~ [Series] PLAY Part 2; Scene Stealer ~


Play Part 2

Title       :               PLAY Part 2 – Scene Stealer

Author  :               PrincessClouds/ @toyoumymuse

Length  :               Short Chaptered

Genre   :               Romance, Fantasy

Rated    :               PG-15

Main     :               Kim So Eun – Eun Hyuk – Cho Kyu Hyun – Ye Sung – Lee Dong Hae

Minor   :               Lee Sun Kyu

Summary:           “Chose your trailer baby. It’s war of the scenes.”

Warning:             Typo(s)

*Play*

So Eun tak bisa berhenti tersenyum sepanjang hari ini. Sepanjang malam dirinya bahkan kesulitan tertidur karena sibuk mengingat hari menyenangkan yang dilaluinya bersama Lee Dong Hae kemarin. Hal itu bahkan ikut membayanginya begitu bekerja seharian ini.

Begitu tak ada pelanggan yang memesan gadis itu diam-diam memeriksa ponselnya. Dibacanya kembali pesan yang dikirim Dong Hae pagi ini untuknya, ucapan yang menyemangatinya itu sukses membuatnya kembali senyum-senyum sendiri.

“So Eun!” dia tersentak begitu salah satu rekan kerjanya menepuk bahunya, dengan cepat menyembunyikan kembali pesannya tadi. “Tch, ada apa denganmu? Kau tidak mendengar walau aku sudah memanggilmu berkali-kali.”

“Huh, benarkah?”

Rekan kerjanya itu memberikan sebuah bungkusan padanya. So Eun menatap tak mengerti, “Para petugas delivery sedang sibuk semua. Sementara barusan ada pesanan masuk yang mendesak jadi kau yang antarkan, ya?”

“Karena sekarang shift-mu. Shift-ku sudah selesai tapi aku akan menunggui meja kasir untukmu. Kau pergilah…”

“Apa harus diantar sekarang juga. Biasanya kita juga menunggu para delivery men walau ada pesanan masuk. Para pelanggan juga tidak pernah protes,” tanya So Eun bingung sambil memeriksa isi plastik.

“Karena ini bukan pesanan biasa. Kita bisa terkena masalah kalau pelanggan yang ini mengajukan komplain.”

“Kenapa begitu?”

“Tch, kita lanjutkan pembicaraan nanti. Yang jelas segeralah bersiap-siap dan antarkan pesanan itu ke alamatnya. Aku akan menunggui kasir sementara kau pergi. Sana, sana…” kata Sun Kyu temannya itu sambil mendorongnya untuk segera bergerak. So Eun akhirnya hanya menurutinya dengan pasrah.

So Eun celingukan memeriksa sekitarnya setelah keluar dari lift. Setelah melakukan perjalanan sekitar lima menit dirinya akhirnya sampai di tempat yang dimaksud. Awalnya So Eun tak menyangka kalau orang yang memesan bekerja di perusaan paling ternama di kota ini.

So Eun mendekati seorang penjaga yang kebetulan berdiri di sana. Menurut penjaga di lantai dasar orang yang dicarinya berada di lantai ini, mungkin penjaga yang ini bisa menunjukkan padanya posisi yang sebenarnya.

“Oh, Anda datang atas pesan Presdir Cho? Silahkan lewat sini Nona, saya akan mengantar Anda.”

“Presdir?” So Eun kian terkejut. Kini dia semakin paham mengapa tadi Sun Kyu sangat mendesaknya untuk cepat.

Dia di antar menuju sebuah ruangan yang terlihat lebih tertata dan mewah dari yang dilewatinya sebelumnya. Hingga di sebuah ruangan yang terletak terpencil dari yang lain penjaga itu terhenti, berbicara sebentar dengan seorang wanita muda yang duduk di depan ruangan.

“Silahkan masuk saja, Nona. Presdir tadi berpesan agar Anda mengantarnya langsung.”

So Eun sedikit keheranan. Ini adalah pertama kalinya dia mengantar pesanan café secara langsung sehingga dia tidak tahu kalau pelanggan sibuk seperti ini ada yang akan menerima dari tengannya. So Eun pikir dia hanya perlu menitipkannya pada sekretaris atau malah penjaga pintu.

Sebuah ruangan yang terlihat lebih mewah lagi kini menyambutnya. So Eun dapat merasakan kegugupan karena tempat itu terasa sangat sunyi, langkah kakinya bahkan terdengar memantul dari lantai porselen. Hingga ketika ia sampai di ruangan lain dimana ada sebuah meja kerja yang terletak di tengah ruangannya So Eun dapat merasakan kegugupan yang meningkat.

Di belakang meja dilihatnya seorang pria yang sibuk bekerja. Entah karena dirinya terlalu fokus dengan pekerjaannya atau memang tidak menyadari kedatangannya namun pria itu sama sekali tidak menghentikan pekerjannya.

“Duduklah…”

So Eun baru saja hendak bersuara, namun pria itu mendahuluinya. Masih tak menoleh padanya.

So Eun kembali merasa kikuk. Dia pikir hanya perlu meninggalkan pesanan menerima uang lalu pergi, tak menyangka dirinya akan disuruh duduk. Dengan langkah pelan ia berniat hendak menduduki sofa, namun mengundurkan niatnya itu begitu tiba-tiba pria itu melirik padanya.

Tampan.

So Eun menampar wajahnya pelan. Berusaha kembali fokus dan melirik pria itu, kembali sedikit kaget karena sang Presdir masih menatap padanya. Tanpa kata, seakan mengamatinya, sehingga membuatnya merasa mulai salah tingkah.

Sang Presdir tiba-tiba bangkit dari tempat duduk dan bergerak mendekati sofa. So Eun benar-benar bingung harus bereaksi seperti apa karena pria itu terus memandangnya.

“Jadi kau orangnya,” gumamnya pelan. So Eun hendak kembali mengangkat wajahnya, namun kaget begitu wajahnya diraih tanpa permisi. Menggerakkan wajahnya ke kanan lalu ke kiri, sementara pelaku kurang sopan itu masih terus menatapnya dengan serius. “Tidak sebagus yang kukira tapi sepertinya masih bisa sedikit diupgrade dengan riasan atau operasi.”

So Eun menatap wajah itu lagi. Jantungnya tiba-tiba berdetak cepat. Dia dapat merasakan peningkatan ritme napasnya. “C-Cho Kyu Hyun?” ia bergumam dengan suara bergetar.

Pria itu menyeringai tipis. Sinar mata yang jauh dari kata ramah itu kembali menatapnya. Tatapan itu seakan merendahkannya, menganggapnya tak lebih berharga daripada apapun benda yang ada di dunia ini. “Hello, Angel. Nice to meet you.”

So Eun menepis tangan itu. Tiba-tiba dirinya teringat ucapan si Nenek mengenai tokoh ketiga yang akan muncul. Cho Kyu Hyun. Pria yang akan bermain-main dengan karakternya, nama baiknya, dan harga dirinya. Sang iblis telah tiba.

“Tapi tubuh ini terlihat cukup menggoda. Aku tak sabar mencicipinya…” Tangan yang sama tanpa permisi singgah ke pahanya, menyentuhnya tanpa permisi dan dengan kurang ajarnya. So Eun benar-benar merasa diserang, lagi-lagi kembali menepis tangan itu dengan kasarnya.

“Jangan menyentuhku sembarangan!”

Cho Kyu Hyun terkekeh kecil. Kini bergeser menjauhinya, duduk bersandar di tempatnya sambil berpangku tangan, masih terus memperhatikannya dengan tatapan yang seakan tengah menelanjanginya itu.

“Tidakkah kau lelah dengan sikap kuno seperti itu? Hidupmu dari dulu selalu menyedihkan. Kau yatim piatu, kau miskin, dan hidupmu sebatang kara. Tidakkah kau pikirkan mengapa hidupmu tidak pernah berubah? Itu karena sikap sok baik dan sok jual mahal ini. Kau selalu berbicara soal kebaikan dan nurani yang kita tahu sendiri kalau hal itu hanya omong kosong yang tak lebih daripada sampah,” Cho Kyu Hyun meraih minuman yang tadi dibawanya. Mencicipinya sedikit, namun tak lama dengan seenaknya melemparkannya ke sebuah tempat sampah yang terletak tak jauh darisana. “Kalau kau mau kita bisa merubahnya, kau tahu? Seperti yang kau lihat aku memiliki segala hal yang bahkan tak pernah kau mimpikan di dalam hidupmu. Aku bisa merubah hidupmu yang menyedihkan itu.”

Benar. Memang beginilah karakter Cho Kyu Hyun menurut si nenek. Kyu Hyun akan berusaha untuk mengubahnya, membuatnya terpedaya dengan sisi gelap dirinya yang selama ini tidak pernah ditunjukan. Sebagai bentuk berlawanan dari setiap hal yang telah didapatkan dan dijalaninya selama hidupnya ini.

“Berikan saja uang untuk makanan yang kau pesan,” So Eun berkata dengan suara yang bergetar. Tak bisa dipungkiri kalau semua ini membuatnya takut. Sosok ini benar-benar kuat, dia berhasil membuat So Eun merasa terintimidasi.

“Kudengar kau ingin membeli sebuah toko kue. Meski aku tidak sepintar Lee Dong Hae yang bisa membantumu merancang tempatnya, tapi aku bisa menyediakan semua fasilitas yang tidak akan bisa diberikannya padamu.”

“Kau mengenal Lee Dong Hae?” So Eun terlihat terkejut.

Kyu Hyun lagi-lagi menyeringai licik. “Tentu saja. Kau kira kami berempat ini apa? Mungkin ketiga orang bodoh itu berusaha untuk memperlakukanmu lebih baik tapi pada akhirnya semua orang menginginkan hal yang sama – keabadian. Semua orang ingin menjadi orang terakhir yang bisa bertahan di hidupmu sehingga mereka bukan hanya menjadi tokoh imajinatif di sekitarmu.”

Ucapan itu sebenarnya diketahuinya, namun mengapa tetap terdengar seperti tamparan. Dari awal semua ini tidak nyata; kebaikan Ye Sung, perhatian Dong Hae, perlakuan pria ini, atau apapun yang akan dialaminya bersama tokoh keempat nanti. Semua ini hanyalah sesuatu yang akan terjadi dengan singkat di dalam hidupnya.

So Eun jadi teringat ucapan terakhir si nenek yang berkata bahwa kalau dirinya pandai bermain maka ada salah satu dari keempatnya yang akan tinggal di sisinya untuk selamanya. Mungkin inilah yang dikatakan Kyu Hyun.

“Ayolah, bersikap pintar sedikit. Tidakkah kau jijik dengan hidupmu selama ini? Tuhan tidak pernah berbuat adil padamu dan ini adalah kesempatanmu untuk membalas dendam. Ye Sung mungkin bisa memberikan perlindungan untukmu, tapi hanya itu yang bisa dia lakukan. Lee Dong Hae? Dia akan terus berbicara mengenai mimpi dan harapan yang selama ini telah mengkhianatimu. Aku yakin kau belum bertemu Eun Hyuk dan anak itu hanya akan bermain-main. Kalau kau memilihku maka hidupmu benar-benar akan berubah. Aku akan membuatmu menjadi seorang ratu yang bisa memiliki dunia. Kita bisa membalas orang-orang yang pernah merendahkanmu. Membuat mereka mencium kakimu dan berlutut padamu. Bukankah itu hebat?”

Karakter yang satu ini benar-benar menakutinya.

“Bayar saja uang atas pesananmu,” ucap So Eun lagi. Semakin bergetar.

“Lihat betapa kuatnya dampak ucapanku terhadap dirimu. Itu adalah bukti kalau jauh di dalam hatimu kau memang pernah mengharapkan semua yang kutawarkan ini. Kau pasti muak dengan hidup menyedihkan itu.”

“Berhenti sok tahu mengenai diriku.”

Kyu Hyun kembali terkekeh. Dia beranjak mendekati So Eun lagi. So Eun ingin beranjak, dirinya ingin menghindar, tapi So Eun tidak mengerti mengapa tubuhnya tak mau menuruti keinginannya. Sehingga dia membiarkan ketika pria itu kembali menyentuhnya. Bukan sentuhan melecehkan seperti tadi, namun kali ini menggenggam tangannya.

“Berhentilah keras kepala, Kim So Eun. Berhentilah membohongi dirimu sendiri. Toh, pada akhirnya kau tahu sendiri jawabannya.” Kyu Hyun menyelipkan sesuatu di antara genggamannya, ketika So Eun memeriksanya dia kaget melihat sebuah berlian seukuran kelereng di sana. Warnanya biru safir – warna kesukaannya. “Kalau kau memilihku maka aku bisa memberikan ini untukmu. Dunia akan berada di genggamanmu seperti benda ini,” kata Kyu Hyun sambil menggenggam tangannya yang masih memegang benda itu.

So Eun tiba-tiba teringat beberapa tahun yang lalu saat dirinya dituduh mencuri salah satu perhiasan pelanggan di toko buku. Saat itu hampir semua orang menuduhnya, tidak ada yang berpihak padanya walau beribu kali dia menjelaskan kalau dirinya tidak tahu apa-apa. Dia bahkan sampai dibawa ke kantor polisi dan menginap di sana semalaman, hanya untuk mendengar keesokan harinya kalau benda itu ditemukan terjatuh di mobil si pelapor. Itu adalah dimana So Eun sangat membenci hidupnya sendiri. Dia marah karena tidak bisa membela dirinya sendiri yang diperlakukan tidak adil. Dia bahkan sampai berteriak ketika mabuk di malam harinya, berkata kalau nanti dirinya kaya maka dia akan mendatangi si pelapor itu lagi dan melemparkan perhiasan yang lebih mahal kepada muka orang yang menuduhnya itu. Berlian ini beribu kali lebih mahal daripada perhiasan waktu itu. Ini lebih dari cukup menjadi benda yang tepat untuk membayarkan sakit hatinya itu.

“Tidak…” So Eun melepaskan genggaman tangan Kyu Hyun, memberikan kembali berlian itu. “Aku bukan orang seperti itu. Kau tidak akan bisa mengubahku.”

“Benarkah?” Kyu Hyun tersenyum tipis. Sepertinya dia menyadari bagaimana tadi So Eun tempat merasa goyah, sehingga mungkin ada perasaan menang di dalam dirinya.

“Sekarang tolong berikan bayaran untuk makanan yang kau pesan dan biarkan aku pergi.”

“Aku tidak mau.”

“Hey…” So Eun menatapnya tajam, hanya untuk kembali berpaling karena tidak tahan dengan tatapan penuh cibiran pria itu.

“Aku akan membayarnya nanti. Di pertemuan kita selanjutnya.”

“Aku tidak sudi bertemu dirimu lagi.”

“Kau tak punya pilihan,” Kyu Hyun tersenyum licik. Ia kembali bergeser dan sedikit menjauh dari So Eun, bersandar dengan santai pada sofa. “Semuanya masih permulaan. Masih banyak hal yang akan terjadi. Masih banyak kejutan.”

So Eun merasa tak ingin berlama-lama lagi di tempat itu. Pada akhirnya ia berdiri dari sana dan berjalan cepat keluar dari tempat itu. Suara tawa penuh ejekan Kyu Hyun terdengar mengantar kepergiannya.

“Dasar tidak tahu malu. Dia pikir dirinya siapa? Hanya karena dirinya kaya bisa bicara seenaknya seperti itu padaku,” So Eun mengomel tanpa henti setelah meninggalkan ruangan Kyu Hyun. Ia bahkan tak bisa menyembunyikan rasa kesalnya, mengacuhkan beberapa orang yang berpapasan dengannya yang terlihat heran dengan perbuatannya. “Pantas dia disebut sebagai orang yang akan menguji kesabaranku. Dia memang benar-benar membuatku muak. Dia benar-benar membuatku tak tahan.”

So Eun berhenti mengomel begitu sampai di depan gedung. Kini ia harus kembali ke café tanpa mendapatkan bayaran atas pesanan tadi.  Hal itu lagi-lagi membuatnya tak bisa menahan kesal, karena tidak hanya membuang waktunya tapi orang itu malah merugikannya.

Letak perusahaan ini hanya beberapa blok dari café. Untuk pergi kesana sebenarnya bisa ditempuh dengan berjalan kaki, namun dengan suasana hatinya yang sekarang So Eun sedang tak ingin melakukannya. Ia tak keberatan walau lagi-lagi harus mengorbankan uang sakunya.

Ketika menungg taksi tiba-tiba saja kehebohan terjadi di jalanan di dekatnya. Suara pekikan beberapa klakson terdengar begitu sebuah motor sport besar melaju melebihi kecepatan normal membelah kenyamanan di sekitar sana. So Eun bahkan belum sempat bereaksi begitu tiba-tiba kendaraan itu berhenti di depannya. Hanya saja dia masih memiliki batas reflek begitu sebuah helm dilemparkan padanya.

“Naiklah…” si pengemudi menaikkan kaca helmnya, membuat So Eun bisa melihat wajah yang kini tersenyum tipis kepadanya itu.

“E-Eun Hyuk?”

Ia tak punya waktu untuk membiasakan diri dengan kejutan tanpa akhir ini ketika dari raungan sirene polisi terdengar dari kejauhan. Suaranya terdengar semakin mendekat.

“Kita tak punya waktu. Bergegaslah…”

“H-Huh?”

Mobil polisi itu terdengar semakin mendekat. Semakin cepat. Bingung dan panik, So Eun akhirnya memilih untuk mengikuti ucapan pemuda ini. Dengan cepat dia memasang helm di kepalanya, dan tak lama Eun Hyuk menariknya untuk segera duduk di belakangnya tepat ketika mobil itu hampir sampai di tempat itu.

“Berpeganglah!” Itu yang dikatakan Eun Hyuk sebelum membawa kendaraan itu melaju dengan kencang. Membuat So Eun sempat tertolak ke belakang, sebelum akhirnya berpegangan kuat pada pinggang pemuda itu.

“Kita akan kemana?” tanya So Eun. Ia hampir berteriak ketika mereka nyaris menabrak sebuah bus karena lajunya yang terlalu kencang, terus melaju membelah kedamaian di tempat itu dengan dua mobil polisi yang membuntuti di belakang.

“Di mana saja yang kau sukai,” Eun Hyuk menjawab penuh misteri. Pemuda itu mempercepat laju motor tersebut, melesat melewati lampu jalan yang baru saja berwarna merah, nyaris menyambar dua orang pejalan kaki yang melintas.

“Berhati-hatilah. Kau dapat membayakan orang lain!!!” teriak So Eun benar-benar ketakutan. Berpegangan semakin kuat ketika kendaraan itu malah melaju kian kencang.

So Eun tidak terlalu mengingat berapa lama dia diajak balapan, namun pada akhirnya mobil polisi itu berhenti mengikuti mereka. Tangannya terasa basah oleh keringat dingin akibat terlalu kuat berpegangan pada pemuda itu. Ia bahkan masih kesulitan mengendalikan napas karena terlalu banyak berteriak dan merasa tegang dengan perjalanan yang dianggapnya sangat mengancam hidupnya itu.

Di sekitar pinggir pantai kendaraan itu mulai melaju pelan. Tak lama kemudian si pengemudi berhenti di sana.

“Kita sampai,” bisik pemuda itu pada So Eun yang masih belum dapat mengumpulkan kesadarannya sepenuhnya. Pemuda itu mulai melepaskan tautan helmnya.

“Apa yang baru saja kau lakukan? Kenapa kau menyeretku dalam hal ini? Bagaimana kalau tadi kita tertangkap atau yang lebih parah mengalami kecelakaan? Bagaimana—“

“Nyatanya kita tidak apa-apa,” Ia terkekeh pelan menyahuti omelan So Eun. Tersenyum sambil menatap So Eun dari bahunya. “Tapi apa kau akan terus memelukku seperti ini? Aku menyukainya, tapi tidakkah ini sedikit membuat pegal?”

So Eun tersadar. Dengan cepat melepas pegangannya di pinggang pemuda itu. Ia kemudian turun dari motor tersebut. “Kau tak bisa melakukan hal seenaknya seperti itu. Kau bahkan membawaku pergi begitu saja. Aku harus bekerja, tahu?”

“Tch, kau sudah menjadi karyawan yang baik selama bertahun-tahun lamanya. Café itu tidak akan bangkrut tanpa kehadiranmu,” ia menyahut santai sambal melepas helmnya. Rambut berwarna perunggu itu langsung bersinar terpapar cahaya matahari. Hembusan angin pantai membuat sebagian jatuh ke wajahnya, hampir menutupi seluruh dahinya yang dialiri setetes keringat.

Astaga, kenapa mereka semua terlihat tampan begini? Bahkan walau aku masih membenci Cho Kyu Hyun dan tidak menyukai yang satu ini tapi aku tak bisa membantahnya.

So Eun menggeleng cepat. Mencoba menepis pemikiran bodohnya itu. “Ayo berbalik. Aku harus kembali bekerja. Teman-temanku menungguku,” ucapnya pada pemuda itu.

Eun Hyuk malah menoleh padanya. Tersenyum kecil, lalu malah turun dari motor. Direnggangkannya kedua tangannya, terlihat tidak peduli.

“Hey, aku tak punya waktu untuk ini!” protes So Eun.

“Bukannya kau sangat menyukai pantai. Kau bahkan ingin pergi ke sini untuk menenangkan diri, namun akhirnya tidak pernah terjadi karena terlalu sibuk bekerja.”

Kalau pada awalnya So Eun akan kaget begitu para pemuda ini mengetahui segala hal tentang dirinya, kali ini So Eun tidak merasakannya lagi. Justru kini tiba-tiba So Eun mengingat maksud dari kedatangan tokoh Eun Hyuk di dalam hidupnya. Pemuda ini akan mengajaknya menjalani hal-hal yang tidak pernah dialaminya sebelumnya. Membawanya berpetualang.

“Benar, tapi ini bukan waktu yang tepat…”

“Kapan lagi memangnya? Setahuku kau selalu bekerja setiap hari. Kau hanya dapat libur ketika sakit,” ia terkekeh sambil geleng-geleng kepala. “Lihat. Tempat ini begitu indah. Tidak ada pelanggan yang mengomel di sini ataupun atasan yang hanya bisa menyuruh. Semuanya begitu tenang. Begitu nyaman,” ucapnya sambil menunjuk hamparan laut yang berada di depan mereka.

So Eun ikut mengalihkan pandangannya memperhatikan sekitarnya. Eun Hyuk benar. Tempat ini begitu indah, begitu nyaman. Suara ombak yang terdengar damai, hembusan angin yang menenangkan, bahkan suara cicitan burung yang bersahutan. Semua ini berhasil memperdayanya.

“Aku tebak kau baru bertemu Cho Kyu Hyun. Aku yakin kau membutuhkan kenyamanan ini lebih dari hari biasanya,” Eun Hyuk lagi-lagi terkekeh. Sementara So Eun menoleh kembali padanya.

Jadi benar, semua tokoh menyadari kehadiran mereka satu sama lain. Itu artinya Dong Hae dan Ye Sung juga menyadarinya hal yang sama. Hanya saja kedua orang itu tidak mengatakan apa-apa seperti yang didengarnya dari Kyu Hyun dan Eun Hyuk.

“Jangan terlalu dipikirkan. Itu hanya akan membuatmu stress,” Eun Hyuk mengacak rambutnya pelan sebelum beranjak dari sana. Berjalan mendekati bibir pantai.

“Hey, kau mau kemana?” tanya So Eun sambil mengikutinya.

So Eun benar-benar menyukai pantai. Dulu sewaktu kecil pernah sekali seorang donator panti asuhan mengajak semua anak berlibur ke pantai. So Eun bahkan masih sangat mengingat betapa bahagianya dirinya pada saat itu. Sejak saat itu ia memutuskan kalau hari itu adalah salah satu hari terbaik di dalam hidupnya, dan pantai adalah tempat favoritnya.

Benar. Kehadiran Eun Hyuk adalah untuk mengajaknya menikmati kebebasannya. Sama seperti tiga tokoh yang lainnya, keadaan itu tak bisa dilarang. Mungkin memang sudah seharusnya dia melupakan pekerjaan atau beban pikiran apapun yang menantinya. Yang jelas dia harus menikmati saat-saat sekarang ini. Mengenai resiko apapun yang akan datang nanti akan dipikirkannya.

Karena hari ini bukan akhir pekan sehingga tidak banyak orang yang terlihat di sekitar tempat mereka berdiri. Beberapa meter dari mereka ia hanya melihat dua pasangan yang asyik mengambil gambar bersama. Sementara itu sepasang ayah dan anak tampak asyik bermain sekitar puluhan meter dari tempat ini.

“Haaah… udaranya sangat cerah. Aku benar-benar menyukainya…” gumam So Eun sambil tersenyum lebar. Dia sengaja melepas sepatunya, berjalan pelan merasakan butiran-butiran halus pasir pantai di bawah kakinya.

“Kau ingin suasananya menjadi lebih menyenangkan lagi?” tanya Eun Hyuk yang sejak tadi mengiringi setiap langkahnya. Lagi-lagi tersenyum tipis pada gadis itu.

“Apa maksudm—Hey, apa yang kaulakukan!” So Eun berteriak kaget saat Eun Hyuk tiba-tiba membopong tubuhnya tanpa permisi.

“Untuk apa ke pantai kalau tidak merasakan air laut?” sahut Eun Hyuk cuek sambil membawa tubuhnya mendekati bibir pantai.

“Tapi aku tidak bisa berenang. Hey, turun aku!”

Eun Hyuk mengacuhkan teriakannya. Pemuda itu terus membawanya membelah lautan. Mengabaikan serbuan ombak yang basah dan dingin, berbeda terbalik dengan So Eun yang terlihat sedikit panik.

“Hey aku tak membawa baju ganti!” So Eun agak mendesis karena kini air laut mulai menyentuh punggungnya. Bukannya berhenti Eun Hyuk malah terus melangkah maju, membiarkan air benar-benar menelan mereka. “Hey—“ teriakannya kembali terhenti air membasahi seluruh tubuhnya. Eun Hyuk malah sengaja menenggelamkannya sebentar ke air, sebelum kemudian tubuhnya kembali di angkat ke udara.

So Eun menghela napas kembali. Beruntung karena dia sudah menyiasati ulah Eun Hyuk sehingga tidak ada air yang sampai tertelan olehnya. “Hey, kau mau membunuhku atau apa?” teriaknya kesal sambil memukul dada pemuda itu.

“Nyatanya kau tidak mati, bukan?” si pelaku malah terkekeh tanpa rasa bersalah.

So Eun harusnya marah, namun entah mengapa kini ia tak dapat menahan senyuman di wajahnya mendengar ucapan pemuda itu. Sebenarnya boleh saja rasa kaget tadi membuatnya panik, namun tak dapat dipungkiri ada rasa menyenangkan yang dirasakannya begitu seluruh tubuhnya bermandikan air laut yang dingin. Sulit untuk dijelaskan, namun So Eun menyukainya.

Ia memekik kembali ketika Eun Hyuk kembali mencelupkannya ke air. Tapi setelahnya dia malah tertawa. Sudah dikatakannya tadi kalau So Eun sangat menyukai laut. Bermandikan air laut seperti ini benar-benar membuatnya merasakan kebebasan yang sulit untuk dijelaskan.

“Lihat, kau menikmatinya bukan? Ini memang menyenangkan. Karena itulah tugasku. Aku akan membuatmu berpetualang dan merasakan hal-hal seru yang tak pernah kaualami sebelumnya,” kata Eun Hyuk kini menurunkan tubuhnya. Awalnya So Eun mengira dia akan tenggelam, ternyata dia dapat berdiri di lautan yang tingginya di atas pinggang itu. Eun Hyuk juga terus memeganginya untuk memastikan keamanannya.

“Tapi tetap saja kau membuatku kaget…” So Eun kembali pura-pura marah. Namun tak lama dia tak bisa menahannya lagi, tawanya kembali lepas setelah dia mengagetkan Eun Hyuk dengan menyemprotkan air ke wajahnya. Tawanya terus terdengar begitu keduanya terus bermain air di sana, mengabaikan dunia di sekitar mereka ataupun setiap masalah yang menunggunya di luar sana.

❤ To Be Continued ❤

Iklan

10 Comments Add yours

  1. Jadi…mereka hanya tokoh imajinasi?
    Kalau perkataan Kyuhyun bener, berarti mereka semua akan menghilang setelah 4 hari? (Ya gasih 4 hari? Gue lupa nih…😥)
    Kayak prototype komputer gitu ya. Diujicoba dan kalo gak ada yang berhasil akhirnya dimusnahkan. Kok, sedih ya…😖 Semoga ga gitu aja. Ntar malah mewek padahal judul ff ini gak ada sedih-sedihnya. *mulai mellow* #plak (abaikan plis)

    Aku masih belum ngerti, kenapa jadi Soeun yang terpilih? Perbuatan baik apa yang sudah dia perbuat sampe nenek itu memberinya kesempatan ini?
    Oiya, dan orang-orang di sekitar Soeun (selain 4 pria itu) apa mereka juga hanya imajinasi atau makhluk hidup nyata?
    Duh, dari kemaren juga bertanya mulu gue.😩

    Ditunggu kak chapter selanjutnya. Ini lagi penasaran banget bacanya gak sampe 5 menit, padahal nulisnya pasti lumayan makan waktu.😬😆
    Semangat terus kak. 💪🏼😘

  2. Puspa Kyukyu berkata:

    Beneran deh ni endingnya ga ada yg tau ~~gak ketebak..
    Tp saya masih nerka2 juga ini…

    Baca bagian Kyu teringat sama FF Be My Girl pas Soeun ngantar Burger ke Kyuhyun 😭😭😭
    Apa kabar FFnya yaaa~~? 🤔

    Ditunggu Next updatenya ~~

  3. astrielf berkata:

    Still haesso yg aku inginkan buat endingnya wkwkkw, walaupun berkesan juga keempat cowok ini hahaha, semoga di salah satu part ada yg dikhususkan buat tiap cowoknya misalkan special kyuhun soeun, special donghae soeun, yesung soeun dan eunhyuk soeun, dan semoga juga ada kisah masa lalu soeun yg di angkat di ff ini bisa soeun sama eteuk gitu kak dijadiin cerita masa lalu soeun wkwkw kaya eteuk jafi ex boyfriendnya soeun hahaha #apadahakuni semoga cepat dilanjut kak ditunggu sekali

  4. Ni2et berkata:

    Waw si cho selain mesum , kata2nya frontal banget…wajah sso hanya tonggal di upgrade katanya ,dsr kyupil wkwkkwk..

    Nah bener mereka imajiansi so eun (dan imajinasiku juga wkwkkw) entah endingnya sama siapa..tergantung so eun bisa ‘bermain’ kata si nenek

    Hmm…Kalo sama yesung dia akan dpt teman sejati yg selalu melindunginya, tapi pasti hambar kalo ga ada cinta, kalo sama donghae dia akan dptkan pria romantis yang selalu memikirkan masa depan tapi bisa saja jadi membosankan#ups..nah kalo sama kyuhyun hidupnya pasti tegang melulu bikin darah naik turun wkwkw(tp aku ngarep banget ma dia hahaha) kalo sama hyukjae mungkin hidupnya lebih bebas dan berwarna..diantara keempat pertemuan entah kenapa aku ngerasa so eun akan bahagia kalo sama eunhyuk karena hanya bersamanya sso bisa tertawa lepas..
    Semoga kamu bisa ‘bermain’ya sso agar bisa mendapatkan salah satunya..:)

    Aigoo tetep aja ganjel kalo ga ama si ibliskyu #nyengir

  5. anna berkata:

    Smg soeun ttep brjiwa malaikat&baik hti apapun kondisiny tdk trpngaruh pikiran&prbuatan negatif&siapapun yg mgkn akhrny bs mnjd soulmateny bnr2 bs mmbw dri soeun lbh baik&lbh bhgia lgi

  6. fina berkata:

    Kira* siapa yg akan bertahan diantar k4 imajinasi sso…? Next unn….

  7. Minmin_mizana berkata:

    Masih nyoba nebak2 sih endingnya bakal gimana , dan alasan mereka muncul diimajenasi soeun…
    Suka semua karakter, tp paling ngena karakternya Kyuhyun, cuma dia yang menggoyahkan iman soeun, walaupun belum sepenuhnya tergoyahkan sih 😁
    Yg bakal dipilih 1 berarti yg 3 bakal hilang? Itu klo beruntung, klo ga beruntung nasib soeun bakal sama kaya dulu lagi dong ya…
    Bisa ga empat2nya menjadi nyata 😂

  8. Shane berkata:

    Play 2 scene stealer : wah sso terbayang kenangan nya ma hae kemren ..hae juga romantis bingit d saat sso lg ngebayangin dia ee ada smeses yg ngebuat sso tambah senyum gaje hhhhhhh XD . Trus selanjutnya pertemuan nya dg presdir cho yg kurang di hajar kkkkkkee d saat sso terpesona ma ketampanannya yg tiada dua itu hhhhii tiba2 kyu merasa ada yg slaah dr muka sso jd iso d upgrade dg polesan or operasi biar kece kkkkkkkkke .kyu terus mengimingi sso dg kekayaan nya biar hidup sso brubah ..apakah sso akan terpedaya memingat kyu to the point bgt nyampaikan aspirasinya hhhhhhi .manaa d ksih berlian pula trus sso pun jd mengingat2 ms lalu nya yg curam mungkin ada keinginan hatinya membals perlkuan org2 dl pdnya ..si kyu bener2 iblis ye hhhi tp keknya iman nya sso kuat ye kkkkke .cuma d pertemuan slanjutnya g th deh imannya goyah apa kga ..tp klo d teliti keknya sso kuat ye hhh . Hmm Jd siapa yg akan d pilih sso baklan abadi ye hmm .d tengah jaln sso ketmu hyukie jd ajak lah ngrumpi selain itu hyuk iso bikin jantung sso kejang2 hhhi noh d ajak berlari pakei mobil hyuk hhhhe XD .khadiran enhyuk membuat ssi merass bebas seperti burung #eeh hhhi .d ajak bepetualng mandi d airlaut ..mersakan kesegaran yang tak terduga ..nah lo iso jd ni si hyuk jd pemenangnya hhhi cos hyuk menghilangkan memory sso yg rusak #eeoh hhhe XD . Tp tak th juga d pertemuan slanjutnya …mungkin ada kejutan tak terduga lainnya . Yg bc ma ngikut alur ye sambil nebak2 scene apalgi yg akan terjdi . Dem seru euy . Lanjut ~~ thumbs up (y) . Sukses terus dah buat sipputt eeets puput hhhe ({}) ({}) ({})

  9. Masih penuh teka teki bgt ya ceritanya, jadi mereka semua cma imajinasi aja tokoh mereka ? Trus yg dapat berhasil salah satu nd nantinya soeun pilih kali ya yg bakal jadi kenyataan ??#nangkepnya aku #sotoy 😂
    Ditunggu bgt kelanjutannya 😊 semangat 🙌

  10. Angelsso berkata:

    Jadi 4 org ini hanyalah karakter imajinasi? hanya satu diantara yg 4 yg akn hidup dan 3 diantarany bkln mati…bisakah empat2ny dipilih soeun? 😁 ehh itupun klok soeun jd pemenang ya…hehe
    jd mrk semua sdh saling tahu gt ya..hmhmhm..masih menerka2 emdingny bkln gmna.tp ngarepny org yg bkln jd nyata nantiny it donghae haha. Ditunggu next partny

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s