyuk. Dia akan menguji sisi liar di dalam dirimu yang selama ini selalu tersimpan jauh di lubuk hatimu yang terdalam. Dia mungkin akan mengajakmu ke dunia baru yang selama ini tak pernah terbayangkan olehmu.”

Cukup. So Eun mulai hilang kesabaran. Dia berusaha memeriksa ponselnya di balik seragam kerja yang dikenakannya, hanya untuk merasa kecewa begitu menyadari kalau benda itu tertinggal di belakang meja kasir. Sepertinya dia harus meninggalkan si nenek sesaat untuk mengambilnya.

“Kau akan diberi waktu selama empat hari,” Si nenek tiba-tiba meraih pergelangan tangannya begitu So Eun berniat untuk beranjak. Menatap gadis itu dengan ekspresi serius dan nada bicara penuh penekanan, “Sebelum kau kembali menjalani hidupmu yang menyedihkan dan malang.”

“Apa maksud nenek?” tanya So Eun mulai merasa ngeri. Jujur saja setiap ucapan dan sikap si nenek sukses membuatnya sedikit resah, ucapan itu terasa aneh namun entah mengapa seakan mengancam keberadaannya.

“Tapi kalau kau berutung kau mungkin bisa memiliki salah satunya di bagian akhir. Kau bisa menjadi pemenang kalau kau pandai bermain. Camkan itu…”

So Eun tak mengerti, namun dirinya tiba-tiba merasa cemas.

“So Eun? Hey, bangunlah…” Suara itu terdengar samar-samar di telinganya, menganggu tidur lelapnya. “Hey, bukankah kau harus pergi bekerja? Bangunlah sebelum aku menceburkanmu ke bak mandi.”

Siapa? Rasanya suara ini tak pernah didengarnya namun di saat bersamaan juga terdengar tak asing. Juga darimana datangnya seorang pria di tempat ini? Karena seingatnya dia selalu hidup sendirian. Atau jangan-jangan…

“Akhirnya kau bangun,” seorang pria tiba-tiba berada di hadapannya. Berpangku tangan sambil terkekeh kecil menatap ekspresinya yang mungkin terlihat aneh saat ini – terbelalak dan dengan mulut sedikit menganga.

“K-Kau siapa?” tanya So Eun di tengah rasa kagetnya. Tiba-tiba teringat kalau dirinya selalu tertidur dengan balutan tank top dan celana pendek, sehingga dengan reflek dia menutupinya dengan selimut di tangannya. “Kenapa masuk kamar wanita seenaknya?!” teriaknya panik.

“Wanita apanya? Kau juga tak punya apapun untuk dilihat,” ia mengangkat bahu tak peduli. Seberapa kesalpun So Eun mendengar kalimat itu tapi tetap saja dirinya tak mampu mengatakan apapun, ia hanya menatap pria di depannya tanpa berkedip seakan berharap pria berambut keemasan itu akan menghilang dari hadapannya. Namun tidak, dia masih disana, kali ini bergeser mendekat dan meraih bahunya walau berusaha keras mencondongkan tubuhnya ke belakang. “Segeralah mandi. Aku sudah menyiapkan sarapan untukmu,” kata pria asing itu sambil tersenyum kecil. Ia menepuk pundak So Eun sebelum melenggang keluar dari kamar itu. Meninggalkan So Eun yang masih kehabisan kata-kata di tempat.

“Apa yang terjadi?” tanyanya bingung.

So Eun keluar dengan takut-takut dari kamarnya. Ia belum mandi, bagaimana bisa dirinya mandi setelah mendapati ada orang asing yang kini sibuk memasak di dapurnya. Belum lagi karena dirinya merasa kesal pada dirinya sendiri karena tak mampu melakukan apa-apa.

Masalahnya pikiran aneh tiba-tiba saja terlintas di benaknya. Nama – Ye Sung, usia –  sebaya dengannya, dugaan identitas – sahabatnya sejak kecil yang sama-sama besar di panti asuhan; memori baru itu tiba-tiba saja ada di otaknya. Dia bahkan seperti memiliki banyak ingatan baru dengan orang aneh itu yang dia bersumpah tidak pernah ada sebelumnya. So Eun bahkan bisa tahu tanggal lahir, warna kesukaan, hobi, atau bahkan hal-hal detail seperti mengapa dirinya tidak punya marga dan hanya dipanggil Ye Sung sebelum ditinggal di panti asuhan beberapa tahun yang lalu. Bukankah itu gila?

Lalu ucapan Nenek aneh yang ditolongnya kemarin juga tiba-tiba datang kembali. Kalau tidak salah memang nama itulah yang pertama disebutkan si nenek padanya – Ye Sung. Penjelasannya juga sama. Rasa-rasanya sangat sama.

“Tidak mungkin,” So Eun menggeleng cepat, berusaha mengusir pikiran aneh itu dari otaknya.

“Apanya yang tidak mungkin?” sapaan itu berhasil mengagetkannya, membuatnya melirik kembali pada pemuda aneh itu yang kini berdiri di depan meja makan. Demi tuhan, So Eun tak mau mengakuinya tapi orang ini cukup tampan. Semua hal mengenai wajahnya terlihat berada di tempatnya. Rambut keemasan yang terlihat seperti akan terasa halus dan lembut ketika dipegang semakin membuat hal itu sempurna. Tubuhnya tidak terlihat terlalu tinggi ataupun pendek namun seperti akan menjadi perpaduan menarik kalau berjalan beriringan dengannya. Sumpah, kalau saja dulu memang ada anak seperti ini tumbuh di panti asuhan yang sama dengannya mungkin So Eun bisa hidup dengan bahagia di sana selama bertahun-tahun.

“Kau melamun lagi? Apa yang kaupikirkan?” tanya pemuda itu mulai bosan.

So Eun tampak ragu-ragu, menggigit bibir bawahnya pelan. “Hm… Ye… Ye Sung?” gumamnya ragu. Mencoba memastikan.

“Ya. Kenapa?” pemuda itu menyahut dengan suara lembut, penuh perhatian.

So Eun berpegangan pada sudut dinding di belakangnya. Bersadar pelan disana. Berusaha menenangkan pikirannya yang tiba-tiba terasa kacau dan membingungkan. Tidak. Tidak mungkin. Apa yang sebenarnya terjadi.

“Kau kenapa? Apa kau sakit?” pemuda itu bergerak mendekat padanya dengan raut wajah panik. So Eun sedikit kebingungan, berusaha menghindar, namun begitu pemuda itu menyentuh dahinya dan menatapnya penuh perhatian tiba-tiba langkahnya kembali tertahan. Terpana tanpa kata menatap wajah itu. “Kenapa? Kau pasti masih kaget karena kehadiranku yang tiba-tiba. Jangan takut, aku sama sekali tidak berniat jahat. Nenek tua itu juga tidak melakukannya untuk membahayakanmu.”

“Kau…” So Eun menatap pemuda itu kaget begitu mendengar ucapannya. Sementara Ye Sung tersenyum.

“Ya. Ini bukan mimpi. Ucapan nenek itu juga bukan sebuah omong kosong. Aku memang hadir di sini untuk menemanimu,” So Eun sadar begitu kini Ye Sung membawanya mendekat ke meja makan. Ia hanya menurut begitu pemuda itu menuntunnya agar duduk di salah satu bangku.

Apakah ini nyata? Karena kemungkinan kalau semua ini hanya halusinasinya memang benar-benar terasa mustahil. Dia bahkan telah mencubit lengannya beberapa kali namun hasilnya masih sama. Kalau diingatnya kembali setiap ucapan si nenek kemarin yang sebelumnya diabaikannya semuanya memang sama sekali tidak akan berdampak buruk padanya. Buktinya orang ini, Ye Sung, walau hanya beberapa menit sejak So Eun melihatnya sejujurnya dirinya menyukai kehadiran pemuda itu di sekitarnya. Dia merasa aman dan terlindungi.

“Sudahlah. Tidak usah terlalu dipikirkan. Pokoknya semuanya akan baik-baik saja, aku pastikan itu, karena aku memang bertugas untuk memberi rasa aman padamu. Sekarang sebaiknya kau makan,” kata pemuda itu terkekeh sambil mengacak kepala So Eun. Pemuda itu bergeser menarik tempat duduk di seberang sehingga kini duduk berhadapan.”Hari ini aku sengaja membuatkan makanan kesukaanmu. Walaupun mungkin tidak seenak buatan Ibu Yoon di panti tapi aku yakin kau akan menyukainya…” ucap pemuda itu sambil kini sibuk mengisi makanan ke dalam piring yang diulurkan pada So Eun setelahnya.  Ia bahkan dengan baik hati mengambilkan sendok dan garfu untuk So Eun.

“Kau benar-benar tahu makanan kesukaanku…” gumamnya masih belum terbiasa. Menatap piring di depannya seakan-akan itu bukan hal yang nyata.

“Bukannya kau juga tahu makanan kesukaanku?”

Samgyetang?” So Eun mengucapkannya tanpa sadar, namun merasa puas begitu Ye Sung tersenyum dan mengangguk.

“Suatu hari kau harus mengajakku makan itu di restoran favorit kita,” ucapnya sambil memasukkan sesedok penuh sup bercampur nasi ke dalam mulutnya. Lagi-lagi memberikan senyuman usil pada So Eun.

Ini terasa tak nyata. Biasanya So Eun hanya sendirian di meja makan ini tanpa ada satu orang pun yang menemani, tanpa ada tawa seperti ini. Namun kehadiran Ye Sung kini berhasil membuat hatinya menghangat, senyuman itu sungguh membuatnya bahagia. Dia tak pernah merasa sebahagia ini hanya untuk alasan yang sederhana begini sebelumnya. Ini semua benar-benar terasa seperti keajaiban dan tetap terasa tak nyata.

“Tch, kenapa kau menangis lagi hanya karena hal sepele seperti ini? Kau tidak pernah berubah dari dulu, masih tetap saja cengeng tch tch,” Ye Sung mencibirnya sambil geleng-geleng kepala.

“Siapa bilang kalau aku cengeng,” So Eun menyeka wajahnya cepat, melirik pemuda itu dengan sedikit protes. “Omong-omong walau bagaimanapun kau tak seharusnya memasuki kamar perempuan seenaknya seperti tadi. Aku tak suka. Lain kali jangan ulangi,” omelnya sambil menunjuk pemuda itu dengan sendok di tangannya.

“Berhentilah berlebihan. Toh, tak ada yang bisa dilihat juga…”

“Apa maksudmu?!” protesnya cepat. Tak terima.

“Kenapa kau tiba-tiba sok malu begini? Padahal sewaktu kecil kita sering mandi bersama.”

“Apa?!”

So Eun menghentikan pekerjaannya. Gadis itu kini bersandar di dinding terdekat sambil menimang-nimang buku di tangannya. Tampak larut dalam pikirannya.

Sepanjang hari walau bertekad untuk menerima kehadiran Ye Sung ataupun ucapan nenek misterius itu namun tetap saja semua tidak dapat dipahaminya. Masalahnya semua ini benar-benar seperti mengubah banyak hal di dalam hidupnya, bahkan memorinya. Semua ini terus membuatnya bertanya-tanya dan penasaran dengan apa yang akan terjadi pada hidupnya ini setelahnya.

“So Eun, tolong ambilkan buku nomor 3628 di rak G7!” seruan rekan kerjanya mengagetkan So Eun dari lamunannya. Gadis itu beranjak dari tempatnya. “Ya.”

So Eun memiliki dua pekerjaan paruh waktu. Pada pagi hari gadis itu akan bekerja di sebuah toko buku yang terletak di pusat kota lalu pada sore hingga malam bekerja di sebuah kafe yang terletak tak jauh dari apartemennya. Walaupun tidak menghasilkan banyak uang namun semua itu mampu menopang kehidupannya yang sebatang kara. Dua pekerjaan inilah yang diyakininya akan mampu mewujukan keinginannya untuk memiliki toko roti sendiri. Walaupun targetnya itu masih jauh namun So Eun masih terus berusaha mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya hingga semua itu tercapai.

Toko buku ini adalah yang terbesar di seluruh kota. Isinya luas, karena ada ribuan buku dari semua jenis yang terdapat di sana. Selain itu raknya tinggi-tinggi, sehingga kadang menyulitkan bagi gadis bertubuh kecil sepertinya kalau harus mengatur buku-buku yang terletak di atas jangkauannya. Seperti sekarang ini.

So Eun mendorong sebuah tangka yang memang sudah disiapkan di sana begitu menemukan buku yang dimaksud. Gadis itu secara perlahan mulai meniti anak tangga pertama, berusaha berhati-hati, namun dia merasa sedikit gugup karena sejak tadi kakinya terasa sakit. Sebelum sampai ke tempat ini tadi dia sempat terjatuh di jalan akibat terlalu sibuk memikirkan apa yang terjadi padanya pagi ini.

“Awas kau bisa jatuh,” seseorang memperingatkannya. Menahan punggungnya agar tetap menjaga keseimbangan. So Eun melirik urnitu suara.

“Lee Dong Hae…” So Eun bersumpah otaknya tak pernah menyimpan nama itu sekalipun, namun bibirnya tiba-tiba saja terucap begitu menangkap sosok itu. So Eun hanya bisa terpana begitu melihat senyuman lembut yang diberikan pemuda itu mendengar namanya.

“Aku senang kau mengetahui namaku. Turunlah, aku akan membantumu mengambilkannya.”

So Eun tak paham mantra apa yang dimiliki pria itu namun dia mengikutinya. Matanya seperti terprogram untuk mengikuti setiap pergerakan pemuda itu. Dia tak bisa melepaskan pandangan sedikitpun, bahkan tanpa alasan yang bisa dijelaskan kehadirannya saja sudah berhasil membuat jantungnya berdetak hebat. Sensasinya sulit dijelaskan dengan kata-kata.

“Kau tidak seharusnya pergi bekerja, apalagi melakukan hal-hal berbahaya begini dengan keadaanmu sekarang,” Donghae melirik beberapa gores dan ruam yang tertinggal di kedua kakinya. Untuk pertama kalinya So Eun merasa malu menunjukkannya pada seseorang, dia merasa tak ingin kalau pria itu melihat bagian cacat sedikit saja dari tubuhnya. Dia hanya ingin menunjukkan yang baik-baik saja. “Kau harus diobati.”

“A-Aku tidak apa-apa. Aku baik-baik saja…”

Dong Hae mengabaikan ucapannya. Pemuda itu tampak sibuk memeriksa sekitar seakan berusaha mencari sesuatu. Hingga tak lama kemudian dia beranjak menuju seorang pria yang baru saja keluar dari ruangan staf. Manager Jung, atasan So Eun.

“Permisi. Saya ingin mengajukan keluhan,” ucap pemuda itu, berhasil membuat beberapa pasang mata tertuju padanya. Sementara So Eun bergerak mendekat. “Salah satu karyawan Anda terlihat sedikit cedera. Sepertinya dia dalam keadaan tidak bisa bekerja saat ini, sehingga aku ingin dia diberi waktu untuk beristirahat.”

“Apa yang kaulakukan…” bisik So Eun sedikit gugup. Namun sebagian lain dari dirinya sedikit merasa tersanjung, pemuda itu terlihat begitu memperhatikannya.

So Eun melirik Manager Jung yang tampak masih belum mengatakan apa-apa. Pria yang terkenal sedikit galak itu memperhatikan So Eun dari atas ke bawah. Perhatiannya tertuju di kedua kaki So Eun yang memang terlihat sedikit berdampak dari kelalaiannya tadi.

“Kakimu memang sepertinya perlu diobati, So Eun. Pergilah ke dokter,” kata pria itu tak lama.

So Eun terlihat sedikit tak percaya, namun dia merasa senang. Dia melirik Dong Hae yang kini juga balas menatapnya. Tersenyum padanya. Membuat hati So Eun kembali merasa berdebar karenanya.

Apa begini yang dinamakan jatuh cinta? Aku tak pernah mengalaminya sebelumnya.

Dong Hae membawanya ke sebuah klinik di dekat toko buku untuk mengobati luka di kakinya. Setelah itu pria itu membawanya ke suatu tempat dengan mobil mewah yang dikendarainya. So Eun dapat merasakan berbagai perasaan asing dirasakannya secara bergantian. Perasaan senang, gugup, khawatir – semua itu dapat dirasakannya ketika berada di sekitar Dong Hae.

Hingga setelah mengemudi selama beberapa menit mereka berhenti di depan sebuah rumah yang letaknya sedikit jauh dari pusat kota. So Eun kembali merasakan emosi yang baru – takjub, begitu melihat hunian yang disebut Dong Hae sebagai tempat tinggalnya itu. Bentuknya tidak terlalu besar atau mewah, namun adanya sebuah halaman yang luas dengan berbagai tanaman berwarna-warni yang menghiasinya benar-benar membuat So Eun betah, belum lagi segala urniture dan struktur lainnya dari bangunan itu.

“Kau menyukainya? Kau bilang kalau kau ingin tinggal di rumah seperti ini dengan pasanganmu di masa depan.”

So Eun hanya dapat menatap pemuda itu canggung. Kehabisan kata-kata. Memang, ucapan Dong Hae benar. Dia memang selalu menginginkan hunian seperti ini di dalam dalam hidupnya. Tapi bagaimana pemuda itu mengetahuinya? Mereka bahkan belum berbicara banyak sejak pertemuan tadi.

“Tentu saja aku tahu. Aku adalah pangeran impianmu. Seseorang yang memang bertugas untuk mewujudkan keinginanmu,” Dong Hae tersenyum, meraih tangan So Eun dan menggenggamnya. “Masih banyak lagi hal yang ingin kutunjukkan padamu, jadi jangan terlalu gugup…”

Dong Hae bilang jangan gugup, namun sejujurnya So Eun nyaris mati kutu hanya beberapa menit sejak dirinya memasuki rumah itu. Saat ini ia duduk di depan sebuah meja di beranda belakang kediaman Dong Hae – meja dan kursi ini terbuat dari kayu seperti hal yang disukainya. Segala hal di sekitarnya kini benar-benar membuatnya merasa tak pernah lebih nyaman sebelumnya, semuanya benar-benar sesuai dengan seleranya dan somehow sesuai dengan setiap angan yang sebelumnya hanya tersimpan apik di kepalanya. Belum lagi karena di sini ada Dong Hae, seorang pria asing yang entah kenapa terasa sudah begitu sangat dikenalnya. Seorang pria yang paling sering ditemuinya dalam setiap angan dan khayalannya itu.

“Kau suka teh hijau yang diseduh alami bukan? Aku sudah menyiapkannya,” pemuda itu duduk di hadapannya sambil membawa minuman. Ketika Dong Hae membuka tutup ceret untuk mengaduk cairan panas yang berada di dalamnya, So Eun langsung merasakan kenyamanan mencium aroma yang menguar dari sana. Aroma teh hijau yang begitu segar seakan baru dipetik beberapa menit yang lalu. Membuatnya merasa tenang dan bahagia.

“Berada di sini membuat hatiku merasa begitu tentram,” gumam So Eun sambil menerima cangkir yang diulurkan Dong Hae padanya. Tersenyum pada pria itu.

“Aku senang mendengarnya.”

Sempurna. Sejak tadi So Eun mencoba mencari kata lain yang bisa menggambarkan pemuda di depannya ini namun akhirnya dia menyerah karena memang itulah yang paling cocok dengannya. Dong Hae memiliki wajah yang bisa dikatakan sempurna dengan rambut hitam kecokelatan untuk melengkapinya. Selain itu karakternya, entah mengapa So Eun sangat menyukainya. Pria itu berhasil membuatnya terus tersenyum sejak tadi.

“Apa pekerjaanmu?” tanya So Eun berusaha memecahkan keheningan. Dia merasa canggung karena sejak tadi sibuk memandangi wajah Dong Hae walau tanpa sadar, sementara pemuda balas tersenyum menatapnya seakan memahami betul segala hal yang saat ini So Eun pikirkan. Sensasi ini begitu menyenangkan. Nuansa dan chemistry tanpa suara di antara mereka benar-benar seirama. Dia menyukai perasaan ini.

“Arsitek,” Dong Hae menyesap minumannya untuk pertama kalinya. Matanya kini beralih menatap ikan-ikan yang berenang di sebuah kolam yang terletak tak jauh dari tempat mereka duduk. “Bukankah kau pernah bilang kalau punya pacar seorang arsitek pasti akan menyenangkan? Kau bilang ingin merancang tempat tinggal bersama untuk ditinggali untuk selamanya.”

So Eun mengira pemuda ini tidak akan bisa membuatnya lebih merona lagi, namun nyatanya dia salah besar. Kalau saja ucapan meleleh itu memang benar adanya mungkin saat ini dirinya telah menguap karena terlalu sering merasa tersanjung oleh perlakuan pria itu.

“Hum, apa aku terlalu berlebihan? Apa aku membuatmu tak nyaman?” Dong Hae melirik padanya tiba-tiba, terlihat sedikit was-was.

“H-Huh? Tidak. Tidak sama sekali. Aku menyukainya…” So Eun memalingkan wajahnya yang memerah. Berusaha menyembunyikannya.

“Baguslah kalau begitu. Aku lega.” Dong Hae tersenyum. Pandangannya kembali beralih menuju kolam, kali ini menatap aliran air terjun mini yang mengalir di atasnya. Airnya terlihat jernih, suara alirannya juga menjadi music tersendiri bagi So Eun. “Tapi bukankah kau ingin memiliki toko kue sendiri? Kau sudah membayangkan design tempatnya? Aku mungkin bisa membantu merancangnya.”

“Oh, tentu saja. Hanya saja uangku masih belum cukup untuk mewujudkannya. Mungkin masih cukup lama sampai keinginanku itu terwujud,” ujarnya kembali tersenyum canggung.

“Walau begitu bukan berarti kita tidak bisa merancangnya sekarang. Siapa tahu itu akan semakin membuatmu bersemangat untuk mengumpulkan uang sehingga keinginanmu segera terwujud.”

“Kau benar,” So Eun mengangguk setuju. Memang tiba-tiba saja ada rasa semangat yang dirasakannya begitu mendengar ucapan Dong Hae. Dia juga mulai berangan-angan membayangkan seperti apa toko impiannya jika nanti dia berhasil mewujudkannya. “Apa kau benar-benar mau membantuku merancangnya?”

“Tentu saja. Aku mungkin memang tidak bisa selalu ada di sini untuk selamanya namun setidaknya aku bisa memberikan sesuatu untukmu.”

So Eun tiba-tiba teringat ucapan si nenek kalau semua ini hanya bersikap sementara dan akan menghilang beberapa hari lagi. Hal itu tiba-tiba saja membuatnya merasa sedih.

❤ To Be Continued ❤

Iklan

12 Comments Add yours

  1. Puspa Kyukyu berkata:

    Akhirnya ada karya baru lagi…

    Wuaaaa yg begini nih yg susah…
    Gak ketebak endingnya ntar nih~~
    Apapun itu yg terbaik aja buat Soeun..

    Kira2 ada brp part eon??

    Smoga Soeun menang dalam game yg kata nenek itu bilang~~

  2. Lucky Windiati13 berkata:

    anyoeong kak…
    say readers yg selalu menanti” karya kakak…
    akhirnya ada yg baru juga…
    saya sih pngnnya so eun sama donghae yah…

  3. Puspa Kyukyu berkata:

    Akhirnya ada karya baru lagi…

    Wuaaaa yg begini nih yg susah…
    Gak ketebak endingnya ntar nih~~
    Apapun itu yg terbaik aja buat Soeun..

    Kira2 ada brp part eon??

    Smoga Soeun menang dalam game yg kata nenek itu bilang~~

    Gak sabar baca part Kyu ma Soeun…

  4. Minmin_mizana berkata:

    Akhirnya baca ffmu lagi put, kangen banget baca ff soeun Suju 😁
    Aku masih bingung, kenapa soeun bingung pas ketemu Yesung padahal kata si nenek dia sahabat soeun, mungkin karena lama ga ketemu kali ya, dan yg kedua Donghae, kenapa soeun ga ngenalin cinta pertamanya? Jujur aku bertanya2…
    Penasaran gimana pertemuan soeun – Kyuhyun sama soeun-hyukjae, dan gimana endingnya…
    Semoga soeun dapet kebahagian salah satu dari mereka 😆

  5. Shane berkata:

    Play part1 : akhirnya puput lahiran lg setelah 1 thn lama nya hhhhe XD . Play 1 , the lucky ones . Nah sso dpt sedikit bocoran ttg hidupnya kedepan kt nenek misterius itu walopun dlm mimpi tp encung pun th ttg t nenek nah loo .. apapun ntu .. ntu petunjuk bgi sso malah sso ketularan ilmu ramal dr si nenek hhhhe XD … kt nenek ntu ada 4 pria yg akan nguntit soeun hhi ..pertama ada yesung sahabatnya sso trus ada hae cinta pertama sso yg ketiga aada kyu penguji sso akan kesabaran …setan kali ah hhhi memng dia iblis si yak hhh XD . Yg terakhir ada hyukie menguji sisi liar sso yg terpendam ..nahlo pas bgt deh keknya hhh XD . Sso ampe puyeng mikirin ocehn sang nenek ..dan tu nenek pasti namanya putriandina deh kkkkkkke :p #lol . Sso keknya hidup d dunia lain ni hhhhhi #plakkk . Ni cowok3 kek sengaja d utus si nenek tuk melengkapi hidup sso dg berbagai krakter … sso terkesan aneh ketika berjumpa ma yeye n hae tp dia jg th smua siapa pria yg dia temui ..d lengkapi dg ingatan ttg wejengan si nenek putri iitu hhhi . Aduh baklan sedih ga ye cos hae bilng d akhir ..dia akan membantu sso walopun tak selamanya ..dan sso jd keinget ma wejengan nenek ..tp iso jd dia mendaptkan salah satunya hmm aduh ni yg bakalan galau bukan sso tp reader hhhhi ..mau semuanya d gretong put hhhha . Yesung yg unyu2 ..nuansanya jd rame oborolan nya ma sso n klo hae suasana brubah jd hangat hhhii . Lanjuuut ~ thumbs up (y) . Sukses terus buat ciput eets puput …my lilsister ({})..

  6. astrielf berkata:

    Asli kudu dilanjut, setelah sekian lama menunggu ff kim soeun akhirnya ada juga yg post lagi, dan ini di blog kak putri yeeeeaaaaaayyy, kumohon ini haesso couple kumohooonnnn, kumenunggu ada ff haesso lagii kukangen ff mu yg love me as you can dan aku suka karakter haesso disini, kumohooon kak put wkwkkww, atau buat ff oneshoot setipe love me as you can yg haesso suami istri kwkwkw… next chap ditunggu 😊😊😊😊😊😊😊

  7. Ni2et berkata:

    Pas bagian kyuhyun jadi penguji /penggoda iman bwrasa banget setannya wkwkwkw
    Btw 4 pria ini apakah nyata? Atau hanya imajinasi yg selama ini so eun khayalkan yang tetiba di wujudkan oleh si nenek yg misterius? Ini cerita ringan tapi knp bikin deg2an apa yg akan terjadi setelah 4 hari???

  8. fina berkata:

    Sebenarnya aq msh bingung dgn crta iji unn… apakah ini hnya hayalan sso atau ini memng kenyataan? Dan jka ini nyata ko bisa sso sampe ngalamin hal ini? Next unn… aq berharap sso bsa memenangkan permainannya…

  9. Iseng2 buka blog ini, eh ternyata ada cerita baru 😊 rasanya udah lama bgt gak baca cerita2 kamu. Semangat nulis yaa biar bisa publish ff yg banyak 😁

  10. FansSoeun berkata:

    Hooo saya gak tau hrus pilih yg mna ni wlaupun berharap uri sso ma bang yesung sih heeee
    yang pasti nya sya mendukung aja sso dgn ke 4 uri oppa nye heee

  11. Angelsso berkata:

    Saya terlambat ya haha
    Ff yg kyk gini tuh..sgt sulit ketebak endingny.
    Soeun sdh ketemu dgn sahabat dan cinta pertamany.kyu dan eunhyuk yg blum..semoga soeun bs menang dalam permainan ini.

  12. Duwiiwud berkata:

    Idem.. Aku jg trlambat tau.. Ada FF sebagus INI iksss.. Thank U Thor u FFnya yg ketjeh2 👍👍👍

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s